Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Permen ESDM No. 26/2021, Membuat PLTS Atap Skala Kecil Lebih Baik

BALIILU Tayang

:

tumiwa
Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa saat media gathering yang dilaksanakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Center For Community-Based Renewable Energy (CORE) Universitas Udayana di Bali Heritage Hotel Denpasar, Jumat (3/6). (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Potensi energi terbarukan di Bali mencapai 143 MWp. Jika Bali mau memanfaatkan 100 persen energi terbarukan yang ada, dari sisi sumber daya manusia cukup dan untuk melangkah kesana tentunya sumber daya ini harus dikembangkan.

‘’Namun yang paling bisa dan murah energi terbarukan untuk dikembangkan di Bali yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap. Ini sesuai dan tepat dengan Pergub Bali tentang Energi Bersih karena memanfaatkan energi surya yang ada di Bali dimana atap-atap gedung bangunan pemerintahan, rumah, bangunan potensial, industri, lapangan parkir bisa dipasang PLTS. Dan ini cukup besar potensinya,’’ terang Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa saat media gathering yang dilaksanakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Center For Community-Based Renewable Energy (CORE) Universitas Udayana di Bali Heritage Hotel Denpasar, Jumat (3/6).

Fabby Tumiwa lanjut mengatakan dengan metode perhitungan berdasarkan luas lantai bangunan atau access dari luasan atap yakni potensi PLTS di Bali mencapai 26 MW sedangkan PLTS Atap 3,2-10,9 MW. Untuk mengembangkan PLTS atap tentunya melibatkan regulasi. Karena untuk pemasangan PLTS atap berhubungan dengan penyediaan listrik atau sistem kelistrikan di Bali.

Dikatakan, pemerintah sudah mengeluarkan peraturan yang melegalkan pemasangan instalasi PLTS atap untuk pelanggan listrik baik pelanggan listrik PLN dan non-PLN. Ada Peraturan Menteri ESDM tentang PLTS atap No. 49 Tahun 2018 yang kemudian diperbaharui dengan Permen ESDM No. 26 Tahun 2021. Permen No. 49 /2018 hanya mengatur untuk pelanggan listrik PLN, sedangkan Permen No. 26/2021 juga mengatur pelanggan listrik non-PLN.

Pada Permen 26/2021 memperbolehkan konsumen mengirim kelebihan listrik ke jaringan listrik PLN dengan skema meter listrik ekspor impor, dengan nilai ekspor 100 persen yang sebelumnya hanya 65 persen. Sedangkan kelebihan akumulasi selisih tagihan dinihilkan selama 6 bulan. Kelebihan itu akan menjadi milik PLN. Permen sebelumnya hanya jangka waktu 3 bulan.

Baca Juga  PLN Bersama PHRI Dukung Net Zero Emission 2045 di Bali
Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa. (Foto: gs)

Fabby Tumiwa menegaskan dua poin dalam Permen 26/2021 ini karena dengan adanya penambahan akumulasi dan nilai ekspor yang menjadi 100 persen akan membuat PLTS skala kecil lebih baik. ‘’Jika tadinya dengan harga listrik yang ada dengan permen lama pengembalian investasinya di atas 10 tahun. Kalau permen 26/2021 pengembalian investasinya lebih cepat kira-kira 7-8 tahun,’’ tegas Tumiwa.

Inilah, kata Tumiwa, tujuan pemerintah mengubah Permen supaya ada insentif memasang PLTS atap, jadi tujuannya bagus dengan itu PLN tidak dirugikan juga. Karena kalau siang hari mengirim listrik dan PLN bisa menyalurkan kepada konsumen yang membutuhkan. Konsekuensinya PLN bisa mengurangi pembangkit listrik yang menggunakan energi fosil sehingga bisa menghemat bahan bakar. Demikian juga kemudahan proses perizinan. Karena tersambung dengan jaringan PLN maka konsumen minta izin ke PLN. Sebelumnya menghabiskan waktu 15 hari kerja menjadi 5 hari kerja. Yang menarik adanya pos pengaduan konsumen terkait perizinan.

Persoalan sekarang, ungkap Tumiwa, adalah PLN dengan alasan hosting capacity dan mengkhawatirkan PLTS bisa mengurangi penjualan listik PLN. Maka PLN tidak mengimplementasikan Permen 26 Tahun 2021. Sejak Permen diundangkan sampai sekarang nilai ekspor tetap 65 persen bukan 100 persen. PLN bilang karena ini berdampak pada penjualan.

Fabby Tumiwa mengatakan ini menjadi perhatian karena apa yang dilakukan PLN sebenarnya menghambat, karena belakangan ini muncul membatasi kapasitasnya 10-15 persen dari nilai kwh tersebut tetapi tidak ada peraturannya itu dilaksanakan, khususnya di Jawa dan Bali. Jadi 15 persen saja maksimal, dan ini jadi tidak ekonomis untuk rumah tangga.

‘’Jadi yang jelas aturan ini membuat PLTS tidak ekonomis dan dampaknya di Bali Pergub itu tidak bisa dijalankan. Yang saya khawatirkan Bali sebagai tuan rumah G20 salah satu agendanya transisi energi yakni dari energi fosil ke energi terbarukan tidak bisa dijalankan,’’ ujar Fabby seraya mengatakan pihaknya tak sekedar pasang, tetapi sudah ada kajiannya soal dampak PLTS terhadap hostng capacity PLTS atap.

Baca Juga  PLN Peduli Serahkan Alat Bantu bagi Penyandang Disabilitas dan Bantuan Sosialisasi Akte Lahir

Dijelaskan pula, dari potensi teknis Program Surya Nusantara bahwa total pelanggan yang menerima tarif subsidi di Bali dengan kapasitas 450 VA dan 900 Va adalah 173 MW. Jadi hosting capacity PLTS terdistribusi (atap) menyesuaikan dengan rata-rata pembebanan di penyulang dan PLTS atap pada Program Surya Nusantara sangat memungkinkan untuk dilakukan dengan syarat beban 450 VA dan 900 VA menyebar di beberapa penyulang.

Sesuai kajian, ketimbang pemerintah memberikan subsidi listrik untuk panel 450-900 VA untuk tahun ini subsidi 200 triliun seluruh Indonesia, sebaiknya atapnya diganti menggunakan PLTS, 1 KWP menghasilkan 3-3,5 Kwh mereka bisa menjadi pembangkit terdistribusi untuk PLN karena terkoneksi masuk jaringan ke PLN. Sehingga tak sibuk mikir harus menambah pembangkit.

‘’Jadi intinya studi kami menyatakan bahwa dengan masuknya PLTS atap di Bali walaupun diperluas, system PLN tak akan terganggu,’’ ujarnya.

Ketua CORE Universitas Udayana Prof. Ir. Ida Ayu Dwi Giriantarai, MEngSc., Ph.D., IPM. (Foto: gs)

Sementara itu, Ketua CORE Universitas Udayana Prof. Ir. Ida Ayu Dwi Giriantarai, MEngSc., Ph.D., IPM berharap informasi yang disampaikan ke masyarakat adalah informasi yang benar dan berimbang. Bahwa kita tak bisa menyalahkan PLN karena dia juga berdarah-darah dan harus mempertahankan bisnisnya. ‘’Sebenarnya sekarang ini, bagaimana di pusat itu mencarikan jalan keluar supaya PLN tetap pada bisnisnya sementara target energi bersih tercapai, dan masyarakat yang ingin memasang PLTS atap bisa gampang tidak ada pembatasan,’’ ujar Guru Besar Teknik Elektro Bidang Energi Tenaga Kelistrikan Universitas Udayana ini seraya menyampaikan mau tidak mau PLN harus berubah tak lagi seperti dulu model bisnisnya.

Giriantari menyebut PLTS atap sudah terpasang di beberpa titik di antaranya di Kantor ESDM, RS Bali Mandara, kantor DPRD Bali, Bappeda, Pemprov Bali. Ini sudah dikaji. Dari yang sudah dipasang selama 6 bulan sudah bisa menghemat 35-40 persen. Seperti gedung Kantor ESDM dalam 6 bulan bisa menghemat Rp 60 juta dan ini bisa menghemat APBD.

Baca Juga  Siap Sambut World Superbike di Mandalika, PLN Terapkan Listrik Tanpa Kedip

Terkait G20, Bali sudah membangun energi terbarukan, salah satunya PLTS atap. Selain akan dipasang di rumah-rumah, akan dipasang di SPBU-SPBU, di Tol Bali Mandara, Bandara Ngurah Rai, juga rencananya akan dipasang PLTS apung di Dam Estuary. Sedangkan yang kita inginkan hotel-hotel di Nusa Dua sebagai venue G20. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

DPRD Badung Gelar Rapat Paripurna Penyampaian PU Fraksi-Fraksi

Soroti Krisis Air Bersih, Dorong Teknologi SWRO hingga Pelebaran Jalan

Loading

Published

on

By

Ketua DPRD Badung Serahkan Dokumen PU Fraksi kepada Bupati
SERAHKAN DOKUMEN: Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menyerahkan dokumen PU Fraksi-Fraksi DPRD Badung kepada Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa pada Rapat Paripurna Ke-10 Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026–2027 yang berlangsung di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor DPRD Badung, Kamis (5/11/2026). (Foto: bi)

Badung, baliilu.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Badung pada Kamis, 5 November 2026, menggelar Rapat Paripurna Ke-10 Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026–2027 dengan agenda penyampaian pandangan umum fraksi-fraksi terhadap empat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) strategis.

Rapat yang berlangsung di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor DPRD Badung ini dipimpin oleh Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, didampingi para wakil ketua dan segenap anggota dewan.

Hadir pula dalam rapat tersebut Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah (Sekda) Badung I.B. Surya Suamba, pimpinan instansi vertikal, serta sejumlah pejabat daerah.

Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menjelaskan bahwa agenda utama rapat paripurna ini adalah mendengarkan pandangan umum dari tiga fraksi yang ada di DPRD Badung—yakni Fraksi Golkar, Fraksi Gerindra, dan Fraksi PDI Perjuangan—terhadap empat Raperda, yang meliputi: Raperda tentang Penyertaan Modal Daerah kepada Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Mangutama; Raperda tentang Penyertaan Modal Daerah kepada PT Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) Bali Mandara; Raperda tentang Pencabutan Perda Nomor 10 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan; dan Raperda tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2027.

Dalam keterangannya usai rapat, Anom Gumanti menyoroti sejumlah catatan penting dari dewan, salah satunya terkait penuntasan krisis air bersih di wilayah Badung Selatan. Dewan mendorong Perumda Air Minum Tirta Mangutama tidak hanya bergantung pada sumber air konvensional, tetapi juga mulai mengkaji penerapan teknologi pengolahan air laut menjadi air bersih (Sea Water Reverse Osmosis / SWRO).

“Ketika melaksanakan penyelesaian kebutuhan air di Badung ini, dewan mendorong agar direksi melaksanakan atau mungkin melakukan teknologi SWRO, artinya bagaimana mengolah air laut untuk bisa menjadi air bersih,” ujar Anom Gumanti.

Baca Juga  Siap Sambut World Superbike di Mandalika, PLN Terapkan Listrik Tanpa Kedip

Ia menambahkan, sebelumnya pasokan air di Kuta Selatan hanya mengandalkan Dam Estuari. Dengan adanya tambahan penyertaan modal yang baru, pihak perumda kini berencana mengambil air di wilayah Tukad Mati guna menambah suplai ke wilayah selatan, di samping harapan agar teknologi SWRO dapat segera direalisasikan.

Selain masalah air bersih, rapat paripurna juga menyoroti persoalan infrastruktur dan kemacetan lalu lintas, khususnya di kawasan Kuta Selatan seperti Desa Pecatu. Dewan menerima usulan dari sejumlah fraksi agar jalan-jalan utama yang ada diperlebar atau dijadikan jalur operatif alternatif agar mobilitas pariwisata tidak terganggu.

Di sektor ketenagakerjaan dan keuangan, dewan mencatat adanya usulan untuk mengevaluasi dan meningkatkan nilai Upah Minimum Kabupaten (UMK). Terkait tren peningkatan pendapatan daerah, Anom Gumanti menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik serta perencanaan anggaran yang realistis.

“Intinya bahwa anggaran ini agar bisa tepat guna, tepat sasaran, dan kemudian lagi bisa dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya.

Menutup keterangannya, Anom Gumanti memastikan pihak legislatif akan melakukan pengawasan ketat terhadap penggunaan dana penyertaan modal yang telah disetujui. Evaluasi akan terus dilakukan untuk memastikan kinerja pengelolaan sumber daya manusia dan program kerja benar-benar berada di jalur yang tepat (on the track) serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah selatan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Fraksi PDI Perjuangan DPRD Badung Terima Empat Raperda Strategis, Krisis Air di Bukit Jadi Sorotan Utama

Published

on

By

Fraksi PDI Perjuangan Serahkan Pandangan Umum di DPRD Badung
SERAHKAN DOKUMEN PU FRAKSI: Juru Bicara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Badung, I Made Rai Wirata, S.H., M.I.Kom menyerahkan Pandangan Umum Fraksi PDI Perjuangan kepada Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti saat Rapat Paripurna Ke-10 Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026–2027 yang digelar di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor DPRD Badung. (Foto: bi)

Badung, baliilu.com – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Badung menyatakan dapat menerima empat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) untuk selanjutnya ditetapkan menjadi peraturan daerah. Kendati demikian, persetujuan tersebut disertai berbagai catatan, koreksi, serta rekomendasi rinci yang akan dibahas lebih mendalam melalui rapat alat kelengkapan dewan bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Sikap politik tersebut disampaikan dalam Rapat Paripurna Ke-10 Masa Persidangan Pertama Tahun Sidang 2026–2027 dengan agenda Penyampaian Pandangan Umum Fraksi-Fraksi DPRD Badung terhadap empat Raperda strategis. Rapat yang digelar di Ruang Sidang Utama Gosana Lantai III Kantor DPRD Badung ini dipimpin oleh Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, didampingi para wakil ketua serta segenap anggota dewan.

Hadir pula dalam kesempatan tersebut Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah (Sekda) Badung I.B. Surya Suamba, pimpinan instansi vertikal, serta sejumlah pejabat daerah lainnya.

Juru bicara Fraksi PDI Perjuangan DPRD Badung, I Made Rai Wirata, S.H., M.I.Kom., memaparkan tanggapan fraksinya terhadap keempat Raperda yang meliputi: Raperda tentang Penyertaan Modal Daerah kepada Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Mangutama; Raperda tentang Penyertaan Modal Daerah kepada PT Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) Bali Mandara; Raperda tentang Pencabutan Perda Nomor 10 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan; dan Raperda tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2027.

Terkait penyertaan modal kepada Perumda Air Minum Tirta Mangutama sebesar Rp 150 miliar hingga tahun anggaran 2029—dengan alokasi Rp 37 miliar pada APBD 2027—Fraksi PDI Perjuangan menegaskan pentingnya landasan hukum yang kuat guna meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan publik. Fraksi PDI Perjuangan berharap penambahan modal ini dapat menyelesaikan masalah menahun di wilayah Bali Selatan.

Baca Juga  Sambut Galungan, PLN Imbau Masyarakat Pasang Penjor pada Jarak Aman

“Dengan adanya penambahan penyertaan modal ini, kami berharap Direksi Perumda Air Minum Tirta Mangutama mampu mengatasi krisis air di daerah Bukit, seperti Desa Ungasan, Desa Pecatu, dan sekitarnya di Kecamatan Kuta Selatan. Sehingga, tidak ada alasan lagi bagi direksi untuk mengeluhkan kekurangan modal guna menuntaskan krisis air tersebut,” tegas Rai Wirata.

Sementara itu, untuk Raperda penyertaan modal kepada PT Jamkrida Bali Mandara, fraksi menyetujui pemenuhan kewajiban Pemkab Badung pada Tahun Anggaran 2027 sebesar Rp 10 miliar dari total rencana penyertaan modal Rp 150 miliar hingga 2030.

Terkait Raperda Pencabutan Perda No. 10 Tahun 2010 tentang Administrasi Kependudukan, fraksi menilai substansi aturan tersebut sudah tidak relevan dan berpotensi tumpang tindih. Pengaturan teknis kependudukan skala kabupaten dinilai cukup diatur melalui peraturan kepala daerah.

Rincian APBD Kabupaten Badung Tahun 2027

Dalam pandangannya terhadap Raperda APBD 2027, Fraksi PDI Perjuangan menyoroti pentingnya menjaga stabilitas perekonomian dan keuangan daerah dalam menunjang pelayanan publik. Komposisi keuangan daerah dirancang dengan rincian sebagai berikut: Pendapatan Daerah: dirancang sebesar Rp 11.634.722.053.183,00, yang terdiri atas: Pendapatan Asli Daerah (PAD): Rp 10.904.723.845.178,00, Pendapatan Transfer: Rp 729.998.208.005,00.

Belanja Daerah: Dirancang Rp 13.379.086.523.923,00, yang terdiri atas: Belanja Operasi: Rp 7.009.193.884.288,00, Belanja Modal: Rp 4.310.626.626.071,00, Belanja Tidak Terduga: Rp 145.421.455.883,00, dan Belanja Transfer: Rp 1.913.844.557.681,00.

Penerimaan Pembiayaan Daerah: Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya sebesar Rp 534.528.799.452,00 dan penerimaan pembiayaan utang daerah Rp 2.614.248.087.124,00 (termasuk pinjaman daerah Rp 2.079.719.287.672,00).

Pengeluaran Pembiayaan: Mencakup penyertaan modal pada Perumda Tirta Mangutama (Rp 37 miliar) dan PT Jamkrida Bali Mandara (Rp 10 miliar), serta pembayaran pembiayaan utang daerah sebesar Rp 822.883.616.384,00.

Baca Juga  Gandeng KPK dan BPN, PLN Berhasil Amankan Aset Negara Lebih Dari Rp 2 Triliun Lewat Sertifikasi Tanah

Usulan Infrastruktur, Penataan Kawasan, dan Evaluasi Kebencanaan

Selain memberikan persetujuan, Fraksi PDI Perjuangan juga menyampaikan sejumlah usulan pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik, di antaranya:

Penuntasan pavingisasi gang, pelebaran serta pengaspalan Jalan Cemongkak menuju Buana Sari, pembuatan akses menurun ke Pantai Labuan Sait, dan pengaspalan Jalan Merpati di Desa Pecatu, Kuta Selatan.

Penataan Pantai Cemagi secara tuntas untuk kepentingan keagamaan, serta kelanjutan program trotoarisasi dari Mengening ke Munggu dan pembangunan jalan alternatif dari Banjar Seseh ke SD 2 Cemagi guna mengurai kemacetan.

Pembebasan lahan di sebelah utara Pusat Pemerintahan Mangupraja Mandala untuk dijadikan ruang terbuka hijau, sarana olahraga, rekreasi keluarga, serta wadah promosi bagi pelaku UMKM lokal.

Di sektor penanggulangan bencana, Fraksi menyampaikan duka mendalam atas tragedi tanah longsor di kawasan glamping eco park Desa Pelaga, Kecamatan Petang. Pemerintah Kabupaten Badung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) didorong untuk segera melakukan penanganan darurat serta mengevaluasi potensi kerawanan bencana alam guna mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang.

Menutup pandangannya, Fraksi PDI Perjuangan menyampaikan apresiasi kepada Bupati Badung beserta jajaran eksekutif atas kerja keras dalam mengatasi kemacetan melalui pembukaan akses jalan baru di Kuta Selatan serta koordinasi intensif yang membuat pembahasan penyertaan modal dapat berjalan lebih cepat dari target. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Bupati Sanjaya Hadiri Koordinasi Pencegahan Korupsi, Perkuat Tata Kelola Pemerintahan Daerah

Published

on

By

Bupati Sanjaya Hadiri Rakor Pencegahan Korupsi
HADIRI RAKOR: Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, menghadiri Rapat Koordinasi Pencegahan Korupsi Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan Daerah se-Wilayah Bali Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Kamis (5/11). (Foto: ist)

Tabanan, baliilu.com – Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, menghadiri Rapat Koordinasi Pencegahan Korupsi Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan Daerah se-Wilayah Bali Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Kamis (5/11). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola pemerintahan daerah sekaligus mendorong penyelamatan aset dan keuangan daerah melalui langkah-langkah pencegahan korupsi.

Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Bali yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, Kasatgas V2 KPK RI Nurul Ichsan Al Huda, Kepala Kanwil BPN Provinsi Bali yang diwakili Kabid Pendapatan Hak dan Pendaftaran David Cristhian, Tim KPK RI, serta para Bupati dan Sekretaris Daerah se-Kabupaten/Kota di Bali.

Dalam sambutan Gubernur Bali yang disampaikan Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, ditegaskan bahwa perbaikan tata kelola merupakan kunci utama dalam upaya pencegahan korupsi. Ia mengapresiasi pendampingan dan arahan KPK yang selama ini mendorong peningkatan tata kelola pemerintahan, salah satunya melalui capaian Monitoring Center for Prevention (MCP) di wilayah Bali yang menunjukkan hasil tinggi.

“Tata kelola itu sifatnya dinamis. Maka, kita terus melakukan langkah-langkah dan penyempurnaan sesuai dengan perubahan regulasi, perkembangan keadaan, serta dinamika pemerintahan,” ujarnya.

Sementara itu, Kasatgas V2 KPK RI Nurul Ichsan Al Huda menekankan pentingnya penyelamatan keuangan daerah melalui pengelolaan aset yang tertib dan akuntabel. Menurutnya, aset daerah memiliki nilai ekonomi yang harus dijaga agar tidak menimbulkan potensi kerugian keuangan daerah.

“Kalau aset-aset kita tidak ditangani dengan baik, apalagi bermasalah, upaya efisiensi dan penghematan yang dilakukan pemerintah tentu tidak akan memberikan hasil optimal. Mudah-mudahan pertemuan ini membawa manfaat dan perbaikan bagi penyelamatan keuangan daerah di seluruh wilayah Bali,” ungkapnya.

Baca Juga  Jaga Sinergitas dan Kepatuhan Hukum, PLN UP3 Se-Bali Tandatangani MoU dengan Kajari Se-Bali

Dalam koordinasi tersebut, pembahasan difokuskan pada progres sertifikasi aset milik pemerintah daerah, khususnya berupa tanah dan bangunan, serta penyelesaian tindak lanjut hasil review dan pendampingan KPK. Masing-masing pemerintah daerah juga diberikan kesempatan untuk memaparkan perkembangan penertiban dan sertifikasi aset sebagai bentuk komitmen bersama dalam mewujudkan pengelolaan keuangan dan aset daerah yang transparan, tertib, dan bertanggung jawab.

Bupati Sanjaya menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan koordinasi tersebut. Menurutnya, sinergi dan komitmen seluruh pemerintah daerah menjadi langkah penting dalam menjaga aset serta keuangan daerah demi terwujudnya pemerintahan yang bersih dan akuntabel.

“Kami menyambut baik dan mendukung upaya pencegahan korupsi melalui penguatan tata kelola pemerintahan. Melalui koordinasi dan pendampingan ini, kami berharap pengelolaan aset dan keuangan daerah semakin tertib, transparan, serta akuntabel,” tegas Bupati Sanjaya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca