Denpasar, baliilu.com – Setelah melalui rangkaian upacara sejak Sukra Pon Prangbakat, 18 Desember 2020 (mebumi sudha), Soma Umanis Bala, 21 Desember 2020 puncak karya Atma Wedana, maka rangkaian pelaksanaan Karya Atma Wedana dan Penilapatian di Griya Reka Dwi Sari Bhuwana Desa Adat Padang Sambian, Denpasar berakhir pada Anggara Wage Ugu, 29 Desember 2020.
Pada acara yang berlangsung sejak pukul 04.00 Wita hingga 19.00 Wita ini dimulai dari upacara nyegara gunung, mendak nuntun, meajar-ajar, matur sembah, Nilapati dan mepegat sot dan dilanjutkan Dewa Pitara budal ke linggih suang-suang.Karya Atma Wedana diikuti 31 pemilet (peserta-red) sedangkan Karya Penilapatian diikuti 37 pemilet dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Turut hadir pada upacara tersebut pengurus MGPPSR Provinsi Bali yang diwakili Bendahara Guru Bagus Sapta Tenaya dan Ketua Bidang Pembangunan Guru Made Jelada.
Ketua Panitia Karya Atma Wedana dan Penilapatian Jro Mangku I Wayan Sutasma yang didampingi Sekretaris JM I Ketut Adi Wibardi, SST Par. mewakili pemilet memaparkan pada Anggara Wage Ugu ini merupakan rangkaian terakhir dari upacara Atma Wedana dan Penilapatian. Pada upacara ini diawali upacara nyegara gunung di segara Matahari Terbit dilanjutkan mendak nuntun di Pura Dalem Puri, meajar-ajar di pedharman,matur sembah di Pura Penataran Agung Besakih dan diakhiri upacara Nilapati dan Mepegat Sot di Griya Reka Dwi Sari Bhuwana Desa Adat Padang Sambian sebelum budal ke linggih suang-suang.
Upacara Nilapati dipuput Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda dari Griya Mumbul Sari, Desa Srongga Gianyar.
Upacara Nilapati dipuput Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda dari Griya Mumbul Sari, Desa Srongga Gianyar didampingi para sulinggih di antaranya Ida Pandita Mpu Siwa Putra Dhaksa Santi Yoga Griya Agung Pasek Sari Tegal, Ida Pandita Mpu Jaya Ananda Yoga dari Griya Agung Banjar Gelogor, dan Ida Pandita Mpu Upadhaya Nanda Tenaya dari Griya Reka Eka Sari Bhuwana Desa Adat Panjer.
Usai muput upacara, Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda dalam dharma wacananya menyampaikan fungsi dari upacara Nilapati adalah menghilangkan segala lara, roga, wighna, dasamala, pancamala, trimala supaya menjadi Siwa Shang Hyang Atma. Nila artinya noda dan pati artinya mati atau disebut noda kematian.
Disebutkan jika manusia mau lahir diharapkan dalam keadaan selamat, begitu juga manusia akan meninggal juga diharapkan agar selamat, maka Nilapati adalah upacara penebusan kelahirannya.
Ada kematian yang tidak selamat di antaranya salah pati, ulah pati, kapangawan, kapancabaya. Dimana belum waktunya pulang namun sudah dipanggil karena karmanya. Begitu juga dewa pitara yang kelebok di kawah candra gohmuka, kena upata, danda upadrawa. Maka upacara Nilapati ini sebagai penebus atau menunggalkan Atma dengan Ida Shang Hyang Widhi Wasa (moksha). Jika leluhur mengalami kelahiran kembali supaya selamat atau rahayu lahir ke Bumi.
Demikian juga jika semasa hidup tidak pernah mediksa, maka dengan demikian Nilapati menyempurnakan supaya bisa metunggulan ring Dang Guru Kawitan. Kawitan kita bukan lelulur saja. Sesuai Bhagawadgita, Aham Brahman maha yonin, Aham Brahman prajah titah. Akulah ayah dari semua makhluk ini dan akulah ibu dari semua makhluk ini yaitu Ida Shang Hyang Widhi Wasa.
Pengurus MGPSSR Bali ikut hadir yang diwakili Bendahara Guru Bagus Sapta Tenaya dan Ketua Bidang Pembangunan Made Jelada
Ketua Panitia Karya Atma Wedana dan Penilapatian Jro Mangku I Wayan Sutasma yang didampingi Sekretaris JM I Ketut Adi Wibardi, SST Par. mewakili pemilet menghaturkan angayubagya upacara Atma Wedana dan Penilapatian berjalan lancar sida sidaning don. Untuk itu panitia menghaturkan terimakasih kepada Ida Pandita Mpu yang sudah muput seluruh rangkaian upacara, kepada para undangan yang sudah hadir nodya memberikan doa, pihak desa adat yang sudah memberikan dukungan, guru wisesa, dan pemilet upacara serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
Panitia juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak jika selama rangkaian upacara ini ada hal-hal yang kurang berkenan. (gde)
MEPEED: Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). (Foto: Hms Tbn)
Tabanan, baliilu.com – Nuansa kebersamaan dan keharmonisan mewarnai rangkaian Upacara Pujawali ring Tri Kahyangan Desa Adat Kota Tabanan, saat jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan dipimpin Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya mengikuti Mepeed dan persembahyangan bersama, Kamis (17/9). Kegiatan berlangsung di Pura Puseh Desa Bale Agung Desa Adat Kota Tabanan dan dilanjutkan ke Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan.
Tradisi Mepeed yang diikuti jajaran Pemkab Tabanan dan juga ratusan pegawai yang berjalan bersama dalam satu rangkaian menuju tempat persembahyangan tersebut, tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian upacara, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan dalam menjaga hubungan sosial serta nilai-nilai adat dan budaya di tengah masyarakat. Kehadiran bersama dalam rangkaian tersebut mencerminkan semangat gotong-royong sekaligus penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan beserta istri, Sekda Tabanan beserta istri, Asisten III, para kepala perangkat daerah dan kepala bagian di lingkungan Pemkab Tabanan, Camat Tabanan, Perbekel Delod Peken, Bendesa Adat Kota Tabanan, serta para pegawai mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat.
Persembahyangan bersama yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali tersebut menjadi momentum bagi jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan untuk memanjatkan doa bersama. Bupati Sanjaya menyampaikan bahwa kehadiran dalam rangkaian pujawali merupakan bagian dari upaya menjaga kebersamaan sekaligus memohon kerahayuan bagi seluruh masyarakat.
“Tujuan kami ngaturang ayah di pemerintah daerah ini adalah bagaimana kita bisa memupuk rasa persatuan dan kesatuan sesuai dengan visi dan misi yang sudah dicanangkan oleh bapak gubernur dan juga Pemkab Tabanan, aktualisasi dari visi misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, kita ajak pemerintah bersama jajaran ngayah, mepeed, nari rejang, menggambel di sini, kita ikut peran serta sehingga terjalin kebersamaan bagaimana kita kompak antara Pemerintah Kabupaten Tabanan dan desa adat sejebag Kabupaten Tabanan, rahayu,” ungkapnya.
Mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan khidmat, Bupati Sanjaya dan jajaran kemudian melanjutkan persembahyangan dari Pura Puseh Desa Bale Agung menuju Pura Dalem Prajapati Desa Adat Kota Tabanan. Rangkaian tersebut berlangsung penuh kekhusyukan sebagai wujud shrada bhakti sekaligus doa bersama untuk kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat Tabanan. (gs/bi)
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, saat ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, melaksanakan ngayah nyangging serangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih di Pura Dalem Penataran Sari, Banjar Pekandelan, Desa Adat Denpasar, Kamis (17/9).
Kegiatan ngayah tersebut merupakan bentuk partisipasi dan kepedulian Walikota Denpasar dalam mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan dan adat di tengah masyarakat. Kehadiran Walikota juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara pemerintah dengan krama adat serta masyarakat Kota Denpasar.
Serangkaian karya di Pura Dalem Penataran Sari tersebut turut dirangkaikan dengan pelaksanaan upacara metatah yang diikuti 45 orang dan menek kelih diikuti 5 orang. Prawartaka Karya, I Wayan Arya, menyampaikan bahwa rangkaian karya dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong seluruh krama. Pelaksanaan metatah dan menek kelih yang dirangkaikan dalam karya tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga serta melestarikan adat dan tradisi Bali.
Walikota IGN Jaya Negara menyampaikan bahwa pelaksanaan karya keagamaan dan adat merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi, budaya, serta nilai-nilai kebersamaan masyarakat Bali.
“Melalui pelaksanaan karya seperti ini, kita tidak hanya menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga menjaga adat, tradisi dan budaya Bali agar tetap lestari serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Jaya Negara.
Ia juga mengapresiasi semangat krama Banjar Pekandelan dan Desa Adat Denpasar yang secara bersama-sama menyukseskan rangkaian karya, termasuk pelaksanaan metatah massal dan menek kelih.
“Kebersamaan dan gotong-royong seperti ini menjadi kekuatan dalam menjaga adat dan budaya Bali. Semoga seluruh rangkaian karya berjalan lancar dan memberikan kerahayuan bagi seluruh krama,” tambahnya.
Pelaksanaan karya berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan, dengan melibatkan krama serta masyarakat dalam berbagai rangkaian kegiatan upacara. (eka/bi)
TANDA TANGAN PRASASTI: Bupati Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung Gusti Anom Gumanti menandatangani prasasti karya saat menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menghadiri sekaligus ngupasaksi upacara Melaspas, Nyusun Pedagingan, Mecaru Manca Rupa, dan Rsi Gana di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). Upacara ini merupakan rangkaian dari Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Manawa Ratna, Tawur Balik Sumpah Utama yang puncak karyanya dipimpin Yadnyamana Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda pada 26 September 2026.
Dalam prosesi tersebut, Bupati Adi Arnawa naik ke Padmasana setinggi 12 meter untuk ngunggahang kwangen, menandatangani prasasti pura. Bupati mendoakan agar karya berjalan sida sidaning don labda karya dan sida paripurna demi kerahayuan jagat Badung dan Bali, serta berharap krama Tuban tetap menjaga persatuan dengan semangat sagilik saguluk, salunglung sabayantaka.
“Kebersamaan ini penting untuk menjaga Desa Adat Tuban yang menjadi gerbang pertama pariwisata Bali melalui jalur udara. Melarapan subakti, kita memohon kelancaran dalam menata Badung menjadi lebih nyaman dan berdoa agar PAD meningkat sehingga semakin banyak program pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Adi Arnawa.
Pemkab Badung menegaskan komitmen melakukan penataan akses menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai guna mengurangi kemacetan.
Sementara itu, Bendesa Adat Tuban, I Wayan Mendra, mengungkapkan bahwa pemugaran Pura Dalem Kahyangan didanai melalui hibah Pemkab Badung TA 2025 sebesar Rp 15,9 miliar pada APBD induk. Namun, karena dana tersebut hanya untuk fisik bangunan pura, kas desa adat harus mengeluarkan biaya mandiri hingga hampir Rp 9 miliar, sehingga total pembangunan diperkirakan mencapai Rp 25 miliar.
Prosesi upacara sendiri telah dimulai sejak 1 Agustus 2026 yang diawali dengan Pemarisuda Bumi, Pecaruan, hingga Melaspas Tetaring. Rangkaian akan memuncak pada Purnamaning Kapat, Sabtu Umanis Bala, 26 September 2026, dilanjutkan penganyaran selama empat hari, dan prosesi sineb pada 30 Oktober 2026 yang ditutup ritual Nyegara Gunung.
Mendra menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas hibah besar dari Pemkab Badung, meski ia berharap dukungan ke depan terus ditingkatkan karena kebutuhan belum sepenuhnya tercukupi. Ia juga berharap pemerintah daerah serta PT. Angkasa Pura Indonesia memberikan perhatian lebih pada Desa Adat Tuban sebagai beranda depan dan belakang Bali.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah Anggota DPRD Badung Dapil Kuta seperti I Nyoman Graha Wicaksana, I Nyoman Sudana, I Wayan Puspa Negara, dan I Made Sada. Hadir pula Camat Kuta I Made Agus Suantara, Majelis Desa Adat, Lurah Tuban, unsur TNI-Polri, manajemen PT Angkasa Pura Indonesia, BBMKG Wilayah III, serta jajaran Jasa Marga Bali Tol. (gs/bi)