Badung, baliilu.com – Perayaan Natal Se-Bali dengan tema “Menjadi Gereja yang Menghargai Adat, Agama dan Budaya dalam Kasih Persaudaraan” diselenggarakan di Balai Budaya Giri Nata Mandala Puspem Badung, Jumat (10/12).
Turut hadir dalam perayaan, Menteri Dalam Negeri yang diwakili Staff Khusus Bidang Hukum dan Keamanan, Irjen Pol. Drs. Sang Made Mahendra Jaya, M.H., Gubernur Bali I Wayan Koster, Kapolda Bali Irjen Pol. Drs. Putu Jayan Danu Putra, M.Si., Ketua DPRD Badung Dr. Drs. I Putu Parwata MK, M.M., serta undangan terkait.
Perayaan Natal bersama yang diinisiasi bersama umat Kristen dan Katolik yang ada di Bali, dalam Natal bersama ini ditunjukkan bahwa semua adalah satu dalam ikatan persaudaraan.
Perayaan ini merupakan perayaan Natal bersama pertama kalinya, yang dilaksanakan dengan tujuan utama untuk membangkitkan Bali dalam kebersamaan, dengan semangat gotong-royong menjalin kerukunan hidup di Bali sehingga orang percaya bahwa Bali aman, Bali perlu dijaga dan didoakan bersama-sama supaya tetap bergerak bangkit baik dari segi sosial, ekonomi, dan tunjukkan bahwa Bali aman, Bali is Paradise.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Badung yang sekaligus Ketua Steering Committee perayaan Natal Se-Bali ini, Putu Parwata dalam sambutannya menyampaikan, Perayaan Natal bersama ini selain bertujuan untuk merayakan kasih persaudaraan, perayaan kelahiran Yesus Kristus ke dunia juga melalui Perayaan Natal hari ini diharapkan dapat memupuk rasa persaudaraan dan kerukunan semua umat di Bali dan seluruh masyarakat di Bali untuk hidup saling berdampingan dengan penuh toleransi.
“Seperti slogan yang ada di Bali segilik seguluk, selunglung sebayantaka, paras paros sarpanaya, yang artinya bersatu padu saling menghargai pendapat orang lain dan saling mengingatkan, saling menyayangi serta hidup saling tolong-menolong,” ungkapnya.
Lebih lanjut dikatakannya, dalam Perayaan Natal bersama ini adapun yang menjadi tema adalah “Menjadi Gereja yang Menghargai Adat, Agama, dan Budaya dalam Kasih Persaudaraan”. Tema tersebut tentunya sangat tepat jika dihubungkan dengan situasi saat ini. Perayaan Kelahiran Yesus Kristus ke dunia mengingatkan semua bahwa rasa saling harga-menghargai antara sesama perlu terus dipupuk dan ditingkatkan sehingga tercipta kerukunan dan persatuan.
Terlebih lagi, imbuh Parwata, dalam menghadapi tantangan global saat ini yang semakin ketat maka kata Bhinneka Tunggal Ika hendaknya dapat dipahami dan dilaksanakan serta menjadi acuan dalam kehidupan pribadi dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara sehingga muncul rasa harga menghargai, saling menghormati di antara sesama.
“Melalui Perayaan Natal bersama ini semoga umat kristiani gereja, pemerintah, dan seluruh masyarakat Bali tetap semangat dengan penuh rasa kegotong-royongan membangun Bali, membangkitkan Bali, bangkit bersatu dan tetap dalam bingkai kebersamaan menghargai nilai- nilai adat budaya yang telah menjadi nafas dalam kehidupan masyarakat Bali,” pungkasnya.
Perayaan Natal se-Bali ini diselenggarakan dengan protokol kesehatan yang ketat dengan memberlakukan test rapid antigen kepada semua hadirin. (eka/bi)