Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

BEM Unud Kembali Catatkan 14 Tradisi Bali sebagai Kekayaan Intelektual Komunal

BALIILU Tayang

:

bem unud
BEM Unud Kabinet “Udayana Bangkit” melalui Departemen Kebudayaan pada Senin, 18 September 2023 menghadiri undangan Edukasi/Himbauan Tentang Pencegahan HKI yang bertempat di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana (Unud) Kabinet “Udayana Bangkit” melalui Departemen Kebudayaan pada Senin, 18 September 2023 menghadiri undangan Edukasi/Himbauan Tentang Pencegahan HKI yang bertempat di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar. Dalam kegiatan tersebut dilakukan penyerahan sertifikat pencatatan Hak Kekayaan Intelektual untuk budaya yang sudah berhasil dicatatkan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) oleh Departemen Kebudayaan, Badan Eksekutif Mahasiswa, Universitas Udayana. 

Budaya-budaya tersebut, yaitu:
1. Kerajinan Gambelan Desa Tihingan dengan nomor pencatatan EBT : 
2. Tari Rejang Pala dengan nomor pencatatan EBT : 51202300254
3. Tari Legong Kraton Pejaten dengan nomor pencatatan EBT : 51202300263
4. Tradisi Okokan Desa Adat Kediri dengan nomor pencatatan EBT : 51202300283
5. Tari Baris Memedi dengan nomor pencatatan EBT : 51202300285
6. Tari Gandrung Suwung Batan Kendal dengan nomor pencatatan EBT : 51202300288
7. Tari Janger Pegok dengan nomor pencatatan EBT : 51202300289
8. Tari Rejang Sutri dengan nomor pencatatan EBT : 51202300286
9. Tari Sang Hyang Sampat dengan nomor pencatatan EBT : 51202300287
10. Tradisi Mecaru Mejaga-Jaga dengan nomor pencatatan EBT : 51202300290
11. Tradisi Ritual Mebayang-Bayang dengan nomor pencatatan EBT : 51202300291
12. Tradisi Mabubu dengan nomor pencatatan EBT : 51202300292
13. Tari Joged Pingit dengan nomor pencatatan EBT : 51202300294
14. Tradisi Barong Nong-Nong Kling dengan nomor pencatatan EBT : 51202300295

Berikut sekilas gambaran mengenai budaya-budaya yang sudah disebutkan : 

bem
14 Tradisi Bali yang memperoleh HKI. (Foto: ist)

1. Kerajinan Gambelan Desa Tihingan
Desa Tihingan merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Desa Tihingan terkenal dengan mayoritas masyarakat yang ada di desa tersebut berprofesi sebagai pengerajin gambelan. Pembuatan gambelan ini sudah berdiri lama di desa tersebut dan sudah diwariskan secara turun temurun dan saat ini untuk menjaga kelestarian dari kerajinan ini maka didirikannya sebuah komunitas pengerajin gambelan di Desa tihingan yang bernama “Perkumpulan Sentra Pengerajin Gambelan Labda Karya Artha” yang terdiri dari banyak sekali pengerajin berbagai macam gambelan. Dibentuknya komunitas ini  tujuannya agar para mengerajin memiliki struktur komunitas organisasi yang terarah dan terjamin untuk kedepannya.

2. Tari Rejang Pala
Rejang Pala ada dan berkembang di sebuah Pura Balang Tamak, Br. Nongan Kaler, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem dan di Pasraman Desa Nongan, Br. Nongan Kaler, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem. Tari Rejang Pala sempat punah. Awalnya ketika menurut cerita sepuh-sepuh dulu terdapat Tari Rejang Pala namun tidak ada yang mau menarikan, hanya ada gelungan yang ditaruh di dalam godag (kotak yang terbuat dari anyaman bambu) dan hanya disungsung saat puncak acara Odalan di Pura Balang Tamak. Ketika ditarikan, temannya dapat mengambil buah yang ada pada gelungan jika merasa haus. Saat ini Tari Rejang Pala ditarikan setiap Odalan di Pura Balang Tamak dan Pura Desa Nongan. Tarian ini diiringi dengan alat musik gambang ataupun selonding. Tarian ini ditarikan sebagai persembahan kepada Tuhan pada saat Odalan di pura. Tarian ini juga merupakan upaya pelestarian hasil kebun khususnya buah dari warga setempat. Tari ini khusus ditarikan oleh perempuan yang masih gadis atau yang belum menikah.

Baca Juga  Tim Juru Bicara Unud Gelar ‘’Appreciation and Awarding Night 2023’’

3. Tari Legong Kraton Pejaten
Tarian Legong Kraton Pejaten berada di Banjar adat Pangkung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Tarian biasanya dilakukan ketika ada upacara adat di pura setempat, atau ketika ada yang meminta untuk ditarikan (kupah) oleh masyarakat setempat. Tarian ini bersifat sakral karena mahkota penari disucikan. Namun, tidak menutup kemungkinan tarian ini dapat dijadikan pertunjukkan. Tarian ini memiliki persyaratan dalam memilih penari, seperti belum menstruasi atau belum beranjak dewasa sehingga dalam pementasannya dilakukan oleh anak perempuan yang belum pubertas sebanyak 3 orang anak. Hal ini karena menurut penuturan narasumber, pernah terjadi suatu hal yang tidak diinginkan ketika menggunakan penari yang tidak memenuhi persyaratan.

4. Tradisi Okokan Desa Adat Kediri
Okokan adalah sebuah kalung atau keroncong yang terbuat dari kayu, dan biasanya digantungkan di leher sapi sebagai simbol kebanggaan. Okokan dapat ditemukan di Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Ketika Okokan digoyangkan, ia mengeluarkan suara yang keras dan bergemuruh. Di Desa Adat Kediri, terdapat tradisi Okokan yang dilaksanakan setiap tahun pada pangrupukan atau nyangra sasih kesanga, yang merupakan hari terakhir dalam kalender bulan sasih. Di Desa Adat Kediri, Okokan memiliki kekuatan magis yang semakin kuat dan dianggap suci. Okokan juga dihiasi dengan tapel atau lukisan wajah Boma. Boma adalah ciri khas Okokan yang melambangkan sifat kemarahan atau keangkaramurkaan. Okokan ini juga diberi hiasan seperti kain (wastra) berwarna poleng atau hitam putih.

5. Tari Baris Memedi
Tari Baris Memedi adalah sebuah bentuk tarian sakral yang khusus dilakukan di daerah Tabanan, khususnya Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel. Tarian ini biasanya hanya dilakukan pada saat upacara atiwa-tiwa atau ngaben massal (ngerit). Dalam pelaksanaan Tari Baris Memedi, sekitar 15 orang atau lebih akan menari bersama-sama. Tarian ini dipercaya memiliki unsur spiritual yang kuat, dan tidak jarang terjadi kejadian kerasukan pada beberapa penari selama upacara berlangsung. Tujuan utama dari Tari Baris Memedi adalah untuk mengantarkan roh ke dunia lain, yaitu nirwana. Proses tarian dianggap belum selesai jika masih ada penari yang berada dalam keadaan tidak sadar atau kerasukan.

6. Tari Gandrung Suwung Batan Kendal
Tari Gandrung ada dan berkembang di tengah masyarakat Banjar Suwung Batan Kendal, tepatnya di Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Tari Gandrung selalu dipentaskan setiap 7 bulan (6 bulan kalender Bali) di Pura Dalem Batan Kendal Desa Adat Sesetan.Tarian ini termasuk tarian sakral yang bertujuan untuk menolak bala atau hal buruk.

7. Tari Janger Pegok
Tari Janger Pegok berada di Banjar Pegok, Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Tari Janger Pegok diperkirakan telah ada sekitar tahun 1936 dan terus berkembang hingga saat ini. Tari janger ini selalu dipentaskan di Pura Kesuma Sari, pada setiap 7 bulan (6 bulan kalender Bali), yang bertepatan pada nutug ketelun Bulan Purnama Kapat (tiga hari setelah hari bulan purnama di bulan September-Oktober). Yang dimana Purnama Kapat merupakan hari piodalan di Pura Kesuma Sari. Tari Janger ini adalah tarian yang masih terikat dengan unsur magis yang sudah turun temurun ditarikan.

Baca Juga  Unud Gelar Wisuda Ke-148 ‘’Full Offline’’, Rektor Antara Lepas 779 Wisudawan

8. Tari Rejang Sutri
Tari Rejang Sutrii ada dan berkembang di tengah masyarakat Desa Adat Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Tari Rejang Sutri selalu dipentaskan pada Soma Kliwon Klurut, rahina Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima oleh masyarakat Batuan. Pementasan ini berlangsung setiap malam di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan sampai berakhirnya Sasih Kesanga yaitu hari Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi. Hal ini dilakukan sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa selama sasih Kalima sampai sasih Kesanga itu merupakan sasih gering yang ditandai dengan berjangkitnya berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, tarian yang diwarisi turun-temurun ini, pantang jika ditiadakan karena dipercaya bisa membahayakan. 

9. Tari Sang Hyang Sampat
Tradisi unik yang terjadi di Banjar Puluk-Puluk, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan adalah “Tradisi Tarian Sang Hyang Sampat”. Tradisi ini dilakukan menjelang panen, khususnya pada musim tanam padi taun atau padi Bali, dan telah menjadi tradisi turun temurun di Banjar Puluk-Puluk. Tradisi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali sebelum Ngusabe Gede di Pura Bedugul. Tujuan dari tradisi Tarian Sang Hyang Sampat adalah untuk melindungi tanaman padi para petani dari serangan hama dan penyakit. Dalam budaya Bali, tanaman padi memiliki peranan penting dan dianggap sebagai anugerah dari para dewa. Oleh karena itu, melalui tarian ini, masyarakat berharap dapat menjaga keberlangsungan panen yang melimpah dan melindungi tanaman padi dari ancaman serangan hama atau penyakit.

10. Tradisi Mecaru Mejaga-jaga
Mecaru Mejaga-jaga merupakan tradisi yang dilaksanakan masyarakat Desa Adat di wilayah Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Kec. Klungkung Kab. Klungkung. Tradisi ini bertujuan untuk meminta kesuburan lahan pertanian dan menepis hal yang negatif. Upacara tradisi ini menggunakan sesaji dengan sarana utama binatang sapi dengan kondisi sempurna alias tanpa cacat.

11. Tradisi Ritual Mebayang-bayang
Tradisi Mebayang-bayang berada Desa Adat Sengkiding, Desa Aan, Kec. Banjarangkan, Kab. Klungkung dan Catus Pata Desa Adat Sengkiding, Desa Aan, Kec. Banjarangkan, Kab. Klungkung. Tradisi ini memiliki arti melakukan aktivitas atau gerakan tarik-menarik belulang godel (kulit anak sapi). Godel yang digunakan sebagai sarana pun harus betina dan hidungnya belum dicocok dan diyakini masih suci. Tradisi Ritual Mebayang-bayang ini bertujuan untuk mengusir pengaruh negatif yang datang dari luar Desa Adat Sengkiding. 

12. Tradisi Mabubu
Tradisi Mabubu merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Gelogor. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan buta kala atau sifat negatif yang ada di Desa Adat Gelogor. Tradisi Mabubu mulai dilakukan ketika masyarakat Desa Adat Gologor mengalami berbagai musibah atau kemalangan sehingga dengan dilakukannya tradisi Mabubu ini, seluruh musibah akan hilang dari desa tersebut.

13. Tari Joged Pingit 
Tari Joged Pingit ada dan berkembang di sebuah  Pura Luhur Pucak Bukit Adeng. Tari Joget Pingit atau dikenal juga dengan Tari Joged Dua adalah sebuah tarian sakral yang berkembang sekitar tahun 1965, dimana pada saat itu Negara dalam keadaan genting. Pada masa itu terbentuklah tarian-tarian tradisional yang berupa Pertunjukan (babalihan) Calon Arang. Babalihan Calon Arang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam minat masyarakat, masyarakat sangat gemar pada babalihan  ini yang sedang berkembang di sebuah desa, yaitu Desa Senganan Kawan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Desa Adat Senganan Kawan juga menyungsung Ida Bhatara yang ada di Pura Pucak Bukit Adeng. Dengan kemurahan Beliau pula Tari Joged Pingit terbentuk, yang dimana tarian ini akan selalu dipentaskan setiap piodalan di Pura Pucak Bukit Adeng dan juga dapat dipentaskan pada acara piodalan di pura-pura yang ada di Desa Adat Senganan Kawan, juga dapat dipentaskan pada waktu Tiga Bulanan (Tiga Sasih).

Baca Juga  Unud Jadi Tuan Rumah INNOPA Ke-9, Sebanyak 32 Negara Turut Berpartisipasi

14. Tradisi Barong Nong-Nong Kling
Tradisi Barong Nong-Nong Kling  merupakan tradisi yang terdapat di Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.  Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk mencapai keselamatan dan terhindar dari segala bahaya yang ada di Desa Aan. Dalam tradisi ini juga dilakukan persembahan berupa banten dengan makna sebagai wujud rasa syukur atas anugrah yang dilimpahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam tradisi ini menggunakan media musik, tari, dan drama yang akan dipentaskan oleh sekelompok anak-anak muda serta dalam pementasannya, tidak menggunakan barong melainkan pemain yang mengenakan topeng.

Bersamaan dengan pencatatan ini, Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kantor Wilayah (Kanwil) Bali, Alexander Palti turut mengapresiasi kinerja dari BEM Universitas Udayana melalui Departemen Kebudayaan. Ia menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar di kekayaan intelektual yang bisa dimanfaatkan oleh Masyarakat Indonesia itu sendiri, baik yang berupa personal maupun komunal. Pemanfaatan kekayaan intelektual juga dapat dilihat dari nilai-nilai atau bunyi dari sila-sila Pancasila, yang dimana itu dibuat oleh warga sekitar. Memang kekayaan intelektual itu jika dari nomemklatur pemerintah ada di Kementerian Hukum dan HAM. Akan tetapi Kemenkumhan tidak bisa berjalan sendiri dalam melayani kekayaan intelektual, harus bekerja sama, bersinergi dengan pihak-pihak terkait lainnya, salah satunya adalah BEM Universitas Udayana.

bem unud
BEM Unud saat audiensi kepada Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Bali. (Foto: ist)

“Saya tentunya mengapresiasi apa yang telah diprogramkan oleh Departemen Kebudayaan BEM Universitas Udayana sebagai suatu hal yang mulia dan patut dijadikan contoh serta pemantik bagi masyarakat luas. Dengan itu diharapkan kesadaran kita, khususnya pada KI komunal antara lain Indikasi Geografis, Ekspresi Budaya Tradisional, Pengetahuan Tradisional, untuk kita sama-sama menggali potensi KI komunal yang ada di Bali yang kemarin baru diberikan 14 KI komunal dimana pasti ada lebih dari itu yang dapat ditemukan. Tentunya diharapkan tidak hanya dilaksanakan oleh Kanwil Kemenkumham Bali  tetapi juga oleh sentra-sentra KI dengan dukungan dari teman-teman mahasiswa pemerhati KI,” ucap Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Bali dalam Audiensi bersama Ketua BEM Universitas Udayana, I Putu Bagus Padmanegara dan Kepala Departemen Kebudayaan, I Gusti Ngurah Prabhaswara guna melakukan kolaborasi yang lebih masif lagi dengan Kemenkumham Kanwil Bali. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita5993-BEM-Universitas-Udayana-Kembali-Catatkan-14-Tradisi-Bali-sebagai-Kekayaan-Intelektual-Komunal.html (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

NEWS

Ny. Rai Wahyuni Sanjaya Hadiri Pembukaan Bina Posyandu VI Tahun 2026  

Perkuat Implementasi Posyandu 6 SPM di Tabanan

Loading

Published

on

By

Bunda Rai
HADIRI BINA POSYANDU: Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya saat menghadiri langsung Pembukaan Bina Posyandu Angkatan VI Tahun 2026 di UPTD Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Bali, Kesiman, Denpasar, Selasa (2/6). (Foto: Hms Tbn)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Tabanan, Ny. Rai Wahyuni Sanjaya atau yang akrab disapa Bunda Rai, menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pelayanan Posyandu dengan menghadiri langsung Pembukaan Bina Posyandu Angkatan VI Tahun 2026 di UPTD Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Bali, Kesiman, Denpasar, Selasa (2/6). Kehadiran Bunda Rai menjadi wujud sinergi dan dukungan nyata dalam akselerasi implementasi Posyandu 6 bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang terintegrasi di seluruh Bali.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali tersebut menjadi wadah peningkatan kapasitas para pengurus dan kader Posyandu dalam mendukung pelayanan masyarakat yang lebih berkualitas. Turut hadir Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Badung, para kepala OPD terkait dari Kabupaten Tabanan dan Badung, jajaran pengurus Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, serta para camat dan peserta pelatihan.

Mewakili Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Bali, I Made Dwi Dewata selaku Pengarah Posyandu menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi dan memperbarui pemahaman pengurus Posyandu, khususnya dalam tata kelola pelayanan di lapangan.

Ia menjelaskan, penguatan enam bidang SPM meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat, dan sosial menjadi langkah strategis untuk memastikan Posyandu mampu memberikan pelayanan yang terintegrasi dan berkualitas kepada masyarakat. “Kegiatan Bina Posyandu ini menjadi langkah nyata untuk meningkatkan kapasitas, pengetahuan, dan keterampilan para pembina di tingkat kabupaten, kecamatan, desa, dan kelurahan. Tim Pembina Posyandu memiliki peran vital dalam mendampingi kader agar operasional Posyandu berjalan aktif dan berkualitas,” ujarnya.

Baca Juga  Mahasiswa KKN Unud Lakukan KIE PKM di Dawan Klungkung

Dalam kesempatan tersebut, Bunda Rai menegaskan pentingnya penguatan kapasitas pengurus dan kader sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat. Menurutnya, Posyandu saat ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi pusat layanan masyarakat yang mendukung enam bidang SPM secara terpadu.

Bunda Rai menyampaikan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan koordinasi lintas sektor, serta pembinaan yang berkelanjutan menjadi kunci dalam mewujudkan Posyandu yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. “Melalui kegiatan ini, kami berharap seluruh pengurus dan kader Posyandu semakin memahami tugas dan fungsinya, sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih optimal, terpadu, dan menjangkau kebutuhan masyarakat secara menyeluruh,” ungkap Bunda Rai.

Sementara itu, Ketua Panitia Bina Posyandu Tahun 2026, Ny. Ni Komang Sriani, menyampaikan kegiatan berlangsung pada 2–4 Juni 2026 dan bertujuan meningkatkan kompetensi pengurus Posyandu dalam pembinaan kader serta penguatan pelaksanaan Posyandu 6 SPM.

Pelaksanaan Bina Posyandu Angkatan VI diikuti oleh 112 peserta yang berasal dari Kabupaten Badung dan Kabupaten Tabanan. Dari Kabupaten Tabanan, peserta terdiri atas Ketua Tim Pembina Posyandu Kecamatan Selemadeg dan Selemadeg Timur beserta jajaran pengurus yang akan menjadi penggerak penguatan Posyandu di wilayah masing-masing. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Apresiasi Generasi Muda, Ketua TP PKK Badung Hadiri Malam Purna Paskibraka 2025v

Published

on

By

Ketua TP PKK Badung
MALAM PURNA PASKIBRAKA: Ketua TP. PKK Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, menghadiri puncak Malam Purna Paskibraka Kabupaten Badung Tahun 2025 di Hotel Made Bali, Senin (1/6). (Foto: Hms Badung)

Badung, baliilu.com – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, menghadiri puncak Malam Purna Paskibraka Kabupaten Badung Tahun 2025. Acara penuh kebanggaan ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6), di Hotel Made Bali.

Momen ini menandai penutupan resmi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tahun 2025. Acara dilaksanakan setelah seluruh anggota Paskibraka Badung 2025 sukses menuntaskan tugas pengibaran dan penurunan Sang Saka Merah Putih dengan khidmat dan bertanggung jawab.

Hadir dalam acara tersebut Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Badung beserta jajaran, Tim Perumus Kebijakan Pemkab Badung, perwakilan Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Badung, orang tua murid, tim pelatih, serta seluruh anggota Purna Paskibraka Badung 2025.

Pada kesempatan tersebut, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa menyerahkan sertifikat penghargaan secara simbolis kepada perwakilan anggota Paskibraka. Penyerahan ini menjadi bentuk apresiasi resmi atas rampungnya masa pembinaan dan tugas negara oleh pemuda-pemudi pilihan Badung.

Rasniathi Adi Arnawa turut mengungkapkan rasa bangga atas dedikasi, kedisiplinan, dan semangat juang seluruh peserta selama masa pendidikan hingga bertugas.

“Kepada seluruh Purna Paskibraka Kabupaten Badung Tahun 2025, kami sampaikan rasa hormat dan apresiasi yang setinggi-tingginya. Kalian telah membuktikan bahwa generasi muda Badung memiliki karakter yang kuat, berintegritas, dan berjiwa nasionalis yang tinggi dalam mengemban amanah negara,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan ini merupakan kebanggaan besar bagi keluarga, sekolah, masyarakat, dan Pemerintah Kabupaten Badung. Terima kasih tulus juga disampaikan kepada orang tua dan tim pelatih atas dukungan dan pendampingan yang menjadi kunci utama pembentukan karakter para anggota.

Baca Juga  Prodi Doktor Ilmu Hukum FH Unud Gelar Pengabdian Internasional di The Datai Langkawi Malaysia

Dirinya berharap pengalaman, ilmu, dan nilai luhur selama pelatihan dapat menjadi bekal seumur hidup. Nilai Pancasila wajib dijaga dan dijadikan pedoman harian.

“Semoga pengalaman berharga ini menjadi bekal untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menjaga persatuan dan kesatuan, serta menjadi teladan di tengah masyarakat. Jadilah generasi yang berprestasi, berkarakter luhur, dan senantiasa memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan bangsa Indonesia tercinta,” tutupnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Sekretaris I TP Posyandu Kota Denpasar Buka Sosialisasi Pola Pelayanan Posyandu 6 SPM bagi Kader Se-Denpasar

Published

on

By

Posyandu Denpasar
SOSIALISASI POSYANDU: Sekretaris I Tim Pembina (TP) Posyandu Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, membuka kegiatan Sosialisasi Pola Pelayanan Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang diikuti kader Posyandu se-Kota Denpasar yang berlangsung di Gedung Wanita Shanti Graha Denpasar, Selasa (2/6). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Sekretaris I Tim Pembina (TP) Posyandu Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, membuka kegiatan Sosialisasi Pola Pelayanan Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang diikuti kader Posyandu se-Kota Denpasar. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Wanita Shanti Graha Denpasar, Selasa (2/6).

Dalam sambutannya, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini merupakan bentuk implementasi dari program Bina Posyandu TP Posyandu Provinsi Bali yang sebelumnya telah dilaksanakan bagi pengurus TP Posyandu dan kader Posyandu se-Bali.

Menurutnya, kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan pemahaman kader mengenai tugas dan fungsi mereka dalam melaksanakan layanan Posyandu 6 SPM di tengah masyarakat.

“Kegiatan Sosialisasi Pola Pelayanan Posyandu 6 SPM yang kita laksanakan pada hari ini merupakan bentuk implementasi Bina Posyandu TP Posyandu Provinsi Bali. Melalui kegiatan ini diharapkan kader akan semakin memahami tugas dan fungsinya dalam melaksanakan layanan Posyandu 6 SPM di masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, kader Posyandu memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam pelaksanaan layanan sosial dasar kepada masyarakat. Oleh karena itu, melalui sosialisasi ini diharapkan para kader semakin memahami pola pelayanan yang diberikan saat hari buka Posyandu sehingga mampu memberikan layanan yang optimal dan tepat sasaran.

“Sehingga apa yang menjadi tujuan transformasi layanan Posyandu dapat kita wujudkan bersama, dimana melalui Posyandu 6 SPM dapat mendekatkan layanan guna mewujudkan masyarakat sejahtera menuju Denpasar MAJU,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa juga memohon dukungan dari pemerintah kecamatan serta desa/kelurahan agar dapat terus memfasilitasi pelaksanaan Posyandu 6 SPM, baik dari sisi pelayanan maupun upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) kader Posyandu.

Baca Juga  Diah Kemaladewi, Mahasiswa Inspiratif Penoreh Prestasi pada Ajang National Science & Social Olympiad 2023

Ia berharap pembinaan dan sosialisasi serupa dapat terus dilakukan secara berjenjang di seluruh wilayah Kota Denpasar, mengingat jumlah kader Posyandu yang sangat banyak dan tersebar di empat kecamatan.

“Harapan kami, mengingat jumlah kader yang sangat banyak dan tersebar di empat kecamatan, hal serupa dapat terus digerakkan secara berjenjang. Sehingga percepatan peningkatan SDM kader Posyandu dapat kita capai bersama,” harapnya.

Melalui kegiatan ini, TP Posyandu Kota Denpasar berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas kader sebagai ujung tombak pelayanan dasar kepada masyarakat, sekaligus mendukung transformasi Posyandu dalam memberikan enam layanan dasar yang terintegrasi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Denpasar. (eka/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca