Connect with us

BUDAYA

SKB PHDI dan MDA Bali Terbit, Batasi Pengembanan Ajaran ‘Sampradaya’ Non-‘Dresta’ Bali di Bali

BALIILU Tayang

:

de
Ketua PHDI Bali I Gusti Ngurah Sudiana yang didampingi Bandesa Agung MDA Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, saat konferensi pers sosialisasi SKB PHDI dan MDA Bali, Rabu (16/12) di Kantor MDA Bali Denpasar.

Denpasar, baliilu.com – Adanya sebagian sampradaya  non-dresta Bali di Bali dalam pengembanan ajarannya selama ini telah  menimbulkan keresahan dan protes dari masyarakat sehingga sangat mengganggu kerukunan, kedamaian, dan ketertiban kehidupan beragama Hindu di Bali yang telah terbangun selama berabad-abad berdasarkan adat, tradisi, seni dan budaya, serta kearifan lokal dresta Bali, maka Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali menerbitkan Surat Keputusan Bersama  Nomor: 106/PHDI-Bali/XII/2020 dan Nomor: 07/SK/MDA-Prov Bali/XII/2020.

Hal itu dikatakan Ketua PHDI Bali I Gusti Ngurah Sudiana yang didampingi Bandesa Agung MDA Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet, saat konferensi pers sosialisasi SKB PHDI dan MDA Bali, Rabu (16/12) di Kantor MDA Bali Denpasar.

‘’Dalam menjaga kerukunan, kedamaian, dan ketertiban kehidupan beragama Hindu serta pelaksanaan kegiatan pengembanan ajaran sampradaya non-dresta Bali di Bali perlu diatur pembatasan kegiatan pengembanan ajaran sampradaya non-dresta Bali di Bali melalui Surat Keputusan Bersama PHDI dan MDA Provinsi Bali,’’ ujar Ngurah Sudiana.

Keputusan Bersama PHDI dan MDA Bali tentang Pembatasan Kegiatan Pengembanan Ajaran Sampradaya Non-Dresta Bali di Bali yang mulai berlaku pada tanggal ditetapkan Rabu, 16 Desember 2020 ini, ungkap Ngurah Sudiana, menetapkan pertama: Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali secara bersama-sama melindungi setiap usaha penduduk menghayati dan mengamalkan ajaran agama dan kepercayaannya, sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan serta tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum.

Kedua: sampradaya non-dresta Bali merupakan organisasi dan/atau perkumpulan yang mengemban paham, ajaran, dan praktek ritual yang tata pelaksanaannya tidak sesuai dengan adat, tradisi, seni dan budaya, serta kearifan lokal dresta Bali.

Baca Juga  Presiden Minta OJK dan Pelaku Industri Keuangan Jaga Kepercayaan Pasar dan Masyarakat

Ketiga: untuk menjaga kerukunan, kedamaian, dan ketertiban kehidupan beragama Hindu serta pelaksanaan kegiatan pengembanan ajaran sampradaya non-dresta Bali, maka menugaskan kepada

Parisada Hindu Dharma Indonesia Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa/Kelurahan se-Bali untuk secara bersama-sama: melarang sampradaya non-dresta Bali di Bali menggunakan pura dan wewidangan-nya, tempat-tempat umum/fasilitas publik, seperti jalan, pantai, dan lapangan untuk melaksanakan kegiatannya; melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap keberadaan sampradaya non-dresta Bali di Bali dalam pengembanan ajarannya; melakukan koordinasi dengan Majelis Desa Adat sesuai tingkatan dan Prajuru Desa Adat dalam mengawasi, memantau, dan mengevaluasi keberadaan sampradaya non-dresta Bali di Bali; dan melaporkan hasil kegiatan pelarangan, pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap keberadaan sampradaya non-dresta Bali di Bali kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali, dengan tembusan kepada Majelis Desa Adat Provinsi Bali.

Majelis Desa Adat Kabupaten/Kota dan Kecamatan beserta Prajuru Desa Adat se-Bali untuk secara bersama-sama melaksanakan: penjagaan kesakralan dan kesucian pura yang ada di wewidangan Desa Adat, meliputi Pura Kahyangan Banjar, Pura Kahyangan Desa, Pura Sad Kahyangan, Pura Dhang Kahyangan, serta Pura Kahyangan Jagat lainnya, pelarangan kegiatan ritual sampradaya non-dresta Bali di wewidangan Desa Adat yang bertentangan dengan Sukerta Tata Parahyangan, Awig-awig, Pararem, dan/atau Dresta Desa Adat masing-masing; pelarangan sampradaya non-dresta Bali di Bali melaksanakan kegiatan di Pura/Kahyangan yang ada di wewidangan Desa Adat dan/atau Kahyangan Tiga masing-masing Desa Adat; koordinasi dengan pangempon masing-masing Pura untuk melarang kegiatan sampradaya non-dresta Bali yang tidak sejalan dengan ajaran Hindu di Bali, apabila mereka berkeinginan dan/atau melaksanakan kegiatan di Pura/Parahyangan (Dhang Kahyangan atau Kahyangan Jagat) atau tempat suci lain yang ada di wewidangan Desa Adat yang menjadi tanggung jawab pangempon masing-masing sesuai dresta setempat; pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap sampradaya non-dresta Bali di Bali dalam pengembanan ajarannya; koordinasi dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia sesuai tingkatan dalam mengawasi, memantau, dan mengevaluasi keberadaan sampradaya non-dresta Bali di Bali; dan melaporkan hasil kegiatan pelarangan, pengawasan, pemantauan, dan evaluasi terhadap sampradaya non-dresta Bali di Bali kepada Majelis Desa Adat Provinsi Bali dengan tembusan kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali

Baca Juga  Dari Youth Festival 2020, Ny. Putri Koster Bangkitkan Semangat Anak Muda Manfaatkan Platform Digital

Keempat: para penganut, anggota, pengurus dan/atau simpatisan sampradaya non-dresta Bali di Bali di dalam mengemban atau melaksanakan cita-cita dan kewajiban ajarannya, dilarang: melakukan penafsiran terhadap ajaran dan tatanan pelaksanaan ajaran agama Hindu di Bali; mengajak dan/atau mempengaruhi orang lain untuk mengikuti ajaran sampradaya non-dresta Bali; menyebarluaskan pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan pelaksanaan kegiatan keagamaan Hindu di Bali serta tidak sesuai dengan Adat, Tradisi, Seni, Budaya, dan kearifan lokal; memasukkan ajaran keyakinan sampradaya non-dresta Bali ke dalam buku agama Hindu dan buku pelajaran agama Hindu di Bali; mengajarkan dan melakukan aktivitas dalam bentuk apa pun pada lembaga-lembaga pendidikan di Bali; dan/atau melakukan kegiatan ritual yang menyerupai kegiatan keagamaan Hindu dresta Bali di Bali.

Kelima: kepada penganut, anggota, pengurus dan/atau  simpatisan  Hare Krishna/International Society Krishna Consciousness (ISKCON) beserta organisasinya di Bali sebagai bagian dari sampradaya non-dresta Bali agar sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab menaati Keputusan Bersama ini dan melaksanakan pernyataan kesanggupan yang telah dibuat dalam mewujudkan kedamaian dan ketertiban kehidupan beragama Hindu di Bali.

Keenam: penganut, anggota, pengurus, dan/atau simpatisan sampradaya non-dresta Bali beserta organisasinya di Bali yang tidak menaati Keputusan Bersama ini dan/atau menimbulkan gangguan kerukunan, kedamaian, dan ketertiban kehidupan beragama Hindu di Bali, dapat diberikan sanksi hukum sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan dan/atau Hukum Adat di masing-masing Desa Adat.

Ketujuh: masyarakat berkewajiban berperan aktif membantu pelaksanaan Keputusan Bersama ini dalam rangka menjaga kerukunan, kedamaian, dan ketertiban kehidupan beragama Hindu di Bali. Dan SKB ini, tegas Ngurah Sudiana,  mulai berlaku pada tanggal ditetapkan Rabu (Buda Umanis Prangbakat) 16 Desember 2020. (gs)

Baca Juga  PPKM, Satgas Covid-19 Sanur Bagi Masker dan Pantau Prokes

Advertisements
de

de
Advertisements
de

BUDAYA

Wagub Cok Ace Hadiri ”Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel” Griya Gede Ketewel

Published

on

By

de
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati hadir dalam puncak karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Griya Gede Ketewel yang dilaksanakan di Desa Adat Ketewel Sukawati Gianyar, Jumat (17/9).

Gianyar, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang akrab disapa Cok Ace hadir dalam puncak karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia Punggel Griya Gede Ketewel yang dilaksanakan di Desa Adat Ketewel Sukawati Gianyar, Jumat (17/9).

Karya yang digelar di situasi pandemi ini dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Penerapan prokes nampak pada kelengkapan yang disediakan panitia seperti masker, tempat cuci tangan dan hand sanitizer.

Rangkaian puncak karya di-puput oleh Ida Pedanda Gede Putra Tembawu, Ida Pedanda Gede Putra Bajing Denpasar, Ida Pedanda Gede Raka Timbul, Ida Pedanda Gede Rai Ketewel Babakan Bitera dan Ida Pedanda Buda Dharma Kerti Saraswati Batuan. Selain Wagub Cok Ace, turut hadir para panglingsir Puri Ubud dan Puri Peliatan. Upacara maligia ini diikuti oleh 540 sawa dari berbagai daerah di Gianyar, Denpasar dan Badung.

Rangkaian upakara ini berlangsung sejak tanggal 18 Agustus 2021 dimana puncak karya dilaksanakan pada 17 September 2021 dan diakhiri dengan rangkaian upacara nyegara gunung pada 26 September 2021 mendatang. (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Baca Juga  DPC Peradi Denpasar Audiensi dengan Flobamora Bali
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Giri Prasta Apresiasi Krama Jalani Yadnya dengan Prokes di Desa Adat Umahanyar Mambal

Published

on

By

de
ATMA WEDANA: Bupati Giri Prasta saat menghadiri upacara Atma Wedana, Mapetik, Metatah di Wantilan Jaba Pura Kahyangan Tiga, Desa Adat Umahanyar, Mambal, Minggu (12/9).

Badung, baliilu.com – Sebagai wujud komitmen dalam melestarikan adat istiadat dan budaya Bali, Bupati Badung Nyoman Giri Prasta menghadiri upacara Atma Wedana, Mapetik, Metatah yang dilaksanakan Desa Adat Umahanyar, Mambal, Kecamatan Abiansemal, Minggu (12/9) bertempat di Wantilan Jaba Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Umahanyar.

Turut hadir Anggota DPRD Provinsi Bali Bagus Alit Sucipta, Anggota DPRD Kabupaten Badung I Made Ponda Wirawan, Camat Abiansemal Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, Bendesa Adat Umahanyar I Ketut Nuridja serta tokoh masyarakat setempat. Sebagai bentuk perhatian dan motivasi, Bupati Giri Prasta menyerahkan punia secara pribadi sebesar Rp 15 juta.

Dalam sembrama wecananya, Bupati Giri Prasta memberikan apresiasi dan dukungan terhadap upacara Atma Wedana, Mapetik, Metatah. Bupati Giri Prasta juga memberikan apresiasi kepada masyarakat karena melaksanakan yadnya bersama-sama sebagai wujud dharmaning leluhur.

Menurutnya, karya ini juga sangat sejalan dengan apa yang menjadi visi Pemkab. Badung yaitu “Memantapkan arah pembangunan Badung berlandaskan Tri Hita Karana menuju masyarakat maju, damai dan sejahtera”. Misi pertama, memperkokoh kerukunan hidup bermasyarakat dalam jalinan keragaman adat, budaya dan agama. Sekaligus sesuai dengan enam prinsip dasar pembangunan Badung, salah satunya dalam upaya meningkatkan dan melestarikan seni, adat, agama, tradisi dan budaya.

Menurut Giri Prasta, upacara Atma Wedana ini merupakan sebuah sarana upacara untuk menyucikan atma sehingga menjadi dewa hyang guru dan melinggih di merajan rong tiga. Banyak rangkaian dari upacara nyekah yang patut dilaksanakan oleh krama sebagai peserta nyekah. Mulai dari ngangget don bingin, murwa daksina, meprelina puspa, meajar-ajar dan terakhir mamitang ke Pura Dalem dan ngelinggihang di masing-masing merajan.

“Atas nama Pemkab Badung kami sangat mendukung pelaksanaan karya ini, semoga dapat terlaksana dengan baik sesuai harapan bersama,” harapnya.

Baca Juga  Gubernur Koster Harap Pameran Megarupa jadi Ajang Menggali dan Memperkaya Kesenian Bali

Selain itu, Bupati juga menekankan pentingnya protokol kesehatan dengan melaksanakan 3 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) guna mencegah penyebaran pandemi Covid-19. “Kami selaku pemerintah telah berupaya maksimal dalam menekan penyebaran virus ini, mulai dari sosialisasi, edukasi prokes, vaksinasi, menyiapkan isolasi terpusat hingga melakukan 3 T (tracing, testing dan treatment). Namun semua hal ini akan tidak berhasil tanpa dukungan dan kedisiplinan dari masyarakat.

Sementara itu, Bendesa Adat Umahanyar I Ketut Nuridja menyampaikan terima kasih atas kehadiran serta dukungan Bupati Badung beserta DPRD Provinsi Bali dan DPRD Badung, sehingga karya ini dapat berjalan dengan baik dengan tetap mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid-19 sesuai imbauan pemerintah.

Karya yang diikuti oleh 38 sawa, metatah 57 orang dan mapetik diikuti 39 peserta ini, puncaknya dilaksanakan pada Anggara Pon Ukir, Selasa (14/9), dilanjutkan dengan meajar-ajar dan ngelinggihang dilaksanakan pada Buda Wage Ukir, Rabu (15/9). (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Ketua PANDI Prof. Yudho Giri Sucahyo Apresiasi Gubernur Bali Luncurkan ‘’Keyboard’’ Aksara Bali

Published

on

By

de
PELUNCURAN KEYBOARD AKSARA BALI: Foto bersama usai peluncuran Papan Ketik (Keyboard) Aksara Bali oleh Gubernur Bali Wayan Koster, bertepatan dengan Hari Suci Tumpek Landep, Sabtu (Saniscara Kliwon, Landep), 11 September 2021 di Gedung Gajah, Jayasabha, Denpasar.

Denpasar, baliilu.com – Ketua Pengelola Domain dan Internet Indonesia (PANDI) Prof. Yudho Giri Sucahyo, Phd. menyampaikan apresiasi dan bangga pada komitmen dan pencapaian Gubernur Bali Wayan Koster dalam melestarikan aksara lokal. Menurutnya ini merupakan sebuah langkah besar terhadap kemajuan digitalisasi Aksara Bali sekaligus upaya pelestarian nilai-nilau budaya bangsa khususnya budaya Bali.

‘’Hal ini sangat sesuai dengan program kerja yang sedang dikampanyekan PANDI yaitu program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN), dimana Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah hingga UNESCO turut mendukung secara penuh program tersebut,’’ ujar Prof. Yudho Giri Sucahyo, Phd. saat peluncuran Papan Ketik (Keyboard) Aksara Bali oleh Gubernur Bali Wayan Koster, bertepatan dengan Hari Suci Tumpek Landep, Sabtu (Saniscara Kliwon, Landep), 11 September 2021 di Gedung Gajah, Jayasabha, Denpasar. 

Prof. Yudho Giri Sucahyo lanjut menyampaikan, saat ini PANDI sedang berusaha mempromosikan aksara nusantara ke ranah internasional, sehingga diharapkan proses digitalisasi aksara nusantara bisa lebih mudah.

“Untuk itu dengan diluncurkannya Keyboard Aksara Bali, ini merupakan kemajuan yang luar biasa, dan PANDI akan terus mendukung pendaftaran Aksara Bali serta upaya standarisasi keyboard agar sesuai dengan standar nasional dan internasional,” tandas Yudho.

Acara peluncuran Keyboard Aksara Bali dilaksanakan secara hibrid (luring dan daring) diikuti oleh 45 siswa SD, SMP, SMA/SMK, SLB Kabupaten/Kota Se-Bali, dan 4 orang perwakilan mahasiswa dari Universitas Udayana, Institut Seni Indonesia Denpasar, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, dan Universitas Hindu Indonesia Denpasar. Acara ini dihadiri Bupati/Wali Kota, Rektor Perguruan Tinggi serta diikuti secara virtual oleh Satuan Pendidikan SMA, SMK, SLB Negeri dan Swasta Se-Bali sejumlah 329 sekolah. Acara peluncuran Keyboard Aksara Bali ini juga merupakan pencapaian tiga tahun kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster bersama Wakil Gubernur Bali Tjok Oka Artha Ardana Sukawati.

Baca Juga  Update Covid-19 (30/10) Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai: Kasus Positif Menunjukkan Tren Penurunan

Keyboard Aksara Bali ini merupakan ide kreatif dan original Gubernur Bali Wayan Koster, yang menugaskan untuk dikembangkan oleh Tim Peneliti dari Program Studi Informatika Fakultas MIPA Universitas Udayana yang terdiri dari Cokorda Rai Adi Pramartha, Ph.D, IB Ary Indra Iswara, M.Kom, I Putu Gede Hendra Suputra, M.Kom, dan IB Gede Dwidasmara, M.Cs. Acara dilaksanakan pada Hari Suci Tumpek Landep, karena merupakan hari upacara untuk menajamkan pikiran secara niskala.

Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya menegaskan, ide/gagasan mengembangkan Keyboard Aksara Bali merupakan kelanjutan pelaksanaan kebijakan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. Adapun tujuannya adalah untuk melindungi keberadaan Aksara Bali sebagai warisan adi luhung dari leluhur Bali yang diawali dengan menerbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali serta Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali.

Lebih lanjut, Gubernur Bali menegaskan, Keyboard Aksara Bali merupakan perpaduan antara kearifan lokal Bali dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi digital dalam era globalisasi dunia saat ini. Perkembangan teknologi digital yang mengglobal tidak boleh mematikan/menenggelamkan kebudayaan dan kearifan lokal Bali yang sangat kaya dan unik seperti Aksara Bali, melainkan justru dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk melestarikan Aksara Bali melalui teknologi digital yang digemari oleh para generasi muda milenial guna memajukan kebudayaan dan kearifan lokal Bali. Ini program yang sangat keren, dengan sarana Keyboard Aksara Bali ini, Aksara Bali, tidak hanya dikenal oleh Krama Bali, tetapi akan meluas ke pergaulan masyarakat nasional, bahkan memasuki pergaulan masyarakat dunia.

Baca Juga  Presiden Minta OJK dan Pelaku Industri Keuangan Jaga Kepercayaan Pasar dan Masyarakat

Pada kesempatan tersebut Gubernur Bali menyempatkan diri untuk berinteraksi langsung dengan para siswa dan mahasiswa, memberikan soal untuk diketik dalam Aksara Bali, sebanyak 7 soal, yaitu : 1) Bali Dwipa Jaya; 2) Nama Gubernur Bali Wayan Koster; 3) Nama Wakil Gubernur Bali Tjok. Oka Sukawati; 4) Gunung Agung; 5) Pura Besakih; 6) Tumpek Landep; dan 7) Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Di luar dugaan, ternyata para siswa dan mahasiswa dengan sigap mampu menuliskan soal-soal tersebut secara benar dan cepat dari laptop masing-masing yang ditayangkan langsung dalam layar virtual. Kebenaran penulisan Aksara Bali dinilai oleh tim, terdiri dari Ketut Sumarta (Kelompok Ahli Pembangunan Provinsi Bali), Kadis Kebudayaan Provinsi Bali, dan Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Provinsi Bali.

Gubernur Bali sangat mengagumi kemampuan para siswa dan mahasiswa yang ternyata masih sangat fasih dan peduli terhadap Aksara Bali. Sebagai bentuk apresiasi Gubernur Bali secara spontan memberikan penghargaan berupa uang tunai masing-masing Rp.1.000.000 kepada 49 perwakilan siswa dan mahasiswa yang akan dikirim melalui rekening masing-masing di Bank Pembangunan Daerah Bali.

Keyboard Aksara Bali diyakini akan mendunia, karena memiliki 7 keunggulan fungsi,
yaitu : 1) menggunakan koneksi WiFi (USB dongle) atau Bluetooth; 2) dapat digunakan untuk menuliskan Aksara Bali secara natural (tanpa auto correction, red); 3) dapat digunakan untuk menuliskan Aksara Bali pada sistem operasi yang berbeda seperti Apple MacOS dan Microsoft Windows; 4) dapat digunakan untuk membuat dan menyimpan dokumen digital pada berbagai macam aplikasi seperti Microsoft Office, Google Office (Docs, Spreadsheet, Presentation), Notes, iWork dan lain-lain dengan menggunakan Aksara Bali; 5) dapat digunakan untuk menuliskan dokumen pada website/Internet dengan Aksara Bali; 6) dapat digunakan untuk menuliskan pesan pada media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram dengan Aksara Bali; dan 7) hasil pembuatan dokumen atau pesan yang dihasilkan dapat dibagikan ke orang lain tanpa mengubah tampilan Aksara Bali yang telah dibuat sebelumnya.

Baca Juga  Dari Youth Festival 2020, Ny. Putri Koster Bangkitkan Semangat Anak Muda Manfaatkan Platform Digital

Gubernur Bali meyakinkan Krama Bali khususnya generasi muda milenial bahwa Aksara Bali bisa sejajar dengan aksara-aksara negara lain yang telah mendunia, seperti: Tiongkok, Jepang, Korea, Thailand dan India. Negara-negara ini, yang memiliki aksara tersendiri menunjukkan tingkat peradabannya di masa lalu, mampu bertahan sampai saat ini, dan akan mampu bersaing menghadapi dinamika global, ditandai kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakatnya.

Oleh harena itu, Gubernur Bali Wayan Koster mengajak generasi muda milenial, ‘’Kita harus bersyukur diberikan warisan budaya berupa Aksara Bali oleh Leluhur Bali yang sangat hebat. Semua aktivitas kehidupan dimulai dari aksara, tidak ada kata tanpa aksara, tidak ada kalimat/narasi tanpa aksara, dan tidak akan ada kerja tanpa aksara. Untuk itu dengan sekuat tenaga dan penuh komitmen, Kita harus mampu memelihara, memuliakan, dan menjadikan Aksara Bali sebagai kebanggan bersama dan keunggulan Krama Bali untuk diperkenalkan kepada masyarakat luas secara nasional dan global.’’

Dengan kuatnya peradaban Bali, Gubernur Bali meyakinkan bahwa Krama Bali akan terus bergerak maju dan mampu menghadapi persaingan dalam dunia global. Oleh karena itu, ke depan, Gubernur Bali akan menyelenggarakan program penyediaan Keyboard Aksara Bali dalam bentuk Laboratorium Praktik Aksara Bali ke sekolah-sekolah, sehingga para guru dan siswa akan lebih mudah melaksanakan pembelajaran Aksara Bali. (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Lanjutkan Membaca