Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster mengucapkan selamat kepada seluruh Yowana / Sekaa Teruna Teruni (STT) yang meraih juara dan penghargaan sebagai pemenang Lomba Ogoh-ogoh se-Bali Tahun 2022 yang ditandai dengan mengajak seluruh Yowana toast kopi tanpa gula isi arak tradisional lokal Bali pada, Minggu (Redite Pon, Kulantir) 17 April 2022 di Jayasabha, Denpasar.
Dalam acara penyerahan Penghargaan Pemenang Lomba Ogoh-ogoh Se-Bali Tahun 2022 ini, dihadiri langsung oleh Kapolda Bali, Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Gede Arya Sugiartha, Penyarikan Agung Majelis Desa Adat (MDA) Bali, I Ketut Sumarta, Bendesa Madya MDA Kabupaten/Kota Se-Bali, Yowana MDA Bali dan Kabupaten/Kota Se-Bali, dan STT yang tercatat sebagai pemenang Lomba Ogoh – ogoh.
Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya mengatakan Lomba Ogoh – ogoh Se-Bali Tahun 2022 ini diadakan berawal dari adanya audiensi dari Yowana MDA Provinsi dan Kabupaten/Kota Se-Bali dengan mengajak para seniman Ogoh – ogoh salah satunya Nyoman Gede Sentana Putra alias Kedux dari Banjar Tainsiat, Denpasar dan Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam atau Gusman dari Tampaksiring, Gianyar ke Jayasabha. “Saat audiensi, semua Yowana menyatakan komitmennya untuk menerapkan protokol kesehatan Covid-19, dan saya tergugah, hingga mengijinkan para Yowana melakukan Nyomya Bhuta Kalamapiranti antuk Ogoh – ogoh di wewidangan Banjar Adat setelah berkomunikasi dengan Bendesa Agung MDA Provinsi Bali,” cerita Gubernur Wayan Koster.
Tidak berhenti sampai disana, guna menghormati dan memotivasi para generasi muda kita di dalam membuat karya yang luar biasa berupa Ogoh – ogoh dengan hasil karya yang sangat kreatif dan bernilai seni budaya Bali dari tahun ke tahun atau setiap Rahina Hari Suci Nyepi, maka saya memiliki ide untuk melombakan Ogoh – ogoh ini dengan memberikan hadiah dan piagam penghargaan kepada: 1) Ogoh – ogoh Terbaik I untuk masing-masing Kabupaten/Kota di Bali sebesar Rp 50 juta; 2) Ogoh – ogoh Terbaik II untuk masing-masing Kabupaten/Kota di Bali sebesar Rp 35 juta; 3) Ogoh – ogoh Terbaik III untuk masing – masing Kabupaten/Kota di Bali sebesar Rp 25 juta; dan 4) Sebanyak 144 Terbaik Kecamatan se-Bali mendapat hadiah sebesar Rp 5 juta. “Secara keseluruhan total hadiahnya mencapai Rp 1,7 miliar,” jelas Gubernur Bali jebolan ITB ini yang disambut tepuk tangan oleh para Yowana dan Sekaa Teruna Teruni di Bali.
Suksesnya penyelenggaraan Lomba Ogoh – ogoh Se-Bali Tahun 2022 ini, kata Gubernur Koster berkat semangat dan spirit dari anak – anak muda yang begitu antusias membuat Ogoh – ogoh dengan berbagai kreasi dan inovasinya di berbagai tempat seperti Bale Banjar, dan bahkan sempat saya kunjungi langsung para Sekaa Teruna yang begitu semangat mengerjakan Ogoh – ogoh sampai dinihari hingga saya bawakan nasi jinggo lengkap dengan kopi tanpa gula isi arak, supaya semangat.
Gubernur Koster lebih lanjut menyampaikan rasa bangganya, setelah melihat semangat para Yowana atau STT menyambut Rahina Suci Nyepi Maret dengan Nyomya Bhuta Kala mapiranti antuk Ogoh – ogoh, ternyata astungkara selama kegiatan Ogoh – ogoh berlangsung dan berselang beberapa harinya, tidak terjadi lonjakan kasus Covid-19. Hal ini kemudian membuat saya ber-eksperimen dan meyakinkan Pemerintah Pusat untuk tidak perlu lagi ragu – ragu membuka Wisatawan Mancanegara (Wisman) tanpa karantina.
“Apa yang saya perjuangkan ke Pemerintah Pusat bersyukur terwujud pada tanggal 7 Maret 2022, dimana Wisman yang datang ke Bali diberlakukan tanpa karantina serta diberikan kebijakan khusus Visa On Arrival (VOA), sehingga Wisman yang datang ke Bali setelah tanggal 7 Maret 2022 cukup banyak dan selama 2 minggu, saya amati ternyata juga tidak menimbulkan kasus Covid-19. Itu artinya kita berhasil mengelola Covid-19 dengan catatan berkomitmen melakukan vaksin booster mencapai 30 persen sampai tanggal 14 Maret 2022,” kata Gubernur Wayan Koster.
Mengakhiri sambutannya, Gubernur Koster yang tercatat telah mengeluarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali ini mengajak para Yowana dan STT di Bali kedepannya untuk terus berkarya dan berinovasi di setiap perayaan Rahina Suci Nyepi dengan menciptakan karya Ogoh – ogoh yang merupakan bagian dari upaya kita memajukan kebudayaan Bali guna memperkuat adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali agar Pulau Bali ini Berdaulat secara Politik, Berdikari secara Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno yang sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.
“Yowana adalah bagian dari lapisan generasi di Bali untuk menjaga kebudayaan kita secara bersama – sama yang merupakan warisan adi luhung para leluhur, pangelingsir, dan tetua kita di Bali, sehingga saya mengajak agar para Yowana untuk terus merawat, menjaga, dan menjadi generasi yang bertanggung jawab serta tidak membawa budaya – budaya luar yang bisa merusak tatanan kehidupan kita di Bali. Jagalah Bali, proteksilah Bali sekuat – kuatnya, agar Bali bisa eksis berkelanjutan di dalam memasuki peradaban baru dengan memanfaatkan teknologi digital tanpa meninggalkan budaya Bali itu sendiri,” pungkasnya.
Gubernur Koster lakukan toast arak Bali bersama Sekaa Teruta se-Bali. (Foto: Ist)
Sementara Pemenang Lomba Ogoh – Ogoh Se-Bali Tahun 2022 Terbaik I, II, dan III Tingkat Kabupaten/Kota diantaranya, yaitu : 1) ST.Kusuma Eka Lila Sucita, ST. Astiti Dharma, dan ST. Purwa Purbata dari Kabupaten Gianyar; 2) ST.Eka Cita, ST.Wimuda Ped Jaya Sakti, dan ST.Santika Dharma dari Kabupaten Jembrana; 3) ST.Tunas Muda, ST.Marga Utama, dan ST.Eka Murti Yowana dari Kota Denpasar; 4) ST.Dharma Shanti, ST.Semeton Lingkar, dan ST.Yowana Panji Saraswati dari Kabupaten Karangasem; 5) ST.Taruna Patria, ST.Sri Sadhana Yowana Dharma, dan ST.Budhi Sentana dari Kabupaten Tabanan; 6) ST.Eka Bhuana Tunggal Budhi, ST.Dharma Sentana, dan ST.Watugunung dari Kabupaten Badung; 7) ST.Satya Dharma, ST.Tri Budhi Yasa, dan ST.Satya Darma Winangun dari Kabupaten Klungkung; 8) ST.Catur Yoga, ST.Giri Kusuma, dan ST.Tunas Teratai Tunjung Mekar dari Kabupaten Buleleng; 9) ST.Asta Dharma Kerti, ST.Tri Sophana Karya, dan ST.Eka Widya Murti dari Kabupaten Bangli.
Sedangkan Terbaik Lomba Ogoh – Ogoh Se-Bali Tahun 2022 Tingkat Kecamatan di Kabupaten Gianyar, yaitu : 1) ST. Dharma Chanti, Kec.Sukawati; 2) ST. Dwi Tunggal Asrama, Kec.Sukawati; 3) ST. Prajamukti, Kec.Blahbatuh; 4) ST. Dharma Putra Kencana, Kec.Blahbatuh; 5) ST. Dwi Eka Mandala, Kec.Blahbatuh; 6) ST. Jaya Tama, Kec.Gianyar; 7) ST. Wira Dharma, Kec.Gianyar; 8) ST. Remaja Putra Wangsa, Kec.Ubud; 9) ST. Manik Kencana, Kec.Ubud; 10) ST. Widya Kesuma, Kec.Ubud; 11) ST. Dharma Sentana Werdhi, Kec Payangan; 12) ST. Peramma, Kec Payangan; 13) ST. Semara Rsi, Kec Payangan; 14) ST. Rama Sita, Kec.Tampaksiring; 15) ST. Eka Dharma Laksana, Kec.Tampaksiring; 16) ST. Guna Jenyana, Kec.Tegallalang; 17) ST. Yowana Dharma Thula, Kec.Tegallalang; dan 18) ST. Dharma Bakti, Kec.Tegallalang.
Terbaik Lomba Ogoh – ogoh Se-Bali Tahun 2022 Tingkat Kecamatan di Kabupaten Jembrana, yaitu: 1) ST. Yowana Ksatria Nadi, Kec.Melaya; 2) ST. Satya Dharma Bhakti, Kec.Negara; 3) ST. Yowana Dharma Cakra, Kec.Negara; dan 4) ST. Dharma Semara, Kec.Mendoyo.
Terbaik Lomba Ogoh – Ogoh Se-Bali Tahun 2022 Tingkat Kecamatan di Kota Denpasar, yaitu: 1) ST.Candra Methu, Kec. Denpasar Utara; 2) ST.Eka Manggala Danendra, Kec. Denpasar Utara; 3) ST.Tunjung Mekar, Kec. Denpasar Timur; 4) ST.Dharma Satwika, Kec. Denpasar Timur; 5) ST.Eka Adnyana, Kec. Denpasar Barat; 6) ST.RUPPTI, Kec. Denpasar Barat; 7) ST.Satria Yowana, Kec. Denpasar Barat; 8) ST.Eka Laksana, Kec. Denpasar Selatan; dan 9) ST.Sari Sanggraha, Kec. Denpasar Selatan.
Terbaik Lomba Ogoh – ogoh Se-Bali Tahun 2022 Tingkat Kecamatan di Kabupaten Klungkung, yaitu: 1) ST.Dharma Bhakti, Kec.Banjarangkan; 2) ST.Setia Bakti, Kec.Banjarangkan; dan 3) ST.Sari Laksana, Kec.Dawan.
Terbaik Lomba Ogoh – ogoh Se-Bali Tahun 2022 Tingkat Kecamatan di Kabupaten Buleleng, yaitu: 1) ST.Tunjung Mekar, Kec.Banjar; 2) ST.Yowana Darma Bhakti, Kec.Banjar; ST.Eka Dharma, Kec.Banjar; 3) ST.Bukit Bersatu, Kec.Busungbiu; 4) ST.Badar Agung, Kec.Busungbiu; 5) ST.Cruti Widya Sesana, Kec.Busungbiu; 6) ST.Yowana Puspita Mandala, Kec.Gerogak; 7) ST.Satya Darma, Kec.Gerogak; 8) ST.Sanggalangit, Kec.Gerogak; 9) ST.Tri Mitra Dharma, Kec.Kubutambahan; 10) ST.Truna Taruna Murti, Kec.Kubutambahan; 11) ST.Duta Yowana, Kec.Kubutambahan; 12) ST.Sambadha Yowana, Kecamatan Seririt; 13) ST.Eka Santih Dharma, Kecamatan Seririt; 14) ST.Maha Bhakti Yowana, Kecamatan Seririt; 15) ST.Panca Dharma Yowana, Kec.Sawan; 16) ST.Dharma Wahana, Kec.Sawan; 17) ST.Sulaga Sari, Kec.Buleleng; 18) ST.Paramuda Peduli Pertiwi, Kec.Buleleng; 19) ST.Yowana Satya Dharma, Kec.Sukasada; 20) ST. Kelompok Yowana Gunung Mekar, Kec.Sukasada; 21) ST.Giri Kencana, Kec.Tejakula; dan 22) ST.Kembang Sari Wangi, Kec.Tejakula.
Terbaik Lomba Ogoh – ogoh Se-Bali Tahun 2022 Tingkat Kecamatan di Kabupaten Badung, yaitu: 1) ST.Jaya Canthi, Kec.Kuta; 2) ST.Yuwana Giri, Kec.Kuta; 3) ST.Yowana Satya Laksana, Kec.Kuta Selatan; 4) ST.Dharma Laksana, Kec.Mengwi; 5) ST.Satya Muni, Kec.Mengwi; 6) ST.Kembang Wijaya, Kec.Abiansemal; 7) ST.Swakarya, Kec.Abiansemal; 8) ST.Budhi Luhur, Kec.Abiansemal; 9) ST.Catur Yowana Giri, Kec.Petang; 10) ST.Semara Dahana, Kec.Petang; dan 11) ST.Ulusari, Kec.Petang.
Terbaik Lomba Ogoh – Ogoh Se-Bali Tahun 2022 Tingkat Kecamatan di Kabupaten Bangli, yaitu: 1) ST. Dharma Yadnya, Kec. Bangli; 2) ST. Murdaning Cita, Kec. Bangli; 3) ST. Putra Dharma Seraya, Kec. Bangli; 4) ST. Sunia Mandala Giri, Kec.Tembuku; 5) ST. 80 (Ulung Dasa), Kec.Tembuku; 6) Kesuma Giri, Kec.Kintamani; 7) Satya Kusuma Yuda, Kec.Kintamani; dan 8) Wisnu Sedana, Kec. Susut. (gs/bi)
BHAKTI PENGANYAR: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, saat mengikuti rangkaian Bhakti Penganyar di Pura Tuluk Biyu Batur dan Pura Hulun Danu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, bertepatan dengan Rahina Buda Kliwon Wuku Ugu, Rabu (30/9). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar melaksanakan Bhakti Penganyar serangkaian Karya Agung Medewasraya lan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur serta Karya Tawur Agung Manca Wali Krama di Pura Hulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kintamani, Bangli, bertepatan dengan Rahina Buda Kliwon Wuku Ugu, Rabu (30/9).
Pelaksanaan Bhakti Penganyar dipimpin langsung oleh Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, bersama Wakil Walikota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa.
Hadir dalam kesempatan tersebut Panglingsir Puri Agung Jro Kuta I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya, Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Denpasar I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua GOW Kota Denpasar Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua DWP Kota Denpasar Ny. Swandewi Eddy Mulya, pimpinan OPD, Perbekel/Lurah dan Bendesa se-Kota Denpasar serta para pemedek yang hadir untuk melaksanakan bhakti. Diiringi lantunan gamelan dan kidung, rangkaian Bhakti Penganyar diawali dengan pengilen tari dan topeng wali. Seluruh rangkaian berlangsung khidmat dan diakhiri dengan persembahyangan bersama.
Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan Pura Tuluk Biyu Batur dan Pura Hulundanu Batur, Songan, merupakan bagian dari jaringan pura suci yang terikat secara historis, geografis, dan spiritual sebagai satu kesatuan pemujaan dengan Pura Ulun Danu Batur. Oleh karena itu, pelaksanaan karya agung di kedua pura tersebut menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk meningkatkan sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Melalui momentum ini, kita bersama-sama meningkatkan sradha dan bhakti serta memohon asung kerta wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selain itu, momentum ini menjadi ajang mulat sarira untuk menjaga keseimbangan alam semesta beserta seluruh isinya,” jelasnya.
Jaya Negara menekankan, rangkaian karya di kedua pura tersebut menitikberatkan pada konsep Wana Kerthi dan Danu Kerthi. Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang harus dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya. Karenanya, pelaksanaan Bhakti Penganyar menjadi wujud rasa syukur Pemerintah Kota Denpasar atas kelancaran dalam menjalankan swadharma pembangunan daerah dan pelayanan bagi masyarakat.
“Semangat menyama braya diharapkan terus terjaga, sehingga yadnya sebagai wujud syukur dapat selaras dengan visi pembangunan Kota Denpasar dan spirit Vasudhaiva Kutumbakam,” ujarnya.
Ketua Panitia Karya Agung Medewasraya lan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur, I Wayan Gunawan, menjelaskan rangkaian Karya Agung Medewasraya diawali dengan ritual Bhakti Pakelem di Gunung Abang dan Danau Batur yang telah dilaksanakan pada Senin (21/9). Selanjutnya, pada Sabtu (26/9), digelar Bhakti Madewasraya yang didahului dengan ritual Mapepada Agung. Rangkaian upacara Medewasraya lan Pujawali Sasih Kapat di Pura Tuluk Biyu Batur dijadwalkan masineb pada 6 Oktober mendatang melalui prosesi ngaturan bhakti mapepranian.
“Tujuan upacara Madewasraya ini tidak lain adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar jagat beserta seisinya diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kedamaian,” ujar Gunawan.
Sementara itu, Ketua Panitia Karya Tawur Agung Manca Wali Krama Pura Hulundanu Batur, I Gede Darmawa, mengatakan berdasarkan Raja Purana Pura Hulundanu Batur, Karya Tawur Agung Manca Wali Krama dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Rangkaian karya telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 7 Oktober 2026. Salah satu tahapan penting dalam rangkaian tersebut adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026, kemudian dilanjutkan dengan Malasti, Mapekelem ring Danu, dan Pakelem ring Gunung pada 18 September. Tahapan inti dilaksanakan melalui Tawur Manca Wali Krama pada 21 September di Genah Peyadnyan.
Puncak karya berlangsung pada Sabtu (26/9), saat umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura, kemudian dilanjutkan dengan Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan, dan Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur. Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Bhakti Penganyar secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober mendatang.
“Semoga dengan pelaksanaan karya agung ini memberikan vibrasi positif, sehingga alam Bali beserta seluruh isinya senantiasa berada dalam lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya. (eka/bi)
METATAH MASSAL: Kehadiran Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan prosesi Metatah Massal Desa Adat Kesiman yang berlangsung Senin (28/9). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Upacara Metatah atau Mepandes Massal Desa Adat Kesiman yang diikuti sebanyak 345 peserta dari 32 banjar adat. Upacara tersebut berlangsung di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Senin (28/9).
Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut ngayah nyangging kepada beberapa peserta metatah. Kehadirannya dalam rangkaian upacara tersebut juga diakhiri dengan penyerahan punia sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya adat dan keagamaan di Desa Adat Kesiman.
Didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi, Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi kepada Jro Bendesa Adat Kesiman beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan rangkaian upacara secara massal. Menurutnya, pelaksanaan karya adat secara bersama-sama tidak hanya penting dalam menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Jaya Negara menilai pelaksanaan upacara secara massal dapat membantu menghemat waktu sekaligus meringankan beban biaya masyarakat, khususnya para orang tua yang anaknya mengikuti upacara potong gigi.
“Rangkaian upacara keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan runtut, dimulai dari prosesi Ngaben, Mepetik, Ngangkid ke Pasih, hingga pelaksanaan upacara Metatah atau potong gigi massal. Langkah dan kerja keras Jro Bendesa beserta pihak Desa Adat Kesiman ini sejalan dan turut mendukung program pemerintah daerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jaya Negara.
Selebihnya Jaya Negara juga berharap pelaksanaan karya massal tersebut dapat terus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong-royong masyarakat. Selain sebagai pelaksanaan kewajiban adat dan keagamaan, rangkaian kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga keharmonisan krama Desa Adat Kesiman.
Sementara itu, Jro Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna mengatakan, rangkaian upacara keagamaan massal tersebut terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September, dilanjutkan dengan Ngingsah pada 16 September serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September. Sebelum pelaksanaan Metatah Massal, juga telah digelar ritual Mesasap Segara yang diikuti sebanyak 526 peserta.
“Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya,” ujarnya.
Rangkaian karya massal Desa Adat Kesiman masih akan berlanjut hingga puncak acara pada 1 Oktober mendatang melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang rencananya dipuput oleh lima orang sulinggih. Selanjutnya, seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober.
“Karya adat tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga semakin memperkuat semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Desa Adat Kesiman,” ujar I Ketut Wisna. (eka/bi)
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)
Karangasem, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengajak umat Hindu untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat menyama braya, serta melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta mengikuti prosesi mendem pedagingan bersama para pemedek. Prosesi ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian upacara penyucian bangunan suci yang sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Usai mengikuti prosesi mendem pedagingan, Giri Prasta didampingi istrinya, Ny. Seniasih Giri Prasta, melaksanakan persembahyangan bersama yang bertepatan dengan rahina Purnama Sasih Kapat.
Dalam sambrama wacana-nya, Giri Prasta menguraikan sejarah dan nilai spiritual Pura Lempuyang. Merujuk pada lontar kuno Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pura Lempuyang berkaitan dengan legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa. Pecahan gunung tersebut kemudian membentuk sejumlah pegunungan di Jawa dan Bali, termasuk Gunung Lempuyang.
Menurut kisah dalam lontar tersebut, Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di sejumlah gunung guna menjaga keseimbangan spiritual Pulau Bali. Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung) dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur, sedangkan Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.
Giri Prasta berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar serta membawa kerahayuan bagi umat dan masyarakat Bali.
“Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” doa Giri Prasta.
Lebih lanjut, Giri Prasta mengajak umat menjadikan pelaksanaan upacara keagamaan sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat menyama braya, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan swadarma. Menurutnya, semangat gotong-royong dan persatuan umat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. (gs/bi)