Connect with us

SENI

Perupa Suklu dalam “Monument Of Trajectory” 2021

BALIILU Tayang

:

de
Perupa Sujana Suklu dalam goresan

MAL (mobile art laboratorium) ngelawang yang ke-6 oleh perupa I Wayan Sujana Suklu, S.Sn., M.Sn. digelar dengan aktivitas living gallery di Komaneka Gallery Ubud selama sebulan lebih, dari 30 Juli sampai 6 September 2021. Ngelawang pertama dilaksanakan di ARMA Ubud, kedua di Jagadjati Kampung Puisi, ketiga, Art Bali Nusa Dua, keempat, Titik Dua Ubud, dan kelima Sip Setiap Saat Santrian Sanur.

Perfoma karya Sujana Suklu

Sharing, workshop, dan performance menjadi pendekatan dalam melakukan interaksi dengan pengunjung (masyarakat). Selain mendapatkan pengetahuan secara definitif, pengunjung dapat melakukan interaktif serta eksploratif. Hal ini akan memberikan pengetahuan bukan saja bersifat kognitif malainkan juga yang bersifat motorik dan afektif.

‘’Pengetahuan seperti ini nantinya diharapkan mampu membentuk sikap serta kemampuan apresiasi yang menyeluruh terhadap karya-karya seni rupa,’’ ujar Sujana Suklu, kepada awak media usai pergelaran.

Mendekatkan anak-anak dalam karya seni

Pilihan Komaneka Gallery sebagai ruang peristiwa MAL, ungkap penggagas Sanggar Batu Belah, Lepang Klungkung ini, dalam rangka menyiasati Covid-19. Pandemi Covid masih belum menunjukkan tanda-tanda menurun bahkan diberlakukannya PPKM oleh pemerintah, dengan memilih tempat ruang semi-publik pembatasan terhadap pengunjung dapat dilakukan dengan ketat. Selain itu, Komaneka Gallery membuka program mengundang seniman melakukan living gallery.

Aktivitas MAL di Komaneka Gallery mempertemukan berbagai pengunjung baik lokal, nasional, dan internasional. Pemilik gallery dan medan sosial seni dapat memasuki MAL melakukan interaksi secara mendalam. Interaksi dilakukan antara seniman dengan seniman, seniman dengan masyarakat, dan masyarakat dengan masyarakat.

Para seniman yang terlibat dalam MAL

Partisipatori dengan konsep intermingle dan ANT (aktor networking teori) ini, dosen ISI Denpasar ini mengharapkan menemukan hal-hal eksploratif yang nantinya menjadi pengetahuan yang dapat direkomendasikan sebagai metode dalam ruang-ruang pendidikan modern di masa datang. ‘’Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap konsep-konsep seniman modern yang semakin eksklusif serta sebagai festival masyarakat yang bertujuan healing psikologis melalui aktivitas seni,’’ pungkas Sujana Suklu. (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Gubernur Koster Buka Festival Seni Bali Jani III Tahun 2021

Published

on

By

de
PEMBUKAAN FSBJ III: Ditandai dengan penancapan pedang, Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka kegiatan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III Tahun 2021 yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar pada Sabtu (Saniscara Paing Warigadean) bertepatan tanggal 23 Oktober 2021.

Denpasar, baliilu.com – Ditandai dengan penancapan pedang, Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka kegiatan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III Tahun 2021 yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar pada Sabtu  (Saniscara Paing Warigadean) bertepatan tanggal 23 Oktober 2021.

Dalam sambutannya, Gubernur Wayan Koster menyampaikan apresiasi atas terselenggaraanya FSBJ yang telah memberi ruang kepada para seniman modern untuk menunjukkan kreativitas serta inovasinya.

Menurut Gubernur Koster, Pemerintah Provinsi Bali menaruh perhatian besar pada pemajuan seni, adat dan budaya Bali. Hal ini ditunjukkan dengan digelarnya dua wahana pemajuan seni yang digelar setiap tahunnya, yaitu Pesta Kesenian Bali (PKB) yang merupakan ajang penggalian, pelestarian dan pengembangan nilai-nilai seni tradisi Bali yang telah digelar sejak 1979, serta FSBJ.

Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan sambutan

“FSBJ ini  memberi ruang seluas-luasnya bagi seniman untuk mengembangkan seni modern dan kontemporer. Saya berharap, seniman, sastrawan, pegiat seni dapat terus berkarya, berinovasi sehingga seni akan terus tumbuh dan berkembang sesuai perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai luhur budaya yang kita miliki,” ujarnya.

Orang nomor satu di Bali ini juga menegaskan bahwasannya penyelenggaraan FSBJ ini merupakan momentum penting dan bersejarah dalam perjalanan dinamika seni dan budaya masyarakat Bali. Seni dan budaya Bali terus tumbuh, hidup dan berkembang dan para seniman sangat responsif terhadap kemajuan serta perkembangan yang terjadi.

“Seni telah menjadi DNA-nya masyarakat Bali. Ini yang membuat seni berkembang inovatif dan kreatif. Tugas kita bersama adalah bagaimana mengembangkan dan menjaga seni yang ada dan bisa terus tumbuh. Untuk itu seniman perlu diwadahi dengan baik, dan FSBJ memberi ruang untuk seni modern dan PKB memberi wadah bagi seni tradisional,” kata Gubernur Koster.

Festival Seni Bali Jani yang digagas oleh seniman multitalenta Ny. Putri Suastini Koster, pertama kali digelar pada tahun 2019 dan merupakan tonggak kebangkitan seni modern dan kontemporer. Dalam penyelenggaraannya yang ketiga kalinya di tahun 2021 di tengah pandemi Covid 19 kali ini, dilaksanakan secara luring dan daring dengan prokes yang ketat.

FSBJ III yang mengangkat tema ‘Jenggala Sutra: Susastra Wana Kerthi’ yang bermakna ‘Semesta Kreativitas Terkini: Harmoni Diri dan Bumi dalam Keluasan Penciptaan Baru’, yang diselenggarakan selama dua pekan dari tanggal 23 Oktober – 6 November 2021. Terdapat 45 program yang akan digelar, di antaranya medeeng anyar (karnaval virtual), pawimba (lomba), adilango (pergelaran), sarasehan, bursa buku serta Bali Jani Nugraha.

Dalam pembukaan FSBJ III kali ini,  ditampilkan medeeng anyar (karnaval virtual) serta pementasan Teater Opera Musikal “Pusaka Rimba” yang dibawakan oleh Teater Kini Berseri. Turut hadir pada sore hari ini Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana  Sukawati, Wakapolda Bali I Ketut Suardana, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bali Trisno Nugroho, Kepala OJK Regional 8 Bali – Nusra Giri Tribroto, jajaran Forkompimda Provinsi Bali, Bupati / Wali Kota se-Bali, Kepala OPD di lingkungan Pemprov Bali, seniman serta budayawan dan undangan lainnya. (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Lanjutkan Membaca

SENI

D’Youth Fest 2021 Tampilkan Aksi Panggung 9 Band Indie

Published

on

By

de
AKSI PANGGUNG: Salah satu aksi panggung live Band Indie di acara D'Youth Fest 2021, Jumat (22/10) di Basemant 2 Gedung Dharma Negara Alaya.

Denpasar, baliilu.com – Denpasar Youth Festival (D’Youth Fest 2021) yang telah resmi dibuka Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dan Wakil Walikota I Kadek Agus Arya Wibawa seminggu yang lalu, saat ini telah memasuki pelaksanaan minggu kedua dengan agenda acara D’Youth Live penampilan Band Indie, Jumat (22/10) di Basemant 2 Gedung Dharma Negara Alaya.

Kawula muda yang hadir menyaksikan acara band indie live tampak secara disiplin mengikuti protokol kesehatan dan scand barcode Pedulilindungi.

Sembilan band indie tampil live yakni Timah Panas, Carnage, Instan Karma, Parau, Human Hautopsy, Mom Called Killer, Natterjack, dan MOTB. Pada akhir acara  juga  diisi dengan penampilan panggung DJ Calista Menara.

Menurut Kabid Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekraf Dinas Pariwisata Kota Denpasar I Wayan Hendaryana, menyampaikan D’Youth Fest telah masuk pada minggu kedua dengan menampilkan secara live band indie bertempat di basement 2. Terdapat 9 band indie yang tampil yang digandrungi anak muda Denpasar.

“Kami melihat antusiame anak muda dalam musik indie perlu juga terus diberikan ruang berekspresi, terlebih dalam masa pandemi ini dengan ruang yang diberikan mampu terus berinovasi dan berekspresi dengan catatan wajib menerapkan disiplin prokes,” ujarnya.

Event D’Youth Fest 2021 ini melibatkan sedikitnya 1.000 merchat UMKM di Kota Denpasar. Pelaksanaan kegiatan ini terlaksana atas kolaborasi pemerintah, swasta, komunitas serta akademisi dengan Bkraf Denpasar.

Kali ini telah masuk pada minggu kedua pelaksnaaan D’Youth Fest yang diisi dengan acara Pelatihan Barbershop, D’Youth Live Band Indie, Alaya Coreography Dance Kompetition, Lomba Gong Suling, D’Youth Mini 4 WD Open Race dan lomba Baleganjur.

Dijelaskan lebih lanjut, Denpasar Youth Fest 2021 akan hadir dan dilaksanakan secara hybrid system di Dharma Negara Alaya dan Kawasan Tukad Bindu Kesiman mulai tanggal 16 Oktober hingga 7 November mendatang. Sajian kompetisi, exebition dari festival yang melibatkan anak muda mulai dari sekeha teruna-teruni, siswa-siswi SMA/SMK, komunitas, dan kelompok ini dikemas dalam beragam kegiatan. Yakni Lomba Tari Tradisional, Lomba Busana Adat, Lomba Lagu Pop, Lomba Aransemen Lagu TTD, Lomba Gong Suling Virtual, Lomba Baleganjur Virtual Alaya Khoreography Dance Competition, Lomba Kostum Carnaval dan Festival.

Disampaikan pula  bagi insan muda serta masyarakat yang ingin hadir di D’Youth Fest dapatkan tiket gratis dengan cara registrasi di web D’Youth Fest, di alamat www.dyouthfest.com. “Jadi jika ingin hadir di D’Youth Fest masuk ke halaman web, lakukan registrasi di setiap event yang akan mau dihadiri. Jika kuota masih tersedia tiket gratis akan didapat serta bisa hadir di D’Youth Fest,” ujarnya. Langkah registrasi melalui web  ini dilakukan untuk membatasi jumlah kehadiran yang nantinya dapat mengantisipasi penyebaran Covid-19. (eka)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Lanjutkan Membaca

SENI

Menyatukan Spirit Artefak Nusantara di Batubelah Art Space Klungkung

Published

on

By

de
Presentasi gerak dari seniman Dedy Sumantrayasa

Klungkung, baliilu.com – Batubelah Art Space menggelar kolaborasi pertunjukan seni sejumlah seniman lintas bidang di Banjar Lepang, Banjarangkan, Klungkung, Bali.

Acara ini digelar pada Senin (Soma Warigadean) 18 Oktober 2021, sehari setelah para seniman menapak tilas ke Candi Gunung Kawi, Relief Yeh Pulu, dan Kertha Gosa sebagai pemantik diskusi maupun penampilan kolaboratif.

Pertunjukan seni yang mereka sajikan merupakan reaksi konsep dan respons yang didapatkan melalui riset ke tiga situs yang merupakan bagian dari artefak penting di Bali tersebut.

Menyatukan spirit artefak Nusantara lewat penampilan kolaboratif gerak, rupa, rasa, suara untuk membebaskan jiwa

Sesi pertunjukan diawali perupa Made Kaek dalam aksirupa Black-Yellow Expression yang merupakan seri keempat berkarya di atas pelat aluminium sepanjang 12 meter.

“Aksirupa ini untuk membebaskan jiwa sambil menyerap energi alam maupun kawan-kawan seniman yang hadir,” kata Kaek.

Kemudian penari kontemporer Tebo Umbara tampil dengan olah seni gerak ‘Panah-Memanah’ yang mempertunjukkan kelenturan tubuh berikut aksi memanah yang energik.

Penari asal India Maya Row menyajikan Free Flow

Musisi Pandusukma yang menampilkan intermingle process dengan raungan gitar, perkusi, dan ramuan efek suara mengiringi serta merespons pertunjukan yang digelar pagi hingga petang ini.

Berikutnya, penari asal India Maya Row menyajikan Free Flow yang membawa tubuhnya bergerak bebas dan berekspresi merespons  lingkungan di sekitarnya.

‘Dharma’ sebuah presentasi gerak dari seniman Dedy Sumantrayasa menggambarkan bagaimana ini membakar, melebur atau melakukan pralina terhadap pikiran buruk dan rumitnya ritual.

Pertunjukan seni dari respons napak tilas

Kemudian Made Yoga Jayanta dengan karyanya ‘Gending Agrapana Nawasena’ disusul performance seniman muda pendatang baru Made Teja Kirana. Seluruh proses kegiatan divideokan oleh seniman Asok Nagara.

Perupa Sugantika Lekung menampilkan ‘Milik Bersama’ yang secara ekspresif memukul-mukul tubuh sendiri dan mengajak yang hadir ikut pula meninju tubuhnya dengan sekuat tenaga.

“Saya ingin mengungkapkan realitas Tat Twam Asi, bahwa apa yang kita lakukan ke orang lain sesungguhnya kita juga merasakannya. Bila sakit yang kita berikan maka sakit pula yang kita terima dan rasakan,” tutur Lekung.

Seniman dan pegiat lingkungan dari Yogyakarta, Iwan Wijono, membawakan ‘Perempatan” yang menjelaskan tentang seni konseptual dan hasil kontemplasi atas kunjungan ke Gunung Kawi, Yeh Pulu, dan Kertha Gosa.

Iwan juga merinci bagaimana unsur kehidupan dan peradaban manusia seperti sosial politik, ekonomi kesejahteraan, budaya spiritual, dan alam lingkungan berkorelasi dengan kesenian.

Dalam pertunjukan seninya, Iwan mengajak para seniman yang hadir saling berkolaborasi dan bahkan mengajak pengunjung untuk ikut berinteraksi.

Perupa yang juga pemilik Batubelah Art Space Wayan Sujana Suklu mengatakan dokumentasi kegiatan yang diprakarsai Aprilia ini akan dijadikan artefak sebagaimana situs-situs yang menandai zaman.

“Artefak kegiatan ini selanjutnya kami jadikan sebagai rekomendasi pengetahuan sebagai proses kebudayaan dan menjadi salah satu referensi untuk kegiatan ke depan,” kata Suklu. (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Lanjutkan Membaca