Denpasar, baliilu.com
– Guna menghimpun masukan dan saran terhadap berbagai permasalahan yang
dihadapi sektor riil di Pulau Dewata, Gubernur Bali Wayan Koster menggelar
dengar pendapat dengan para pemegang kebijakan asosiasi sektor-sektor riil di
Ruang Rapat Gedung Gajah, Jayasabha, Denpasar, Kamis (23/7-2020).
Dari berbagai masukan dan saran yang berhasil dihimpun,
Gubernur Koster nantinya berharap akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan mampu
menggerakkan sektor riil hingga
mendorong perekonomian Bali kembali bangkit.
“Bali selama ini hanya bertumpu pada satu sektor utama
yakni sektor pariwisata, sedangkan sisi lain kita memiliki peluang untuk
menggali ekonomi Bali dari sektor – sektor riil lainnya. Oleh karena itu,
melalui kesempatan ini saya ingin mengetahui permasalahan – permasalahan apa
saja yang terjadi. Sehingga kebijakan dan regulasi bisa diarahkan guna
membangun satu ekosistem yang mendukung pergerakan ekonomi Bali yang lebih
dinamis,” terang Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini.
Ditegaskan Gubernur Koster, pihaknya sangat berhati-hati
dalam mengeluarkan berbagai kebijakan. Karena pihaknya ingin segala kebijakan
yang dikeluarkan akan berdampak guna terhadap masyarakat Bali secara luas
termasuk dalam hal mendorong pertumbuhan perekonomian. Maka itu pihaknya tidak
ingin menerbitkan regulasi yang menghambat kemajuan sektor riil sebagai
penopang perekonomian Bali.
“Jika awalnya produksi atau hasilnya tinggi, jika
dengan adanya satu regulasi hasilnya berkurang, berarti regulasi itu
menghambat. Saya tidak mau seperti itu, mengeluarkan kebijakan yang menghambat.
Jadi sebelumnya harus dikaji dulu secara mendalam, dan saya akan meminta OPD
(Organisasi Perangkat Daerah) yang membidangi untuk mencermatinya. Di sanalah
saya memerlukan peran masukan – masukannya,” tegasnya.
Didampingi oleh Wagub Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati,
lebih jauh dalam sambutannya Gubernur Koster menyampaikan harapannya agar semua
stakeholder bekerja sesuai bidang yang digeluti, dan Pemprov Bali akan
mendukung sesuai batasan kewenangan dimiliki serta sepanjang tidak bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan berlaku di Indonesia.
“Kita kerja, semua bekerja, bapak – bapak bekerja, kami
juga bekerja, untuk kebangkitan ekonomi Bali. Apa kewajiban pemerintah, apa
kewenangan saya, dan apa kewajiban bapak – bapak, semua bekerja sesuai tugas
dan posisi, serta kewenangannya. Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk
mendukung kemajuan seluruh sektor riil di Bali, apa yang menghambat sektor yang
digeluti, apa yang bisa saya lakukan selaku gubernur, hal kongkrit seperti itu
yang kami ingin ketahui,” kata Gubernur Koster.
Dilanjutkan Gubernur Koster, “Nanti kami yang menilai
lebih jauh mana yang boleh mana yang tidak boleh, mana yang menjadi kapasitas
saya selaku gubernur, mana batasan kewenangan saya itu yang akan saya jalankan.
Kan ada hirarki pemerintahan, ada yang lebih di atas yakni pemerintah pusat dan
ada yang di bawah kami yakni pemerintah daerah. Kalau kebutuhannya lintas
sektoral maka kita perlu berkoordinasi lebih lanjut dengan pemerintah
terkait”.
Sementara Wagub Cok Ace menambahkan penguatan sektor-sektor
riil di Bali untuk mengalihkan penurunan ekonomi Bali yang disebabkan jatuhnya sektor
pariwisata oleh dampak Covid-19.
Untuk itulah menurutnya dibutuhkan satu gerakan menyeluruh
seperti yang direncanakan Gubernur Bali yang bisa menguatkan sektor-sektor
pendukung lainnya, sehingga bisa menjadi sektor yang menjadi tumpuan ekonomi
Bali.
“Bapak Gubernur dalam hal ini memikirkan satu tindakan
menyeluruh, karena tidak bisa diselesaikan secara kasus per kasus. Saya setuju
harus diperkuat seluruh pilar-pilarnya, seperti yang disampaikan tadi tiga
pilar terpenting yakni atraksi, accessibility,
dan aminity. Saya yakin Pak Gubernur
sangat komit dan konsen akan hal ini. Mari bantu pemerintah, jika ada yang
melewati batasan-batasan segera beritahu ke pemerintah. Itulah salah satu
bagian peran kewajiban asosiasi yang bapak-bapak pimpin, ” ucap Wagub Cok
Ace.
Berbagai stakeholder yang diundang dalam acara tersebut di antaranya
Ikatan Kamar Dagang Indonesia, Asosiasi Perak Bali, Asosiasi Logistik dan
Forwarding Bali dan asosiasi lain yang jumlahnya berkisar 20 asosiasi. (*/gs)