Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Duta Kota Denpasar Ikuti Parade Busana Khas Daerah di PKB XLV

Tampilkan Payas Madya, Payas Agung, Payas Malelunakan dan Payas Maplekir

Loading

BALIILU Tayang

:

payas
PARADE BUSANA KHAS DAERAH: Penampilan Duta Kota Denpasar pada Parade (Utsawa) Busana Khas Daerah serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV Tahun 2023 yang disaksikan langsung Ketua TP. PKK Kota Denpasar yang juga Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara dan Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Widnyani Wiradana di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (2/7). (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kota Denpasar memberikan sajian busana terbaiknya pada Parade (Utsawa) Busana Khas Daerah serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV Tahun 2023 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Minggu (2/7). Dalam kesempatan tersebut, Duta Kota Denpasar menampilkan empat jenis busana adat. Yakni Busana Payas Madya, Payas Agung, Payas Malelunakan dan Payas Maplekir yang tentunya sesuai dengan pakem tradisi Kota Denpasar.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua TP. PKK Kota Denpasar yang juga Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Widnyani Wiradana serta undangan lainnya. Tak hanya Duta Kota Denpasar, di panggung yang sama juga turut tampil perwakilan seluruh Duta Kabupaten se-Bali.

Ketua TP. PKK Kota Denpasar yang juga Ketua Dekranasda Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara memberikan apresiasi atas penampilan maksimal Duta Kota Denpasar pada Parade (Utsawa) Busana Khas Daerah serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV. Dimana, seluruh busana adat yang ditampilkan telah menggambarkan ciri khas, pakem dan tradisi berbusana di Kota Denpasar.

Ke depan, Sagung Antari berharap, pakem dan tradisi berbusana adat ini terus dilestarikan. Sehingga mampu menjadi contoh bagi masyarakat dalam berbusana sesuai dengan fungsinya.

“Tadi penampilannya apik, desain busana adatnya juga bagus sekali, sesuai dengan pakem tradisi Denpasar, sangat khas dan menggambarkan Denpasar, semoga tetap ajeg dan lestari sebagai kearifan lokal berbusana di Denpasar,” ujarnya.

Sementara itu, Perancang Busana Duta Kota Denpasar, Dr. AA Ngr Anom Mayun mengatakan, Busana Payas Madya merupakan busana yang biasa digunakan saat upacara akil balik atau Ngeraja Singa untuk laki-laki dan Ngeraja Swala untuk perempuan, upacara Metatah atau Mepandes dan upacara perkawinan dengan tingkatan upacara tingkat Madya. Dimana, model payasan ini identik dengan penggunaan tapih prada, wastra songket, sabuk songket benang dan selendang songket pada perempuan. Sedangkan untuk laki-laki biasanya menggunakan destar songket atau prada, wastra songket mekancut prada, kampuh songket dan umpal prada.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Motivasi Duta Tabanan yang akan Tampil Dalam Peed Aya PKB XLV

Selanjutnya, untuk Payas Agung merupakan busana yang biasa digunakan pada upacara akil balik, mepandes dan pernikahan dengan tingkatan upacara tingkat utama. Ciri khas busana ini yakni memakai pusungan yang dinamakan gelung agung yang dihiasi dengan bunga segar seperti cempaka putih, cempaka kuning, kenanga dan mawar merah untuk perempuan. Sedangkan laki-laki identik menggunakan hiasan kepala gelung garuda mungkur, rumbing menghiasi telinga, badong, gelang kana, gelang naga satru, keris, cincin/ali-ali serta gelang kaki slaka.

Yang ketiga yakni Payasan Malelunakan. Dimana busana ini digunakan oleh wanita pada upacara Ngaben atau Pelebon di Kota Denpasar. Melelunakan merupakan jalinan rambut dengan selendang yang memiliki panjang 2,5 meter serta lebar 7-8 cm yang dililitkan di kepala dengan putaran 3 kali yang merupakan pakem Tri Kona yang berarti dinamika hidup. Model payas ini identik dengan aksesoris berupa setangkai bunga puspa limbo emas, bunga sandat emas yang diselipkan pada bagian atas lelunakan, subang emas dan aksesoris pendukung lainnya.

Dan yang terakhir yakni Payas Maplekir. Dimana, busana ini digunakan oleh wanita pada upacara Pitra Yadnya yaitu Nyekah, Memukur atau Meligia. Busana ini identik dengan hiasan kepala yang menggunakan pusung gonjer untuk remaja dan pusung tagel untuk dewasa. Dimana, di atas kepala terdapat hiasan melingkar terbuat dari kain dengan hiasan pada bagian belakang berbentuk kipas. Hiasan ini berwarna putih, dilengkapi bunga segar seperti cempaka putih, cempaka kuning, bunga puspa limbo emas, bunga sandat emas, dan aksesoris pelengkap seperti subang emas, bros dan cucuk emas.  (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Puncak “Karya Wrespati Kalpa Agung” Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan

Published

on

By

Wawali Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung di Pura Gunung Sari, Desa Adat Peraupan, Denpasar.
HADIRI KARYA: Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Puncak Karya Wrespati Kalpa Agung, Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan, pada Rabu (5/8).

Wawali Arya Wibawa usai melaksanakan persembahyangan bersama mengatakan, pelaksanaan upacara keagamaan di Pura Gunung Sari, Banjar Jurang Asri, Desa Adat Peraupan ini adalah salah satu bentuk meningkatkan sradha bhakti umat Hindu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Pihaknya juga mengharapkan setelah dilaksanakannya upacara Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan ini seluruh umat terutama warga Banjar Adat Jurang Asri dapat terus meningkatkatkan rasa persaudaraan dan persatuan antara sesama umat.

“Tentu pelaksanaan yadnya ini sebagai sarana peningkatan nilai spiritual sebagai umat beragama. Kami berharap ke depan upacara yadnya ini dapat memberikan energi positif yang dapat memancarkan hal positif bagi umat serta menetralisir hal-hal negatif di lingkungan banjar setempat,” katanya.

Sementara Ketua Panitia Karya, I Made Sueca mengatakan Karya Ngenteg Linggih Padudusan Mupuk Pedagingan Tawur Wrespati Kalpa Agung lan Panilapatian Pegat Soot Pura Gunung Sari Desa Adat Peraupan dilaksanakan karena rampungnya semua palinggih pura yang diperbaharui.

Pada hari ini kata Made Sueca, dilaksanakan upacara Puncak Karya Ngeteg Linggih, Mahingkup, Bangun Ayu, Padyus-dyusan. Adapun Pujawali ini yang dipuput oleh Ida Peranda Mpu Nabe Yoga Daksa Paramitha dari Griya Peraupan.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Wakil Walikota Denpasar karena sudah hadir menyaksikan Puncak Karya upacara Ngenteg Linggih. Semoga karya ini labda karya dan memargi antar,” ungkapnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Bupati Sanjaya Motivasi Duta Tabanan yang akan Tampil Dalam Peed Aya PKB XLV
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Bupati Badung Hadiri “Karya Mamungkah” dan “Padudusan Alit” di Dadia Penitangan Jimbaran

Published

on

By

Bupati Adi Arnawa menghadiri Puncak Karya Mamungkah dan Padudusan Alit di Dadia Penitangan, Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan.
HADIRI KARYA: Bupati Adi Arnawa menghadiri Puncak Karya Mamungkah, Padudusan Alit di Dadia Penitangan, Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Rabu (5/8). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri Puncak Karya Mamungkah, Padudusan Alit, Ngunggahang Dewa Pitara dan Ngikup Dewa di Dadia Penitangan, Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Rabu (5/8). Karya tersebut dipuput oleh Ida Pedanda dari Griya Sanur bersama pemangku setempat, serta dihadiri anggota DPRD Badung I Made Sudira, Camat Kuta Selatan, Bendesa Adat Jimbaran, Kelihan Adat dan Dinas Banjar Perarudan, dan krama pengempon.

Dalam sambrama wacananya, Bupati Adi Arnawa menyampaikan apresiasi atas semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Perarudan dalam menyelenggarakan karya suci tersebut. Menurutnya, pelaksanaan yadnya merupakan sebagai bentuk wujud pelestarian nilai-nilai agama, adat, dan budaya Bali yang harus terus dijaga.

“Saya bersyukur dapat hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menyaksikan langsung pelaksanaan karya suci ini. Semoga melalui pelaksanaan karya ini, kita semua senantiasa diberikan kerahayuan, kesehatan, serta keseimbangan alam semesta,” ujarnya.

Bupati juga mengajak seluruh krama untuk terus menjaga persatuan dan semangat menyama braya untuk menjaga keharmonisan di tengah masyarakat seperti yang sudah diwariskan. Selain itu, mengingat Kabupaten Badung, khususnya wilayah Kuta Selatan, merupakan destinasi pariwisata, Bupati mengimbau masyarakat agar bersama-sama menjaga keamanan, kebersihan lingkungan, dan mendukung berbagai program pembangunan Pemerintah Kabupaten Badung.

Pada kesempatan tersebut, Bupati juga menjelaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam mendukung keberlanjutan sektor pariwisata. Selain menjaga kelestarian adat, budaya, dan warisan leluhur, pemerintah juga terus membangun infrastruktur, termasuk membuka sejumlah ruas jalan baru di beberapa titik strategis sebagai upaya mengurangi kemacetan dan meningkatkan kenyamanan masyarakat maupun wisatawan.

Sementara itu, Manggala Karya I Wayan Warta menyampaikan terima kasih kepada Bupati Badung yang telah berkenan hadir serta memberikan doa dan dukungan terhadap pelaksanaan karya suci tersebut. Ia menjelaskan bahwa rangkaian karya telah berlangsung selama kurang lebih satu bulan, diawali dengan berbagai tahapan upacara, di antaranya matur piuning karya, melaspas tetaring lan uparengga, nunas tirta, hingga pelaksanaan upacara-upacara lainnya.

Baca Juga  Kesenian Janger Tradisi Banjar Bengkel Duta Denpasar Siap Berlaga di PKB XLV

Lebih lanjut disampaikan bahwa Dadia Penitangan Jimbaran saat ini diempon oleh sebanyak 104 Kepala Keluarga (KK) yang secara bersama-sama bergotong-royong dalam melaksanakan seluruh rangkaian karya hingga puncak pelaksanaan. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara Hadiri “Karya Padudusan Agung” di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman

Published

on

By

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Pemelaspasan Agung rangkaian Karya Ngenteg Linggih di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman.
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri Karya Pemelaspasan Agung, rangkaian dari pelaksanaan Karya Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Melaspas, Mendem Pedagingan, dan Caru Manca Kelud di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, Selasa (4/8). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Pemelaspasan Agung rangkaian dari Karya Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Melaspas, Mendem Pedagingan, dan Caru Manca Kelud di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, Selasa (4/8). Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Penglingsir Puri Agung Kesiman Anak Agung Ngurah Kusuma Wardhana, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar Raka Purwantara, serta sejumlah tokoh adat dan undangan lainnya.

Di sela-sela pelaksanaan upacara, Walikota Jaya Negara menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi atas semangat ngayah yang ditunjukkan krama Desa Adat Kesiman. Menurutnya, pelaksanaan karya ini menjadi bukti nyata kuatnya komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian adat, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan para leluhur. Pada kesempatan tersebut, Walikota juga menyerahkan punia serta mengikuti prosesi Mendem Pedagingan di Palinggih Ratu Agung.

Jaya Negara mengatakan, Karya Padudusan Agung tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan yadnya, tetapi juga memperkuat semangat menyama braya di tengah kehidupan bermasyarakat.

“Kebersamaan yang terjalin dalam setiap proses persiapan menjadi cerminan bahwa warisan leluhur akan tetap lestari apabila dijaga dengan rasa tulus, gotong-royong, dan pengabdian yang berkelanjutan,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Bendesa Adat Kesiman, Ketut Wisna menjelaskan, rangkaian karya telah dipersiapkan secara bertahap oleh Krama Pemaksan Bumi Kebonkuri yang terdiri atas empat banjar. Rangkaian tersebut meliputi Karya Ngenteg Linggih, Padudusan Agung, Pemelaspasan Agung, Manca Kelud, Mendem Pedagingan, Muput Caru Manca Kelud, hingga Ngusaba Dalem yang akan mencapai puncaknya pada Anggara Kliwon Medangsia, 11 Agustus 2026.

“Pada Selasa, Anggara Pon Merakih tanggal 4 Agustus 2026 dilaksanakan Upacara Pemelaspasan Agung yang dipuput dua Sulinggih yakni Ida Pedanda Gde Putra Bajing, Grya Tegal Jingga Lebah, dan Ida Pedanda Darma Kerti, Grya Saraswati Batuan,” ujarnya.

Baca Juga  Sekaa Janger Padma Gita Br. Bengkel Tampilkan “Prastiteng Ing Samudera” di Gelaran PKB XLV

Lebih lanjut ia menjelaskan, tahapan awal karya diawali dengan pelaksanaan Pemelaspasan Agung (Manca Kelud) yang dirangkaikan dengan Mendem Pedagingan (Pelinggih). Prosesi ini menjadi simbol penyucian seluruh pelinggih beserta sarana upacara yang telah selesai dibangun maupun direnovasi, sekaligus memohon keselamatan agar seluruh rangkaian karya berlangsung lancar sesuai sastra agama. Menurutnya, pelaksanaan karya juga menjadi momentum mempererat persaudaraan antarkrama melalui semangat ngayah yang melibatkan seluruh unsur masyarakat adat.

Lebih lanjut, Ketut Wisna menambahkan bahwa Karya Padudusan Agung memiliki makna mendalam sebagai upaya menyucikan bhuana alit dan bhuana agung, sekaligus memperkokoh sradha bhakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya yang berstana di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Kesiman.

“Seluruh tahapan karya telah disusun secara rinci dengan melibatkan sulinggih, pemangku, prajuru adat, sekaa, dan krama pengempon, sehingga pelaksanaannya diharapkan berlangsung tertib, khidmat, serta tetap berpedoman pada pakem adat dan dresta yang diwariskan secara turun-temurun,” ujarnya. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca