Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri ‘’Karya Ngenteg Linggih’’ di Pura Gede Batur Sari Desa Adat Tonja

BALIILU Tayang

:

Walikota Jaya Negara
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah Madya di Pura Gede Batur Sari Desa Adat Tonja, bertepatan dengan rahina Redite Wage Wayang, Minggu (10/8/2025). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah Madya di Pura Gede Batur Sari Desa Adat Tonja, bertepatan dengan rahina Redite Wage Wayang, Minggu (10/8/2025). Dalam kesempatan tersebut Walikota Jaya Negara turut Ngelingga Tangan atau menandatangani Prasasti Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah Madya di Pura Gede Batur Sari Desa Adat Tonja yang beberapa bagian pura baru selesai dipugar, serta ngelinggihang Ida Betara sesuhunan ring bale tajuk dan ngaturang punia.

Tampak hadir dalam kesempatan ini, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, Ketua Komisi III DPRD Kota Denpasar, I Wayan Suadi Putra, Penglingsir Puri Tabanan, Ida Cokorda Anglurah Tabanan, Penglingsir Puri Agung Denpasar, Anak Agung Ngurah Agung Wira Bima Wikrama, Pelingsir Puri Agung Jrokuta, IGN. Jaka Pratidnya, Ketua Pasemetonan Agung Nararya Dalem Benculuk Tegeh Kori yang diwakili Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna yang juga selaku Anggota DPD RI, Kabag Kesra Kota Denpasar, Kabag Kesra Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Surya Antara beserta tokoh agama dan masyarakat setempat.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara di sela upacara menjelaskan, pelaksanaan upacara keagamaan di Pura Gede Batur Sari Desa Adat Tonja ini adalah salah satu bentuk meningkatkan sradha bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

“Apalagi di komunitas masyarakat seperti pesemetonan dan desa adat perlu diapresiasi  bagaimana membangun sradha bhakti masyarakat melalui upakara yang dilaksanakan,” ujarnya.

Dikatakannya, mengenai pelaksanaannya, Pemkot Denpasar terus mengedepankan pemberdayaannya yang tidak terlepas dari sektor keagamaan. Namun demikian, yang juga patut diapresiasi adalah muncul kemandirian masyarakat untuk memunculkan kesadaran. sehingga manfaat yang diperoleh dalam penyelenggaraan upacara keagamaan yang dikenal dengan istilah Tri Guna Karya serta Satwika Karya.

Jaya Negara juga mengharapkan setelah dilaksanakannya upacara Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah Madya di Pura Gede Batur Sari Desa Adat Tonja ini, seluruh umat terutama warga dan pengempon dapat terus meningkatkatkan rasa persaudaraan dan persatuan antara sesama umat.

Baca Juga  Walikota Jaya Negara Buka Festival Beraban 2024 "Saguna Prawerthi"

“Tentu pelaksanaan yadnya ini sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Kami berharap ke depan upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif yang dapat memancarkan hal positif bagi umat serta menetralisir hal- hal negatif dilingkungan desa setempat,” katanya.

Sementara Panitia Karya, I Made Oka Bagiartha mengatakan, Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, miwah Caru Balik Sumpah Madya di Pura Gede Batur Sari Desa Adat Tonja dilaksanakan setelah melaksanakan “Ngodakin Pratima Due serta memperbaiki perahyangan semua dan selesainya pemugaran beberapa bangunan di Pura ini yang meliputi, Bangunan Bale Gong, Tembok Penyengker sisi Kaler, dan Tajuk Ratu Gede ring Pura Gede Batur Sari.

Dimana karya ini sudah dimulai dari tanggal 22 Juli 2025 lalu dan hari ini tanggal 10 Agustus 2025 dilaksanakan upacara mecaru, melaspas serta mendem pedagingan yang di-puput oleh Ida Pedanda Gde Made Karang dari Griya Gede Karang Tampakgangsul dan Ida Pedanda Gede Made Dharma Kerthi dari Griya Budha Saraswati. Dan puncak karya pada tanggal 22 Agustus 2025 nanti.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Walikota Denpasar karena sudah hadir menyaksikan pemelaspasan dan meresmikan karya ini dengan Ngelingga Tangan atau menandatangani Prasasti Karya dan mepunia kepada kami. Semoga karya ini labda karya dan memargi antar,” ungkapnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Desa Adat Sesetan Gelar “Karya Atma Wedana“ dan “Mapandes Kinambulan“

Walikota Denpasar IGN Jaya Negara Ikut “Ngayah Nyangging“

Loading

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Ngayah Nyangging di Karya Sesetan
NGAYAH NYANGGING: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara ngayah nyangging saat menghadiri “Karya Atma Wedana” dan “Mapandes Kinambulan” di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Rabu (9/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Desa Adat Sesetan kembali menggelar Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan secara massal. Pelaksanaan karya tersebut berlangsung di Pemelisan Desa Adat Sesetan, Rabu (9/9), dan diikuti ratusan krama, baik dari Desa Adat Sesetan maupun dari luar wilayah.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, turut hadir sekaligus ngayah nyangging dalam pelaksanaan upacara mapandes atau matatah massal tersebut.

Sejak pagi, ratusan warga tampak memadati areal bale peyadnyan untuk mengikuti rangkaian prosesi upacara matatah kinambulan. Mapandes massal kali ini diikuti sebanyak 138 peserta dengan melibatkan 21 orang sangging yang bertugas melaksanakan prosesi pengasahan gigi.

Selain Walikota Denpasar, pelaksanaan karya tersebut juga dihadiri Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa dan Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara, Kabag Kesra Kota Denpasar I Putu Agus Jayadi, Camat Denpasar Selatan Kadek Hermanto dan tokoh masyarakat serta krama Desa Adat Sesetan.

Di sela-sela kegiatan, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan bahwa ritual potong gigi atau mapandes merupakan salah satu rangkaian upacara Manusa Yadnya yang penting dilaksanakan bagi umat Hindu.

Mapandes wajib dilakukan ketika anak menginjak usia remaja atau sudah dewasa. Ritual ini bertujuan untuk mengendalikan enam sifat buruk manusia yang menurut agama Hindu dikenal dengan istilah Sad Ripu atau enam musuh dalam diri manusia,” ujar Jaya Negara.

Ia menjelaskan, Sad Ripu terdiri atas kama, yakni sifat penuh nafsu indria; lobha, sifat loba dan serakah; krodha, sifat kejam dan pemarah; mada, sifat mabuk atau kemabukan; matsarya, sifat dengki dan iri hati; serta moha, sifat kebingungan atau kesulitan dalam menentukan sesuatu.

Baca Juga  Kota Denpasar Raih Penghargaan Mandaya Awards 2025 dari Kementerian Koodinator Pemberdayaan Masyarakat

Menurutnya, pelaksanaan upacara mapandes tidak hanya menjadi bagian dari kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki makna penting dalam membentuk kehidupan manusia agar mampu mengendalikan diri dan menjalani kehidupan secara lebih baik.

Lebih jauh, Walikota Jaya Negara juga menyampaikan, sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya tersebut, Pemerintah Kota Denpasar memberikan bantuan dana hibah sebesar Rp 300 juta.

Sementara itu, Bendesa Adat Sesetan, I Made Sudarma, menyampaikan bahwa Desa Adat Sesetan telah memiliki program matatah atau mapandes massal yang dilaksanakan secara berkala.

“Program ini sudah ada sejak lama dan dirancang setiap dua tahun sekali sebagai wujud sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan untuk membantu sesama umat di Desa Adat Sesetan,” ungkapnya.

Menurutnya, pelaksanaan matatah massal tersebut bertujuan membantu dan meringankan beban masyarakat, khususnya dalam pembiayaan pelaksanaan yadnya. Dengan dilaksanakan secara bersama-sama, masyarakat dapat menekan pengeluaran dalam melaksanakan kewajiban keagamaan.

Menariknya, pelaksanaan Karya Atma Wedana dan Mapandes Kinambulan ini tidak hanya diperuntukkan bagi warga Desa Adat Sesetan. Masyarakat dari luar Desa Adat Sesetan juga diberikan kesempatan untuk mengikuti rangkaian karya tersebut.

Untuk pelaksanaan mapandes, krama Desa Adat Sesetan dikenakan biaya sebesar Rp 500 ribu per peserta, sedangkan peserta dari luar Desa Adat Sesetan dikenakan biaya Rp 750 ribu.

Sedangkan untuk pelaksanaan Atma Wedana atau memukur, krama Desa Adat Sesetan dikenakan biaya sebesar Rp 1 juta. Sedangkan peserta dari luar Desa Adat Sesetan dikenakan biaya sebesar Rp 3,5 juta.

“Ini merupakan bentuk upaya kami untuk membantu meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Kami memberikan kesempatan tidak hanya kepada warga Sesetan, tetapi juga masyarakat dari luar Desa Adat Sesetan yang ingin mengikuti karya ini,” jelas I Made Sudarma.

Baca Juga  Walikota Jaya Negara Serahkan Bantuan Rumah Layak Huni di Desa Peguyangan Kaja

Selain matatah massal, kata Made Sudarma, rangkaian Karya Atma Wedana kali ini juga diikuti sebanyak 142 sawa. Lebih lanjut, pihaknya mengemukakan, pelaksanaan mapandes massal ke depan akan terus dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari program Desa Adat Sesetan.

Mapandes massal kali ini diikuti 138 orang peserta dari warga Desa Adat Sesetan dengan melibatkan 21 orang sangging. Upacara ini nantinya akan terus kami adakan secara rutin ke depannya,” katanya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Denpasar, khususnya Walikota Denpasar Jaya Negara, atas kehadiran dan dukungan berupa stimulan dalam pelaksanaan karya tersebut.

“Semoga upacara ini bisa terus kami laksanakan untuk masyarakat ke depannya,” tandasnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

“Karya Agung“ 10 Tahunan di Kintamani, Bupati Adi Arnawa Ajak Jaga Danau Batur Sebagai Jantung Air Bali

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa Hadiri Karya Tawur Agung di Danau Batur
HADIRI KARYA: Bupati Wayan Adi Arnawa saat menghadiri “Karya Tawur Agung Manca Wali Krama“ di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, Selasa (8/9). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Upacara keagamaan Danu Kertih serangkaian Karya Tawur Agung Manca Wali Krama digelar megah di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, Selasa (8/9). Karya di salah satu Pura Tri Kahyangan Jagat yang diselenggarakan setiap sepuluh tahun sekali ini dilaksanakan sebagai momentum penting untuk mendoakan kerahayuan, keselamatan, serta menjaga keharmonisan alam dan spiritual Bali.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa hadir mendampingi Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta. Turut serta Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, dan Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, yang bersama-sama mengikuti prosesi sakral mendak tirta amertha dan mulang pekelem di tengah Danau Batur.

Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, menyampaikan apresiasi mendalam kepada krama Desa Adat Songan atas pelaksanaan karya agung ini. Ia menegaskan bahwa ritual tersebut bukan hanya milik warga setempat, melainkan demi keharmonisan seluruh jagat Bali.

“Puncak Karya Agung akan jatuh pada Saniscara Umanis Bala, 26 September 2026, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Astungkara melalui pelaksanaan karya ini, Pulau Bali senantiasa gemah ripah loh jinawi,” ujarnya.

Senada dengan Wagub Bali, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa turut memuji semangat gotong-royong warga dalam menjaga kelestarian tradisi spiritual dan alam Danau Batur. Baginya, karya agung ini menjadi pengingat penting akan keseimbangan ekosistem (Bhuana Agung) dan spiritualitas (Bhuana Alit).

“Upacara Danu Kertih ini bukan sekadar ritual keagamaan rutin, melainkan wujud nyata penghormatan kita terhadap alam, khususnya Danau Batur sebagai jantung sumber air di Pulau Bali. Harapan kita bersama, melalui kesucian yadnya Manca Wali Krama ini, Bali senantiasa dianugerahi kedamaian, kerahayuan, serta kelimpahan sumber daya alam yang membawa berkah bagi seluruh masyarakat,” ungkap Adi Arnawa.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Laksanakan "Bhakti Penyineban Pujawali" Pura Agung Lokanatha

Jalannya karya keagamaan ini di-puput oleh Yajamana Karya, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pemayun bersama Ida Istri Nata Nawa Wangsa dari Griya Kedhatuan Kawista, Banjar Munduk Ngandang, Desa Belatungan, Pupuan, Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Sembahyang Rahina Tumpek Uye di Pura Luhur Batukau, Bupati Sanjaya Ajak Masyarakat Jaga Keharmonisan dengan Alam

Published

on

By

Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati I Made Dirga dan Gubernur Bali Wayan Koster sembahyang Tumpek Uye di Pura Luhur Batukau
PERSEMBAHYANGAN BERSAMA: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, beserta jajaran memaknai perayaan hari suci Tumpek Uye melalui persembahyangan bersama di Pura Luhur Batukaru, Sabtu (5/9). Turut hadir Gubernur Bali Wayan Koster. (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Dalam rangka memperingati Rahina Tumpek Uye, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, beserta jajaran memaknai perayaan hari suci yang menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus menjaga keharmonisan dengan alam dan seluruh makhluk hidup, khususnya satwa, melalui persembahyangan bersama di Pura Luhur Batukaru, Sabtu (5/9). Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Sekda Provinsi Bali beserta Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemprov Bali.

Rahina Tumpek Uye atau yang dikenal dengan Tumpek Kandang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci ini menjadi momentum bagi umat Hindu untuk memuliakan satwa sebagai bagian dari kehidupan sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas manfaat dan keberadaan seluruh makhluk hidup. Nilai tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan satwa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan memberi makan ikan serta pelepasan burung, yakni burung crucuk, titiran, dan kukur, sebagai bentuk kepedulian terhadap keberadaan dan kelestarian ekosistem dan satwa. Kemudian persembahyangan bersama dilaksanakan di Pura Beji dan di utama mandala Pura Luhur Batukau sebagai wujud syukur dan penghayatan terhadap makna Rahina Tumpek Uye.

Sanjaya menyampaikan bahwa peringatan Rahina Tumpek Uye hendaknya tidak hanya dimaknai melalui pelaksanaan upacara, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata untuk menjaga alam serta seluruh makhluk hidup. Menurutnya, keharmonisan antara manusia dan alam merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Lebih lanjut, Bupati Sanjaya mengapresiasi kebersamaan Gubernur Koster dan jajaran Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam memperingati Rahina Tumpek Uye. Pihaknya berharap semangat untuk menjaga alam dan satwa dapat terus ditumbuhkan serta diwujudkan melalui tindakan nyata, sehingga nilai-nilai keharmonisan dan keseimbangan yang terkandung dalam Rahina Tumpek Uye dapat terus terjaga dalam kehidupan masyarakat. (gs/bi)

Baca Juga  Antisipasi Kelangkaan di Masa Mendatang, Walikota Jaya Negara Kembali Usulkan Penambahan Kuota Gas LPG 3 Kg

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca