Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Bupati Giri Prasta Hadiri Nyekah dan Ngaben Massal Desa Adat Semanik

BALIILU Tayang

:

eka
NYEKAH MASSAL: Bupati Giri Prasta saat menghadiri upacara Nyekah Massal Desa Adat Semanik, Desa Pelaga Kecamatan Petang, Selasa (20/7).

Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menghadiri upacara Nyekah Massal Desa Adat Semanik, Desa Pelaga Kecamatan Petang, Selasa (20/7). Turut mendampingi Anggota DPRD Badung I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha mewakili Ketua DPRD Badung, Perwakilan Dinas Kebudayaan Badung, Perwakilan Camat Petang beserta unsur Tripika Kecamatan Petang dan Perbekel Desa Pelaga I Made Ordin.

Pada kesempatan tersebut Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta memberikan apresiasi dan dukungan atas semangat persatuan yang telah ditunjukkan Krama Desa Adat Semanik dalam melaksanakan Karya Pitra Yadnya (memukur kinembulan) lan Manusa Yadnya secara massal, meskipun ditengah pandemi Covid-19 masyarakat tetap menaati protokol kesehatan yang ketat.

“Atas nama Pemkab. Badung kami sangat mendukung, semoga upacara ini berjalan dengan lancar dan baik. Kami juga mengingatkan masyarakat agar tetap melaksanakan prokes demi kesehatan bersama untuk ikut serta dalam memerangi Covid -19 ini, dan juga selalu kami imbau untuk yang belum mengikuti vaksin agar segera melakukan vaksinasi,” ujarnya.

Lebih lanjut Bupati Giri Prasta mengharapkan kepada krama yang memiliki sawa agar betul-betul mengikuti jalannya karya mulai dari awal hingga ngelinggihang ring merajan (rong tiga) serta didasari atas hati yang tulus ikhlas. Diharapkan pula pelaksanaan karya sesuai sastra agama Hindu serta yang terpenting guyub ring pasemetonan.

“Dalam pelaksanaan karya atiwa tiwa, atma wedana lan sarwa prakerti ini, beberapa hal yang patut dipahami, mulai dari murwa daksina dengan menggunakan sapi gading atau sapi selem batu, yang akan mengantarkan atma menuju surga. Banyak rangkaian dari upacara nyekah yang patut dilaksanakan oleh krama sebagai peserta nyekah, mulai dari ngangget don bingin, murwa daksina, meprelina puspa, dan selain itu dalam prosesi meajar-ajar ada yang disebut catur loka pala. Meajar-ajar ke utara di Pura Beratan, Barat ke Pura Batu Kau, Selatan ke Pura Uluwatu dan Timur ke Pura Goa Lawah. Dan terakhir mamitang ke pura dalem dan ngelinggihang di masing-masing merajan,” jelasnya.

Baca Juga  Petani Holtikultura Tabanan Dijamin Sumringah, Koster-Giri Perkuat Ekspor Manggis, Fasilitasi Beras Masuk Hotel Bintang 5

Bupati berharap semua prosesi upacara tersebut dapat diikuti oleh semua keluarga sebagai tanggung jawab serta wujud bhakti kepada leluhur yang diupacarai dan pada saat ngelinggihang yang disebut dewa pretista bermakna menyatukan bumi dengan langit dengan konsep padu muka. “Saya berharap dudonan dan rangkaian karya yadnya ini berjalan dengan lancar labda karya sida sidaning don,” pungkasnya.

Sebagai bentuk motivasi dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Badung, Bupati Giri Prasta menyerahkan bantuan sebesar Rp. 250.000.000 dan secara pribadi Rp. 15.000.000, sementara itu Ketua DPRD diwakili I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha menyerahkan bantuan Rp. 5.000.000 dan secara pribadi membantu Rp. 5.000.000.

Bendesa Adat Semanik I Gusti Lanang Umbara yang juga Anggota DPRD Badung mengucapkan banyak terimakasih atas kehadiran Bupati Badung bersama undangan yang lain dalam upacara ngaben dan nyekah massal Desa Adat Semanik yang diikuti oleh 30 KK. Upacara ngaben dan nyekah massal ini diikuti 35 sawa, metatah/ potong gigi diikuti sebanyak 62 orang. Dalam pelaksanaan upacara ini diawali dengan paruman/ rapat desa adat untuk perencanaan acara ngaben dan nyekah massal ini dimana krama adat yang ikut dalam upacara ini mengeluarkan dana sebesar Rp.15.200.000 per sawa, jadi total dana yang terkumpul untuk pelaksanaan acara ini sebesar Rp. 532.000.000.

Terkait dengan perencanaan persiapan upacara ini dimulai awal Juni, dan pada 23 Juni dilaksanakan ngaturan piuning ke pura- pura. Pada 24 Juni dilaksanakan nyukat karang/ genah lanjut nanceb tempat upacara, pada 9 Juli dilaksanakan ngeplukan sawa ring setra Desa Adat Semanik. Pada 11 Juli puncak acara ngaben, setelah acara pengabenan selesai upacara tersebut berlanjut mulai dari 21 Juli ngangget don bingin, 22 Juli metatah/ potong gigi dan juga puncak acara nyekah.

“Keesokan harinya, tepatnya 23 Juli 2021 dilaksanakan upacara nyegara gunung dan ngelinggihang di merajan masing-masing dimana dalam acara nyegara gunung seharusnya bertempat di Pura Goa Lawah dan Pura Besakih tetapi karena dalam situasi PPKM Darurat saat ini, krama Desa Adat Semanik melaksanakannya hanya di campuan Desa Adat Semanik. Ngelantur ngangkit, seterusnya nyegara gunung nyawang dari Pura Desa Desa Adat Semanik, dengan tetap menerapkan prokes dalam pelaksanaan kegiatan ini serta dalam pelaksanaannya juga dilakukan secara estafet atau bergilir per tempekan atau kelompok,” jelasnya. (gs)

Baca Juga  Bupati Giri Prasta Dampingi Presiden Joko Widodo, Saksikan BWF World Tour Finals

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Rahina Tumpek Wayang, Bupati Sanjaya Ajak Masyarakat Jaga Keharmonisan Alam Bali

Published

on

By

Bupati Sanjaya Pimpin Persembahyangan Tumpek Wayang di Tabanan
PERSEMBAHYANGAN: Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., didampingi Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, bersama anggota DPRD Kabupaten Tabanan, para Asisten dan Kepala Perangkat Daerah serta ribuan ASN, pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan, dan para pemangku PSN Kabupaten Tabanan saat melakukan persembahyangan bersama dalam rangka memaknai Rahina Tumpek Wayang, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Memperkuat sradha bhakti sekaligus menjaga kelestarian adat dan budaya Bali menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam memaknai Rahina Tumpek Wayang. Hal tersebut diwujudkan melalui persembahyangan bersama pada Sabtu (10/10), yang dihadiri Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., didampingi Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, bersama anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Para Asisten dan Kepala Perangkat Daerah serta ribuan ASN, pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan, dan para pemangku PSN Kabupaten Tabanan.

Persembahyangan berlangsung di Padmasana Kantor Bupati Tabanan dan Rahina Tumpek Wayang yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang dan diperingati setiap 210 hari menjadi momentum untuk menjaga keseimbangan serta keharmonisan alam Bali, baik secara sekala maupun niskala, termasuk dalam menjaga krama, lingkungan, dan kelestarian budaya. Juga persembahyangan bersama ini merupakan wujud pelaksanaan swadharma negara dan swadharma agama oleh jajaran Pemerintah Kabupaten Tabanan.

“Hari ini, kami di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabanan melaksanakan swadharma negara dan swadharma agama melalui persembahyangan bersama pada Rahina Tumpek Wayang, yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang dan diperingati setiap 210 hari. Juga bertujuan dalam rangka Nangun Sat Kerthi Loka Bali, menjaga keharmonisan Jagat Bali secara Sekala dan Niskala, menjaga krama, alam lingkungan dan budaya,” ujar Sanjaya.

Ia juga menyampaikan, persembahyangan pada Tumpek Wayang merupakan wujud sradha bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Ida Bhatara Iswara, yang berkaitan dengan kesenian dan cahaya. Melalui persembahyangan tersebut, diharapkan cahaya suci dapat menerangi kehidupan, menghilangkan kegelapan, serta memberikan kerahayuan bagi masyarakat Tabanan dan Bali.

Baca Juga  Bupati Giri Prasta Bersama Menparekraf Sandiaga Uno dan Happy Salma Jadi Narasumber di Pameran AKI 2021

Lebih lanjut, Sanjaya mengajak seluruh masyarakat sedharma di Kabupaten Tabanan untuk turut melaksanakan persembahyangan pada Rahina Tumpek Wayang sebagai bentuk doa dan bhakti, sekaligus memohon keselamatan, keseimbangan, dan keharmonisan kehidupan. Ajakan ini sejalan dengan komitmen bersama dalam menjaga nilai-nilai spiritual dan kelestarian budaya Bali sebagai bagian dari upaya mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis.

Melalui momentum Rahina Tumpek Wayang, Pemerintah Kabupaten Tabanan berharap semangat kebersamaan dalam menjalankan swadharma negara dan swadharma agama semakin kuat. Selain mempertebal sradha bhakti, kegiatan ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai luhur budaya Bali serta keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan lingkungan demi mewujudkan Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul, dan Madani (AUM). (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Peringati Perayaan Tumpek Wayang, Gubernur Koster Menghaturkan Sembah Bhakti di Pura Er Jeruk

Published

on

By

Gubernur Koster Sembahyang Tumpek Wayang di Pura Er Jeruk
PERSEMBAHYANGAN: Gubernur Bali Wayan Koster melaksanakan persembahyangan perayaan Rahina Suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, pada Sabtu (Saniscara Kliwon, Wayang ) 10 Oktober 2026. (Foto: bi)

Gianyar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster melaksanakan persembahyangan perayaan Rahina Suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, pada Sabtu (Saniscara Kliwon, Wayang ) 10 Oktober 2026.

Persembahyangan ini diikuti secara bersama oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Bupati Klungkung I Made Satria, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, Walikota Denpasar yang diwakili Asisten I Pemerintah Kota Denpasar serta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemerintah Provinsi Bali.

Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya menyampaikan secara niskala, kita sudah melaksanakan persembahyangan sebagai rasa syukur kita memuliakan ajaran leluhur yang diwariskan kepada kita sebagai krama Bali, warisan berupa nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi, yang meliputi 1) Atma Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Atman/Jiwa); 2) Segara Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Laut dan Pantai); 3) Danu Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Sumber Air); 4) Wana Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Tumbuh-tumbuhan); 5) Jana Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Manusia); dan 6) Jagat Kerthi (Penyucian dan Pemuliaan Alam Semesta).

Gubernur Koster mengingatkan, sebagai generasi penerus, penyelenggara pemerintahan dan maupun sebagai komponen masyarakat, kita harus belajar dari leluhur. Karena leluhur mampu membuat suatu konsep tatanan kehidupan yang dinamakan Sad Kerthi (enam sumber utama kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan krama Bali).

Nilai – nilai kearifan lokal Sad Kerthi merupakan suatu ajaran luar biasa. Karena ajaran ini membumi untuk menjalankan kehidupan kita ini agar survive secara berkelanjutan, dengan harus memelihara seluruh aspek yang ada di alam. Karena tanpa sumber kehidupan kita tidak bisa hidup, seperti tanpa tumbuh-tumbuhan kita tidak bisa nafas (tidak ada oksigen), tanpa laut mungkin tidak ada hujan, tanpa sumber air kita tidak bisa minum, tidak bisa mandi sampai ber-irigisasi (tidak bakal ada Subak), dan lain sebagainya. Jadi keseluruhan alam ini semua, kita diberikan ajaran untuk menjaga alam, supaya semuanya hidup.

Baca Juga  Bupati dan Wakil Bupati Badung Sembahyang Bersama Serangkaian "Pujawali" di Pura Uluwatu 

“Ini menurut Titiang hanya ada di Bali, ajaran Sad Kerthi sebagai ilmu kehidupan yang diwariskan oleh leluhur. Maka ajaran ini saya implementasikan dalam visi pembangunan Bali, dinamakan dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali dengan nilai Sad Kerthi,” jelas Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

Oleh karena itu, Gubernur Koster menegaskan Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dengan nilai – nilai kearifan lokal Sad Kerthi harus dijalankan dengan tertib, disiplin oleh Bupati/Walikota se-Bali bersama jajarannya, supaya menjadi laku hidup bagi kita semua di Bali. Bukan hanya sekedar hidup, tapi hidup dengan tatanan. Tatanan bukan sekedar tatanan, tapi tatanan untuk membangun suatu peradaban kehidupan, sehingga alam, manusia dan budayanya hidup survive, berkualitas, berkelanjutan untuk diwariskan kepada generasi muda demi masa depan Bali.

“Itulah sebabnya titiang terus menghidupkan perayaan Rahina Tumpek di Bali. Kepada Kadis Pendidikan di sekolah – sekolah agar terus melestarikan nilai – nilai kearifan lokal Sad Kerthi dan perayaan Rahina Tumpek. Ini modal dasar juga dalam membangun generasi muda yang menjadi bagian penentu masa depan peradaban Bali, sesuai Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru (2025 – 2125),“ ujarnya.

Gubernur Koster menyebutkan bahwa Bali yang ditata, dibentuk kehidupannya oleh orang – orang suci para Rsi, Mpu, Dang Hyang dan semua dengan menetapkan ajarannya, upakaranya, serta tempat suci-nya di seluruh Bali, menjadikan gumi Bali memiliki kesakralan dan ‘tenget’. Karena itu Kita tidak boleh berperilaku semena – mena, dan pembangunan Bali harus dijalankan secara tertib dan konsisten secara bersama – sama untuk keberlangsungan masa depan Bali, sehingga terwujudnya ekosistem kehidupan yang sehat, bersih, berkualitas.

Baca Juga  Bupati Badung Ikuti Aksi Bersih-bersih di Pantai Kedonganan

Gubernur Koster mengatakan untuk mewujudkan ekosistem kehidupan yang sehat, bersih, berkualitas di Bali, juga harus mengimplementasikan sejumlah kebijakan seperti Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber, Pembatasan Plastik Sekali Pakai, menerapkan Energi Bersih, Transportasi Ramah Lingkungan, hingga Pertanian Organik sesuai Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun.

“Dalam konteks inilah, titiang sebagai Gubernur Bali bersepakat dengan Bupati/Walikota di Bali, terutama Bupati Badung, Bupati Klungkung, Bupati Gianyar, dan Walikota Denpasar untuk menetapkan Kawasan Rendah Emisi, yang meliputi Ubud di Kabupaten Gianyar, Kepulauan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, Nusa Dua dan Kuta di Kabupaten Badung, Sanur dan Kawasan Cagar Budaya Gajah Mada di Kota Denpasar. Keenam kawasan ini ditetapkan sebagai Rendah Emisi, karena merupakan tempat kerumunan pariwisata, agar harmoni dengan alam dan tidak merusak ekosistem kehidupan,“ tutupnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Serangkaian “Metatah” Massal PHDI Denpasar

Published

on

By

sangging jaya negara

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, turut ngayah sebagai sangging dalam pelaksanaan Metatah Massal yang digelar Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar di Pura Agung Lokanatha Denpasar, Sabtu (3/10). Keterlibatan tersebut menjadi bentuk kebersamaan sekaligus kepedulian dalam membantu masyarakat melaksanakan upacara keagamaan.

Metatah massal tersebut diikuti sebanyak 157 peserta. Selain metatah, kegiatan juga dirangkaikan dengan upacara Menek Kelih yang diikuti 107 peserta dan Mewinten Saraswati sebanyak 35 peserta. Kegiatan turut dihadiri Anggota DPD RI Dapil Bali, IB Rai Dharmawijaya Mantra, yang juga turut ngayah sebagai sangging.

Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan keterlibatannya sebagai sangging merupakan bagian dari ngayah sekaligus wujud kebersamaan bersama masyarakat dalam pelaksanaan yadnya.

“Kegiatan ini merupakan bentuk kebersamaan dan gotong-royong dalam meringankan beban masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Semoga seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian upacara dengan lancar dan mendapatkan kerahayuan,” ujar Jaya Negara.

Menurutnya, pelaksanaan metatah massal tidak hanya menjadi sarana pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga memiliki makna penting dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai agama Hindu serta memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.

Pemerintah Kota Denpasar, kata Jaya Negara, akan terus mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan, adat, dan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bali.

Sementara itu, Ketua PHDI Kota Denpasar, I Made Arka, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas partisipasi Walikota Denpasar yang turut ngayah sebagai sangging dalam pelaksanaan metatah massal. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan dalam memberikan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

“Melalui pelaksanaan Metatah Massal, Menek Kelih, dan Mewinten Saraswati, PHDI Kota Denpasar berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga keberlangsungan adat, agama, dan budaya Bali di tengah kehidupan masyarakat,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  129 Perbekel Se-Buleleng Audiensi ke Rumah Jabatan Bupati Badung

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca