Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Di Tengah Pandemi Festival Seni Bali Jani (FSBJ) II tetap Digelar, Guna Jaga ‘Roh’ Kesenian Bali

BALIILU Tayang

:

de

Denpasar, baliilu.com – Di tengah pandemi Covid-19, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tetap berkomitmen untuk menyelenggarakan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) II guna tetap menjaga ‘roh’ kesenian Bali berikut elan kreatif para seniman dan pekerja seni lintas bidang. Festival ini sedianya akan berlangsung pada 31 Oktober-7 November 2020, disajikan secara virtual di kanal youtube Disbud Prov. Bali.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Wayan ‘Kun’ Adnyana, S.Sn., M.Sn., festival kali ini mengusung tagar utama #BaliArtsVirtual, di mana seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui media virtual, dan/atau gabungan pergelaran langsung (luring) dengan virtual (luring), dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan sebagai bagian dari ketentuan pelaksanaan.

Lebih lanjut, Kun Adnyana menuturkan bahwa format festival ini diharapkan dapat menjangkau seluas-luasnya kemungkinan kreatif atas pengolahan virtual sebagai konsep (merujuk upaya elaborasi dan eksplorasi terkait estetik, stilistik, teknik artistik dan tematik), serta wahana atau media (penggunaan berbagai piranti media baru (digital) dalam proses dan penyajiannya).

Adapun Festival Seni Bali Jani digelar pertama kali pada tahun 2019. Ini merupakan kegiatan apresiasi budaya untuk pemajuan kesenian modern, kontemporer dan kesenian yang bersifat inovatif.

Penyelenggaraan yang kedua kalinya, pada tahun 2020 ini merupakan implementasi dari Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, serta Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali.

Format penyelenggaraan festival secara virtual ini, diungkapkan Kun Adnyana, merupakan sebentuk transformasi sosial bagi masyarakat Bali. Ada proses alih pengetahuan dan keterampilan yang terjadi serentak di Bali, yakni terkait proses persiapan dan produksi suatu pementasan karya seni komunal secara daring, termasuk bagaimana cara publik menikmati serta menghikmati sajian tersebut.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Dampingi Ketua PSSI Erick Thohir Tinjau Kesiapan Stadion Dipta

“Ini bukan semata festival kesenian, melainkan juga sebuah upaya bersama menjaga optimisme masyarakat di tengah rundungan berita tentang Covid-19. Melalui program seni yang berkesinambungan secara terencana, terkelola, dan terlaksana dengan baik, diharapkan menumbuhkan solidaritas  masyarakat agar peduli pada sesama. Sigap tanggap dalam menghadapi kesulitan dan problematik sosial. Seni bukan hanya menghadirkan keindahan, melainkan juga seruan kesadaran,“ ujar Kun yang dikenal juga sebagai perupa yang kerap berpameran di dalam dan luar negeri.

Candika Jiwa: Puitika Atma Kerthi

Festival Seni Bali Jani II mengusung tajuk utama “Candika Jiwa: Puitika Atma Kerthi”, bermakna semesta kreativitas terkini dalam “mencandikan” jiwa, spirit, taksu, atau ide-ide cemerlang.

Pada penyelenggaraan kali ini, Festival Seni Bali Jani II bukan hanya merespons secara kreatif dan inovatif situasi pandemi Covid-19, namun berpijak pula pada konsep utama yakni eksplorasi, eksperimentasi, lintas batas, kontekstual dan kolaborasi.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali juga mengungkapkan bahwa Festival Seni Bali Jani merupakan jawaban atas mimpi-mimpi dan harapan komunitas seni modern, kontemporer, dan karya inovatif seniman seluruh Bali.

“Diharapkan festival ini dapat membuka ruang seluas-luasnya untuk ragam kreativitas dan ekspresi seni baru yang modern maupun kontemporer melalui eksperimentasi berbagai medium atau media, namun tetap berbasis atau mengeksplorasi tradisi atau nilai lokal Bali,“ tambah kurator festival Prof. I Gede Arya Sugiartha.

Di samping itu, pihaknya juga menyampaikan visi perihal bagaimana kehadiran festival ini dapat menjadi pelebur sekat-sekat antar-bidang seni melalui kerja sama kolaborasi dalam seni alih media, multimedia maupun transmedia yang bersifat lintas batas, sekaligus senantiasa kontekstual dengan kekinian.

Sebagaimana tahun sebelumnya, serangkaian festival diselenggarakan beragam kegiatan, antara lain pawimba (lomba); adilango (pergelaran); megarupa (pameran); timbang rasa (sarasehan); beranda pustaka (bursa buku); dan penghargaan Bali Jani Nugraha.

Baca Juga  Tingkatkan Vaksinasi, Percepat Kekebalan Komunal

Sebagai tim kurator festival yakni Prof. I Gede Arya Sugiartha dan I Wayan Balawan, Dip.Mus. Sementara tim juri Penghargaan Bali Jani Nugraha adalah Dr. Kadek Suartaya, I Gede Nala Antara, M.Hum, dan Made Adnyana Ole.

Terdapat 8 ragam pawimba (lomba) yang dihadirkan pada festival kali ini, yakni Video TikTok Bali Jani (tingkat umum); Musikalisasi Puisi (tingkat umum); Teater Modern (tingkat SMA/SMK); Seni Lukis (tingkat SMP/SLB); Naskah Drama (tingkat umum); Vlog Kuliner Bali Jani (tingkat umum); Artikel Jurnalistik (tingkat umum); dan Karya Cipta Fotografi (tingkat umum).

Sementara itu, Adilango (Pergelaran) akan menampilkan 26 Komunitas Seni Modern dan/atau kontemporer. Pameran Bali Megarupa yang berlokasi di Museum ARMA, Ubud, Bali, berlangsung sedari 28 Oktober-10 November 2020. Eksibisi yang melibatkan seniman-seniman muda terpilih hasil seleksi open call dan undangan ini akan dihadirkan dalam format daring dan luring. Tidak kurang dari 35 perupa menampilkan karya berupa mural, video art, seni lukis, serta patung dan karya tiga dimensi lainnya. Akan digelar pula timbang rasa (sarasehan) secara daringdengan 7 tema, dan pameran beranda pustaka (bursa buku) secara langsung danvirtual.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menyaksikan rangkaian program Festival Seni Bali Jani 2020 melalui kanal youtube Disbud Prov. Bali dari tanggal 31 0ktober – 7 November 2020. Dengan kebersamaan seluruh masyarakat, kami berkeyakinan festival ini benar-benar menjadi ruang berbagi di tengah situasi pandemi Covid-19,” ujar Kabid Kesenian Disbud Provinsi Bali Wayan Sulastriani, M.Si. (gs)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Gubernur Koster Ambil Jalan Tengah dalam Penerapan PPKM
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Ny. Putri Koster Ikuti Webinar TP PKK Pusat Sambut Hari Ibu Tahun 2020

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Resmikan Rumah Sepeda Indonesia di Bali

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Pemkot Tampilkan Karya Kekebyaran dan Tari Era Presiden Soekarno di PKB

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca