Manggala Utama PAKIS MDA Provinsi Bali Ny. Putri Koster foto bersama usai ngaturang ayah di Pura Dalem Kupa Desa Nongan, Karangasem, Minggu (26/3/2023). (Foto: ist)
Karangasem, baliilu.com – Ny. Putri Suastini Koster selaku Manggala Utama Pasikian Paiketan Krama Istri (PAKIS) MDA Provinsi Bali menaruh perhatian terhadap semangat Krama Hindu dalam Nangun Yadnya. Perhatian itu ditunjukkan dengan ngaturang ayah di Pura Dalem Kupa, Desa Adat Nongan, Kabupaten Karangasem, Minggu (26/3/2023). Kegiatan ngayah ini dilaksanakan untuk persiapan Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih lan Tawur Agung Pura Dalem Kupa pada Buda Wage Klawu, 3 Mei 2023 mendatang.
Kegiatan ngayah diawali dengan melaksanakan persembahyangan bersama di pura setempat. Usai muspa, membaur dengan krama istri Desa Adat Nongan, Ny. Putri Koster nampak antusias ngayah membuat jajan suci. Jajan buatan Ny. Putri Koster akan menjadi bagian dalam banten suci putih yang dihaturkan di Gunung Agung.
Sebelum ngaturang ayah, perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Provinsi Bali ini melaksanakan tatap muka dengan krama Desa Adat Nongan di Wantilan Pura Dalem Kupa. Mengawali sambutan, ia menyampaikan rasa bahagia karena bisa hadir menyapa Krama Desa Nongan dan ngaturang ayah di Pura Dalem Kupa. Ny. Putri Koster mengapresiasi semangat Krama Desa Adat Nongan dalam melaksanakan upacara keagamaan. Ia mengingatkan agar pelaksanaan yadnya dilandasi rasa tulus dan ikhlas. Karena sebesar apa pun sebuah upacara, tak akan memperoleh wara nugraha kalau tanpa didasari hati yang tulus ikhlas.
Menurutnya, rasa tulus ikhlas harus ditunjukkan mulai dari proses ngaturang ayah dalam mempersiapkan sarana bebantenan. “Rasa tulus ikhlas itu tercermin manakala seluruh krama menunjukkan rasa sagilik saguluk dan pakedek pakenyum,” ucapnya sembari berharap upacara yang digelar berjalan lancar.
Manggala Utama PAKIS MDA Provinsi Bali Ny. Putri Koster saat ngayah membuat jajan suci di Pura Dalem Kupa Desa Nongan, Karangasem, Minggu (26/3/2023). (Foto: ist)
Pada bagian lain, perempuan yang dikenal memiliki multitalenta di bidang seni ini memanfaatkan kesempatan bertatap muka dengan Krama Desa Adat Nongan untuk menyosialisasikan keberadaan PAKIS. Diterangkan olehnya, pembentukan PAKIS merupakan amanat dari Perda Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Desa Adat di Bali. “Baru pertama kali ada organisasi yang mewadahi krama istri desa adat,” cetusnya. Dalam program kerjanya, PAKIS diarahkan mengambil tanggung jawab di lingkup desa adat seperti menyerap aspirasi dan persoalan yang dihadapi oleh krama istri.
Salah satu fenomena yang menjadi perhatiannya adalah antusiasme krama istri dalam mempertunjukkan Tari Rejang. Terkait dengan hal tersebut, ia mengingatkan agar krama istri di desa adat fokus pada upaya pelestarian tari rejang yang memang menjadi ciri khas wilayahnya dan diwariskan secara turun temurun. “Setahu saya, di Nongan ini ada Tari Rejang Pala yang memiliki filosofi sangat mendalam yaitu pelestarian buah lokal,” sebutnya. Untuk itu, ia meminta krama istri Desa Adat Nongan melestarikannya dan tidak latah menarikan rejang lain hanya karena sedang populer. Jika krama istri di seluruh Bali ikut trend dan hanya menarikan satu jenis tari rejang, ia khawatir tarian asli yang menjadi ciri khas masing-masing wilayah, lambat laun akan punah. Dalam kesempatan itu ia juga mengingatkan kalau rejang masuk kelompok tari sakral yang tak boleh sembarangan dipentaskan.
Selanjutnya, perempuan yang akrab disapa Bunda Putri menekankan tentang pentingnya upaya menjaga kebersihan pura sebagai tempat suci. “Pura itu tempat yang suci baik sekala maupun niskala,” ujarnya. Secara niskala, kesucian pura dijaga dengan upacara yang secara rutin dilaksanakan oleh umat Hindu. “Nah, kalau secara sekala, pura dijaga kesuciannya dengan tidak mengotorinya dengan sampah,” sebutnya. Karena itu, ia berharap pangempon pura di seluruh Bali menerapkan larangan bagi pemedek meninggalkan sampah dalam bentuk apa pun di areal pura. “Kalau bawa aturan dalam keben atau tempat lainnya, setelah dihaturkan oleh pemangku, langsung angkat dan canangnya jangan ditinggalkan. Pada prinsipnya, kalau sudah dihaturkan dengan doa oleh pemangku, itu artinya ketulusan hati kita telah tersampaikan. Jangan ada lagi yang meninggalkan sampah, walaupun itu hanya selembar bunga. Itu wujud tanggung jawab kita menjaga alam dan kesucian pura,” paparnya. Menurut Putri Koster, larangan meninggalkan sampah di areal pura akan diterapkan pada rangkaian karya Ida Betara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih, April mendatang.
Sementara itu, Ketua Panitia Karya Komang Sumarta menyampaikan rasa terima kasih atas kesediaan Ny. Putri Koster ngaturang ayah serangkaian persiapan karya di Pura Dalem Kupa Desa Nongan. Lebih lanjut ia mengurai, persiapan karya telah dimulai sejak Januari 2023. Disungsung oleh 505 KK, karya ini dilaksanakan dengan semangat gotong-royong. Selain urunan berupa uang, pihak panitia juga menerima punia berupa barang yang diberikan secara tulus ikhlas oleh krama setempat. Ucapan terima kasih juga disampaikan Jero Bendesa Nongan I Komang Yadnya. Menurutnya, kehadiran Ny. Putri Koster ngaturang ayah merupakan wujud punia yang sangat bernilai.
Dalam kesempatan itu, Ny. Putri Koster juga menyerahkan punia untuk mendukung kelancaran karya. Selain itu, ia juga membantu sekaa gong remaja agar tetap semangat dalam melestarikan seni dan budaya Bali. Kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Bali I Gusti Ngurah Wiryanata yang merupakan tokoh Desa Adat Nongan. (gs/bi)
MUNGGAH KWANGEN: Bupati Adi Arnawa “munggah kwangen” di Bagia Pula Kerti saat menghadiri sekaligus menjadi upasaksi pada Puncak Piodalan Pedudusan Agung di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Sigaran Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Senin (2/11). (Foto: Hms Badung)
Badung, baliilu.com – Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menghadiri sekaligus menjadi upasaksi pada Puncak Piodalan Padudusan Agung serangkaian Karya Ngenteg Linggih, Mamungkah, Mupuk Pedagingan, Pedudusan Agung, Menawa Ratna, Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini di Pura Desa dan Pura Puseh Desa Adat Sigaran Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Senin (2/11).
Karya yang dilaksanakan berdasarkan rangkaian upacara Tawur Balik Sumpah Utama tersebut dipuput oleh Ida Pedanda Gede Griya Cau Belayu, Ida Pedanda Gede Gria Dalem Sibanggede, dan Ida Pedanda Ulun Uma. Sebagai wujud nyata dukungan Pemerintah Kabupaten Badung terhadap pelestarian adat dan budaya Bali, Bupati Adi Arnawa menyerahkan bantuan dana sebesar Rp 3,5 miliar kepada Bendesa Adat Sigaran.
Bupati Adi Arnawa juga melaksanakan persembahyangan bersama krama pengempon serta melakukan prosesi munggah kwangen di Bagia Pula Kerti. Dalam sambramanya, Bupati mengapresiasi karya yadnya ini sebagai wujud nyata sradha dan bhakti masyarakat.
“Pemerintah Kabupaten Badung senantiasa berkomitmen untuk mendukung pelestarian adat, agama, seni, dan budaya Bali. Pelaksanaan karya yadnya seperti ini merupakan wujud nyata sradha dan bhakti masyarakat sekaligus bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan leluhur agar tetap ajeg dan lestari,” ujarnya.
Ia menegaskan, tradisi lokal merupakan fondasi penting pariwisata karena sudah menjadi kewajiban bersama untuk menjaga, merawat, dan mewariskan adat serta budaya Bali kepada generasi penerus. “Jangan sampai perkembangan zaman membuat kita melupakan akar budaya dan tradisi yang menjadi jati diri masyarakat Bali,” tegasnya.
Sementara itu, Manggala Karya Wayan Suja menyampaikan bahwa rangkaian karya telah dimulai sejak 27 Agustus 2026 dan akan berlangsung hingga 16 Desember 2026 mendatang. Tahapan upacara yang dilaksanakan meliputi Atur Piuning, Dharma Wacana, Nyukat Genah, Melaspas, Nyengker Setra, Netegan Nyangling, Mendak Tirta, hingga Yasa Kerti. Disebutkan pula bahwa pengempon pura berjumlah 109 paon, yang mencakup 430 kepala keluarga (KK) atau 2.425 jiwa.
Turut hadir Anggota DPRD Badung Nyoman Wiradana, Plt. Camat Abiansemal Wayan Bagiarta Gunawan, unsur Tripika, Perbekel Desa Mekar Bhuwana, serta Bendesa Adat Mekar Bhuwana. (gs/bi)
PERSEMBAHYANGAN SARASWATI: Suasana persembahyangan yang diikuti oleh Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, Pangdam IX Udayana, Mayjen TNI Putra Widiastawa, dan masyarakat Kota Denpasar serangkaian Rahina Saraswati, Saniscara Umanis Wuku Watugunung, di Pura Agung Jagatnatha, Sabtu (31/10). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan persembahyangan bersama serangkaian Hari Suci Saraswati di Pura Agung Jagatnatha Kota Denpasar, pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung, Sabtu (31/10).
Persembahyangan tersebut merupakan wujud sradha bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati, Dewi Ilmu Pengetahuan.
Hadir langsung pada momentum tersebut, Sekretaris Daerah Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, bersama pimpinan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar. Tampak hadir pula Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Putra Widiastawa, dan Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya.
Usai persembahyangan, Sekda Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya mengatakan, Hari Suci Saraswati dimaknai sebagai turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia. Pada hari ini umat memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewi Saraswati yang diidentikkan sebagai dewi pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Dewi Saraswati diyakini sebagai sakti dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta dalam mitologi Hindu.
“Hari Saraswati menjadi hari yang penting bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan, karena ilmu pengetahuan merupakan bekal dalam kehidupan manusia yang dapat menuntun ke arah kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan peningkatan keberadaban,” ujarnya.
Pada Rahina Saraswati, umat Hindu melaksanakan persembahyangan dan persembahan kepada Dewi Saraswati di pura, sekolah, dan rumah masing-masing. Selain itu, umat juga menghaturkan banten Saraswati pada pustaka, lontar, kitab, dan buku-buku.
“Kami menghaturkan terima kasih kepada masyarakat Kota Denpasar termasuk siswa-siswi dan mahasiswa yang sudah hadir pada perayaan Hari Suci Saraswati di Kota Denpasar ini. Perayaan ini telah digelar secara rutin, mudah-mudahan melalui persembahyangan ini semua umat diberikan pengetahuan dan kecerdasan dalam menjalankan swadharma masing-masing,” ujar Sekda Eddy Mulya.
Sementara itu, Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Denpasar, Putu Agus Jayadi mengatakan, rangkaian persembahyangan Hari Suci Saraswati di Kota Denpasar dipusatkan di Pura Agung Jagatnatha. Adapun rangkaian persembahyangan dilaksanakan dari pagi hingga malam hari.
“Persembahyangan Rahina Saraswati hari ini akan dilaksanakan dari pagi sampai dengan malam hari. Untuk pemedek yang akan tangkil, dapat melaksanakan dengan tertib dan khusyuk,” katanya. (eka/bi)
BHAKTI PENGANYARAN : Sekda Surya Suamba saat memimpin pelaksanaan Bhakti Penganyaran Pemkab Badung di Pura Kahyangan Jagat Pasar Agung Besakih, Giri Tohlangkir, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Senin (26/10). (Foto: Hms Badung)
Karangasem, baliilu.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Badung IB Surya Suamba memimpin pelaksanaan Bhakti Penganyaran Pemerintah Kabupaten Badung pada rangkaian upacara Pujawali Purnama Kelima di Pura Kahyangan Jagat Pasar Agung Besakih, Giri Tohlangkir, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Senin (26/10).
Kehadiran jajaran Pemkab Badung dalam persembahyangan bersama tersebut disambut langsung oleh Manggala Karya Pujawali Pura Kahyangan Jagat Pasar Agung Besakih, Jero Mangku I Wayan Sukra, bersama para pemangku dan panitia setempat.
Sekda Badung IB Surya Suamba menyampaikan bahwa pelaksanaan Bhakti Penganyaran ini merupakan bagian dari langkah nyata Pemkab Badung untuk senantiasa merawat hubungan harmonis lintas sektor. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ajaran Tri Hita Karana.
“Melalui Bhakti Penganyaran ini, kami bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Badung menghaturkan sembah bhakti dan memohon anugerah serta kerahayuan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kami berharap seluruh masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, kedamaian, dan kesejahteraan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian adat, agama, tradisi, dan kebudayaan Bali merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga secara berkelanjutan. Pemerintah daerah dinilai memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan nilai spiritual agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi masa depan.
“Adat, agama, dan budaya merupakan bagian penting dari jati diri masyarakat Bali. Karena itu, pelaksanaan kegiatan keagamaan seperti ini hendaknya terus menjadi pengingat bagi kita semua untuk menjaga keharmonisan, memperkuat kebersamaan, serta meningkatkan rasa bhakti dan kepedulian terhadap lingkungan,” tambah Surya Suamba.
Rangkaian Bhakti Penganyaran pemedek dari jajaran OPD Gumi Keris ini diakhiri dengan penyerahan punia secara simbolis sebagai wujud dukungan pemeliharaan pura kahyangan jagat tersebut. (gs/bi)