BEM Unud Kabinet “Udayana Bangkit” melalui Departemen Kebudayaan pada Senin, 18 September 2023 menghadiri undangan Edukasi/Himbauan Tentang Pencegahan HKI yang bertempat di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar. (Foto: ist)
Denpasar, baliilu.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana (Unud) Kabinet “Udayana Bangkit” melalui Departemen Kebudayaan pada Senin, 18 September 2023 menghadiri undangan Edukasi/Himbauan Tentang Pencegahan HKI yang bertempat di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar. Dalam kegiatan tersebut dilakukan penyerahan sertifikat pencatatan Hak Kekayaan Intelektual untuk budaya yang sudah berhasil dicatatkan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) oleh Departemen Kebudayaan, Badan Eksekutif Mahasiswa, Universitas Udayana.
Budaya-budaya tersebut, yaitu: 1. Kerajinan Gambelan Desa Tihingan dengan nomor pencatatan EBT : 2. Tari Rejang Pala dengan nomor pencatatan EBT : 51202300254 3. Tari Legong Kraton Pejaten dengan nomor pencatatan EBT : 51202300263 4. Tradisi Okokan Desa Adat Kediri dengan nomor pencatatan EBT : 51202300283 5. Tari Baris Memedi dengan nomor pencatatan EBT : 51202300285 6. Tari Gandrung Suwung Batan Kendal dengan nomor pencatatan EBT : 51202300288 7. Tari Janger Pegok dengan nomor pencatatan EBT : 51202300289 8. Tari Rejang Sutri dengan nomor pencatatan EBT : 51202300286 9. Tari Sang Hyang Sampat dengan nomor pencatatan EBT : 51202300287 10. Tradisi Mecaru Mejaga-Jaga dengan nomor pencatatan EBT : 51202300290 11. Tradisi Ritual Mebayang-Bayang dengan nomor pencatatan EBT : 51202300291 12. Tradisi Mabubu dengan nomor pencatatan EBT : 51202300292 13. Tari Joged Pingit dengan nomor pencatatan EBT : 51202300294 14. Tradisi Barong Nong-Nong Kling dengan nomor pencatatan EBT : 51202300295
Berikut sekilas gambaran mengenai budaya-budaya yang sudah disebutkan :
14 Tradisi Bali yang memperoleh HKI. (Foto: ist)
1. Kerajinan Gambelan Desa Tihingan Desa Tihingan merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Desa Tihingan terkenal dengan mayoritas masyarakat yang ada di desa tersebut berprofesi sebagai pengerajin gambelan. Pembuatan gambelan ini sudah berdiri lama di desa tersebut dan sudah diwariskan secara turun temurun dan saat ini untuk menjaga kelestarian dari kerajinan ini maka didirikannya sebuah komunitas pengerajin gambelan di Desa tihingan yang bernama “Perkumpulan Sentra Pengerajin Gambelan Labda Karya Artha” yang terdiri dari banyak sekali pengerajin berbagai macam gambelan. Dibentuknya komunitas ini tujuannya agar para mengerajin memiliki struktur komunitas organisasi yang terarah dan terjamin untuk kedepannya.
2. Tari Rejang Pala Rejang Pala ada dan berkembang di sebuah Pura Balang Tamak, Br. Nongan Kaler, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem dan di Pasraman Desa Nongan, Br. Nongan Kaler, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem. Tari Rejang Pala sempat punah. Awalnya ketika menurut cerita sepuh-sepuh dulu terdapat Tari Rejang Pala namun tidak ada yang mau menarikan, hanya ada gelungan yang ditaruh di dalam godag (kotak yang terbuat dari anyaman bambu) dan hanya disungsung saat puncak acara Odalan di Pura Balang Tamak. Ketika ditarikan, temannya dapat mengambil buah yang ada pada gelungan jika merasa haus. Saat ini Tari Rejang Pala ditarikan setiap Odalan di Pura Balang Tamak dan Pura Desa Nongan. Tarian ini diiringi dengan alat musik gambang ataupun selonding. Tarian ini ditarikan sebagai persembahan kepada Tuhan pada saat Odalan di pura. Tarian ini juga merupakan upaya pelestarian hasil kebun khususnya buah dari warga setempat. Tari ini khusus ditarikan oleh perempuan yang masih gadis atau yang belum menikah.
3. Tari Legong Kraton Pejaten Tarian Legong Kraton Pejaten berada di Banjar adat Pangkung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Tarian biasanya dilakukan ketika ada upacara adat di pura setempat, atau ketika ada yang meminta untuk ditarikan (kupah) oleh masyarakat setempat. Tarian ini bersifat sakral karena mahkota penari disucikan. Namun, tidak menutup kemungkinan tarian ini dapat dijadikan pertunjukkan. Tarian ini memiliki persyaratan dalam memilih penari, seperti belum menstruasi atau belum beranjak dewasa sehingga dalam pementasannya dilakukan oleh anak perempuan yang belum pubertas sebanyak 3 orang anak. Hal ini karena menurut penuturan narasumber, pernah terjadi suatu hal yang tidak diinginkan ketika menggunakan penari yang tidak memenuhi persyaratan.
4. Tradisi Okokan Desa Adat Kediri Okokan adalah sebuah kalung atau keroncong yang terbuat dari kayu, dan biasanya digantungkan di leher sapi sebagai simbol kebanggaan. Okokan dapat ditemukan di Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Ketika Okokan digoyangkan, ia mengeluarkan suara yang keras dan bergemuruh. Di Desa Adat Kediri, terdapat tradisi Okokan yang dilaksanakan setiap tahun pada pangrupukan atau nyangra sasih kesanga, yang merupakan hari terakhir dalam kalender bulan sasih. Di Desa Adat Kediri, Okokan memiliki kekuatan magis yang semakin kuat dan dianggap suci. Okokan juga dihiasi dengan tapel atau lukisan wajah Boma. Boma adalah ciri khas Okokan yang melambangkan sifat kemarahan atau keangkaramurkaan. Okokan ini juga diberi hiasan seperti kain (wastra) berwarna poleng atau hitam putih.
5. Tari Baris Memedi Tari Baris Memedi adalah sebuah bentuk tarian sakral yang khusus dilakukan di daerah Tabanan, khususnya Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel. Tarian ini biasanya hanya dilakukan pada saat upacara atiwa-tiwa atau ngaben massal (ngerit). Dalam pelaksanaan Tari Baris Memedi, sekitar 15 orang atau lebih akan menari bersama-sama. Tarian ini dipercaya memiliki unsur spiritual yang kuat, dan tidak jarang terjadi kejadian kerasukan pada beberapa penari selama upacara berlangsung. Tujuan utama dari Tari Baris Memedi adalah untuk mengantarkan roh ke dunia lain, yaitu nirwana. Proses tarian dianggap belum selesai jika masih ada penari yang berada dalam keadaan tidak sadar atau kerasukan.
6. Tari Gandrung Suwung Batan Kendal Tari Gandrung ada dan berkembang di tengah masyarakat Banjar Suwung Batan Kendal, tepatnya di Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Tari Gandrung selalu dipentaskan setiap 7 bulan (6 bulan kalender Bali) di Pura Dalem Batan Kendal Desa Adat Sesetan.Tarian ini termasuk tarian sakral yang bertujuan untuk menolak bala atau hal buruk.
7. Tari Janger Pegok Tari Janger Pegok berada di Banjar Pegok, Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Tari Janger Pegok diperkirakan telah ada sekitar tahun 1936 dan terus berkembang hingga saat ini. Tari janger ini selalu dipentaskan di Pura Kesuma Sari, pada setiap 7 bulan (6 bulan kalender Bali), yang bertepatan pada nutug ketelun Bulan Purnama Kapat (tiga hari setelah hari bulan purnama di bulan September-Oktober). Yang dimana Purnama Kapat merupakan hari piodalan di Pura Kesuma Sari. Tari Janger ini adalah tarian yang masih terikat dengan unsur magis yang sudah turun temurun ditarikan.
8. Tari Rejang Sutri Tari Rejang Sutrii ada dan berkembang di tengah masyarakat Desa Adat Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Tari Rejang Sutri selalu dipentaskan pada Soma Kliwon Klurut, rahina Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima oleh masyarakat Batuan. Pementasan ini berlangsung setiap malam di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan sampai berakhirnya Sasih Kesanga yaitu hari Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi. Hal ini dilakukan sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa selama sasih Kalima sampai sasih Kesanga itu merupakan sasih gering yang ditandai dengan berjangkitnya berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, tarian yang diwarisi turun-temurun ini, pantang jika ditiadakan karena dipercaya bisa membahayakan.
9. Tari Sang Hyang Sampat Tradisi unik yang terjadi di Banjar Puluk-Puluk, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan adalah “Tradisi Tarian Sang Hyang Sampat”. Tradisi ini dilakukan menjelang panen, khususnya pada musim tanam padi taun atau padi Bali, dan telah menjadi tradisi turun temurun di Banjar Puluk-Puluk. Tradisi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali sebelum Ngusabe Gede di Pura Bedugul. Tujuan dari tradisi Tarian Sang Hyang Sampat adalah untuk melindungi tanaman padi para petani dari serangan hama dan penyakit. Dalam budaya Bali, tanaman padi memiliki peranan penting dan dianggap sebagai anugerah dari para dewa. Oleh karena itu, melalui tarian ini, masyarakat berharap dapat menjaga keberlangsungan panen yang melimpah dan melindungi tanaman padi dari ancaman serangan hama atau penyakit.
10. Tradisi Mecaru Mejaga-jaga Mecaru Mejaga-jaga merupakan tradisi yang dilaksanakan masyarakat Desa Adat di wilayah Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Kec. Klungkung Kab. Klungkung. Tradisi ini bertujuan untuk meminta kesuburan lahan pertanian dan menepis hal yang negatif. Upacara tradisi ini menggunakan sesaji dengan sarana utama binatang sapi dengan kondisi sempurna alias tanpa cacat.
11. Tradisi Ritual Mebayang-bayang Tradisi Mebayang-bayang berada Desa Adat Sengkiding, Desa Aan, Kec. Banjarangkan, Kab. Klungkung dan Catus Pata Desa Adat Sengkiding, Desa Aan, Kec. Banjarangkan, Kab. Klungkung. Tradisi ini memiliki arti melakukan aktivitas atau gerakan tarik-menarik belulang godel (kulit anak sapi). Godel yang digunakan sebagai sarana pun harus betina dan hidungnya belum dicocok dan diyakini masih suci. Tradisi Ritual Mebayang-bayang ini bertujuan untuk mengusir pengaruh negatif yang datang dari luar Desa Adat Sengkiding.
12. Tradisi Mabubu Tradisi Mabubu merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Gelogor. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan buta kala atau sifat negatif yang ada di Desa Adat Gelogor. Tradisi Mabubu mulai dilakukan ketika masyarakat Desa Adat Gologor mengalami berbagai musibah atau kemalangan sehingga dengan dilakukannya tradisi Mabubu ini, seluruh musibah akan hilang dari desa tersebut.
13. Tari Joged Pingit Tari Joged Pingit ada dan berkembang di sebuah Pura Luhur Pucak Bukit Adeng. Tari Joget Pingit atau dikenal juga dengan Tari Joged Dua adalah sebuah tarian sakral yang berkembang sekitar tahun 1965, dimana pada saat itu Negara dalam keadaan genting. Pada masa itu terbentuklah tarian-tarian tradisional yang berupa Pertunjukan (babalihan) Calon Arang. Babalihan Calon Arang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam minat masyarakat, masyarakat sangat gemar pada babalihan ini yang sedang berkembang di sebuah desa, yaitu Desa Senganan Kawan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Desa Adat Senganan Kawan juga menyungsung Ida Bhatara yang ada di Pura Pucak Bukit Adeng. Dengan kemurahan Beliau pula Tari Joged Pingit terbentuk, yang dimana tarian ini akan selalu dipentaskan setiap piodalan di Pura Pucak Bukit Adeng dan juga dapat dipentaskan pada acara piodalan di pura-pura yang ada di Desa Adat Senganan Kawan, juga dapat dipentaskan pada waktu Tiga Bulanan (Tiga Sasih).
14. Tradisi Barong Nong-Nong Kling Tradisi Barong Nong-Nong Kling merupakan tradisi yang terdapat di Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk mencapai keselamatan dan terhindar dari segala bahaya yang ada di Desa Aan. Dalam tradisi ini juga dilakukan persembahan berupa banten dengan makna sebagai wujud rasa syukur atas anugrah yang dilimpahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam tradisi ini menggunakan media musik, tari, dan drama yang akan dipentaskan oleh sekelompok anak-anak muda serta dalam pementasannya, tidak menggunakan barong melainkan pemain yang mengenakan topeng.
Bersamaan dengan pencatatan ini, Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kantor Wilayah (Kanwil) Bali, Alexander Palti turut mengapresiasi kinerja dari BEM Universitas Udayana melalui Departemen Kebudayaan. Ia menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar di kekayaan intelektual yang bisa dimanfaatkan oleh Masyarakat Indonesia itu sendiri, baik yang berupa personal maupun komunal. Pemanfaatan kekayaan intelektual juga dapat dilihat dari nilai-nilai atau bunyi dari sila-sila Pancasila, yang dimana itu dibuat oleh warga sekitar. Memang kekayaan intelektual itu jika dari nomemklatur pemerintah ada di Kementerian Hukum dan HAM. Akan tetapi Kemenkumhan tidak bisa berjalan sendiri dalam melayani kekayaan intelektual, harus bekerja sama, bersinergi dengan pihak-pihak terkait lainnya, salah satunya adalah BEM Universitas Udayana.
BEM Unud saat audiensi kepada Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Bali. (Foto: ist)
“Saya tentunya mengapresiasi apa yang telah diprogramkan oleh Departemen Kebudayaan BEM Universitas Udayana sebagai suatu hal yang mulia dan patut dijadikan contoh serta pemantik bagi masyarakat luas. Dengan itu diharapkan kesadaran kita, khususnya pada KI komunal antara lain Indikasi Geografis, Ekspresi Budaya Tradisional, Pengetahuan Tradisional, untuk kita sama-sama menggali potensi KI komunal yang ada di Bali yang kemarin baru diberikan 14 KI komunal dimana pasti ada lebih dari itu yang dapat ditemukan. Tentunya diharapkan tidak hanya dilaksanakan oleh Kanwil Kemenkumham Bali tetapi juga oleh sentra-sentra KI dengan dukungan dari teman-teman mahasiswa pemerhati KI,” ucap Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Bali dalam Audiensi bersama Ketua BEM Universitas Udayana, I Putu Bagus Padmanegara dan Kepala Departemen Kebudayaan, I Gusti Ngurah Prabhaswara guna melakukan kolaborasi yang lebih masif lagi dengan Kemenkumham Kanwil Bali. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita5993-BEM-Universitas-Udayana-Kembali-Catatkan-14-Tradisi-Bali-sebagai-Kekayaan-Intelektual-Komunal.html(gs/bi)
SI BIJAK PATEN: Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra saat menghadiri peluncuran ASN Corporate University dan Sistem Informasi Kebijakan Pengembangan Kompetensi (Si Bijak Paten) di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja, Senin (19/10). (Foto: Hms Tbn)
Buleleng, baliilu.com – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat reformasi birokrasi di Bumi Panji Sakti. Langkah konkret tersebut diwujudkannya lewat peluncuran ASN Corporate University dan Sistem Informasi Kebijakan Pengembangan Kompetensi (Si Bijak Paten) di Gedung Kesenian Gde Manik Singaraja, Senin (19/10).
Di bawah kepemimpinannya, Pemkab Buleleng menggandeng Lembaga Administrasi Negara (LAN) untuk menghadirkan sistem pembelajaran terintegrasi. Terobosan ini digagas Bupati Sutjidra agar peningkatan kapasitas aparatur sipil negara (ASN) tidak berhenti sekadar pada pelatihan formal, melainkan langsung bermuara pada penerapan kerja nyata di lapangan.
Di hadapan Kepala LAN Dr. Muhammad Taufiq Dea, Wakil Bupati Gede Supriatna, unsur pimpinan DPRD, serta jajaran pejabat Pemkab Buleleng, Bupati Sutjidra menekankan pentingnya membangun aparatur yang berintegritas, kredibel, dan bersih dari korupsi.
“Pengembangan seluruh ASN ini penting agar mereka memiliki kompetensi, kredibilitas, dan integritas. Pelaksanaannya juga harus transparan, akuntabel, dan bebas dari korupsi,” tegas Bupati Sutjidra.
Melalui program ini, Bupati Sutjidra memastikan arah kebijakan birokrasi selaras dengan delapan program prioritas daerah. Pihaknya menginstruksikan agar proses pembelajaran dimulai secara berjenjang dari unsur pimpinan, pejabat struktural, fungsional, hingga kepala seksi sebelum diteruskan ke seluruh staf di masing-masing perangkat daerah.
Bupati Sutjidra berharap, melalui kepemimpinan yang kuat dan terarah, ASN di Buleleng mampu memahami serta mengeksekusi setiap program prioritas secara optimal, sehingga kehadiran birokrasi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Bupati Sutjidra juga optimis penerapan sistem ini mampu menjadikan Buleleng sebagai pilot project nasional dalam pengembangan kompetensi aparatur.
Langkah progresif Bupati Sutjidra ini mendapat apresiasi penuh dari Kepala LAN, Dr. Muhammad Taufiq Dea. Menurut Taufiq, komitmen kuat seorang kepala daerah adalah kunci utama keberhasilan transformasi birokrasi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
“Transformasi birokrasi tidak akan berjalan tanpa adanya kepemimpinan yang visioner dan keberanian untuk mengubah cara-cara lama menjadi lebih adaptif. Apa yang dilakukan Pemkab Buleleng hari ini patut menjadi teladan bagi daerah lain dalam membangun ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan,” ungkapnya
Dengan resmi diluncurkannya ASN Corporate University dan Si Bijak Paten oleh Bupati Sutjidra, Pemkab Buleleng kini bersiap membangun budaya belajar yang berkelanjutan demi mewujudkan pelayanan publik yang semakin inovatif, efektif, dan solutif. (gs/bi)
HADIRI APEL: Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, menghadiri apel dan roadshow sosialisasi bersama Tim Kolaborasi Orkes Tabanan yang melibatkan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), PPTI, PMI, dan Badan Narkotika Kabupaten (BNK), yang berlangsung di SMA Negeri 1 Kediri, Kecamatan Kediri, Senin (19/10). (Foto: Hms Tbn)
Tabanan, baliilu.com – Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, menghadiri apel dan roadshow sosialisasi bersama Tim Kolaborasi Orkes Tabanan yang melibatkan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), Palang Merah Indonesia (PMI), dan Badan Narkotika Kabupaten (BNK), sekaligus mendukung percepatan penurunan stunting di lingkungan sekolah. Kegiatan berlangsung di SMA Negeri 1 Kediri, Kecamatan Kediri, Senin (19/10), dan dihadiri Kepala Sekolah beserta jajaran guru, para pengurus KPA, PPTI, PMI, dan BNK Kabupaten Tabanan, serta para siswa.
Melalui sambutannya, Wabup Dirga yang juga selaku ketua rangkaian organisasi tersebut menegaskan bahwa generasi muda merupakan penerus Tabanan yang memegang peranan penting dalam menentukan masa depan daerah.
“Anak-anak sekalian adalah generasi penerus Tabanan. Masa depan daerah ini ada di tangan kalian. Karena itu, selain rajin belajar, kalian juga harus menjaga kesehatan, memiliki komitmen yang baik, menjauhi narkoba, dan peduli terhadap sesama,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wabup Dirga menjelaskan bahwa masing-masing organisasi yang tergabung dalam Tim Kolaborasi Orkes Tabanan memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda.
“KPA mengajak kita memahami HIV/AIDS dengan benar serta tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan HIV. PPTI membantu meningkatkan kesadaran tentang TBC, mulai dari pencegahan hingga pentingnya menjalani pengobatan sampai tuntas. PMI mengajarkan kita tentang kemanusiaan, pertolongan pertama, kesiapsiagaan bencana, dan semangat membangun bersama. Sementara itu, BNK mengajak kita menjauhi penyalahgunaan narkoba dan berani menolak ajakan yang dapat merusak masa depan,” jelasnya.
Terkait hal tersebut, Wabup Dirga mengingatkan para siswa agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya serta tidak ragu meminta bantuan kepada guru maupun orang tua ketika menghadapi persoalan. Perhatian terhadap percepatan penurunan stunting juga disampaikan Wabup Dirga sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi yang sehat dan berkualitas. Ia menjelaskan bahwa stunting bukan hanya berkaitan dengan tinggi badan, tetapi juga dengan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat berbagai faktor, termasuk kekurangan gizi dalam jangka panjang.
“Kalian perlu membiasakan makan makanan bergizi, tidak melewatkan sarapan, rutin berolahraga, menjaga kebersihan, dan memperhatikan kesehatan diri. Kebiasaan sehat remaja akan menjadi bekal penting untuk masa depan anak dan cucu kalian,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wabup Dirga turut mendorong pembentukan KSPAN (Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba) di sekolah-sekolah sebagai wadah bagi para siswa untuk belajar, berbagi informasi yang benar, saling mengingatkan, dan menjadi teladan positif bagi teman sebaya.
“KSPAN bukan sekadar organisasi, tetapi wadah bagi kalian untuk belajar dan berbagi informasi yang benar, saling mengingatkan, serta menjadi contoh positif bagi teman-teman sebaya. Saya berharap KSPAN benar-benar aktif, bukan hanya terbentuk di atas kertas, tetapi diisi dengan kegiatan yang menarik, edukatif, dan bermanfaat bagi lingkungan sekolah,” harapnya.
Wabup Dirga juga mengajak kepala sekolah dan jajaran guru untuk terus mendukung kegiatan tersebut melalui sinergi bersama KPA, PPTI, PMI, dan BNK agar edukasi kesehatan dapat disampaikan dengan cara yang dekat dan mudah dipahami oleh para siswa. Ia menitipkan tiga pesan utama kepada generasi muda, yakni menjaga diri dan masa depan, peduli terhadap teman, serta menjadi pelopor perubahan.
“Mulailah dari diri sendiri, dari sekolah, dan dari keluarga. Tidak perlu menunggu menjadi orang besar untuk melakukan hal yang baik,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Wabup Dirga Wabup Dirga mengajak kepala sekolah dan jajaran guru untuk terus mendukung kegiatan tersebut melalui sinergi bersama KPA, PPTI, PMI, dan BNK agar edukasi kesehatan dapat disampaikan dengan cara yang dekat dan mudah dipahami oleh para siswa. Pihaknya juga berharap seluruh sekolah di Kabupaten Tabanan dapat menjadi lingkungan yang aman, bebas narkoba, peduli terhadap kesehatan, serta mampu melahirkan generasi yang sehat, berprestasi, dan peduli terhadap sesama,” pungkasnya. (gs/bi)
SERTIJAB: Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Pasma Royce, S.I.K., M.H., memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Kepala Bidang Laboratorium Forensik (Kabid Labfor) dan Kapolresta Denpasar yang berlangsung di Gedung Presisi Polda Bali, Senin (19/10/2026) pukul 08.30 Wita. (Foto: Hms Polresta Dps)
Denpasar, baliilu.com – Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Pasma Royce, S.I.K., M.H., memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Kepala Bidang Laboratorium Forensik (Kabid Labfor) dan Kapolresta Denpasar yang berlangsung di Gedung Presisi Polda Bali, Senin (19/10/2026) pukul 08.30 Wita.
Dalam sertijab tersebut, jabatan Kapolresta Denpasar resmi beralih dari Kombes Pol. Leonardo David Simatupang, S.I.K., M.H., kepada Kombes Pol. I Wayan Winaya, S.I.K., M.H. Pergantian tersebut menjadi bagian dari dinamika organisasi Polri sekaligus mekanisme pembinaan karier personel untuk memastikan kesinambungan kepemimpinan dan pelaksanaan tugas kepolisian.
Kombes Pol. Leonardo David Simatupang selanjutnya mengemban tugas baru sebagai Penyelidik Pengamanan Internal Madya TK II Divpropam Polri. Sementara itu, Kombes Pol. I Wayan Winaya sebelumnya menjabat sebagai Dirpamobvit Polda NTB sebelum dipercaya memimpin Polresta Denpasar.
Kapolda Bali menekankan bahwa serah terima jabatan merupakan bagian dari proses regenerasi dan pembinaan organisasi yang harus dimaknai sebagai upaya memperkuat pelaksanaan tugas kepolisian. Pergantian pejabat juga diharapkan mampu menghadirkan energi baru dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Dengan amanah baru tersebut, Kombes Pol. I Wayan Winaya diharapkan dapat segera menyesuaikan diri dengan lingkungan tugas, memperkuat koordinasi dengan seluruh jajaran serta melanjutkan program-program yang telah berjalan di Polresta Denpasar.
Sementara itu, dedikasi dan pengabdian Kombes Pol. Leonardo David Simatupang selama memimpin Polresta Denpasar menjadi bagian dari kesinambungan pelaksanaan tugas organisasi. Pengalaman dan capaian selama masa kepemimpinannya diharapkan dapat menjadi bekal dalam menjalankan tugas baru di lingkungan Divpropam Polri.
Sementara itu Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu I Gede Adi Saputra Jaya, S.H., M.H., menyampaikan bahwa pergantian pimpinan merupakan hal yang wajar dalam dinamika organisasi Polri.
“Serah terima jabatan merupakan bagian dari mekanisme pembinaan karier sekaligus langkah organisasi untuk memastikan roda kepemimpinan dan pelaksanaan tugas tetap berjalan secara berkesinambungan. Kami menyambut pejabat baru dan siap mendukung pelaksanaan tugas Kapolresta Denpasar dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, jajaran Polresta Denpasar akan terus memperkuat sinergi, koordinasi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas, termasuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat serta memberikan pelayanan kepolisian yang cepat, humanis dan responsif.
“Dengan kepemimpinan yang baru, kami berharap seluruh personel semakin solid dan mampu melanjutkan program yang sudah berjalan, sekaligus menghadirkan berbagai inovasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tambahnya.
Pergantian kepemimpinan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat soliditas internal, meningkatkan profesionalisme personel serta mengoptimalkan pelayanan kepolisian, sehingga Polresta Denpasar semakin mampu menjawab berbagai tantangan keamanan dan kebutuhan masyarakat di wilayah hukum Kota Denpasar. (gs/bi)