Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Sanggar Titi Bah Tampil Total di PKB 2026, Arja Klasik Badung Tebar Pesan Kehidupan

BALIILU Tayang

:

Arja Klasik
ARJA KLASIK DUTA BADUNG: Sanggar Titi Bah, Banjar Teguan, Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, Badung saat menghadirkan garapan Arja Klasik bertajuk “Kembar Buncing” dalam Utsawa (Parade) Arja Klasik rangkaian PKB 2026 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center Denpasar, Selasa (23/6/2026). (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kabupaten Badung dalam Utsawa (Parade) Arja Klasik berhasil memukau penonton di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center Denpasar, Selasa (23/6/2026), dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Sanggar Titi Bah, Banjar Teguan, Desa Punggul, Kecamatan Abiansemal, menghadirkan garapan Arja Klasik bertajuk “Kembar Buncing” yang sarat akan nilai spiritual, filosofi kehidupan, serta pesan tentang kemurnian jiwa.

Ketua sekaligus pembina tari Sanggar Titi Bah, I Gusti Made Sunadi, menjelaskan bahwa “Kembar Buncing” diangkat dari cerita dalam Geguritan Ganda Wirasa yang sebelumnya pernah diproduksi oleh Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar.

Cerita tersebut mengisahkan perjalanan Putra Mahkota Kerajaan Supala yang sejak kecil hidup dan dibesarkan di tengah hutan demi menghindari ancaman musuh. Setelah dewasa, sang putra melakukan perjalanan untuk mencari saudara kembarnya yang terpisah sejak kecil hingga akhirnya bertemu kembali di Kerajaan Candra Buwana.

Menurut Sunadi, pemilihan cerita tersebut juga memiliki keterkaitan dengan tema besar PKB 2026, yakni Atma Kerthi, yang menitikberatkan pada upaya menjaga kesucian dan kemurnian jiwa manusia.

“Setiap manusia memiliki kemurnian jiwa. Dalam perjalanan hidup, manusia tidak lepas dari pengaruh karma dan berbagai godaan duniawi. Melalui Atma Kerthi, manusia diajak untuk membersihkan diri dan kembali pada kemurnian jiwa tersebut,” ungkapnya.

Pementasan Arja Klasik “Kembar Buncing” melibatkan total 24 seniman yang terdiri dari 12 pemain serta 12 penabuh gamelan. Persiapan pementasan telah dilakukan sejak Februari 2026 dengan durasi pertunjukan sekitar tiga setengah jam.

Ia menambahkan, pemilihan cerita tersebut bukan semata-mata karena inspirasi baru, melainkan bentuk pengembangan dan pengalihwujudan cerita klasik dalam Geguritan Ganda Wirasa menjadi sebuah pertunjukan Arja yang tetap berpijak pada pakem tradisi.

Baca Juga  ‘’Peed Aya’’ Duta Kabupaten Badung Angkat Cerita Gugurnya I Gusti Ngurah Rai

Di tengah tantangan regenerasi, Sunadi mengakui minat generasi muda terhadap seni Arja masih menjadi pekerjaan rumah. Namun demikian, dirinya optimistis generasi muda Bali tetap memiliki ruang dan keinginan untuk mempelajari serta melestarikan kesenian tradisi.

“Anak-anak sekarang mungkin belum banyak yang tertarik dengan Arja, tetapi kita harus optimistis mereka pasti bisa, mau, dan mencintai seni tradisi jika terus diberikan ruang dan kesempatan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, I Gede Sukada, menyebut Arja Klasik merupakan warisan seni adiluhung yang tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan karena mengandung nilai-nilai filosofis yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

“Arja Klasik memiliki makna dan pesan kehidupan yang sangat dalam. Ini adalah warisan budaya Kabupaten Badung yang wajib kita jaga dan lestarikan bersama,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Badung, lanjut Sukada, di bawah kepemimpinan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, memiliki komitmen kuat untuk menggali dan mengembangkan potensi seni budaya yang tersebar di seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Badung.

Pementasan Arja Klasik oleh Sanggar Titi Bah diharapkan menjadi pemantik bagi banjar-banjar lain untuk kembali membangkitkan potensi seni tradisi yang dimiliki masing-masing wilayah, sejalan dengan visi pembangunan pariwisata berkualitas yang berlandaskan nilai-nilai budaya Bali.

Menurut Sukada, kekuatan Arja Klasik terletak pada perpaduan unsur tari, vokal, dialog, dan tabuh gamelan yang tersusun dalam pakem kesenian Bali. Melalui penampilan Sanggar Titi Bah, masyarakat dapat melihat kekhasan Arja Klasik gaya Badung yang diharapkan menjadi inspirasi bagi sanggar maupun komunitas seni lainnya.

Terkait regenerasi seniman muda, Sukada menilai antusias generasi muda Badung terhadap seni tradisi masih sangat besar. Hal itu tercermin dari tingginya minat dalam program Banjar Menari, di mana pemerintah menyiapkan tenaga pengajar tari dan tabuh yang akan disebar ke 62 desa dan kelurahan di Kabupaten Badung.

Baca Juga  Arya Wibawa Pastikan Kesiapan Lomba Tari Barong PKB XLVIII

“Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki semangat untuk menggali, melestarikan, bahkan mengembangkan seni tradisi ke arah yang lebih baik,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Bupati Adi Arnawa Tinjau Kesiapan Angklung Kebyar Duta Badung untuk PKB 2026

Published

on

By

Angklung Kebyar
TINJAU GLADI BERSIH: Bupati Wayan Adi Arnawa meninjau langsung gladi bersih Angklung Kebyar Duta Kabupaten Badung di halaman Gedung Wisma Budaya Desa Adat Legian, Kuta, Selasa (23/6). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa meninjau langsung gladi bersih Angklung Kebyar Duta Kabupaten Badung di halaman Gedung Wisma Budaya Desa Adat Legian, Kuta, Selasa (23/6). Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kesiapan kontingen Badung yang akan tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.

Turut mendampingi Bupati, Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, anggota DPRD Dapil Kuta I Made Sada dan I Wayan Puspa Negara, serta jajaran Dinas Kebudayaan dan tokoh masyarakat setempat.

Bupati Adi Arnawa mengapresiasi penampilan para seniman muda tersebut. Meski kategori Angklung Kebyar ini tidak dilombakan, ia mengingatkan bahwa gengsi dan ekspektasi masyarakat terhadap Duta Badung sangat tinggi. “Penampilan hari ini sudah sangat luar biasa. Badung selalu menjadi perhatian utama di PKB. Saya meminta para penari dan penabuh untuk tetap fokus, konsisten, serta menjaga kesehatan agar tampil kompak dan prima pada hari H nanti,” ujar Adi Arnawa.

Bupati menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mengawal kelestarian seni budaya. Menurutnya, sektor pariwisata Badung bersumber langsung dari kekuatan adat, agama, dan seni.

Ketua DPRD Badung, I Gusti Anom Gumanti, turut memberikan dukungan penuh terhadap pembinaan sanggar seni lokal. Namun, ia memberikan sedikit catatan teknis untuk penyempurnaan penampilan. “Secara keseluruhan sudah luar biasa. Catatan saya hanya pada keserasian ekspresi wajah dan kekompakan gerakan mikro antarpemain yang perlu disamakan lagi sebelum pentas,” kata Anom Gumanti.

Bendesa Adat Legian, AA. Made Mantra, menjelaskan bahwa Duta Badung diwakili oleh Sanggar Seni Taksu Murti Kemanisan. Mereka dijadwalkan tampil pada 1 Juli 2026 mendatang. “Kami sudah berlatih berbulan-bulan. Nanti di PKB, kami akan membawakan empat materi, yaitu tari kreasi, tabuh kreasi, tabuh Keklentangan, dan tari Wiranata. Kami akan mebarungan (tampil bersama) dengan Duta Kota Denpasar,” jelas Made Mantra. (gs/bi)

Baca Juga  Bunda Rai Apresiasi Pesona Busana Adat Tabanan, Angkat Jati Diri Daerah di Utsawa PKB XLVIII 2026

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Duta Gong Kebyar Anak-anak Jembrana Tampilkan Seni Filosofis dan Kritik Sosial Berbalut Dolanan di PKB 2026

Published

on

By

Gong Kebyar Anak
DUTA JEMBRANA: Duta Gong Kebyar Anak-anak Kabupaten Jembrana saat tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Denpasar, pada Minggu (22/6) malam. (Foto: Hms Jembrana)

Denpasar, baliilu.com – Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Denpasar, bergemuruh oleh tepuk tangan penonton pada Minggu (22/6) malam. Duta Gong Kebyar Anak-anak Kabupaten Jembrana sukses mencuri perhatian dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 melalui penampilan yang apik, penuh energi, dan sarat akan makna filosofis.

Penampilan luar biasa ini disaksikan langsung oleh Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Wakil Bupati I Gede Ngurah Patriana, Ketua DPRD Jembrana Ni Made Sri Sutharmi, beserta perwakilan Forkopimda dan para Kepala OPD di lingkungan Pemkab Jembrana.

Kabupaten Jembrana malam itu menyuguhkan tiga materi pertunjukan yang dikemas secara apik dan dinamis, yakni Tabuh Kreasi Pepanggulan “Nadi Winengku”, Tari Penyambutan “Selat Segara”, dan Dolanan “Makepung Papah”.

Sebagai pembuka, penonton disuguhkan Tabuh Kreasi Pepanggulan “Nadi Winengku”. Tabuh ini merupakan sebuah refleksi mendalam terhadap penyucian jiwa (atma kerti), yang mengajarkan bahwa jiwa yang suci tidak menutup diri dari perubahan, melainkan mampu menerima gejolak energi baru dengan tetap teguh pada jati diri sejati.

Secara musikal, tabuh ini mengambil analogi kondisi nadi yang terkendali dan berwibawa. Instrumen Gong Kebyar diibaratkan sebagai tubuh yang menjadi medium bagi jiwa Jegog (gamelan khas Jembrana) untuk menyuarakan dirinya. Keunikan kotek-kotekan khas jegog, sistem seslangkitan, serta oncang-oncangan berpadu menjadi entitas baru tanpa menghilangkan identitas asli Gong Kebyar, melainkan memberikan gejolak energi baru yang memikat.

Pementasan dilanjutkan dengan Tari “Selat Segara”, sebuah tari kreasi penyambutan karya almarhumah I Gusti Ayu Srinatih. Tarian ini melambangkan penghormatan, ungkapan rasa syukur, dan ketulusan dalam menyambut tamu.

Mengambil makna “Selat” sebagai penghubung dan “Segara” sebagai lautan luas, tarian ini menggambarkan laut sebagai simbol pemersatu yang menjembatani berbagai perbedaan bangsa dan budaya dalam suasana damai. Gerak tarian yang lembut namun dinamis ini dikembangkan dari pakem tari upacara seperti Rejang, Pendet, dan Legong, yang diperkuat oleh iringan gamelan harmonis bernuansa sakral sekaligus estetis.

Baca Juga  Duta Gianyar di Parade Busana Adat Bali PKB 2026, Suguhkan Harmoni Tradisi dan Keanggunan Warisan Leluhur

Puncak kemeriahan sekaligus keharuan penonton pecah saat pementasan Dolanan “Makepung Papah”. Menggunakan media sebilah pelepah kelapa (papah), anak-anak Jembrana mengubah tradisi balapan Makepung menjadi arena bermain yang penuh dengan pesan moral dan kritik sosial yang tajam namun polos.

Di sela-sela canda tawa, dolanan ini menyelipkan refleksi tentang realitas dunia saat ini. Mulai dari ambisi menjadi Juara Kelas, kekhawatiran cita-cita yang kandas akibat kemacetan dan rumitnya kehidupan, hingga sentilan mengenai isu lingkungan seperti masalah sampah yang kian menggunung. Tidak hanya itu, anak-anak ini juga menyuarakan isu-isu humanis secara jujur, seperti nasib pahlawan tanpa tanda jasa (guru) dengan upah minim.

Secara keseluruhan, penampilan Duta Gong Kebyar Anak-Anak Kabupaten Jembrana di PKB XLVIII 2026 tidak hanya sekadar memberikan tontonan seni yang menghibur, tetapi juga menjadi media edukasi dan penyampai pesan moral yang mendalam bagi seluruh masyarakat Bali. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Angkat Permainan Tradisional Banyuning, Duta Buleleng Tampil Memikat di PKB 2026

Published

on

By

Desa Banyuning
DUTA BULELENG: Duta Gong Kebyar Anak-anak Kabupaten Buleleng dari Sanggar Seni Suara Mustika saat tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Minggu (21/6) malam. (Foto: Hms Buleleng)

Denpasar, baliilu.com – Teriakan riang anak-anak, permainan tradisional, dan kearifan lokal Desa Banyuning menyatu di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Minggu (21/6) malam. Di hadapan ratusan penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Duta Gong Kebyar Anak-anak Kabupaten Buleleng dari Sanggar Seni Suara Mustika menghadirkan Mecolek-colekan Adeng, sebuah tradisi rakyat yang berkembang menjadi permainan anak-anak dan jarang tersentuh panggung pertunjukan modern.

Tradisi yang hidup di tengah masyarakat Banyuning itu menjadi salah satu sajian utama yang membedakan penampilan Buleleng dari peserta lainnya. Melalui Tari Dolanan Mecolek-colekan Adeng, para penampil tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat tentang permainan tradisional yang sarat nilai kebersamaan, sportivitas, dan kegembiraan masa kanak-kanak.

Ketua Sanggar Seni Suara Mustika, Made Wira Okta Atmadi, mengatakan bahwa Tari Dolanan Mecolek-colekan Adeng merupakan salah satu dari tiga materi yang dibawakan dalam penampilan kali ini, bersama Tabuh Kreasi Pepanggulan Sudha Citta dan Tari Kreasi Penyambutan Kembang Deeng.

Menurutnya, Mecolek-colekan Adeng merupakan tradisi yang dilaksanakan saat Piodalan di Pura Pemayun Banyuning. Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi permainan yang akrab dimainkan anak-anak di lingkungan masyarakat Banyuning.

Dalam permainan tradisional seperti mececimpedan dan meatma-atmaan, mecolek-colekan adeng biasanya diberikan sebagai hukuman ringan kepada peserta yang kalah. Dari tradisi sederhana itulah lahir sebuah garapan tari dolanan yang mengangkat nilai kebersamaan, sportivitas, dan keceriaan anak-anak Bali.

Selain mengangkat kearifan lokal Banyuning, Duta Gong Kebyar Anak-anak Kabupaten Buleleng juga menampilkan Tabuh Kreasi Pepanggulan Sudha Citta. Karya ini terinspirasi dari perjalanan spiritual Siddhartha Gautama dalam mencapai pencerahan dan penyucian batin. Melalui komposisi tabuh yang dinamis, garapan tersebut menggambarkan perjalanan manusia dalam mencari kejernihan pikiran dan ketenangan jiwa.

Baca Juga  Arya Wibawa Pastikan Kesiapan Lomba Tari Barong PKB XLVIII

Sementara itu, Tari Kreasi Penyambutan Kembang Deeng hadir sebagai representasi kelembutan dan keramahtamahan perempuan Buleleng. Tarian yang terinspirasi dari tradisi pedeengan dalam upacara pengabenan di Buleleng ini dibawakan secara berkelompok sebagai tari penyambutan yang menampilkan keanggunan serta keindahan gerak para penarinya.

Pihaknya menjelaskan, persiapan menuju PKB telah dimulai sejak Februari 2026. Sebelum dipercaya menjadi duta Kabupaten Buleleng, Sanggar Seni Suara Mustika terlebih dahulu mengikuti proses seleksi bersama sejumlah peserta lainnya di tingkat kabupaten.

“Tantangan terbesar tentu karena kami membina anak-anak. Karakter mereka berbeda-beda dan kedisiplinan dalam mengikuti latihan menjadi tantangan tersendiri. Namun berkat dukungan orang tua, pelatih, dan semangat anak-anak, seluruh proses persiapan dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Melalui penampilan di panggung Ardha Candra, pihaknya berharap tidak hanya mampu memberikan hiburan bagi penonton, tetapi juga memperkenalkan tradisi dan permainan rakyat yang hidup di tengah masyarakat Buleleng kepada generasi muda Bali.

“Semoga penampilan hari ini dapat memukau penonton dan menggugah anak-anak di luar sana untuk mau belajar menggambel, menari, serta ikut melestarikan seni dan budaya Bali,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca