Denpasar, baliilu.com – Banyaknya pengaruh buruk yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya yang menyerang kaum muda, mengakibatkan semakin menipisnya pemahaman nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, sosialisasi pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila harus terus dilakukan secara bersinergi.
Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Suastini Koster menyampaikan hal itu saat didaulat sebagai narasumber acara dialog Perempuan Bali Bicara, dengan tema “Menanamkan Nilai-nilai Pancasila Dalam Keluarga” bersama Kepala Staf Korem 163/ Wira Satya Kolonel Inf. IB Ketut Surya Widana, di Studio Bali TV, Senin (8/2).
‘’Untuk menguatkan pemahaman nilai-nilai Pancasila bukan hanya melalui teori saja, namun harus langsung mempraktikkan di lapangan, dengan tujuan menumbuhkan rasa loyalitas, kesetiaan dan dedikasi menjadi hal yang harus dimiliki setiap generasi bahwa kepentingan negara di atas kepentingan pribadi,’’ terang pendamping pejabat orang nomor satu di Bali ini.
Ny. Putri Koster lanjut mengatakan dalam keluarga anak-anak hendaknya diberikan tugas untuk dilaksanakan. Rumah merupakan sekolah pertama untuk menanamkan kedisiplinan dan penumbuhan karakter yang berkepribadian baik dan bertanggung jawab.
Pada pengamalan sila pertama, seorang anak dididik untuk mengokohkan pribadi melalui pembagian tugas pemahaman agama yang kita anut. Yang nantinya dapat diterapkan di lingkungan luas terutama pertemanan, sekolah dan dimana pun kita berada. Sehingga di sini penanaman hubungan manusia dengan Tuhan sangat penting.
‘’Guru di sekolah memberikan teori, sedangkan rumah dan lingkungan menjadi tempat untuk melaksanakan praktik,’’ tuturnya.
Pada sila kedua yakni penanaman nilai kemanusiaan untuk saling hormat-menghormati antara diri kita dengan orang lain. ‘’Tidak melanggar hak orang lain dan menghormati sang catur guru. Kalau langgah disebut tulah idup, seperti melangkah di gurun, hidup tak menentu,’’ ucapnya.
Pada sila Persatuan Indonesia, orangtua memiliki peran menanamkan kecerdasan kita untuk kejayaan bangsa, bahwa negara ini berbhinneka namun tunggalika, sehingga anak-anak memiliki kesetiaan dan kecintaan terhadap bangsa dan Tanah Air.
Pada sila keempat, kita sudah diajarkan untuk melakukan hal-hal baik dan positif dalam kehidupan. “Sejak lama kita ditanamkan lebih mendahulukan cara musyawarah untuk mufakat untuk mendapatkan hasil sebuah kesempatan yang bermanfaat bagi banyak pihak,” ujar Ny. Putri Koster.
Sedangkan pada sila kelima, orangtua menanamkan rasa adil dalam kehidupan. Orangtua memiliki peran sebagai pendorong bagi kesuksesan anak-anaknya, memiliki kewajiban untuk menanamkan rasa yang berkeadilan dan memiliki rasa sosial yang tinggi bagi lingkungannya.
‘’Filternya harus jelas mana yang boleh ditiru dan mana yang tidak. Karena kemajuan teknologi memang harus dikuasai dan dimanfaatkan dengan keahlian yang profesional dan jangan sampai kita dikuasai oleh kemajuan teknologi. Sehingga tidak mampu menyaring informasi yang sesuai kaidah yang benar dan tidak percaya pada informasi yang bohong (hoax),’’ ujar seniman multitalenta ini seraya menegaskan jangan sampai teknologi informasi menjadi bumerang bagi keberlangsungan pertumbuhan karakter anak-anak kita.
Karakter yang harus ditanamkan pada anak-anak di dalam keluarga adalah pendidikan berbudi luhur, etika dan sopan santun. “Mari kita bertingkah laku yang baik dalam masyarakat yang tidak menyebabkan orang lain menjadi sengsara dan sakit hati. Dengan berfikir, berbicara dan berperilaku yang baik akan mampu memagari diri sendiri untuk mengendalikan hal-hal negatif tidak terjadi,” tegas Ny. Putri Koster.
Sementara itu, Kepala Staf Korem 163/ Wira Satya Kolonel Inf. IB Ketut Surya Widana menyebutkan pandangan hidup dalam membina rumah tangga menjadi sumber pendidikan utama dalam penanaman karakter dan pribadi. Penghayatan dan pengamalan Pancasila adalah prioritas dalam kehidupan. Di mana orangtua harus menjadi teladan dan contoh yang baik bagi anak-anaknya.
Sedangkan penanaman pengamalan nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya melalui teori saja namun harus nyata dengan dilakukannya praktik bersama di tengah lingkungan bermasyarakat.
Anak-anak diberikan tugas masing-masing sehingga tumbuh peran serta sebagai karakter individu yang matang sejak awal. “Contohnya masing-masing anggota keluarga memiliki tugas di rumahnya, sehingga tumbuh rasa tanggung jawab terhadap sebuah kewajiban,” tegas Kepala Staf Korem 163/Wira Satya.
Program dari Korem 163/ Wira Satya bagi anggotanya sudah terbentuk dan pembekalan bagi pelaksanaan dan penerapan nilai-nilai Pancasila di kesatuan-kesatuan hingga koramil dan babinsa yang nantinya dapat disosialisasikan di tengah masyarakat.
Khusus untuk prajurit TNI sepanjang tahun terus diingatkan selalu bagaimana menerapkan dan mengamalkan Pancasila. Pembinaan dan penguasaan Pancasila akan serta merta memberi bekal bagi generasi muda khususnya anak-anak kita, sekalipun mereka berada jauh dari orangtuanya.
Pengetahuan teknologi harus mampu dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak, tetapi orangtua harus mengawasi anak-anak agar tidak terjerumus pada hal-hal yang negatif. Dengan aturan bermedia sosial juga harus disampaikan kepada anak-anak kita agar mereka tidak hancur oleh perkembangan informasi yang begitu cepat.
Pendidikan yang sangat penting dan utama bagi anak-anak adalah pendidikan moral dan agama, sehingga tertanam nilai-nilai kesopanan dan dedikasi yang terarah dalam meniti kehidupan dan masa depan. (gs)