Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Gong Kebyar Legendaris Hipnotis Gubernur Koster hingga Detik Akhir, Minta Dukungan Krama Bali agar Seni Hidup Selamanya

BALIILU Tayang

:

Gong Kebyar Legendaris
GONG KEBYAR LEGENDARIS: Gubernur Bali Wayan Koster berswafoto dengan salah seorang peserta saat menghadiri Utsawa (Parade) Gong Kebyar Legendaris dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre, Denpasar, Sabtu malam (28/6). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Suasana penuh semangat membalut Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre, Denpasar, Sabtu malam (28/6). Ribuan pasang mata tertuju ke panggung utama, tribun penonton penuh sesak sejak sore hari, bahkan beberapa di antaranya rela berdiri, hanya demi menyaksikan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Legendaris yang menjadi salah satu pementasan paling ditunggu dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025.

Di tengah dentingan gamelan yang menggema, hadir Gubernur Bali, Wayan Koster, yang tampak duduk khusyuk menyaksikan pertunjukan hingga akhir acara. Ia tak sendiri. Tampak pula mendampingi sejumlah tokoh penting, seperti Bupati Badung Wayan Adi Arnawa, Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, Ketua DPRD Gianyar Ketut Sudarsana, serta Danrem 163/Wirasatya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra.

“Satu kata ‘Luar biasa’… para penarinya begitu energik, para penabuhnya sangat luwes walaupun sudah berumur. Membuat kami menjadi termotivasi!” ujar Gubernur Koster penuh semangat ketika diwawancarai seusai acara.

Tak hanya memuji penampilan, Gubernur Koster juga menyinggung sisi perjuangan di balik panggung yang mungkin tak semua penonton sadari. Ia mengungkapkan, proses persiapan para seniman ini memakan waktu panjang — minimal tiga bulan latihan intensif, empat jam setiap hari, untuk menciptakan harmoni sempurna antara tabuh dan gerak tari.

“Kerja keras para seniman ini sungguh patut diapresiasi. Inilah alasan saya memilih bertahan menonton dari awal sampai akhir. Ini bentuk penghormatan saya kepada mereka. Saya ingin mereka merasakan kepuasan bahwa karya seni yang mereka tampilkan benar-benar dihargai,” imbuhnya.

Pernyataan ini menggambarkan sisi empatik dari seorang pemimpin yang tak hanya hadir secara seremonial, melainkan juga terlibat secara emosional, menghayati setiap detik pementasan sebagai bentuk penghargaan nyata kepada para seniman Bali.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Hadiri Langsung Utsawa Gong Kebyar Dewasa Duta Tabanan PKB XLVII 2025

Gubernur Koster juga mengajak seluruh masyarakat Bali untuk terus memberi dukungan nyata kepada dunia seni.

“Masyarakat Bali patut mendukungnya, agar seni kita tetap hidup, tetap terjaga dengan baik, dan kualitasnya semakin baik,” pungkasnya.

Rangkaian Penampilan Gong Kebyar Legendaris diisi oleh tiga duta seni dari tiga kabupaten, yang tampil secara bergantian, yakni : 1. Duta Kabupaten Badung diwakili Sekaa Gong Taruna Jaya, Banjar Lambing, Desa Mekar Bhuana, Kecamatan Abiansemal tampil pertama dengan mementaskan beberapa karya diantaranya Tabuh Pupuh Kaduhung, Tabuh Kreasi Kumbang Atarung serta Legong Kreasi Widya Lalita sebagai penutup; berikutnya 2. Duta Kabupaten Buleleng diwakili Sekaa Gong Kebyar Giri Kusuma, Banjar Dinas Kawanan Bontihing, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan membawakan karya Tabuh Telu (ciptaan almarhum I Nyoman Durpa, 1984), Tabuh Kreasi Pudak Sumekar, dan Tabuh Bebarisan Sura Murti; 3. Penampil ketiga yakni, Duta Kabupaten Gianyar yang diwakili Sekaa Gong Kusumatirta, Banjar Kawan, Kecamatan Tampaksiring tampil memukau dengan Tabuh Telu Dharma Raksata Raksita, Tari Bebarisan karya kolektif Tampaksiring, Tabuh Kreasi Pepanggulan Jagra Kasturi, serta Tabuh Mayura Kencana sebagai penutup

Tak hanya menjadi pertunjukan seni, Utsawa Gong Kebyar Legendaris ini juga menjadi ajang pengikat rasa antargenerasi, antardaerah, dan antarpemimpin serta rakyatnya. Semangat kolaborasi, cinta budaya, dan bangga akan jati diri Bali terasa begitu nyata malam itu. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Gubernur Koster Anugerahi 12 Seniman, Budayawan, Pengabdi Seni Penghargaan Adi Sewaka Nugraha

Published

on

By

adi sewaka nugraha
BERIKAN PENGHARGAAN: Gubernur Bali Wayan Koster memberikan Penghargaan Adi Sewaka Nugraha kepada 12 Seniman/Budayawan/Pengabdi Seni yang telah berjasa dalam penguatan seni tradisi, seni klasik, dan seni rakyat di Provinsi Bali pada penutupan PKB 2026, Sabtu (11/7/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster memberikan Penghargaan Adi Sewaka Nugraha kepada 12 Seniman/Budayawan/Pengabdi Seni yang telah berjasa dalam penguatan seni tradisi, seni klasik, dan seni rakyat di Provinsi Bali.

Kedua belas Seniman/Budayawan/Pengabdi Seni ini, diantaranya bernama Cokorda Putra, ST, M.Si (Seniman Tari), I Nyoman Artana A.Ma, Pd (Seniman Undagi), I Ketut Tarka (Seniman Kerawitan), I Wayan Juana Adi Saputra, S.Sn (Seniman Tari), Wayan Arnawa (Seniman Seni Rupa), Jro Made Sariani (Seniman Drama Gong), I Putu Manudipa (Seniman Sastra Daerah), I Dewa Gede Darmayasa, S.Skar., M.Fil.,H (Seniman Kerawitan), I Gusti Ngurah Artawan, S.Sn (Seniman Pedalangan), Ni Made Kinten (Seniman Tari), I Dewa Gede Alit Saputra (Sastrawan), dan Dr. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn (Seniman Kerawitan).

Gubernur Bali Wayan Koster yang menyerahkan langsung Penghargaan Adi Sewaka Nugraha pada acara penutupan Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Denpasar, Sabtu (Saniscara Wage, Medangsia) tanggal 11 Juli 2026 malam, menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Bali memberikan apresiasi kepada para Seniman/Budayawan/Pengabdi Seni di Pulau Bali ini dengan bantuan dana sebesar Rp 50 juta, karena tanpa beliau-beliau ini, seni budaya Bali tidak bisa hidup berkelanjutan.

“Gubernur tidak bisa membuat karya seni, tetapi hanya bisa membuat kebijakan, akan tetapi kebijakan tanpa ada pelaku, tidak akan ada artinya. Jadi kita harus berterimakasih kepada pelaku seni budaya Bali, mereka sebagai pelestari yang memajukan seni budaya Bali harus kita apresiasi,” ujar Gubernur Koster.

Gubernur Bali dua periode ini menyampaikan rasa syukurnya, karena di Bali ini ada empat hal penting yang saling bersinergi selama sebulan penuh PKB. Pertama, pencipta karya seni, kedua ada pelaku seni yang menari sampai menabuh; ketiga ada partisipan seni (Gubernur, Bupati/Walikota melalui kebijakannya, red); dan empat ada penonton yang menikmati hasil karya seni.

Baca Juga  Aura “Metaksu” Barong Ket Duta Denpasar Memikat Penonton di Panggung PKB XLVII 2025

Sebagai penutup, Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini mengajak semua pemimpin di Bali harus utuh mencintai seni dan budaya Bali. Karena sebagai pemimpin di Bali, mesti membangun ekosistem budaya, dan mendorong para senimannya untuk terus berkarya.

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa Penghargaan Adi Sewaka Nugraha adalah anugerah tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Bali di masa kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster kepada para seniman, budayawan, dan pengabdi seni sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengorbanannya dalam melestarikan, mengembangkan, dan memajukan seni dan budaya Bali. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Tutup PKB Ke-48 dan Buka Festival Seni Bali Jani VIII 2026, Gubernur Koster: Jangan Bosan, Bali Terkenal karena Budaya

Budaya Bali Warisan Adi Luhung Leluhur yang Membangun Berbagai Aspek Kehidupan

Loading

Published

on

By

penutupan pkb
TUTUP PKB 2026: Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Denpasar, pada Sabtu (Saniscara Wage, Medangsia) tanggal 11 Juli 2026 malam yang ditandai dengan pemukulan Gong Beri dan peluncuran tema Pesta Kesenian Bali XLIX Tahun 2027, yakni Wana Kerthi: Byana Sandharana Loka (Hutan Penyangga Kehidupan). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Denpasar, pada Sabtu (Saniscara Wage, Medangsia) tanggal 11 Juli 2026 malam yang ditandai dengan pemukulan Gong Beri dan peluncuran tema Pesta Kesenian Bali XLIX Tahun 2027, yakni Wana Kerthi: Byana Sandharana Loka (Hutan Penyangga Kehidupan).

Dengan ditutupnya Pesta Kesenian Bali ke-48 Tahun 2026, estafet geliat berkesenian di Provinsi Bali tidak berhenti, namun pada hari yang sama Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi juga membuka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, dengan mengusung tema: Kembara Sukma Atma Kerthi yang bermakna Pengembaraan Menuju Jiwa Mahasuci.

Acara Penutupan Pesta Kesenian Bali Tahun 2026 yang dihadiri Ratu Sri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun, Ketua DPRD Provinsi Bali, Wakapolda Bali, Bupati dan Walikota Se-Bali, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, para seniman dan budayawan ini menampilkan sajian Tari Baris Bandana Manggala Yudha dan pagelaran Drama Klasik Kolosal “Sumpah Drupadi” Garapan Sanggar Teater Mini, yang disaksikan secara langsung oleh ribuan masyarakat di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center.

Untuk diketahui, melalui pelaksanaan Pesta Kesenian Bali ini, spirit Bali Padma Bhuwana yakni Bali sebagai Pusat Peradaban Dunia terus dikuatkan sebagai wujud ikhtiar pengarusutamaan dalam menjaga, merawat, dan mengonservasi alam Bali sekaligus memajukan manusia dan kebudayaan Bali. Hal itulah yang menjadikan pelestarian seni, budaya, adat, tradisi, agama menjadi program prioritas utama pembangunan di Provinsi Bali, sejalan dengan Visi Pembangunan Provinsi Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.

Baca Juga  Gubernur Koster Saksikan Parade Gong Kebyar Wanita dan Drama Gong Tradisi di PKB 2025

Pesta Kesenian Bali hadir sebagai monumen penghargaan dan kecintaan masyarakat Bali pada seni budaya Bali yang luhur dan mulia. Pesta Kesenian Bali telah menjadi ruang aktualisasi

seniman Bali dalam memanggungkan kualitas capaian berbagai ragam seni dan kerajinan, baik karya cipta perseorangan, kelompok maupun komunal. Oleh sebab itu Pesta Kesenian Bali hadir menjadi ruang untuk mengumandangkan ekspresi seni budaya kolosal.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menyerahkan Piagam Penghargaan Adi Sewaka Nugraha Tahun 2026 kepada 12 seniman yang telah berjasa dalam melestarikan, mengembangkan, dan memajukan seni budaya Bali.

Penghargaan juga diserahkan Gubernur Wayan Koster bersama Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara, Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, dan Bupati Klungkung, I Made Satria kepada Pemenang Wimbakara (Lomba) PKB XLVIII untuk Juara I, II, III dan Harapan Lomba Mewarnai, Seni Lukis Wayang Bali, Mesatua Bali, Gender Wayang Anak-anak, Karya Tulis Berita Kisah untuk Wartawan, Taman Penasar, Tari Barong Ket, dan Lomba Beleganjur Remaja. Selanjutnya, kepada pemenang Pacentokan (Lomba) Jantra Tradisi Balo 2026 untuk Juara I, II, III dan Harapan Pacentokan Layangan Pecukan, Membuat Sunari, Olahraga Tradisional Tajog Putra, Olahraga Tradisional Terompah Putri, Olahraga Tradisional Hadang Putra dan Putri, dan Olahraga Tradisional Deduplak Putra.

Terakhir, Gubernur Koster menyerahkan Sertifikat Standarisasi dan Sertifikasi Lembaga Seni kepada 9 perwakilan Kabupaten/Kota se-Bali.

Dalam sambutannya, Gubernur Wayan Koster mengajak krama dan semeton Bali untuk terus mencintai seni budaya Bali.

“Jangan pernah bosan untuk berbudaya, karena budaya-lah yang membuat Bali ini terkenal di dunia, karena budaya Bali menjadi destinasi wisata utama dunia, dan ekonomi Bali tumbuh secara berkelanjutan. Jadi budaya di Bali merupakan warisan adi luhung leluhur kita yang sangat luar biasa, yang membangun berbagai aspek kehidupan,” kata Koster.

Baca Juga  Putri Koster Siapkan Parade Busana Adat Khas Daerah di PKB 2025

Terkait dengan dibukanya FSBJ VIII Tahun 2026, maka perlu diketahui bahwa penyelenggaran Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 berlangsung mulai hari ini 11 Juli 2026 sampai dengan 25 Juli 2026 mendatang.

Festival Seni Bali Jani hadir sebagai panggung ekspresi, eksplorasi dan kolaborasi seni lintas batas untuk merespons fenomena dan dinamika perkembangan seni saat ini. FSBJ menjadi ruang temu para sastrawan, dramawan, komposer, koreografer, kreator dan insan-insan kreatif lainnya, untuk menunjukkan karya terbaiknya, membahas isu-isu terkini, dalam sebuah garapan kreatif, inovatif dan eksperimental, mengadaptasi perkembangan teknologi terkini namun tetap kuat berakar pada nilai-nilai luhur tradisi Bali.

Pemerintah Provinsi Bali yang dipimpin oleh Gubernur Bali Wayan Koster bersama Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta memberikan perhatian dan ruang apresiasi yang sama bagi kesenian tradisi dan modern. Keduanya mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sama, sebagai upaya pengembangan dan keberlanjutan kehidupan seni budaya di Bali.

Atas hal itu, Festival Bali Jani Tahun 2026 siap menghadirkan berbagai aktivitas seni modern yang dikemas dalam delapan materi pokok FSBJ, yang meliputi 1) Adilango (Pergelaran); 2) Utsawa (Parade); 3) Pawimba (Lomba); 4) Aguron-guron (Lokakarya); 5) Timbang Rasa (Sarasehan); 6) Megarupa (Pameran); 7) Beranda Pustaka (Bursa Buku); dan 8) Pemberian Penghargaan Bali Jani Nugraha. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Dua Karya Menyemai Jejak Purnama Bali–Jeju di Pameran Internasional “Prakriti Pustaka Padma” ARMA

Published

on

By

wayan sujana suklu
FEMINA LUNARIS: Karya I Wayan Sujana Suklu, ”Femina Lunaris”, 125X148 Cm. Acrylic, Sodas, Fox on Cnavas. (Foto: bi)

Ubud, Gianyar, baliilu.com – Seniman dan akademisi seni I Wayan Sujana Suklu berpartisipasi dalam pameran internasional seni kekriyaan “Prakriti Pustaka Padma” yang diselenggarakan di ARMA (Agung Rai Museum of Art), Ubud, pada 8–18 Juli 2026. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun Museum ARMA, yang diperingati pada 9 Juni 2026. Pameran diresmikan oleh Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn.

Menghadirkan 50 seniman dari delapan negara, pameran ini menampilkan 79 karya seni kriya dwimatra dan trimatra yang merepresentasikan beragam pendekatan kontemporer terhadap tradisi kekriyaan. Melalui tema “Prakriti Pustaka Padma”, para seniman diajak mengeksplorasi hubungan antara alam, pengetahuan, spiritualitas, dan praktik artistik.

LUKISAN: Karya I Wayan Sujana Suklu, ”Purnama di Jeju, Ingatan di Bali”, 200X200 Cm. Acrylic, Sodas, Fox on Canvas. (Foto: bi)

Dalam pameran ini, I Wayan Sujana Suklu menghadirkan dua karya berjudul Femina Lunaris dan Purnama di Jeju, Ingatan di Bali. Kedua karya tersebut berangkat dari pengalaman artistik selama dua dekade setelah kunjungannya ke Pulau Jeju, Korea Selatan, pada tahun 2005. Bulan purnama menjadi metafora utama yang merekam perjalanan batin, memori lintas budaya, sekaligus simbol pencapaian spiritual yang terus bertumbuh.

Secara visual, kedua karya dibangun melalui metode menganyam garis, yaitu pengulangan ribuan sapuan garis dan lapisan warna yang disusun secara ritmis hingga membentuk bidang-bidang padat bertekstur. Pendekatan repetitif ini tidak hanya menghadirkan kualitas meditatif dalam proses penciptaan, tetapi juga memperlihatkan kedekatan yang kuat dengan nilai-nilai kekriyaan, di mana ketekunan, presisi, kesabaran, dan pengulangan menjadi bagian penting dari estetika maupun metode kerja. Setiap garis berfungsi layaknya sehelai serat dalam anyaman, membangun struktur visual yang utuh sekaligus menyimpan jejak waktu dan kerja tangan.

Baca Juga  Pemkot Denpasar Kembali Gelar Parade Gong Kebyar Wanita dan Anak-anak di Tahun 2024

Bagi Sujana Suklu, proses melukis melalui repetisi garis merupakan praktik kontemplatif. Setiap sapuan menjadi rekaman pengalaman, sehingga permukaan kanvas berubah menjadi “pustaka” yang menyimpan ingatan tentang perjalanan antara Jeju dan Bali. Dalam konteks tema “Prakriti Pustaka Padma”, kedua karya tersebut memaknai alam sebagai sumber pengalaman (prakirti), lukisan sebagai arsip pengetahuan hidup (pustaka), dan purnama sebagai simbol tumbuhnya kesadaran batin (padma).

Keikutsertaan dua karya ini sekaligus menjadi penanda awal bagi proyek pameran tunggal bertajuk Full Moon in Jeju, Memories in Bali, yang tengah dipersiapkan di Sudakara Art Space. Pameran mendatang dirancang sebagai sebuah pengalaman artistik lintas disiplin yang tidak hanya menampilkan lukisan, tetapi juga mempertemukan seni rupa, mode, musik, dan pertunjukan dalam satu kesatuan narasi.

Proyek tersebut akan melibatkan para pendiri Intermingle Art Project (IAP) sebagai bentuk kolaborasi yang telah berkembang selama lebih dari satu dekade. Tjok Ratna Cora akan menghadirkan TARAKA Eco Art Fashion, sebuah karya yang memadukan fesyen, material berkelanjutan, dan ekspresi artistik. I Gusti Ngurah Sudibya akan menampilkan pertunjukan Agni Diri, yang mengeksplorasi simbolisme tali-tali merah berpendar jingga dan emas sebagai metafora energi kehidupan dan transformasi. Sementara itu, Ketut Sumerjana akan menyajikan komposisi musik Cosmic Octave, yang berangkat dari konsep planetary frequencies sebagai upaya menerjemahkan harmoni kosmis ke dalam pengalaman bunyi.

Karya “Femina Lunaris” dan pecinta seni. (Foto: bi)

Melalui rangkaian karya tersebut, Full Moon in Jeju, Memories in Bali dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas medium yang mempertemukan memori, kosmologi, dan praktik artistik kontemporer. Purnama menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh ekspresi kreatif, bukan hanya sebagai citra visual, melainkan sebagai simbol perjalanan, kesadaran, dan keterhubungan manusia dengan alam semesta.

Pengunjung pameran dan karya-karya seni kekriyaan. (Foto: bi)

Keikutsertaan Femina Lunaris dan Purnama di Jeju, Ingatan di Bali dalam “Prakriti Pustaka Padma” menjadi momentum penting yang menegaskan bahwa praktik kekriyaan tidak hanya hadir melalui pilihan material, tetapi juga melalui disiplin proses, pengulangan yang tekun, dan kerja tangan yang melahirkan nilai-nilai kontemplatif. Dari ribuan garis yang dianyam di atas kanvas, lahirlah sebuah bahasa visual yang menjembatani Bali dan Jeju, masa lalu dan masa kini, serta tradisi dan praktik seni kontemporer. (*/bi)

Baca Juga  Sejarah Desa Blahkiuh Menggema di PKB 2025 Lewat Penampilan Sekaa Gong Wira Agra Kusuma Duta Badung

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca