Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Berkantor di Desa Sanda, Bupati Sanjaya Apresiasi Inovasi di Sektor Pertanian dan Pengelolaan Sampah

BALIILU Tayang

:

de
Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya., S.E., M.M. serahkan bantuan sembako. (Foto: Ist)

Tabanan, baliilu.com – Mengimplementasikan komitmen untuk melanjutkan aksi nyata berkantor di desa, Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya., S.E., M.M., turun ke Desa Sanda dalam rangka meninjau inovasi pembangunan yakni mesin pyrolisis di BUMDes Sumber Rejeki Desa Sanda dan melakukan penebaran benih ikan di Embung TTP Sanda, Jumat (8/4).

Berkantor di Desa Sanda, Bupati Sanjaya langsung menuju ke Embung TTP Sanda dan melakukan penebaran ikan nila sejumlah 6.000 ekor dengan didampingi oleh Sekda, Anggota DPRD Tingkat 2, Kepala Bapedalitbang, Kadis Pertanian, Kadis LH, Kepala PMD, para OPD terkait, serta camat dan Perbekel Desa Sanda. Selanjutnya Bupati Sanjaya beserta jajaran langsung melakukan kunjungan ke BUMDes Sumber Rejeki untuk meninjau mesin pyrolisis. Kedatangannya kali ini sekaligus memantau potensi unggulan Desa Sanda termasuk inovasi mutakhir yang dikembangkan pada sektor pertanian.

Dengan total jumlah penduduk 1550 dan luas area 876 hektar, Desa Sanda mampu mengembangkan sistem pengolahan sampah berbentuk mesin pyrolysis, dimana sampah-sampah plastik dapat diolah dengan cara dibakar menjadi bentuk minyak yang kemudian bisa diproses kembali menjadi solar, bensin, tinner dan sebagainya. Selain itu, rencana pembangunan Taman Teknologi Pertanian di Desa Sanda atau biasa disebut dengan TPP, juga dikembangkan sebagai bentuk inovasi teknologi dalam memfasilitasi dan meningkatkan potensi pertanian di desa.

Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya., S.E., M.M. tebar benih ikan nila di embung Desa Sanda. (Foto: Ist)

Menanggapi inovasi teknologi tersebut, Bupati Sanjaya memberikan apresiasi dan dukungan kuat kepada Desa Sanda. Desa ini, bagi Sanjaya, menjadi satu-satunya desa yang dilihat secara langsung memilki sistem pengelolaan sampah pyrolysis dengan sistem sederhana bermodalkan kayu bakar. “Saya tadi pastikan sendiri, sampah plastik ini bisa dibakar sampai kira-kira 12 jam dan akan menghasilkan sebuah cairan, nanti cairan tersebut jika diolah, bisa menghasilkan solar, bensin dan lain-lain. Saya pastikan akan saya pelajari teknologi ini,” ungkap Sanjaya saat berkantor di Kantor Perbekel Desa Sanda.

Baca Juga  Kunjungan Menteri Kebudayaan RI di Kabupaten Tabanan

Kunjungannya ini merupakan kunjungan yang selalu dilakukan. Dan akan terus dilanjutkan sampai 133 desa di Tabanan terjamah satu persatu, tentunya dengan mempertimbangkan potensi dan inovasi-inovasi desa yang patut untuk segera dikunjungi.  Bupati Sanjaya beranggapan, gagasan-gagasan positif ini perlu mendapat dukungan dari pemerintah. Baginya program TTP sangat bagus, namun regulasi dan penyempurnaan serta evaluasi belum fokus dilakukan. Tentu kedepannya akan diusulkan ke dalam sebuah perencanaan yang digarap oleh para kelompok ahli sehingga proyek monumental berbasis pertanian bisa semakin mendukung terwujudnya Tabanan yang Aman, Unggul dan Madani.

“Jika kedepannya program TTP ini bagus dalam segi manfaat dan nilai ekonomi, pasti akan kita jadikan program kabupaten, seperti program semara ratih yang ada di Tegalmengkeb,” tambahnya. Lebih lanjut, ia juga berharap, inovasi pyrolysis ini jika dengan baik dikembangkan, juga dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya di Tabanan bahkan kabupaten lain di Bali, sebagai jalan keluar bagi permasalahan sampah yang menjadi kendala pelik di Provinsi Bali saat ini. “Inovasi sampah menjadi energi, sangat patut mendapat apreasiasi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Bupati Sanjaya juga menyampaikan agar desa-desa di Tabanan lebih menekankan pembangunan melalui keunggulan utamanya, yaitu sektor pertanian. Inovasi di bidang lain, seperti pariwisata menjadi bonus dalam menonjolnya sektor pertanian. “Jika bicara soal Tabanan, orientasinya pasti tentang pertanian. Nantinya, sejauh manapun majunya pariwisata di Bali, pasti membutuhkan pertanian sebagai daya dukung primer. Apalagi Tabanan dipusatkan sebagai marketplacenya pertanian yang modern, saya yakin Tabanan menjadi kabupaten yang luar biasa,” kata Sanjaya.

Pada kesempatan itu, Bupati Sanjaya beserta jajarannya juga menyalurkan bantuan dari BPBD berupa sembako, masker dan APD kebersihan seperti sabun cair, sabun mandi dan hand sanitizer untuk masyarakat Desa Sanda.

Baca Juga  Hadiri Pelantikan Panwascam, Bupati Sanjaya Berharap Kolaborasi Demokrasi yang Kritis Tetap Dipertahankan

Kunjungan kerja jajaran Pemkab Tabanan tersebut juga disambut dengan baik oleh Desa Sanda. I Wayan Susana, selaku Perbekel Desa Sanda, mengungkapkan terima kasih atas kehadiran langsung Bupati Tabanan dan perkenannya untuk berkantor di Kantor Desa. “Saya juga sangat berterima kasih telah diberikan kesempatan untuk menuangkan pokok pemikiran dalam membangun desa, salah satunya terciptanya pyrolysis atau alat olah plastik menjadi bahan bakar desa. Ini bisa kami beli dengan Silpa dana desa, selain itu juga untuk merehab Gedung TK dan juga gudang untuk persiapan pyrolysis,” papar Susana. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

NEWS

Pemerintah Tegaskan Komitmen Perkuat Pengawasan Program Nasional, Pastikan Tata Kelola yang Bersih dan Bebas Korupsi

Published

on

By

pengawasan program nasional
KETERANGAN: Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat memberi keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis, 4 Juni 2026. (Foto: BPMI Setpres/Rusman/presidenri.go.id)

Jakarta, baliilu.com – Pemerintah tegaskan komitmen memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai program strategis nasional guna memastikan seluruh kebijakan dapat berjalan secara akuntabel dan bebas dari praktik korupsi. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis, 4 Juni 2026.

“Semangatnya kita, kita betul-betul mau berusaha sekeras-kerasnya memerangi budaya korupsi ini,” tegas Menteri Pras.

Lebih lanjut Menteri Pras menuturkan bahwa penguatan pengawasan ini berlaku untuk seluruh program pemerintah yang dijalankan oleh kementerian dan lembaga. Oleh karenanya, pemerintah melalui sejumlah badan pengawasan akan terus mendorong fungsi pengawasan untuk menjalankan tugas secara optimal.

“Sesungguhnya kan seluruh program pasti harus dilakukan pengawasan ya, seperti BPKP ini kan adalah audit internal keuangan pemerintah, seluruh kementerian dan lembaga ya secara rutin ada pengawasan terhadap seluruh proses di kementerian dan lembaga masing-masing,” jelasnya.

Selain pengawasan institusional, Menteri Pras mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo secara langsung melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program-program prioritas pemerintah. Menurutnya, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, Presiden secara rutin menerima laporan perkembangan program dari seluruh kementerian dan lembaga guna memastikan target pembangunan dapat tercapai sesuai rencana.

“Jadi beliau sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, memang rutin seluruh program, seluruh kementerian dilakukan monitoring, dilakukan evaluasi,” jelasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Baca Juga  Bupati Sanjaya Apresiasi Semangat Membangun Krama Banjar Bongan Pala
Lanjutkan Membaca

NEWS

Kasus OTT Kementerian Imigrasi Coreng Indonesia di Mata Dunia, Harusnya Diisi SDM Berintegritas  

Published

on

By

korupsi imipas
Patung Ikatan di depan Gedung DPR/MPRRI Jakarta. (Foto; dok)

Jakarta, baliilu.com – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira menilai kasus korupsi di jajaran Kementerian Imigrasi dan Permasyarakatan (Imipas) telah merusak wajah Indonesia di dunia internasional. Ia pun meminta agar lembaga yang mengurus keimigrasian diisi oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kapasitas di bidang tersebut.

Menurut Andreas, Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di lingkungan Kantor Imigrasi Jakarta Barat kembali mengingatkan publik bahwa praktik korupsi di sektor pelayanan publik masih menjadi tantangan serius.

“Kasus ini telah mencoreng wajah Indonesia di mata dunia karena berkaitan langsung dengan tata kelola investasi, kepercayaan internasional, dan kredibilitas birokrasi negara,” kata Andreas Hugo Pareira dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Seperti diketahui, KPK melakukan OTT di kantor Imigrasi Jakarta Barat beberapa hari lalu berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi pemerasan dalam pengurusan dokumen keimigrasian bagi Warga Negara Asing (WNA) yang ingin tinggal di Indonesia, dalam hal ini adalah Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) maupun Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS).

Kasus ini turut menyeret Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Silmy Karim di mana KPK telah menahan 8 orang. KPK menjerat Silmy dkk dengan pasal pemerasan dan gratifikasi.

Terkait kasus tersebut, Andreas menyatakan dugaan suap dalam pengurusan izin tinggal WNA ini bukan sekadar persoalan pelanggaran hukum biasa.

“Tentunya kami di DPR sama seperti publik yang berharap proses hukum berjalan secara transparan dan tuntas,” ujar Legislator dari Dapil NTT itu.

Di luar aspek penegakan hukum pada kasus ini, Andreas pun menilai terdapat pertanyaan yang lebih besar.

Baca Juga  Optimalisasi Penanganan Sampah, Pemkot Denpasar Operasikan PDU

“Bagaimana praktik semacam ini bisa terjadi di sektor yang seharusnya menjadi garda terdepan pengawasan lalu lintas orang asing di Indonesia?” ungkap Andreas.

“Maka kita harus memastikan agar kasus ini tidak berhenti sebagai peristiwa hukum semata, melainkan menjadi momentum evaluasi sistemik terhadap tata kelola keimigrasian nasional,” imbuhnya.

Andreas mengingatkan, pelayanan keimigrasian merupakan salah satu sektor strategis yang berhubungan langsung dengan investor, tenaga kerja asing, wisatawan, hingga ekspatriat yang tinggal di Indonesia.

“Jika pengurusan izin tinggal dapat diperjualbelikan melalui praktik suap, maka muncul risiko besar berupa masuknya individu yang tidak memenuhi persyaratan atau bahkan berpotensi mengancam keamanan dan ketertiban,” ucap Andreas.

Di sisi lain, Andreas berpandangan keberhasilan pemberantasan korupsi bukan hanya diukur dari banyaknya operasi tangkap tangan, tetapi dari kemampuan negara mencegah praktik serupa terjadi kembali.

“Imigrasi sebagai pintu gerbang masuk dan keluar orang asing harus diisi oleh SDM yang mempunyai kapasitas dan kompetensi di bidang keimigrasian baik di level pimpinan maupun pelaksana,” ucapnya.

“Serta yang lebih penting lagi adalah individu yang berintegritas dan dedikasi tinggi dalam hal pelayanan publik baik dalam maupun luar negeri,” lanjut Andreas.

Andreas berharap, Pemerintah mengambil banyak pelajaran dari kasus suap di Imipas ini. Khususnya dalam hal pemilihan pejabat dan pelaksana di jajaran Imipas.

“Karena sebagai pintu gerbang, imigrasi juga adalah ‘wajah’ Indonesia, baik ke publik domestik mapun di dunia internasional,” tegas Andreas.

Pimpinan Komisi di DPR yang membidangi urusan keimigrasian tersebut menambahkan, praktik korupsi dalam layanan imigrasi menciptakan ketidakadilan. Andreas menyebut, kondisi seperti itu berpotensi merusak kepercayaan yang selama ini terus diupayakan Negara.

“Warga negara asing yang mengikuti prosedur resmi akan dirugikan karena harus bersaing dengan pihak yang memperoleh kemudahan melalui jalur ilegal,” terangnya.

Baca Juga  Bungan Desa Perdana Sanjaya-Dirga Setelah Dilantik di Desa Subamia Tabanan

Andreas juga menyinggung Indonesia yang tengah berupaya menarik investasi global, meningkatkan sektor pariwisata, dan memperkuat posisi sebagai pusat manufaktur dan ekonomi digital di Asia Tenggara.

“Namun, upaya tersebut dapat terhambat jika praktik korupsi dalam perizinan masih ditemukan di lapangan,” sebut Andreas.

“Kasus ini harus menjadi alarm penting bahwa reformasi birokrasi di sektor keimigrasian belum sepenuhnya selesai,” sambungnya.

Sebagai mitra kerja Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Komisi XIII DPR menilai kasus tersebut menunjukkan bahwa mekanisme pengawasan internal belum cukup efektif dalam mendeteksi dugaan penyimpangan sebelum aparat penegak hukum turun tangan.

“Kami akan meminta penjelasan mengenai sistem audit, pengawasan elektronik, dan mekanisme pelaporan pelanggaran yang selama ini berjalan,” sebut Andreas.

“Apakah ada tanda-tanda penyimpangan yang sebenarnya sudah terdeteksi tetapi tidak ditindaklanjuti? Karena salah satu akar masalah korupsi pelayanan publik adalah interaksi langsung yang berlebihan antara pemohon dan petugas,” tambahnya.

Menurut Andreas, semakin banyak proses yang dilakukan secara digital dan terdokumentasi otomatis, maka semakin kecil ruang negosiasi ilegal. Untuk itu, ia mendorong percepatan digitalisasi layanan KITAS, KITAP, hingga pengawasan terhadap agen atau pihak ketiga yang mengurus dokumen keimigrasian.

“Banyak kasus perizinan melibatkan broker atau pihak ketiga yang menjadi penghubung antara pemohon dan pejabat. Harus ada penataan terhadap praktik jasa pengurusan izin agar tidak menjadi celah munculnya suap,” papar Andreas.

Andreas menekankan pentingnya pembenahan kelembagaan imigrasi. Ia mendorong agar Kementerian Imipas segera menyusun peta risiko korupsi pada seluruh layanan strategis.

“Setiap titik layanan yang memiliki potensi transaksi ilegal harus diperkuat dengan sistem pengawasan berbasis teknologi dan akuntabilitas yang jelas,” ujarnya.

Selain itu, Andreas menyebut perlu ada evaluasi berkala terhadap pejabat yang menduduki posisi strategis, terutama pada unit pelayanan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan WNA.

Baca Juga  Bupati Sanjaya: Jaga Bumi dengan Konsep Tri Hita Karana

“Rotasi jabatan, audit integritas, serta penguatan budaya antikorupsi harus menjadi bagian dari reformasi berkelanjutan. Pendekatan ini penting agar kasus serupa tidak terus berulang setiap beberapa tahun dengan pola yang hampir sama,” urai Andreas.

Di tengah berbagai tantangan global, Andreas menyebut Indonesia membutuhkan birokrasi yang profesional, bersih, dan dapat dipercaya.

“Karena itu, OTT KPK di lingkungan Imigrasi Jakarta Barat harus dilihat sebagai kesempatan untuk memperbaiki sistem, bukan hanya sekadar menghukum oknum,” tutup Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Kementerian Imigrasi Lakukan Pungli, Yanuar Arif: Terus Terang, Ini Memalukan!  

Published

on

By

pungli imigrasi
Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo. (Foto: dpr.go.id)

Jakarta, baliilu.com – Anggota Komisi XIII DPR RI Yanuar Arif Wibowo, menyoroti kasus yang tengah menjadi perhatian publik terkait dugaan praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas). Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi peringatan serius bagi seluruh jajaran birokrasi untuk memperkuat integritas dan menutup celah terjadinya penyimpangan.

Yanuar mengaku prihatin atas munculnya kasus yang melibatkan pejabat publik tersebut. Ia menilai kejadian itu mencederai harapan masyarakat terhadap aparatur negara yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam melayani dan membela kepentingan rakyat.

“Terus terang ini berita yang sangat mengecewakan ya, di mana harapan kita semua pejabat publik bisa menjaga integritas, bisa menjaga kemurnian perjuangan membela rakyat, tentu ini sangat mencederai,” ujar Yanuar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Sebagai mitra kerja Kementerian Imipas di DPR RI, Yanuar menegaskan bahwa kasus tersebut harus dijadikan momentum evaluasi menyeluruh untuk memperbaiki tata kelola dan pengawasan internal.

Menurutnya, masih adanya dugaan pungli menunjukkan bahwa terdapat celah dalam sistem birokrasi yang memungkinkan terjadinya praktik-praktik menyimpang.

“Ini harus jadi pelajaran penting terutama bagi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan bahwa ternyata masih ada ruang-ruang gelap, adanya pungli di dalam sebuah proses perizinan dan seterusnya. Ini tentu harus menjadi pelajaran penting,” kata Politisi Fraksi PKS ini.

Yanuar menekankan bahwa penguatan integritas dan independensi aparatur harus menjadi prioritas utama dalam upaya reformasi birokrasi. Ia berharap seluruh jajaran kementerian dapat melakukan pembenahan secara serius agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang.

“Seluruh jajarannya harus menjadikan integritas dan independensi itu sesuatu yang sangat dibutuhkan sekarang. Jadi harapan saya ini menjadi pelajaran penting dan jangan terulang lagi. Kita hilangkan ruang-ruang gelap dalam birokrasi yang ini akan menimbulkan potensi terjadinya kecurangan, terjadinya korupsi, pungli,” tegasnya.

Baca Juga  Bungan Desa Perdana Sanjaya-Dirga Setelah Dilantik di Desa Subamia Tabanan

Lebih lanjut, Yanuar berharap proses penanganan kasus tersebut dapat dilakukan secara transparan dan menyeluruh sehingga mampu mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

“Mudah-mudahan ini bisa diungkap secara terbuka dan menyeluruh. Itu harapan kami,” pungkasnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca