Denpasar, baliilu.com – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-68 Yayasan Dwijendra yang puncaknya pada tanggal 28 Januari 2021, Yayasan Dwijendra menggelar seminar nasional dengan mengangkat isu paling hangat tentang pemberdayaan perempuan dengan menghadirkan keynote speaker Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati, Jumat (22/1).
Seminar yang digelar secara virtual dengan tema ‘’Pemberdayaan Perempuan Dalam Pembangunan Nasional’’, juga menghadirkan narasumber Rektor Dwijendra University Dr. Ir. Gede Sedana, M. Sc., M.M.A, Ketua TUK/LKP Agung Dr. Dra. AA Ayu Ketut Agung, M.M., dan Dirut CV. Jenget Prabhu Digital Solution.
Rektor Dwijendra University Dr. Ir. Gede Sedana, M. Sc., M.M.A kepada awak media menyampaikan seminar dengan mengangkat isu hangat tentang pemberdayaan perempuan, bahwa lembaga pendidikan tertua di Bali yang meliputi unit dari play grup, TK sampai perguruan tinggi ini, ingin menunjukkan dan memberikan kontribusi kepada publik dan pemerintah.
‘’Kami mencoba berkoordinasi dengan pihak Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak untuk mengangkat tema ini dan Ibu Menteri yang alumni di SMP Dwijendra sangat tertarik, dan berkenan untuk hadir di Dwijendra University. Namun karena suasana pandemi Covid maka dilakukan secara virtual,’’ terang Rektor Gede Sedana.
Dalam arahannya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar ini. Menteri Bintang Darmawati lanjut menggarisbawahi bahwa dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dipungkiri peran perempuan menjadi kunci dalam kehidupan keluarga Indonesia secara umum.
Demikian juga di Bali sebagai seorang ibu dan istri, perempuan seringkali berperan sebagai manajer keluarga yang memastikan seluruh anggota keluarganya dalam keadaan baik dan sehat. Bagi perempuan Hindu Bali berkaitan dengan kegiatan upacara keagamaan di Bali keterlibatan perempuan sangatlah penting sehingga perempuan Hindu Bali dikatakan sebagai tiang yadnya.
Menteri Bintang Darmawati juga mengatakan patut kita mengapresiasi terkait indeks kesetaraan gender beserta berbagai indikatornya yang telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Mengecilnya jurang ketidaksetaraan gender juga semakin dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun perjuangan menuju kesetaraan gender nyatanya masih jauh dari kata selesai. Hingga saat ini perempuan masih dikategorikan sebagai kelompok rentan. Kerentanan perempuan bukanlah dikarenakan dirinya lemah melainkan karena kondisi bias gender akibat konstruksi sosial di masyarakat yang kemudian membawa perempuan pada berbagai permasalahan seperti stigmatisasi stereotip bahkan marjinalisasi.
Oleh karena itu Pemerintah Pusat telah menetapkan pengarusutamaan gender sebagai cross cutting issue yang dari tahap pencegahan sampai penanganannya membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Untuk itu perlu adanya kesadaran dan keterlibatan semua pihak dalam menyuarakan dan menghidupkan di seluruh lapisan masyarakat terkait program-program pemberdayaan perempuan, perlindungan anak serta pentingnya hak-hak perempuan dan anak yang perlu ditanamkan dalam persepsi masyarakat.
‘’Marilah kita jadikan momentum hari ini untuk memunculkan kesadaran upaya partisipasi dan keterlibatan aktif dalam mendukung tujuan kita bersama yaitu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan yang yakin dengan menyatukan tujuan bergandengan tangan dan saling mendukung, kekuatan perempuan Bali dapat menjadi penyelamat dalam menghadapi krisis ini baik secara regional maupun nasional,’’ ajak Bintang Darmawati seraya menutup urainya jika perempuan berdaya, anak terlindungi dan Indonesia maju.
Rektor Dwijendra University Dr. Ir. Gede Sedana, M. Sc., M.M.A mengimbuhkan meski perempuan sudah kuat dari sisi kapasitas, pendidikan, maupun ekonomi, namun perempuan kadang-kadang sangat lemah dihadapan suaminya karena perempuan memakai hati — tidak enak atau mengalah. Tetapi hal ini tidak boleh dibiarkan, karena kita menginginkan bahwa perempuan dan laki-laki selalu dalam kesetaraan. Kesetaraan dalam berbagi peran.
Rektor Dwijendra University Dr. Ir. Gede Sedana, M. Sc., M.M.A memberikan penjelasan tentang pemberdayaan perempuan kepada awak media
‘’Mainstream gender jangan dilihat berdasarkan jenis kelamin secara alami, tetapi konstruksi sosial di masyarakat akan bisa mengubah mereka,’’ terangnya.
Gede Sedana mengatakan bisa terjadi pemberdayaan perempuan akan menimbulkan ‘’ketersinggungan pihak laki-laki’’. Kalau diberdayakan akan semakin punya daya, kapasitas, dan kemampuan sehingga ada ketakutan atau kekhawatiran. Namun Gede Sudana yang sempat menjadi konsultan human develompent dan gender ini menyampaikan peran laki-laki dalam pemberdayaan perempuan.
‘’Kita melibatkan laki-laki sehingga punya kesadaran bahwa perempuan harus diberdayakan. Misalnya dalam kegiatan domestik, rumah tangga tidak hanya perempuan tetapi laki-laki juga harus dibagi perannya, siapa yang melakukan apa, begitu juga kegiatan ekonomis,’’ urainya seraya menyampaikan perempuan terlibat aktif di masyarakat. Peran yang dibutuhkan, perempuan harus berani tampil pada dimensi politik. Tidak hanya masuk partai, tetapi memiliki kontrol, kemampuan untuk mengambil keputusan.
Rektor Gede Sedana berharap dari seminar nasional ini, Dwijendra University bisa memberikan pokok-pokok pikiran kepada pemerintah, baik pemerintah kabupaten/kota, provinsi dan tingkat nasional. Dwijendra University juga tidak menutup kemungkinan membangun kemitraan kerjasama dengan Kementerian PPPA. ‘’Sepertinya saya selaku rektor, Dwijendra University, Pak Wirawan selaku ketua yayasan berjalan bersama membawa perahu Dwijendra ini untuk bisa semakin berkembang dengan pihak-pihak eksternal khususnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,’’ ujar Gede Sedana yang mengaku tahun 2020 telah merekrut 362 mahasiswa dari 10 program studi.
Gede Sedana juga mengatakan Dwijendra University yang kini memiliki 111 dosen berencana akan membuka Prodi S2 Penyuluhan Pertanian, S2 Manajemen Pendididkan, dan S2 Hukum Notariat. Sekarang Dwijendra sedang mendorong dosen yayasan untuk melanjutkan kuliah S3. Yayasan melalui ketua yayasan siap memberikan insentif bagi yang kuliah S3, dimana tahun ini akan menamatkan beberapa doktor. (gs)
KUNKER: Anggota Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih di sela Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/7/2026). (Foto: dpr.go.id)
Surabaya, Jatim, baliilu.com – Anggota Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih menilai Bali memiliki peluang besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui implementasi Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (UU PFII). Menurutnya, regulasi tersebut akan menjadi instrumen penting untuk menarik investasi langsung dari luar negeri (foreign direct investment/FDI) yang berdampak luas terhadap perekonomian nasional, sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai gerbang investasi global.
“Pada prinsipnya kita sangat memerlukan sekali yang namanya foreigndirectinvestment atau investasi langsung dari luar negeri, di mana itu nantinya akan menjadi sebuah kekuatan baru dalam perekonomian kita, untuk pertumbuhan kita, dan juga untuk Bali pada khususnya,” ujar Demer, sapaan akrabnya, di sela Kunjungan Kerja Komisi VI DPR RI di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/7/2026).
Politisi Fraksi Partai Golkar itu menjelaskan, kehadiran pusat finansial internasional di Bali akan menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Selain membuka peluang penyerapan produk-produk dalam negeri, kawasan tersebut juga diyakini mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja serta mendorong masuknya investasi ke berbagai daerah yang memiliki potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
“Banyak hal nanti produksi yang akan diserap oleh kawasan daripada InternationalFinanceCenter itu, dan juga tentu sumber daya manusia kita akan terserap. Bahkan investasinya tidak hanya di Bali, tetapi meluas ke seluruh Indonesia yang kaya akan potensi sumber daya alam maupun manusia,” jelasnya dikutip dari laman dpr.go.id.
Lebih lanjut, Demer menekankan bahwa pengembangan pusat finansial internasional harus menjadi momentum untuk menciptakan pemerataan pembangunan di Pulau Dewata. Ia mengingatkan agar kawasan tersebut tidak kembali terpusat di wilayah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan), melainkan diarahkan ke Bali Utara, Bali Timur, atau Bali Barat.
“Pertumbuhan di Bali saat ini tidak merata, hanya di selatan saja. Saya minta financial center itu keberadaannya jangan di kawasan Sarbagita, tetapi mengarah ke wilayah Bali Utara, Bali Timur, dan Bali Barat agar tercipta pertumbuhan yang berkualitas,” tegasnya.
Menurut Demer, pemerataan investasi juga harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur strategis. Ia menilai kapasitas Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sudah mendekati batas maksimal sehingga diperlukan bandara baru untuk mendukung mobilitas pelaku bisnis dan wisatawan mancanegara.
“Kapasitas Bandara Ngurah Rai saat ini sudah sangat penuh, sehingga perlu segera ada airport baru untuk menunjang pergerakan bisnis dan wisatawan internasional. Dengan daya tarik pariwisata serta reputasi Bali di kancah dunia, saya sangat optimistis kawasan finance center ini akan dipercaya oleh para pelaku bisnis internasional,” pungkasnya. (gs/bi)
Suasana hari kedua Lovina Festival dengan sajian Gemarikan. (Foto: Hms Buleleng)
Buleleng, baliilu.com – Setelah resmi dibuka oleh Bupati Buleleng kemarin, Hari kedua Lovina Festival digelar Gemar Makan Ikan (Gemarikan) yang menyediakan 500 porsi makanan dari olahan ikan bertempat di Pantai Tasik Madu Lovina. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (Distankan) Kabupaten Buleleng Gede Melandrat, Sabtu (25/7).
Kadis Melandrat lanjut menjelaskan bahwa rangkaian Lovina Festival hari kedua menyediakan kuliner laut yaitu olahan ikan berupa bakso, sate, ikan panggang sebanyak 500 porsi dengan tujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat agar gemar makan ikan laut, karena seperti diketahui gizi ikan laut itu sangat tinggi.
“Ini upaya promosi kita untuk perbaikan gizi masyarakat utamanya anak-anak, ibu hamil dan orang tua, karena kandungan gizi protein ikan laut sangat baik bagi tumbuh kembang anak dan tentu dapat mencegah stunting,” ujarnya.
Kadis Lingkungan Hidup ini menambahkan, tema Lovina Festival sekarang selaras dengan aktivitas bahari wilayah Buleleng yang memiliki garis pantai terpanjang. Dengan potensi laut yang dimiliki berlimpah, melalui kegiatan inilah kita mengajak seluruh masyarakat untuk gemar makan ikan laut beserta olahannya.
Salah satu pengunjung bernama Sri Yulianti mengatakan acara Lovina sangat keren, konsepnya sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dengan berbagai inovasi.
Disinggung terkait menu gemarikan, Yuli mengakui sangat suka dengan olahan ikan laut terutama sate.”Masakan Bali sangat suka, karena bumbunya, sate ini sangat menggoda dengan bumbunya enak banget pasti,” imbuhnya.
Di akhir Yulianti menilai suasana Lovina saat ini sudah tertata dengan baik, menurutnya kawasan ini sangat bagus terutama saat sunsetnya, keren sekali. Ia berharap event Lovina Festival makin bagus lagi kedepannya. (gs/bi)
Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wabup Dirga. (Foto: dok)
Tabanan, baliilu.com – Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, menyampaikan rasa duka cita dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas peristiwa yang terjadi di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, yang mengakibatkan hilangnya nyawa salah seorang warga.
“Sebagai Bupati Tabanan, sekaligus sebagai bagian dari masyarakat Tabanan, saya turut prihatin dan berbela sungkawa sedalam-dalamnya atas musibah ini. Kehilangan satu nyawa adalah duka bagi kita semua. Doa dan simpati kami menyertai keluarga yang ditinggalkan serta seluruh pihak yang terdampak,” ujar Sanjaya.
Menurutnya, peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat akan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan, keamanan, serta keharmonisan kehidupan bermasyarakat yang selama ini menjadi kekuatan Tabanan.
Di tengah suasana duka, Bupati Sanjaya mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan sepenuhnya penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.
“Indonesia adalah negara hukum. Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi adat, etika, dan nilai-nilai susila, mari kita bersama-sama menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Berikan ruang kepada aparat yang berwenang untuk bekerja secara profesional sehingga nantinya dapat menghasilkan keputusan yang adil sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tegasnya.
Sebagai wujud kepedulian dan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang sedang mengalami musibah, Pemerintah Kabupaten Tabanan juga telah menyiapkan santunan bagi keluarga korban yang terdampak sebagai bentuk tali kasih. Santunan tersebut merupakan ungkapan empati dan perhatian pemerintah kepada keluarga yang tengah menghadapi masa sulit.
Bupati Sanjaya berharap seluruh masyarakat Tabanan tetap menjaga persatuan, saling menghormati, serta tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menciptakan suasana yang kondusif, sehingga proses hukum dapat berlangsung dengan baik dan kehidupan bermasyarakat kembali berjalan dalam semangat kebersamaan, kedamaian, dan saling menghargai. (gs/bi)