Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Bank Indonesia Dorong Ekosistem Ekonomi Keuangan Digital di Bali

BALIILU Tayang

:

de
Asisten Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali dan narasumber serta GenBI foto bersama usai acara. (Foto: Gs)Kepala

Denpasar, baliilu.com – Dalam rangka mendorong terciptanya ekosistem ekonomi keuangan digital di Bali, maka Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kabupaten kota di Bali menyelenggarakan rangkaian kegiatan Bali Digital Festival (DigiFest) 2022 dengan tema ‘’Digital Kerthi Bali: Enabling Bali As Digital Creative Paradise” (Spirit Menumbuhkembangkan Kreativitas Digital sehingga Bali menjadi Surganya Komunitas Digital) mulai 8-10 April 2022 di Hotel Grand Inna Bali Beach Sanur, Bali.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menyampaikan bahwa Bali bisa menjadi pusat ekonomi digital. Saya yakin Bali akan menjadi hub digital di Indonesia. Saya kira bukan sesuatu yang tidak mungkin,’’ terang Trisno Nugroho saat memberikan sambutan pada acara Talkshow ‘’Navigasi Sistem Pembayaran untuk Optimalkan Ekonomi Keuangan Digital’’ dalam rangkaian Bali DigiFest 2022, Sabtu (9/4). Talkshow ini menghadirkan narasumber Asisten Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta, Bendahara Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Vincent Iswara, dan Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga. Dihadiri secara offline para dosen, rektor, perbankan, penggerak aktivitas hub di Bali, ekonomi kreatif, dan GenBI.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho. (Foto: Gs)

Keyakinan itu, lanjut Trisno Nugroho, didasarkan atas beberapa pertimbangan, di antaranya sektor ekonomi keuangan memiliki potensi tinggi sebagai salah satu sektor dalam menumbuhkan ekonomi kerthi Bali. Selain itu, Bali yang telah memiliki direct flight kota-kota besar dunia, lingkungan komunitas lokal, nasional hingga internasional sudah terbentuk dan infrastruktur yang memadai. Bahwa digital nomad cukup tinggi di Bali, di Canggu Badung sempat nomor 3 dan kini nomor 6 di dunia. Demikian juga blankspot sudah tidak terlalu banyak dan sudah bisa dicapai sampai ke kecamatan bahkan ke desa-desa.

Baca Juga  BI Bali Perkuat Kompetensi Mahasiswa Komunitas Genbi di Bidang Kebanksentralan

Trisno Nugroho mengungkapkan, dengan pandemi Covid-19 ini, Bali bertransformasi melalui penggunaan teknologi digital yang meningkat pesat. Bali menjadi salah satu provinsi yang terbaik dalam hal digital. Demikian juga penggunaan QRIS juga salah satu yang tercepat di Indonesia.

‘’Bali walaupun kecil tetapi lincah. QRIS-nya sudah menjadi trend salah satu alat pembayaran. Demikian pula pemerintah daerahnya pun cukup masif menggunakan QRIS untuk PAD, PHR, pajak STNK BBNKB dll. Tentunya ada tim percepatan perluasan digitalissi daerah yang sudah dibentuk di seluruh Bali,’’ bebernya.

Trisno Nugroho menegaskan Bank Indonesia mendukung Bali menjadi salah satu pusat hub di Indonesia, mendorong Bali Smart island, Bali Kerthi Island. Melalui talkshow ini dapat mendorong ekosistem digital di Bali dan menjadi langkah awal dalam merealisasikan mimpi Bali sebagai digital hub nasional bahkan internasional.

Asisten Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta. (Foto: Gs)

Sementara itu, Asisten Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengapresiasi dan menyambut baik event Bali DigiFest ini yang merupakan sarana kolaboratif antara regulator, pemerintah daerah, industri, dan masyarakat. Ia mengungkapkan ada secercah harapan di tengah pandemi yang masih menjadi tantangan pemulihan ekonomi baik di global dan domestik. Ia melihat di tahun 2022 Indonesia menjadi titik balik momentum pemulihan ekonomi nasional. Keyakinan ini karena tanda-tanda perbaikan ekonomi mulai terlihat. Saat ini mulai pelonggaran pembatasan mobilitas, vaksin yang semakin massif.

Dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional, Bank Indonesia melakukan kebijakan moneter dengan suku bunga yang rendah, stabilitas nilai tukar dan juga injeksi likuiditas yang terus dilakukan. Demikian juga pelonggaran kebijakan terus dilanjutkan mendorong peningkatan pembiayaan perbankan bagi dunia usaha. Dan di bidang sistem pembayaran ada akselerasi digitalisasi sistem yang terus dilakukan bersama dengan industri, pemda untuk mendorong integrasi ekonomi keuangan digital nasional.

Baca Juga  Belajar Sistem Pertanian Pangan di Bali, Mahasiswa Meiji University Tokyo Jepang Lakukan Kunjungan ke FP Unud

Dikatakan, di tahun 2021 Bank Indonesia menekankan pada tiga prioritas, yakni reformasi regulasi, infrastruktur, dan standardisasi sistem pembayaran. Salah satu contoh seperti QRIS bisa dibaca oleh siapa saja dan oleh aplikasi apa saja.  

Dua narasumber dalam acara talkshow Bank Indonesia rangkaian Bali DigiFest 2022. (Foto: Ist)

Sedangkan pada 2022, sistem pembayaran diarahkan pada 5 fokus strategi pokok. Pertama, percepatan konsolidasi industri supaya tetap sehat, kompetitif dan inovatif melalui reformasi regulasi. Kedua, mengembangkan infrastruktur sistem pembayaran yang 3I yakni interoperable saling bekerja sama, interkonektif saling terhubung, intergrated menyatu. Ketiga, menciptakan infrastruktur yang aman dan handal.

‘’Seperti tagline sistem pembayaran kita Cemumuah, cepat mudah murah aman dan handal,’’ ujarnya. Cemumuah artinya kita mengatur supaya tidak terjadi kompetensi yang saling mematikan. Kita mengatur merchant discount rate, atau skema harga. Terobosan baru Bank Indonesia yakni BI Past.

Keempat, percepatan persiapan penerbitan digital rupiah, Central Bank Digital Guarantee. Dimana sekarang kirim uang, 25 detik sudah bisa masuk melalui BI Past. Nanti ke depan dengan Central Bank Digital Guarantee transfer antarnegara pun juga bisa dilakukan dengan cepat. Ini sedang dipersiapkan.

Kelima, penguatan sinergi baik dengan pemerinah pusat, daerah, perbankan asosiasi, dan tentunya E-Commerce. BI terus memperluas elektronifikasi pembayaran untuk penyaluran seperti bansos bisa dengan QRIS, bisa melalui handphone jadul melalui SMS, dan bisa dengan biometric. Demikian juga moda transportasi, retribusi, pajak-pajak, penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah. Terkait elektronifikasi transportasi, ke depan tidak ada berhenti di jalan tol tetapi akan terbaca sendiri melalui multiline freeflow yang sudah diujicobakan di Tol Bali Mandara.

Lebih lanjut dikatakan, QRIS sumber dananya bisa dari uang elektronik, tabungan, kartu kredit dan untuk memudahkan bisa dari kredit. Artinya bisa digunakan di E-Commerce dimana beli dulu bayar belakangan. Dan ini masuk di sendbox Bank Indonesia dan jika sudah waktunya bisa diimplementasikan secara industri. Demikian juga QRIS cross border, dimana sudah kerja sama dengan Thailand, Malaysia dan ke depan dengan beberapa negara termasuk Saudi Arabia. Dimana, ketika berbelanja di Malasysia menggunakan QRIS maka uang ringgit akan langsung dikonversi dengan nilai tukar rupiah.

Baca Juga  Bali Targetkan Vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku Capai 80 Persen di Pertengahan September Ini

Untuk menjaga optimisme itu, Bank Indonesia melakukan berbagai inisiatif kebijakan baik sisi suplay dan demand. Seperti mengarahkan upaya meningkatkan output dunia usaha termasuk UMKM melalui perluasan akseptasi digital payment dan elektronifikasi.

Demikian juga transaksi keuangan digital terus tumbuh seiring perluasan pembayaran digital semakin nyaman dan akselerasi digital banking. Ini terlihat dari transaksi uang elektronik digital banking terus tumbuh positif di Februari ini mencapai 3,732 triliun meningkat 46,5 persen secara year on year, E-Commerce transaksi Februari ini mencapai 30,8 triliun meningkat 12,8 persen secara yoy, uang elektronik meningkat nominal transaksi 27 triliun bertumbuh 41,35 persen secara yoy. QRIS juga secara nominal mencapai 4,5 triliun dan tumbuh pesat 304 persen. ‘’Kami meyakini Indonesia memiliki pondasi dan potensi yang luar biasa,’’ tutupnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Inflasi Provinsi Bali Agustus 2026 Meningkat namun Tetap Terjaga pada Rentang Sasaran

Published

on

By

Infografis inflasi Provinsi Bali pada Agustus 2026 yang menunjukkan tren inflasi bulanan dan tahunan berdasarkan rilis BPS.
Infografis inflasi Provinsi Bali pada Agustus 2026. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 1 September 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm), berbeda arah dibandingkan bulan Juli yang mengalami deflasi sebesar 0,51% (mtm). Inflasi bulanan Provinsi Bali terutama didorong oleh masuknya peak season pariwisata yang meningkatkan permintaan tiket pesawat dan bahan pangan seperti daging ayam ras di tengah permintaan yang tinggi dari penyelenggaraan pernikahan, upacara adat dan ngaben, serta normalisasi permintaan MBG pasca libur sekolah.

Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dari 2,42% (yoy) pada Juli 2026 menjadi 3,45% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,19% namun masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1%.

Secara spasial, 4 (empat) Kabupaten/Kota IHK di Bali mengalami inflasi bulanan pada Agustus 2026 yakni Kabupaten Buleleng dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,12% (mtm) atau 3,61% (yoy). Selanjutnya, Kota Denpasar mengalami inflasi bulanan sebesar 0,65% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 3,64% (yoy), diikuti Kabupaten Badung dengan inflasi bulanan sebesar 0,35% (mtm) atau inflasi tahunan sebesar 2,86% (yoy), dan selanjutnya kabupaten Tabanan dengan inflasi bulanan sebesar 0,33% (mtm) atau inflasi tahunan 3,59% (yoy).

Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Achris Sarwani melalui keterangan tertulis Rabu (2/9/2026) mengatakan bahwa berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi pada Agustus 2026 bersumber dari peningkatan harga daging ayam ras, tarif angkutan udara, buncis, nasi dengan lauk, dan biaya sekolah dasar. Inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga bawang merah, bawang putih, bensin, tomat, dan baju kaos tanpa kerah/t-shirt pria.

Achris Sarwani lanjut menyampaikan Bank Indonesia Provinsi Bali mengapresiasi dan mendukung berbagai langkah strategis TPID se-Bali, salah satunya melalui penguatan pemantauan harga dan intensifikasi operasi pasar sehingga capaian inflasi Provinsi Bali dapat terjaga pada rentang sasaran 2,5±1%. Ke depan, beberapa risiko yang perlu diperhatikan antara lain berlanjutnya permintaan barang dan jasa yang tinggi pada periode peak wisatawan mancanegara (Juli – September), berlanjutnya musim kemarau panjang disertai El Nino kuat yang memengaruhi produksi pertanian, serta tetap tingginya biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor.

Baca Juga  Belajar Sistem Pertanian Pangan di Bali, Mahasiswa Meiji University Tokyo Jepang Lakukan Kunjungan ke FP Unud

Dalam memperkuat pengendalian inflasi ke depan, sebut Achris Sarwani, Bank Indonesia Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali dengan upaya TPID yang berfokus pada 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Adapun langkah-langkah implementasinya diantaranya melalui Rakor Inflasi TPIP-TPID, intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM), pemantauan harga secara berkala, fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan, pemberian bantuan sarpras kepada kelompok tani, serta penguatan koordinasi dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Melalui berbagai langkah tersebut, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1%. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Pemerintah Targetkan Ekonomi Tumbuh 6 Persen pada 2027

Published

on

By

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI mengenai Pengantar Asumsi Dasar RUU APBN TA 2027 di Jakarta, Selasa (1/9).
RAKER: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI mengenai Pengantar Asumsi Dasar RUU APBN TA 2027 di Jakarta pada Selasa (1/9). (Foto: Hms Kemenkeu)

Jakarta, baliilu.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen pada 2027 dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi dan kesinambungan fiskal. Target tersebut menjadi arah utama kebijakan ekonomi dan fiskal dalam penyusunan RAPBN 2027, yakni untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus mempercepat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, mencapai 6 persen di tahun 2027, dibutuhkan akselerasi pertumbuhan investasi hingga 7 persen,” ujar Menkeu dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI mengenai Pengantar Asumsi Dasar RUU APBN TA 2027 di Jakarta pada Selasa (1/9).

Menurut Menkeu, pencapaian target tersebut akan didukung kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan Danantara. Investasi pemerintah akan berperan sebagai katalis, sementara sektor swasta didorong menjadi motor utama investasi dan Danantara berkontribusi pada investasi di sektor strategis dan hilirisasi.

Lebih lanjut, Menkeu menjelaskan, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pada semester I 2026, ekonomi tumbuh 5,45 persen dengan inflasi yang tetap terkendali. Sementara itu, hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara tumbuh 21,3 persen dan defisit APBN berada pada level 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Ketahanan ekonomi dan solidnya kinerja fiskal yang terus terjaga sepanjang 2026 menjadi landasan yang kuat bagi perumusan kebijakan ekonomi dan fiskal tahun 2027,” kata Menkeu.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Menkeu mengatakan bahwa pemerintah akan memperkuat stabilitas ekonomi makro melalui pengendalian inflasi, dukungan terhadap suku bunga yang kompetitif, serta stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan dan kepastian bagi dunia usaha.

Baca Juga  Tim Mobile Legends Esi Provinsi Bali Lolos PON XXI 2024 di Sumut

“Stabilitas ini menjadi pondasi penting untuk menciptakan kepastian, meningkatkan kepercayaan pelaku ekonomi, dan mendorong investasi secara berkelanjutan,” ujar Menkeu.

Sejalan dengan upaya memperkuat investasi dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, Pemerintah juga terus mendorong optimalisasi sektor strategis, khususnya minyak dan gas bumi, melalui peningkatan lifting, percepatan pengembangan cadangan migas, pemanfaatan teknologi, serta perbaikan iklim investasi hulu migas melalui kepastian berusaha, pemberian insentif fiskal, dan penyederhanaan regulasi.

Menkeu mengungkapkan bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi akan tetap diiringi dengan komitmen menjaga kesehatan fiskal. Pemerintah melanjutkan reformasi fiskal melalui optimalisasi pendapatan, peningkatan kualitas belanja, serta pembiayaan defisit yang dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan.

“Berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, memperkuat investasi, dan menjaga stabilitas ekonomi tersebut harus didukung oleh APBN yang sehat, kredibel, dan berkelanjutan,” ujar Menkeu.

Komitmen menjaga APBN yang sehat, prudent, dan berkelanjutan tersebut tercermin dalam keseluruhan postur RAPBN 2027. Pendapatan negara direncanakan sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara sebesar Rp4.097,2 triliun, dengan defisit dijaga pada 2,40 persen terhadap PDB.

“Postur RAPBN ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan untuk mendukung akselerasi pembangunan dan komitmen menjaga kesinambungan fiskal,” terang Menkeu dikutip dari laman kemenkeu.go.id.

Adapun asumsi dasar ekonomi makro 2027 meliputi pertumbuhan ekonomi 6 persen, inflasi 2,5 persen, suku bunga SBN tenor 10 tahun 6,9 persen, dan nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS. Sementara itu, Indonesian Crude Price (ICP) ditetapkan sebesar 75 dolar AS per barel, dengan lifting minyak bumi 612,5 ribu barel per hari dan lifting gas 954 ribu barel setara minyak per hari.

Pertumbuhan ekonomi pada 2027 selanjutnya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan turun menjadi 6-6,5 persen, tingkat pengangguran terbuka 4,3-4,87 persen, dan rasio gini 0,362-0,367.

Baca Juga  Belajar Sistem Pertanian Pangan di Bali, Mahasiswa Meiji University Tokyo Jepang Lakukan Kunjungan ke FP Unud

“Stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang solid yang didukung oleh kebijakan fiskal yang efektif menjadi faktor pendorong tercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Menkeu. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Juli 2026, Optimisme Penjualan Eceran Tetap Kuat Ditopang High Season Pariwisata dan Tahun Ajaran Baru

Published

on

By

Infografis Indeks Penjualan Riil Provinsi Bali yang dirilis Bank Indonesia
Infografis Indek Penjualan Riil Provinsi Bali. (Foto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pada Juni 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) Provinsi Bali tetap kuat sebesar 126,4 dan masih berada di level optimis (>100). Kinerja tersebut meningkat sebesar 0,5% (mtm), terutama didorong oleh meningkatnya penjualan pada kategori Barang Budaya dan Rekreasi sebesar 2,2% (mtm), Makanan, Minuman dan Tembakau 2,0% (mtm), serta Barang Lainnya sebesar 0,5% (mtm). Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode libur sekolah serta persiapan berbagai aktivitas pariwisata yang berlangsung pada musim wisata pertengahan tahun. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat sebesar 5,78% (yoy), didukung oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas sektor pariwisata yang tetap kuat, sehingga turut menopang kinerja perdagangan dan penjualan eceran di Bali.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan kinerja penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR Juli 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 128,7, atau meningkat 1,8% (mtm), ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori Sandang, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Barang Budaya dan Rekreasi. Perkembangan tersebut sejalan dengan tetap kuatnya permintaan masyarakat memasuki periode ajaran baru serta momentum high season. Sementara itu, ekspektasi harga umum tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu September 2026 dan Desember 2026 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) September 2026 dan Desember 2026 masing-masing sebesar 192 dan 200. Sementara itu, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,42% (yoy) dan masih berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Inflasi yang tetap terkendali tersebut mendukung terjaganya daya beli masyarakat, sehingga memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tetap tumbuh dan menopang aktivitas perdagangan eceran.

Baca Juga  Gubernur Koster Luncurkan Domain bali.id, Tonggak Baru Identitas Digital Bali

Optimisme pelaku usaha tetap terjaga sebagaimana tercermin pada Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) yang berada di level optimis (>100). IEP enam bulan mendatang (Desember 2026) meningkat menjadi 198 dari 190 pada survei sebelumnya. Sementara itu, IEP tiga bulan mendatang (September 2026) tercatat 184, sedikit lebih rendah dibandingkan ekspektasi Agustus 2026 sebesar 190. Meskipun mengalami moderasi jangka pendek, pelaku usaha tetap meyakini prospek penjualan ritel Bali akan meningkat, terutama didukung aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Keyakinan pelaku usaha tersebut turut didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang hingga Juni 2026 tercatat tumbuh 1,47% (yoy).

Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga (pro stability) sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). Ke depan, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali akan terus memperkuat implementasi strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) guna mencapai inflasi yang stabil dan terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca