Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

Sebanyak 63 Sapi Divaksin PMK di Desa Batuan Kaler

Kerja Sama UPTD Puskeswan Wilayah III Gianyar Bersama Relawan FKH Unud dan Mahasiswa KKN

Loading

BALIILU Tayang

:

kegiatan
Petugas saat lakukan vaksinasi PMK di Batuan Kaler. (Foto: Ist)

Gianyar, baliilu.com – Kenaikan harga daging sapi akhir-akhir ini mulai meresahkan masyarakat. Bahkan menjelang Idul Adha harga daging sapi di pasaran melonjak ke harga Rp. 200.000 per kilogram sebagai dampak dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sedang mewabah.

Selain menyebabkan lonjakan pada harga daging sapi di pasar, PMK juga menyebabkan kerugian bagi para peternak. Selain menyebabkan harga daging sapi menjadi tidak stabil, PMK juga menyebabkan permintaan daging sapi menurun sebagai akibat dari rasa kekhawatiran masyarakat untuk mengkonsumsi daging sapi di tengah isu PMK. 

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bukanlah ancaman baru karena sebelumnya PMK pernah merebak di Indonesia pada tahun 1887 dan butuh waktu hampir satu abad lamanya bagi pemerintah untuk melepaskan Indonesia dari cengkeraman PMK. 

Pada akhirnya tahun 1990 melalui organisasi kesehatan hewan dunia (OIE) menyatakan Indonesia bebas PMK. Setelah hampir 36 tahun tidak terdengar, kini PMK kembali muncul ke permukaan dan situasi ini cukup membuat pemerintah kewalahan karena minimnya persiapan dan fasilitas dalam menangani PMK.

Update terbaru dari dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kasus PMK di Indonesia total sudah mencapai angka 401.205 dengan rincian sebanyak 168.005 ekor ternak dinyatakan sembuh dan masih ada 233.200 ekor yang dinyatakan belum sembuh. Sebanyak 4.427 ekor ternak dilakukan pemotongan bersyarat dan sebanyak 2.772 ekor mati. Oleh karena itu untuk menindaklanjuti fenomena ini, pemerintah Indonesia tengah gencar menggarap program vaksin di seluruh daerah di Indonesia. Tercatat hingga 20 Juli  sejumlah 554.351 ekor ternak telah dilakukan vaksinasi.

kegiatan
Peserta KKN di Desa Batuan Kaler foto bersama relawan FKH Unud dan Petugas dari UPTD Puskeswan III Gianyar. (Foto: Ist)

Kementerian Pertanian sudah menggiatkan program vaksinasi hewan ternak sejak bulan Juni sebagai upaya pencegahan penyebaran virus PMK.  Untuk saat ini program vaksinasi lebih difokuskan pada sapi. Dalam mendukung upaya pemerintah tersebut, UPTD Puskeswan Wilayah III Kabupaten Gianyar bersama relawan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) melaksanakan kegiatan vaksinasi PMK dan pendataan ternak sapi di Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar.

Baca Juga  Tingkatkan Mutu PKM, FKH Unud Adakan Sosialisasi Program Kreativitas Mahasiswa 2023

Kegiatan vaksinasi dilaksanakan pada Sabtu, 23 Juli 2022 didampingi perangkat desa, Babinsa, dan Bhabinkantibmas Desa Batuan Kaler.  Kegiatan dimulai dari pukul 08.30 Wita dan terbagi menjadi 3 wilayah meliputi wilayah 1 di Banjar Cangi, wilayah 2 di Banjar Blahtanah, dan wilayah 3 mencakup Banjar Sakah dan Banjar Dauh Uma. 

Koordinator KKN di Desa Batuan Kaler menyampaikan, hasil dari kegiatan vaksinasi di Desa Batuan Kaler sebanyak 63 sapi telah terdata dan tervaksinasi PMK. Selanjutnya akan ada vaksin booster akan diberikan kurang lebih satu bulan kemudian. Kegiatan vaksinasi ini akan dilanjutkan ke desa-desa lainnya untuk pemerataan vaksinasi di Bali. Diharapkan melalui kegiatan vaksinasi ini, masyarakat semakin waspada akan bahaya PMK dan mengetahui cara pencegahan PMK bagi ternak mereka. Dikatakan, biosecurity kandang juga menjadi indikator penting sebagai upaya sterilisasi kandang dan pencegahan penyebaran virus PMK sehingga nantinya kasus PMK bisa lebih terkendali dan segera mereda. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas1487-Kegiatan-Pendataan-Ternak-Sapi-Dan-Vaksinasi-Penyakit-Mulut-dan-Kuku-PMK-di-Desa-Batuan-Kaler-Kecamatan-Sukawati-Kabupaten-Gianyar.html (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  Meriah, Reuni Akbar & HUT Ke-12 Minat Profesi Satwa Liar Rothschildi FKH Unud

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Ni Putu Yudiantari Terpilih Sebagai Ketua Minat Profesi P-LO FKH Unud Periode 2023

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  Ni Putu Yudiantari Terpilih Sebagai Ketua Minat Profesi P-LO FKH Unud Periode 2023

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
itb sikom bali 2a
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca