Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Gubernur Koster, Kapolda Bali, Danrem 163/Wira Satya, dan Bendesa Agung Tandatangani Nota Kesepakatan Bersama Pelaksanaan Sipandu Beradat

BALIILU Tayang

:

de
Gubernur Bali Wayan Koster, Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Husein Sagaf, dan Bendesa Agung MDA Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet secara resmi menandatangani Nota Kesepakatan Bersama tentang Pelaksanaan Sipandu Beradat, Kamis, (28/1) pagi di Wantilan Pura Samuan Tiga, Bedulu Gianyar.

Gianyar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster, Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Husein Sagaf, dan Bendesa Agung MDA Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet secara resmi menandatangani Nota Kesepakatan Bersama tentang Pelaksanaan Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat (Sipandu Beradat) tepat pada Purnama Kaulu, hari Kamis, Wraspati Wage Watugunung (28/1) pagi di Wantilan Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.

Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra dalam laporannya dihadapan Gubernur Koster dan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, menyatakan dengan ditandatanganinya Nota Kesepakatan Bersama tentang Pelaksanaan Sipandu Beradat, merupakan wujud implementasi Perda Provinsi Bali No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 26 Tahun 2020 tentang Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat untuk mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia sakala-niskala sesuai dengan visi Pembangunan Daerah Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.

Untuk mewujudkannya, maka diperlukan sistem pengamanan lingkungan masyarakat secara terpadu, dan perlu dibangun pengamanan wilayah (wewidangan) dan krama desa adat, krama tamiu, dan tamiu berbasis desa adat, dengan mengintegrasikan kegiatan antar-komponen pengamanan di desa adat dengan membentuk Forum Sipandu Beradat dalam rangka mewujudkan sistem pengamanan lingkungan yang terpadu dengan memperhatikan nilai-nilai budaya Bali.

“Forum Sipandu Beradat dibentuk secara berjenjang mulai dari tingkat desa adat, kecamatan, kabupaten/kota, sampai dengan tingkat provinsi. Pembentukan Forum Sipandu Beradat berdasarkan keputusan bendesa adat untuk Forum Sipandu Beradat di tingkat desa adat; camat untuk Forum Sipandu Beradat di tingkat kecamatan; bupati/walikota untuk Forum Sipandu Beradat di tingkat kabupaten/kota; dan gubernur untuk Forum Sipandu Beradat di tingkat provinsi,” jelas Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra dihadapan bupati/walikota, bendesa madya di kabupaten/kota, serta perwakilan perbekel dan lurah yang hadir di Wantilan Pura Samuan Tiga.

Secara fungsi, Forum Sipandu Beradat memiliki fungsi pre-emtif dan preventif dalam penanganan keamanan dan ketertiban lingkungan di desa adat. Dalam melaksanakan fungsi pre-emtif, Forum Sipandu Beradat memiliki tugas mengumpulkan data yang berpotensi memunculkan situasi gangguan ketertiban, ketenteraman, keamanan, dan kerawanan sosial; menerima laporan terjadinya potensi gangguan ketertiban, ketenteraman, keamanan, dan kerawanan sosial; menganalisis data dan laporan mengenai potensi terjadinya gangguan ketertiban, ketenteraman, keamanan, dan kerawanan sosial; melaporkan temuan/potensi gangguan ketertiban, ketenteraman, keamanan, dan kerawanan sosial kepada pejabat yang berwenang; menyampaikan rekomendasi penyelesaian masalah; dan menyampaikan laporan berkala atau sewaktu-waktu bilamana diperlukan.

Baca Juga  Kendarai Jeep Terbuka, Gubernur Koster dan Kapolda Bali Tinjau Kesiapan Venue dan Infrastruktur G20

Selanjutnya dalam rangka mendukung fungsi dan tugas Forum Sipandu Beradat tingkat desa adat, I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra juga menjelaskan bahwa Forum Sipandu Beradat dapat melaksanakan kegiatan preventif terbatas, berupa pengaturan lalu lintas dalam kegiatan adat, budaya, dan keagamaan; penjagaan lokasi tempat hiburan yang rawan terhadap gangguan keamanan dan ketertiban lingkungan masyarakat; pengawalan kegiatan kemasyarakatan; patroli ke tempat-tempat yang berpotensi rawan keamanan dan ketertiban lingkungan masyarakat; dan pengawasan ketertiban lingkungan wilayah krama desa adat, krama tamiu, dan tamiu di wilayah desa adat.

“Kegiatan preventif ini hanya dilaksanakan oleh pecalang, pam swadaya, dan bantuan perkuatan dari kepolisian, babinsa, linmas, satuan polisi pamong praja apabila diperlukan dalam koordinasi kepolisian setempat,” tegasnya.

Dengan demikian untuk mewujudkan pelaksanaan Sipandu Beradat ini, Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra juga melaporkan bahwa, pihaknya telah menetapkan 15 desa adat di kabupaten/kota di Bali sebagai Desa Adat Percontohan Penerapan Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat, melalui keputusan bersama antara Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat Provinsi Bali, yaitu di Kabupaten Badung terdapat 4 desa adat, meliputi Desa Adat Kutuh, Desa Adat Legian, Desa Adat Kuta, dan Desa Adat Munggu. Untuk Kota Denpasar difokuskan pada Desa Adat Sanur, di Kabupaten Tabanan ada 2 desa adat, yakni Desa Adat Beraban dan Desa Adat Sanggulan, di Kabupaten Jembrana terdapat di Desa Adat Gilimanuk, Kabupaten Buleleng desa adatnya bernama Desa Adat Yeh Sanih, Kabupaten Gianyar ada 2 desa adat, yakni Desa Adat Ubud dan Desa Adat Padang Tegal. Sedangkan di Kabupaten Klungkung Desa Adat Banjarangkan dan Desa Adat Gelgel, Kabupaten Bangli Desa Adat Pengelipuran, dan di Kabupaten Karangasem di Desa Adat Besakih.

Baca Juga  Menhub Apresiasi Capaian Program Energi Bersih Gubernur Koster Sesuai Kebijakan Presiden

Sementara itu, Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra bersama Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Husein Sagaf menyatakan apresiasinya dan menyambut baik dibentuknya Forum Sipandu Beradat dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal untuk menciptakan keamanan Bali.

“Kegiatan ini harus ditingkatkan kualitas SDM-nya, dan jangan sampai kegiatan ini keluar dari aturan yang berlaku,” tegas Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, yang kemudian kembali dipertegas oleh Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Husein Sagaf dengan menyatakan sistem keamanan tradisional di Bali ini juga harus tetap mengacu pada aturan hukum yang berlaku di NKRI.

Selanjutnya, Bendesa Agung MDA Provinsi Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet dalam sambutannya menegaskan selama ini desa adat sudah bersinergi dengan kepolisian dan TNI, hingga pemerintah daerah untuk mewujudkan Bali aman, damai, rukun. “Sehingga dengan adanya Forum Sipandu Beradat, kami di MDA Provinsi Bali sangat menyambut baik,” tegas Ida Pangelingsir.

Sedangkan, Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya mengatakan ini merupakan implementasi nyata dari Perda Provinsi Bali No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 26 Tahun 2020 tentang Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat untuk memberdayakan kelembagaan di desa adat, dalam hal ini membangun ketertiban dan keamanan berbasis desa adat yang bersinergi dengan negara di dalam mengayomi dan menangani masalah yang berkaitan dengan ketertiban, keamanan masyarakat.

“Ini model keamanan yang bagus dan baru pertama kali ada di Indonesia, yang langsung dipayungi oleh Perda Provinsi Bali No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 26 Tahun 2020 tentang Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat,” pungkasnya.

Dalam acara tersebut, Gubernur Bali, Pangdam IX/Udayana, Kapolda Bali, Danrem 163/ Wira Satya, walikota /bupati, dan Bandesa Agung MDA Provinsi Bali menonton pengenalan Busana Pecalang dan Bankamda (Bantuan Keamanan Desa Adat). Dimulai dari Pacalang Desa Adat atau Jaga Bhaya Desa Adat, di mana dalam melaksanakan tugasnya ada 3 busana yang digunakan, seperti Seragam Hitam digunakan saat upacara Pitra Yadnya, Seragam Merah digunakan saat upacara Manusa Yadnya, dan Seragam Putih digunakan saat upacara Dewa Yadnya.

Keberadaan Pecalang Desa Adat atau Jaga Bhaya Desa Adat memiliki peran yang sangat strategis dalam rangka mendukung keamanan kegiatan adat di wewidangan desa adat, termasuk juga di luar kegiatan adat seperti pengamanan obyek wisata guna mendukung pariwisata Bali secara umum dan khususnya perkembangan desa wisata. Sehingga desa adat diharapkan dapat menyediakan unsur keamanan guna memberikan jaminan  keamanan lingkungan sebagai bentuk upaya preventif dalam menjaga kenyamanan dan keamanan secara mandiri.

Baca Juga  Besakih Tanpa Sampah Plastik, Koster Tegaskan Disiplin Total demi Kesucian Karya IBTK 2026

“Pengaturan terhadap pakaian juga dilakukan dengan maksud sebagai ciri dan kekhasan dalam bertugas, antara Pecalang dan Bankamda yang merupakan salah satu bentuk pemberdayaan Pecalang sebagai komponen keamanan lingkungan di desa adat,” jelas Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (Dinas PMA) Provinsi Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra.

Lebih lanjut, I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra menjelaskan mengenai Bankamda, personilnya berasal dari Pecalang yang telah mendapatkan pelatihan dan memiliki keterampilan tugas-tugas preventif terbatas, sehingga mampu dan terampil di dalam menjalankan tugas-tugas umum di desa adat masing-masing.

Terkait seragam Bankamda, menggunakan seragam khusus meliputi rompi Bankamda dan topi pilkep warna hitam. Dalam rompi tersebut, terdapat atribut di bagian dada sebelah kanan berupa simbol bad Polda Bali sebagai tanda pembina dan mendapat pengukuhan dari kepolisian. Sedangkan atribut bagian dada sebelah kiri, ada bed desa adat, sebagai simbol keamanan desa adat. Selanjutnya di atas saku kanan bertuliskan Bankamda, dan saku kiri nama anggota Bankamda.

“Bankamda yang sudah terlatih akan dilengkapi dengan kartu Bankamda yang dikeluarkan oleh Polda Bali. Dalam pelaksanaan tugasnya Bankamda dilengkapi dengan peralatan perorangan, seperti HP, pluit, borgol dan pentungan. Selanjutnya pada bagian belakang rompi terdapat tulisan Bankamda dan nama desa adat masing-masing,” ujar Kadis PMA Provinsi Bali ini seraya menjelaskan guna mewujudkan kompetensi dan profesionalisme Bankamda yang sudah mengikuti latihan, maka mereka berhak disematkan Pin Gada Pratama sebagai lencana predikat keterampilan dasar dari kepolisian. (gs)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

BUDAYA

Wabup Bagus Alit Sucipta Hadiri “Karya Rsi Gana” di Pura Desa Sibanggede

Published

on

By

Wabup Alit Sucipta
HADIRI KARYA: Wabup Bagus Alit Sucipta, menghadiri pelaksanaan Karya Rsigana, Melaspas dan Mendem Pedagingan di Pura Desa, Desa Adat Sibanggede, Abiansemal Badung, Selasa (2/6). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta bersama Ketua WHDI Badung Nyonya Yunita Alit Sucipta, menghadiri pelaksanaan Karya Rsi Gana, Melaspas dan Mendem Pedagingan yang merupakan rangkaian Karya Piodalan Padudusan Agung, Menawa Ratna, Medasar Caru Labuh Gentuh, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini di Pura Desa, Desa Adat Sibanggede, Abiansemal Badung, Selasa (2/6). Karya suci tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Geniten dari Griya Dalem Sibanggede dan Ida Pedanda Gede Watulumbang dari Griya Watulumbang Sibangkaja.

Wabup turut melaksanakan persembahyangan bersama serta mengikuti prosesi mendem pedagingan. Upacara ini merupakan rangkaian Piodalan Padudusan Agung, Menawa Ratna, Medasar Caru Labuh Gentuh, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang bertujuan memohon kerahayuan jagat, keselamatan, kesejahteraan, serta menjaga keseimbangan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Selain sebagai wujud rasa syukur dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, upacara ini juga menjadi sarana memohon anugerah kesehatan, kesuburan, kemakmuran, keharmonisan, serta perlindungan dari berbagai mara bahaya dan bencana bagi seluruh Krama Desa Adat Sibanggede. Sebagai bentuk komitmen dan dukungan Pemkab Badung terhadap pelaksanaan yadnya tersebut, Wabup Bagus Alit Sucipta secara simbolis menyerahkan bantuan dana sebesar Rp. 1,5 miliar yang diterima oleh Ketua Panitia Karya, I Ketut Darma.

Dalam sambrama wacananya, Wabup Bagus Alit Sucipta menyampaikan apresiasi kepada seluruh krama Desa Adat Sibanggede yang telah bergotong royong menyelenggarakan karya suci tersebut. Ia mengaku bangga dapat hadir dan berbaur bersama masyarakat yang sedang melaksanakan yadnya sebagai bentuk rasa syukur dan sembah bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kebersamaan serta mendukung berbagai program pembangunan Pemerintah Kabupaten Badung dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga  Kapolda, Politisi, Tokoh Adat, Sampai Made Mangku Pastika Puji Gubernur Koster Wujudkan Tonggak Peradaban Bali di Kawasan Suci Pura Agung Besakih

Karya suci ini merupakan wujud nyata sraddha dan bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa, semoga seluruh rangkaian karya dapat berjalan lancar, labda karya, serta memberikan kerahayuan, kesehatan, dan keseimbangan bagi alam semesta beserta seluruh krama sehingga tercipta kehidupan yang rembah ripah loh jinawi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya I Ketut Darma melaporkan bahwa pelaksanaan Karya Piodalan Padudusan Agung Menawa Ratna Medasar Caru Labuh Gentuh di Pura Desa Sibanggede dilaksanakan berdasarkan hasil paruman krama Desa Adat Sibanggede. Puncak karya dijadwalkan berlangsung pada 7 Juli 2026 mendatang sedangkan Upacara Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini akan dilaksanakan pada 9 Juli 2026.

Terkait pendanaan, I Ketut Darma menjelaskan bahwa pelaksanaan karya didukung bantuan hibah Pemkab Badung sebesar Rp. 1,5 miliar, punia dari krama Desa Adat Sibanggede, serta punia dari para pengusaha yang berada di wilayah Desa Sibanggede. Selain bantuan dana, masyarakat juga memberikan dukungan berupa beras dan berbagai sarana upakara lainnya.

Ia juga menyampaikan bahwa persiapan pelaksanaan karya dalam pembuatan berbagai sarana upakara dilakukan secara bersama-sama oleh para serati, tukang ulam, serta krama adat yang berasal dari 12 banjar.  Dengan jumlah kepala keluarga (KK) yang terlibat mencapai kurang lebih 1.500 KK.

Turut hadir pada kegiatan tersebut anggota DPRD Provinsi Bali I Nyoman Laka, anggota DPRD Kabupaten Badung I Nyoman Gede Wiradana, Ketua WHDI Kabupaten Badung Nyonya Yunita Alit Sucipta, Camat Abiansemal yang diwakili Kasi Pelayanan Umum Made Parmita, Bendesa Adat Sibanggede I Nyoman Surianta, Perbekel Sibanggede I Wayan Darmika, serta undangan lainnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wawali Arya Wibawa Hadiri Upacara “Melaspas” Wantilan di Pura Dalem Tegeh Gumi

Published

on

By

wawali arya wibawa
HADIRI UPACARA: Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa saat menghadiri Upacara Melaspas Wantilan di Pura Dalem Tegeh Gumi, Desa Dauh Puri Kauh bertepatan dengan Anggara Kasih Julungwangi, Selasa (2/6). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa menghadiri Upacara Melaspas Wantilan di Pura Dalem Tegeh Gumi, Desa Dauh Puri Kauh bertepatan dengan Anggara Kasih Julungwangi, Selasa (2/6). Upacara tersebut dilaksanakan lantaran proses renovasi bangunan wantilan tuntas dilaksanakan dengan bantuan hibah dari Pemkot Denpasar.

Hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPRD Kota Denpasar, AA Putu Gede Wibawa, Dirut PT. Jamkrida Bali Mandara, AA Ngurah Adhi Ardhana, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, Kadis Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkim) Kota Denpasar, I Gede Cipta Sudewa Atmaja, Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, IB Alit Surya Antara, Camat Denpasar Barat, I Wayan Yusswara serta undangan lainnya.

Perwakilan Pengempon Pura, I Putu Adiana mengucapkan terima kasih atas dukungan serta bantuan semua pihak dalam pelaksanaan pembangunan Wantilan Pura Dalem Tegeh Gumi. Dimana, dengan berakhirnya upacara melaspas ini maka tuntas pula proses pemugaran Wantilan ini.

“Kami atas nama pengempon pura mengucapkan terima kasih atas dukungan dan sumbangsih semua pihak, terutama Pemkot Denpasar dalam mensukseskan pembangunan Wantilan Pura Dalem Tegeh Gumi,” ujarya.

Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, keberadaan wantilan ini tentunya memberikan manfaat bagi krama dalam mendukung pelaksanaan yadnya di Pura Dalem Tegeh Gumi.

“Tentunya kehadiran wantilan ini akan memberikan kemanfaatan bagi krama pengempon dalam pelaksanaan yadnya dan aci di Pura Salem Tegeh Gumi,” ujarnya.

Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa memberikan apresiasi atas semangat krama pengempon Pura Dalem Tegeh Gumi. Kedepan, dengan adanya bangunan wantilan ini dapat memberikan kemanfaatan serta senantiasa menumbuhkan semangat menyama braya di lingkungan krama pengempon.

“Kami dari Pemerintah Kota Denpasar memberikan apresiasi atas semangat gotong royong krama pengempon Pura Dalem Tegeh Gumi. Semoga wantilan ini memberi kemanfaatan dalam menunjang kegiatan adat dan keagamaan, serta meningkatkan persatuan dan rasa menyama braya krama pengempon,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Gubernur Koster Tak Kompromi dengan Premanisme, Minta Warga Aktif Lapor ke Aparat Keamanan

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Hadiri “Ngenteg Linggih” di Batunya, Wagub Giri Prasta Tekankan Pentingnya Gotong-royong dan Persatuan Krama

Published

on

By

Wagub Giri Prasta
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri saat menghadiri Upacara Ngenteg Linggih Wraspati Kalpa dan Mapadudusan Alit di Pura Desa, Desa Adat Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Selasa (2/6). (Foto: Hms Pemprov Bali)  

Tabanan, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menekankan pentingnya menjaga semangat gotong-royong dan persatuan dalam kehidupan bermasyarakat sebagai fondasi untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Pesan tersebut disampaikannya saat menghadiri Upacara Ngenteg Linggih Wraspati Kalpa dan Mapadudusan Alit di Pura Desa, Desa Adat Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Selasa (2/6).

Dalam sambutannya, Giri Prasta mengaku bangga dan mengapresiasi kekompakan krama Desa Adat Batunya yang mampu melaksanakan karya besar secara bersama-sama. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan yadnya tidak terlepas dari semangat kebersamaan dan kerja sama seluruh masyarakat adat.

Ia juga mengingatkan agar sarana dan prasarana suci yang telah dibangun dapat dipelihara dengan baik sebagai warisan bagi generasi penerus. Dengan demikian, anak cucu di masa mendatang dapat lebih fokus melanjutkan tradisi dan pengabdian kepada adat serta agama tanpa harus terbebani oleh pembangunan fisik pura.

“Kita banyak menjalankan adat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melaksanakan yadnya. Oleh karena itu, masyarakat harus tetap bersatu agar perjuangan mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian dapat terlaksana dengan baik. Kebersamaan dan gotong-royong menjadi kunci eratnya persaudaraan di antara kita,” ujar Giri Prasta.

Mantan Bupati Badung dua periode tersebut juga mendorong masyarakat untuk terus memupuk nilai-nilai saling asah, asih, dan asuh dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, semangat gotong-royong akan membuat setiap pekerjaan terasa lebih ringan dan berbagai rencana pembangunan dapat diwujudkan secara bersama-sama.

Ia mencontohkan, apabila masih terdapat bangunan pura yang memerlukan penyempurnaan, termasuk Pura Pengubengan, maka perbaikannya dapat dilakukan melalui kebersamaan dan partisipasi seluruh krama.

“Kita terlahir sebagai makhluk sosial dan tidak bisa hidup sendiri. Oleh sebab itu, kolaborasi, sinergi, gotong-royong, dan kerja sama yang baik menjadi kunci keberhasilan,” tegasnya.

Baca Juga  Gubernur Koster Saksikan Parade Gong Kebyar Wanita PKB 2025, Apresiasi Semangat Seni Generasi Muda

Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Bali didampingi Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga turut melaksanakan persembahyangan bersama masyarakat setempat dalam rangkaian piodalan yang nyejer selama tiga hari.

Sementara itu, Bendesa Adat Batunya menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas kehadiran Wakil Gubernur Bali dan Wakil Bupati Tabanan dalam rangkaian karya tersebut. Kehadiran kedua pemimpin daerah itu dinilai sebagai bentuk perhatian dan dukungan pemerintah terhadap pelestarian adat, agama, seni, tradisi, dan budaya Bali.

Selain memberikan punia, keduanya juga berkesempatan menyaksikan secara langsung jalannya Upacara Ngenteg Linggih Wraspati Kalpa dan Mapadudusan Alit yang berlangsung khidmat dengan partisipasi penuh dari krama Desa Adat Batunya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca