Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

PAKIS Bali Sosialisasikan Pakem Payas Utama dan Payas Madya di Karangasem

BALIILU Tayang

:

de
PAKIS Bali saat melakukan pelatihan tata busana adat Bali di Karangasem. (Foto: Ist)

Karangasem, baliilu.com – Sesuai Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019, Paiketan Krama Istri (PAKIS) Provinsi Bali dibentuk dan bergerak serangkaian mendukung program pemerintah salah satunya mendukung penguatan desa adat khusus dalam menjaga dan merawat budaya Bali.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Bali memiliki 8 kabupaten dan satu kota. Kesembilan kabupaten dan kota ini tentu memiliki ciri khas dan budaya sendiri, baik itu adat istiadat, kepercayaan dan pola tata rias. Untuk mempertahankan dan menjaga sekaligus merawat alam melalui budaya yang sudah ada sejak jaman dahulu, melalui Paiketan Krama Istri, pemerintah ingin mewujudkan program pertahanan sekaligus melestarikan budaya yang sudah ada.

Kegiatan sosialisasi dan aksi sosial yang merupakan program dari PAKIS Bali diimplementasikan dalam kegiatan nyata turun ke lapangan dengan cara memberikan kesempatan bagi pemilik salon untuk mendapatkan pelatihan menata rambut sesuai dengan pakem. Seperti yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Paiketan Krama Istri (PAKIS) Provinsi Bali menggandeng Anak Agung Ayu Ketut Agung (pendiri salon Agung) memberikan sosialisasi dan praktek pola tata rias rambut (payas utama dan payas madya) sesuai dengan tingkatan yadnya.

Dengan perbedaan dan ciri khasnya masing-masing, payas utama dan payas madya harus disesuaikan dengan daerah asalnya dan sudah sesuai dengan hasil riset berdasarkan pakem yang dari puri kabupaten/ kota terkait. “Puri adalah tempat para raja di jamannya dan satu-satunya yang memiliki akses berhubungan dengan pihak luar negeri. Pakem payas utama atau yang biasa kita kenal sebagai payas agung harus disesuaikan dengan hasil riset yang dilakukan,” jelas Ketua Harian Paiketan Krama Istri (PAKIS) Provinsi Bali Cok. Tia Kusumawardhani saat membuka pelatihan tata busana adat payas utama dan payas madya, di Gedung MDA Kabupaten Karangasem, Selasa (10/5).

Baca Juga  Lestarikan Khasanah Etika Busana Wanita Bali, Ny. Putri Koster Gelar Pelatihan ‘’Pusung Tagel’’

Ciri khas atau pakem payas utama dan payas madya ini harus tetap dilestarikan sehingga tetap menjadi identitas bagi wilayahnya masing-masing.

Bendesa Madya Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Karangasem I Ketut Alit Suardana mengatakan pihaknya sangat berterima kasih dengan kedatangan Manggala PAKIS Provinsi Bali yang berkenan memberikan kontribusi pemahaman bagi penata rias rambut (salon) yang ada diwilayahnya untuk tidak mencampuraduk pola tata rias yang berlaku di tengah masyarakat.

Karangasem yang secara administratif terdiri dari 8 wilayah kecamatan, 78 desa/ kelurahan, yang terdiri dari 75 desa definitif dan 3 kelurahan, 529 banjar dinas/dusun dan 52 lingkungan. Sedangkan secara adat Kabupaten Karangasem terdiri dari 188 desa adat dan 605 banjar adat mempunyai ciri khas penataan rias pengantin agung yang dibagi menjadi tiga (3) bagian yaitu tata rias wajah dan rambut, busana, serta aksesoris pengantin agung Karangasem.

Masing-masing bagian pada tata rias pengantin agung Karangasem memiliki makna yang sesuai dengan fungsinya.

Langkah-langkah pelaksanaan dimulai dari tata rias wajah, selanjutnya pada tata rias rambut yakni pembentukan semi gopong, pusung kerucut, sanggul gento agung, bunga mawar, cempaka putih, cempaka kuning, blengker, bunga sandat, empak-empak, bunga cempaka, cucuk bundar emas, dan terakhir pemasangan sekar taji.

Langkah penggunaan busana pengantin wanita meliputi penggunaan tapih, kamen songket, stagen, selendang blebet sutra cina, dan terakhir selendang bangsing. Sedangkan untuk pengantin pria menggunakan saput songket merebong, sabuk/stagen, kampuh atau saput sutra penuh, umpal, baju beludru bersulam, dan destar.

Sementara langkah-langkah penggunaan aksesoris pengantin wanita meliputi subeng cerorot, badong, gelang, dan sabuk pending. Sedangkan untuk pengantin pria meliputi penggunaan rumbing, gelang, dan pada tahap akhir penggunaan bros.

Baca Juga  Ny. Putri Koster Sapa TP PKK, Dekranasda dan Pakis Se-Bali, Bersama Sinergikan Kekuatan Mencapai Satu Tujuan

Dengan disesuaikannya pakem payas utama dan payas madya pada tingkatan yadnyanya, maka dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan tempat dan waktu penggunaan.

Melalui sosialisasi, pelatihan tata busana adat payas utama dan payas madya diharapkan mampu menambah wawasan dan pengetahuan di bidang payas utama dan payas madya di masing-masing kabupaten, karena program ini menjadi salah satu program yang strategis dan bermanfaat bagi para peserta.

Di hari yang sama, Ketua Harian Paiketan Krama Istri (PAKIS) Provinsi Bali mewakili Manggala Utama PAKIS Bali menyerahkan bantuan beras sebanyak 2 ton kepada 100 orang penerima yang terdiri dari 10 lansia, 10 ibu hamil, 10 penyandang disabilitas, 10 pecalang dan 10 yowana. Dalam aksi sosial yang dikemas “Tresna lan Punia” ini diharapkan memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Jajaran Pemkab Tabanan Laksanakan “Bhakti Penganyar” di Pura Giri Salaka Alas Purwo

Published

on

By

Jajaran Pemkab Tabanan Gelar Persembahyangan Bhakti Penganyar di Pura Giri Salaka
BHAKTI PENGANYAR: Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan persembahyangan Bhakti Penganyar di Pura Giri Salaka, Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (4/11). (Foto: ist)

Tabanan, baliilu.com – Jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan persembahyangan Bhakti Penganyar di Pura Giri Salaka, Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (4/11). Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Suci Pagerwesi ini diikuti oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tabanan I Gede Susila beserta Ny. Santi Susila yang hadir mewakili Bupati Tabanan. Turut hadir Ketua DPRD Kabupaten Tabanan beserta istri dan anggota DPRD, para Asisten Sekda, para Camat, serta para Kepala Perangkat Daerah beserta staf di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan.

Persembahyangan Bhakti Penganyar berlangsung dengan khidmat sebagai wujud sradha dan bhakti umat ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui persembahyangan bersama, yang dilanjutkan dengan penyerahan punia sebagai bentuk ketulusan dan dukungan terhadap keberlangsungan kegiatan keagamaan di Pura Giri Salaka.

Momentum Hari Suci Pagerwesi yang dimaknai sebagai hari untuk memperkuat keteguhan pikiran dan spiritualitas menjadi pengingat bagi umat Hindu agar senantiasa membentengi diri dengan ilmu pengetahuan, nilai-nilai dharma, serta kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan. Melalui momentum suci ini, diharapkan mampu meningkatkan sraddha dan bhakti serta menjaga keseimbangan dalam kehidupan.

Pelaksanaan Bhakti Penganyar juga dimeriahkan dengan persembahan seni dan budaya Bali, yakni Tari Rejang Tridatu, Tari Dadong Rerod, serta tabuhan Sekaa Gong Wanita Kabupaten Tabanan. Persembahan tersebut menambah semarak sekaligus kekhidmatan suasana, serta menjadi wujud nyata pelestarian seni, adat, dan budaya Bali yang senantiasa berjalan selaras dengan kehidupan spiritual masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Tabanan berharap nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan, dan sradha bhakti umat semakin kuat. Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi keagamaan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat rasa persatuan serta menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana. (gs/bi)

Baca Juga  Wagub Giri Prasta Ajak Laskar Bali Shanti Terus Menebar Kedamaian dan Mengabdi untuk Bali

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Adi Arnawa Upasaksi “Karya Padudusan Agung” di Sigaran Mekar Bhuwana

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Munggah Kwangen di Bagia Pula Kerti Saat Padudusan Agung
MUNGGAH KWANGEN: Bupati Adi Arnawa “munggah kwangen” di Bagia Pula Kerti saat menghadiri sekaligus menjadi upasaksi pada Puncak Piodalan Pedudusan Agung di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Sigaran Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Senin (2/11). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri sekaligus menjadi upasaksi pada Puncak Piodalan Padudusan Agung serangkaian Karya Ngenteg Linggih, Mamungkah, Mupuk Pedagingan, Pedudusan Agung, Menawa Ratna, Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Sigaran Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Senin (2/11).

Karya yang dilaksanakan berdasarkan rangkaian upacara Tawur Balik Sumpah Utama tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Gede Griya Cau Belayu, Ida Pedanda Gede Gria Dalem Sibanggede, dan Ida Pedanda Ulun Uma. Sebagai wujud nyata dukungan Pemerintah Kabupaten Badung terhadap pelestarian adat dan budaya Bali, Bupati Adi Arnawa menyerahkan bantuan dana sebesar Rp 3,5 miliar kepada Bendesa Adat Sigaran.

Bupati Adi Arnawa juga melaksanakan persembahyangan bersama krama pengempon serta melakukan prosesi munggah kwangen di Bagia Pula Kerti. Dalam sambramanya, Bupati mengapresiasi karya yadnya ini sebagai wujud nyata sradha dan bhakti masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten Badung senantiasa berkomitmen untuk mendukung pelestarian adat, agama, seni, dan budaya Bali. Pelaksanaan karya yadnya seperti ini merupakan wujud nyata sradha dan bhakti masyarakat sekaligus bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan leluhur agar tetap ajeg dan lestari,” ujarnya.

Ia menegaskan, tradisi lokal merupakan fondasi penting pariwisata karena sudah menjadi kewajiban bersama untuk menjaga, merawat, dan mewariskan adat serta budaya Bali kepada generasi penerus. “Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita melupakan akar budaya dan tradisi yang menjadi jati diri masyarakat Bali,” tegasnya.

Sementara itu, Manggala Karya Wayan Suja menyampaikan bahwa rangkaian karya telah dimulai sejak 27 Agustus 2026 dan akan berlangsung hingga 16 Desember 2026 mendatang. Tahapan upacara yang dilaksanakan meliputi Atur Piuning, Dharma Wacana, Nyukat Genah, Melaspas, Nyengker Setra, Netegan Nyangling, Mendak Tirta, hingga Yasa Kerti. Disebutkan pula bahwa pengempon pura berjumlah 109 paon, yang mencakup 430 kepala keluarga (KK) atau 2.425 jiwa.

Baca Juga  Manggala Utama PAKIS Bali Ny. Putri Koster Pimpin Pelaksanaan ‘’Tresna lan Punia’’ di Kutampi Nusa Penida

Turut hadir Anggota DPRD Badung Nyoman Wiradana, Plt. Camat Abiansemal Wayan Bagiarta Gunawan, unsur Tripika, Perbekel Desa Mekar Bhuwana, serta Bendesa Adat Mekar Bhuwana. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Pemkot Denpasar Gelar Persembahyangan Bersama Rahina Saraswati di Pura Agung Jagatnatha

Published

on

By

Persembahyangan Rahina Saraswati di Pura Agung Jagatnatha
PERSEMBAHYANGAN SARASWATI: Suasana persembahyangan yang diikuti oleh Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Putra Widiastawa, dan masyarakat Kota Denpasar serangkaian Rahina Saraswati, Saniscara Umanis Wuku Watugunung, di Pura Agung Jagatnatha, Sabtu (31/10). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan persembahyangan bersama serangkaian Hari Suci Saraswati di Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar, pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, Sabtu (31/10).

Persembahyangan tersebut merupakan wujud sradha bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati, Dewi Ilmu Pengetahuan.

Hadir langsung pada momentum tersebut, Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, bersama pimpinan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar. Tampak hadir pula Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Putra Widiastawa, dan Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya.

Usai persembahyangan, Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya mengatakan, Hari Suci Saraswati dimaknai sebagai turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia. Pada hari ini umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati yang diidentikkan sebagai dewi pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Dewi Saraswati diyakini sebagai sakti dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta dalam mitologi Hindu.

“Hari Saraswati menjadi hari yang penting bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan, karena ilmu pengetahuan merupakan bekal dalam kehidupan manusia yang dapat menuntun ke arah kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan peningkatan keberadaban,” ujarnya.

Pada Rahina Saraswati, umat Hindu melaksanakan persembahyangan dan persembahan kepada Dewi Saraswati di pura, sekolah, dan rumah masing-masing. Selain itu, umat juga menghaturkan banten Saraswati pada pustaka, lontar, kitab, dan buku-buku.

“Kami menghaturkan terima kasih kepada masyarakat Kota Denpasar termasuk siswa-siswi dan mahasiswa yang sudah hadir pada perayaan Hari Suci Saraswati di Kota Denpasar ini. Perayaan ini telah digelar secara rutin, mudah-mudahan melalui persembahyangan ini semua umat diberikan pengetahuan dan kecerdasan dalam menjalankan swadharma masing-masing,” ujar Sekda Eddy Mulya.

Baca Juga  Tak Sekadar Beri Bantuan, Ketua BKOW Bali Berikan Perhatian untuk Warga Seraya Timur

Sementara itu, Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Denpasar, Putu Agus Jayadi mengatakan, rangkaian persembahyangan Hari Suci Saraswati di Kota Denpasar dipusatkan di Pura Agung Jagatnatha. Adapun rangkaian persembahyangan dilaksanakan dari pagi hingga malam hari.

“Persembahyangan Rahina Saraswati hari ini akan dilaksanakan dari pagi sampai dengan malam hari. Untuk pemedek yang akan tangkil, dapat melaksanakan dengan tertib dan khusyuk,” katanya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca