Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Tradisi Bali di Tengah Pandemi, Somya Putra: Desa Adat Ambil Alih dengan Manajemen Cepat, Tepat dan Sederhana

BALIILU Tayang

:

de
Made Somya Putra. (Foto: gs)

Klungkung, baliilu.com – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia telah menyadarkan betapa maha kuasanya sang alam semesta. Kebiasaan aktivitas kemanusiaan tiba-tiba bergeser bahkan berubah. Dari kebiasaan berkumpul jadi terpisah, dari kebiasaan membuka wajah jadi menutup wajah. Tak terkecuali pergeseran juga terjadi pada tradisi Bali. Pandemi Covid telah memberi pesan kuat bahwa hidup harus menyesuaikan dan terus berlomba dengan waktu.

Seperti dituturkan Made Somya Putra dari The Somya International, bahwa saat ini kita sedang berlomba dengan waktu. Dalam situasi kekinian kita harus menyesuaikan diri, harus dinamis. Bahwa tidak menjadi terlalu mempertahankan tradisi, tetapi tidak mampu menyesuaikan dengan kekinian yang justru akan ketinggalan atau kita yang meninggalkan.

‘’Justru harus menyesuaikan dengan keadaan yang sekarang. Orang-orang yang ingin ngayah, tetap ada ruang. Jadi bukan ada rasa beban berat ketika akan ngayah,’’ terang Somya Putra saat ditemui menjenguk rekan sejawat dikremasi di Krematorium Sulang, Dawan Klungkung, belum lama ini.

Ia menyebut ke depan jumlah penduduk Bali akan semakin besar. Sarana dan prasarana upacara tentunya juga semakin mahal. Dan inilah yang sepatutnya perlu dipikirkan 10 sampai 20 tahun ke depan, tradisi Bali kita ini akan seperti apa. 

‘’Pertama, pemahaman bagaimana kita memikirkan saudara-saudara, semeton kita 10-20 tahun ke depan agar tidak ada diskusi lagi yang menurut saya terlalu basic tentang dresta dan lain sebagainya. Menurut saya bisa menjadi perdebatan yang tidak akan pernah selesai,’’ ucap pengacara ini.

Untuk menyelesaikannya, Somya Putra mengungkapkan mulai sekarang dengan cara pemahaman bahwa kita ini adalah sama atau saudara, wasudewa kutumbakan. Jadi, pertama kita berpikir bahwa bagaimana mengelola saudara kita dari lahir sampai meninggal. Kedua, ini harus digulirkan terus-menerus dari pemikiran diri sendiri kemudian dikembangkan kepada keluarga dan diambil oleh stakeholder yang ada, minimal oleh desa adat.

Ia mencontoh, kalau sekarang orang berpikir ngaben ke krematorium karena ingin mudah, ingin lebih simple, itu tujuannya bukan ingin meninggalkan dresta Bali, tetapi menyesuaikan dengan keadaan yang dimiliki. Kehadiran krematorium membuat masyarakat tak perlu takut akan biaya karena tujuan kehadirannya untuk membantu umat Hindu dengan cara mempermudah akses dalam sarana prasarana, salah satunya adalah ngaben.

Jadi ke depan harus diberdayakan potensi yang ada di desa adat melalui tata kelola manajemen yang lebih jelas. Sehingga ketika ada kematian, maka krama yang memiliki kematian sudah tidak berpikir lagi apa yang harus mereka lakukan. Jadi kenapa bukan orang-orang terdekat yang ada di krama sendiri yang mengelola potensi itu. Caranya, tentu sesuai dengan dresta tanpa meninggalkan sima dresta, desa kala patra yang ada.

‘’Jadi desa adat semestinya mengambil alih dengan manajemen cepat, tepat dan sederhana. Sehingga nantinya konsep menyama braya itu akan lebih simple tanpa melihat dari sisi ekonomi, tingkat strata orang. Jadi kita akan menjadi lebih kepada kesetaraan ke depannya. Jadi di tingkat desa adat pun bisa dilakukan,’’ papar Somya Putra seraya menegaskan BUPDA tidak hanya masalah simpan pinjam, tetapi bisa berkembang ke areal yang lebih basic mengenai banten, upacara dari orang lahir sampai orang meninggal bisa dipersiapkan di desa adat.

Jika upacara yadnya dikelola oleh desa adat melalui BUPDA, justru itu penting dilakukan dengan tidak menghilangkan dresta. Misal, orang tidak semua tahu tentang bagaimana cara membuat banten, tetapi dengan konsep manajemen yang jelas di tingkat desa adat, maka orang membuat banten diperkenalkan di tiap banjar tanpa harus ada pasraman, kemudian diperkenalkan di sekolah- sekolah masing-masing melalui ekstra-kurikuler atau sejenisnya orang akan tahu tentang banten.

Konsep ini tentu tidak meninggalkan prinsip gotong-royong. Karena prinsip gotong-royong terjadi pada satu rasa. Bahwa yang meninggal atau semua adalah saudara yang harus mendapatkan dan harus dilakukan benar-benar sebagai saudara, sebagai keluarga. ’’Kalaupun kita hanya mampu untuk majenukan tidak masalah, datang untuk menyumbang, sehingga orang yang kesusahan tidak lagi mengeluarkan dana,’’ ujarnya.

Jika kita menengok ke belakang, orang harus menyama braya dengan orang berkumpul di sebuah tempat, kemudian melakukan kegiatan massal. Tentu saja pandemi ini sudah membatasi hal itu. Nah inilah yang harus diuji tentang bagaimana kita mengikuti keadaan zaman, tidak meninggalkan esensi dresta tapi memberikan kemudahan sesuai dengan zaman sehingga orang-orang yang memiliki rasa militansi dalam persaudaraan tetap bisa melakukan kegiatan itu. Jadi jika sadar kalau kita semua bersaudara, kewajiban sebagai saudara harus dilakukan sebagai saudara. (gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Walikota Apresiasi Upacara Adat Massal di Kesiman

Ringankan Beban Masyarakat, Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Upacara Metatah Massal

Loading

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Hadiri Metatah Massal Kesiman
METATAH MASSAL: Kehadiran Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan prosesi Metatah Massal Desa Adat Kesiman yang berlangsung Senin (28/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Upacara Metatah atau Mepandes Massal Desa Adat Kesiman yang diikuti sebanyak 345 peserta dari 32 banjar adat. Upacara tersebut berlangsung di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Senin (28/9).

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut ngayah nyangging kepada beberapa peserta metatah. Kehadirannya dalam rangkaian upacara tersebut juga diakhiri dengan penyerahan punia sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya adat dan keagamaan di Desa Adat Kesiman.

Didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi, Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi kepada Jro Bendesa Adat Kesiman beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan rangkaian upacara secara massal. Menurutnya, pelaksanaan karya adat secara bersama-sama tidak hanya penting dalam menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Jaya Negara menilai pelaksanaan upacara secara massal dapat membantu menghemat waktu sekaligus meringankan beban biaya masyarakat, khususnya para orang tua yang anaknya mengikuti upacara potong gigi.

“Rangkaian upacara keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan runtut, dimulai dari prosesi Ngaben, Mepetik, Ngangkid ke Pasih, hingga pelaksanaan upacara Metatah atau potong gigi massal. Langkah dan kerja keras Jro Bendesa beserta pihak Desa Adat Kesiman ini sejalan dan turut mendukung program pemerintah daerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Selebihnya Jaya Negara juga berharap pelaksanaan karya massal tersebut dapat terus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong-royong masyarakat. Selain sebagai pelaksanaan kewajiban adat dan keagamaan, rangkaian kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga keharmonisan krama Desa Adat Kesiman.

Sementara itu, Jro Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna mengatakan, rangkaian upacara keagamaan massal tersebut terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September, dilanjutkan dengan Ngingsah pada 16 September serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September. Sebelum pelaksanaan Metatah Massal, juga telah digelar ritual Mesasap Segara yang diikuti sebanyak 526 peserta.

“Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya,” ujarnya.

Rangkaian karya massal Desa Adat Kesiman masih akan berlanjut hingga puncak acara pada 1 Oktober mendatang melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang rencananya dipuput oleh lima orang sulinggih. Selanjutnya, seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober.

“Karya adat tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga semakin memperkuat semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Desa Adat Kesiman,” ujar I Ketut Wisna. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wagub Giri Prasta Hadiri “Pemelaspasan” Pura Lempuyang Madya

Ajak Umat Perkuat Semangat Menyama Braya dan Lestarikan Tradisi Bali

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Hadiri Pemelaspasan Pura Lempuyang Madya
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Karangasem, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengajak umat Hindu untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat menyama braya, serta melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta mengikuti prosesi mendem pedagingan bersama para pemedek. Prosesi ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian upacara penyucian bangunan suci yang sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Usai mengikuti prosesi mendem pedagingan, Giri Prasta didampingi istrinya, Ny. Seniasih Giri Prasta, melaksanakan persembahyangan bersama yang bertepatan dengan rahina Purnama Sasih Kapat.

Dalam sambrama wacana-nya, Giri Prasta menguraikan sejarah dan nilai spiritual Pura Lempuyang. Merujuk pada lontar kuno Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pura Lempuyang berkaitan dengan legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa. Pecahan gunung tersebut kemudian membentuk sejumlah pegunungan di Jawa dan Bali, termasuk Gunung Lempuyang.

Menurut kisah dalam lontar tersebut, Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di sejumlah gunung guna menjaga keseimbangan spiritual Pulau Bali. Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung) dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur, sedangkan Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.

Giri Prasta berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar serta membawa kerahayuan bagi umat dan masyarakat Bali.

“Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” doa Giri Prasta.

Lebih lanjut, Giri Prasta mengajak umat menjadikan pelaksanaan upacara keagamaan sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat menyama braya, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan swadarma. Menurutnya, semangat gotong-royong dan persatuan umat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Gubernur Koster Hadiri Puncak “Karya Panca Wali Krama” Ulun Danu Batur, Rawat Kesucian Alam Bali

Published

on

By

Gubernur Koster Hadiri Puncak Karya Panca Wali Krama
HADIRI PUNCAK KARYA: Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Bangli, baliilu.com – Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, terasa begitu khidmat dan penuh harmoni di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung dalam puncak karya yang bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat tersebut.

Turut hadir Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta dan Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, bersama para pemangku, pengempon pura, tokoh masyarakat dan umat yang mengikuti persembahyangan.

Bagi Gubernur Wayan Koster, karya di Pura Ulun Danu Batur memiliki makna yang jauh melampaui sebuah ritual keagamaan. Di tempat yang menjadi salah satu pusat spiritual Bali sekaligus kawasan yang erat dengan sumber air dan kehidupan ini, nilai-nilai Sad Kerthi menemukan bentuknya secara nyata.

Wana Kerthi dan Danu Kerthi menjadi bagian penting dari rangkaian karya. Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang harus dimanfaatkan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang mesti dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dikembangkan Wayan Koster, menempatkan keharmonisan alam, manusia dan kehidupan sebagai fondasi pembangunan Bali.

“Kalau kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan kita sendiri”. Semangat inilah yang tercermin dalam pelaksanaan karya, ketika ritual keagamaan sekaligus menjadi pengingat tentang tanggung jawab manusia terhadap alam Bali.

Dua Bulan Menuju Puncak Karya

Rangkaian karya telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 7 Oktober 2026. Berbagai prosesi dilaksanakan secara bertahap sesuai wariga dan dresta Bali.

Salah satu tahapan penting adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026, kemudian dilanjutkan Malasti, Mapekelem ring Danu dan Pakelem ring Gunung pada 18 September.

Tahapan inti berlangsung melalui Tawur Manca Wali Krama pada 21 September di Genah Peyadnyan. Puncaknya, Sabtu (26/9), umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura sebelum dilanjutkan dengan Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan dan Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur.

Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Subakti Penganyar secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober.

Puncak karya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga Bali bukan hanya tentang membangun dan memajukan daerah, tetapi juga tentang merawat kesucian alam, menghormati sumber kehidupan dan memastikan nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca