Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Wagub Cok Ace Apresiasi Peluncuran Buku Biografi Tjokorda Raka Sukawati

BALIILU Tayang

:

de
PELUNCURAN BUKU: Wagub Bali Cok Ace saat menghadiri peluncuran buku 'Melangkah Tanpa Lelah' Tjokorda Raka Sukawati, penemu teknik konstruksi jalan layang Sosrobahu di Aula Kampus Pasca-Sarjana Universitas Udayana, Rabu (15/12/2021). (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang akrab disapa Cok Ace mengapresiasi peluncuran buku biografi mendiang Tjokorda Raka Sukawati, tokoh penemu teknik kontruksi jalan layang Sosrobahu. Ia berharap, buku yang memuat perjalanan hidup salah satu putra terbaik Bali ini mampu menginspirasi masyarakat, khususnya kalangan generasi muda.

Hal tersebut diungkapkan Wagub Cok Ace saat menghadiri peluncuran buku ‘Melangkah Tanpa Lelah’ Tjokorda Raka Sukawati, penemu teknik konstruksi jalan layang Sosrobahu di Aula Kampus Pasca-Sarjana Universitas Udayana, Rabu (15/12/2021).

Menurut Wagub Cok Ace, mendiang Tjok. Raka Sukawati merupakan salah satu putra terbaik yang tak hanya mengharumkan nama Puri Ubud, namun telah menjadi kebanggaan bangsa. Teknik Sosrobahu yang menjadi temuannya tidak saja dikenal dan digunakan di Tanah Air, namun sudah diterapkan di negara lain seperti Filipina. Guru Besar ISI Denpasar ini menuturkan, secara personal ia sangat dekat dengan sosok mendiang yang sudah dianggapnya sebagai seorang kakak. Bagi Cok Ace, mendiang adalah partner diskusi yang sangat cerdas serta dikenal ulet dan tekun.

“Sebagai sosok seorang kakak, beliau selalu mendorong adik dan keluarga agar terus belajar dan belajar. Karena menurut beliau, hanya dengan belajar kita bisa mengubah nasib,” ucapnya.

Kenangan yang tak bisa dilupakan oleh Wagub Cok Ace adalah manakala ia mengikuti ujian terbuka saat menempuh program doktor. Saat itu, ia sama sekali tak menduga bakal mendapat pertanyaan dari mendiang Tjok. Raka Sukawati yang saat ini hadir sebagai undangan keluarga. “Saya kaget  dan tak menduga beliau bertanya. Yang beliau tanyakan waktu itu adalah teori perubahan dan saya menjawabnya dengan baik. Setelah ujian selesai, beliau merangkul saya, menyampaikan apresiasi dan berpesan kepada saya agar terus belajar. Itu momen yang tak bisa saya lupakan,” ujarnya terharu. Cok Ace menambahkan, mendiang adalah sosok luar biasa yang tak melihat seseorang karena embel-embel ‘tjokorda’, tapi melihat seseorang dari kemauan untuk belajar.

Wagub Cok Ace juga mengenang mendiang sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah. “Jika belum mendapat jawaban, beliau akan terus mencari. Tak hanya berdiskusi dengan orang sekitar, tapi juga berusaha mencari jawaban dari binatang dan pohon. Itu menurut saya luar biasa,” tambahnya.

Kegigihan dan pantang menyerah untuk mencari tahu itulah yang mengantarkan mendiang pada penemuan teknik Sosrobahu. Menurut Cok Ace, temuan itu bermula dari aktivitas Tjok. Raka Sukawati mengotak-ngatik sebuah kendaraan dan saat mendongkrak, pada titik tertentu tiba-tiba kendaraan itu berputar. “Bagi kita itu mungkin hal yang biasa, tapi tidak bagi mendiang yang menjadi penasaran dan terus mencari jawaban. Beliau terus bertanya, kenapa bisa berputar. Beliau membayangkan, jika jawabannya ditemukan, maka akan menjadi sebuah teori yang bisa diaplikasikan pada pembuatan jalan dan akan memberi banyak manfaat,” tuturnya.

Yang menarik, ujar Cok Ace, jawaban itu justru mendiang temukan pada saat merenung di sebuah pura. Diceritakan olah Wagub Cok Ace, saat itu ada piodalan di sebuah pura di Ubud dan ia yang memegang kunci gedong tempat menyimpan pengadeg Ida Betara. Entah kenapa, kunci itu tertinggal di Denpasar hingga membuat prosesi upacara agak terhambat karena harus menunggu kunci gedong. “Karena beliau adalah tak bisa menyia-nyiakan waktu, selama menunggu itulah rupanya beliau merenung, terus berpikir dan berhitung tentang tekanan hidrolik. Beberapa hari kemudian, beliau mengatakan kepada saya bahwa putaran itu terjadi pada tekanan hidrolik 73. Angka itu kemudian diuji di laboratorium hingga akhirnya ditemukanlah teknik Sosrobahu. Itulah beliau yang saya kenal, tak akan berhenti sebelum mendapat jawaban yang pas,” urainya.

Berdasarkan apa yang ia ketahui secara langsung, menurutnya, buku ini memberi gambaran yang riil tentang sosok mendiang Prof. Raka Sukawati yang layak menjadi panutan dan menjadi inspirasi.

Sementara itu, Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud yang juga Koordinator Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana menilai, mendiang Tjokorda Raka Sukawati adalah sosok yang senang belajar. Menempuh pendidikan S1 di ITB dan S3 di UGM menjadikan Tjokorda Raka Sukawati layak menjadi inspirasi generasi penerus untuk terus mengisi diri dengan ilmu pengetahuan, bekerja keras serta mengabdi tanpa akhir. “Tjokorda Raka Sukawati adalah seorang pemberani yang memegang teguh prinsip, tidak takut dengan perdebatan, dan berani menyampaikan pemikiran dan gagasannya secara terbuka,” ujar Ari Dwipayana.

Pandangan tentang sosok Tjokorda Raka Sukawati juga disampaikan langsung oleh Tjokorda Gde Abinanda Sukawati, salah satu putra mendiang. Pria yang dikenal sebagai desainer dan akrab disapa Cok Abi ini menyebut mendiang sebagai sosok ayah yang sangat demokratis. Meski beberapa kali ia tak menuruti keinginan sang ayah terkait pilihan dalam pendidikan, namun Tjokorda Raka Sukawati tetap mendukung penuh sang anak. Hingga suatu ketika, mendiang sangat bangga dengan sang anak yang dikenal sebagai salah satu desainer kenamaan Bali. “Saya selalu ingat pesan yang beliau sampaikan, bahwa apa pun ilmu pengetahuan yang kamu pilih untuk masa depanmu, ingat untuk selalu fokus, disiplin dalam hal apa pun itu, senantiasa berusaha memberi yang terbaik dan selalu mencintai apapun profesimu,” pungkasnya.

Acara peluncuran buku ditandai dengan penyerahan buku oleh Cok Abi kepada Wagub Cok Ace, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho dan sejumlah tamu undangan. Peluncuran buku juga diisi dengan diskusi yang menampilkan sejumlah narasumber antara lain Popo Danes dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Udayana Ir. I Ketut Sudarsana. Peluncuran buku dihadiri oleh keluarga besar Puri Agung Ubud. (gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NEWS

UDG XXXIII Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

Published

on

By

Persiapan UDG XXXIII Provinsi Bali 2026
Tim Kurator UDG XXXIII, Prof. Dr. I Made Surada, M.A. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Pelaksanaan Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Mengusung tema “Dharmagita Atmanam Dharma”, ajang seni dan sastra keagamaan Hindu ini akan berlangsung pada 11–16 September 2026 dan dipusatkan di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali.

UDG dijadwalkan dibuka oleh Gubernur Bali Wayan Koster pada Jumat, 11 September 2026. Selain menjadi ajang kompetisi, UDG XXXIII juga menjadi tahapan seleksi untuk menjaring duta terbaik Bali yang akan berlaga pada UDG tingkat nasional tahun 2027 di Sulawesi Tengah.

Salah satu anggota Tim Kurator UDG XXXIII, Prof. Dr. I Made Surada, M.A., mengatakan bahwa tahun ini terdapat 11 bidang lomba dengan 37 kategori. Bidang yang dilombakan meliputi membaca sloka, palawakya, kakawin, kidung, nyanyian keagamaan Hindu, gaguritan, dharmawacana bahasa Bali, dharmawacana bahasa Inggris, menghafal sloka, dharmawiwada, dan dharmacarita.

“UDG tahun 2026 ini untuk mencari juara I yang nantinya akan mewakili Provinsi Bali di tingkat nasional yang akan digelar tahun 2027. Sebanyak 11 bidang lomba ini disesuaikan dengan UDG di tingkat nasional yang akan diadakan di Sulawesi Tengah,” kata Prof. Surada di sela Rapat Pleno di Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Selasa (8/9/2026).

Guru Besar UHN I Gusti Bagus Sugriwa ini menambahkan, persiapan peserta dari sembilan kabupaten/kota di Bali telah dilakukan jauh hari. Pembinaan dilakukan oleh Widyasaba sejak Juli lalu, termasuk untuk mempersiapkan peserta pada 11 bidang yang dilombakan.

Kesiapan tersebut juga terlihat dalam technical meeting yang diikuti oleh Dinas Kebudayaan kabupaten/kota, Widyasaba, pembina, serta koordinator juri. Masing-masing daerah telah menyiapkan duta yang akan tampil membawa nama daerahnya.

“Widyasaba telah melakukan pembinaan sejak Juli lalu untuk 11 bidang lomba di sembilan kabupaten/kota,” tegasnya.

Bahasa Inggris Jadi Salah Satu Perhatian

UDG Bali tahun ini juga memberikan ruang bagi dharmawacana bahasa Inggris. Menurut Prof. Surada, kehadiran kategori tersebut menjadi penting karena Bali merupakan destinasi pariwisata dunia.

Penyampaian nilai-nilai adat, budaya, dan agama Hindu, kata dia, tidak hanya membutuhkan bahasa Bali dan bahasa Indonesia. Kemampuan menggunakan bahasa Inggris juga diperlukan agar pesan-pesan keagamaan dan kebudayaan Hindu Bali dapat disampaikan kepada masyarakat internasional.

“Dharmawacana bahasa Inggris juga untuk mendapatkan juara yang akan mewakili Bali. Di tingkat nasional juga ada dharmawacana bahasa Inggris dan bahasa Indonesia,” paparnya.

Sementara itu, untuk dharmawacana bahasa Indonesia, Bali memilih tidak melaksanakannya di tingkat provinsi. Bali tetap menggelar dharmawacana bahasa Bali sebagai bagian dari program penguatan dan pelestarian bahasa Bali.

Peserta yang menjadi juara nantinya akan mendapatkan pembinaan lanjutan sebelum mengikuti kompetisi nasional. Materi dharmawacana bahasa Bali akan disesuaikan dan disampaikan dalam bahasa Indonesia saat berlaga di tingkat nasional.

“Bagi peserta yang menang nantinya, materi dharmawacana bahasa Bali tersebut harus diubah ke dalam bahasa Indonesia ketika mengikuti tingkat nasional. Oleh karena itu, akan ada pembinaan ulang,” jelasnya.

Persoalan Peserta dan Pendanaan

Di tengah persiapan tersebut, Prof. Surada menyoroti belum meratanya jumlah peserta yang dikirim oleh masing-masing kabupaten/kota. Tidak semua daerah mampu mengirimkan peserta secara lengkap pada seluruh bidang lomba. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan pendanaan.

Kabupaten Badung menjadi satu-satunya daerah yang mengirimkan peserta secara lengkap untuk seluruh 11 bidang lomba. Sementara itu, beberapa daerah lainnya hanya mengirimkan peserta pada sebagian bidang.

“Kabupaten yang mengirimkan peserta secara lengkap untuk seluruh 11 bidang hanya Kabupaten Badung. Namun, daerah yang paling minim mengirimkan peserta adalah Kabupaten Bangli dan Buleleng yang hanya mengirim tiga atau empat bidang saja,” imbuhnya.

Menurut Prof. Surada, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah. Ia berharap pelaksanaan UDG ke depan dapat dilakukan secara lebih serempak di seluruh kabupaten/kota, sebagaimana pelaksanaan Bulan Bahasa Bali.

“Kami rasa selama ini belum serempak sehingga jumlah peserta yang dikirimkan setiap daerah bervariasi. Daerah yang memiliki kemampuan pendanaan lebih besar, seperti Badung, mengirimkan peserta secara lengkap. Bahkan, sebelumnya mengadakan utsawa di tingkat kecamatan,” ujarnya.

Ia menilai UDG memiliki posisi penting dalam pembinaan generasi Hindu. Sebab, para peserta terbaik nantinya tidak hanya bertanding untuk daerahnya, tetapi juga membawa nama Bali di tingkat nasional.

“Padahal, jika dibandingkan dengan Bulan Bahasa Bali, UDG juga penting karena nantinya para peserta akan bertanding di tingkat nasional. Dalam ajang tersebut, mereka akan membawa nama Bali yang selama ini berturut-turut menjadi juara umum UDG tingkat nasional,” katanya.

Bali Dituntut Pertahankan Tradisi Juara

Perkembangan UDG di sejumlah daerah menunjukkan semakin besarnya perhatian terhadap ajang tersebut. Prof. Surada menyebut beberapa provinsi kini mulai menggelar UDG secara mandiri untuk menjaring peserta terbaik sebelum tampil di tingkat nasional.

Lampung, Sulawesi Tengah, hingga Jayapura disebut telah melakukan pembinaan dan seleksi di daerah masing-masing dengan dukungan pemerintah daerah.

“Lampung bahkan juga melaksanakan UDG di daerahnya untuk menjaring juara yang akan dikirim ke tingkat nasional. Bukan comot-comot seperti sebelumnya. Demikian pula Sulawesi Tengah dan Jayapura yang juga melaksanakan UDG. Mereka didanai daerahnya masing-masing,” ungkapnya.

Pada UDG tingkat nasional mendatang, sebanyak 38 provinsi diproyeksikan mengikuti ajang tersebut. Kondisi ini membuat persaingan semakin terbuka dan menuntut Bali mempersiapkan duta-dutanya secara lebih serius.

Bali selama ini menjadi salah satu barometer pelaksanaan UDG sekaligus dikenal memiliki tradisi prestasi yang kuat di tingkat nasional. Karena itu, UDG XXXIII tidak hanya menjadi panggung untuk mencari juara, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi Bali sebagai juara umum di tingkat nasional.

Dengan pembinaan yang telah berjalan sejak Juli, para peserta kini bersiap menuju panggung UDG XXXIII. Enam hari pelaksanaan di Art Center akan menjadi ruang pembuktian sekaligus penentu siapa yang berhak menyandang predikat terbaik dan melangkah membawa nama Bali ke UDG tingkat nasional tahun 2027. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Satpol PP Denpasar Tertibkan Ratusan Baliho dan Spanduk di Fasilitas Umum

Published

on

By

Satpol PP Denpasar Tertibkan Baliho dan Spanduk
PENERTIBAN: Satpol PP Kota Denpasar bersama Regu Quick Response saat melaksanakan penertiban berbagai media promosi yang terpasang di fasilitas umum, Rabu (9/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar melalui Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat (KUKM) bersama Regu Quick Response kembali melaksanakan penertiban berbagai media promosi yang terpasang di fasilitas umum, Rabu (9/9).

Penertiban menyasar sejumlah ruas jalan utama di Kota Denpasar, di antaranya Jalan Mahendradatta, Jalan Teuku Umar, dan Jalan P.B. Sudirman. Petugas menertibkan baliho, pamflet, banner, dan spanduk yang terpasang pada fasilitas umum dan dinilai mengganggu ketertiban serta estetika ruang publik.

Dari kegiatan tersebut, petugas berhasil menertibkan sebanyak 131 media promosi, terdiri atas 7 baliho, 37 pamflet, 56 banner, dan 31 spanduk.

Selain menertibkan media promosi, Satpol PP Denpasar juga menyasar kawasan sepanjang Pasar Phula Kerti Sanglah. Penertiban dilakukan terhadap aktivitas pedagang yang berjualan dengan memanfaatkan area trotoar.

Penertiban pedagang di atas trotoar dilakukan untuk mengembalikan fungsi fasilitas umum sebagaimana mestinya, khususnya sebagai ruang bagi pejalan kaki. Aktivitas perdagangan yang menggunakan trotoar dinilai dapat mengganggu kenyamanan dan kelancaran mobilitas masyarakat.

Kabid KUKM Satpol PP Kota Denpasar, Yudie Asmara, mengatakan penertiban tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga ketertiban umum sekaligus menciptakan ruang publik yang aman, tertib, dan nyaman bagi masyarakat.

“Kegiatan penertiban ini merupakan upaya menjaga ketertiban umum dan memastikan fasilitas umum dapat digunakan sesuai dengan fungsinya. Kami juga mengimbau masyarakat maupun pelaku usaha agar tidak memasang media promosi secara sembarangan dan tidak menggunakan trotoar sebagai tempat berjualan,” ujar Yudie.

Ia menambahkan, penertiban akan dilakukan secara berkala di sejumlah titik di wilayah Kota Denpasar. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketertiban, kebersihan, dan kenyamanan ruang publik.

Satpol PP Denpasar juga mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk mematuhi ketentuan yang berlaku dalam pemasangan media promosi maupun pemanfaatan fasilitas umum, sehingga wajah Kota Denpasar tetap tertib dan nyaman. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Sekda Eddy Mulia Buka YOUNITE Festival Volume 1, Dukung Ruang Generasi Muda Bertumbuh dan Berkarya

Published

on

By

Sekda Eddy Mulia Buka YOUNITE Festival Volume 1
BUKA YOUNITE FESTIVAL: Sekretaris Daerah Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulia membuka secara resmi YOUNITE Festival Volume 1 bertempat di Gedung DNA Lumintang, pada Rabu (9/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Sekretaris Daerah Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulia membuka secara resmi YOUNITE Festival Volume 1 bertempat di Gedung DNA Lumintang, pada Rabu (9/9).

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Ketua TP. PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Swandewi Eddy Mulia, beserta tamu undangan lainnya.

Sekda Eddy Mulia menyampaikan disela-sela kegiatan, bahwa kegiatan ini bisa digunakan sebagai wadah bagi generasi muda Kota Denpasar untuk terus berkembang dan bertumbuh mengembangkan potensi dirinya.

“Saya percaya bahwa generasi muda Denpasar memiliki kreativitas, energi, dan potensi yang luar biasa. Potensi tersebut harus kita arahkan menjadi kekuatan untuk membangun Denpasar yang semakin maju, inklusif, kreatif, dan berkelanjutan melalui YOUNITE FEST Volume 1 ini,” ungkap Eddy Mulia.

Pada kesempatan yang sama, Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara menuturkan bahwa menjadi remaja bukan hanya tentang menikmati masa muda, tetapi menjadi masa untuk mempersiapkan masa depan.

“Saya berharap semakin banyak ide, kreativitas dan kolaborasi serta gerakan yang positif dari anak-anak muda Kota Denpasar. Jadilah generasi yang berani bermimpi, berani mencoba, dan berani mengambil peran,” tutur Sagung Antari.

Lebih lanjut dikatakannya, Pemerintah Kota Denpasar terus berkomitmen memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk tumbuh, berkarya, berkreasi, menyampaikan gagasan, serta mengambil peran dalam kehidupan sosial dan pembangunan kota. (eka/bi).

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca