Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Les Kelanguan Memukau PKB XLVIII, Duta Badung Angkat Spirit “Mebuug-buugan” Kedonganan

BALIILU Tayang

:

barong landung
PENAMPILAN LES KELANGUAN: Penampilan Duta Kabupaten Badung melalui Sanggar Tari Rare Cili Kedonganan, Lingkungan Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta dengan garapan Barong Landung bertajuk “Les Kelanguan” pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Selasa (7/7/2026) pukul 17.00 Wita. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) Denpasar dipadati penonton yang antusias menyaksikan penampilan Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Selasa (7/7/2026) pukul 17.00 Wita. Dipentaskan oleh Sanggar Tari Rare Cili Kedonganan, Lingkungan Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, garapan Barong Landung bertajuk “Les Kelanguan” berhasil memukau penonton melalui perpaduan seni pertunjukan, tradisi, dan pesan spiritual yang kuat.

Pementasan diawali dengan tabuh petegak bebarongan berjudul “Jala Maasin”. Garapan ini mengangkat filosofi air sebagai sumber kehidupan yang mengalir dari pegunungan hingga bermuara di pesisir. Pertemuan air tawar dan air laut yang menghasilkan air payau dimaknai sebagai simbol keharmonisan alam. Dalam ajaran Hindu, perpaduan air tersebut juga memiliki nilai sakral sebagai salah satu sarana dalam pelaksanaan upacara yadnya.

Memasuki garapan utama, “Les Kelanguan” mengangkat tradisi “Mebuug-buugan”, ritual khas masyarakat Desa Adat Kedonganan yang dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi bermain lumpur ini menjadi metafora perjalanan menuju Atma Kerthi Jiwa Sidha Parisudha. Kisah diawali dari keceriaan anak-anak yang bermain lumpur merah di pesisir sebagai simbol sifat alami manusia yang masih dipenuhi kekotoran. Perjalanan kemudian berkembang menjadi konflik yang mencerminkan gejolak batin dan ego manusia.

Alur cerita berlanjut dengan hadirnya sosok dukuh yang menanamkan nilai-nilai dharma sebagai tuntunan hidup. Perjalanan spiritual kemudian mencapai tahap penyucian di pesisir barat melalui prosesi Sesuhunan yang lunga ngintar merespons mrana desa. Kehadiran Legong, Telek, hingga manifestasi sakral Ida Jro Wayan dan Ida Jro Luh dalam wujud Barong Landung memperkuat pesan bahwa manusia akan mencapai keseimbangan apabila mampu menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya hingga mencapai jiwa yang Sidha Parisudha.

Baca Juga  Bawakan Karya ‘’Pasir dan Ukir, Seniman Muda Badung Guncang Panggung Ardha Candra PKB 2025

Koordinator Nglawang Barong Landung Duta Kabupaten Badung, Agus Suanjaya, mengatakan tema “Les Kelanguan” terinspirasi dari kawasan hutan mangrove di pesisir timur Kedonganan. Menurutnya, garapan tersebut menjadi media untuk memperkenalkan tradisi-tradisi yang masih hidup di Desa Adat Kedonganan kepada masyarakat luas.

“Kami mengangkat tradisi yang ada di Desa Adat Kedonganan, terutama Mebuug-buugan yang dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi itu kami hadirkan ke dalam konsep garapan agar masyarakat semakin mengenal warisan budaya yang kami miliki. Harapan kami, desa adat maupun duta kabupaten lainnya juga terdorong mengangkat tradisi yang dimiliki daerahnya masing-masing,” ujar Agus Suanjaya.

Ia menjelaskan proses kreatif pementasan telah dimulai sejak 11 Februari 2026 dan berlangsung selama sekitar empat setengah bulan. Sebanyak 108 seniman dilibatkan dalam proses latihan hingga akhirnya tampil mewakili Kabupaten Badung pada panggung PKB XLVIII.

Sementara itu, penari yang memerankan tokoh kakek, Agus Suwira, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali. Menurutnya, festival seni tahunan ini menjadi wadah penting bagi para seniman untuk terus berkarya sekaligus menjaga keberlangsungan seni dan budaya Bali.

“Pesta Kesenian Bali memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Semoga kegiatan ini terus berkembang sehingga seni dan budaya Bali tetap lestari dan semakin dicintai oleh generasi muda,” kata Agus Suwira.

Dalam pementasan tersebut, Agus Suwira memerankan sosok kakek yang menjadi panutan keluarga dengan memberikan tuntunan kepada cucu-cucunya agar tumbuh menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur, mampu menjaga nilai-nilai budaya, serta menjadi kebanggaan masyarakat.

Sementara itu, Gung Gita yang memerankan tokoh nenek menjadi simbol kasih sayang dan kebijaksanaan dalam keluarga. Kehadiran kedua tokoh tersebut memperkuat pesan moral pementasan tentang pentingnya peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai dharma, menjaga keharmonisan kehidupan, serta mewariskan tradisi kepada generasi penerus.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Apresiasi Penampilan Gong Kebyar Anak-anak Duta Badung

Tepuk tangan panjang dari penonton menutup pementasan sore itu. Melalui garapan “Les Kelanguan”, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menyuguhkan pertunjukan yang memukau secara artistik, tetapi juga mengajak masyarakat untuk memahami makna penyucian diri, menjaga keharmonisan dengan alam, serta melestarikan tradisi sebagai identitas budaya Bali yang terus hidup dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Bersama Ribuan Masyarakat, Gubernur Koster Saksikan Parade Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Gianyar dan Badung

Published

on

By

gubernur koster
SAKSIKAN GONG KEBYAR: Gubernur Bali Wayan Koster saat hadir langsung menyaksikan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa pada PKB 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar pada Rabu (8/7) malam. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Sebagai bentuk dukungan terhadap seniman yang tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung menyaksikan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar pada Rabu (8/7) malam.

Pada kesempatan ini tampil Komunitas Seni Sanggar Naya Art, Br. Menguntur Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Duta Kabupaten Gianyar dan Komunitas Seni Baturenggong, Br. Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Duta Kabupaten Badung.

Duta Kabupaten Gianyar mengawali dengan persembahan garapan Tabuh Lima Lelambatan berjudul “Guntur Madu”. Sementara Duta Kabupaten Badung mempersembahkan garapan Tabuh Lima Lelambatan Kreasi berjudul “Lawas”.

Pada penampilan kedua, Duta Gianyar mempersembahkan Tari Kreasi Kekebyaran berjudul “Gonggang”. Sementara Duta Kabupaten Badung selanjutnya mempersembahkan Tari Kreasi Kekebyaran berjudul “Masepuh”.

Pada persembahan pamungkas, Komunitas Seni Sanggar Naya Art, Br. Menguntur Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Duta Kabupaten Gianyar mempersembahkan Pragmen Tari berjudul “Sri Tanjung”.

Pragmen tari ini berkisah tentang kesetiaan Sri Tanjung yang difitnah oleh Prabu Sulakrama. Karena hasutan tersebut, sang suami, Sidapaksa, menjadi murka dan membunuh Sri Tanjung. Ketika akhirnya dia tahu jika istrinya Sri Tanjung adalah wanita tak berdosa, Sidapaksa harus membayar mahal dengan penggalan kepala Prabu Sulakrama yang sempat menjamah tubuh yang suci setelah dia ditolak oleh Sri Tanjung. Sebelum ia datang membawa penggalan kepala Prabu Sulakrama, Sidapaksa lalu menyerang Prabu Sulakrama dan berhasil memenggal kepalanya untuk dipersembahkan kepada istrinya Sri Tanjung untuk menyucikan jiwanya yang ternoda akibat tubuhnya yang dijamah oleh Prabu Sulakrama.

Sementara Komunitas Seni Baturenggong, Br. Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Duta Kabupaten Badung mempersembahkan Pragmen Tari berjudul “Jero Luh”.

Baca Juga  Sanggar Seni Bade Mas Duta Badung Suguhkan Pagelaran Gamelan Inovatif di PKB Ke-46

Garapan ini menceritakan hidup Si Luh Punggul periode 1890 masehi, seorang perempuan sepuh yang mengabdikan hidupnya sebagai abdi setia Anak Agung Gede Agung di Puri Gede Abiansemal. Berkat kawisesan atau kekuatan spiritual yang dimilikinya, serta ikatan batin yang kuat dengan permaisuri Agung Gede Agung, Si Luh Punggul dipercaya sebagai pelindung abdi dan pawang hujan yang senantiasa menjalankan tugasnya dengan penuh kesetiaan. Menjelang akhir hayatnya, Si Luh Punggul menyampaikan sebuah permohonan terakhir agar Tapel (Topeng-red) Rangda diletakkan di atas jasadnya. Permohonan itu bukan sekadar wasiat, melainkan wujud tekadnya untuk tetap mengabdi meskipun raganya telah tiada.

Taksu cerita yang dibawakan oleh Duta Kabupaten Badung ini benar terlihat dan dirasakan dengan turunnya hujan tepat saat puncak cerita pementasan yang langsung disambut gemuruh tapuk tangan penonton yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra.

Acara ditutup dengan foto bersama. Hadir pada kesempatan ini, Bupati Badung Nyoman Adi Arnawa, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, Kadis Kebudayaan Provinsi Bali Ida Bagus Alit Suryana, Kadis PMA Provinsi Bali  I.G.A.K Kartika Jaya Saputra. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Bupati Adi Arnawa Bangga Saksikan Penampilan Duta Gong Kebyar Dewasa Badung pada PKB XLVIII

Published

on

By

bupati adi arnawa
SAKSIKAN GONG KEBYAR DEWASA: Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Gubernur Bali Wayan Koster, berfoto bersama usai menyaksikan penampilan Duta Kabupaten Badung pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Rabu (8/7/2026). (Foto: Hms Badung)

Denpasar, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Gubernur Bali Wayan Koster, sangat bangga menyaksikan penampilan Duta Kabupaten Badung pada Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Rabu (8/7/2026).

Pada kesempatan tersebut, Kabupaten Badung diwakili oleh Komunitas Seni Baturenggong, Banjar Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, yang tampil berpasangan dengan Duta Kabupaten Gianyar.

Turut hadir Wakil Bupati Gianyar AA Gde Mayun, Ketua TP PKK Kabupaten Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa beserta Kepala OPD di lingkungan Pemkab Badung dan Gianyar.

Bupati Wayan Adi Arnawa memberikan apresiasi atas dedikasi seluruh seniman, pelatih, pembina, serta masyarakat yang telah mempersiapkan penampilan terbaik Gong Kebyar Dewasa sebagai representasi Kabupaten Badung pada ajang seni budaya terbesar di Bali tersebut.

Pemkab Badung akan terus hadir memberikan dukungan terhadap pembinaan kesenian agar warisan budaya Bali tetap lestari, berkembang, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

“Kami bangga melihat semangat para seniman yang tampil tadi, khususnya generasi muda, yang mampu menampilkan karya berkualitas dengan mengangkat sejarah serta nilai-nilai budaya lokal. Semoga penampilan ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan menjaga jati diri budaya Bali,” ujar Bupati.

Meski sempat diguyur hujan, namun tak menyurutkan semangat Bupati Adi Arnawa dan seluruh undangan untuk menyaksikan tiga garapan yang dibawakan oleh Komunitas Seni Baturenggong, Duta Kabupaten Badung.

“Penampilan Badung sangat mistis sekali, dengan menampilkan cerita Jero Luh yang terdapat memang ada ceritanya, salah satu kemampuannya bisa menjadi pawang hujan. Dan itu terbukti tadi, secara nyata bahwa sempat ada hujan langsung reda. Saya sempat bicara dengan Bapak Gubernur, itulah alam, benar-benar ada kekuatan dan interaksi. Itu luar biasa mistis dan Pak Gubernur sangat puas, kita semua cukup puas juga,” ungkapnya.

Baca Juga  Sekaa Gong Gita Swara Banjar Anyar Kuta Pukau Penonton di Utsawa Joged Bumbung Tradisi PKB 2025

Komunitas Seni Baturenggong membawakan tiga garapan yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Sajian diawali dengan Tabuh Lelambatan yang menggambarkan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Mengwi, dilanjutkan Tari Kreasi yang mengangkat kisah Masepuh, putra Raja Mengwi yang hingga kini diyakini dan dihormati masyarakat di kawasan Seseh dan Munggu.

Penampilan ditutup dengan fragmentari yang mengisahkan Jero Luh, tokoh perempuan spiritual yang menjadi sungsungan masyarakat Mengwi dan memiliki keterkaitan erat dengan ritual sakral di Pura Dalem Mengwi. Pementasan melibatkan sebanyak 147 seniman yang sebagian besar merupakan generasi muda. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Kontingen Badung Curi Perhatian di PKB XLVIII, Fragmentari “Jero Luh” Jadi Magnet Penonton

Published

on

By

gong kebyar badung
GONG KEBYAR DEWASA DUTA BADUNG: Kontingen Kabupaten Badung saat menampilkan kreasi seninya melalui garapan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dari Komunitas Seni Baturenggong, Banjar Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Duta Kabupaten Badung di Panggung Terbuka, Ardha Candra, Denpasar, Rabu, 8 Juli 2026. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Untuk kesekian kalinya kontingen Kabupaten Badung, tampil dalam rangkaian PKB XLVIII Tahun 2026. Kali ini, kontingen Kabupaten Badung menampilkan kreasi seninya melalui garapan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dari Komunitas Seni Baturenggong, Banjar Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Duta Kabupaten Badung di Panggung Terbuka, Ardha Candra, Denpasar, Rabu, 8 Juli 2026.

Komposer Fragmentari Komunitas Seni Baturenggong, Banjar Delod Bale Agung, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, I Made Adi Suyoga Adnyana, S.Sn menyebut, ada tiga materi yang ditampilkan yakni Tabuh Lima Lawas, Tari Kreasi Masepuh dan pragmentari Jero Luh.

“Untuk pragmentari kami mengangkat sejarah lokal yakni, di Desa Mengwi, tepatnya Sunan Jero Luh, yang mana Sunan Jero Luh memiliki histori terjadi di Puri Abiansemal. Dimana Jero Luh, yang nama awalnya Si Luh Punggul sebagai parekan yang sangat dipercaya dan sakti. Konon meskipun menjelang akhir hayatnya Si Luh Punggul menyampaikan permohonan terakhir agar tapel rangda diletakkan di atas jasadnya. Saat tapel menyentuh tubuhnya roh Jero Luh dipercaya menyatu secara niskala dengan tapel rangda, yang hingga saat ini tapel rangda ini menjadi sesuhunan di Pura Dalem Mengwi,” terangnya, di sela kegiatan pertunjukan, Rabu (8/7/2026) di Ardha Candra, Denpasar.

Ia mengaku, persiapan pertunjukan yang memakan waktu satu setengah jam ini membutuhkan waktu 6 bulan.

“Kami melakukan persiapan telah dimulai sejak bulan Januari hingga saat ini, jadi kurang lebih 6 bulan lamanya,” ucapnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Badung dalam kaitan dengan pertunjukan ini telah mensupport dengan sangat baik.

Sembari Adnyana berharap, ke depan sangat diharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Badung agar lebih banyak lagi memberi ruang kreatif, khususnya pada pembibitan generasi muda, baik komposer, koreografer maupun pemain agar dapat diberi ruang terutama dalam mengasah sekillnya dan menjadi potensi lokal jenius yang bagus di Kabupaten Badung kedepannya. (gs/bi)

Baca Juga  Jejak Maestro Lotring Hidup Kembali, Rekonstruksi Gamelan Tua Kuta Memukau PKB 2026

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca