Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Usung “Bima Swarga”, Janger Tradisi Remaja Duta Badung Sampaikan Pesan Moral Bakti kepada Orang Tua dan Leluhur

BALIILU Tayang

:

janger badung
JANGER TRADISI REMAJA DUTA BADUNG: Penampilan Janger Tradisi Remaja Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 sukses memikat penonton yang memadati Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (19/6/2026) malam. (Foto: bi)

Denpasar, baliilu.com – Penampilan Janger Tradisi Remaja Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 sukses memikat penonton yang memadati Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (19/6/2026) malam. Pementasan yang dibawakan Sanggar Seni Murti Kanti Swara, Banjar Tegeh, Kelurahan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara itu mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari para penonton.

Mengusung garapan bertajuk “Bima Swarga”, pementasan janger ini mengangkat perjalanan spiritual tokoh Bima dalam upayanya membebaskan roh kedua orang tuanya, Sang Raja Pandu Dewata dan Dewi Madri, dari penderitaan di alam neraka.

Pelatih Tari dan Lakon, Ni Made Ayu Kesuma Dewi mengungkapkan bahwa, kisah Bima Swarga diangkat dari epos Mahabharata. “Jadi kisah ini menceritakan Bima yang tidak mau menyembah atma ibu dan bapaknya di swargan. Karena Bima tidak mau menyembah, perjalanan ibu dan bapaknya menjadi tertunda. Lalu Bima diberikan siasat agar mau menyembah atma kedua orang tuanya,” jelasnya.

Cerita Bima Swarga diawali dengan kegundahan Dewi Kunti yang dihantui mimpi menyaksikan mendiang suaminya bersama Dewi Madri menjalani siksa penebusan dosa di kawah Cambradimuka. Dalam kesedihannya, Dewi Kunti menyampaikan mimpi tersebut kepada para putranya. Mendengar hal itu, Bima bertekad membebaskan roh kedua orang tuanya agar terbebas dari belenggu penderitaan.

Dengan kekuatan spiritual yang dimilikinya, Bima bersama ibunya dan saudara-saudaranya melakukan perjalanan menuju Nerakaloka. Dalam perjalanan, mereka dihadang Sang Hyang Catur Sanak yang tampil dalam wujud menyeramkan. Namun setelah dikenali, sosok tersebut justru memberikan petunjuk jalan menuju alam tujuan.

Setibanya di Nerakaloka, Bima menceburkan diri untuk mencari roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri. Setelah melalui berbagai rintangan, kedua roh leluhur itu akhirnya ditemukan. Dewi Kunti bersama para putranya kemudian mempersembahkan sembah bhakti sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka.

Baca Juga  Calonarang ‘Geseng Waringin’ Sukses Pukau Penonton PKB, Angkat Pesan Kemurnian Hati

Namun, roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri belum dapat mencapai alam Swargaloka karena diyakini belum seluruh keturunannya memberikan penghormatan. Pada bagian inilah konflik cerita mencapai puncaknya. Bima yang dikenal teguh pada pendiriannya menyatakan tidak akan menyembah para dewa maupun leluhur, selain kepada Tuhan dalam manifestasi Sang Hyang Acintya.

Sikap Bima kemudian mendapat olokan dari kakaknya, Yudistira. Tanpa disadari, Bima akhirnya mencakupkan kedua tangannya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhurnya. Momen tersebut menjadi titik balik yang memungkinkan roh Sang Pandu Dewata dan Dewi Madri terangkat menuju alam Swargaloka.

Melalui kisah “Bima Swarga”, kata Ayu Kesuma Dewi, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menghadirkan hiburan berkualitas, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang bakti kepada orang tua, penghormatan terhadap leluhur, serta pentingnya keseimbangan antara keyakinan dan kewajiban sebagai manusia.

Untuk menghadirkan pertunjukan yang maksimal, Sanggar Seni Murti Kanti Swara melalui proses panjang selama kurang lebih tiga bulan. Berbagai tantangan harus dihadapi, terutama dalam menyatukan jadwal latihan hingga menurunkan ego satu sama lain. “Yang paling sulit itu mengatur waktu latihan karena mereka sudah besar-besar dan punya kesibukan masing-masing. Tantangan lainnya adalah menari sambil membawakan vokal, sehingga membutuhkan latihan yang lebih intens,” ungkap Ayu Kesuma Dewi.

Pementasan Janger Tradisi Remaja Duta Kabupaten Badung ini melibatkan 30 orang penari dan pelakon, serta didukung oleh 23 orang penabuh, yang berhasil menghadirkan sajian seni tradisi yang menghibur penonton PKB XLVIII 2026. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Wimbakara PKB XLVIII Tahun 2026, Sekaa Gong Kencana Wiguna Banjar Kehen Kesiman Tampil Memukau

Published

on

By

baleganjur denpasar
DUTA DENPASAR: Penampilan Sekaa Gong Kencana Wiguna, Banjar Kehen Kesiman, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur, Duta Kota Denpasar, pada ajang Wimbakara (Lomba) Beleganjur Remaja Pesta Kesenian Bali (PKB) XVIII tahun 2026, di kalangan Arda Chandra, Art Center, Jumat (19/6) malam. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Karya garapan apik bertajuk Reng Roh menjadi sebuah persembahan menawan yang dibawakan oleh Sekaa Gong Kencana Wiguna, Banjar Kehen Kesiman, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur, Duta Kota Denpasar, pada ajang Wimbakara (Lomba) Beleganjur Remaja pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026, di kalangan Arda Chandra, Art Center, Jumat (19/6) malam.baleganjur denpasar

Hadir langsung untuk menyaksikan penampilan Duta Kesenian Kota Denpasar tersebut, Gubernur Bali, I Wayan Koster, Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede, anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, dan tamu undangan lainnya.

Ditemui di sela pementasan berlangsung, Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Wayan Narta didampingi Koordinator I Gede Arimbawa menjelaskan, secara umum garapan Reng Roh adalah karya komposisi balaganjur sebagai media untuk pemuliaan jiwa yang suci bersifat murni, abadi dan sumber kehidupan mahluk hidup. Pemuliaan jiwa dalam konteks ini lebih ditekankan pada kebahagiaan semasa hidup dengan berbagai kegiatan yang dijalani sang jiwa.

“Karya Reng Roh mengelaborasi unsur musik seperti; melodi, tempo, dinamika, ritme, timbre serta olahan vokal yang ditata dalam sajian gerak atraktif dan teatrikal sebagai gambaran pemuliaan sang jiwa ketika hidup,” jelas Wayan Narta.

Lebih jauh, pihaknya mengemukakan, kearifan musik Kesiman, seperti sesandaran dan ancag-ancagan juga menjadi inspirasi dalam pengolahan instrumen serta unsur musik pada karya yang ditampilkan malam ini.

Penataan gerak sendiri lanjut Wayan Narta terinspirasi dari konsep mebraya/gotong-royong, seperti matetekan, metandingan sebelum upacara keagamaan berlangsung dan kegiatan kesenian di masyarakat, seperti megambel serta menari.

Baca Juga  Penuh Percaya Diri, Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala Tampil ‘’Mebarung’’ di PKB 2025

Perpaduan dari pengolahan musikal dan gerak tentunya menghasilkan harmoni serta inovasi, sehingga karya yang kreatif, ekspresif dan atraktif dapat terbentuk.

“Persiapan yang kami lakukan untuk menampilkan karya Reng Roh ini telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Semoga penampilan kami ini bisa Jayanti pada PKB XLVIII tahun 2026 ini,” harapnya.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap penampilan Sekaa Baleganjur Kencana Wiguna, Banjar Kehen Kesiman, Desa Kesiman Petilan, Denpasar Timur, yang dinilainya tampil sangat maksimal dan luar biasa pada malam itu.

Tak hanya itu, Jaya Negara juga mengaku bangga terhadap semangat berkesenian seniman Denpasar yang mengutamakan regenerasi, sebagai sebuah upaya untuk melestarikan warisan kebudayaan leluhur.

Astungkara penampilan adik-adik Sekaa Baleganjur Kencana Wiguna Banjar Kehen malam ini, akan membawa hasil yang luar biasa juga. Konsep garapan yang dibawakan sangat apik. Semoga tahun ini duta Kota Denpasar bisa mendapatkan juara,” ujar Jaya Negara. (eka/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Angkat Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg, “Seet Wangsul” Buleleng Curi Perhatian Penonton PKB

Published

on

By

duta buleleng
DUTA BALEGANJUR BULELENG DI PKB: Duta Baleganjur Kabupaten Buleleng saat tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (18/6) malam. (Foto: Hms Buleleng)

Denpasar, baliilu.com – Gemuruh gamelan Baleganjur menggema di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Kamis (18/6) malam. Di hadapan ribuan penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Duta Baleganjur Kabupaten Buleleng tampil memukau melalui garapan berjudul Seet Wangsul, sebuah karya yang mengangkat tradisi sakral Bebayuhan Sanan Empeg ke dalam sajian seni pertunjukan yang kaya makna spiritual.

Berbeda dari sajian Baleganjur pada umumnya yang menonjolkan kekuatan musikal dan dinamika gerak, Seet Wangsul menghadirkan narasi tentang perjalanan jiwa manusia. Karya ini berangkat dari sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun di masyarakat Bali, khususnya di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng.

Komposer garapan, Komang Trisna Ardiana, menjelaskan bahwa judul Seet Wangsul memiliki makna filosofis yang mendalam. Kata Seet dimaknai sebagai ikatan atau keterhubungan, sedangkan Wangsul merujuk pada kain tenun Bali yang dibuat tanpa sambungan sehingga melambangkan sesuatu yang utuh dan tidak pernah terputus.

Seet Wangsul dapat diartikan sebagai sebuah karya komposisi Baleganjur yang seluruh unsurnya saling terikat satu sama lain dan tidak pernah terputus. Filosofi itu kami ambil dari kain tenun wangsul yang menjadi simbol keutuhan,” ujarnya.

Menurut Trisna, karya ini juga berangkat dari sebuah ritual yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia, kemudian dikemas ke dalam sebuah komposisi Baleganjur yang sarat pesan tentang keharmonisan dan pemuliaan jiwa.

Dari sisi musikalitas, garapan ini tetap berpijak pada struktur Baleganjur tradisional yang terdiri atas pengawit, pengawak, dan pengecet. Karakter khas Buleleng yang tegas, dinamis, dan energik juga dihadirkan melalui berbagai motif permainan dan pengolahan ritme yang menjadi identitas karawitan Buleleng.

Baca Juga  Joged Bumbung Buleleng Berani Tampil Beda dengan Kreasi Jaman Now di PKB XLVIII 2026

“Kami juga mentransfer beberapa pola-pola musikal khas Buleleng ke dalam karya ini karena menjadi salah satu identitas yang menarik untuk ditampilkan,” tambahnya.

Ditambahkannya, bahwa proses penciptaan Seet Wangsul ini tidak berjalan mudah. Tim penggarap harus berpacu dengan waktu karena proses latihan baru dimulai pada akhir Februari 2026. Namun berbagai tantangan tersebut berhasil diatasi hingga melahirkan sebuah sajian yang utuh dan sarat makna.

Sementara itu, konseptor garapan, Nyoman Sugita Rupiana, mengatakan ide karya ini berangkat dari tradisi Bebayuhan Sanan Empeg, yakni ritual peruwatan yang diperuntukkan bagi seseorang yang lahir dalam posisi diapit oleh saudara yang telah meninggal dunia.

Menurutnya, dalam pemahaman tradisi Bali, kondisi tersebut diyakini dapat memengaruhi perjalanan hidup seseorang sehingga perlu dilakukan proses penyucian atau peruwatan.

“Di Desa Anturan, Bebayuhan Sanan Empeg menggunakan sarana berupa kain tenun bernama wangsul. Kain ini ditenun tanpa sambungan sehingga menjadi simbol keutuhan dan kesinambungan kehidupan. Dari simbol itulah kami mengembangkan konsep karya ini,” jelas Sugita.

Ia menambahkan bahwa esensi dari ritual tersebut adalah memuliakan dan mengembalikan atman atau jiwa manusia agar kembali pada kesucian dan jati dirinya.

Bebayuhan Sanan Empeg bertujuan memuliakan jiwa yang masih hidup agar kembali pada jatinya. Atman dimuliakan melalui prosesi peruwatan yang menggunakan sarana kain wangsul. Nilai filosofis itulah yang menjadi landasan utama karya Seet Wangsul,” ungkapnya.

Kemudian konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam visual gerak oleh penata koreografi yaitu Putu Arif Mahendra. Menurutnya melalui rangkaian gerak, pola lantai, dan adegan dramatik, Arif membangun alur cerita yang menggambarkan perjalanan kehidupan manusia dari lahir hingga mencapai keharmonisan jiwa.

Baca Juga  Sekaa Gong Anak-anak Semara Winangun, Tampil di Pesta Kesenian Bali Ke-46

Ia menegaskan bahwa seluruh elemen gerak dirancang untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan sehingga penonton tidak hanya menikmati dinamika Baleganjur, tetapi juga dapat merasakan perjalanan spiritual yang menjadi ruh dari karya tersebut.

“Koreografi yang kami hadirkan disusun berdasarkan konsep yang telah dirumuskan. Pada bagian awal ditampilkan simbol kelahiran, kemudian memasuki prosesi bebayuhan sebagai inti garapan. Setelah melalui proses penyucian, karya ditutup dengan suasana kebahagiaan yang menggambarkan jiwa telah dimuliakan dan kembali mencapai keseimbangan,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Sekaa Joged Akah Luki Duta Badung Pukau Penonton di PKB XLVIII 2026

Published

on

By

joged bumbung
PARADE JOGED BUMBUNG TRADISI: : Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat, Desa Sobangan Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, saat tampil pada acara Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Kalangan Madya Mandala Art Centre Denpasar pada Kamis sore, 18 Juni 2026. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Penampilan Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat, Desa Sobangan Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, pada Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi serangkaian Pesta Kesenian Bali Ke-48 Tahun 2026 mampu memukau penonton yang memadati Kalangan Madya Mandala Art Centre Denpasar pada Kamis sore, 18 Juni 2026.

Tari pergaulan tradisional masyarakat Bali yang merupakan Duta Kabupaten Badung ini tampil interaktif dan dinamis yang mampu menghibur para penonton yang hadir berjubel bertepatan hari Umanis Galungan.

Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat digarap oleh Penata Tabuh I Putu Sukadana, S.Sn, Pembina Tabuh I Putu Gede Aristana, Koordinator I Putu Rudityanto, S.Pd, dan Pembina Tari Ni Made Putri Ariani, S.Pd dengan empat orang penari joged yakni Ni Kadek Dewi Setiari, Ni Komang Ayu Sawitri Dewi, Ni Komang Tria Febriantari, dan Ni Putu Laksamiani. Para pengibing yakni I Ketut Juli Artawan, Wahyu, Nyoman Gunadi, dan Putu Muliani.

Pembina Tabuh I Putu Gede Aristana mengatakan pementasan Utsawa Jodeg Bumbung Tradisi dari Duta Badung menampilkan tabuh kreasi diawali tabuh Nilapati, Ulah Alih Ala, Semara Ratih Kumbang Ngisep Sari, Sunar Sunari, dan tabuh penutup.

Gede Aristana menjelaskan tabuh kreasi Nilapati adalah sebuah komposisi tabuh kreasi joged bumbung yang mengangkat konsep filosofi dan puncak ritual pitra yadnya atau ngaben. Nama Nilapati berasal dari konsep menuju kosong atau sunia. Dimana roh orang yang meninggal telah disucikan sepenuhnya untuk menyatukan dengan sang pencipta.

Dalam proses terciptanya tabuh kreasi ini, muncul intrumen pendukung yang tentunya ada dalam identitas iringan baleganjur ngarap yaitu tawa-tawa, dan nuansa angklung klentangan sebagai nuansa upacara atiwa-tiwa itu berlangsung. Adanya instrumen tambahan berupa tawa-tawa, bukan sebagai tempelan atau hanya mengkaitkan tetapi adanya sebuah penyatuan instrumen barungan gamelan joged bumbung dengan instrumen tawa-tawa, yang dalam proses eksplorasinya menemukan nuansa baru, yang tidak lepas dari unsur-unsur kerawitan yaitu kawitan, pengawak dan pengecet.

Titiang selaku pembina tabuh mengambil judul tabuh Nilapati ini adalah nike konsep ngelinggihang. Disana tiang tonjolkan ciri khas orang ngaben, ada orang megarapan, ada gending angklung yang saya tuangkan di bagian bawahnya. Dan konsep ini sesuai dengan tema PKB saat ini Atma Kerthi, gitu,“ ujar Gede Aristana.

Baca Juga  Jelang PKB Ke-48, Walikota Jaya Negara Pantau Kesiapan Sekaa Palegongan Klasik Waja Swara

Kemudian sebut Gede Aristana, tabuh berjudul Ulah Alih Ala. Ulah Alih diartikan perbuatan yang disengaja dan Ala merupakan bahaya yang diakibatkan dari perbuatan itu sendiri.

Ia menceritakan bahwa keharmonisan sepasang suami istri yang sedang bersenda gurau bercengkerama dan saling mengisi satu sama lain. Sampai suatu ketika prahara pun terjadi. Karena tidak dapat mengendalikan hawa nafsu dan terlena dengan kesenangan duniawi sehingga sang suami lupa akan keseimbangan jiwatman  yang menyebabkan ala atau baya bagi dirinya sendiri dan orang lain.  Dengan cinta kasih istrinya akhirnya suaminya pun sadar akan perbuatannya. Tabuh ini diiringi penari Ni Kadek Dewi Setiari, dengan pengibing I Ketut Juli Artawan.

Tabuh pepeson joged Semara Ratih, lanjut Aristana merupakan suatu iringan yang menggambarkan tentang cinta kasih, kelembutan dan keindahan yang mampu memikat hati seseorang. Tabuh pepeson ini diiringi penari Ni Komang Ayu Sawitri Dewi dengan pengibing Wahyu.

Selanjutnya Tabuh Kumbang Ngisep Sari menceritakan tentang kumbang yang berada di taman bunga. Dimana bau harum dari bunga yang bermekaran selalu menawan hati yang ada di sana. Tabuh ini diiringi penari Ni Putu Laksamiani dengan pengibing Putu Muliani.

Sedangkan tabuh Sunar Sunari menggambarkan tentang sinar bulan yang selalu menyinari gelapnya malam yang memberikan suasana keindahan di tengah kesunyian. Tabuh ini diiringi penari Ni Komang Tria Febriantari dengan pengibing Nyoman Gunadi.

Gede Aristana mengungkapkan Sekaa Joged Akah Luki Banjar Selat hingga bisa pentas di PKB hari ini telah melalui proses latihan sejak Februari 2026. Dalam proses latihan itu tentu banyak menemui kendala di antaranya masalah kekompakan. Pasalnya para penabuh dari berbagai kalangan ada yang sudah bekerja dan ada yang masih kuliah. “Tapi kami tetap semangat dan akhirnya kami bisa pentas sekarang ini,“ ucap Gede Aristana.

Baca Juga  Undang Decak Kagum, Sanggar Seni Wredaya Muni Bawakan Tema “Napak Tetamian” di Parade Janger Tradisi Remaja PKB 2025

Sementara itu, salah seorang penari joged Ni Putu Laksamiani mengaku suka menari sejak dari TK. Namun untuk menekuni dunia perjogedan kurang lebih sudah hampir 6 tahun.

Dari pengalamannya sebagai penari ia mengaku pernah mendapat pandangan negatif, namun ia enggan menyebutkan di daerah mana. “Yang pasti kebanyakan kayak gitu di daerah pedesaan. Tapi saya sebagai penari joged sangat sedih sebenarnya kalau dikatakan joged itu sebagai tarian yang jaruh. Sebenarnya tidak, tergantung penarinya menarikan tarian tersebut,“ ucapnya.

Laksamiani menegaskan di setiap pementasan pasti ada anak-anak yang menonton. Oleh karena itu, kita harus bisa menjaga bagaimana joged itu sebenarnya nggak goyang, tapi kanan kiri, ngegol. “Pesan saya jangan malu untuk menjadi penari joged. Kalau kalian ingin menjadi penari joged, mohon selalu melihat pakem-pakem yang ada supaya joged itu tidak jelek,” katanya berpesan.

Untuk tampil di PKB ini, ia sudah mempersiapkan latihan sejak sebulan lebih. Rata-rata semua penari sudah biasa menarikan joged. “Jadi latihannya gak full karena sebagian besar yang join sekarang sudah biasa menarikan joged,” tutupnya.

Pada parade Joged Bumbung Tradisi tersebut, Duta Kabupaten Badung berdampingan dengan Duta Kabupaten Jembrana. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca