Denpasar, baliilu.com – Universitas Udayana bekerja sama dengan IDI, INCAAM, dan Persandi menyelenggarakan National Symposium and Workshop on Anti-Aging Medicine (NASWAAM) 2022 yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (11/2/2022).
NASWAAM 2022 ini mengambil tema “Stay Yound and Healthy by Practicing Anti-Aging Medicine” dan dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 11-13 Februari 2022 dengan menghadirkan belasan narasumber. Di antaranya dr. Daeng M. Faqih, S.H., M.H.; dr. Sandy Qlintang; Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And-KSAAM; Dr. dr. Thomas Eko Purwata, SpN(K); Dr. dr. Ketut Widyastuti, SpN(K); Dr. dr. AAA Laksmidewi, SpN(K); Dr. med. dr. Maya Surjadjaja, M.Gizi, Sp.GK, IAAF; dr. Johannes Soedjono, M.Kes., Sp.And; Prof. Dr. dr. A.A. G Budhiartha, Sp.PD-KEMD; Prof. Dr. dr. I Wayan Weta, M.Si., Sp.GK; Dr. dr. Liza Widjaja, M.Biomed (AAM), M.Pharm; Dr. dr. Rita Lahirin, M.Gizi, M.Biomed (AAM); Dr. dr. Dian Andriani, Sp.KK, M.Biomed (AAM), MARS, M.H.; Dr. dr. Teguh Tanuwijaya, M.Biomed (AAM); Prof. Dr. dr. Alex Pangkahila, M.Sc., SpAnd-KSAAM; Dr. dr. Nenden Sobarna, Sp.KK, FINSDV; dan Dr. dr. A.A. GP Wiraguna, SpKK(K).
Prof. Wimpie Pangkahila selaku Ketua Panitia National Symposium and Workshop on Anti-Aging Medicine melaporkan kegiatan ini sudah terselenggara dari tahun 2011, dimana setiap tahunnya berlangsung secara luring dan diikuti oleh peserta dari seluruh Indonesia. Tetapi karena kondisi pandemi Covid-19, sejak tahun 2021 dan tahun 2022 simposium diselenggarakan secara daring. Hadir dalam NASWAAM tahun 2022 ini 300 orang peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Komang Januartha Putra Pinatih. (Foto: Ist)
Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Komang Januartha Putra Pinatih dalam sambutannya menyampaikan Program Pascasarjana, khususnya Program Anti-Aging Medicine merupakan bidang kebanggaan Universitas Udayana. Terkait dengan pengembangannya, Pusat Studi Anti-Aging Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang bekerja sama dengan Indonesian Center for Anti-Aging Medicine (INCAAM), dan Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi (Persandi) memprakarsai kegiatan NASWAAM ini. Pelaksanaan NASWAAM ini merupakan salah satu upaya untuk mempopulerkan Anti-Aging Medicine bagi masyarakat umum maupun akademisi.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dr. Daeng M. Faqih, S.H., M.H. (Foto: Ist)
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia dr. Daeng M. Faqih, S.H., M.H. menyampaikan saat ini kita memasuki era Wisata Kesehatan, dimana masalah Anti-Aging, Wellness, aestetik menjadi naik daun. Oleh karena itu kegiatan seperti NASWAAM ini harus ditumbuhsuburkan, dan NASWAAM ini diharapkan menambah informasi bagi masyarakat kita bahwa di Indonesia tersedia pelayanan Anti-Aging, aestetik, Wellness yang tidak kalah dengan negara-negara lain.
Rektor Unud Prof. I Nyoman Gde Antara. (Foto: Ist)
Sementara Rektor Unud Prof. I Nyoman Gde Antara dalam sambutannya menyampaikan NASWAAM yang dilaksanakan oleh Pusat Studi Anti-Aging Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang bekerja sama dengan Indonesian Center for Anti-Aging Medicine (INCAAM), dan Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi (Persandi) ini merupakan Program Pascasarjana dalam kekhususan Anti-Aging Medicine Universitas Udayana tercatat sebagai yang pertama di dunia, sejak tahun 2007. Untuk itulah nama Universitas Udayana telah tercatat sebagai pemegang Rekor Dunia dari MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) dan juga mendapat sertifikat penghargaan dari American Academy of Anti-Aging Medicine.
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)
Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.
Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.
Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.
“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).
Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).
Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.
“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.
Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.
“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.
Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)
SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.
“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.
“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.
Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.
“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.
Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.
Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.
“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)
Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.
“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).
Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.
Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.
Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.
“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)