Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat, Trisno Nugroho: Saya Yakin Bali Tidak akan Alami Resesi

Dari Obrolan Santai Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali bareng Media

Loading

BALIILU Tayang

:

bi bali
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho saat menjadi narasumber Obrolan Santai BI bareng Media, Kamis, 16 Februari 2023 di salah satu rumah makan di Jalan By Pas Ngurah Rai Denpasar. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com –  Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2023 menjadi 2,3% dari perkiraan sebelumnya 2,6%. Hal ini disebabkan oleh fragmentasi politik dan ekonomi yang belum usai serta pengetatan kebijakan moneter yang agresif di negara maju. Koreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi yang cukup besar dan disertai dengan meningkatnya risiko potensi resesi terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Namun penghapusan Zero Covid Policy di Tiongkok diperkirakan akan menahan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

‘’Saya melihat data bulan Februari (2023) menunjukkan wisman dan wisnus masih oke, trend pertumbuhan Bali masih oke. Maka saya tidak membayangkan kekhawatiran negatif dan saya yakin Bali tidak akan mengalami resesi,’’ terang Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho di acara Obrolan Santai BI bareng Media dengan tema ‘’Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Bali 2023: Konsistensi, Inovasi dan Sinergi’’, Kamis, 16 Februari 2023 di salah satu rumah makan di Jalan By Pas Ngurah Rai Denpasar. Turut mendampingi Deputi KPw BI Bali dan pimpinan lainnya.

Trisno Nugroho lanjut menjelaskan, optimisme Bali tidak akan mengalami resesi dan pertumbuhan ekonomi Bali positif 2023 karena beberapa indikator di antaranya tekanan inflasi global terindikasi mulai berkurang, ketidakpastian pasar keuangan global mulai mereda sehingga berdampak pada meningkatnya aliran modal global ke negara berkembang.

Optimisme, ungkap Trisno Nugroho juga tampak dari data menunjukkan momentum pemulihan ekonomi Bali yang meningkat signifikan. Pada triwulan IV 2022, ekonomi Bali tumbuh 6,61% (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 8,10% (yoy). Ranking Bali naik dari posisi terakhir di tahun sebelumnya ke posisi 24 sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi 2022. Pada triwulan IV 2022, mayoritas lapangan usaha mencatatkan pertumbuhan positif.

Baca Juga  BI Bali: Kasus Covid-19 Meningkat, Penjualan Ritel Menurun pada Februari 2022
trisno
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho. (Foto: gs)

Pada tahun 2022, sebagian besar kinerja lapangan usaha di Bali telah meningkat, dengan pertumbuhan tertinggi pada LU Transportasi, diikuti oleh LU Pengadaan Listrik, dan LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum. Begitu juga pandemi Covid-19 berdampak pada perubahan struktur ekonomi Bali. Pangsa LU Akmamin dan LU Transportasi telah mengalami kenaikan seiring dengan semakin pulihnya kegiatan pariwisata. Nilai PDRB Bali triwulan IV 2022 juga semakin meningkat, meski masih lebih rendah 3,24% dibandingkan rata-rata triwulanan PDRB tahun 2019. Demikian juga tingkat kunjungan penumpang terus menunjukkan tren peningkatan seiring pelonggaran persyaratan PPLN dan juga dampak suksesnya Bali sebagai tuan rumah KTT G20. Sepanjang tahun 2022, jumlah kedatangan penumpang internasional mencapai 2,33 juta orang.

Sejalan dengan peningkatan penumpang, kunjungan wisatawan juga turut meningkat. Kunjungan wisatawan pada keseluruhan tahun 2022 melonjak signifikan dan pada 2023 diperkirakan terus meningkat, terutama didorong oleh penyelenggaraan MICE dan event strategis. Pada tahun 2023, jumlah wisman yang datang ke Bali berpotensi tembus 4 juta orang.

Trisno Nugroho juga menunjukkan bahwa pertumbuhan juga terjadi di sektor perbankan. Penyaluran kredit terus tumbuh dan kualitas kredit masih terjaga di bawah 5%. Kinerja penyaluran kredit perbankan bertumbuh pada triwulan IV 2022 sebesar 4,12%. Sedangkan perkembangan NPL dan LAR di Bali secara keseluruhan menunjukkan tren yang menurun, namun untuk NPL Akmamin masih dalam fase uptrend dan berada di atas batas aman 5%. Secara keseluruhan baik NPL maupun LAR Bali masih berada di atas nasional.

Sedangkan inflasi Bali di tingkat nasional masuk peringkat 9 tertinggi untuk MTM dan peringkat 15 untuk YOY Januari 2023. Pada Januari 2023, inflasi bulanan nasional terpantau sebesar 0,34% (mtm), secara spasial, Provinsi Bali menempati posisi ke-9 realisasi inflasi mtm (month-to-month) tertinggi pada Januari 2023 yaitu sebesar 0,66% (mtm).

Baca Juga  Dukung Pengendalian Inflasi, BI Bali Gencarkan Pembayaran Digital Berbasis QRIS

Untuk mengendalikan inflasi di Bali, TPID Provinsi Bali mendorong penanggulangan inflasi melalui 4K yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif, dimana setiap daerah menetapkan program unggulan yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat per wilayah.

Keterjangkauan harga misalnya dengan operasi pasar yang dilaksanakan sinergi antarlembaga dan dilakukan di provinsi dan kabupaten kota. Ketersediaan pasokan dengan pengembangan Kerjasama Antar Daerah (KAD). Kelancaran distribusi dengan rehabilitasi jalan guna menjamin kelancaran distribusi dengan memastikan infrastruktur yang ada dapat digunakan dengan maksimal. Sedangkan komunikasi efektif dengan penyampaian informasi kepada masyarakat melalui berbagai media, seperti media sosial, radio, website, aplikasi (SIPAPA ONLINE), maupun LED di pasar.

Trisno Nugroho juga menggambarkan Indek Pembangunan manusia (IPM) Bali tinggi. Pada tahun 2022 pasca-terkendalinya Covid-19, pembangunan manusia di Provinsi Bali menunjukkan arah perbaikan, dimana tingkat kemiskinan Bali peringkat 1 terendah nasional.

Pertumbuhan ekonomi Bali terus menguat seiring pemulihan kedatangan wisatawan akan terus berlanjut di tahun 2023. Berdasarkan proyeksi skenario dari UNWTO untuk tahun 2023, kedatangan wisatawan asing berpotensi mencapai 80% – 95% dari level pra-pandemi. Level ini lebih baik dibandingkan tahun 2022 yang pulih sebesar 63% dari level pra-pandemi. Meskipun demikian, capaian ini tergantung dari tingkat pemulihan ekonomi negara, tingkat pemulihan kunjungan wisatawan di Asia Pasifik dan konflik geopolitik Rusia-Ukraina dan faktor-faktor lainnya.

Pada tahun 2022, lebih dari 900 juta wisatawan melakukan perjalanan internasional (2x lipat dari capaian di tahun 2021), namun masih 37% lebih rendah dari tahun 2019. Semua region menunjukkan peningkatan signifikan kedatangan wisatawan mancanegara di tahun 2022.

Dalam rangka pemulihan kedatangan wisatawan terdapat beberapa faktor pendorong yang berpotensi akan meningkatkan arus kunjungan global yaitu pelonggaran kebijakan travel di China dan terus menguatnya permintaan di Amerika Serikat. Di sisi lain, masih terdapat tantangan terkait dengan risiko inflasi global, kesehatan dan geopolitik.

Baca Juga  <strong>Dihadiri 5 Ribu Pengunjung, PQN 2023 Secara Resmi Ditutup</strong>

‘’Namun dari survei, penglihatan di lapangan dan beberapa event 2023 yang akan terjadi di Bali, semoga bisa mendorong terus optimisme pertumbuhan ekonomi Bali bangkit 2023 ini,’’ tukas Trisno seraya menegaskan ke depan, Bali dalam cakupan lebih luas yaitu Balinusra diharapkan dapat menjadi super hub yang mampu menggabungkan sisi pariwisata (tourism hub), logistik (transshipment hub), dan infrastruktur dengan kawasan lainnya yang diharapkan dapat mendorong aktivitas pariwisata dan menciptakan multiplier effect terhadap kinerja pariwisata secara keseluruhan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Balinomics Bank Indonesia Rekomendasikan Langkah Taktis Dorong Pemerataan Ekonomi Bali Utara–Selatan

Published

on

By

Forum Diskusi Balinomics Bank Indonesia di Buleleng
BALINOMICS: Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali saat menyelenggarakan kegiatan Forum Diskusi Strategis BALINOMICS pada Kamis, 5 November 2026 bertempat di Kantor Bupati Buleleng. (Foto: ist)  

Buleleng, baliilu.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali kembali menyelenggarakan kegiatan Forum Diskusi Strategis BALINOMICS pada Kamis, 5 November 2026 bertempat di Kantor Bupati Buleleng. Penyelenggaraan kegiatan Balinomics di Buleleng merupakan salah satu perwujudan semangat mendorong penguatan ekonomi di Bali Utara. Forum dibuka oleh Bupati Buleleng yang diwakili oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Setda Kabupaten Buleleng, Putu Ayu Reika Nurhaeni. Forum BALINOMICS kali ini mempertemukan perwakilan instansi vertikal seperti Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Bali, OPD Provinsi Bali dan Kabupaten Buleleng, perwakilan akademisi dari Universitas Pendidikan Ganesha, media, dan perwakilan asosiasi pengusaha.

Dalam pembukaannya, Putu Ayu menyampaikan bahwa tantangan ekonomi Bali saat ini yakni masih terkonsentrasinya aktivitas ekonomi di Wilayah Bali Selatan. ”Ke depan, pengembangan Bali Utara sangat esensial yang sejatinya merupakan bagian dari strategi penguatan ekonomi Bali secara keseluruhan, agar manfaat pembangunan yang dapat dirasakan di seluruh wilayah Bali,” tutur Putu Ayu. Putu Ayu menekankan tiga strategi utama untuk mendorong pemerataan ekonomi Bali Utara dan Bali Selatan yakni Penguatan Konektivitas Bali Utara–Selatan, (ii) Pengembangan Pariwisata Bali Utara yang Berkualitas dan Berkelanjutan, (iii) Peningkatan Nilai Tambah Sektor Kelautan, Perikanan, dan Pertanian Melalui Hilirisasi.

Lebih lanjut, Kepala Perwakilan Provinsi Bali, Achris Sarwani dalam sambutannya menyampaikan bahwa Forum Balinomics kali ini merupakan penyelenggaraan keempat di tahun ini yang berfokus pada perumusan strategi taktis untuk mendukung pemerataan ekonomi Bali Utara dan Selatan. Achris menyebutkan kinerja perekonomian Bali tahun 2026 tetap kuat dengan pertumbuhan yang diprakirakan berada pada batas atas kisaran 5,4–5,9% (yoy). Namun demikian, potensi ekonomi Bali belum sepenuhnya optimal karena aktivitas ekonomi masih sangat terkonsentrasi di Bali Selatan. Hal ini tercermin dari, kontribusi PDRB Wilayah Bali Selatan (Daerah Sarbagia) mencapai 58% terhadap PDRB Bali. Realisasi penanaman modal juga terkonsentrasi di Daerah Sarbagia mencapai Rp 30,49 triliun (pangsa 81,64%) sepanjang 2026. Pada Balinomics kali ini, Achris menegaskan pentingnya penciptaan nilai tambah komoditas unggulan daerah sebagai langkah pemerataan ekonomi, termasuk mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih luas. Untuk itu pada Balinomics kali ini terdapat sharing dari pengusaha yang telah sukses meningkatkan nilai tambah komoditas lokal unggulan.

Baca Juga  Menumbuhkan Cinta Rupiah Sejak Dini Bersama Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia

Sharing session disampaikan oleh Founder & CEO PT. Haldin Pacific Semesta, PT. Talasi Tru Origin, Alisjahbana Haliman. Ali menyampaikan Bali memiliki berbagai komoditas unggulan daerah yang sangat dibutuhkan oleh pasar domestik dan internasional, mulai dari kopi, rumput laut, anggur, dsb. Ketersediaan produk lokal menjadi modal untuk meningkatkan value ekonomi melalui strategi substitusi impor. Sebagai contoh, Ali menyebutkan mapple syrup yang selama ini banyak diimpor, dapat disubstitusi dengan aren syrup. Namun Ali menegaskan yang masih menjadi PR untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas lokal adalah penguatan value chain, mulai dari jaminan mutu, keberlanjutan supply, dan perluasan market.

Sejalan dengan Ali, Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Bali, Dedy Arief Hendriyanto memaparkan komoditas perikanan Bali telah mampu bersaing di pasar global seperti ikan tuna, udang, dsb yang selalu dijaga mutunya, namun perlu juga untuk dilakukan perluasan pasar ekspor. Turut hadir, Kepala Bappeda Kabupaten Buleleng, menyampaikan harapan kedepannya dapat dibangun satu ekosistem pertumbuhan Bali Utara sehingga lebih banyak nilai ekonomi yang tinggal di Bali Utara.

Penguatan konektivitas fisik, digital, pariwisata, serta penguatan value chain komoditas lokal menjadi langkah taktis untuk pemerataan ekonomi Bali Utara dan Bali Selatan. Ke depan, melalui sinergi dan kolaborasi yang kuat dengan mitra kerja, BALINOMICS dapat menjadi katalis penguatan sinergi antarpemangku kepentingan dalam mewujudkan Bali yang tumbuh lebih merata, produktif, dan berkelanjutan. Pada akhirnya, pemerataan pembangunan antara Bali Utara dan Bali Selatan akan menjadi fondasi penting bagi akselerasi pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berdaya tahan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

BI Bali: Inflasi Oktober 2026 Terkendali, Sinergi Pengendalian Terus Diperkuat Jelang Akhir Tahun

Published

on

By

Infografis Inflasi Provinsi Bali Oktober 2026 dari Bank Indonesia Bali
Infografis Inflasi Provinsi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mencatat perkembangan inflasi di wilayah Bali pada Oktober 2026 menunjukkan dinamika yang memerlukan penguatan sinergi lintas instansi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali yang dirilis pada 2 November 2026, Provinsi Bali secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026 mengalami inflasi sebesar 0,25 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,32 persen (mtm).

Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani, dalam keterangan tertulis yang diterima di Denpasar, Senin (2/11), menjelaskan bahwa inflasi bulanan tersebut terutama didorong oleh terbatasnya pasokan pangan, khususnya komoditas hortikultura.

“Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya produksi pada musim kemarau di tengah fenomena El Niño. Selain itu, gangguan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi secara sementara pada pertengahan Oktober turut memberikan tekanan terbatas terhadap kelancaran distribusi barang di beberapa wilayah,” ujar Achris.

Ia menambahkan, kenaikan harga daging babi juga terjadi di tengah terbatasnya pasokan dan tingginya permintaan pasar.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Provinsi Bali meningkat dari 3,79 persen pada September 2026 menjadi 3,87 persen pada Oktober 2026. Capaian tersebut berada di atas inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,23 persen (yoy). Sementara itu, secara tahun kalender (year-to-date/ytd), inflasi Bali naik dari 2,49 persen menjadi 2,74 persen (ytd).

Melihat perkembangan tersebut, BI menilai pengendalian inflasi pada dua bulan terakhir tahun 2026 perlu terus diperkuat agar tetap berada dalam rentang sasaran 2,5%±1% pada akhir tahun.

Perkembangan Spasial dan Komoditas Penyumbang

Secara spasial, seluruh kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Bali mengalami inflasi bulanan pada Oktober 2026. Kabupaten Badung mencatatkan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,52 persen (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 4,16 persen (yoy).

Baca Juga  <strong>Dihadiri 5 Ribu Pengunjung, PQN 2023 Secara Resmi Ditutup</strong>

Kota Denpasar menyusul dengan inflasi bulanan sebesar 0,18 persen (mtm) atau 3,63 persen (yoy), Kabupaten Tabanan sebesar 0,16 persen (mtm) atau 4,35 persen (yoy), serta Singaraja sebesar 0,10 persen (mtm) atau 3,67 persen (yoy).

Secara komoditas, inflasi bulanan pada Oktober 2026 bersumber dari peningkatan harga cabai merah, cabai rawit, sawi hijau, kol putih/kubis, buncis, daging babi, serta laptop/notebook. Laju inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, bawang merah, bawang putih, tongkol diawetkan, dan ikan tongkol/ikan ambu-ambu.

Mitigasi Risiko dan Strategi 4K

Bank Indonesia Provinsi Bali terus mendukung berbagai langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali, antara lain melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar.

Ke depan, Achris memaparkan beberapa risiko yang perlu diwaspadai, di antaranya berlanjutnya fenomena El Niño kuat hingga awal 2027 serta mundurnya awal musim hujan. Sebagian besar wilayah Bali diprakirakan baru memasuki musim hujan pada Desember 2026, yang berpotensi menghambat pemulihan produksi serta pasokan pangan, khususnya komoditas tanaman pangan utama seperti padi.

Selain itu, tingginya harga energi global di tengah berlanjutnya ketegangan geopolitik dunia berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan tekanan harga pada sejumlah komoditas. Kendati demikian, normalisasi harga sejumlah komoditas pangan setelah kenaikan pada bulan sebelumnya serta potensi pemulihan pasokan hortikultura secara bertahap diprakirakan mampu menahan tekanan inflasi pada November 2026.

Sebagai langkah antisipasi, BI bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali memperkuat sinergi melalui strategi 4K, yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi yang efektif.

Implementasi strategi tersebut diwujudkan melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga berkala, fasilitasi distribusi pangan, optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, pemberian bantuan sarana prasarana kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan komunikasi publik. Melalui langkah-langkah komprehensif ini, inflasi Bali pada 2026 diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)

Baca Juga  BI Bali Apresiasi Program KUR Nasional Pacu Pertumbuhan Ekonomi Lebih Kuat

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Optimisme Dunia Usaha Bali Terus Menguat di Tengah Kinerja Pariwisata dan Sektor Jasa yang Tetap Solid

Published

on

By

Infografis perkembangan tenaga kerja di Provinsi Bali
Infografis perkembangan tenaga kerja di Provinsi Bali. (Foto: BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia mengindikasikan bahwa aktivitas dunia usaha di Provinsi Bali pada Triwulan III 2026 terus menguat. Perbaikan tersebut sejalan dengan terjaganya kinerja ekonomi Bali yang didukung oleh tingginya mobilitas wisatawan, kuatnya konsumsi rumah tangga, serta meningkatnya aktivitas berbagai sektor jasa. Kondisi tersebut tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha sebesar 63,06%, meningkat dibandingkan 49,32% pada Triwulan II 2026. Peningkatan tersebut terutama ditopang oleh membaiknya kinerja sektor pariwisata dan sektor jasa yang memiliki keterkaitan luas dengan aktivitas ekonomi daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani dalam keterangan persnya mengatakan bahwa hasil SKDU Triwulan III 2026 menunjukkan bahwa optimisme dunia usaha Bali tetap terjaga dan semakin tersebar pada berbagai sektor ekonomi. “Temuan ini memperkuat indikasi bahwa perekonomian Bali masih berada pada jalur pertumbuhan yang solid dengan dukungan kinerja pariwisata, konsumsi rumah tangga, investasi, serta aktivitas jasa yang tetap kuat,” ujarnya.

Menguatnya aktivitas pariwisata tercermin dari peningkatan SBT LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dari 14,62% pada Triwulan II 2026 menjadi 19,12% pada Triwulan III 2026. Penguatan ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas pariwisata pada awal Triwulan III 2026.

Achris Sarwani mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara pada Juli–Agustus 2026 mencapai sekitar 691,9 ribu kunjungan per bulan, meningkat 19,5% dibandingkan dengan rata-rata Triwulan II 2026 sebesar 578,9 ribu kunjungan per bulan. Rata-rata tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada Juli–Agustus 2026 juga meningkat menjadi 67,74%, dibandingkan dengan rata-rata Triwulan II 2026 sebesar 61,32%.

Baca Juga  Menumbuhkan Cinta Rupiah Sejak Dini Bersama Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia

Menguatnya aktivitas pariwisata tidak hanya meningkatkan kinerja sektor akomodasi dan makan minum, tetapi juga mendorong aktivitas usaha pada sektor transportasi, perdagangan, serta berbagai jasa pendukung lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata masih menjadi motor utama perekonomian Bali dan menghasilkan efek pengganda yang luas terhadap berbagai lapangan usaha. Sejalan dengan hal tersebut, LU Transportasi dan Pergudangan mengalami perbaikan SBT dari -1,39% menjadi 0,00%, sedangkan LU Jasa Lainnya meningkat dari 0,00% menjadi 1,57%. Perkembangan tersebut mengindikasikan perbaikan aktivitas usaha pada sejumlah sektor yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat dan kegiatan pariwisata.

Selain pariwisata, sebut Achris Sarwani, aktivitas pada sektor jasa juga menunjukkan penguatan. SBT LU Informasi dan Komunikasi meningkat dari 3,14% pada Triwulan II 2026 menjadi 6,27% pada Triwulan III 2026, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan layanan komunikasi dan digital dalam mendukung aktivitas masyarakat serta kegiatan ekonomi. LU Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib juga meningkat dari 3,33% menjadi 5,55%. Perkembangan tersebut berlangsung di tengah pelaksanaan berbagai program dan kegiatan pemerintah.

Berdasarkan data DJPb, realisasi belanja daerah di Bali hingga Agustus 2026 tumbuh 9,45% (yoy), termasuk peningkatan belanja operasi sebesar 9,75% (yoy). Sementara itu, LU Jasa Pendidikan meningkat dari 2,39% menjadi 4,78%, sejalan dengan dimulainya tahun ajaran baru pada Juli 2026 yang mendorong aktivitas penyelenggaraan pendidikan dan kebutuhan layanan pendukungnya. Di luar sektor tersebut, mayoritas LU lainnya juga mencatat peningkatan SBT, antara lain LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Industri Pengolahan, serta LU Jasa Keuangan yang mengindikasikan perbaikan persepsi pelaku usaha yang lebih luas, tidak hanya terkonsentrasi pada sektor pariwisata dan jasa. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan ekonomi Bali semakin terdiversifikasi dan ditopang oleh semakin luasnya sumber pertumbuhan antar lapangan usaha.

Baca Juga  Sinergi BI Bali dan Media Dorong Optimisme Ekonomi dan Stabilitas Harga Jelang HBKN Nyepi dan Idul Fitri

Ke depan, kata Achris Sarwani, dunia usaha pada Triwulan IV 2026 di Bali diprakirakan tetap tumbuh positif meskipun lebih rendah dari Triwulan III dengan SBT sebesar 47,76%. Optimisme pelaku usaha didorong oleh prospek konsumsi masyarakat yang tetap terjaga, meningkatnya aktivitas perdagangan menjelang periode akhir tahun, serta berlanjutnya aktivitas pariwisata dan berbagai kegiatan ekonomi pendukung. Kinerja Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran diprakirakan meningkat seiring penguatan permintaan domestik dan distribusi barang, sementara Lapangan Usaha Industri Pengolahan didukung oleh kenaikan permintaan terhadap produk makanan-minuman dan produk industri lokal. Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan juga diperkirakan mendorong aktivitas Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. Secara keseluruhan, hasil survei menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Bali hingga akhir tahun 2026. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca