Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Krematorium Sulang, Kedepankan Upacara Satwika bagi Umat Sedharma

BALIILU Tayang

:

de
Ketua Mahagotra Sanak Sapta Rsi Kabupaten Klungkung I Wayan Sudiarsa. (Foto: GS)

Klungkung, baliilu.com – Mengharapkan upacara yang satwika, baik mengedepankan ketulusikhlasan (lascarya), keyakinan (sradha), tatwa (widi sastra) tanpa mengedepankan kesombongan adalah idaman setiap umat sedharma agar upacara labda karya sidaning don. Untuk mewujudkan harapan umat itu, Mahagotra Sanak Sapta Rsi Kabupaten Klungkung melalui Yayasan Sanak Sapta Rsi membangun Krematorium Sulang, dan sebelumnya hadir program Puspa, paket upacara setempat.

Ketua Mahagotra Sanak Sapta Rsi Kabupaten Klungkung I Wayan Sudiarsa menyebutkan, kehadiran Krematorium Sulang dan Program Puspa bertujuan untuk melakukan sebuah upacara yang satwika untuk umat sedharma, agar jangan sampai ada biaya yang tinggi atau upacara yang jor-joran, namun inti dari hakikat upacara itu tidak terpenuhi. ‘’Kami mengedepankan terlaksana upacara yang satwika untuk umat sedharma. Siapa pun bisa melaksanakan upacara di tempat ini karena sudah terbukti seluruh umat sudah memanfaatkan krematorium ini,’’ terang Sudiarsa saat hadir dalam sebuah upacara pengabenen salah seorang warga, awal November ini.

Di Krematorium Sulang Kecamatan Dawan, Klungkung ini, lanjut Sudiarsa, pengelola menyediakan upacara yang ada hubungannya dengan pitra yadnya. Baik upacara ngaben, ngeroras hingga nyegara gunung dan bahkan sampai penilapatian. Untuk upacara nilapati, Mahagotra Klungkung menggelar upacara secara periodik. ‘’Kami sudah tetapkan akan mengadakan upacara atma wedana massal setiap 6 bulan sekali di tempat ini. Dengan cara seperti ini, kami berharap umat Hindu punya rencana dan mulai siap-siap bisa ikut bahwa bakal ada upacara atma wedana,’’ ucapnya.

Salah satu upacara pengabenan yang dilaksanakan di Krematorium Sulang Klungkung. (Foto: GS)

Selain melaksanakan upacara pitra yadnya di Krematorium Sulang, melalui program Puspa juga bisa melaksanakan berbagai jenis upacara panca yadnya langsung di lokasi setempat. ‘’Sampai saat ini kita melayani di krematorium dan ada juga yang langsung ke desa-desa. Untuk Puspa sendiri tidak saja melayani ngaben, apa pun upacara panca yadnya kami siap melakukannya,’’ ujar Sudiarsa seraya menyebutkan tim yang bekerja sangat banyak tersebar di seluruh kecamatan.

Untuk mendukung keberadaan Krematorium Sulang, telah tersedia bangunan bale peyadnyan lengkap dengan bale pewedaan seluas 7,5 are terdiri dari bale pengaskaran dan pengeroras serta bangunan pengesengan yang juga dilengkapi bale pewedaan. Antara bale peyadnyan dengan pengesengan berjarak sekitar 40 meter. Selain itu, juga didukung areal parkir yang luas dan teduh. Seluruh areal krematorium juga dirimbuni tanaman yang membuat suasana tetap sejuk.

Krematorium Sulang selain Yayasan Sanak Sapta Rsi sebagai pengelola dengan tim Puspa sebagai pelaksana, juga ada tenaga kerja dari Desa Adat Sulang yang sudah sesuai dalam perjanian yang sudah disepakati kedua belah pihak.

Sudiarsa mengemukakan, kehadiran Krematorium Sulang tidak terlepas dari dampak hadirnya Perda No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat yang diterbitkan Pemerintah Provinsi Bali . Dimana masing-masing desa adat diharapkan memiliki BUPDA yakni Baga Utsaha Padruwen Desa Adat. Karena Sulang memiliki setra, maka potensi inilah yang dipakai sebagai utsaha padruwen Desa Adat Sulang.

Sudiarsa menuturkan, ide membangun krematorium sempat tercetus pada tahun 2014 ketika dirinya ngayah di Mahagotra Klungkung. Sempat mendekati lokasi di pinggir pantai dari Tegal Besar sampai Kusamba, namun hasilnya nihil karena berbagai persoalan.

‘’Mungkin Ida Bhatara Lelangit mapaica, kira-kira Februari 2021 ada permintaan dari Desa Adat Sulang untuk memanfaatkan areal setra untuk krematorium,’’ tuturnya.

Gayung bersambut, dilanjutkan dengan perjanjian di notaris, sehingga per 5 April 2021, Krematorium Sulang sudah mulai beroperasi dimana secara penuh Yayasan Sanak Sapta Rsi selaku pengelola. Desa Adat Sulang sebagai pihak pertama kewajibannya menyiapkan lahan. ‘’Kami membangun bangunan dan melaksanakan kremasi itu sendiri,’’ tutupnya. (gs)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri “Bhakti Pujawali” di Pura Sakenan

Published

on

By

pujawali pura sakenan
BHAKTI PUJAWALI: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Walikota I Kadek Agus Arya Wibawa dalam kesempatan menghadiri Bhakti Pujawali di Pura Sakenan Desa Adat Serangan, Denpasar, Sabtu (27/6). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, bersama jajaran Pemerintah Kota Denpasar menghadiri rangkaian Bhakti Pujawali di Pura Sakenan, Desa Adat Serangan, Denpasar, Sabtu (27/6). Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar I Made Oka Cahyadi Wiguna, Sekda Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, serta pimpinan perangkat daerah, tokoh masyarakat, dan ribuan umat yang tangkil untuk melaksanakan persembahyangan.

Berdasarkan Dudonan Piodalan yang diterbitkan Puri Agung Kesiman selaku Pengempon Pura Sakenan, rangkaian piodalan diawali pada Kamis (25/6) dengan kegiatan mareresik, mamenjor, ngiyas pelinggih, serta ngunggahang lamak yang melibatkan pemangku, pengemong, panitia, mahasiswa, siswa, dan masyarakat. Selanjutnya, pada Jumat (26/6) dilaksanakan prosesi Ngelungsur Ida Bhatara ke Pura Pesamuhan Agung. Puncak pujawali berlangsung pada Sabtu (27/6), ditandai dengan persembahyangan bersama serta pementasan Tari Rejang Wali, Tari Topeng Wali, dan Wayang Lemah sebagai bagian dari upacara sakral.

Rangkaian persembahyangan akan dilanjutkan dengan Bhakti Penganyar pada Minggu (28/6), Senin (29/6), dan Selasa (30/6). Pada hari terakhir juga akan dilaksanakan upacara Penyineban sebagai penutup seluruh rangkaian piodalan dengan prosesi Ida Bhatara kembali ke payogan.

Usai mengikuti persembahyangan, Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan bahwa pelaksanaan Bhakti Pujawali merupakan momentum untuk memperkuat sradha dan bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus memohon keselamatan, kedamaian, serta kerahayuan jagat.

“Melalui pelaksanaan Pujawali ini, semoga seluruh umat senantiasa diberikan tuntunan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan sebagai implementasi ajaran Tri Hita Karana,” ujar Jaya Negara.

Di sela-sela kegiatan, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, menjelaskan bahwa berdasarkan tuntunan sastra suci Hindu seperti Lontar Sundarigama, Lontar Jaya Kusuma, dan Usana Bali, Hari Suci Kuningan merupakan momentum puncak kemenangan Dharma melawan Adharma yang dirayakan dengan penuh rasa syukur. Ditambahkan, perayaan Kuningan juga sarat makna filosofis melalui berbagai sarana upakara, seperti nasi kuning, tamiang, serta endong.

“Sebagai salah satu Pura Dang Kahyangan yang disucikan dan menjadi pilar spiritual di Kota Denpasar, Pura Sakenan senantiasa dipadati umat dari berbagai daerah. Kehadiran PHDI Kota Denpasar, majelis agama, perangkat desa adat, serta seluruh pemedek mencerminkan semangat kebersamaan dalam memohon anugerah kesehatan, kedamaian, dan kesejahteraan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujar I Made Arka. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri “Karya Pududusan Agung” di Pura Dalem Pengaotan Desa Adat Bekul

Published

on

By

Walikota Jaya Negara
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Memungkah Ngenteg Linggih, Tawur Balik Sumpah Utama, Pedudusan Agung di Pura Dalem Pengaotan, Desa Adat Bekul, Desa Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, Minggu (21/6). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Memungkah Ngenteg Linggih, Tawur Balik Sumpah Utama, Pedudusan Agung di Pura Dalem Pengaotan, Desa Adat Bekul, Desa Penatih Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, Minggu (21/6). Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut menandatangani prasasti sekaligus menyerahkan dana punia dan bantuan hibah.

Kehadiran Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama jajaran menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kota Denpasar terhadap pelestarian adat, budaya, dan tradisi spiritual masyarakat Bali. Hadir pula dalam kesempatan tersebut Anggota DPRD Provinsi Bali, IGN Gede Marhaendra Jaya, Kepala Bagian Kesra Setda Kota Denpasar, IB Alit Surya Antara, Camat, Perbekel, Bendesa serta tokoh masyarakat setempat.

Rangkaian acara berlangsung khidmat dan semarak dengan iringan Gambelan Gong Kebyar, Baleganjur, serta pementasan tari Baris Gede oleh Bendesa se-Kota Denpasar, Tari Rejang Dewa, Topeng Wali, dan Wayang Lemah yang menambah suasana sakral upacara.

Walikota Jaya Negara mengatakan bahwa pelaksanaan karya besar seperti Pedudusan Agung bukan hanya sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, namun juga menjadi momentum mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat adat.

“Karya seperti ini merupakan warisan luhur yang harus terus dijaga bersama. Semangat ngayah yang ditunjukkan krama adat menjadi kekuatan utama dalam menjaga adat, budaya, dan nilai kebersamaan masyarakat Bali. Pemerintah Kota Denpasar tentu memberikan dukungan agar tradisi dan kearifan lokal tetap lestari,” ujarnya.

Jaya Negara mengatakan bahwa rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari dharmaning agama dan dharmaning negara.

“Kami berharap dengan upacara ini dapat memberikan manfaat yang baik secara sekala dan niskala bagi masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu, Bendesa Adat Bekul, Made Yuliarta menyampaikan terima kasih atas bantuan hibah dari Pemerintah Kota Denpasar, khususnya kepada Walikota Denpasar beserta jajaran.

“Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat untuk mendukung jalannya upacara,” ujarnya.

Made Yuliarta menambahkan, Pura Dalem Pengaotan diempon oleh sekitar 250 kepala keluarga dari empat banjar, yakni Banjar Gunung, Banjar Buaji, Banjar Bekul sebagai banjar pengarep atau inti, serta Banjar Pala Giri sebagai banjar pendatang.

Sementara itu, rangkaiam karya telah dimulai sejak 1 Mei 2026 dengan rangkaian matur piuning, maguru piduka, dan mejaya-jaya panitia karya. Sedangkan melasti dilaksanakan 8 Juni dan Tawur Balik Sumpah pada 12 Juni. Puncak karya dilaksanakan hari ini dan dilanjutkan nyineb pada Minggu 28 Juni serta prosesi nyegara gunung pada Kamis 2 Juli 2026 mendatang.

Menurutnya, Pedudusan Agung merupakan karya besar yang wajib dilaksanakan secara turun-temurun oleh generasi masyarakat adat dalam rentang waktu sekitar 50 hingga 70 tahun sekali, disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan kemampuan pendanaan.

“Kalau karya rutin dilaksanakan setiap 15 tahun berupa Pedudusan Alit. Sedangkan Pedudusan Agung ini merupakan tingkatan karya yang lebih utama dan wajib dilaksanakan masyarakat apabila situasi dan kondisi sudah memungkinkan,” jelasnya.

Untuk pelaksanaan karya kali ini, pihak desa adat menganggarkan dana sekitar Rp 3,5 miliar yang bersumber dari swadaya masyarakat sebesar Rp 3,5 miliar serta dukungan bantuan Pemerintah Kota Denpasar. Anggaran tersebut juga digunakan untuk rangkaian karya di empat pura, termasuk pelaksanaan Pedudusan Alit di Pura Taman Beji dan Pura Puseh Desa. Ia berharap, pelaksanaan karya tersebut mampu memberikan kerahayuan secara sekala dan niskala bagi masyarakat.

“Harapan kami tentunya masyarakat selalu mendapat lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, diberikan kesehatan dan kerahayuan. Dari sisi sekala, yadnya ini juga menjadi momentum memperkuat persatuan, gotong-royong, dan rasa kebersamaan seluruh krama adat,” pungkasnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Dipuput 9 Sulinggih, Walikota Jaya Negara Hadiri Puncak “Karya Padudusan Agung” di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek

Published

on

By

karya pura segara rupek
HADIRI PUNCAK KARYA: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara yang juga selaku Penglingsir Puri Penatih, Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih sekaligus Pengrajeg Karya didampingi Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara saat mengikuti rangkaian Puncak Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Tabuh Gentuh, dan Padudusan Agung Menawa Ratna di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dan Pura Taman Beji Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Minggu (14/6). (Foto: Hms Dps)

Buleleng, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Puncak Karya Padudusan Agung Menawa Ratna di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dan Pura Taman Beji Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Minggu (14/6), bertepatan dengan Tilem Sasih Sadha. Kehadiran Jaya Negara yang juga selaku Penglingsir Puri Penatih, Ketua Umum Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih sekaligus Pengrajeg Karya tersebut didampingi Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara.

Puncak karya yang berlangsung khidmat sejak pagi hari itu dipuput oleh sembilan sulinggih dari berbagai griya di Bali. Yakni Ida Pedanda Gede Sukawati Manuaba selaku Wiku Yajamana, Ida Pedanda Bhoda dari Griya Gede Tegal Jadi Tabanan, Ida Rsi Bhujangga Hari Dantam dari Griya Tumbak Bayuh Badung, Ida Pedanda Reshi Agung Pinatih Kusuma Yoga dari Griya Agung Tulikup Gianyar, Ida Rsi Agung Sidemen Sumurdha Gotama Karang dari Griya Bhuda Klungkung, Ida Pedanda Gede Putra Sidhanta Manuaba dari Griya Gede Bantas Gali Ukir Pupuan Tabanan, Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogata Karang dari Griya Agung Buduk Badung, Ida Rsi Agung Putra Sidhimantra dari Griya Agung Bumbak Badung, serta Ida Pedanda Gede Dwija Putra Manuaba dari Griya Bedulu, Jembrana.

Jaya Negara menjelaskan, sebelum pelaksanaan puncak karya, terlebih dahulu telah dilaksanakan prosesi Melasti dan Mulang Pakelem sebagai bagian dari rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Tawur Tabuh Gentuh, dan Padudusan Agung Menawa Ratna pada Sabtu (13/6). Upacara Melasti dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Dalem dari Griya Dalem Sibang, Ida Pedanda Dwija Padang Rata dari Griya Kutri Gianyar, serta Ida Pedanda Nabe Istri Rai Sigaran dari Griya Manistutu, Jembrana.

Menurut Jaya Negara, rangkaian Melasti memiliki makna penting sebagai prosesi penyucian dan permohonan kerahayuan sebelum memasuki puncak karya. Melalui upacara tersebut, umat memohon agar seluruh rangkaian yadnya dapat berjalan lancar serta memberikan keselamatan dan keseimbangan bagi alam semesta.

“Melalui pelaksanaan Melasti ini, diharapkan seluruh rangkaian Karya Agung di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek dapat berlangsung lancar dan memberikan kerahayuan bagi umat serta alam semesta,” ujar Jaya Negara.

Lebih lanjut, Jaya Negara mengapresiasi semangat pengabdian seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan karya. Menurutnya, yadnya yang dilaksanakan tidak hanya menjadi sarana meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga mempererat persaudaraan umat serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.

Dalam kesempatan tersebut, Jaya Negara juga menyampaikan terima kasih kepada para sulinggih, pemerintah, pengempon dan pengemong pura, para donatur, serta masyarakat yang turut ngayah dan memberikan punia. Dukungan yang diberikan, baik moril maupun materiil, menjadi bukti nyata semangat gotong-royong dalam menjaga keberlangsungan warisan spiritual dan budaya Bali.

Jaya Negara menjelaskan bahwa Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek merupakan salah satu pura kahyangan jagat yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi bagi umat Hindu. Karena itu, keberadaan pura tersebut perlu terus dijaga, dipelihara, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya dan spiritual Bali.

Karya ini merupakan wujud bhakti yang tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kesucian dan kelestarian Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek sebagai pura kahyangan jagat,” ujar Jaya Negara.

Jaya Negara juga mengapresiasi dukungan Gubernur Bali Wayan Koster, pemerintah daerah se-Bali, Bank BPD Bali, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga pelaksanaan karya dapat berlangsung dengan baik. Menurutnya, sinergi dan kebersamaan tersebut menjadi kekuatan utama dalam menjaga eksistensi pura dan tradisi keagamaan yang diwariskan para leluhur. Menurut Jaya Negara, karya yang dipuput para sulinggih dari berbagai soroh dan wangsa di Bali tersebut tidak hanya bertujuan menyucikan kawasan pura, tetapi juga menyucikan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.

“Melalui karya ini kita bersama-sama memohon agar alam semesta senantiasa dianugerahi keselamatan, kedamaian, dan kerahayuan. Nilai-nilai kebersamaan, gotong-royong, dan bhakti yang terbangun selama pelaksanaan karya menjadi kekuatan penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat Bali,” ujar Jaya Negara. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca