Nusa Lembongan, Klungkung, baliilu.com – Perkembangan pesat sektor pariwisata di Nusa Penida khususnya di Nusa Lembongan, membuat petani rumput laut sempat menghentikan usahanya yang sudah ditekuninya sejak paruh 80-an. Namun Covid-19 pada akhir 2019 telah menjadikan warga Lembongan kembali melaut membudidayakan rumput laut. Dengan luas budi daya saat ini 38,4 hektar dari 308 hektar potensi yang ada, Kampung Budi Daya Rumput Laut Nusa Penida Klungkung ini menampung sedikitnya 506 petani rumput laut.
Pande Nyoman Rajin, salah seorang anggota Kampung Budi Daya Rumput Laut Nusa Penida pada Jumat, 13 September 2024 mengatakan dirinya menekuni sebagai petani rumput laut sejak tahun 1984. Namun sempat berhenti pada tahun 2016 dan sejak Covid-19 ia kembali membudidayakan rumput laut dengan jenis rumput laut yang berbeda dari sebelumnya. Sekarang petani Lembongan mengembangkan jenis Eucheuma Cottoniistrain Saccul dan Eucheuma Spinosum. Hasil rumput laut biasanya dijual ke pengepul untuk selanjutnya dikirim ke Surabaya atau ke Jakarta. Rajin mengaku harga jual basah sekitar 14 ribuan dan harga kering di kisaran 36-37 ribu.
Di tengah semangat petani membudidayakan rumput laut, Rajin mengaku kini terkendala oleh penyakit seperti busuk batang, pertumbuhan lambat karena batang retak yang mengakibatkan mudah putus oleh hantaman gelombang.
Oleh karena itu, Rajin bersama petani rumput laut sangat berharap mendapatkan pembinaan baik untuk mengatasi soal pasar, masalah penyakit apakah perlu ganti bibit karena ia tidak setuju penggunaan obat-obatan atau pupuk. ‘’Apa penyebabnya itu, itu yang perlu mendapatkan pembinaan,‘‘ ucap Rajin kepada awak media yang mengikuti acara ’’Ngeraos Sareng Media dan Capacity Building bersama KPw BI Bali’’ di Nusa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung, Kamis/Jumat, 12-13 September 2024.
Rajin bersama kelompok budi daya rumput laut Nusa Lembongan mengaku sempat mendapatkan pembinaan dari dosen dari sebuah universitas di Denpasar dan mendapat bantuan dari Bank BRI.
Petani rumput laut Made Soka (80). (Foto: gs)
Lain lagi yang dikatakan Made Soka (80), petani ruput laut yang tetap bertahan membudidayakan rumput laut sejak 30 tahun silam. Soka mengaku bertani rumput laut cukup membantu kebutuhan keluarga baik untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak dan cucu. Selain tetap menjadi petani rumput laut, anak-anaknya juga ikut membuka usaha di sektor pariwisata seperti buka artshop. Ia mengungkapkan hasil dari budi daya rumput laut biasanya dijual ke pengepul yang dihargai di kisaran 20 ribu per kg dan sempat menembus angka 30 ribuan per kg kering.
Sementara itu sehari sebelumnya saat media gathering, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II 2024 tumbuh 5,36% (yoy), lebih tinggi dibandingkan nasional yang tumbuh sebesar 5,05% (yoy) dan menempati peringkat 7 (tujuh) dari 34 Provinsi di Indonesia.
Erwin menyebutkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Bali, ada tiga hal penting yang harus diperkuat yakni perlu memperkuat quality tourism, sektor pertanian dan digitalisasi.
’’Sektor pariwisata sekitar 45% memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Bali, jadi ke depan, kami melihat bahwa sektor pariwisata ini harus terus diperkuat,’’ ujarnya.
Erwin menyebutkan ada 4 hal penting terkait quality tourism yakni pertama, bagaimana kita terus menerapkan sustainable practice, pembangunan wisata harus menjaga keseimbangan lingkungan, infrastrukturnya harus go green dan harus tetap melindungi kultur budaya lokal dengan mengedepankan keseimbangan antara alam dan budayanya. Kedua harus melakukan empower komunitas lokal dengan membuka lapangan pekerjaan dan menciptakan benefit bagi masyarakat lokal. Selanjutnya quality of service, dan yang sangat penting adalah regulasi dari pemerintah yang memang mendukung terciptanya quality tourism.
Kemudian memperkuat base pertumbuhan ekonomi Bali, dengan mendorong sektor pertaniannya harus maju. Bali sebagai lumbung pangan harus kembali lagi sebagai lumbung pangan dan Bali ini sangat menjaga keseimbangan antara alam budaya dan juga manusianya.
’’Saya pikir keseimbangan pertumbuhan ekonomi Bali ini perlu dijaga yaitu dengan mendiversifikasikan pertumbuhan ekonomi Bali kepada sektor-sektor pertanian yang berpotensi besar menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi,’’ ucapnya.
Seperti di Nusa Lembongan ini punya potensi besar terkait dengan rumput laut. Erwin merasa ini bisa digarap bersama. ’’Jadi bagaimana sektor pertanian itu bisa kita kembangkan dan sektor pertanian juga bisa menjadi pendorong untuk sektor pariwisata. Saya rasa ini sangat penting sekali,’’ ucapnya menegaskan.
Kunci ketiga memperkuat ekonomi di Bali adalah digitalisasi yang harus terus dikembangkan. Baik digitilisasi dari sisi pemerintah yang tujuannya membuat transparansi, juga digitalisasi di sisi retail, salah satunya adalah melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). (gs/bi)