Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

BEM Unud Kembali Catatkan 14 Tradisi Bali sebagai Kekayaan Intelektual Komunal

BALIILU Tayang

:

bem unud
BEM Unud Kabinet “Udayana Bangkit” melalui Departemen Kebudayaan pada Senin, 18 September 2023 menghadiri undangan Edukasi/Himbauan Tentang Pencegahan HKI yang bertempat di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Udayana (Unud) Kabinet “Udayana Bangkit” melalui Departemen Kebudayaan pada Senin, 18 September 2023 menghadiri undangan Edukasi/Himbauan Tentang Pencegahan HKI yang bertempat di Prime Plaza Hotel Sanur, Denpasar. Dalam kegiatan tersebut dilakukan penyerahan sertifikat pencatatan Hak Kekayaan Intelektual untuk budaya yang sudah berhasil dicatatkan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) oleh Departemen Kebudayaan, Badan Eksekutif Mahasiswa, Universitas Udayana. 

Budaya-budaya tersebut, yaitu:
1. Kerajinan Gambelan Desa Tihingan dengan nomor pencatatan EBT : 
2. Tari Rejang Pala dengan nomor pencatatan EBT : 51202300254
3. Tari Legong Kraton Pejaten dengan nomor pencatatan EBT : 51202300263
4. Tradisi Okokan Desa Adat Kediri dengan nomor pencatatan EBT : 51202300283
5. Tari Baris Memedi dengan nomor pencatatan EBT : 51202300285
6. Tari Gandrung Suwung Batan Kendal dengan nomor pencatatan EBT : 51202300288
7. Tari Janger Pegok dengan nomor pencatatan EBT : 51202300289
8. Tari Rejang Sutri dengan nomor pencatatan EBT : 51202300286
9. Tari Sang Hyang Sampat dengan nomor pencatatan EBT : 51202300287
10. Tradisi Mecaru Mejaga-Jaga dengan nomor pencatatan EBT : 51202300290
11. Tradisi Ritual Mebayang-Bayang dengan nomor pencatatan EBT : 51202300291
12. Tradisi Mabubu dengan nomor pencatatan EBT : 51202300292
13. Tari Joged Pingit dengan nomor pencatatan EBT : 51202300294
14. Tradisi Barong Nong-Nong Kling dengan nomor pencatatan EBT : 51202300295

Berikut sekilas gambaran mengenai budaya-budaya yang sudah disebutkan : 

bem
14 Tradisi Bali yang memperoleh HKI. (Foto: ist)

1. Kerajinan Gambelan Desa Tihingan
Desa Tihingan merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Desa Tihingan terkenal dengan mayoritas masyarakat yang ada di desa tersebut berprofesi sebagai pengerajin gambelan. Pembuatan gambelan ini sudah berdiri lama di desa tersebut dan sudah diwariskan secara turun temurun dan saat ini untuk menjaga kelestarian dari kerajinan ini maka didirikannya sebuah komunitas pengerajin gambelan di Desa tihingan yang bernama “Perkumpulan Sentra Pengerajin Gambelan Labda Karya Artha” yang terdiri dari banyak sekali pengerajin berbagai macam gambelan. Dibentuknya komunitas ini  tujuannya agar para mengerajin memiliki struktur komunitas organisasi yang terarah dan terjamin untuk kedepannya.

2. Tari Rejang Pala
Rejang Pala ada dan berkembang di sebuah Pura Balang Tamak, Br. Nongan Kaler, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem dan di Pasraman Desa Nongan, Br. Nongan Kaler, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem. Tari Rejang Pala sempat punah. Awalnya ketika menurut cerita sepuh-sepuh dulu terdapat Tari Rejang Pala namun tidak ada yang mau menarikan, hanya ada gelungan yang ditaruh di dalam godag (kotak yang terbuat dari anyaman bambu) dan hanya disungsung saat puncak acara Odalan di Pura Balang Tamak. Ketika ditarikan, temannya dapat mengambil buah yang ada pada gelungan jika merasa haus. Saat ini Tari Rejang Pala ditarikan setiap Odalan di Pura Balang Tamak dan Pura Desa Nongan. Tarian ini diiringi dengan alat musik gambang ataupun selonding. Tarian ini ditarikan sebagai persembahan kepada Tuhan pada saat Odalan di pura. Tarian ini juga merupakan upaya pelestarian hasil kebun khususnya buah dari warga setempat. Tari ini khusus ditarikan oleh perempuan yang masih gadis atau yang belum menikah.

Baca Juga  Prodi Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi FK Unud Gelar Tirta Yatra

3. Tari Legong Kraton Pejaten
Tarian Legong Kraton Pejaten berada di Banjar adat Pangkung, Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Tarian biasanya dilakukan ketika ada upacara adat di pura setempat, atau ketika ada yang meminta untuk ditarikan (kupah) oleh masyarakat setempat. Tarian ini bersifat sakral karena mahkota penari disucikan. Namun, tidak menutup kemungkinan tarian ini dapat dijadikan pertunjukkan. Tarian ini memiliki persyaratan dalam memilih penari, seperti belum menstruasi atau belum beranjak dewasa sehingga dalam pementasannya dilakukan oleh anak perempuan yang belum pubertas sebanyak 3 orang anak. Hal ini karena menurut penuturan narasumber, pernah terjadi suatu hal yang tidak diinginkan ketika menggunakan penari yang tidak memenuhi persyaratan.

4. Tradisi Okokan Desa Adat Kediri
Okokan adalah sebuah kalung atau keroncong yang terbuat dari kayu, dan biasanya digantungkan di leher sapi sebagai simbol kebanggaan. Okokan dapat ditemukan di Desa Kediri, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Ketika Okokan digoyangkan, ia mengeluarkan suara yang keras dan bergemuruh. Di Desa Adat Kediri, terdapat tradisi Okokan yang dilaksanakan setiap tahun pada pangrupukan atau nyangra sasih kesanga, yang merupakan hari terakhir dalam kalender bulan sasih. Di Desa Adat Kediri, Okokan memiliki kekuatan magis yang semakin kuat dan dianggap suci. Okokan juga dihiasi dengan tapel atau lukisan wajah Boma. Boma adalah ciri khas Okokan yang melambangkan sifat kemarahan atau keangkaramurkaan. Okokan ini juga diberi hiasan seperti kain (wastra) berwarna poleng atau hitam putih.

5. Tari Baris Memedi
Tari Baris Memedi adalah sebuah bentuk tarian sakral yang khusus dilakukan di daerah Tabanan, khususnya Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel. Tarian ini biasanya hanya dilakukan pada saat upacara atiwa-tiwa atau ngaben massal (ngerit). Dalam pelaksanaan Tari Baris Memedi, sekitar 15 orang atau lebih akan menari bersama-sama. Tarian ini dipercaya memiliki unsur spiritual yang kuat, dan tidak jarang terjadi kejadian kerasukan pada beberapa penari selama upacara berlangsung. Tujuan utama dari Tari Baris Memedi adalah untuk mengantarkan roh ke dunia lain, yaitu nirwana. Proses tarian dianggap belum selesai jika masih ada penari yang berada dalam keadaan tidak sadar atau kerasukan.

6. Tari Gandrung Suwung Batan Kendal
Tari Gandrung ada dan berkembang di tengah masyarakat Banjar Suwung Batan Kendal, tepatnya di Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Tari Gandrung selalu dipentaskan setiap 7 bulan (6 bulan kalender Bali) di Pura Dalem Batan Kendal Desa Adat Sesetan.Tarian ini termasuk tarian sakral yang bertujuan untuk menolak bala atau hal buruk.

7. Tari Janger Pegok
Tari Janger Pegok berada di Banjar Pegok, Desa Adat Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. Tari Janger Pegok diperkirakan telah ada sekitar tahun 1936 dan terus berkembang hingga saat ini. Tari janger ini selalu dipentaskan di Pura Kesuma Sari, pada setiap 7 bulan (6 bulan kalender Bali), yang bertepatan pada nutug ketelun Bulan Purnama Kapat (tiga hari setelah hari bulan purnama di bulan September-Oktober). Yang dimana Purnama Kapat merupakan hari piodalan di Pura Kesuma Sari. Tari Janger ini adalah tarian yang masih terikat dengan unsur magis yang sudah turun temurun ditarikan.

Baca Juga  Perkuat dan Kembangkan Kerja Sama, Unud dan Nanchang University Perpanjang MoU

8. Tari Rejang Sutri
Tari Rejang Sutrii ada dan berkembang di tengah masyarakat Desa Adat Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Tari Rejang Sutri selalu dipentaskan pada Soma Kliwon Klurut, rahina Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima oleh masyarakat Batuan. Pementasan ini berlangsung setiap malam di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan sampai berakhirnya Sasih Kesanga yaitu hari Ngembak Geni, sehari setelah Hari Raya Nyepi. Hal ini dilakukan sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa selama sasih Kalima sampai sasih Kesanga itu merupakan sasih gering yang ditandai dengan berjangkitnya berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, tarian yang diwarisi turun-temurun ini, pantang jika ditiadakan karena dipercaya bisa membahayakan. 

9. Tari Sang Hyang Sampat
Tradisi unik yang terjadi di Banjar Puluk-Puluk, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan adalah “Tradisi Tarian Sang Hyang Sampat”. Tradisi ini dilakukan menjelang panen, khususnya pada musim tanam padi taun atau padi Bali, dan telah menjadi tradisi turun temurun di Banjar Puluk-Puluk. Tradisi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali sebelum Ngusabe Gede di Pura Bedugul. Tujuan dari tradisi Tarian Sang Hyang Sampat adalah untuk melindungi tanaman padi para petani dari serangan hama dan penyakit. Dalam budaya Bali, tanaman padi memiliki peranan penting dan dianggap sebagai anugerah dari para dewa. Oleh karena itu, melalui tarian ini, masyarakat berharap dapat menjaga keberlangsungan panen yang melimpah dan melindungi tanaman padi dari ancaman serangan hama atau penyakit.

10. Tradisi Mecaru Mejaga-jaga
Mecaru Mejaga-jaga merupakan tradisi yang dilaksanakan masyarakat Desa Adat di wilayah Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Kec. Klungkung Kab. Klungkung. Tradisi ini bertujuan untuk meminta kesuburan lahan pertanian dan menepis hal yang negatif. Upacara tradisi ini menggunakan sesaji dengan sarana utama binatang sapi dengan kondisi sempurna alias tanpa cacat.

11. Tradisi Ritual Mebayang-bayang
Tradisi Mebayang-bayang berada Desa Adat Sengkiding, Desa Aan, Kec. Banjarangkan, Kab. Klungkung dan Catus Pata Desa Adat Sengkiding, Desa Aan, Kec. Banjarangkan, Kab. Klungkung. Tradisi ini memiliki arti melakukan aktivitas atau gerakan tarik-menarik belulang godel (kulit anak sapi). Godel yang digunakan sebagai sarana pun harus betina dan hidungnya belum dicocok dan diyakini masih suci. Tradisi Ritual Mebayang-bayang ini bertujuan untuk mengusir pengaruh negatif yang datang dari luar Desa Adat Sengkiding. 

12. Tradisi Mabubu
Tradisi Mabubu merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Gelogor. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan buta kala atau sifat negatif yang ada di Desa Adat Gelogor. Tradisi Mabubu mulai dilakukan ketika masyarakat Desa Adat Gologor mengalami berbagai musibah atau kemalangan sehingga dengan dilakukannya tradisi Mabubu ini, seluruh musibah akan hilang dari desa tersebut.

13. Tari Joged Pingit 
Tari Joged Pingit ada dan berkembang di sebuah  Pura Luhur Pucak Bukit Adeng. Tari Joget Pingit atau dikenal juga dengan Tari Joged Dua adalah sebuah tarian sakral yang berkembang sekitar tahun 1965, dimana pada saat itu Negara dalam keadaan genting. Pada masa itu terbentuklah tarian-tarian tradisional yang berupa Pertunjukan (babalihan) Calon Arang. Babalihan Calon Arang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam minat masyarakat, masyarakat sangat gemar pada babalihan  ini yang sedang berkembang di sebuah desa, yaitu Desa Senganan Kawan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Desa Adat Senganan Kawan juga menyungsung Ida Bhatara yang ada di Pura Pucak Bukit Adeng. Dengan kemurahan Beliau pula Tari Joged Pingit terbentuk, yang dimana tarian ini akan selalu dipentaskan setiap piodalan di Pura Pucak Bukit Adeng dan juga dapat dipentaskan pada acara piodalan di pura-pura yang ada di Desa Adat Senganan Kawan, juga dapat dipentaskan pada waktu Tiga Bulanan (Tiga Sasih).

Baca Juga  Pengenalan Studi Kampus, Unud Terima Kunjungan Siswa SMA Negeri 1 Tumpang Malang

14. Tradisi Barong Nong-Nong Kling
Tradisi Barong Nong-Nong Kling  merupakan tradisi yang terdapat di Desa Aan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.  Tradisi ini dilakukan dengan tujuan untuk mencapai keselamatan dan terhindar dari segala bahaya yang ada di Desa Aan. Dalam tradisi ini juga dilakukan persembahan berupa banten dengan makna sebagai wujud rasa syukur atas anugrah yang dilimpahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam tradisi ini menggunakan media musik, tari, dan drama yang akan dipentaskan oleh sekelompok anak-anak muda serta dalam pementasannya, tidak menggunakan barong melainkan pemain yang mengenakan topeng.

Bersamaan dengan pencatatan ini, Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kantor Wilayah (Kanwil) Bali, Alexander Palti turut mengapresiasi kinerja dari BEM Universitas Udayana melalui Departemen Kebudayaan. Ia menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar di kekayaan intelektual yang bisa dimanfaatkan oleh Masyarakat Indonesia itu sendiri, baik yang berupa personal maupun komunal. Pemanfaatan kekayaan intelektual juga dapat dilihat dari nilai-nilai atau bunyi dari sila-sila Pancasila, yang dimana itu dibuat oleh warga sekitar. Memang kekayaan intelektual itu jika dari nomemklatur pemerintah ada di Kementerian Hukum dan HAM. Akan tetapi Kemenkumhan tidak bisa berjalan sendiri dalam melayani kekayaan intelektual, harus bekerja sama, bersinergi dengan pihak-pihak terkait lainnya, salah satunya adalah BEM Universitas Udayana.

bem unud
BEM Unud saat audiensi kepada Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Bali. (Foto: ist)

“Saya tentunya mengapresiasi apa yang telah diprogramkan oleh Departemen Kebudayaan BEM Universitas Udayana sebagai suatu hal yang mulia dan patut dijadikan contoh serta pemantik bagi masyarakat luas. Dengan itu diharapkan kesadaran kita, khususnya pada KI komunal antara lain Indikasi Geografis, Ekspresi Budaya Tradisional, Pengetahuan Tradisional, untuk kita sama-sama menggali potensi KI komunal yang ada di Bali yang kemarin baru diberikan 14 KI komunal dimana pasti ada lebih dari itu yang dapat ditemukan. Tentunya diharapkan tidak hanya dilaksanakan oleh Kanwil Kemenkumham Bali  tetapi juga oleh sentra-sentra KI dengan dukungan dari teman-teman mahasiswa pemerhati KI,” ucap Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Bali dalam Audiensi bersama Ketua BEM Universitas Udayana, I Putu Bagus Padmanegara dan Kepala Departemen Kebudayaan, I Gusti Ngurah Prabhaswara guna melakukan kolaborasi yang lebih masif lagi dengan Kemenkumham Kanwil Bali. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita5993-BEM-Universitas-Udayana-Kembali-Catatkan-14-Tradisi-Bali-sebagai-Kekayaan-Intelektual-Komunal.html (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan

NEWS

Dukung Swasembada Pangan Nasional, Pangdam IX/Udayana Pimpin Panen Raya TNI di Tabanan

Published

on

By

Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto melakukan panen raya bersama Forkopimda Provinsi Bali dan kelompok tani di Tabanan.
PANEN RAYA: Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto melakukan panen raya bersama Forkopimda Provinsi Bali dan kelompok tani di Desa Adat Wangaya Betan, Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Jumat (17/7/2026). (Foto: Pendam IX)

Tabanan, baliilu.com – Komitmen TNI dalam mendukung program ketahanan pangan nasional kembali diwujudkan melalui Panen Raya Bersama TNI yang dipimpin Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto bersama Forkopimda Provinsi Bali dan kelompok tani di Desa Adat Wangaya Betan, Desa Mangesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Jumat (17/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Panen Raya Serentak Tebu, Padi, dan Kedelai yang dipimpin secara daring oleh Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Panen raya dilaksanakan serentak di 43 titik di seluruh Indonesia sebagai bentuk sinergi nasional dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan.

Secara nasional, panen raya meliputi panen tebu yang didampingi TNI Angkatan Udara di delapan lokasi, panen padi yang didampingi TNI Angkatan Darat di 31 lokasi, serta panen kedelai yang didampingi TNI Angkatan Laut di empat lokasi. Kegiatan tersebut mencerminkan kolaborasi nyata seluruh matra TNI dalam mendukung peningkatan produksi pangan nasional.

Melalui kegiatan ini, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya penguatan sektor pangan secara terpadu, mulai dari peningkatan produksi, pendampingan kepada petani, hingga hilirisasi hasil pertanian agar mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat.

Dalam arahannya, Presiden juga menekankan bahwa keberhasilan ketahanan pangan merupakan hasil kerja gotong royong seluruh komponen bangsa. Pelibatan TNI dan Polri dalam mendukung program ketahanan pangan menunjukkan bahwa kedua institusi tidak hanya berperan sebagai penjaga keamanan negara, tetapi juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat serta memiliki tanggung jawab bersama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di Bali, kegiatan Panen Raya Kodam IX/Udayana dihadiri Forkopimda Provinsi Bali, Kasdam IX/Udayana, Irdam IX/Udayana, Kapoksahli Pangdam IX/Udayana, Danrem 163/Wira Satya, Asrendam IX/Udayana, para Asisten Kasdam, LO TNI AL, LO TNI AU, para Dan/Kabalakdam IX/Udayana, Forkopimda Kabupaten Tabanan, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta kelompok tani.

Baca Juga  Pengenalan Studi Kampus, Unud Terima Kunjungan Siswa SMA Negeri 1 Tumpang Malang

Dalam sambutannya, Pangdam IX/Udayana menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para petani, kelompok tani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras sehingga panen raya dapat terlaksana dengan baik.

“Keberhasilan panen hari ini merupakan hasil kerja keras dan sinergi semua pihak. Untuk itu saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para petani, kelompok tani, penyuluh pertanian, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat yang terus berkomitmen menjaga produktivitas sektor pertanian,” ujar Pangdam.

Pangdam menegaskan bahwa TNI Angkatan Darat memiliki komitmen kuat untuk terus mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pendampingan kepada petani, memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan produktif guna meningkatkan hasil pertanian.

Lebih lanjut, Pangdam mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan inovasi dan teknologi modern.

“Kedepan kita harus berani berinovasi. Optimalisasi teknologi pertanian, penggunaan benih unggul seperti Merah Cendana, pengelolaan irigasi yang baik, hingga manajemen pascapanen yang tepat harus terus kita dorong agar hasil pertanian semakin meningkat, berkualitas, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi petani,” tegasnya.

Mengakhiri sambutannya, Pangdam berharap Panen Raya Bersama TNI tidak hanya menjadi simbol keberhasilan musim tanam, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat gotong-royong dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Presiden Prabowo: Anggaran Pertahanan dan Polri Bila Perlu Dikurangi untuk Hapus Kemiskinan

Published

on

By

Presiden Prabowo Subianto memberikan pidato usai memimpin panen raya serentak di Kabupaten Malang, Jawa Timur.
BERIKAN PIDATO: Presiden Prabowo Subianto memberikan pidato usai memimpin panen raya serentak yang digelar di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026. (Foto: BPMI Setpres/Cahyo/presidenri.go.id)

Malang, Jateng, baliilu.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan efisiensi anggaran demi mempercepat penghapusan kelaparan, kemiskinan, dan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Presiden bahkan menyatakan bahwa apabila diperlukan, anggaran pertahanan dan kepolisian dapat dikurangi untuk memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi.

“Kita harus hilangkan kelaparan. Kita harus hilangkan kemiskinan. Kemiskinan, apalagi kemiskinan ekstrem harus kita hilangkan. Insyaallah kita akan hilangkan. Kita akan hemat anggaran kita. Kita akan bikin efisien. Bila perlu, anggaran pertahanan kita kurangi, anggaran polisi kita kurangi, untuk menghilangkan kemiskinan,” tegas Presiden dalam pidatonya usai memimpin panen raya serentak yang digelar di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026.

Presiden menyampaikan bahwa langkah efisiensi tersebut menjadi bagian dari upaya besar mempersiapkan masa depan Indonesia di mana Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu negara terbesar di dunia pada 2045–2050. Menurut Presiden, cita-cita Indonesia menjadi negara maju hanya dapat terwujud apabila generasi muda saat ini benar-benar dipersiapkan dengan baik.

“Jadi anak-anak yang sekarang umur 10 tahun, yang di SD, dia nanti 25 tahun lagi dia 35 tahun, dia intinya bangsa Indonesia. Jadi kalau kita sekarang tidak urus anak-anak itu, dia bagaimana akan menjadi negara keempat terbesar di dunia?” ujar Presiden.

Dalam konteks tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kekuatan negara tidak hanya ditentukan oleh pertahanan dan keamanan dalam arti sempit, tetapi juga oleh kesejahteraan rakyat. Menurut Presiden, rakyat yang kuat, sehat, dan sejahtera merupakan fondasi utama pertahanan nasional.

“Pertahanan terbaik adalah rakyat yang kuat dan sejahtera. Kalau ada yang macam-macam sama bangsa Indonesia, seluruh rakyat, seluruh rakyat akan membela bangsa ini. Makanya dari sekarang TNI dan Polri di tengah-tengah rakyat, di tengah-tengah petani dan nelayan,” kata Presiden.

Baca Juga  JUPI Unud Beri Pendampingan bagi Pengelola Jurnal Menuju Bereputasi Global

Presiden juga menyampaikan apresiasi terhadap peran TNI dan Polri yang telah membantu masyarakat melalui berbagai program nyata, termasuk pembangunan jembatan dan penyediaan titik air. Menurut Presiden, kesulitan rakyat harus menjadi perhatian bersama seluruh unsur negara.

“Hari ini saya bangga, hari ini saya bahagia. Saya sungguh bahagia dan saya sungguh merasa terharu. TNI bangun berapa ribu jembatan, Polri juga, berapa ribu titik air. Kita atasi, kesulitan rakyat kita atasi,” ungkap Presiden.

Menutup pidatonya, Presiden menegaskan bahwa TNI dan Polri merupakan milik rakyat, sehingga keberadaannya harus selalu diarahkan untuk membantu rakyat dan mengatasi kesulitan yang dihadapi masyarakat.

“Ini Indonesia, TNI, Polri milik rakyat, kesulitan rakyat harus kita atasi. TNI, Polri harus mengatasi kesulitan rakyat,” pungkas Presiden. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Serentak Tiga Komoditas, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Published

on

By

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan panen raya tebu di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
PANEN RAYA: Presiden Prabowo Subianto menyaksikan secara langsung panen raya tebu di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026. (Foto: BPMI Setpres/Cahyo/presidenri.go.id)

Malang, Jateng, baliilu.com – Presiden Prabowo Subianto memimpin panen raya serentak yang digelar di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari sinergi TNI dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui panen tiga komoditas strategis yang dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia, yakni tebu oleh TNI Angkatan Udara, kedelai oleh TNI Angkatan Laut, serta padi oleh TNI Angkatan Darat.

Setibanya di lokasi, Kepala Negara meninjau insinerator atau alat pembakar sampah, serta melihat berbagai hasil dan inisiatif hilirisasi yang dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus memperkuat industri nasional. Kedatangan Kepala Negara disambut dengan pertunjukan Tari Beskalan Putri, sebelum kemudian meninjau sejumlah stan yang menampilkan program-program unggulan TNI di bidang ketahanan pangan.

Presiden Prabowo kemudian menyaksikan secara langsung proses panen raya tebu yang dilaksanakan di Lanud Abdulrachman Saleh. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari panen raya serentak yang dilaksanakan secara nasional sebagai wujud kolaborasi TNI dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Dalam laporannya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyampaikan bahwa panen raya serentak tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pendampingan terpadu oleh seluruh matra TNI.

“Menindaklanjuti arahan Bapak Presiden, TNI melaksanakan pendampingan terpadu, TNI Angkatan Udara pada komoditas tebu, TNI Angkatan Laut pada komoditas kedelai, dan TNI Angkatan Darat pada komoditas padi,” ujar Panglima TNI.

Secara khusus, Panglima TNI menjelaskan bahwa panen tebu di Lanud Abdulrachman Saleh mencakup lahan seluas 800,5 hektare dengan estimasi hasil panen mencapai 72.045 ton.

Baca Juga  JUPI Unud Beri Pendampingan bagi Pengelola Jurnal Menuju Bereputasi Global

“Luas siap panen mencapai 800,5 hektare dengan estimasi hasil 72.045 ton dengan nilai diterima pabrik rata-rata Rp720 ribu per ton. Hilirisasi tebu turut menghasilkan molase, bioetanol, industri ataupun farmasi, pupuk organik, dan produk turunan lainnya yang meningkatkan nilai bagi perekonomian nasional,” lanjutnya.

Selanjutnya, Presiden Prabowo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Panen Raya TNI Terintegrasi yang dilaksanakan secara serentak di 43 titik di seluruh Indonesia. Menurut Kepala Negara, kegiatan tersebut mencerminkan bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh komponen bangsa.

“Saya ucapkan selamat atas terselenggaranya Panen Raya TNI terintegrasi yang dilaksanakan serentak di 43 titik di seluruh Indonesia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan Kementerian Pertanian, tetapi merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa,” ujar Presiden.

Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa keterlibatan TNI dalam mendukung sektor pangan merupakan wujud nyata pengabdian kepada rakyat. Kepala Negara menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Ini menunjukkan bahwa TNI dan Polri tidak hanya merupakan penjaga pertahanan dan keamanan negara, tapi TNI dan Polri adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari rakyat Indonesia. TNI dan Polri adalah anak kandung rakyat. TNI dan Polri harus selalu bersama rakyat di tengah-tengah rakyat. Kesulitan rakyat adalah kesulitan TNI dan Polri,” tegas Presiden. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca