Connect with us

SENI

“Pasah Nemu Kajeng” dari Komunitas Seni KKB RRI Denpasar di PKB XLIII Pukau Generasi Milenial

BALIILU Tayang

:

PASAH NEMU KAJENG: Pementasan Pasah Nemu Kajeng garapan Komunitas Seni KKB RRI Denpasar Minggu (20/6) di Gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar.

Denpasar, baliilu.com – Rekasadana (pergelaran) arja klasik dengan judul “Pasah Nemu Kajeng”  Komunitas Seni Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar dalam rangka Pesta Kesenian Bali XLIII digelar di Gedung Ksirarnawa, Minggu (20/6).

Rekasadana arja klasik yang dipentaskan oleh 12 penari di Gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar dilakukan dengan mengikuti protokol kesehatan yang  ketat. Pementasan arja klasik yang berjudul “Pasah Nemu Kajeng” ini tidak hanya menarik perhatian para orang tua tetapi terlihat juga anak muda atau generasi milenial yang datang menonton.

Bahkan pendamping orang nomor satu di Bali yaitu Nyonya Putri Suastini Koster juga ikut hadir dan menonton pementasan yang berdurasi kurang lebih 3 jam tersebut.

Penulis Naskah dan Sutradara Komunitas Seni Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar I Gusti Made Sumadi, S.Ag., menyampaikan komunitas yang terbentuk sejak Desember 2020 ini didasari  karena pregina- pregina RRI Bali yang tergabung dalam Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar yang terbentuk dan terkenal sejak dulu sudah pada uzur dan pensiun. Makanya agar bisa mengumpulkan senior- senior tersebut untuk diajak bareng- bareng bermain dibentuklah Komunitas Seni Keluarga Kesenian Bali RRI Denpasar.

“Anggotanya adalah seniman yang masih aktif maupun yang sudah pensiun dari RRI, serta kami akan merekrut para generasi muda untuk bisa membangkitkan kesenian warisan ini terutama arja biar bisa tetap eksis. Langkah-langkah yang dilakukan oleh komunitas ini untuk menarik minat generasi muda adalah dengan cara tetap pentas dan menampilkan arja dengan pakem- pakemnya biar generasi muda tahu seperti apa sebenarnya arja itu sendiri, sehingga ada rasa tertarik untuk bergabung,” terangnya.

Judul Pasah Nemu Kajeng ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan wewaran imbuh Gusti Made Sumadi, tetapi pasah itu artinya berpisah, dan kajeng itu berasal dari kata keajeng. Karena dalam cerita ini Putra Mahkota dan adik perempuannya terpisah sejak kecil dan dari pencarian tersebut akhirnya membuahkan hasil yaitu mereka dipertemukan kembali.

Pementasan ini juga merefleksikan Wana Kerthi sesuai dengan tema Pesta Kesenian Bali XLIII ini yaitu Purna Jiwa Prananing Warna Kerthi yang  dalam pementasan ini digambarkan Putra Mahkota yang sejak kecil hidup di hutan dan melihat perbedaan yang sangat mencolok antara hutan tempat dia dibesarkan dengan kota atau lingkungan kerajaan tempat adik perempuannya tumbuh dewasa. Begitu banyak manfaat yang didapatkan dari hutan tersebut yang sudah seharusnya dijaga dan dilestarikan.

Antusiasme penonton terlihat jelas saat menyaksikan pementasan yang turut menghadirkan Luh  Camplung sebagai Desak Rai ini.

“Kami berusaha memberikan yang terbaik, meskipun karena situasi Covid-19 ini pementasan yang biasanya memakan waktu sampai 5 jam tapi kami persingkat menjadi 3 jam tanpa mengurangi makna dan pakem-pakem yang ada,” pungkas Gusti Made Sumadi. (eka)

Advertisements
idul fitri pemprov bali
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Bupati Giri Prasta Terima Audiensi Yayasan Gases, Apresiasi Anak Muda Produksi Film dengan Nilai Budaya Lokal

Published

on

By

de
AUDIENSI: Bupati Giri Prasta menerima audiensi Yayasan Gases Bali terkait produksi film lokal berjudul ''Kapandung'' di Puspem Badung, Sabtu (10/7).

Badung, baliilu.com – Bupati Badung Nyoman Giri Prasta menerima audiensi Yayasan Gases (Gabungan Anak Sesetan) Bali terkait produksi film lokal berjudul ”Kapandung” bertempat di rumah jabatan Bupati Badung, Sabtu (10/7). Sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan industri perfilman lokal Bali yang sarat dengan nilai seni tradisi adat budaya dan agama Hindu Bali, Bupati Giri Prasta secara pribadi memberikan dana motivasi kepada Ketua Yayasan Gases Bali Komang Indra wirawan.

Dalam audiensi tersebut Bupati Giri Prasta menyampaikan apresiasinya terhadap karya seniman milenial yang tergabung dalam Yayasan Gases. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Gases ini sejalan dengan visi misi Pemkab Badung yakni ngewaliang wed unteng Bali. “Kita boleh maju dan modern tapi jangan sekali-kali melupakan seni adat tradisi dan budaya leluhur kita. Pada intinya selaku pribadi dan pemerintah daerah kami mendukung dan mengapresiasi hasil karya seniman muda kita dalam memproduksi film yang mengedepankan nilai budaya lokal bali,” ucapnya.

Bupati Giri Prasta turut mengajak seniman-seniman muda Bali untuk selalu menjaga legasi/warisan leluhur dengan memberikan edukasi dan pemahaman tentang dresta dan budaya Hindu Bali melalui bentuk wahana hiburan edukatif kepada masyarakat. “Kita juga mendorong seniman agar produktif membuat film pendek yang akan kita jadikan sarana edukasi bagi anak-anak sekolah,” terangnya.

Selain itu, menurut Bupati Giri Prasta seni adat tradisi dan budaya Bali tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sastra sastra kuno Bali yang selama ini dijadikan pedoman dan acuan dalam kehidupan sosial religius masyarakat Bali. “Keberadaan sastra-sastra leluhur sangat penting bagi kehidupan sosial religius masyarakat. Karena dalam hidup ini, kita jangan hanya jaya suara, tapi harus jaya dalam laksana,” tegasnya.

Sementara Ketua Yayasan Gases Komang Indra Wirawan melaporkan film Kapandung digarap guna menjawab kegundahan dalam dirinya berangkat dari fenomena di masyarakat terhadap tren kasus dicurinya pratima yang merupakan barang yang disakralkan bagi umat Hindu di Bali. Kondisi itu menjadi pecutan bagi pihaknya untuk memberikan edukasi dan pemahaman terhadap barang sakral dan adanya alam sekala niskala melalui bentuk wahana hiburan edukatif.

“Digarapnya film Kepandung ini merupakan adanya keresahan dan terinspirasi atas kejadian-kejadian belakangan ini di masyarakat terkait kehilangan sebuah pratima yang diyakini sebagai preti wimba atau kepercayaan yang dicuri kemudian dampaknya nanti lambat laun taksu Bali kian memudar,” ucapnya.

Di samping itu, lanjut Indra wirawan lahirnya film Kepandung ini membuktikan Bali tidak tertinggal dalam industri perfilman, serta mampu bersaing untuk meramaikan bioskop-bioskop melalui sajian film yang bernuansa adat dan tradisi Bali. (gs)

Advertisements
idul fitri pemprov bali
Lanjutkan Membaca

SENI

Kolaborasi dengan Mahasiswa Papua, Polresta Denpasar Gelar Pentas Seni Virtual

Published

on

By

de
PENTAS SENI: Polresta Denpasar menggelar pentas seni yang berkolaborasi dengan mahasiswa asal Papua. Pentas seni yang berlangsung virtual ini digelar di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar.

Denpasar, baliilu.com – Polresta Denpasar menggelar pentas seni yang berkolaborasi dengan mahasiswa asal Papua. Pentas seni yang berlangsung virtual ini digelar di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar.

“Kenapa tercetus ide kolaborasi Papua – Bali, ini untuk menunjukkan bahwa mahasiswa Papua bisa beradaptasi di manapun mereka berada dan menyatu dengan kebudayaan Bali,” kata Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Jansen Avitus Panjaitan, Selasa (6/7/2021) di Denpasar.

Kombes Jansen selaku pencetus ide menerangkan, pentas seni terdiri dari tari pembukaan/tari kreasi Satya Bhayangkara (maskot Polresta Denpasar) yang ditarikan oleh personel Polwan Polresta Denpasar.

Dikatakan, tarian ini diciptakan untuk menggambarkan semangat jiwa ksatria anggota Polri yang rela berkorban demi melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat tanpa kenal lelah dalam situasi apapun dengan tetap berpedoman pada Tribrata dan Catur Presetya.

“Tarian ini mencerminkan sikap keramahan anggota Polri kepada masyarakat dan mempunyai makna kesetiaan yang penuh keikhlasan kepada bangsa dan negara. Tarian ini adalah maskot Polresta Denpasar,” terangnya.

Tari Kolaborasi Papua – Bali yang diberi nama tari Jaya Anusa Pertiwi dibawakan oleh mahasiswa Papua dengan Polwan Polresta Denpasar.

Di mana makna dari tarian ini adalah Kejayaan Nusantara di bumi pertiwi yang tidak terlepas dari seni dan budaya yang mewarnai dan menghiasi bumi nusantara ini.

“Bumi nusantara kita terkenal dan mendunia dalam balutan tali kasih seni antara dua daerah yang memiliki ciri khas tersendiri, sehingga terciptalah sebuah karya tari yang mengabungkan dua keunikan antara Bali dan Papua,” ucapnya.

“Ini memberikan dinamika dan estetika yang kental dalam masing-masing identitasnya yang mengambarkan kejayaan anusa pratiwi,” sambungnya.

Tarian selanjutnya yakni Garudaku Garudamu. Tari ini menggambarkan burung garuda yang gagah perkasa menjadi simbol bangsa Indonesia.

Tari berikutnya yang dibawakan yakni tarian Papua Ring Hati, di mana tarian ini menggambarkan pesona, budaya dan keindahan alam di tanah Papua.

“Papua memilik sumber daya alam yang melimpah, dibalut dengan keanekaragaman tradisi dan budaya unik yang membuat Papua mendapatkan julukan mutiara hitam dari timur,” jelasnya.

Kapolresta mengatakan, dibutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk berlatih sehingga tercipta kolaborasi yang indah antara personel Polresta Denpasar dan mahasiswa Papua.

“Jadi dengan kolaborasi ini, kita ingin tunjukkan kepada masyarakat bahwa kebhinekaan atau perbedaan itu indah,” tegasnya. (gs)

Advertisements
idul fitri pemprov bali
Lanjutkan Membaca

SENI

Tari Gandrung Padma Sandhi Padangsambian Klod di PKB XLIII, Tarik Perhatian Kaum Milenial

Published

on

By

de
SEKAA GANDRUNG: Sekaa Kesenian Gandrung Padma Sandhi Banjar Abasan, Desa Padangsambian Klod Kecamatan Denpasar Barat, yang merupakan duta Kota Denpasar menggelar pentas Tari Gandrung di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar, Selasa (22/6).

Denpasar, baliilu.com – Sekaa Kesenian Gandrung Padma Sandhi Banjar Abasan, Desa Padangsambian Klod Kecamatan Denpasar Barat, yang merupakan duta Kota Denpasar menggelar pentas Tari Gandrung di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar, Selasa (22/6).

Sesuai nama dan sebagai tari lambang pergaulan dan juga hiburan, tari Gandrung yang dihelat Sekaa Gandrung Padma Sandhi memang benar-benar bisa menarik perhatian alias digandrungi baik oleh orang tua maupun kaum milenial. Hal ini terlihat masih banyaknya penonton yang tidak berkesempatan untuk menyaksikan pergelaran tersebut dari dekat lantaran protokol kesehatan yang ketat yang tidak memungkinkan untuk menampung penonton melebihi kuota yang ditentukan panitia.

Koordinator Sekaa Gandrung Padma Sandhi I Made Gede Ary Sujaya mengatakan, tari Gandrung sebagai tarian hiburan masyarakat, dimana diambil dari makna gandrung itu sendiri yang berarti senang, asmara, atau tergila gila. Jadi pada tarian ini masyarakat penonton bisa ikut serta menari di dalam panggung untuk melepaskan beban.  Tari Gandrung ini mengedepankan pakem-pakem tari Bali pada umumnya. Pada jaman dahulu tarian ini ditarikan berfungsi untuk menghibur masyarakat pada saat ada kegiatan yang berkaitan dengan acara kerajaan.

 “Pada saat ini tarian Gandrung pada umumnya dipentaskan pada saat ada ritual di pura atau acara-acara  kemasyarakatan lainnya, serta acara pemerintahan seperti pelantikan bendesa atau kegiatan- kegiatan lainnya yang bersifat hiburan tetapi tetap mengedepankan pakem seni tari Bali,” terang Sujaya.

Tari Gandrung

Ary Sujaya menambahkan kesenian Gandrung di Banjar Abasan ini sebetulnya sudah ada sejak tahun 1930-an, namun kemudian meredup seiring kurangnya regenerasi. Tetapi mulai tahun 1999 akhirnya seorang seniman di wilayah Banjar Abasan I Gede Yudana mulai sedikit demi sedikit berusaha dengan dana pribadi agar kesenian Gandrung ini mulai dibangkitkan lagi dengan tujuan untuk mengumpulkan generasi muda agar ikut berpartisipasi melestarikan seni warisan para leluhur.

Untuk pementasan kali ini, selain tari Gandrung, juga dipentaskan tarian pembuka seperti tari Pendet, tari Jauk Keras, dan tari Condong, serta diiringi Tabuh Petegak Saron untuk mengundang taksu pementasan tersebut.

Sekaa Gandrung Padma Sandhi yang beranggotakan 24 orang penabuh dan 9 orang penari ini sesungguhnya sudah mulai melakukan persiapan sejak tahun 2020 karena rencana awalnya sekaa ini akan pentas di tahun tersebut.

“Berhubung tahun 2020 PKB tidak diselenggarakan akhirnya kami melakukan pementasan di tahun 2021,” pungkas Ary Sujaya. (eka)

Advertisements
idul fitri pemprov bali
Lanjutkan Membaca