Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Pj. Gubernur Bali Tampilkan Inovasi Majukan Pariwisata dan Mitigasi Bencana pada IGA 2024

BALIILU Tayang

:

pariwisata Bali
PRESENTASI: Penjabat (Pj.) Gubernur Bali, S. M. Mahendra Jaya, menyampaikan presentasi nominator penerima penghargaan Innovative Government Award (IGA) Tahun 2024 di Ruang Sidang Utama (RSU) Gedung A Lt.3 Kemendagri, Jl. Merdeka Utara No. 7, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 28 Oktober 2024. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jakarta, baliilu.com – Penjabat (Pj.) Gubernur Bali, S. M. Mahendra Jaya, memaparkan serangkaian inovasi unggulan untuk memperkuat sektor pariwisata, meningkatkan keamanan wisatawan, serta mendukung mitigasi bencana di Bali. Inovasi-inovasi ini disampaikan dalam rangka Presentasi Kepala Daerah Nominator penerima penghargaan Innovative Government Award (IGA) Tahun 2024 di Ruang Sidang Utama (RSU) Gedung A Lt.3 Kemendagri, Jl. Merdeka Utara No. 7, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 28 Oktober 2024.

Sebagai daerah wisata, Bali menghadapi risiko multi-bencana (multi-hazard), baik dari bencana alam seperti tsunami, bencana non alam, hingga permasalahan sosial. Berbagai persoalan yang timbul memerlukan penyelesaian. Sehubungan dengan hal tersebut, dibutuhkan strategi kebijakan kolaboratif yang inovatif untuk mitigasi guna mewujudkan ketenteraman, ketertiban, kenyamanan, dan keamanan bagi masyarakat serta wisatawan.

“Tourism is not only about beauty, but also safety (Pariwisata tidak hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang keamanan). Inovasi ini diharapkan dapat membantu Bali tidak hanya pulih pascapandemi Covid-19, tetapi juga semakin siap menghadapi tantangan baru,” cetus Pj. Gubernur Bali.

Arah dan kebijakan pengembangan Inovasi Daerah Provinsi Bali adalah menjaga keseimbangan dan keharmonisan Alam, Krama, dan Kebudayaan Bali berdasarkan nilai-nilai Tri Hita Karana yang bersumber dari Kearifan Lokal Sad Kerthi untuk mewujudkan kepariwisataan berstandar internasional Cleanliness Health Safety and Environmental Sustainability (CHSE).

Inovasi yang diluncurkan berfokus pada tiga aspek utama, yaitu Alam, Krama (masyarakat), dan Kebudayaan. Di bidang lingkungan alam, beberapa inisiatif yang diresmikan antara lain Bali Tsunami Early Warning System (BTEWS), sistem peringatan dini yang menggunakan teknologi murah namun efektif untuk mengantisipasi tsunami, serta Sistem Informasi Sampah (SIPAH) guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik. Program digital lain, seperti Sistem Penjualan Benih Ikan Online (SIPULIH) dan Sistem Informasi Pelayanan Perikanan (SIMPELKAN), juga dirancang untuk memajukan ekonomi lokal melalui digitalisasi.

Baca Juga  Gubernur Koster Buka Musda XV ASITA Bali, Proyeksikan Kunjungan Wisman Tembus 7,2 Juta pada 2026

Dari segi pemberdayaan masyarakat, Gubernur Mahendra Jaya memperkenalkan Polisi Pamong Praja Khusus Pariwisata sebagai unit yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban di destinasi wisata. Selain itu, ada program Molin Goes to School (MOLIN GTS), inisiatif pendidikan lingkungan hidup bagi pelajar, serta Bhakti Sosial Ngrombo yang melibatkan berbagai yayasan, komunitas, dan organisasi masyarakat dalam kegiatan sosial.

Inovasi juga terlihat dalam bidang kebudayaan, seperti pengembangan Keyboard Aksara Bali untuk melestarikan budaya Bali di dunia digital, serta sistem pelatihan tari Bali secara daring melalui Anjungan Daerah Bali di TMII Jakarta. Pj. Gubernur juga menggarisbawahi pentingnya perlindungan kekayaan intelektual masyarakat Bali dengan menyediakan layanan fasilitasi hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Dalam menumbuhkan inovasi di Provinsi Bali, S.M. Mahendra Jaya melaksanakan terobosan-terobosan guna penguatan ekosistem riset dan inovasi yang melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, fasilitasi oleh pemerintah pusat dan daerah, pemberdayaan dan pengembangan bersama sektor swasta, pemberian apresiasi dan penghargaan kepada pihak yang berkompeten, serta dukungan publikasi.

Pj. Gubernur Bali pun menyusun strategi dan arah kebijakan serta menerbitkan kebijakan-kebijakan sebagai bentuk komitmen Kepala Daerah dalam membangun ekosistem inovasi daerah. Di antaranya melalui Peraturan Gubernur Nomor 80 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Inovasi Daerah, Peraturan Gubernur Bali Nomor 22 Tahun 2024 tentang Penerapan Inovasi Pemerintah Provinsi Bali (Inovasi Inisiatif Pj. Gubernur), dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 23 Tahun 2024 tentang Polisi Pamong Praja Khusus Pariwisata.

Diharapkan sinergi antar-pemangku kepentingan semakin kuat. Pemerintah Provinsi Bali mendorong evaluasi berkala agar inovasi berjalan sesuai rencana, memberikan dampak positif, dan memungkinkan replikasi dari inovasi yang terbukti berhasil.

“Hal ini tentunya juga harus didukung dengan sistem manajerial inovasi daerah di mana proses pengelolaan dan pengembangan inovasi di tingkat pemerintah daerah ditujukan untuk meningkatkan kualitas layanan publik, efisiensi, dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga  Pj. Gubernur Bali Sambut Komitmen Alibaba Cloud untuk Dukung Transformasi Digital di Bali

Tiga inovasi unggulan Provinsi Bali yang diunggulkan Pj. Gubernur Bali untuk meraih IGA Tahun 2024 yaitu Polisi Pamong Praja Khusus Pariwisata (non-digital), Bali Tsunami Early Warning System (BTEWS) (digital), dan Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana Dunia Usaha Pariwisata Bali.

Pj. Gubernur Bali juga memperkenalkan paradigma baru Polisi Pamong Praja Khusus Pariwisata yang berperan penting dalam meningkatkan ketenteraman, keamanan, dan kenyamanan bagi wisatawan serta untuk mengatasi permasalahan akibat meningkatnya kunjungan wisatawan yang menyebabkan berbagai persoalan sosial seperti pelanggaran terhadap adat dan budaya Bali.

Untuk memberikan rasa aman dan nyaman terkait kebencanaan alam dan nonalam, Pemerintah Provinsi Bali mengembangkan inovasi dalam penanggulangan bencana berbasis teknologi, berupa Bali Tsunami Early Warning System (BTEWS), yang hadir sebagai solusi dengan konsep risiko bencana yang dikelola secara kolaboratif antara pemerintah dan unsur pentahelix, terutama sektor swasta.

Sejalan dengan itu, sertifikasi kesiapsiagaan bencana juga dilakukan untuk memberikan rasa nyaman kepada wisatawan bahwa hotel-hotel di Bali telah tersertifikasi kebencanaan demi mewujudkan Bali yang tangguh terhadap bencana.

“Inovasi-inovasi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan keamanan Bali, tetapi juga untuk menjaga harmoni alam, budaya, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan global,” pungkas S. M. Mahendra Jaya.

Presentasi Pj. Gubernur Bali sebagai nominator penerima penghargaan IGA Tahun 2024 diterima oleh Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (SKDN) Kemendagri Yusharto Huntoyungo, Sekretaris Badan SKDN Kemendagri Tommy V. Bawulang, serta tim penilai Tri Dewi Virgiyanti, Deputi Bidang Pengembangan Regional Bappenas RI, dan Yogi A. Nugraha, Pimpinan Redaksi Kompas TV.

Turut mendampingi Pj. Gubernur Bali dalam presentasi tersebut antara lain Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Bali Gede Pramana; Plh. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali Gede A. Teja Bhusana Yadnya; Kabid Pemerintahan dan Pengkajian Peraturan Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Bali Ketut Wica; dan Kabid SDA Satpol PP Provinsi Bali Made Sugiantara. (gs/bi)

Baca Juga  Pj. Gubernur Bali SM Mahendra Jaya Tanggapi Pandangan Umum Fraksi pada Sidang Paripurna Ke-23

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

Sarkofagus Berusia Ribuan Tahun Ditemukan di Desa Bengkel, Jadi Jejak Kehidupan Prasejarah

Published

on

By

Sarkofagus Peninggalan Megalitikum di Desa Bengkel
Sarkofagus yang ditemukan sekitar tahun 2006 di Banjar Salin, Desa Bengkel. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, menyimpan peninggalan bersejarah dari era prasejarah berupa sarkofagus atau peti kubur batu. Benda purbakala berbentuk menyerupai telur tersebut menjadi salah satu bukti adanya kehidupan masyarakat pada masa megalitikum di kawasan itu.

Sarkofagus tersebut ditemukan sekitar tahun 2006 di Banjar Salin, Desa Bengkel. Penemuan bermula saat aktivitas pengerukan dan perataan tanah dilakukan di lahan milik warga untuk rencana pembangunan perumahan serta pembuatan batu bata merah.

Jro Made Widiasa menuturkan, awalnya pekerja menemukan batu cadas berukuran besar ketika menggali dan meratakan gundukan tanah. Setelah dilakukan penggalian lebih lanjut, barulah terlihat bentuk benda yang diketahui sebagai sarkofagus.

“Awalnya ada gundukan tanah yang diratakan untuk perumahan. Ketika digali, pekerja menemukan batu cadas berukuran besar. Setelah terus digali, barulah terlihat wujud sarkofagus tersebut,” ujar Jro Made Widiasa selaku Tetua dan Tokoh Adat setempat, saat ditemui, Sabtu 7 November 2026.

Sarkofagus tersebut memiliki panjang sekitar 1,5 meter dengan bentuk bulat polos tanpa ukiran maupun motif hiasan. Karakteristiknya disebut menyerupai sarkofagus yang sebelumnya ditemukan di kawasan Gilimanuk.

Dalam tradisi megalitikum, sarkofagus merupakan wadah pemakaman yang umumnya dikaitkan dengan tokoh-tokoh penting dalam kelompok masyarakat, seperti pemimpin komunitas maupun orang yang dihormati.

Keberadaan peninggalan tersebut pun menjadi petunjuk penting untuk menelusuri kehidupan masyarakat prasejarah di Desa Bengkel. Temuan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan komunitas serta perkembangan kehidupan sosial masyarakat pada masa lampau.

“Temuan ini menjadi dasar bagi kami untuk melakukan eksplorasi dan penelitian lebih lanjut. Hal ini membuktikan bahwa ada kehidupan dan komunitas masyarakat yang berkembang di Desa Bengkel sejak zaman prasejarah, perkiraannya berasal dari tradisi megalitikum,” tambahnya.

Baca Juga  Dibuka Presiden Jokowi, Pj. Gubernur Bali Hadiri Musrenbangnas 2024

Namun, proses pengungkapan sejarah peninggalan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mudah. Saat pertama kali ditemukan, sejumlah pecahan tembikar yang berada di sekitar lokasi sempat terbuang sebelum sempat diteliti lebih lanjut.

Selain itu, berkembangnya cerita mistis di tengah masyarakat, termasuk adanya warga yang mengalami kerauhan atau kesurupan, turut memengaruhi proses penelitian mendalam terhadap temuan tersebut.

Penelitian kemudian mulai direalisasikan dengan melibatkan tim ahli dan kalangan akademisi untuk menggali informasi mengenai nilai sejarah serta konteks keberadaan sarkofagus tersebut.

Hingga kini, peninggalan purbakala itu masih disimpan dan dilestarikan di lokasi asalnya di Banjar Salin, Desa Bengkel. Keberadaannya menjadi bagian dari kekayaan sejarah desa yang perlu dijaga sekaligus diteliti lebih lanjut. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan Rp 98 Juta kepada Tiga Korban Kebakaran di Jembrana

Pemprov Bali Juga Salurkan Bantuan Penguatan Ekonomi Rp 206 Juta kepada 27 Penerima

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan untuk Korban Kebakaran
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial senilai total Rp 98 juta kepada tiga warga terdampak bencana kebakaran di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial senilai total Rp 98 juta kepada tiga warga terdampak bencana kebakaran di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). Bantuan tersebut diperuntukkan bagi perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan akibat kebakaran.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub Giri Prasta didampingi Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan; mantan Bupati Jembrana periode 2000–2010, I Gede Winasa; serta Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya.

Bantuan sosial diserahkan secara simbolis kepada tiga penerima dengan nilai yang disesuaikan berdasarkan kondisi kerusakan bangunan akibat kebakaran.

Ketiga penerima tersebut yakni I Ketut Sumerta, warga Banjar Ketiman, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, yang menerima bantuan Rp 23 juta untuk perbaikan rumah dengan kategori rusak sedang.

Selanjutnya, I Kadek Dwi Loka Wijaya, warga Banjar Dauh Pangkung, Desa Pekutatan, Kecamatan Pekutatan, menerima bantuan Rp 50 juta untuk perbaikan rumah dan balai sari yang mengalami kerusakan berat.

Sementara itu, Ahmad Kurniawan, warga Banjar Anyar, Desa Air Kuning, Kecamatan Jembrana, menerima bantuan Rp 25 juta untuk perbaikan rumah yang mengalami kerusakan sedang.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah kebakaran yang menimpa warga. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus berupaya hadir membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan akibat bencana.

“Ini adalah wujud implementasi program Bapak Gubernur Bali, salah satunya dalam penanganan bencana. Atas nama Pemerintah Provinsi Bali, kami memberikan bantuan sesuai dengan kerugian yang dialami masyarakat akibat bencana,” ujar Wagub Giri Prasta.

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung pemulihan tempat tinggal agar warga dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman.

Baca Juga  Bali Peringkat Satu Dunia, Kalahkan London, Hanoi, Dubai dan NY, Menpar: Ini Representasi Jutaan Ulasan Objektif Wisatawan

“Bantuan ini sudah dipergunakan untuk membangun kembali rumah yang sebelumnya terkena bencana. Semoga rumah yang dibangun ini bisa dijadikan tempat beraktivitas yang aman dan nyaman,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Wagub Giri Prasta juga menyerahkan bantuan tambahan senilai Rp 2 juta kepada salah satu korban kebakaran, I Ketut Sumerta.

Selain bantuan perbaikan rumah bagi korban kebakaran, Pemerintah Provinsi Bali juga menyalurkan bantuan sosial berupa penguatan ekonomi kepada 27 penerima manfaat di Kabupaten Jembrana dengan total nilai mencapai Rp 206 juta.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Bali, penyaluran kedua jenis bantuan tersebut mencapai Rp 304 juta, terdiri atas bantuan perbaikan rumah sebesar Rp 98 juta kepada tiga penerima dan bantuan penguatan ekonomi sebesar Rp 206 juta kepada 27 penerima.

Bantuan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Bali dalam mendukung pemulihan masyarakat yang terdampak bencana atau musibah, baik dari aspek tempat tinggal maupun kondisi ekonomi.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Bali, penyerahan bantuan pada 5 November 2026 merupakan penyerahan bantuan yang kesepuluh di Kabupaten Jembrana sejak awal tahun 2026.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali telah melaksanakan sembilan kali penyerahan bantuan serupa dengan nilai keseluruhan mencapai Rp 507,5 juta.

Dengan tambahan bantuan sebesar Rp304 juta yang diserahkan pada 5 November 2026, total bantuan sosial yang telah disalurkan kepada masyarakat Kabupaten Jembrana hingga November 2026 mencapai Rp 811,5 juta.

Penyaluran bantuan secara berkelanjutan tersebut menjadi salah satu bentuk kehadiran Pemerintah Provinsi Bali dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana atau musibah serta mendukung percepatan pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi warga. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan kepada 27 Petani Terdampak Gagal Panen di Jembrana

Dorong Konservasi Sumber Air dan Perlindungan Harga Hasil Pertanian untuk Menjaga Kesejahteraan Petani

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan untuk Petani Jembrana
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial penguatan ekonomi kepada 27 petani terdampak kekeringan dan gagal panen di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial penguatan ekonomi kepada 27 petani terdampak kekeringan dan gagal panen di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). Bantuan diserahkan di Balai Subak Pangkung Buluh, didampingi Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan.

Sebanyak 27 petani penerima bantuan berasal dari tiga subak, yakni Subak Peh, Subak Pangkung Buluh, dan Subak Tegal Jati. Mereka mengalami kerugian akibat keterbatasan pasokan air irigasi selama musim kemarau yang berdampak terhadap produktivitas pertanian.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub Giri Prasta menyerahkan bantuan secara simbolis kepada empat perwakilan petani, yakni I Ketut Kaler sebesar Rp 20 juta, I Ketut Waca sebesar Rp 15,6 juta, I Ketua Malya sebesar Rp 8,9 juta, dan I Made Winata sebesar Rp 8,4 juta.

“Ini program dari Pemerintah Provinsi Bali. Semoga bantuan ini dapat mengurangi beban masyarakat petani yang terdampak gagal panen,” ujar Giri Prasta.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali memberikan perhatian terhadap kondisi petani yang mengalami kerugian akibat kekeringan. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan usaha pertanian, memperkuat ekonomi keluarga, serta menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian.

Wagub Giri Prasta mengapresiasi kerja keras para petani yang terus berupaya mempertahankan produktivitas pertanian di tengah keterbatasan ketersediaan air. Menurutnya, petani memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan.

Ia menyampaikan bahwa Gubernur Bali memberikan perhatian terhadap kondisi petani yang mengalami gagal panen agar mereka tidak harus menanggung kerugian tanpa adanya dukungan pemerintah.

“Pemerintah hadir untuk membantu meringankan kerugian yang dialami petani. Kita tidak ingin para petani yang sudah bekerja keras justru menghadapi kesulitan tanpa mendapatkan perhatian,” ungkapnya.

Baca Juga  Follow Up Kesepakatan DPR RI dan Pemerintah, Gubernur Koster Temui Tiga Menteri, Pastikan Infrastruktur Bali Segera Dibangun

Dalam dialog bersama Wagub Giri Prasta, sejumlah petani menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari menurunnya debit air irigasi, kerusakan saluran pengairan, hingga harga jual hasil pertanian yang dinilai belum menguntungkan petani.

I Ketut Kaler mengeluhkan semakin berkurangnya debit air irigasi yang berdampak terhadap produktivitas dan pendapatan krama subak. Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap stabilitas harga hasil pertanian.

Sementara itu, I Ketut Waca menyampaikan persoalan kebocoran saluran irigasi yang menyebabkan distribusi air ke lahan pertanian tidak optimal. Ia juga mengusulkan perbaikan sumur bor serta penggantian pompa berbahan bakar solar menjadi pompa bertenaga listrik.

“Kami berharap sumur bor yang ada dapat diperbaiki dan menggunakan tenaga listrik. Selama ini penggunaan bahan bakar solar menjadi kendala karena sulit diperoleh,” ujar I Ketut Waca.

Menanggapi persoalan menurunnya debit air irigasi, Wagub Giri Prasta menekankan pentingnya langkah konservasi sumber daya air secara berkelanjutan. Ia mengajak pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan krama subak bersinergi menjaga kawasan hulu bendungan melalui penghijauan dan penanaman pohon.

Secara khusus, Giri Prasta menyoroti pentingnya pelestarian kawasan hulu Bendungan Benel dan Bendungan Palasari sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian.

“Di sini ada Bendungan Benel dan Bendungan Palasari. Kita harus mulai melakukan penanaman pohon yang mendukung kelestarian sumber air di kawasan hulu bendungan. Ini untuk kepentingan jangka panjang, bagi anak cucu dan generasi mendatang,” tegasnya.

Menurutnya, konservasi kawasan hulu menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan air irigasi sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan sumur bor.

Ia juga mengaitkan upaya pelestarian lingkungan tersebut dengan nilai kearifan lokal Bali melalui perayaan Tumpek Uduh yang mengajarkan penghormatan dan pemuliaan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan.

Baca Juga  Gubernur Koster Buka Musda XV ASITA Bali, Proyeksikan Kunjungan Wisman Tembus 7,2 Juta pada 2026

Selain persoalan ketersediaan air, Wagub Giri Prasta turut menyoroti pentingnya perlindungan harga hasil pertanian agar para petani memperoleh pendapatan yang layak, terutama saat memasuki musim panen.

Ia menyampaikan bahwa persoalan harga hasil pertanian telah dikoordinasikan dengan tim pengendalian inflasi daerah sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga pasar dan melindungi kepentingan petani.

Menurutnya, upaya menjaga harga hasil pertanian merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan sebagaimana menjadi prioritas pemerintah pusat.

“Ini tanggung jawab pemerintah untuk menjaga kedaulatan pangan, sesuai arahan Bapak Presiden Republik Indonesia. Kami akan berupaya menjaga agar harga hasil pertanian tidak jatuh saat musim panen,” tegas Giri Prasta.

Melalui penyerahan bantuan sosial penguatan ekonomi tersebut, Pemerintah Provinsi Bali berharap para petani terdampak gagal panen dapat kembali menjalankan aktivitas pertanian sekaligus mempertahankan perekonomian keluarga.

Selain bantuan langsung, perhatian terhadap keberlanjutan sektor pertanian juga diarahkan pada upaya pelestarian sumber air, perbaikan sistem irigasi, serta stabilisasi harga hasil pertanian agar kesejahteraan petani dapat terus ditingkatkan.

Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca