Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

TPID Kabupaten Gianyar Siap Menjaga Kestabilan Harga Jelang Idul Fitri

BALIILU Tayang

:

de
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia, G.A. Diah Utari. (Foto: Ist)

Gianyar, baliilu.com – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Gianyar melaksanakan High Level Meeting (HLM) pada Jumat, 22 April 2022 dalam rangka persiapan menyambut Idul Fitri 1443 Hijriah.  Rapat dilaksanakan secara virtual dan dipimpin oleh Wakil Bupati Gianyar dan dihadiri oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Kepala Badan Pusat Statistik, serta seluruh anggota TPID Kabupaten Gianyar.

Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun yang menyampaikan sambutan Bupati Gianyar, menyatakan bahwa HLM sangat penting dilakukan untuk dapat mengantisipasi lonjakan harga serta ketersediaan bahan pokok menjelang Idul Fitri 1443 H. Beberapa tantangan yang dihadapi oleh Kab. Gianyar diantaranya (1) masih tingginya ketergantungan bahan pangan dari luar daerah, (2) infrastruktur dan distribusi pangan yang masih belum optimal, dan (3) produksi pangan yang rentan dengan gangguan eksternal.

Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun bersama TPID Gianyar.

Lebih lanjut, Wakil Bupati menyampaikan bahwa program PUSPA AMAN (Pusat Pangan Alami, Mandiri, Asri dan Nyaman), pemantauan harga, dan operasi pasar akan terus dilakukan dalam menjaga stabilitas harga. Beberapa kegiatan untuk menjaga inflasi antara lain monitoring harga kebutuhan pokok, mendorong kerja sama antardaerah, meningkatkan peran UMKM, serta melakukan koordinasi dan sinergi antarpihak terkait untuk memajukan ekonomi Gianyar.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia, G.A. Diah Utari menyampaikan  bahwa tekanan inflasi di tahun 2022 semakin berat. Salah satunya penyebabnya adalah konflik Rusia-Ukraina yang berkepanjangan. Konflik ini menyebabkan harga komoditas dunia seperti energi dan bahan pangan meningkat. Kondisi inflasi yang tinggi telah terjadi di beberapa negara baik maju maupun berkembang. Tekanan inflasi di negara maju mendorong bank sentral  untuk menaikkan suku bunga kebijakan yang pada gilirannya akan mengakibatkan aliran masuk modal asing ke negara emerging market, termasuk Indonesia, akan semakin terbatas. Hal ini dapat memberikan tekanan nilai tukar yang meningkatkan imported inflation.

High level Meeting TPID Gianyar digelar secara virtual.

Lebih lanjut, Diah Utari menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi di sebagian besar wilayah Indonesia telah mengalami pemulihan sejak triwulan II 2021, termasuk Bali yang telah mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,51% pada triwulan IV 2021. Meski demikian, level pertumbuhan Provinsi Bali masih lebih rendah dibandingkan provinsi lainnya. Diah Utari optimis bahwa perekonomian Bali ke depan akan semakin membaik. Hal ini disebabkan semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Bali seiring dengan beberapa kebijakan antara lain pelonggaran mobilitas masyarakat, pembukaan direct flights dari luar negeri, kebijakan pelonggaran PPLN (Pelaku Perjalanan Luar Negeri), pelaksanaan beberapa event internasional, serta keberlanjutan beberapa proyek di Bali.

Baca Juga  Jelang Idul Fitri, Bank Indonesia Jamin Layanan Operasional dan Keamanan Transaksi Nontunai

Diah menambahkan bahwa secara spasial pertumbuhan ekonomi Kab. Gianyar disumbang oleh sektor akmamin (20,12%), pertanian (15,25%), serta konstruksi (11,01%). Di samping itu, berdasarkan Laporan Akhir Penelitian Komoditas Produk dan Jasa Unggulan (KPJU) Provinsi Bali 2021, diketahui bahwa UMKM potensial dapat dikembangkan di Kab. Gianyar, khususnya  sektor peternakan seperti bebek, kambing dan babi  dan  pertanian /perkebunan seperti kelapa, untuk pemenuhan kecukupan bahan pokok internal Kabupaten Gianyar.

Inflasi Provinsi Bali pada Maret 2022 adalah sebesar 2,4% (yoy). Meskipun relatif rendah, Diah memperingatkan sampai dengan minggu kedua April 2022 telah terjadi kenaikan pada beberapa komoditas di Kab. Gianyar seperti minyak goreng, daging sapi has luar, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang putih, serta gula pasir. Diah menyebutkan bahwa berdasarkan data historis, inflasi pada periode Ramadan/Idul Fitri di Bali relatif terkendali. Namun, tetap perlu diwaspadai untuk beberapa komoditas yang sering menjadi penyumbang inflasi pada periode tersebut.

Kepala BPS Kab. Gianyar, Ir. I Made Antara Yasa menambahkan bahwa komoditas yang cenderung memerlukan perhatian untuk Idul Fitri antara lain daging ayam ras, tarif angkutan udara, ikan tongkol, buah jeruk.

Diah menyebut beberapa faktor risiko ke depan perlu diwaspadai yaitu pemulihan pariwisata, kenaikan harga tiket pesawat, serta konflik geopolitik. Pada HLM ini, Bank Indonesia memberikan beberapa rekomendasi yaitu pemantauan harga dan stok komoditas, bekerja sama dengan Satgas Pangan agar tidak terjadi penimbunan stok, pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) pangan, perluasan kerja sama antardaerah (KAD), peningkatan kualitas data harga dan stok bahan pangan di SiGapura (Sistem Informasi Harga Pangan Strategis), serta monitoring peta jalan TPID.

Pada akhir HLM, Wakil Bupati Gianyar menyampaikan beberapa hal yaitu (1) TPID Kab. Gianyar diharapkan meningkatkan koordinasi dan peran serta masing-masing dalam upaya menjaga harga dan ketersediaan bahan pokok, (2) Menyusun program inovasi untuk dapat menjaga stabilitas harga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta digitalisasi dalam pengelolaan UMKM, (3) Membangun sistem digitalisasi untuk memantau ketersediaan pangan dan kebutuhan pokok lainnya, (4) OPD terkait perlu lebih memperhatikan kembali waktu pelaksanaan update terhadap data masing-masing, dan (5) Anggota TPID Kab. Gianyar untuk menindaklanjuti arahan dan rekomendasi yang telah disampaikan oleh Bank Indonesia. (gs/bi)

Baca Juga  BI Bali Siapkan Uang Tunai Rp 4,9 Triliun Jelang Idul Fitri 2022

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Inflasi Provinsi Bali Mei 2026: TPID Bali Bersinergi Menjaga Stabilitas Harga di Tengah Tensi Geopolitik Global

Published

on

By

inflasi bali
Infografis inflasi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 2 Juni 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,42% (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan April sebesar 0,01% (mtm), dan lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional bulan Mei sebesar 0,28% (mtm). Inflasi bulanan meningkat terutama didorong oleh kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi, serta tekanan harga komoditas global yang turut memengaruhi dinamika pergerakan inflasi secara bulanan.

Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,08% (yoy) pada April 2026 menjadi 2,99% (yoy). Meskipun inflasi meningkat, level inflasi masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%. Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Mei 2026 yakni Kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,54% (mtm) atau 2,78% (yoy).

Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,19% (yoy), diikuti Singaraja dengan inflasi bulanan sebesar 0,37% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,17% (yoy), dan selanjutnya Kabupaten Badung yang juga mengalami inflasi bulanan sebesar 0,25% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,64% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Mei 2026 bersumber dari kenaikan harga beras, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, dan angkutan udara. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga canang sari, tomat, bawang merah, jeruk, dan bawang putih. Inflasi yang terjaga mendukung daya beli masyarakat di tengah konflik geopolitik global. Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%.

Baca Juga  TPID Kota Denpasar Siap Jaga Kestabilan Harga Jelang Idul Fitri

Ke depan, sebut Achris Sarwani, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain tingginya permintaan barang dan jasa pada periode HBKN Galungan-Kuningan serta periode high season wisatawan nusantara (libur sekolah), ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino berupa gangguan cuaca dan risiko kekeringan pada beberapa sentra produksi pangan yang mempengaruhi produksi pertanian, serta berlanjutnya ketidakpastian global berpotensi pada kenaikan lanjutan harga bensin dan bahan bakar rumah tangga. Per 1 Juni 2026, terdapat kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, Bank Indonesia Provinsi Bali senantiasa bersinergi dan berinovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K. Adapun strategi tersebut diantaranya intensifikasi operasi pasar murah dan pemantauan harga secara berkala, termasuk monitoring dan sidak pasokan LPG bersubsidi, fasilitasi distribusi pangan serta optimalisasi kerjasama antar daerah oleh Perumda pangan, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi pelaksanaan operasi pasar dan pasar murah kepada masyarakat di kab/kota. Dengan langkah-langkah strategis tersebut, inflasi tahun 2026 diprakirakan terjaga dalam sasaran 2,5%±1%. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Libur HBKN dan Perayaan Festival Daerah Dorong Penjualan Ritel Bali

Published

on

By

IPR Bali
Infografis indek penjualan riil. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan April 2026 masih tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 125,6 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). IPR Bali secara bulanan turut meningkat sebesar 1,0% (mtm) didukung dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, diantaranya seperti kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Agenda tersebut meliputi pameran-pameran yang mendorong konsumsi pada sub sektor Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak-anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik). Belanja masyarakat masih relatif kuat yang didorong libur panjang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung yang diprakirakan meningkatkan penjualan eceran, khususnya pada kelompok kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, serta produk rumah tangga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponennya, dari 7 komponen pembentuknya, pertumbuhan bulanan tertinggi ada pada kategori Suku Cadang dan Aksesori dengan peningkatan sebesar 3,9% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi dengan peningkatan sebesar 3,3% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 0,3% (mtm); Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga) dengan peningkatan sebesar 0,2% (mtm); serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dengan peningkatan sebesar 0,1% (mtm). Tingkat konsumsi April 2026 masih tumbuh terkendali berdasarkan inflasi tahunan pada bulan April 2026 sebesar 2,08% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Maret 2026 tercatatat tumbuh positif sebesar 1,09% (yoy).

Baca Juga  Jelang Idul Fitri, Bank Indonesia Buka Layanan Penukaran Bersama 9 Perbankan di Lapangan Renon

Meskipun demikian, prospek positif penjualan ritel di Bali diprakirakan melandai berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memprakirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0, lebih rendah dari IEP Mei 2026 sebesar 174,0. Prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada September 2026 sebesar 184, lebih rendah dibandingkan IEP Agustus 2026 sebesar 194. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan April 2026.

Lebih lanjut, Pemerintah melanjutkan kebijakan subsidi BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Lebih lanjut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus bersinergi dan berupaya mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) agar inflasi terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Tingkat Keyakinan Konsumen Bali Masih Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Published

on

By

keyakinan konsumen bali
Infografis info konsumen Bali. (Fotto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 sebagai cerminan optimisme konsumen terhadap perekonomian di Bali masih terjaga sebesar 124,1 (nilai indeks > 100). Meskipun demikian, IKK mengalami perlambatan atau turun sebesar 2,5% (mtm), namun relatif membaik dibandingkan Maret 2026 yang turun 2,6% (mtm). Di sisi lain, IKK Bali tetap berada pada level optimis dan lebih tinggi dibandingkan IKK Nasional sebesar 123,0. Keyakinan konsumen mayoritas didorong oleh kelompok pendapatan Rp4-5 juta (141,4), > Rp8 juta (135,1), dan kelompok pendapatan Rp5-6 juta (127,8). Optimisme IKK turut tercermin dari responden kategori pekerja di sektor formal (134,5) dan informal (116,2).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang. Perlambatan komponen IKK terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 129,8 pada Maret 2026 menjadi 120,7 pada April 2026 atau melambat sebesar 7,1% (mtm).

Achris Sarwani menegaskan faktor penahan pertumbuhan IKE berasal dari 3 (tiga) komponen pembentuk IKE, antara lain penurunan indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 9,3% (mtm) atau menjadi 107,5, penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 6,6% (mtm) atau menjadi 128,0, serta penurunan penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 5,6% (mtm) atau menjadi 126,5. Sementara, terdapat satu komponen pembentuk IKE yang masih stabil jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu, dengan IKE sebesar 100,0.

Baca Juga  Jelang Idul Fitri, Produksi Komoditi Pangan Strategis di Badung Cukup Aman

Responden menyatakan adanya penurunan penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja saat dibandingkan 6 bulan sebelumnya. Kondisi tersebut sejalan dengan menurunnya kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) pada bulan April sebesar 12,4% (mtm), dengan jumlah kunjungan wisnus tercatat sebesar 310,7 ribu orang. Penurunan tersebut seiring dengan normalisasi kunjungan wisnus pasca libur panjang yang terjadi pada Maret 2026. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menjelaskan adanya kenaikan biaya transportasi, khususnya lonjakan harga tiket pesawat lebih dari 30% (mtm) akibat kenaikan harga bahan bakar avtur. Fenomena tersebut turut menahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata ke Bali.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mampu menopang optimisme konsumen, dengan IKE April 2026 sebesar 127,5, meningkat 2,3% (mtm) dibandingkan IKE Maret 2026. Faktor pendorong pertumbuhan IEK berasal dari seluruh komponen pembentuk IEK, antara lain peningkatan indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,5% (mtm) atau menjadi 125,0, peningkatan indeks prakiraan penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,4% (mtm) atau menjadi 126,0, serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,9% (mtm) atau menjadi 131,5.

Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. TPID memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas strategis, serta koordinasi rutin guna menjaga kelancaran distribusi pangan. Demi mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia pada 21-22 April 2026 masih mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Lebih lanjut, untuk menjaga geliat konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global, Pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Stimulus tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  Polri Pastikan Pasokan Bahan Pokok Aman Sampai Idul Fitri

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca