Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Gubernur Koster Berpidato Pemuliaan Sumber Air Melalui Upakara Tumpek Uye di ‘’Kick-Off Meeting 10th World Water Forum’’

Menteri PUPR Sebut Orang Bali Sangat Menghargai Air Secara Turun-temurun

Loading

BALIILU Tayang

:

koster
Gubernur Bali Wayan Koster saat mendapatkan kehormatan berpidato dalam acara Kick-Off Meeting 10th World Water Forum di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta pada, Rabu (Buda Paing, Krulut) 15 Februari 2023. (Foto: ist)

Jakarta, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster mendapatkan kehormatan berpidato dalam acara Kick-Off Meeting 10th World Water Forum dengan menegaskan masyarakat Bali di dalam melakukan penyucian dan pemuliaan sumber air secara turun-temurun melaksanakan Upakara Tumpek Uye secara Niskala/Religi dan Sakala untuk kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan manusia.

Pidato pemuliaan sumber air melalui Upakara Tumpek Uye tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster dihadapan Presiden World Water Council, Mr. Luic Fauchon beserta para anggota Board of Governor Water Water Council, Menteri PUPR RI sekaligus Wakil Ketua Panitia Nasional Penyelenggaraan (NOC) WWF ke-10, Basuki Hadimuljono, Menteri Pariwisata dan Kreatif RI, Sandiaga Uno, Minister of Water and Sanitation Senegal, Serigne Mbaye Thiam, President of the Republic of Tajikistan, Sultan Rahimzoda, Ministry of Equipment and Water Marroco, Ziyad Abdeslam, Honorary President, World Water Council, Benedito Braga, para Duta Besar di Indonesia, PJ Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono dan dihadapan 1.500 peserta dari 56 negara di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta pada, Rabu (Buda Paing, Krulut) 15 Februari 2023.

Dengan menggunakan busana Adat Bali, Gubernur Bali dalam kesempatan itu juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada World Water Council yang telah melaksanakan acara Kick-Off Meeting 10th World Water Forum yang merupakan salah satu dari rangkaian pertemuan puncak World Water Forum ke-10 yang akan dilaksanakan pada tanggal 18-24 Mei 2024 di Bali.

koster
Gubernur Bali Wayan Koster foto bersama saat acara Kick-Off Meeting 10th World Water Forum di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta pada, Rabu (Buda Paing, Krulut) 15 Februari 2023. (Foto: ist)

Tema World Water Forum ke-10 adalah Water for Shared Prosperity. Tema ini sangat selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal Bali, yaitu Danu Kerthi, yang berarti penyucian dan pemuliaan sumber air. Penyucian dan pemuliaan sumber air dilaksanakan secara Niskala/Religi dan Sakala. Secara Niskala/Religi, dilaksanakan dengan Upakara Tumpek Uye, yang merupakan Hari Raya untuk menyucikan dan memuliakan sumber air, dilaksanakan setiap 6 bulan kalender Bali (210 hari), tepatnya pada Hari Sabtu, Saniscara Kliwon, Wuku Uye. Leluhur Bali, telah memberi wejangan hidup bahwa air adalah sumber kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan manusia.

Baca Juga  Berkat Perjuangan Gubernur dan Ny. Putri Koster, Endek Bali Tampil di G20

Bagi masyarakat Bali, air memiliki fungsi secara Niskala/Religi dan Sakala. Secara Niskala/Religi, air berfungsi sebagai Tirta, untuk kepentingan Upakara Adat, dan untuk menyucikan/pembersihan diri. Secara Sakala, air berfungsi sebagai sumber kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan masyarakat, untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, dan untuk pertanian.

Oleh karena itulah, Pemerintah Provinsi Bali telah memberlakukan kebijakan yang dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata-titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru, yang mulai berlaku tanggal 4 Januari 2022. Secara Sakala, Pemerintah Provinsi Bali memberlakukan kebijakan yang diatur dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 24 Tahun 2020 tentang Pelindungan Danau, Mata Air, Sungai, dan Laut, yang mulai berlaku tanggal 29 Mei 2020.

Peraturan Gubernur Bali Nomor 24 Tahun 2020 ini dikeluarkan di era kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster, karena Bali memiliki sumber air yang sangat memadai dan wajib untuk dijaga kelestariannya. Sumber air yang dimiliki Bali, yaitu: 4 Danau (Danau Batur, Danau Beratan, Danau Tamblingan, dan Danau Buyan); 246 sungai, sebagian diantaranya melintasi Kabupaten-kabupaten di Bali; Air Terjun; dan banyak Sumber Mata Air Murni (Air Klebutan).

Danau Batur yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, merupakan danau terbesar di Pulau Bali, yang berfungsi sebagai ekologi yang kaya dengan keanekaragaman hayati, dengan potensi pengembangan untuk pariwisata, perikanan, pertanian hortikultura yang telah ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Bangli. Danau Batur juga merupakan salah satu warisan budaya dunia sebagai Batur Global Geopark oleh UNESCO sejak tahun 2012.

Berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal tersebut, masyarakat Bali memiliki budaya pengaturan air dalam sistem pertanian yang dikenal dengan Subak. Subak adalah salah satu bentuk sistem irigasi yang mampu mengakomodasikan dinamika sosio-teknis masyarakat setempat. Sistem irigasi subak dikelola dengan prinsip-prinsip keadilan, keterbukaan, harmoni, dan kebersamaan melalui suatu organisasi masyarakat yang fleksibel dan demokratis dengan kepentingan masyarakat. Sistem ini tidak semata hanya mengatur masalah dan urusan teknis pengaturan dan pembagian air saja. Tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan Niskala/religius. Sejak tahun 2012 UNESCO telah mengakui Subak sebagai warisan budaya dunia setelah Indonesia memperjuangkannya selama 12 tahun. Hal ini menjadikan Subak adalah budaya kelola air yang istimewa karena Subak bisa menjadikan masyarakat petani di Bali serasi dengan alam untuk mencapai hasil panen yang optimal.

Baca Juga  Jalankan Kebijakan Gubernur Koster, HOCA Siap Digitalisasi Aset Budaya dan Kampanye Atasi Sampah di Bali

Gubernur Bali Wayan Koster kemudian menyampaikan Bali adalah pulau yang memiliki kekayaan alam yang indah, masyarakat yang ramah, serta kebudayaan yang kaya dan unik, sehingga Bali menjadi destinasi wisata utama yang mendunia. Bali memiliki fasilitas yang lengkap dan accessibility, serta sangat berpengalaman dalam menyelenggarakan event-event internasional, seperti Pertemuan IMF dan Bank Dunia, tahun 2018, dan Pertemuan Puncak Presidensi G20, pada tanggal 15-16 November 2022, yang berlangsung dengan sangat sukses.

Dengan berbagai pengalaman tersebut, Bali sangat siap mendukung penyelenggaraan World Water Forum ke-10, tanggal 18-24 Mei 2024, yang akan dihadiri oleh berbagai stakeholder baik pejabat negara, akademisi, pebisnis, dan masyarakat lainnya termasuk para generasi muda.

Mengakhiri pidatonya, Gubernur Wayan Koster mendapatkan applause tepuk tangan oleh ribuan peserta dari 56 negara yang hadir di acara Kick-Off Meeting 10th World Water Forum, karena orang nomor satu di Pemerintah Provinsi Bali ini dengan tegas menyatakan kesiapan Bali menjadi tuan rumah kick off meeting, sebagai lanjutan pertemuan hari ini. Kami akan menyambut Bapak/Ibu semuanya dengan penuh kegembiraan. “Kami menegaskan, dengan senang hati selalu siap untuk bekerjasama dengan World Water Council, juga dengan seluruh stakeholder di seluruh dunia guna menyukseskan penyelenggaraan acara World Water Forum ke-10 di Bali. Dengan penuh rasa bahagia, masyarakat Bali akan menyambut para peserta pertemuan World Water Forum ke-10 di Bali,” tutup Gubernur Wayan Koster dalam pidatonya seraya menyatakan sampai jumpa di Bali, The Island of Gods.

Menteri PUPR RI, Basuki Hadimuljono menyampaikan rasa bahagianya, karena acara Kick-Off Meeting 10th World Water Forum hari ini dihadiri oleh 1.500 peserta dari 56 negara. Sehingga pertemuan ini merupakan kehormatan, karena baru pertama kali Indonesia menyelenggarakan pertemuan yang merupakan rangkaian dari World Water Forum ke-10 tahun 2024 di Bali.

Baca Juga  Koster Geram! Bentuk Tim Khusus Usut Usaha Asing yang Kepung UMKM Lokal di Bali

“Bali adalah kepulauan terkenal di Indonesia yang menjadi favorit pariwisata dunia dan favorit World Water Council. Mengenai air, orang Bali sangat menghargai air secara turun-temurun,” kata Menteri Basuki Hadimuljono.

Sehingga pertemuan World Water Forum ke-10 di Bali pada tahun 2024 mendatang dapat menjadi referensi global terkait pengelolaan sumber daya air. World Water Forum juga diharapkan menjadi platform esensial untuk seluruh isu tentang air secara global dengan melibatkan semua pemangku kepentingan untuk mengangkat kepedulian terhadap masalah air seperti kekeringan, kebanjiran, meningkatnya permukaan air laut yang mengancam ekosistem alam dan keselamatan manusia yang saat ini sedang terjadi untuk diinisiasi menjadi solusi nyata.

Presiden World Water Council, Mr. Luic Fauchon dalam pidatonya mengajak seluruh negara yang akan hadir dalam World Water Forum ke-10 di Bali pada tahun 2024 untuk dijadikan momentum peningkatan kerja sama pengelolaan air secara global. “Kita membutuhkan kemauan politik yang besar antarnegara untuk bekerja sama. Untuk itulah tujuan dilaksanakannya World Water Forum di Bali tahun 2024 agar terbangun pondasi yang solid di dalam merawat air sebagai sumber kesejahteraan, kebahagiaan, kesehatan, dan menjaga produksi pangan,” tutup Presiden World Water Council, Mr. Luic Fauchon. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

Sarkofagus Berusia Ribuan Tahun Ditemukan di Desa Bengkel, Jadi Jejak Kehidupan Prasejarah

Published

on

By

Sarkofagus Peninggalan Megalitikum di Desa Bengkel
Sarkofagus yang ditemukan sekitar tahun 2006 di Banjar Salin, Desa Bengkel. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, menyimpan peninggalan bersejarah dari era prasejarah berupa sarkofagus atau peti kubur batu. Benda purbakala berbentuk menyerupai telur tersebut menjadi salah satu bukti adanya kehidupan masyarakat pada masa megalitikum di kawasan itu.

Sarkofagus tersebut ditemukan sekitar tahun 2006 di Banjar Salin, Desa Bengkel. Penemuan bermula saat aktivitas pengerukan dan perataan tanah dilakukan di lahan milik warga untuk rencana pembangunan perumahan serta pembuatan batu bata merah.

Jro Made Widiasa menuturkan, awalnya pekerja menemukan batu cadas berukuran besar ketika menggali dan meratakan gundukan tanah. Setelah dilakukan penggalian lebih lanjut, barulah terlihat bentuk benda yang diketahui sebagai sarkofagus.

“Awalnya ada gundukan tanah yang diratakan untuk perumahan. Ketika digali, pekerja menemukan batu cadas berukuran besar. Setelah terus digali, barulah terlihat wujud sarkofagus tersebut,” ujar Jro Made Widiasa selaku Tetua dan Tokoh Adat setempat, saat ditemui, Sabtu 7 November 2026.

Sarkofagus tersebut memiliki panjang sekitar 1,5 meter dengan bentuk bulat polos tanpa ukiran maupun motif hiasan. Karakteristiknya disebut menyerupai sarkofagus yang sebelumnya ditemukan di kawasan Gilimanuk.

Dalam tradisi megalitikum, sarkofagus merupakan wadah pemakaman yang umumnya dikaitkan dengan tokoh-tokoh penting dalam kelompok masyarakat, seperti pemimpin komunitas maupun orang yang dihormati.

Keberadaan peninggalan tersebut pun menjadi petunjuk penting untuk menelusuri kehidupan masyarakat prasejarah di Desa Bengkel. Temuan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan komunitas serta perkembangan kehidupan sosial masyarakat pada masa lampau.

“Temuan ini menjadi dasar bagi kami untuk melakukan eksplorasi dan penelitian lebih lanjut. Hal ini membuktikan bahwa ada kehidupan dan komunitas masyarakat yang berkembang di Desa Bengkel sejak zaman prasejarah, perkiraannya berasal dari tradisi megalitikum,” tambahnya.

Baca Juga  DPRD Bali Gelar Rapat Paripurna Ke-17, Bahas Raperda RPJMD dan Pertanggungjawaban APBD 2024

Namun, proses pengungkapan sejarah peninggalan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mudah. Saat pertama kali ditemukan, sejumlah pecahan tembikar yang berada di sekitar lokasi sempat terbuang sebelum sempat diteliti lebih lanjut.

Selain itu, berkembangnya cerita mistis di tengah masyarakat, termasuk adanya warga yang mengalami kerauhan atau kesurupan, turut memengaruhi proses penelitian mendalam terhadap temuan tersebut.

Penelitian kemudian mulai direalisasikan dengan melibatkan tim ahli dan kalangan akademisi untuk menggali informasi mengenai nilai sejarah serta konteks keberadaan sarkofagus tersebut.

Hingga kini, peninggalan purbakala itu masih disimpan dan dilestarikan di lokasi asalnya di Banjar Salin, Desa Bengkel. Keberadaannya menjadi bagian dari kekayaan sejarah desa yang perlu dijaga sekaligus diteliti lebih lanjut. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan Rp 98 Juta kepada Tiga Korban Kebakaran di Jembrana

Pemprov Bali Juga Salurkan Bantuan Penguatan Ekonomi Rp 206 Juta kepada 27 Penerima

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan untuk Korban Kebakaran
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial senilai total Rp 98 juta kepada tiga warga terdampak bencana kebakaran di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial senilai total Rp 98 juta kepada tiga warga terdampak bencana kebakaran di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). Bantuan tersebut diperuntukkan bagi perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan akibat kebakaran.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub Giri Prasta didampingi Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan; mantan Bupati Jembrana periode 2000–2010, I Gede Winasa; serta Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya.

Bantuan sosial diserahkan secara simbolis kepada tiga penerima dengan nilai yang disesuaikan berdasarkan kondisi kerusakan bangunan akibat kebakaran.

Ketiga penerima tersebut yakni I Ketut Sumerta, warga Banjar Ketiman, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, yang menerima bantuan Rp 23 juta untuk perbaikan rumah dengan kategori rusak sedang.

Selanjutnya, I Kadek Dwi Loka Wijaya, warga Banjar Dauh Pangkung, Desa Pekutatan, Kecamatan Pekutatan, menerima bantuan Rp 50 juta untuk perbaikan rumah dan balai sari yang mengalami kerusakan berat.

Sementara itu, Ahmad Kurniawan, warga Banjar Anyar, Desa Air Kuning, Kecamatan Jembrana, menerima bantuan Rp 25 juta untuk perbaikan rumah yang mengalami kerusakan sedang.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah kebakaran yang menimpa warga. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus berupaya hadir membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan akibat bencana.

“Ini adalah wujud implementasi program Bapak Gubernur Bali, salah satunya dalam penanganan bencana. Atas nama Pemerintah Provinsi Bali, kami memberikan bantuan sesuai dengan kerugian yang dialami masyarakat akibat bencana,” ujar Wagub Giri Prasta.

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung pemulihan tempat tinggal agar warga dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman.

Baca Juga  DPRD Bali Gelar Rapat Paripurna Ke-17, Bahas Raperda RPJMD dan Pertanggungjawaban APBD 2024

“Bantuan ini sudah dipergunakan untuk membangun kembali rumah yang sebelumnya terkena bencana. Semoga rumah yang dibangun ini bisa dijadikan tempat beraktivitas yang aman dan nyaman,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Wagub Giri Prasta juga menyerahkan bantuan tambahan senilai Rp 2 juta kepada salah satu korban kebakaran, I Ketut Sumerta.

Selain bantuan perbaikan rumah bagi korban kebakaran, Pemerintah Provinsi Bali juga menyalurkan bantuan sosial berupa penguatan ekonomi kepada 27 penerima manfaat di Kabupaten Jembrana dengan total nilai mencapai Rp 206 juta.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Bali, penyaluran kedua jenis bantuan tersebut mencapai Rp 304 juta, terdiri atas bantuan perbaikan rumah sebesar Rp 98 juta kepada tiga penerima dan bantuan penguatan ekonomi sebesar Rp 206 juta kepada 27 penerima.

Bantuan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Bali dalam mendukung pemulihan masyarakat yang terdampak bencana atau musibah, baik dari aspek tempat tinggal maupun kondisi ekonomi.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Bali, penyerahan bantuan pada 5 November 2026 merupakan penyerahan bantuan yang kesepuluh di Kabupaten Jembrana sejak awal tahun 2026.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali telah melaksanakan sembilan kali penyerahan bantuan serupa dengan nilai keseluruhan mencapai Rp 507,5 juta.

Dengan tambahan bantuan sebesar Rp304 juta yang diserahkan pada 5 November 2026, total bantuan sosial yang telah disalurkan kepada masyarakat Kabupaten Jembrana hingga November 2026 mencapai Rp 811,5 juta.

Penyaluran bantuan secara berkelanjutan tersebut menjadi salah satu bentuk kehadiran Pemerintah Provinsi Bali dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana atau musibah serta mendukung percepatan pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi warga. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan kepada 27 Petani Terdampak Gagal Panen di Jembrana

Dorong Konservasi Sumber Air dan Perlindungan Harga Hasil Pertanian untuk Menjaga Kesejahteraan Petani

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan untuk Petani Jembrana
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial penguatan ekonomi kepada 27 petani terdampak kekeringan dan gagal panen di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial penguatan ekonomi kepada 27 petani terdampak kekeringan dan gagal panen di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). Bantuan diserahkan di Balai Subak Pangkung Buluh, didampingi Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan.

Sebanyak 27 petani penerima bantuan berasal dari tiga subak, yakni Subak Peh, Subak Pangkung Buluh, dan Subak Tegal Jati. Mereka mengalami kerugian akibat keterbatasan pasokan air irigasi selama musim kemarau yang berdampak terhadap produktivitas pertanian.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub Giri Prasta menyerahkan bantuan secara simbolis kepada empat perwakilan petani, yakni I Ketut Kaler sebesar Rp 20 juta, I Ketut Waca sebesar Rp 15,6 juta, I Ketua Malya sebesar Rp 8,9 juta, dan I Made Winata sebesar Rp 8,4 juta.

“Ini program dari Pemerintah Provinsi Bali. Semoga bantuan ini dapat mengurangi beban masyarakat petani yang terdampak gagal panen,” ujar Giri Prasta.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali memberikan perhatian terhadap kondisi petani yang mengalami kerugian akibat kekeringan. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan usaha pertanian, memperkuat ekonomi keluarga, serta menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian.

Wagub Giri Prasta mengapresiasi kerja keras para petani yang terus berupaya mempertahankan produktivitas pertanian di tengah keterbatasan ketersediaan air. Menurutnya, petani memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan.

Ia menyampaikan bahwa Gubernur Bali memberikan perhatian terhadap kondisi petani yang mengalami gagal panen agar mereka tidak harus menanggung kerugian tanpa adanya dukungan pemerintah.

“Pemerintah hadir untuk membantu meringankan kerugian yang dialami petani. Kita tidak ingin para petani yang sudah bekerja keras justru menghadapi kesulitan tanpa mendapatkan perhatian,” ungkapnya.

Baca Juga  Peluncuran Buku ‘’Padmabhuwana Bali’’, Gubernur Koster: Sejalan dengan Visi ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’

Dalam dialog bersama Wagub Giri Prasta, sejumlah petani menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari menurunnya debit air irigasi, kerusakan saluran pengairan, hingga harga jual hasil pertanian yang dinilai belum menguntungkan petani.

I Ketut Kaler mengeluhkan semakin berkurangnya debit air irigasi yang berdampak terhadap produktivitas dan pendapatan krama subak. Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap stabilitas harga hasil pertanian.

Sementara itu, I Ketut Waca menyampaikan persoalan kebocoran saluran irigasi yang menyebabkan distribusi air ke lahan pertanian tidak optimal. Ia juga mengusulkan perbaikan sumur bor serta penggantian pompa berbahan bakar solar menjadi pompa bertenaga listrik.

“Kami berharap sumur bor yang ada dapat diperbaiki dan menggunakan tenaga listrik. Selama ini penggunaan bahan bakar solar menjadi kendala karena sulit diperoleh,” ujar I Ketut Waca.

Menanggapi persoalan menurunnya debit air irigasi, Wagub Giri Prasta menekankan pentingnya langkah konservasi sumber daya air secara berkelanjutan. Ia mengajak pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan krama subak bersinergi menjaga kawasan hulu bendungan melalui penghijauan dan penanaman pohon.

Secara khusus, Giri Prasta menyoroti pentingnya pelestarian kawasan hulu Bendungan Benel dan Bendungan Palasari sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian.

“Di sini ada Bendungan Benel dan Bendungan Palasari. Kita harus mulai melakukan penanaman pohon yang mendukung kelestarian sumber air di kawasan hulu bendungan. Ini untuk kepentingan jangka panjang, bagi anak cucu dan generasi mendatang,” tegasnya.

Menurutnya, konservasi kawasan hulu menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan air irigasi sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan sumur bor.

Ia juga mengaitkan upaya pelestarian lingkungan tersebut dengan nilai kearifan lokal Bali melalui perayaan Tumpek Uduh yang mengajarkan penghormatan dan pemuliaan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan.

Baca Juga  Koster Geram! Bentuk Tim Khusus Usut Usaha Asing yang Kepung UMKM Lokal di Bali

Selain persoalan ketersediaan air, Wagub Giri Prasta turut menyoroti pentingnya perlindungan harga hasil pertanian agar para petani memperoleh pendapatan yang layak, terutama saat memasuki musim panen.

Ia menyampaikan bahwa persoalan harga hasil pertanian telah dikoordinasikan dengan tim pengendalian inflasi daerah sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga pasar dan melindungi kepentingan petani.

Menurutnya, upaya menjaga harga hasil pertanian merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan sebagaimana menjadi prioritas pemerintah pusat.

“Ini tanggung jawab pemerintah untuk menjaga kedaulatan pangan, sesuai arahan Bapak Presiden Republik Indonesia. Kami akan berupaya menjaga agar harga hasil pertanian tidak jatuh saat musim panen,” tegas Giri Prasta.

Melalui penyerahan bantuan sosial penguatan ekonomi tersebut, Pemerintah Provinsi Bali berharap para petani terdampak gagal panen dapat kembali menjalankan aktivitas pertanian sekaligus mempertahankan perekonomian keluarga.

Selain bantuan langsung, perhatian terhadap keberlanjutan sektor pertanian juga diarahkan pada upaya pelestarian sumber air, perbaikan sistem irigasi, serta stabilisasi harga hasil pertanian agar kesejahteraan petani dapat terus ditingkatkan.

Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca