Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

EKONOMI & BISNIS

Family Gathering, Momentum Penyemangat Karyawan Berikan yang Terbaik kepada BPR Kanti

BALIILU Tayang

:

amitaba
Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba saat menyemangati putra-putri karyawan BPR Kanti untuk menuntut ilmu sehingga kelak bisa menjadi penerus kepemimpinan BPR Kanti. (Foto: gs)

Badung, baliilu.com – Setelah dua tahun tidak melaksanakan Family Gathering karena kondisi pandemi Covid-19, tahun 2022 ini BPR Kanti kembali menyelenggarakan Family Gathering BPR Kanti dengan mengajak suami – istri, ayah-ibu juga anak-anaknya serta para pemegang saham untuk kebersamaan keluarga besar BPR Kanti yang bertempat di Taman Desa Wisata Gerih Badung pada Minggu, 31 Juli 2022.

’Family gathering ini adalah kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu oleh karyawan-karyawati BPR Kanti. Karena pada saat family gathering mereka mendapatkan tunjangan beasiswa berupa uang tunai kepada seluruh anak dari TK sampai perguruan tinggi yang nominalnya bermacam berdasarkan tingkatan pendidikan,’’ ujar Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba di sela-sela kegiatan beragam lomba.

Amitaba lanjut mengatakan family gathering adalah budaya BPR Kanti yang sudah berjalan cukup lama. Hal ini karena disadari eksistensi BPR Kanti tidak lepas dari doa keluarga kita yang di rumah. ‘’Oleh karena itu, sangat penting bagi kami bahwa kehadiran mereka di tempat ini adalah semacam momentum untuk memberikan semangat, sebagai sebuah support yang luar biasa sehingga karyawan-karyawati BPR Kanti bisa memberikan yang terbaik untuk BPR Kanti,’’ papar Amitaba.

amitaba
Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba didampingi Ketua Panitia Family Gathering I Gede Agus Atmaja. (Foto: gs)

Hal ini dibuktikan, manakala pandemi Covid-19 meluluhlantakkan perekonomian Bali yang tergantung dari sektor pariwisata, BPR Kanti masih tetap kokoh berdiri. Arya Amitaba menyebut pandemi Covid memberikan suatu pelajaran yang sangat berharga bahwa dalam konteks apa pun kita tidak boleh menyerah. Di situlah menunjukkan tingkat kedewasaan, benar-benar diuji kompetensi kita sebagai bankir.

‘’Bersyukurlah dalam pandemi Covid, BPR Kanti masih tetap mendapat kepercayaan dari nasabah, juga  munculnya kepercayaan dari lembaga-lembaga, dari bank-bank umum yang mensupport likuiditas BPR Kanti sehingga dalam masa pandemi Covid pun kita tetap bergerak. Tidak hanya membiayai masyarakat UMKM secara langsung, namun kita memberikan bantuan modal kerja kepada lembaga keuangannya,’’ ungkapnya.

Baca Juga  Seminar Economic Outlook 2025, Arya Amitaba: Kita Harus Optimis Hadapi Ekonomi Bali 2025

Bantuan modal diberikan kepada koperasi dan BPR dan dalam kurun waktu 9 bulan terakhir, BPR Kanti sudah menyalurkan Rp 117 miliar. Tidak hanya menyalurkan kepada BPR ataupun koperasi yang ada di Bali, juga di Provinsi NTB baik koperasi, BPR juga UKM dan para pengusahanya.

Jika berbicara sektor pariwisata, Amitaba mengungkapkan saat ini masih dalam pemulihan. Oleh karena itu dari sisi lembaga keuangan harus memberikan dukungan. Caranya, BPR Kanti termasuk juga BPR lain dan bank-bank umum mesti duduk bersama dengan para pengusaha pariwisata. ‘’Ayo kita sama-sama bagaimana mensupport pariwisata yang menjadi ujung tombak dari Pemerintah Provinsi Bali,’’ ucapnya.

Amitaba menjelaskan, pandemi Covid yang menghantam ekonomi pariwisata sangat mempengaruhi dari sisi NPL-nya. Bahkan kondisi non performing loan (NPL) di Bali lebih tinggi dari nasional. Namun khusus BPR Kanti pada 2020 NPL BPR Kanti di angka 8%, tahun 2021 turun menjadi 4 persen dan saat ini NPL di BPR Kanti sudah di angka 2 persen.             

‘’Jadi bagaimana BPR Kanti menurunkan NPL dari 8 persen akhir tahun 2020 menjadi 4 persen di akhir tahun 2021 dan saat ini ada di angka 2 persen, tentu yang pertama NPL itu bisa diturunkan dengan bagaimana penyelesaian kredit,’’ ujarnya seraya bersyukur nasabah BPR Kanti tidak hanya berpegang teguh pada kebijakan dari pemerintah restrukturisasi, namun bersama-sama ikut menyelesaikan kredit bermasalah.

Selain menyelesaikan kredit bermasalah bisa ditekan, tentu bagaimana meningkatkan penyaluran kredit. Dari Juni 2021 sampai Juni 2022 BPR Kanti sudah sampai peningkatan kredit 47-48 persen. Dan saat ini modal inti BPR Kanti tertinggi di atas Rp 50 miliar. Jadi dari sisi permodalan seluruh kegiatan perbankan terutama di BPR sudah bisa kita lakukan terutama dalam transformasi digital.    

Baca Juga  Cok Ace Minta Ada Atensi Serius dari Sektor Keuangan untuk Pengusaha Pariwisata Lokal Bali
Direktur Utama BPR Kanti Made Arya Amitaba foto bersama putra-putri karwayan BPR Kanti. (Foto: gs)

Amitaba lanjut memprediksi BPR Kanti tahun ini bisa menyalurkan tambahan lagi Rp 200 miliar. Terlebih lagi BPR Kanti mendapat penganugerahan sebagai Bank Sahabat Koperasi saat puncak perayaan Hari Koperasi Nasional di Bali pada 14 Juli lalu yang diserahkan oleh Ketua Umum Dekopin Dr. Sri Utari, ini menjadi tantangan, bagaimana ke depan BPR Kanti harus fokus memberikan bantuan kepada koperasi. ‘’Tidak hanya bantuan modal kerja termasuk di dalamnya liquidity mismatch kita akan bantu, terus kita buatkan produk bersama berikut juga kita akan memberikan pelatihan-pelatihan kepada SDM-SDM Koperasi maupun BPR. Ini dalam konteks, kita melaksanakan fungsi apex bank, bank pengayom bagi lembaga keuangan,’’ pungkasnya.

Ketua Panitia Family Gathering I Gede Agus Atmaja menambahkan, acara ini melibatkan keluarga besar BPR Kanti yakni seluruh karyawan bersama orangtua dan putra-putrinya serta para pemegang saham. Acara diisi perlombaan, baik dari level TK, SD, SMP, SMA bahkan sampai mahasiswa. Melibatkan 200 lebih peserta, acara ditutup penyerahan hadiah dan membagikan beasiswa yang diserahkan Direktur Utama BPR Kanti Arya Amitaba. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan

EKONOMI & BISNIS

Libur HBKN dan Perayaan Festival Daerah Dorong Penjualan Ritel Bali

Published

on

By

IPR Bali
Infografis indek penjualan riil. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Optimisme penjualan eceran di Provinsi Bali pada bulan April 2026 masih tumbuh secara tahunan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 125,6 atau secara tahunan tumbuh 6,5% (yoy), dan masih berada di level optimis (>100). IPR Bali secara bulanan turut meningkat sebesar 1,0% (mtm) didukung dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, diantaranya seperti kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) di Kabupaten Gianyar dan Klungkung. Agenda tersebut meliputi pameran-pameran yang mendorong konsumsi pada sub sektor Barang Budaya dan Rekreasi (mainan anak-anak, kertas, karton, alat tulis, alat olahraga, dan alat musik). Belanja masyarakat masih relatif kuat yang didorong libur panjang momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Jumat Agung yang diprakirakan meningkatkan penjualan eceran, khususnya pada kelompok kebutuhan rekreasi, gaya hidup, elektronik, serta produk rumah tangga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa survei Penjualan Eceran (SPE) Bali merupakan survei bulanan terhadap 100 penjual eceran/pengecer di Kota Denpasar dan sekitarnya yang bertujuan untuk memperoleh informasi dini mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.

Berdasarkan komponennya, dari 7 komponen pembentuknya, pertumbuhan bulanan tertinggi ada pada kategori Suku Cadang dan Aksesori dengan peningkatan sebesar 3,9% (mtm); Barang Budaya dan Rekreasi dengan peningkatan sebesar 3,3% (mtm); Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dengan peningkatan sebesar 2,6% (mtm); Makanan, Minuman dan Tembakau dengan peningkatan sebesar 1,4% (mtm); Sandang dengan peningkatan sebesar 0,3% (mtm); Barang Lainnya (farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga) dengan peningkatan sebesar 0,2% (mtm); serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya dengan peningkatan sebesar 0,1% (mtm). Tingkat konsumsi April 2026 masih tumbuh terkendali berdasarkan inflasi tahunan pada bulan April 2026 sebesar 2,08% (yoy) dan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia sebesar 2,5±1%. Dari sisi pembiayaan, aktivitas perdagangan juga masih didukung oleh pertumbuhan kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan berdasarkan data Laporan Bank Umum Terintegrasi (LBUT) yang hingga Maret 2026 tercatatat tumbuh positif sebesar 1,09% (yoy).

Baca Juga  Cok Ace Minta Ada Atensi Serius dari Sektor Keuangan untuk Pengusaha Pariwisata Lokal Bali

Meskipun demikian, prospek positif penjualan ritel di Bali diprakirakan melandai berdasarkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP). IEP menggambarkan keyakinan pelaku usaha terhadap kinerja penjualan dalam jangka pendek hingga menengah. Para responden memprakirakan penjualan dalam 3 bulan yang tercermin dari IEP Juni 2026 sebesar 170,0, lebih rendah dari IEP Mei 2026 sebesar 174,0. Prakiraan penjualan dalam 6 bulan ke depan, tepatnya pada September 2026 sebesar 184, lebih rendah dibandingkan IEP Agustus 2026 sebesar 194. Kedua IEP berada di zona optimis (IEP > 100). Demi menjaga stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga kebijakan di bulan April 2026.

Lebih lanjut, Pemerintah melanjutkan kebijakan subsidi BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Lebih lanjut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali terus bersinergi dan berupaya mengimplementasikan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) agar inflasi terkendali dalam rentang sasaran, melindungi daya beli masyarakat, dan memastikan agar perekonomian Bali tetap tumbuh berkelanjutan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Tingkat Keyakinan Konsumen Bali Masih Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Published

on

By

keyakinan konsumen bali
Infografis info konsumen Bali. (Fotto: Hms BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 sebagai cerminan optimisme konsumen terhadap perekonomian di Bali masih terjaga sebesar 124,1 (nilai indeks > 100). Meskipun demikian, IKK mengalami perlambatan atau turun sebesar 2,5% (mtm), namun relatif membaik dibandingkan Maret 2026 yang turun 2,6% (mtm). Di sisi lain, IKK Bali tetap berada pada level optimis dan lebih tinggi dibandingkan IKK Nasional sebesar 123,0. Keyakinan konsumen mayoritas didorong oleh kelompok pendapatan Rp4-5 juta (141,4), > Rp8 juta (135,1), dan kelompok pendapatan Rp5-6 juta (127,8). Optimisme IKK turut tercermin dari responden kategori pekerja di sektor formal (134,5) dan informal (116,2).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan bahwa Survei Konsumen adalah survei yang dilaksanakan setiap bulan oleh Bank Indonesia untuk mengukur tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini serta harapan konsumen mengenai perkembangan perekonomian di masa mendatang. Perlambatan komponen IKK terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 129,8 pada Maret 2026 menjadi 120,7 pada April 2026 atau melambat sebesar 7,1% (mtm).

Achris Sarwani menegaskan faktor penahan pertumbuhan IKE berasal dari 3 (tiga) komponen pembentuk IKE, antara lain penurunan indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 9,3% (mtm) atau menjadi 107,5, penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 6,6% (mtm) atau menjadi 128,0, serta penurunan penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu sebesar 5,6% (mtm) atau menjadi 126,5. Sementara, terdapat satu komponen pembentuk IKE yang masih stabil jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yaitu kegiatan usaha saat ini dibandingkan 6 bulan yang lalu, dengan IKE sebesar 100,0.

Baca Juga  ArisanKu BPR Kanti Gelar Seminar, Kumpulkan Pelaku BPR Se-Indonesia

Responden menyatakan adanya penurunan penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja saat dibandingkan 6 bulan sebelumnya. Kondisi tersebut sejalan dengan menurunnya kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) pada bulan April sebesar 12,4% (mtm), dengan jumlah kunjungan wisnus tercatat sebesar 310,7 ribu orang. Penurunan tersebut seiring dengan normalisasi kunjungan wisnus pasca libur panjang yang terjadi pada Maret 2026. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menjelaskan adanya kenaikan biaya transportasi, khususnya lonjakan harga tiket pesawat lebih dari 30% (mtm) akibat kenaikan harga bahan bakar avtur. Fenomena tersebut turut menahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata ke Bali.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mampu menopang optimisme konsumen, dengan IKE April 2026 sebesar 127,5, meningkat 2,3% (mtm) dibandingkan IKE Maret 2026. Faktor pendorong pertumbuhan IEK berasal dari seluruh komponen pembentuk IEK, antara lain peningkatan indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,5% (mtm) atau menjadi 125,0, peningkatan indeks prakiraan penghasilan 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 2,4% (mtm) atau menjadi 126,0, serta indeks prakiraan kegiatan usaha 6 bulan mendatang dibandingkan saat ini sebesar 1,9% (mtm) atau menjadi 131,5.

Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota se-Bali terus bersinergi menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi. TPID memastikan ketersediaan pasokan pangan melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pengawasan harga pada komoditas strategis, serta koordinasi rutin guna menjaga kelancaran distribusi pangan. Demi mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia pada 21-22 April 2026 masih mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50%. Lebih lanjut, untuk menjaga geliat konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global, Pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL). Stimulus tersebut diharapkan mampu mendukung terwujudnya stabilitas harga (pro stability) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro growth). (gs/bi)

Baca Juga  BPR Kanti Salurkan Kredit di Tengah Krisis, Gerakkan UMKM

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

EKONOMI & BISNIS

Harga Properti Residensial Bali Tumbuh Terbatas pada Triwulan I 2026

Published

on

By

harga properti bali
Infografis Harga Properti Residensial Bali. (Foto: BI Bali)

Denpasar, baliilu.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Provinsi Bali mengindikasikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan I 2026 mengalami pertumbuhan yang terbatas. Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 0,87% (yoy), melambat dibandingkan periode triwulan IV 2025 sebesar 1,06% (yoy). Tumbuhnya IHPR Provinsi Bali ditopang oleh kenaikan harga di 3 (tiga) jenis properti yaitu kecil (luas bangunan ≤36 m2 ), menengah (luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2 ), dan besar (luas bangunan > 70 m2 ) yang masing-masing meningkat sebesar 1,16% (yoy), 0,97% (yoy), dan 0,71% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani melalui keterangan pers mengatakan bahwa pada triwulan I 2026, pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sama seperti periode sebelumnya, sebagian besar responden menilai bahwa lonjakan harga bahan bangunan dan peningkatan upah tenaga kerja merupakan faktor utama pendorong kenaikan harga rumah.

“Efek perang di Timur Tengah turut memicu peningkatan harga minyak yang memengaruhi peningkatan biaya distribusi bangunan,” ujarnya.

Selain itu, katanya, kenaikan harga bangunan juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah yang menyebabkan harga sejumlah bahan bangunan impor menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, di tengah tren kenaikan harga properti, para pengembang di Bali memandang sejumlah faktor masih menjadi tantangan dalam penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan utama tersebut meliputi tingginya suku bunga KPR, keterbatasan ketersediaan lahan, beban pajak, serta besarnya uang muka pembelian rumah. Dari sisi pembiayaan, survei menunjukkan bahwa sumber utama pendanaan untuk pembangunan properti residensial di Bali masih bersumber dari dana sendiri (developer) dengan pangsa sebesar 56,6%, diikuti oleh pinjaman bank, dana nasabah, serta pinjaman Lembaga Keuangan (LK) non-bank, masing-masing sebesar 35,3%, 5,9%, dan 2,2%.

Baca Juga  Hadiri Stakeholder Gathering, Pj. Gubernur Bali Apresiasi Inisiatif BPR Kanti

Dari sisi konsumen, sebut Achris Sarwani, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memiliki porsi terbesar atas pembelian rumah dengan porsi sebesar 84,2% dari total pembiayaan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
iklan stikom
Advertisements
nyepi dan idulfitri dprd badung
Advertisements
Nyepi DPRD Bali
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca