Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Sekda Adi Arnawa Buka Pentas Seni Budaya Desa Gulingan

BALIILU Tayang

:

Pentas Seni Gulingan
DISAMBUT: Sekda Adi Arnawa disambut warga saat membuka kegiatan Pentas Seni Budaya Lokal Desa Gulingan yang ditandai dengan pemukulan kendang bertempat di depan pasar Desa Gulingan Mengwi Badung, pada Jumat (8/12) sore. (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Mewakili Bupati Badung, Sekretaris Daerah I Wayan Adi Arnawa membuka kegiatan Pentas Seni Budaya Lokal Desa Gulingan yang ditandai dengan pemukulan kendang.

Kegiatan tersebut dalam rangka HUT Ke-33 Desa Gulingan yang puncaknya tanggal 9 Desember 2023. Kegiatan yang bertajuk “Gulingan Tunggil Paripurna” yang artinya Gulingan Bersatu dan Bangkit, juga dihiasi dengan parade budaya yang diselenggarakan oleh STT. se-Desa Gulingan, bertempat di depan pasar Desa Gulingan Mengwi Badung, pada Jumat (8/12) sore.

Turut hadir pada kesempatan tersebut Perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Perwakilan Dinas PMD Kabupaten Badung, Sekretaris Camat Mengwi Ida Bagus Suryana, Tripika Kecamatan Mengwi, tokoh masyarakat beserta undangan lainnya.

Sebagai bentuk komitmen dan dukungan dari pemerintah, Sekda Adi Arnawa menyerahkan bantuan dana secara simbolis kepada Perbekel Desa Gulingan I Ketut Winarya sebesar Rp. 50 juta yang terdiri dari Rp. 15 juta bantuan untuk Sekaa Gong Genta Yowana, Parade Seni dan Budaya se-Desa Gulingan, Rp. 20 juta bantuan untuk Widya Sabha dalam rangka kegiatan makekawin tingkat Remaja se-Kecamatan Mengwi dan Rp. 15 juta bantuan untuk Listibiya dalam rangka kegiatan mewarnai tingkat TK se-Desa Gulingan.

Dalam sambutannya Sekda Adi Arnawa mengatakan kegiatan Pentas Seni Budaya Lokal Desa Gulingan tersebut merupakan kegiatan yang sangat positif terutama untuk menarik wisatawan mancanegara agar datang ke Bali, khususnya ke Desa Gulingan yang secara tidak langsung akan menambah PAD di Kabupaten Badung.

“Saya atas nama Pemerintah Kabupaten Badung, mewakili Bupati I Nyoman Giri Prasta merasa berbahagia bisa hadir dan sangat mengapresiasi serta menyambut baik daripada kegiatan Pentas Seni Budaya Lokal Desa Gulingan. Ini merupakan kreativitas yang tinggi dari anak-anak kita STT se-Desa Gulingan dan dukungan dari Perbekel menyelenggarakan kegiatan ini luar biasa,” ujarnya.

Baca Juga  Ketua K3S Badung Buka Muscab Pertuni Badung dan KDD 2026

“Saya sangat berharap kegiatan positif ini agar bisa berkelanjutan dan kita sebagai orang tua kita harus selalu mendukungnya. Semoga kegiatan pentas seni budaya lokal Desa Gulingan ini bisa ditiru dan menumbuhkan semangat STT yang lainnya untuk melakukan kegiatan positif ini,” imbuh Sekda Adi Arnawa.

Sementara itu Perbekel Desa Gulingan I Ketut Winarya mengucapkan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa atas wara nugrahanya bisa terselenggaranya kegiatan Pentas Seni Budaya Desa Gulingan. Serta mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Sekda Badung yang telah hadir dan membuka kegiatan tersebut.

”Pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-33 ini, kami Desa Gulingan, mengawali dengan pembinaan para Sekaa-sekaa (Sekaa Santi, Sekaa Tabuh), baik dari unsur Sekaa Teruna, Kelompok Seni, Sekolah Dasar untuk kegiatan megeguritan dan anak-anak TK untuk kegiatan mewarnai dengan menyentuh seluruh elemen masyarakat Desa Gulingan,” ungkapnya.

Pihaknya berharap melalui kegiatan tersebut diharapkan akan tumbuh insan-insan seni yang membina seni dan budaya dalam bentuk garapan seni lokal sebagai upaya untuk mempertahankan dan melestarikan adat dan budaya Bali secara menyeluruh khususnya di Desa Gulingan untuk masa yang akan datang. Lebih lanjut dilaporkan serangkaian HUT ke-33 Desa Gulingan telah diselenggarakan kegiatan dari unsur seni lukis dilaksanakan lomba mewarnai tingkat TK, kegiatan di bidang seni suara dilaksanakan lomba Utsawa Dharmagita peserta dari Sekaa Teruna berupa lomba Mekekawin, Mecepat dan Sloka, dan sebagai bentuk perhatian Pemerintah Desa kepada orang tua lanjut usia pada tanggal 7 Desember 2023 dilakukan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Serta telah dilaksanakan Turnamen Bola Volly dari Prajayowana Cup 1 pada bulan Oktober yang diikuti 8 klub bergengsi di Kabupaten Badung. (gs/bi)

Baca Juga  Ajak Masyarakat Peduli Kesehatan, Sekda Adi Arnawa Lepas Peserta Fun Run Indomaret 2024

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Desa Adat Sesetan Gelar “Karya Atma Wedana“ dan “Mapandes Kinambulan“

Walikota Denpasar IGN Jaya Negara Ikut “Ngayah Nyangging“

Loading

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Ngayah Nyangging di Karya Sesetan
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ngayah nyangging saat menghadiri “Karya Atma Wedana” dan “Mapandes Kinambulan” di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Rabu (9/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Desa Adat Sesetan kembali menggelar Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan secara massal. Pelaksanaan karya tersebut berlangsung di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Rabu (9/9), dan diikuti ratusan krama, baik dari Desa Adat Sesetan maupun dari luar wilayah.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, turut hadir sekaligus ngayah nyangging dalam pelaksanaan upacara mapandes atau matatah massal tersebut.

Sejak pagi, ratusan warga tampak memadati areal bale peyadnyan untuk mengikuti rangkaian prosesi upacara matatah kinambulan. Mapandes massal kali ini diikuti sebanyak 138 peserta dengan melibatkan 21 orang sangging yang bertugas melaksanakan prosesi pengasahan gigi.

Selain Walikota Denpasar, pelaksanaan karya tersebut juga dihadiri Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa dan Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara, Kabag Kesra Kota Denpasar I Putu Agus Jayadi, Camat Denpasar Selatan Kadek Hermanto dan tokoh masyarakat serta krama Desa Adat Sesetan.

Di sela-sela kegiatan, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan bahwa ritual potong gigi atau mapandes merupakan salah satu rangkaian upacara Manusa Yadnya yang penting dilaksanakan bagi umat Hindu.

Mapandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Ritual ini bertujuan untuk mengendalikan enam sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia,” ujar Jaya Negara.

Ia menjelaskan, Sad Ripu terdiri atas kama, yakni sifat penuh nafsu indria; lobha, sifat loba dan serakah; krodha, sifat kejam dan pemarah; mada, sifat mabuk atau kemabukan; matsarya, sifat dengki dan iri hati; serta moha, sifat kebingungan atau kesulitan dalam menentukan sesuatu.

Baca Juga  Wabup Suiasa Hadiri Rakor Kadin

Menurutnya, pelaksanaan upacara mapandes tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki makna penting dalam membentuk kehidupan manusia agar mampu mengendalikan diri dan menjalani kehidupan secara lebih baik.

Lebih jauh, Walikota Jaya Negara juga menyampaikan, sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya tersebut, Pemerintah Kota Denpasar memberikan bantuan dana hibah sebesar Rp 300 juta.

Sementara itu, Bendesa Adat Sesetan, I Made Sudarma, menyampaikan bahwa Desa Adat Sesetan telah memiliki program matatah atau mapandes massal yang dilaksanakan secara berkala.

“Program ini sudah ada sejak lama dan dirancang setiap dua tahun sekali sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan untuk membantu sesama umat di Desa Adat Sesetan,” ungkapnya.

Menurutnya, pelaksanaan matatah massal tersebut bertujuan membantu dan meringankan beban masyarakat, khususnya dalam pembiayaan pelaksanaan yadnya. Dengan dilaksanakan secara bersama-sama, masyarakat dapat menekan pengeluaran dalam melaksanakan kewajiban keagamaan.

Menariknya, pelaksanaan Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan ini tidak hanya diperuntukkan bagi warga Desa Adat Sesetan. Masyarakat dari luar Desa Adat Sesetan juga diberikan kesempatan untuk mengikuti rangkaian karya tersebut.

Untuk pelaksanaan mapandes, krama Desa Adat Sesetan dikenakan biaya sebesar Rp 500 ribu per peserta, sedangkan peserta dari luar Desa Adat Sesetan dikenakan biaya Rp 750 ribu.

Sedangkan untuk pelaksanaan Atma Wedana atau memukur, krama Desa Adat Sesetan dikenakan biaya sebesar Rp 1 juta. Sedangkan peserta dari luar Desa Adat Sesetan dikenakan biaya sebesar Rp 3,5 juta.

“Ini merupakan bentuk upaya kami untuk membantu meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Kami memberikan kesempatan tidak hanya kepada warga Sesetan, tetapi juga masyarakat dari luar Desa Adat Sesetan yang ingin mengikuti karya ini,” jelas I Made Sudarma.

Baca Juga  ‘‘Megendu Wirasa‘‘ Pecalang Se-Badung, Tingkatkan Konsolidasi

Selain matatah massal, kata Made Sudarma, rangkaian Karya Atma Wedana kali ini juga diikuti sebanyak 142 sawa. Lebih lanjut, pihaknya mengemukakan, pelaksanaan mapandes massal ke depan akan terus dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari program Desa Adat Sesetan.

Mapandes massal kali ini diikuti 138 orang peserta dari warga Desa Adat Sesetan dengan melibatkan 21 orang sangging. Upacara ini nantinya akan terus kami adakan secara rutin ke depannya,” katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Denpasar, khususnya Walikota Denpasar Jaya Negara, atas kehadiran dan dukungan berupa stimulan dalam pelaksanaan karya tersebut.

“Semoga upacara ini bisa terus kami laksanakan untuk masyarakat ke depannya,” tandasnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

“Karya Agung“ 10 Tahunan di Kintamani, Bupati Adi Arnawa Ajak Jaga Danau Batur Sebagai Jantung Air Bali

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Hadiri Karya Tawur Agung di Danau Batur
HADIRI KARYA: Bupati Wayan Adi Arnawa saat menghadiri “Karya Tawur Agung Manca Wali Krama“ di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, Selasa (8/9). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Upacara keagamaan Danu Kertih serangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama digelar megah di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, Selasa (8/9). Karya di salah satu Pura Tri Kahyangan Jagat yang diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali ini dilaksanakan sebagai momentum penting untuk mendoakan kerahayuan, keselamatan, serta menjaga keharmonisan alam dan spiritual Bali.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa hadir mendampingi Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta. Turut serta Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, dan Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, yang bersama-sama mengikuti prosesi sakral mendak tirta amertha dan mulang pekelem di tengah Danau Batur.

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, menyampaikan apresiasi mendalam kepada krama Desa Adat Songan atas pelaksanaan karya agung ini. Ia menegaskan bahwa ritual tersebut bukan hanya milik warga setempat, melainkan demi keharmonisan seluruh jagat Bali.

“Puncak Karya Agung akan jatuh pada Saniscara Umanis Bala, 26 September 2026, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Astungkara melalui pelaksanaan karya ini, Pulau Bali senantiasa gemah ripah loh jinawi,” ujarnya.

Senada dengan Wagub Bali, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa turut memuji semangat gotong-royong warga dalam menjaga kelestarian tradisi spiritual dan alam Danau Batur. Baginya, karya agung ini menjadi pengingat penting akan keseimbangan ekosistem (Bhuana Agung) dan spiritualitas (Bhuana Alit).

“Upacara Danu Kertih ini bukan sekadar ritual keagamaan rutin, melainkan wujud nyata penghormatan kita terhadap alam, khususnya Danau Batur sebagai jantung sumber air di Pulau Bali. Harapan kita bersama, melalui kesucian yadnya Manca Wali Krama ini, Bali senantiasa dianugerahi kedamaian, kerahayuan, serta kelimpahan sumber daya alam yang membawa berkah bagi seluruh masyarakat,” ungkap Adi Arnawa.

Baca Juga  Sekda Adi Arnawa Hadiri Karya Melaspas di Pura Dalem Bagendra Penarungan Mengwi

Jalannya karya keagamaan ini di-puput oleh Yajamana Karya, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun bersama Ida Istri Nata Nawa Wangsa dari Griya Kedhatuan Kawista, Banjar Munduk Ngandang, Desa Belatungan, Pupuan, Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Sembahyang Rahina Tumpek Uye di Pura Luhur Batukau, Bupati Sanjaya Ajak Masyarakat Jaga Keharmonisan dengan Alam

Published

on

By

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati I Made Dirga dan Gubernur Bali Wayan Koster sembahyang Tumpek Uye di Pura Luhur Batukau
PERSEMBAHYANGAN BERSAMA: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, beserta jajaran memaknai perayaan hari suci Tumpek Uye melalui persembahyangan bersama di Pura Luhur Batukaru, Sabtu (5/9). Turut hadir Gubernur Bali Wayan Koster. (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Dalam rangka memperingati Rahina Tumpek Uye, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, beserta jajaran memaknai perayaan hari suci yang menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus menjaga keharmonisan dengan alam dan seluruh makhluk hidup, khususnya satwa, melalui persembahyangan bersama di Pura Luhur Batukaru, Sabtu (5/9). Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Sekda Provinsi Bali beserta Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemprov Bali.

Rahina Tumpek Uye atau yang dikenal dengan Tumpek Kandang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci ini menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memuliakan satwa sebagai bagian dari kehidupan sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas manfaat dan keberadaan seluruh makhluk hidup. Nilai tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan satwa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan memberi makan ikan serta pelepasan burung, yakni burung crucuk, titiran, dan kukur, sebagai bentuk kepedulian terhadap keberadaan dan kelestarian ekosistem dan satwa. Kemudian persembahyangan bersama dilaksanakan di Pura Beji dan di utama mandala Pura Luhur Batukau sebagai wujud syukur dan penghayatan terhadap makna Rahina Tumpek Uye.

Sanjaya menyampaikan bahwa peringatan Rahina Tumpek Uye hendaknya tidak hanya dimaknai melalui pelaksanaan upacara, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata untuk menjaga alam serta seluruh makhluk hidup. Menurutnya, keharmonisan antara manusia dan alam merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Lebih lanjut, Bupati Sanjaya mengapresiasi kebersamaan Gubernur Koster dan jajaran Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam memperingati Rahina Tumpek Uye. Pihaknya berharap semangat untuk menjaga alam dan satwa dapat terus ditumbuhkan serta diwujudkan melalui tindakan nyata, sehingga nilai-nilai keharmonisan dan keseimbangan yang terkandung dalam Rahina Tumpek Uye dapat terus terjaga dalam kehidupan masyarakat. (gs/bi)

Baca Juga  ‘‘Megendu Wirasa‘‘ Pecalang Se-Badung, Tingkatkan Konsolidasi

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca