Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Duta Badung Tampil Memukau di Utsawa Gong Kebyar Wanita di PKB

BALIILU Tayang

:

Gong Kebyar Wanita Badung
PENAMPILAN DUTA BADUNG: Duta Kabupaten Badung saat tampil pada Utsawa (parade) Gong Kebyar Wanita dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Minggu (28/6) malam. (Foto: Hms Diskominfo Badung)

Denpasar, baliilu.com – Duta Kabupaten Badung tampil memukau pada Utsawa (parade) Gong Kebyar Wanita dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Minggu (28/6) malam. Duta daerah Gumi Keris ini diwakili oleh Sanggar Seni Guntur Madu, Banjar Pundung, Desa Pangsan, Kecamatan Petang dengan menampilkan tiga garapan yang melibatkan 75 seniman.

Pembina sekaligus Komposer Tabuh Kreasi, I Putu Sofiarta, S.S.N., mengatakan seluruh persiapan telah dilakukan secara maksimal kurang lebih sekitar lima bulan. Meski dihadapkan pada kendala penyesuaian jadwal latihan karena sebagian besar penabuh masih kuliah dan bekerja, seluruh tim tetap mampu menjaga konsistensi latihan. Dalam penampilan kali ini, Duta Kabupaten Badung membawakan tiga materi, yakni Tabuh Kreasi Panga Seni, Tari Kreasi Wana Pring, dan Sandya Gita.

“Target kami sebagai Duta Kabupaten Badung adalah memberikan penampilan yang menggelegar dan semaksimal mungkin. Kami berharap krama Badung dan krama Bali bisa menerima karya-karya yang kami tampilkan,” ujarnya, Minggu (28/6) malam.

Diuraikannya, Panga Sani sendiri mengisahkan pergulatan batin seorang perempuan yang dihadapkan pada godaan kepuasan sesaat hingga kehilangan arah hidup. Karya tabuh kreasi ini menjadi ajakan reflektif untuk menundukkan ego, kembali mendengarkan suara hati, dan menjadikan jiwa sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan. Tema tersebut diterjemahkan melalui garapan musik Gong Kebyar yang atraktif, energik, dan penuh dinamika, menghadirkan perubahan suasana mulai dari lembut, gelisah, penuh tekanan, hingga mencapai ketenangan batin.

“Perjalanan musikal ini memperkuat pesan tentang pentingnya keseimbangan emosi dan ketulusan dalam menemukan kedamaian diri,” urainya.

Kemudian, Wana Pering merupakan karya tari yang terinspirasi dari hutan bambu sebagai simbol penting dalam kehidupan masyarakat Bali. Selain menjadi bagian dari tradisi adat dan ritual keagamaan, bambu juga mengandung makna filosofis sebagai lambang ketulusan, kelenturan, kekuatan, dan keharmonisan. Karya ini mengangkat konsep Atma Kerthi, yakni penyucian jiwa manusia untuk mencapai keseimbangan hidup serta menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Baca Juga  Tampil Mempesona, Sekaa Joged Akah Lucky Duta Badung Hipnotis Penonton PKB 2026

“Melalui gerak tari dan iringan musik, Wana Pering menggambarkan perjalanan jiwa yang terus bertumbuh, menyucikan diri, dan hidup selaras dengan semesta,” beber Sofiarta.

Sementara Sandya Gita dengan judul Jiwa Anubhawa merupakan garapan yang terinspirasi dari Lontar Atma Prasangsa, mengangkat perjalanan atma dalam mencari hakikat kehidupan dan kesadaran sejati. Kisah dimulai saat atma terlepas dari raga dan menempuh perjalanan menuju alam spiritual dengan menghadapi berbagai rintangan dan sosok-sosok yang menakutkan. Pada akhirnya, sang atma menyadari bahwa seluruh rintangan tersebut merupakan manifestasi dari dirinya sendiri, yang terbentuk sejak awal kehidupan.

“Melalui perpaduan tari, musik, vokal, dramatika, dan visual artistik, karya ini menyampaikan pesan tentang pentingnya mengenali jati diri, memahami asal dan tujuan hidup, serta mencapai keharmonisan batin dan penyatuan dengan Sang Pencipta,” ungkapnya.

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa hadir langsung menyaksikan penampilan Duta Badung bersama jajaran pejabat Pemkab Badung beserta istri. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan moril sekaligus motivasi bagi para seniman yang tampil membawa nama daerah. Adi Arnawa mengapresiasi jalannya Parade Gong Kebyar Wanita Duta Kabupaten Badung yang tampil berbarengan dengan Duta Kabupaten Gianyar. Menurutnya, ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan, tetapi juga menghadirkan semangat kolaborasi antardaerah. Dia menilai terbangunnya chemistry antara Duta Badung dan Gianyar menjadi nilai lebih dalam pergelaran tersebut.

“Ini menunjukkan bahwa dalam membangun seni dibutuhkan kebersamaan dan kerja sama yang baik. Mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan masing-masing, tetapi juga membangun sinergi dalam penampilan. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurutnya, spontanitas kolaborasi yang terjadi di atas panggung bahkan mendapat apresiasi dari Gubernur Bali, I Wayan Koster karena mampu menunjukkan kekompakan tanpa menghilangkan karakter masing-masing penampil. Saat diminta membandingkan kualitas penampilan Badung dan Gianyar, Adi Arnawa mengaku kedua peserta sama-sama tampil baik. Namun, Bupati Adi Arnawa menilai garapan Badung lebih kuat dari sisi substansi cerita yang diangkat.

Baca Juga  Gubernur Koster Lepas Peed Aya, Tandai Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII

“Kalau saya ditanya mana yang lebih bagus, tentu saya jawab Badung. Tetapi saya melihat dua-duanya bagus, hanya saja dari sisi substansi cerita, Badung lebih kuat,” beber Bupati asal Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan ini. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

SENI

Pameran Nasional Rupa Jnana Rasmi, Suklu Representasikan “Malam Temaram“

Published

on

By

Suklu Bersama Pengunjung di Depan Karya Malam Temaram
I Wayan Sujana Suklu bersama pengunjung swafoto di depan karya “Malam Temaram” 2026. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Lukisan “Malam Temaram” (2026) karya I Wayan Sujana Suklu menjadi salah satu karya dalam seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju yang dipresentasikan dalam pameran nasional RUPA JNANA RASMI, yang dibuka oleh Ida Bagus Sidharta Putra, Rabu, 26 Agustus 2026.

Berukuran 150 × 195 cm, karya ini bermedia acrylic, sodas, dan glue on canvas. Secara visual, Malam Temaram menghadirkan sebuah bidang horizontal yang nyaris sepenuhnya dipenuhi oleh repetisi garis kurva berwarna, lengkungan, atau bulan sabit. Tanda-tanda tersebut disusun berulang dalam barisan horizontal, membentuk suatu medan visual yang padat, ritmis, dan berlapis.

Pada pandangan pertama, lukisan tampak seperti hamparan malam yang gelap dengan sebuah purnama di bagian kanan atas. Namun ketika diamati lebih dekat, purnama tersebut tidak hadir sebagai bentuk tunggal yang berdiri sendiri. Ia juga dibangun dari tanda-tanda kecil yang sama dengan tanda yang memenuhi seluruh permukaan kanvas. Dapat saya katakana: bulan dilahirkan oleh malam itu sendiri.

Inilah salah satu karakter penting Malam Temaram: keseluruhan visual tidak dibangun melalui penggambaran objek secara konvensional, tetapi melalui repetisi garis kurva berwarna sederhana.

Garis-garis kecil yang berulang membentuk semacam denyut visual. Setiap tanda memiliki ukuran dan intensitas yang relatif kecil, tetapi akumulasi ribuan tanda tersebut menghasilkan kekuatan visual yang jauh lebih besar. Repetisi mengubah garis individual menjadi tekstur, tekstur menjadi atmosfer, dan atmosfer kemudian menjadi pengalaman ruang.

Permukaan lukisan didominasi warna-warna gelap, hitam, cokelat, hijau tua, serta nuansa tanah, yang sesekali ditembus oleh warna-warna lebih terang. Di tengah kepadatan tersebut, garis-garis berwarna cokelat-oranye menjadi elemen yang paling dominan. Warna ini menghadirkan kesan hangat seperti cahaya yang tersisa di dalam malam.

Di bagian kanan atas terdapat lingkaran berwarna kuning-oranye yang secara intuitif terbaca sebagai purnama. Bentuk lingkaran tersebut menjadi pusat perhatian sekaligus sumber cahaya imajiner. Namun permukaannya tidak polos. Ia tetap mempertahankan sistem repetisi yang digunakan pada seluruh bidang. Purnama seolah-olah tersusun dari ingatan-ingatan kecil, fragmen-fragmen pengalaman yang dikumpulkan terus-menerus sampai akhirnya membentuk satu kesatuan.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Tinjau Kesiapan Angklung Kebyar Duta Badung untuk PKB 2026

Karena itu, purnama dalam Malam Temaram bukan sekadar objek astronomis atau simbol dekoratif. Ia merupakan titik konsentrasi ingatan.

Ida Bagus Sidharta Putra, saat membuka pameran. (Foto: ist)

Repetisi sebagai Cara Melihat

Suklu membangun karya ini melalui repetisi. Tindakan mengulang garis atau tanda yang relatif sederhana secara terus-menerus menghasilkan konsekuensi visual yang kompleks. Satu garis tidak memiliki beban makna yang besar. Tetapi ketika garis tersebut diulang ratusan bahkan ribuan kali, ia mulai menciptakan ritme, kepadatan, arah, tekstur, dan suasana.

Repetisi dalam karya ini juga memperlihatkan hubungan antara tubuh, waktu, dan bidang lukisan.

Setiap tanda merupakan hasil dari sebuah tindakan tubuh. Tangan bergerak, memberi tekanan, membuat lengkungan, kemudian berpindah ke titik berikutnya. Proses tersebut berlangsung berulang. Waktu penciptaan tidak berada di luar karya, melainkan mengendap menjadi permukaan. Kanvas menjadi semacam arsip dari gerakan tubuh.

Apa yang terlihat sebagai tekstur visual sebenarnya merupakan kumpulan dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara berkesinambungan. Dalam pengertian ini, Malam Temaram dapat dipandang sebagai lukisan yang menggambarkan malam, sekaligua juga merekam durasi ketika malam itu diciptakan.

Repetisi juga membawa karya menuju keadaan meditatif. Ketika tindakan yang sama dilakukan berulang-ulang, perhatian tidak lagi hanya diarahkan kepada hasil akhir. Perhatian berpindah kepada proses: jarak antartanda, tekanan tangan, ritme gerakan, kepadatan bidang, dan perubahan kecil yang muncul secara spontan. Maka, Malam Temaram memperlihatkan sebuah paradoks: semakin sesuatu diulang, semakin banyak perbedaan yang muncul di dalamnya.

Karya I Wayan Sujana Suklu “Malam Temaram” 2026. 150C195 Cm, media acrylic, sodas, glue on canvas. (Foto: ist)

Malam sebagai Ruang Ingatan

Judul Malam Temaram merujuk pada kondisi cahaya yang tidak sepenuhnya gelap dan tidak sepenuhnya terang. Temaram adalah keadaan ambang. Sesuatu masih dapat dilihat, tetapi tidak lagi hadir dengan ketegasan penuh. Kondisi ambang tersebut menjadi penting dalam konteks seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju.

Seri ini mempertemukan dua ruang pengalaman: Bali sebagai ruang tempat purnama dialami dan Jeju sebagai ruang yang kembali hadir melalui ingatan. Pertemuan keduanya tidak dilakukan dengan menggambarkan secara literal lanskap Bali atau Jeju. Tidak ada keharusan menghadirkan gunung, pantai, rumah, pepohonan, atau ikon geografis tertentu. Yang dibawa ke dalam lukisan adalah jejak pengalaman.

Purnama menjadi pemicu bagi proses tersebut. Bulan yang dilihat di Bali dapat membawa kembali pengalaman tentang Jeju. Jarak geografis kemudian tidak lagi menjadi persoalan karena ingatan menciptakan ruangnya sendiri. Bali dan Jeju bertemu bukan sebagai dua lokasi geografis, tetapi sebagai dua pengalaman yang hidup di dalam kesadaran.

Baca Juga  Garap “Srotragrahana”, Sanggar Seni Kadung Tresna dan Barong Binal Mengwitani Pukau Penonton PKB XLVIII

Dari Garis Menjadi Atmosfer

Secara formal, kekuatan karya ini terletak pada transformasi skala. Jika dilihat dari dekat, penonton berhadapan dengan ribuan tanda kecil yang memiliki karakter grafis. Mata dapat mengikuti satu demi satu bentuk kurva tersebut. Namun ketika jarak penglihatan berubah, tanda-tanda individual kehilangan otonominya. Mereka menyatu menjadi bidang, gelombang, tekstur, dan atmosfer. Perubahan jarak melihat ini penting karena membuat pengalaman terhadap lukisan menjadi dinamis.

Dekat: penonton melihat tanda. Sedikit menjauh: penonton melihat repetisi. Lebih jauh: penonton melihat medan. Secara keseluruhan: penonton mengalami malam.

Elan, Malam Temaram bekerja melalui pergeseran antara mikro dan makro, antara detail dan keseluruhan, antara garis dan atmosfer. Purnama di kanan atas kemudian menjadi semacam jangkar visual. Mata dapat meninggalkan detail-detail kecil dan kembali menemukan lingkaran cahaya tersebut. Tetapi setelah mengamatinya lebih dekat, penonton kembali menemukan bahwa purnama juga tersusun dari tanda-tanda yang sama.

Tidak ada pemisahan mutlak antara bulan dan malam. Keduanya berasal dari bahasa visual yang sama.

Purnama sebagai Ingatan

Dalam konteks pameran nasional RUPA JNANA RASMI, Malam Temaram dapat dibaca sebagai karya yang mempertemukan pengalaman visual dengan pengalaman batin. Purnama bukan lagi sekadar objek yang dilihat, tetapi menjadi perangkat untuk mengingat.

Bulan memiliki karakter khusus dalam pengalaman manusia: ia muncul kembali secara berkala, tetapi setiap kemunculannya dapat membawa pengalaman yang berbeda. Bulan yang sama dapat menyaksikan masa kanak-kanak, perjalanan, perjumpaan, kehilangan, kesunyian, atau sebuah tempat yang pernah ditinggalkan.

Dalam karya Suklu, purnama menjadi semacam penanda waktu yang melampaui waktu. Ia berada di satu titik pada bidang lukisan, tetapi membuka ruang pengalaman yang jauh lebih luas. Ia menghubungkan malam yang sedang dilihat dengan malam-malam yang pernah dialami.

Baca Juga  Tampilkan Tradisi Sakral, Sekaa Gong Ejo Bang Kiadan, Desa Plaga "Napak Pertiwi" di PKB 2025

Di sinilah Malam Temaram memperoleh dimensi puitiknya: yang dilukis bukan hanya malam, melainkan pengalaman seseorang ketika memandang malam dan tiba-tiba menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang di dalam ingatan.

Malam yang Tidak Pernah Selesai

Malam Temaram tidak menawarkan gambaran malam yang selesai. Bidang lukisan seolah dapat terus diperpanjang ke luar batas kanvas. Barisan tanda bergerak secara horizontal dan menciptakan kesan kontinuitas. Mata dapat membayangkan bahwa repetisi tersebut terus berlangsung di luar bidang yang terlihat.

Karya ini akhirnya menjadi sebuah meditasi tentang pengulangan, waktu, ingatan, dan keberadaan. Setiap garis adalah satu tindakan. Setiap tindakan meninggalkan jejak. Setiap jejak menjadi bagian dari repetisi. Setiap repetisi membangun permukaan. Dan dari permukaan itu, sebuah purnama muncul.

Akhir kisah, Malam Temaram memperlihatkan bagaimana sesuatu yang sederhana, sebuah garis melengkung yang terus diulang, dapat berkembang menjadi pengalaman visual yang kompleks.

Bagi I Wayan Sujana Suklu, lukisan tidak berhenti pada persoalan bagaimana sebuah objek terlihat. Lukisan juga menjadi ruang untuk menguji bagaimana tubuh mengingat, tangan mengulang, waktu mengendap, dan pengalaman berubah menjadi bentuk.

Dalam Malam Temaram, Ia adalah cahaya yang menerangi ingatan. Dan ingatan itu, melalui ribuan repetisi garis, perlahan-lahan menemukan bentuknya di atas kanvas. (*/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Gubernur Koster Lepas Peed Aya, Tandai Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Gubernur Koster Lepas Peed Aya, Tandai Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Tampilkan Tradisi Sakral, Sekaa Gong Ejo Bang Kiadan, Desa Plaga "Napak Pertiwi" di PKB 2025

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca