Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Bupati Sanjaya Hadiri Langsung Utsawa Gong Kebyar Dewasa Duta Tabanan PKB XLVII 2025

BALIILU Tayang

:

Bupati Sanjaya
GONG KEBYAR: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya saat menghadiri langsung Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Tabanan yang tampil dalam rangka memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025, Rabu (9/7). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Sorak kagum dan tepuk tangan meriah menggema di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Centre Denpasar, saat para seniman muda dari Tabanan menampilkan karya terbaiknya dalam ajang Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa Duta Kabupaten Tabanan yang tampil dalam rangka memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025, Rabu (9/7). Kehadiran langsung Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya bersama Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, menjadi suntikan semangat tersendiri bagi para penampil.

Tak hanya masyarakat umum, acara yang sarat nilai budaya ini juga dihadiri langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster dan jajaran. Dari Kabupaten Tabanan tampak juga hadir Wakil Bupati, I Made Dirga, Anggota DPRD dan perwakilan jajaran Forkopimda Kabupaten Tabanan, Sekda beserta Kepala Perangkat Daerah dan staf terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan dan juga undangan terkait lainnya.

Di kesempatan itu, Penampilan seniman Duta Kabupaten Tabanan berhasil mencuri perhatian dengan pertunjukan penuh totalitas dari Sekaa Gong Satyaning Kebo Taruna, Yowana Desa Adat Bedha, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan. Dengan garapan musik dan tari yang matang, mereka tampil sebagai perwakilan seniman yang membanggakan Tabanan. Mereka menampilkan Tabuh Nem Lelambatan bertajuk “Tungtung Tangis III”, sebuah komposisi gamelan klasik. Suguhan ini kemudian dilanjutkan dengan Tari Kreasi Kekebyaran berjudul “Awor Tiga”, yang memesona dengan dinamika dan teknik tari tingkat tinggi.

Selanjutnya yakni fragmentari berjudul “Wiwitaning Bedha” juga dipentaskan. Cerita yang menggali nilai-nilai lokal dan kearifan budaya Bali ini dikemas apik dalam seni peran, tari, dan musik yang berpadu harmonis. Antusiasme tinggi dari para penonton menjadi bukti betapa kuatnya daya pikat pementasan yang ditampilkan. Sanjaya sampaikan apresiasi tinggi kepada para seniman muda yang telah membawa harum nama Tabanan.

Baca Juga  ‘’Pengelukatan Banyu Pinaruh’’, Penguatan Sisi Spiritual Masyarakat Tabanan

“Saya bersama Ibu Bupati didampingi Wakil Bupati dan jajaran hadir di PKB, menyaksikan secara langsung Gong Kebyar Dewasa yang diwakili Desa Adat Bedha. Luar biasa. Jadi saya lihat tadi bagaimana seniman-seniman Tabanan tampil berhadapan dengan seniman Denpasar memukau sekali. Kedua seniman ini luar biasa, jadi saya apresiasi sekali. Tadi kita menyaksikan tentang bagaimana sejarah Bedha, diaktualisasi dalam seni budaya. Ini sangat mengesankan buat kita, saya apresiasi buat seniman Tabanan dan mudah-mudahan kedepan tampil lebih baik untuk mewakili Kabupaten Tabanan yang kita cintai,” pungkas Bupati Sanjaya.

Sebagaimana diketahui, bahwa kehadiran pemimpin daerah secara langsung di panggung kebudayaan seperti ini menjadi simbol kuat, bahwa pemerintah serius dalam menjaga dan mengembangkan sektor seni dan budaya sebagai identitas daerah, khususnya Tabanan. Selain menjadi ajang unjuk kreativitas, PKB juga menjadi wadah regenerasi seniman Bali. Nuansa kebersamaan, semangat gotong-royong, serta eksplorasi artistik menjadi kekuatan utama yang membawa Duta Kabupaten Tabanan tampil memukau.

Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya, juga menyampaikan kebanggaannya atas penampilan yang ditunjukkan oleh para seniman dalam panggung PKB ini. “Malam ini saya sungguh terpesona dengan penampilan duta Tabanan. Seniman kita di Tabanan luar biasa, mereka tidak hanya tampil apik, tetapi juga menunjukkan kecintaan terhadap budaya leluhur. Harapan saya, seni dan budaya ini bisa terus dilestarikan agar generasi mendatang tetap memiliki jati diri yang kuat,” ungkapnya penuh semangat.

Dengan energi positif dan dukungan penuh dari pemerintah daerah. Pihaknya berharap para seniman muda Tabanan bisa terus melahirkan karya-karya hebat yang tak hanya menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. PKB XLVII diharapkan menjadi saksi bagaimana generasi muda Tabanan yang berkreasi dengan sungguh-sungguh menjaga warisan budaya dengan cara yang elegan dan penuh dedikasi. (gs/bi)

Baca Juga  ‘’Karya Ngenteg Linggih’’ Pura Beji Desa Adat Peneng Tabanan

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Parade Baleganjur Bebarongan, Tampilkan Seni Sarat Makna Spiritual dan Nilai Budaya

Published

on

By

Parade Baleganjur gianyar
BALEGANJUR BEBARONGAN: Salah satu penampilan parade baleganjur bebarongan pada Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. (Foto: Hms Gianyar)

Gianyar, baliilu.com – Pemerintah Kabupaten Gianyar menggelar Parade Baleganjur Bebarongan Kecamatan se-Kabupaten Gianyar sebagai rangkaian Pekan Budaya Gianyar di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Kamis (9/4) malam. Kegiatan ini menampilkan kekayaan seni tradisional Bali yang sarat akan makna spiritual dan nilai-nilai budaya.

Dalam parade, masing-masing kecamatan di Kabupaten Gianyar menampilkan kreativitas dan ciri khasnya dalam mengemas seni baleganjur babarongan yang berpadu dengan unsur tradisi serta kearifan lokal.

Penampilan diawali oleh Sekaa Gong Satya Jnana dari Kecamatan Gianyar yang mempersembahkan garapan berjudul “Nyapuh”. Dilanjutkan dengan penampilan Yowana Kembang Swara Banjar Juga bersama Komunitas Seni Pitha Mahaswara, dari Kecamatan Ubud, yang membawakan garapan “Gerinsing”, Pengayah Gong Sekaa Teruna Dharma Adnyana dari Kecamatan Tegallalang melalui garapan “Bwah Rong”, disusul oleh Sanggar Seni Gita Lestari dari Kecamatan Blahbatuh dengan sajian berjudul “Swara Raksa”.

Penampilan berikutnya Pesraman Satya Kumara Shanti, Kecamatan Payangan, yang menghadirkan garapan “Ruwat Mala”, kemudian dilanjutkan oleh Sekeha Gong Sila Pertipa dari Kecamatan Sukawati dengan garapan “Sida Arsa”. Penampilan ditutup oleh Sekaa Balaganjur Gandara Shanti dari Kecamatan Tampaksiring melalui garapan berjudul “Lawat Liwat”.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa, menyampaikan bahwa perhelatan Pekan Budaya Gianyar, salah satunya menampilkan parade baleganjur bebarongan, merupakan upaya nyata pemerintah daerah dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya yang hidup di desa adat.

Lebih lanjut, Adi Parbawa menegaskan bahwa estetika baleganjur bebarongan harus tetap ajeg dan lestari sebagai bagian dari kearifan lokal di masing-masing kecamatan.

Tak hanya itu, dirinya juga menambahkan bahwa baleganjur bebarongan telah menjadi salah satu identitas masyarakat Gianyar yang hadir hampir dalam setiap kegiatan keagamaan. “Kita ingin lebih menunjukkan cita karya kearifan lokal masing-masing, sehingga esensinya tetap terjaga, tradisinya tetap, dan spiritnya tetap,” tambahnya.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Dampingi Gubernur Koster Serahkan Aset Pemprov Bali Guna Pembangunan Kantor Desa Subamia

Sementara itu, tokoh seniman, Dr. I Wayan Sudirana, S.Sn., M.A., Ph.D., mengapresiasi pelaksanaan Pekan Budaya Gianyar yang dinilai mampu memberikan ruang bagi para seniman untuk menuangkan kreativitas. Ia berharap parade baleganjur bebarongan tidak hanya berlangsung tahun ini, tetapi dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi langkah awal dalam mempersiapkan diri menuju ajang Pesta Kesenian Bali (PKB).

“Saya ingin kegiatan ini tidak hanya tahun ini, melainkan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” ungkapnya.

Terlebih, baleganjur bebarongan sendiri memiliki keterkaitan erat dengan tradisi ngunya atau Ngiring Ida Bhatara, yakni prosesi mengarak Sesuhunan berupa Barong dan Rangda mengelilingi desa sebagai bagian dari ritual keagamaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

AA Istri Rai Setyawati, Seniman Tangguh yang Menjaga Nyala Tari dari Generasi ke Generasi

Published

on

By

Rai Setyawati
KASANGA FESTIVAL: Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST (kebaya biru) tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Di tengah riuhnya pagelaran seni dalam rangkaian Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung, Minggu (8/3), sosok AA Istri Rai Setyawati, SST tampak berdiri di antara anak-anak yang bersiap tampil. Dengan tatapan lembut namun penuh ketegasan, perempuan berusia 73 tahun itu membimbing gerak demi gerak, memastikan setiap anak menari dengan percaya diri.

Usia boleh menua, namun semangat berkesenian dalam dirinya tetap menyala. Perempuan kelahiran Sayan, Gianyar ini telah menetap di Denpasar sejak menempuh pendidikan seni di Kokar. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah jauh dari dunia tari Bali.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga napas kehidupan yang terus ia rawat hingga kini. Ia dikenal sebagai bagian dari generasi seniman tari yang tumbuh bersama maestro tari Bali, I Nyoman Suarsa, yang akrab disapa Pak Yang Pung.

Kini, sebagian besar rekan seangkatannya telah berpulang. Namun bagi Rai Setyawati, perjalanan pengabdian pada seni belum pernah benar-benar selesai.

“Semangat saya masih tetap berkobar dalam mengabdikan diri di bidang seni. Saat ini saya juga dipercaya menjadi pendidik di PAUD Saraswati 3,” ujarnya dengan senyum hangat.

Di tempat itulah ia menanamkan kecintaan pada seni kepada generasi paling muda. Dengan kesabaran dan ketelatenan, ia membimbing anak-anak usia dini mempelajari dasar-dasar gerak tari Bali—mulai dari gerakan tangan, sorot mata, hingga langkah kaki yang diajarkan perlahan.

Selain mengajar di PAUD Saraswati 3 Denpasar, Rai Setyawati juga rutin membimbing anak-anak di Sanggar Tari Rimantaka yang ia kelola bersama putrinya. Dari ruang-ruang latihan sederhana itu, lahir keberanian anak-anak untuk tampil dalam berbagai agenda budaya dan pertunjukan seni di Kota Denpasar.

Baca Juga  Gedung Maria Dipercantik Dengan Pemasangan Lambang Garuda Pancasila Super Besar

Bagi Rai Setyawati, melihat anak-anak menari dengan penuh semangat merupakan kebahagiaan tersendiri. Baginya, itu adalah tanda bahwa tradisi terus menemukan ruang hidupnya di tengah generasi baru.

Di balik ketekunannya sebagai seniman, Rai Setyawati juga merupakan ibu dari empat anak, tiga putra dan satu putri. Nilai kerja keras dan pengabdian yang ia tanamkan sejak lama turut membentuk perjalanan hidup anak-anaknya.

Salah satu putranya, Dedy Sutrisna Agung, SE, M.Ec.Dev., kini mengabdi di salah satu perangkat daerah di Kota Denpasar serta aktif dalam kepengurusan adat di Desa Adat Penatih Puri. Menurut Dedy, kecintaan ibunya pada seni menjadi sumber kekuatan dalam perjalanan hidup keluarga mereka.

“Saya dibesarkan dari perjuangan ibu saat berkesenian. Beliau tidak hanya berkarya, tetapi juga mampu membiayai kebutuhan hidup keluarga dari dunia seni,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa berkesenian seolah menjadi obat bagi sang ibu.

“Jika ibu diberi waktu dan kesempatan untuk terus berkesenian, sakitnya seperti hilang. Keluhan sebagai orang tua terasa berkurang ketika beliau bisa mengajarkan anak-anak menari,” katanya.

Bagi Rai Setyawati, seni tari bukan sekadar aktivitas. Ia adalah ruang pengabdian, tempat menyalurkan cinta pada budaya sekaligus sumber semangat untuk tetap berkarya.

Di usia yang semakin senja, ia masih setia berdiri di ruang latihan, mengajarkan gerak demi gerak kepada generasi penerus. Selama tubuh masih mampu bergerak dan ada anak-anak yang ingin belajar, baginya seni tari Bali harus terus hidup dan berkembang.

Dari tangan seorang guru seni seperti Rai Setyawati, nyala tradisi itu terus dijaga agar tetap menari dalam perjalanan waktu dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Pecah! 10 Tahun Vakum, Dentuman Jegog Suar Agung Kembali Guncang Jepang

Published

on

By

Jegog Suar Agung
TUR BUDAYA: Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam. (Foto: Hms Jembrana)

Jembrana, baliilu.com – Dentuman instrumen bambu raksasa khas Jembrana akhirnya kembali mengguncang publik Negeri Sakura.

Setelah “puasa” selama 10 tahun, Sekaa Jegog Suar Agung sukses mengawali rangkaian tur budaya mereka dengan pementasan perdana yang spektakuler di Toyota City, Jepang, Kamis (19/2/2026) malam.

Ribuan pasang mata dibuat tak berkedip oleh resonansi nada rendah dan ritme eksplosif dari Bumi Makepung.

Kehadiran delegasi seni ini seolah menjadi obat rindu sekaligus bukti nyata bahwa Jegog tetap memiliki tempat istimewa di kancah internasional meski sempat absen selama satu dekade.

Penampilan sekaa Jegog Suar Agung dipimpin oleh I Gede Oka Artha Negara, sosok pimpinan Jegog Suar Agung yang dikenal sebagai konseptor dan pencipta komposisi musikal bambu berkarakter kuat dan dinamis.

Ia merupakan putra maestro almarhum I Ketut Suwentra, sosok legendaris yang dijuluki “Pekak Jegog” dan berjasa besar membawa Jegog ke panggung internasional. Pada pementasan kali ini, Gede Oka juga mengajak putra-putrinya Okky Junior Sadewa dan Ikko Suar Agung Dewi sebagai penari Jegog Suar Agung untuk regenerasi kesenian Jegog Suar Agung.

“Antusiasme penonton di Toyota City luar biasa. Ini membuktikan bahwa resonansi bambu Jembrana memiliki tempat spesial di hati warga Jepang,” ujar pimpinan Suar Agung, I Gede Oka Artha Negara.

Disisi lain, bagi Ikko Suar Agung Dewi, pementasan di Jepang kali ini memiliki tantangan tersendiri mengingat untuk pertama kalinya ia ikut mendampingi dan turun langsung dalam pertunjukan besar Jegog Suar Agung.

“Tur ini bukan sekadar agenda pementasan, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk melestarikan dan mengembangkan Jegog Suar Agung,” ungkap Ikko Suar Agung Dewi.

Baca Juga  Gedung Maria Dipercantik Dengan Pemasangan Lambang Garuda Pancasila Super Besar

Ia menegaskan pentingnya regenerasi, pembinaan generasi muda, serta penguatan jejaring internasional agar musikal bambu khas Jembrana tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Melalui Jegog Suar Agung ini, Ikko Dewi bertekad menjaga warisan leluhur agar tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi terus bertumbuh sebagai kebanggaan budaya yang mendunia terlebih Kakek merupakan Sang Maestro Jegog.

Rombongan yang sebelumnya dilepas oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan ini, dijadwalkan akan berkeliling ke sejumlah kota besar di Jepang selama 12 hari ke depan. Misi ini diharapkan tidak hanya menjadi tontonan seni, tetapi juga memperkuat hubungan diplomatik Indonesia-Jepang lewat jalur kebudayaan.

Dentuman bambu dari Desa Sangkar Agung akan kembali menggema di Negeri Sakura—menegaskan bahwa Jegog Suar Agung bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan duta budaya yang mempererat hubungan Indonesia dan Jepang dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca