Bangli, baliilu.com –
Kawasan Batur Geopark adalah aset satu-satunya dimiliki Bangli yang menjadi sumber
terbesar pendapatan Bangli. Namun pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan juga menghantam
Bali, membuat sektor pariwisata terperosot ke titik nadir, termasuk Bangli yang
sangat mengandalkan pemasukan dari sektor pariwisata khususnya dari kawasan
Kintamani.
Di tengah pandemi Covid-19, kehadiran pejabat tinggi
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional RI/Bappenas ke kawasan Batur Geopark
memberi angin segar bagi Pemerintah Kabupaten Bangli, khususnya pelaku
pariwisata yang berada di kawasan Kintamani. Di antara pejabat yang hadir yakni
Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Dr.
Ir. Arifin Rudiyanto, MSc, Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Drs.
Pungky Sumadi, MCP, PhD.
KUNJUNGI TOYA DEVASYA: Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Dr. Ir. Arifin Rudiyanto, MSc (kiri) menikmati spot di Toya Devasya saat melakukan kunjungan ke kawasan Kintamani bersama pejabat tinggi Kementerian PPN RI/Bappenas.
‘’Kami menaruh harapan besar atas kehadiran rombongan pejabat tinggi Kementerian Bappenas untuk melakukan sesuatu di Bangli dan jangan kami hanya dijadikan sebagai daerah koservasi, di satu sisi kami tidak diberikan apa-apa,’’ terang Sekretaris Daerah Kabupaten Bangli Ida Bagus Giri di sela-sela mendampingi rombongan Kementerian PPN/Bappenas mengunjungi kawasan Kintamani di antaranya Desa Trunyan dan Toya Devasya Hot Spring Waterpark, Selasa (4/8-2020).
Sesungguhnya Pemkab Bangli, kata IB Giri sudah mengajukan proposal,
pertama tentang pemulihan Danau Batur, kebetulan Danau Batur termasuk 15 danau
priotitas yang harus dilakukan revitalisasi. Kedua, pengembangan geopark menjadi
geo tourism, dimana pada saatnya wisatawan bosan akan pantai mencari ke pegunungan.
Ketiga, ingin ada jalan pintas sebagai aksesbility tempat turunnya wisatawan
cepat ke Bangli atau ke Singaraja.
Satu kearifan lokal dimana terdahulu orang sukses di Bali
selalu menghaturkan suinih kepada Dewi
Danu karena beliau dianggap sebagai Dewa Kemakmuran, dimana air Danau Batur
telah mengairi sawah-sawah di belahan Bali tengah ke timur.
‘’Mestinya di alam kekinian yang sudah modern tidak boleh
dong yang memberikan kemakmuran harus dilalaikan seperti ini. Minimal kami
didorong dalam pengembangan. Kami tidak mau mengemis, kami tidak menginginkan
sebagai kabupaten minta-minta dapat ini, ya proporsional. Sehingga terjadi
keseimbanan pembangunan Bali Selatan, Tengah dan Utara. Ketika berbicara
pariwisata bukan untuk Badung, Gianyar atau Denpasar tetapi ‘kan untuk Bali, karena
dengan keunikan yang ada di masing-masing daerah juga ingin mendapatkan nilai.
Ini yang kita harapkan sehingga pariwisata menjadi tulang punggung Bali dan
rakyat Bali,’’ ujar IB Giri.
IB Giri lanjut memberikan contoh, kenapa tamu-tamu pejabat negara
hanya tidurnya di Denpasar dan di Badung, sekali-sekali bisa diajak ke Bangli. ‘’Kami
harapkan beliau ajak disini karena ternyata di sini ada Toya Devasya yang
representatif. Ada keunggulan air panas dari pengunungan yang tidak dimiliki tempat
wisata lainnya. Udaranya adem, suasananya tenang, ada air panas dan tempat
tidur yang representatif,’’ imbuhnya.
DANAU BATUR: Panorama alam Kintamani dengan Danau dan Gunung Baturnya yang eksotik menjadi tujuan wisatawan dunia.
Dengan satu keberanian dan nekat yang luar biasa, Toya Devasya berdiri dan justru Bangli bangga ini menjadi ikon bahwa di Bangli ada hotel yang representatif, ada tempat pertemuan yang representatif. ‘’Inilah harapan kami mudah-mudahan Bappenas yang berpikir untuk NKRI bisa mengarahkan seluruh kementerian tidak semua dilakukan di Badung atau di Denpasar. Sekali-kali di Bangli yang memerlukan view gunung dengan danaunya, juga untuk pemerataan pembangunan di Bali,’’ ujarnya.
Dikatakan bandara ada di Badung, sekarang ada rencana
pembangunan bandara di Buleleng, pelabuhan cruise
di Tanah Ampo Karangasem, dan kita ingin membuat program melalui kedatangan Bappenas
ini bagaimana membuat jalan lintas sehingga Bangli yang di tengah-tengah ini menjadi
sebuah segitiga emas yang cepat dikunjungi wisatawan.
Ketika kita berbicara masalah dampak, nyatanya Bangli tingkat
kemandirian daerah paling kecil, aksesbility menyebabkan Bangli ini tidak terlalu
besar mendapatkan kue dari pariwisata Bali.
Revitalisasi Danau
Batur
Kalau melihat dari sisi teori, ungkap IB Giri, Danau Batur
tidak ada in leave tidak ada out leave. Seperti cawan tidak ada
pengeluaran. Ini berbahaya jika tidak cepat dilakukan. Dikatakan juga, keramba
secara teori tidak dibolehkan. Tetapi keramba ini juga usaha ekonomi masyarakat
kita. ‘’Solusi yang kami sampaikan kepada Bappenas bahwa kami bekerja sama dengan
Universitas Udayana kenapa tidak membuat demplot bioflok, jadi perikanan di darat.
Saya punya skema bioflok, jauh lebih efisien produktifitasnya tinggi. Keinginan
saya entah bapak bupati, kalau demplot ini bagus maka kita bantu dan keramba
ditarik dari danau. Jangan menarik tanpa sebuah solusi,’’ kata IB Giri seraya
menambahkan progress pembangunan dermaga Kedisan, Trunyan dan Toya Bungkah yang
juga akan berdampak terhadap keberadaan wisatawan di Danau Batur bisa lebih
lama yang akan memberikan efek ekonomi pada masyarakat sekitar.
Persoalan yang lain juga dimintakan ke Bappenas misalnya
petani yang menyiram tanaman pertanian dengan mesin diesel berbahan bakar
minyak kenapa tidak menggunakan energi terbarukan misalnya pakai panel solar
(matahari), yang lebih efisien tanpa ada pencemaran danau. Begitu juga membuat
pilot projet pengolahan sampah limbah rumah tangga di Kedisan setelah melalui
treatmen dengan batasan tertentu hasilnya bisa kembali dilepas ke danau.
Berada di kawasan klaster III atau kawasan konservasi yang
kewenangannya ada di BKSDA, di satu sisi ditekan bahasa konservasi di sisi lain
tidak bisa berusaha apa pun atau menikmatinya. ‘’Kita harus sinergikan,
konservasi terjaga usaha masyarakat berjalan didasari atas pola-pola konservasi,
itulah konsep geopark yang ada. Memuliakan alam untuk mensejahterakan manusia. Jika
kami tak makan-makan, hutan pun bisa ditebang, gunung bisa digali pasirnya.
Bagaimana kita berdayakan dengan tetap ada dasar-dasar konservasi. Itu yang
kita harapkan sekali,’’ pungkas Sekda IB Giri. Akhirnya, pariwisata berkembang
dengan baik, danau dipulihkan, penghasilan masyarakat dari budidaya ikan khas
kuliner Bangli pun tidak hilang. (gs)
AUDIENSI: Gubernur Bali Wayan Koster saat menerima audiensi jajaran pelaku pariwisata yang tergabung dalam Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5). (Foto: Hms Pemprov Bali)
Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan Bali telah memiliki posisi kuat sebagai pusat pertemuan internasional dunia atau meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Untuk itu, ia mendorong pelaku industri pariwisata dan pemangku kepentingan MICE di Bali membangun standar penyelenggaraan yang berkarakter, berbasis budaya Bali, sekaligus memberi dampak nyata bagi pelaku ekonomi lokal.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menerima audiensi jajaran pelaku pariwisata yang tergabung dalam Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5).
“Bali sudah secara de facto menjadi pusat meeting internasional. Selama ini begitu banyak pertemuan dunia diselenggarakan di Bali karena fasilitas kita kuat, SDM siap, keamanan dan kenyamanan VVIP terjaga,” ujar Koster.
Menurutnya, kekuatan utama Bali bukan hanya pada fasilitas ballroom, convention center, dan hotel berstandar internasional, melainkan budaya Bali yang unik dan tidak dapat ditiru daerah lain secara instan.
Ia mencontohkan keberhasilan Bali menjadi tuan rumah berbagai agenda dunia seperti G20 dan World Water Forum yang menghadirkan puluhan ribu delegasi dari ratusan negara. Dalam forum internasional tersebut, khususnya World Water Forum, Bali dinilai unggul karena mampu memadukan fasilitas modern dengan konsep budaya dan filosofi lokal seperti Sad Kerthi, Danu Kerthi, serta sistem subak.
“Kita jangan terlalu terbawa arus luar karena branding Bali sudah sangat kuat. Yang menjadi nilai jual utama adalah budaya Bali,” katanya.
Koster meminta BaliCEB merumuskan standar MICE khas Bali agar memiliki identitas dan karakter berbeda dibanding destinasi lain di dunia.
“Organisasi silakan rumuskan standar MICE di Bali yang unik supaya punya identitas. Kontennya harus orisinal, dipikirkan dan diurus dengan benar sehingga semua penyelenggara punya acuan,” ujarnya.
Selain memperkuat identitas budaya, Koster juga menekankan pentingnya keterlibatan UMKM lokal dalam setiap kegiatan MICE di Bali, mulai dari transportasi, dekorasi hingga souvenir.
“MICE harus mampu mendukung UMKM lokal Bali. Bangkitkan spirit kelokalan agar dampaknya lebih optimal terhadap pelaku ekonomi Bali,” tegasnya.
Ia juga memastikan persoalan sampah dan kemacetan yang selama ini menjadi sorotan wisatawan akan terus dibenahi secara bertahap guna memperkuat daya tarik Bali sebagai destinasi global.
Ratusan Pelaku Industri Gabung BaliCEB
Sementara itu, Ketua Umum Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) Ketut Jaman mengungkapkan minat pelaku industri pariwisata Bali untuk bergabung dalam organisasi tersebut sangat tinggi.
“Sudah ratusan yang ancang-ancang bergabung dengan MICE ini. Kita ingin Bali menjadi pusat MICE dunia,” ujarnya.
Menurut Ketut Jaman, Bali memiliki ratusan fasilitas MICE dengan sekitar 30 ballroom berkapasitas di atas 200 orang yang tersebar di berbagai kawasan pariwisata.
Pelantikan pengurus BaliCEB dijadwalkan berlangsung pada 5 Juni mendatang di kawasan The Meru, Sanur. Organisasi tersebut menargetkan Bali menjadi destinasi utama penyelenggaraan meeting internasional yang jumlahnya mencapai ribuan agenda setiap tahun di berbagai negara.
Selain itu, BaliCEB juga menyatakan komitmennya mendukung program pungutan wisatawan asing melalui sosialisasi kepada peserta dan penyelenggara event MICE di Bali.
“MICE sangat membantu tingkat hunian hotel maupun kunjungan ke daya tarik wisata di Bali,” kata Ketut Jaman. (gs/bi)
Gubernur Bali Wayan Koster mengalungkan bunga menyambut wisatawan yang datang ke Bali saat Tahun Baru 2026. (Foto: bi)
Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster gembira dan berterima kasih kepada semua stakeholders dan masyarakat yang terus aktif menjaga kualitas pariwisata Bali. Kerja keras semua pihak diapresiasi dunia. Bali Indonesia baru saja meraih peringkat 1 World’s Best Destination 2026, dalam ajang bergengsi Travelers’ Choice Awards: Best of the Best oleh TripAdvisor. Bali di posisi teratas, melampaui sembilan destinasi kenamaan dunia lainnya seperti London, Roma, Hanoi, Paris, New York (NY) hingga Dubai.
Penghargaan dunia ini diakui Koster bahwa Bali tetap kuat dengan pariwisata berbasis budaya, tradisi, seni dan alam meskipun sering digoyang dengan isu sampah, macet dan sepi.
“Bali di posisi nomor 1 dari 10 Top Destinasi Pariwisata Dunia. Bali menempati posisi tertinggi di dunia sepanjang sejarah. Digoyang dengan isu sampah, macet, sepi dan lain ternyata tak bisa menggoyahkan posisi Bali,” kata Gubernur Koster, Jumat, 16 Januari 2026.
Tak hanya dianugerahi peringkat satu Top Destinasi Pariwisata Dunia oleh TripAdvisor, Bali juga diakui global dalam berbagai kategori lainnya seperti diakui sebagai peringkat pertama Honeymoon Destination. kemudian masuk Top 10 Cultural Destination, Top 10 Solo Travel Destination, Top 20 Trending Cities.
Berikut ini data dan fakta Top 10 World’s Best Destinations Travelers’ Choice Awards Trip Advisor dan Bali Indonesia berada di posisi pertama. Setelah itu disusul urutan kedua London, Britania Raya, dan ketiga Dubai, Uni Emirat Arab, keempat Hanoi, Vietnam, kelima Paris, Prancis, keenam Roma, Italia, ketujuh Marrakesh, Maroko, kedelapan Bangkok, Thailand, kesembilan Kreta, Yunani dan sepuluh New York, Amerika Serikat. (gs/bi)
PENGARAHAN PWA: Gubernur Bali, Wayan Koster mengumpulkan seluruh pelaku usaha pariwisata se-Provinsi Bali terkait pengarahan mengenai imbal jasa Pungutan Bagi Wisatawan Asing (PWA) di Art Centre Denpasar, Jumat (15/8). (Foto: Hms Pemprov Bali)
Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali, Wayan Koster mengumpulkan seluruh pelaku usaha pariwisata se-Provinsi Bali di Art Centre Denpasar, Jumat (15/8). Hal tersebut terkait dengan pengarahan Gubernur Bali mengenai imbal jasa Pungutan Bagi Wisatawan Asing (PWA) untuk pelaku usaha pariwisata yang ikut berpartisipasi menjadi mitra manfaat dan endpoint PWA.
Koster menjelaskan bahwa capaian Pungutan Wisatawan Asing (PWA) yang dilakukan saat ini belum maksimal dimana per tahun 2024 jumlah PWA yang terkumpul hanya mencapai Rp. 318 miliar atau 32% dari total pembayaran yang seharusnya dibayar wisman. Sedangkan di tahun 2025 capaian PWA hingga pertengahan Agustus 2015 sudah Rp. 229 miliar atau 34% dari jumlah wisatawan asing yang datang ke Bali.
“Belum maksimal. Masih sangat jauh dari harapan kita,” ungkap Koster.
Namun ia menjelaskan, memang dalam penerapannya terdapat beberapa kendala yang dihadapi salah satunya adalah Perda Bali No. 6 Tahun 2023 tentang Pungutan Bagi Wisatawan Asing untuk melindungi kebudayaan dan lingkungan Alam Bali belum mengatur tentang imbal jasa bagi pelaku usaha yang terlibat sebagai mitra manfaat dan endpoint PWA.
“Saat itu intensif dan imbal jasa tidak kita atur dalam Perda karena itulah kita melakukan perubahan Perda menjadi Perda Provinsi Bali No. 2 Tahun 2025 dan astungkara disetujui oleh Kemendagri termasuk juga dengan Pergubnya,” kata Koster dihadapan para GM/pimpinan hotel dan stakeholder pariwisata lainnya.
Koster menyampaikan bahwa sosialisasi tersebut dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada seluruh usaha pariwisata di Bali untuk ikut berpartisipasi dengan melakukan Kerjasama menjadi mitra manfaat dan endpoint dalam rangka optimalisasi pungutan wisatawan asing (PWA).
“Mitra manfaat dan endpoint dapat diberikan imbal jasa setingi-tingginya 3% dari perolehan pembayaran dan akan dibayarkan tiap triwulan,” kata Koster.
Ia berharap para pelaku usaha pariwisaha dapat turut berkontribusi dan terlibat aktif dalam mensukseskan program Pungutan bagi Wisatawan Asing (PWA) dengan turut mendaftar sebagai mitra manfaat atau endpoint.
Sementara itu, penggunaan PWA nantinya akan difokuskan untuk perlindungan kebudayaan dan lingkungan alam Bali, peningkatan kualitas pelayanan dan penyelenggaraan kepariwisataan Budaya Bali serta penanganan sampah di Bali.
Gubernur Koster juga menjelaskan, para pelaku usaha pariwisata harus berperan aktif dan bekerja sama dengan mendaftar sebagai mitra manfaat atau endpoint agar penyelenggaraan Pungutan Bagi Wisatawan Asing berjalan dengan lancar dan sukses.
“Hasil pungutan dari Wisatawan Asing sungguh-sungguh memberikan manfaat nyata bagi Pemerintah Provinsi Bali dalam penyelenggaraan kepariwisataan Bali berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat. Hasilnya akan digunakan antara lain untuk melindungi lingkungan Alam, Kebudayaan, dan Aura Spiritual Bali; menciptakan ketertiban, kenyamanan, dan keamanan bagi wisatawan asing selama berada di Bali; meningkatkan pembangunan infrastruktur dan transportasi ramah lingkungan. Selain itu juga untuk penanganan sampah; dan meningkatkan layanan informasi kepariwisataan. Pemerintah Provinsi Bali akan memberikan informasi penerimaan serta penggunaan dari hasil Pungutan Bagi Wisatawan Asing secara transparan dan akuntabel,” tegas Koster. (gs/bi)