Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Gubernur Koster Anugerahi 12 Seniman, Budayawan, Pengabdi Seni Penghargaan Adi Sewaka Nugraha

BALIILU Tayang

:

adi sewaka nugraha
BERIKAN PENGHARGAAN: Gubernur Bali Wayan Koster memberikan Penghargaan Adi Sewaka Nugraha kepada 12 Seniman/Budayawan/Pengabdi Seni yang telah berjasa dalam penguatan seni tradisi, seni klasik, dan seni rakyat di Provinsi Bali pada penutupan PKB 2026, Sabtu (11/7/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster memberikan Penghargaan Adi Sewaka Nugraha kepada 12 Seniman/Budayawan/Pengabdi Seni yang telah berjasa dalam penguatan seni tradisi, seni klasik, dan seni rakyat di Provinsi Bali.

Kedua belas Seniman/Budayawan/Pengabdi Seni ini, diantaranya bernama Cokorda Putra, ST, M.Si (Seniman Tari), I Nyoman Artana A.Ma, Pd (Seniman Undagi), I Ketut Tarka (Seniman Kerawitan), I Wayan Juana Adi Saputra, S.Sn (Seniman Tari), Wayan Arnawa (Seniman Seni Rupa), Jro Made Sariani (Seniman Drama Gong), I Putu Manudipa (Seniman Sastra Daerah), I Dewa Gede Darmayasa, S.Skar., M.Fil.,H (Seniman Kerawitan), I Gusti Ngurah Artawan, S.Sn (Seniman Pedalangan), Ni Made Kinten (Seniman Tari), I Dewa Gede Alit Saputra (Sastrawan), dan Dr. I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn (Seniman Kerawitan).

Gubernur Bali Wayan Koster yang menyerahkan langsung Penghargaan Adi Sewaka Nugraha pada acara penutupan Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Denpasar, Sabtu (Saniscara Wage, Medangsia) tanggal 11 Juli 2026 malam, menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Bali memberikan apresiasi kepada para Seniman/Budayawan/Pengabdi Seni di Pulau Bali ini dengan bantuan dana sebesar Rp 50 juta, karena tanpa beliau-beliau ini, seni budaya Bali tidak bisa hidup berkelanjutan.

“Gubernur tidak bisa membuat karya seni, tetapi hanya bisa membuat kebijakan, akan tetapi kebijakan tanpa ada pelaku, tidak akan ada artinya. Jadi kita harus berterimakasih kepada pelaku seni budaya Bali, mereka sebagai pelestari yang memajukan seni budaya Bali harus kita apresiasi,” ujar Gubernur Koster.

Gubernur Bali dua periode ini menyampaikan rasa syukurnya, karena di Bali ini ada empat hal penting yang saling bersinergi selama sebulan penuh PKB. Pertama, pencipta karya seni, kedua ada pelaku seni yang menari sampai menabuh; ketiga ada partisipan seni (Gubernur, Bupati/Walikota melalui kebijakannya, red); dan empat ada penonton yang menikmati hasil karya seni.

Baca Juga  Gubernur Koster Harap PICA Fest 2025 Jadi Panggung UMKM Lokal, Bebas Sampah Plastik dan Jalankan SE 9

Sebagai penutup, Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini mengajak semua pemimpin di Bali harus utuh mencintai seni dan budaya Bali. Karena sebagai pemimpin di Bali, mesti membangun ekosistem budaya, dan mendorong para senimannya untuk terus berkarya.

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa Penghargaan Adi Sewaka Nugraha adalah anugerah tertinggi yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Bali di masa kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster kepada para seniman, budayawan, dan pengabdi seni sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengorbanannya dalam melestarikan, mengembangkan, dan memajukan seni dan budaya Bali. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

SENI

Tutup PKB Ke-48 dan Buka Festival Seni Bali Jani VIII 2026, Gubernur Koster: Jangan Bosan, Bali Terkenal karena Budaya

Budaya Bali Warisan Adi Luhung Leluhur yang Membangun Berbagai Aspek Kehidupan

Loading

Published

on

By

penutupan pkb
TUTUP PKB 2026: Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Denpasar, pada Sabtu (Saniscara Wage, Medangsia) tanggal 11 Juli 2026 malam yang ditandai dengan pemukulan Gong Beri dan peluncuran tema Pesta Kesenian Bali XLIX Tahun 2027, yakni Wana Kerthi: Byana Sandharana Loka (Hutan Penyangga Kehidupan). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi menutup Pesta Kesenian Bali XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Denpasar, pada Sabtu (Saniscara Wage, Medangsia) tanggal 11 Juli 2026 malam yang ditandai dengan pemukulan Gong Beri dan peluncuran tema Pesta Kesenian Bali XLIX Tahun 2027, yakni Wana Kerthi: Byana Sandharana Loka (Hutan Penyangga Kehidupan).

Dengan ditutupnya Pesta Kesenian Bali ke-48 Tahun 2026, estafet geliat berkesenian di Provinsi Bali tidak berhenti, namun pada hari yang sama Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi juga membuka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, dengan mengusung tema: Kembara Sukma Atma Kerthi yang bermakna Pengembaraan Menuju Jiwa Mahasuci.

Acara Penutupan Pesta Kesenian Bali Tahun 2026 yang dihadiri Ratu Sri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun, Ketua DPRD Provinsi Bali, Wakapolda Bali, Bupati dan Walikota Se-Bali, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, para seniman dan budayawan ini menampilkan sajian Tari Baris Bandana Manggala Yudha dan pagelaran Drama Klasik Kolosal “Sumpah Drupadi” Garapan Sanggar Teater Mini, yang disaksikan secara langsung oleh ribuan masyarakat di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center.

Untuk diketahui, melalui pelaksanaan Pesta Kesenian Bali ini, spirit Bali Padma Bhuwana yakni Bali sebagai Pusat Peradaban Dunia terus dikuatkan sebagai wujud ikhtiar pengarusutamaan dalam menjaga, merawat, dan mengonservasi alam Bali sekaligus memajukan manusia dan kebudayaan Bali. Hal itulah yang menjadikan pelestarian seni, budaya, adat, tradisi, agama menjadi program prioritas utama pembangunan di Provinsi Bali, sejalan dengan Visi Pembangunan Provinsi Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.

Baca Juga  Gubernur Koster Lepas Kontingen Bali pada Pra-POPNAS Zone III 2022 di Kalsel

Pesta Kesenian Bali hadir sebagai monumen penghargaan dan kecintaan masyarakat Bali pada seni budaya Bali yang luhur dan mulia. Pesta Kesenian Bali telah menjadi ruang aktualisasi

seniman Bali dalam memanggungkan kualitas capaian berbagai ragam seni dan kerajinan, baik karya cipta perseorangan, kelompok maupun komunal. Oleh sebab itu Pesta Kesenian Bali hadir menjadi ruang untuk mengumandangkan ekspresi seni budaya kolosal.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menyerahkan Piagam Penghargaan Adi Sewaka Nugraha Tahun 2026 kepada 12 seniman yang telah berjasa dalam melestarikan, mengembangkan, dan memajukan seni budaya Bali.

Penghargaan juga diserahkan Gubernur Wayan Koster bersama Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara, Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, dan Bupati Klungkung, I Made Satria kepada Pemenang Wimbakara (Lomba) PKB XLVIII untuk Juara I, II, III dan Harapan Lomba Mewarnai, Seni Lukis Wayang Bali, Mesatua Bali, Gender Wayang Anak-anak, Karya Tulis Berita Kisah untuk Wartawan, Taman Penasar, Tari Barong Ket, dan Lomba Beleganjur Remaja. Selanjutnya, kepada pemenang Pacentokan (Lomba) Jantra Tradisi Balo 2026 untuk Juara I, II, III dan Harapan Pacentokan Layangan Pecukan, Membuat Sunari, Olahraga Tradisional Tajog Putra, Olahraga Tradisional Terompah Putri, Olahraga Tradisional Hadang Putra dan Putri, dan Olahraga Tradisional Deduplak Putra.

Terakhir, Gubernur Koster menyerahkan Sertifikat Standarisasi dan Sertifikasi Lembaga Seni kepada 9 perwakilan Kabupaten/Kota se-Bali.

Dalam sambutannya, Gubernur Wayan Koster mengajak krama dan semeton Bali untuk terus mencintai seni budaya Bali.

“Jangan pernah bosan untuk berbudaya, karena budaya-lah yang membuat Bali ini terkenal di dunia, karena budaya Bali menjadi destinasi wisata utama dunia, dan ekonomi Bali tumbuh secara berkelanjutan. Jadi budaya di Bali merupakan warisan adi luhung leluhur kita yang sangat luar biasa, yang membangun berbagai aspek kehidupan,” kata Koster.

Baca Juga  Rapat Dewan, Gubernur Sampaikan Penjelasan Raperda RTRW Bali 2022-2042 dan Raperda APBD-SB 2021

Terkait dengan dibukanya FSBJ VIII Tahun 2026, maka perlu diketahui bahwa penyelenggaran Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026 berlangsung mulai hari ini 11 Juli 2026 sampai dengan 25 Juli 2026 mendatang.

Festival Seni Bali Jani hadir sebagai panggung ekspresi, eksplorasi dan kolaborasi seni lintas batas untuk merespons fenomena dan dinamika perkembangan seni saat ini. FSBJ menjadi ruang temu para sastrawan, dramawan, komposer, koreografer, kreator dan insan-insan kreatif lainnya, untuk menunjukkan karya terbaiknya, membahas isu-isu terkini, dalam sebuah garapan kreatif, inovatif dan eksperimental, mengadaptasi perkembangan teknologi terkini namun tetap kuat berakar pada nilai-nilai luhur tradisi Bali.

Pemerintah Provinsi Bali yang dipimpin oleh Gubernur Bali Wayan Koster bersama Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta memberikan perhatian dan ruang apresiasi yang sama bagi kesenian tradisi dan modern. Keduanya mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sama, sebagai upaya pengembangan dan keberlanjutan kehidupan seni budaya di Bali.

Atas hal itu, Festival Bali Jani Tahun 2026 siap menghadirkan berbagai aktivitas seni modern yang dikemas dalam delapan materi pokok FSBJ, yang meliputi 1) Adilango (Pergelaran); 2) Utsawa (Parade); 3) Pawimba (Lomba); 4) Aguron-guron (Lokakarya); 5) Timbang Rasa (Sarasehan); 6) Megarupa (Pameran); 7) Beranda Pustaka (Bursa Buku); dan 8) Pemberian Penghargaan Bali Jani Nugraha. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Dua Karya Menyemai Jejak Purnama Bali–Jeju di Pameran Internasional “Prakriti Pustaka Padma” ARMA

Published

on

By

wayan sujana suklu
FEMINA LUNARIS: Karya I Wayan Sujana Suklu, ”Femina Lunaris”, 125X148 Cm. Acrylic, Sodas, Fox on Cnavas. (Foto: bi)

Ubud, Gianyar, baliilu.com – Seniman dan akademisi seni I Wayan Sujana Suklu berpartisipasi dalam pameran internasional seni kekriyaan “Prakriti Pustaka Padma” yang diselenggarakan di ARMA (Agung Rai Museum of Art), Ubud, pada 8–18 Juli 2026. Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun Museum ARMA, yang diperingati pada 9 Juni 2026. Pameran diresmikan oleh Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn.

Menghadirkan 50 seniman dari delapan negara, pameran ini menampilkan 79 karya seni kriya dwimatra dan trimatra yang merepresentasikan beragam pendekatan kontemporer terhadap tradisi kekriyaan. Melalui tema “Prakriti Pustaka Padma”, para seniman diajak mengeksplorasi hubungan antara alam, pengetahuan, spiritualitas, dan praktik artistik.

LUKISAN: Karya I Wayan Sujana Suklu, ”Purnama di Jeju, Ingatan di Bali”, 200X200 Cm. Acrylic, Sodas, Fox on Canvas. (Foto: bi)

Dalam pameran ini, I Wayan Sujana Suklu menghadirkan dua karya berjudul Femina Lunaris dan Purnama di Jeju, Ingatan di Bali. Kedua karya tersebut berangkat dari pengalaman artistik selama dua dekade setelah kunjungannya ke Pulau Jeju, Korea Selatan, pada tahun 2005. Bulan purnama menjadi metafora utama yang merekam perjalanan batin, memori lintas budaya, sekaligus simbol pencapaian spiritual yang terus bertumbuh.

Secara visual, kedua karya dibangun melalui metode menganyam garis, yaitu pengulangan ribuan sapuan garis dan lapisan warna yang disusun secara ritmis hingga membentuk bidang-bidang padat bertekstur. Pendekatan repetitif ini tidak hanya menghadirkan kualitas meditatif dalam proses penciptaan, tetapi juga memperlihatkan kedekatan yang kuat dengan nilai-nilai kekriyaan, di mana ketekunan, presisi, kesabaran, dan pengulangan menjadi bagian penting dari estetika maupun metode kerja. Setiap garis berfungsi layaknya sehelai serat dalam anyaman, membangun struktur visual yang utuh sekaligus menyimpan jejak waktu dan kerja tangan.

Baca Juga  Gubernur Koster Serahkan SK Pengangkatan P3K

Bagi Sujana Suklu, proses melukis melalui repetisi garis merupakan praktik kontemplatif. Setiap sapuan menjadi rekaman pengalaman, sehingga permukaan kanvas berubah menjadi “pustaka” yang menyimpan ingatan tentang perjalanan antara Jeju dan Bali. Dalam konteks tema “Prakriti Pustaka Padma”, kedua karya tersebut memaknai alam sebagai sumber pengalaman (prakirti), lukisan sebagai arsip pengetahuan hidup (pustaka), dan purnama sebagai simbol tumbuhnya kesadaran batin (padma).

Keikutsertaan dua karya ini sekaligus menjadi penanda awal bagi proyek pameran tunggal bertajuk Full Moon in Jeju, Memories in Bali, yang tengah dipersiapkan di Sudakara Art Space. Pameran mendatang dirancang sebagai sebuah pengalaman artistik lintas disiplin yang tidak hanya menampilkan lukisan, tetapi juga mempertemukan seni rupa, mode, musik, dan pertunjukan dalam satu kesatuan narasi.

Proyek tersebut akan melibatkan para pendiri Intermingle Art Project (IAP) sebagai bentuk kolaborasi yang telah berkembang selama lebih dari satu dekade. Tjok Ratna Cora akan menghadirkan TARAKA Eco Art Fashion, sebuah karya yang memadukan fesyen, material berkelanjutan, dan ekspresi artistik. I Gusti Ngurah Sudibya akan menampilkan pertunjukan Agni Diri, yang mengeksplorasi simbolisme tali-tali merah berpendar jingga dan emas sebagai metafora energi kehidupan dan transformasi. Sementara itu, Ketut Sumerjana akan menyajikan komposisi musik Cosmic Octave, yang berangkat dari konsep planetary frequencies sebagai upaya menerjemahkan harmoni kosmis ke dalam pengalaman bunyi.

Karya “Femina Lunaris” dan pecinta seni. (Foto: bi)

Melalui rangkaian karya tersebut, Full Moon in Jeju, Memories in Bali dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas medium yang mempertemukan memori, kosmologi, dan praktik artistik kontemporer. Purnama menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh ekspresi kreatif, bukan hanya sebagai citra visual, melainkan sebagai simbol perjalanan, kesadaran, dan keterhubungan manusia dengan alam semesta.

Pengunjung pameran dan karya-karya seni kekriyaan. (Foto: bi)

Keikutsertaan Femina Lunaris dan Purnama di Jeju, Ingatan di Bali dalam “Prakriti Pustaka Padma” menjadi momentum penting yang menegaskan bahwa praktik kekriyaan tidak hanya hadir melalui pilihan material, tetapi juga melalui disiplin proses, pengulangan yang tekun, dan kerja tangan yang melahirkan nilai-nilai kontemplatif. Dari ribuan garis yang dianyam di atas kanvas, lahirlah sebuah bahasa visual yang menjembatani Bali dan Jeju, masa lalu dan masa kini, serta tradisi dan praktik seni kontemporer. (*/bi)

Baca Juga  Gubernur Koster Harap PICA Fest 2025 Jadi Panggung UMKM Lokal, Bebas Sampah Plastik dan Jalankan SE 9

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Les Kelanguan Memukau PKB XLVIII, Duta Badung Angkat Spirit “Mebuug-buugan” Kedonganan

Published

on

By

barong landung
PENAMPILAN LES KELANGUAN: Penampilan Duta Kabupaten Badung melalui Sanggar Tari Rare Cili Kedonganan, Lingkungan Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta dengan garapan Barong Landung bertajuk “Les Kelanguan” pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Selasa (7/7/2026) pukul 17.00 Wita. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) Denpasar dipadati penonton yang antusias menyaksikan penampilan Duta Kabupaten Badung pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Selasa (7/7/2026) pukul 17.00 Wita. Dipentaskan oleh Sanggar Tari Rare Cili Kedonganan, Lingkungan Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, garapan Barong Landung bertajuk “Les Kelanguan” berhasil memukau penonton melalui perpaduan seni pertunjukan, tradisi, dan pesan spiritual yang kuat.

Pementasan diawali dengan tabuh petegak bebarongan berjudul “Jala Maasin”. Garapan ini mengangkat filosofi air sebagai sumber kehidupan yang mengalir dari pegunungan hingga bermuara di pesisir. Pertemuan air tawar dan air laut yang menghasilkan air payau dimaknai sebagai simbol keharmonisan alam. Dalam ajaran Hindu, perpaduan air tersebut juga memiliki nilai sakral sebagai salah satu sarana dalam pelaksanaan upacara yadnya.

Memasuki garapan utama, “Les Kelanguan” mengangkat tradisi “Mebuug-buugan”, ritual khas masyarakat Desa Adat Kedonganan yang dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi bermain lumpur ini menjadi metafora perjalanan menuju Atma Kerthi Jiwa Sidha Parisudha. Kisah diawali dari keceriaan anak-anak yang bermain lumpur merah di pesisir sebagai simbol sifat alami manusia yang masih dipenuhi kekotoran. Perjalanan kemudian berkembang menjadi konflik yang mencerminkan gejolak batin dan ego manusia.

Alur cerita berlanjut dengan hadirnya sosok dukuh yang menanamkan nilai-nilai dharma sebagai tuntunan hidup. Perjalanan spiritual kemudian mencapai tahap penyucian di pesisir barat melalui prosesi Sesuhunan yang lunga ngintar merespons mrana desa. Kehadiran Legong, Telek, hingga manifestasi sakral Ida Jro Wayan dan Ida Jro Luh dalam wujud Barong Landung memperkuat pesan bahwa manusia akan mencapai keseimbangan apabila mampu menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya hingga mencapai jiwa yang Sidha Parisudha.

Baca Juga  Gubernur Koster Apresiasi Kinerja Pansus TRAP DPRD Bali

Koordinator Nglawang Barong Landung Duta Kabupaten Badung, Agus Suanjaya, mengatakan tema “Les Kelanguan” terinspirasi dari kawasan hutan mangrove di pesisir timur Kedonganan. Menurutnya, garapan tersebut menjadi media untuk memperkenalkan tradisi-tradisi yang masih hidup di Desa Adat Kedonganan kepada masyarakat luas.

“Kami mengangkat tradisi yang ada di Desa Adat Kedonganan, terutama Mebuug-buugan yang dilaksanakan setiap Manis Nyepi. Tradisi itu kami hadirkan ke dalam konsep garapan agar masyarakat semakin mengenal warisan budaya yang kami miliki. Harapan kami, desa adat maupun duta kabupaten lainnya juga terdorong mengangkat tradisi yang dimiliki daerahnya masing-masing,” ujar Agus Suanjaya.

Ia menjelaskan proses kreatif pementasan telah dimulai sejak 11 Februari 2026 dan berlangsung selama sekitar empat setengah bulan. Sebanyak 108 seniman dilibatkan dalam proses latihan hingga akhirnya tampil mewakili Kabupaten Badung pada panggung PKB XLVIII.

Sementara itu, penari yang memerankan tokoh kakek, Agus Suwira, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari Pesta Kesenian Bali. Menurutnya, festival seni tahunan ini menjadi wadah penting bagi para seniman untuk terus berkarya sekaligus menjaga keberlangsungan seni dan budaya Bali.

“Pesta Kesenian Bali memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Semoga kegiatan ini terus berkembang sehingga seni dan budaya Bali tetap lestari dan semakin dicintai oleh generasi muda,” kata Agus Suwira.

Dalam pementasan tersebut, Agus Suwira memerankan sosok kakek yang menjadi panutan keluarga dengan memberikan tuntunan kepada cucu-cucunya agar tumbuh menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur, mampu menjaga nilai-nilai budaya, serta menjadi kebanggaan masyarakat.

Sementara itu, Gung Gita yang memerankan tokoh nenek menjadi simbol kasih sayang dan kebijaksanaan dalam keluarga. Kehadiran kedua tokoh tersebut memperkuat pesan moral pementasan tentang pentingnya peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai dharma, menjaga keharmonisan kehidupan, serta mewariskan tradisi kepada generasi penerus.

Baca Juga  Gubernur Koster Lepas Kontingen Bali pada Pra-POPNAS Zone III 2022 di Kalsel

Tepuk tangan panjang dari penonton menutup pementasan sore itu. Melalui garapan “Les Kelanguan”, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menyuguhkan pertunjukan yang memukau secara artistik, tetapi juga mengajak masyarakat untuk memahami makna penyucian diri, menjaga keharmonisan dengan alam, serta melestarikan tradisi sebagai identitas budaya Bali yang terus hidup dari generasi ke generasi. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca