Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Bupati Sanjaya Apresiasi Kemegahan Gong Kebyar Wanita Duta Tabanan di PKB XLVIII 2026

BALIILU Tayang

:

gong kebyar tabanan
HADIRI GONG KEBYAR WANITA: Bupati Tabanan,  I Komang Gede Sanjaya saat menghadiri langsung penampilan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita “Sanggar Gong Istri Kesari Mesari 108” dari Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan, sebagai Duta Kabupaten Tabanan pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Senin (29/6). (Foto: Hms Tbn)

Tabanan, baliilu.com – Gemuruh tepuk tangan yang memenuhi Panggung Terbuka Ardha Candra menjadi saksi komitmen kuat Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam menjaga denyut pelestarian seni dan budaya Bali. Komitmen tersebut kembali ditunjukkan Bupati Tabanan,  I Komang Gede Sanjaya dengan menghadiri dan menyaksikan langsung penampilan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Wanita “Sanggar Gong Istri Kesari Mesari 108” dari Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan, sebagai Duta Kabupaten Tabanan pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Panggung Terbuka Ardha Candra, Senin (29/6).

Pada pertunjukan yang turut dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster beserta jajaran, malam itu Bupati Sanjaya hadir didampingi Jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah beserta para Asisten Setda Kabupaten Tabanan, Mewakili Ketua TP PKK Kabupaten Tabanan hadir Sekretaris I TP PKK Kabupaten Tabanan, dan para Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemkab Tabanan. Penampilan Duta Kabupaten Tabanan yang tampil bersama Kabupaten Klungkung, mendapat sambutan meriah dari masyarakat dan para pecinta seni yang memadati panggung pertunjukan.

Penampilan diawali dengan Tabuh Kreasi “Gedebong Belus”, sebuah komposisi musikal yang memadukan ritme, dinamika, tempo, hingga ekspresi sunyi dan hentakan yang kuat. Karya tersebut menggambarkan semangat perjuangan Sang Sagung Ayu Wah yang gagah berani sekaligus mengajak masyarakat mengenang serta meneladani nilai-nilai luhur perjuangan, keberanian, dan kemuliaan jiwa.

Pertunjukan dilanjutkan dengan Tari Kreasi Semara Ratih yang terinspirasi dari program unggulan Pemerintah Kabupaten Tabanan di bawah kepemimpinan Bupati Sanjaya. Tarian ini menggambarkan komitmen pemerintah dalam membangun keluarga yang sehat, harmonis, dan berkualitas sejak awal pernikahan sebagai fondasi lahirnya generasi unggul.

Sebagai penutup, Sandyagita “Jana Bali Kawista” menghadirkan pesan mendalam tentang kesucian jiwa sebagai sumber kemuliaan hidup manusia. Melalui perpaduan gamelan, tembang gegitaan berbalut nilai-nilai luhur Atma Kerthi, pertunjukan ini mengajak masyarakat menjaga ajaran Tri Hita Karana, mengamalkan nilai Sad Kerthi, serta bergotong royong mewujudkan sumber daya manusia Bali yang Aman, Unggul dan Madani.

Baca Juga  Bupati Sanjaya Hadiri Pembinaan Gong Kebyar Duta Tabanan Dalam Rangka PKB XLV 2023

Usai menyaksikan seluruh rangkaian pertunjukan, Bupati Sanjaya menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh seniman, penabuh, penari, pelatih, dan seluruh pihak yang telah mempersembahkan penampilan dengan penuh dedikasi sehingga mampu mengharumkan nama Kabupaten Tabanan di panggung seni terbesar di Bali.

Menurutnya, setiap garapan yang ditampilkan tidak hanya menghadirkan kemegahan artistik, tetapi juga sarat akan pesan moral, nilai historis, dan filosofi kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur. Hal tersebut menjadi kekuatan penting dalam menjaga identitas budaya Bali sekaligus memperkuat eksistensi kesenian Tabanan melalui alunan Gong Kebyar.

“Besar harapan saya agar semangat berkesenian seperti ini terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda. Penampilan yang luar biasa ini bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga media edukasi yang menyampaikan pesan-pesan luhur, nilai sejarah, serta memperkuat upaya pelestarian seni dan budaya Kabupaten Tabanan melalui alunan Gong Kebyar. Terima kasih kepada seluruh seniman yang telah memberikan penampilan terbaiknya untuk Tabanan,” ujar Sanjaya.

Bupati Sanjaya seraya berharap Kabupaten Tabanan untuk terus melahirkan karya-karya berkualitas yang mampu memperkokoh jati diri budaya Bali sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus mencintai, menjaga, dan melestarikan warisan seni budaya daerah Tabanan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Bupati Sanjaya Hadiri Pembinaan Gong Kebyar Duta Tabanan Dalam Rangka PKB XLV 2023
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Bupati Adi Arnawa Puji Penampilan Luar Biasa Gong Kebyar Wanita Badung di PKB XLVIII 2026

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Janger Remaja Buleleng Perdana Tampil di PKB, Usung Lakon "Atma Prasangka"

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Topeng Suluh Badung, Hidupkan Warisan Maestro Carangsari di Panggung PKB 2026

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca