Connect with us

SENI

Berumur Lebih dari 100 Tahun, Sekaa Gambuh Bajra Jnana Pentaskan ‘’Geseng Wana Terate Bang’’

BALIILU Tayang

:

de
Pementasan Sekaa Gambuh Bajra Jnana yang sudah hidup empat generasi, berumur lebih dari 100 tahun dalam rangka memeriahkan Pesta Kesenian Bali XLIII 2021.

Denpasar, baliilu.com – Rekasana (pergelaran) gambuh berjudul “Geseng Wana Terate Bang” oleh Sekaa Gambuh Bajra Jnana, Banjar Triwangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Duta Kabupaten Karangasem, menghipnotis penonton yang hadir secara terbatas dengan protokol kesehtaan yang ketat di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar, Senin (21/6).

Pementasan Sekaa Gambuh Bajra Jnana yang sudah hidup empat generasi, berumur lebih dari 100 tahun dalam rangka memeriahkan Pesta Kesenian Bali XLIII 2021 yang tergolong klasik ini dilakonkan oleh pregina-pregina muda dengan sangat fasih dan memukau.

Pementasan ini mengisahkan dalam perjalanan Raden Panji Anusapati mencari Diah Langke Sari melewati hutan belantara yang berada di wilayah kerajaan Prabu Terate Bang, dimana hutan tersebut ternyata tidak bisa dilewati. Untuk dapat meneruskan perjalanan, dibakarlah hutan tersebut oleh pasukan Raden Panji Anusapati. Mendengar bahwa hutan di wilayahnya telah dibakar, Prabu Terate Bang marah dan segera mencari orang yang membakar hutan tersebut untuk dibunuh.

Dalam perjalanan, bertemulah Prabu Terate Bang dengan Raden Panji Anusapati terjadilah perang. Dalam peperangan itu, Prabu Terate Bang kalah sehingga harus mempertemukan Raden Panji Anusapati dengan Diah Langke Sari. Tetapi sebelum mempertemukan mereka, Prabu Terate Bang memberi syarat pada Raden Panji Anusapati untuk mengembalikan keadaan hutan yang telah dibakar seperti sedia kala karena hutan merupakan sumber energi alam semesta dan memberi penghidupan bagi umat manusia.  

Koordinator Sekaa Gambuh Bajra Jnana, Ida Wayan Oka Adnyana mengatakan, Sekaa Gambuh binaannya ini sudah terbentuk sejak lebih dari 100 tahun, dan yang pentas saat ini adalah angkatan keempat dari sekaa ini.

“Untuk regenerasi sekaa kami tidak mengalami kendala yang berarti karena Budakeling termasuk  lingkungan desa yang sangat kental dengan seni, keluarga juga berkecimpung dalam bidang seni jadi dari kecil kami sudah dibina tentang dasar-dasar tari. Kalau yang laki-laki dibina dulu dengan tari baris, dan yang perempuan diajarkan pelegongan baru kemudian kami diperkenalkan dengan kesenian gambuh. Saat ini pun sekaa kami sudah memiliki anggota sekaa yang terdiri dari anak-anak SD dan SMP,” terangnya.

Baca Juga  Lahan 1,4 Hektar Garapan Satgas TMMD Kodim Karangasem Ditanami Holtikultura

Untuk pementasan, rutin diadakan setiap tahun di saat upacara Ngusaba Dalem di Desa Budakeling, dan terkadang juga di pura- pura  seputaran Karangasem. “Pementasan kali ini adalah kesempatan kedua kami di Pesta Kesenian Bali dan yang pertama kami pentas di tahun 2017. Untuk pementasan ini kami mempersiapkannya selama 2 bulan,” papar Ida Wayan.

Ida Wayan juga menambahkan bahwa pemilihan judul dan tema pementasan kali ini disesuaikan dengan tema Pesta Kesenian Bali yaitu Purna Jiwa Prananing Wana Kerthi. Bahwasannya manusia tidak bisa lepas dari peran hutan sebagai rumahnya segala macam tumbuh-tumbuhan yang sangat berarti bagi umat manusia, jadi seyogyanya kita menjaga kelangsungan dan kelestarian hutan tersebut demi kita sendiri umat manusia.  

Ida Wayan sangat berharap kesenian gambuh ini dikenal oleh masyarakat luas, karena anak muda yang berminat untuk menonton kesenian gambuh ini termasuk sedikit, hal ini disebabkan dalam pementasannya yang memakai Bahasa Kawi jadi tergolong sulit untuk dipahami.

“Dengan rutinnya melakukan pementasan kami berharap supaya Drama Tari Gambuh ini dikenal dulu oleh masyarakat luas sehingga bisa diminati dan dicintai untuk kelestarian warisan seni budaya ini,“ pungkasnya. (eka)

Advertisements
idul fitri pemprov bali
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Bupati Giri Prasta Terima Audiensi Yayasan Gases, Apresiasi Anak Muda Produksi Film dengan Nilai Budaya Lokal

Published

on

By

de
AUDIENSI: Bupati Giri Prasta menerima audiensi Yayasan Gases Bali terkait produksi film lokal berjudul ''Kapandung'' di Puspem Badung, Sabtu (10/7).

Badung, baliilu.com – Bupati Badung Nyoman Giri Prasta menerima audiensi Yayasan Gases (Gabungan Anak Sesetan) Bali terkait produksi film lokal berjudul ”Kapandung” bertempat di rumah jabatan Bupati Badung, Sabtu (10/7). Sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan industri perfilman lokal Bali yang sarat dengan nilai seni tradisi adat budaya dan agama Hindu Bali, Bupati Giri Prasta secara pribadi memberikan dana motivasi kepada Ketua Yayasan Gases Bali Komang Indra wirawan.

Dalam audiensi tersebut Bupati Giri Prasta menyampaikan apresiasinya terhadap karya seniman milenial yang tergabung dalam Yayasan Gases. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Gases ini sejalan dengan visi misi Pemkab Badung yakni ngewaliang wed unteng Bali. “Kita boleh maju dan modern tapi jangan sekali-kali melupakan seni adat tradisi dan budaya leluhur kita. Pada intinya selaku pribadi dan pemerintah daerah kami mendukung dan mengapresiasi hasil karya seniman muda kita dalam memproduksi film yang mengedepankan nilai budaya lokal bali,” ucapnya.

Bupati Giri Prasta turut mengajak seniman-seniman muda Bali untuk selalu menjaga legasi/warisan leluhur dengan memberikan edukasi dan pemahaman tentang dresta dan budaya Hindu Bali melalui bentuk wahana hiburan edukatif kepada masyarakat. “Kita juga mendorong seniman agar produktif membuat film pendek yang akan kita jadikan sarana edukasi bagi anak-anak sekolah,” terangnya.

Selain itu, menurut Bupati Giri Prasta seni adat tradisi dan budaya Bali tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sastra sastra kuno Bali yang selama ini dijadikan pedoman dan acuan dalam kehidupan sosial religius masyarakat Bali. “Keberadaan sastra-sastra leluhur sangat penting bagi kehidupan sosial religius masyarakat. Karena dalam hidup ini, kita jangan hanya jaya suara, tapi harus jaya dalam laksana,” tegasnya.

Baca Juga  Lahan 1,4 Hektar Garapan Satgas TMMD Kodim Karangasem Ditanami Holtikultura

Sementara Ketua Yayasan Gases Komang Indra Wirawan melaporkan film Kapandung digarap guna menjawab kegundahan dalam dirinya berangkat dari fenomena di masyarakat terhadap tren kasus dicurinya pratima yang merupakan barang yang disakralkan bagi umat Hindu di Bali. Kondisi itu menjadi pecutan bagi pihaknya untuk memberikan edukasi dan pemahaman terhadap barang sakral dan adanya alam sekala niskala melalui bentuk wahana hiburan edukatif.

“Digarapnya film Kepandung ini merupakan adanya keresahan dan terinspirasi atas kejadian-kejadian belakangan ini di masyarakat terkait kehilangan sebuah pratima yang diyakini sebagai preti wimba atau kepercayaan yang dicuri kemudian dampaknya nanti lambat laun taksu Bali kian memudar,” ucapnya.

Di samping itu, lanjut Indra wirawan lahirnya film Kepandung ini membuktikan Bali tidak tertinggal dalam industri perfilman, serta mampu bersaing untuk meramaikan bioskop-bioskop melalui sajian film yang bernuansa adat dan tradisi Bali. (gs)

Advertisements
idul fitri pemprov bali
Lanjutkan Membaca

SENI

Kolaborasi dengan Mahasiswa Papua, Polresta Denpasar Gelar Pentas Seni Virtual

Published

on

By

de
PENTAS SENI: Polresta Denpasar menggelar pentas seni yang berkolaborasi dengan mahasiswa asal Papua. Pentas seni yang berlangsung virtual ini digelar di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar.

Denpasar, baliilu.com – Polresta Denpasar menggelar pentas seni yang berkolaborasi dengan mahasiswa asal Papua. Pentas seni yang berlangsung virtual ini digelar di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar.

“Kenapa tercetus ide kolaborasi Papua – Bali, ini untuk menunjukkan bahwa mahasiswa Papua bisa beradaptasi di manapun mereka berada dan menyatu dengan kebudayaan Bali,” kata Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Jansen Avitus Panjaitan, Selasa (6/7/2021) di Denpasar.

Kombes Jansen selaku pencetus ide menerangkan, pentas seni terdiri dari tari pembukaan/tari kreasi Satya Bhayangkara (maskot Polresta Denpasar) yang ditarikan oleh personel Polwan Polresta Denpasar.

Dikatakan, tarian ini diciptakan untuk menggambarkan semangat jiwa ksatria anggota Polri yang rela berkorban demi melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat tanpa kenal lelah dalam situasi apapun dengan tetap berpedoman pada Tribrata dan Catur Presetya.

“Tarian ini mencerminkan sikap keramahan anggota Polri kepada masyarakat dan mempunyai makna kesetiaan yang penuh keikhlasan kepada bangsa dan negara. Tarian ini adalah maskot Polresta Denpasar,” terangnya.

Tari Kolaborasi Papua – Bali yang diberi nama tari Jaya Anusa Pertiwi dibawakan oleh mahasiswa Papua dengan Polwan Polresta Denpasar.

Di mana makna dari tarian ini adalah Kejayaan Nusantara di bumi pertiwi yang tidak terlepas dari seni dan budaya yang mewarnai dan menghiasi bumi nusantara ini.

“Bumi nusantara kita terkenal dan mendunia dalam balutan tali kasih seni antara dua daerah yang memiliki ciri khas tersendiri, sehingga terciptalah sebuah karya tari yang mengabungkan dua keunikan antara Bali dan Papua,” ucapnya.

“Ini memberikan dinamika dan estetika yang kental dalam masing-masing identitasnya yang mengambarkan kejayaan anusa pratiwi,” sambungnya.

Tarian selanjutnya yakni Garudaku Garudamu. Tari ini menggambarkan burung garuda yang gagah perkasa menjadi simbol bangsa Indonesia.

Baca Juga  Lahan 1,4 Hektar Garapan Satgas TMMD Kodim Karangasem Ditanami Holtikultura

Tari berikutnya yang dibawakan yakni tarian Papua Ring Hati, di mana tarian ini menggambarkan pesona, budaya dan keindahan alam di tanah Papua.

“Papua memilik sumber daya alam yang melimpah, dibalut dengan keanekaragaman tradisi dan budaya unik yang membuat Papua mendapatkan julukan mutiara hitam dari timur,” jelasnya.

Kapolresta mengatakan, dibutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk berlatih sehingga tercipta kolaborasi yang indah antara personel Polresta Denpasar dan mahasiswa Papua.

“Jadi dengan kolaborasi ini, kita ingin tunjukkan kepada masyarakat bahwa kebhinekaan atau perbedaan itu indah,” tegasnya. (gs)

Advertisements
idul fitri pemprov bali
Lanjutkan Membaca

SENI

Tari Gandrung Padma Sandhi Padangsambian Klod di PKB XLIII, Tarik Perhatian Kaum Milenial

Published

on

By

de
SEKAA GANDRUNG: Sekaa Kesenian Gandrung Padma Sandhi Banjar Abasan, Desa Padangsambian Klod Kecamatan Denpasar Barat, yang merupakan duta Kota Denpasar menggelar pentas Tari Gandrung di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar, Selasa (22/6).

Denpasar, baliilu.com – Sekaa Kesenian Gandrung Padma Sandhi Banjar Abasan, Desa Padangsambian Klod Kecamatan Denpasar Barat, yang merupakan duta Kota Denpasar menggelar pentas Tari Gandrung di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar, Selasa (22/6).

Sesuai nama dan sebagai tari lambang pergaulan dan juga hiburan, tari Gandrung yang dihelat Sekaa Gandrung Padma Sandhi memang benar-benar bisa menarik perhatian alias digandrungi baik oleh orang tua maupun kaum milenial. Hal ini terlihat masih banyaknya penonton yang tidak berkesempatan untuk menyaksikan pergelaran tersebut dari dekat lantaran protokol kesehatan yang ketat yang tidak memungkinkan untuk menampung penonton melebihi kuota yang ditentukan panitia.

Koordinator Sekaa Gandrung Padma Sandhi I Made Gede Ary Sujaya mengatakan, tari Gandrung sebagai tarian hiburan masyarakat, dimana diambil dari makna gandrung itu sendiri yang berarti senang, asmara, atau tergila gila. Jadi pada tarian ini masyarakat penonton bisa ikut serta menari di dalam panggung untuk melepaskan beban.  Tari Gandrung ini mengedepankan pakem-pakem tari Bali pada umumnya. Pada jaman dahulu tarian ini ditarikan berfungsi untuk menghibur masyarakat pada saat ada kegiatan yang berkaitan dengan acara kerajaan.

 “Pada saat ini tarian Gandrung pada umumnya dipentaskan pada saat ada ritual di pura atau acara-acara  kemasyarakatan lainnya, serta acara pemerintahan seperti pelantikan bendesa atau kegiatan- kegiatan lainnya yang bersifat hiburan tetapi tetap mengedepankan pakem seni tari Bali,” terang Sujaya.

Tari Gandrung

Ary Sujaya menambahkan kesenian Gandrung di Banjar Abasan ini sebetulnya sudah ada sejak tahun 1930-an, namun kemudian meredup seiring kurangnya regenerasi. Tetapi mulai tahun 1999 akhirnya seorang seniman di wilayah Banjar Abasan I Gede Yudana mulai sedikit demi sedikit berusaha dengan dana pribadi agar kesenian Gandrung ini mulai dibangkitkan lagi dengan tujuan untuk mengumpulkan generasi muda agar ikut berpartisipasi melestarikan seni warisan para leluhur.

Baca Juga  Lahan 1,4 Hektar Garapan Satgas TMMD Kodim Karangasem Ditanami Holtikultura

Untuk pementasan kali ini, selain tari Gandrung, juga dipentaskan tarian pembuka seperti tari Pendet, tari Jauk Keras, dan tari Condong, serta diiringi Tabuh Petegak Saron untuk mengundang taksu pementasan tersebut.

Sekaa Gandrung Padma Sandhi yang beranggotakan 24 orang penabuh dan 9 orang penari ini sesungguhnya sudah mulai melakukan persiapan sejak tahun 2020 karena rencana awalnya sekaa ini akan pentas di tahun tersebut.

“Berhubung tahun 2020 PKB tidak diselenggarakan akhirnya kami melakukan pementasan di tahun 2021,” pungkas Ary Sujaya. (eka)

Advertisements
idul fitri pemprov bali
Lanjutkan Membaca