Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Festival Seni Bali Jani (FSBJ) II #BaliArtsVirtual Dibuka 31 Oktober 2020

BALIILU Tayang

:

Gubernur Bali Wayan Koster saat melihat karya-karya lukis pameran Bali Megarupa yang merupakan rangkaian dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) II 2020, bertempat di Museum ARMA, Ubud, Gianyar, Rabu (28/10).

Gianyar, baliilu.com – Festival Seni Bali Jani (FSBJ) II Tahun 2020 kembali digelar, menampilkan 45 sanggar/komunitas/ yayasan seni se-Bali melibatkan 1.000 seniman dan pekerja seni. Isian FSBJ II meliputi: Pawimba (Lomba); Adilango (Pergelaran); Megarupa (Pameran); Timbang Rasa (serasehan); Beranda Pustaka (Bursa Buku); dan Penghargaan Bali Jani Nugraha. Adapun pembukaan digelar pada Tanggal 31 Oktober 2020 melalui daring.

Agenda yang berlangsung sepanjang 31 Oktober 2020 hingga 7 November 2020 ini akan disajikan secara virtual di kanal youtube Disbud Prov. Bali. Festival kali ini mengusung tagar utama #BaliArtsVirtual, di mana seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui media virtual, dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan sebagai bagian dari ketentuan pelaksanaan.

Perhelatan FSBJ II 2020 ini terbilang istimewa, bukan hanya karena diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19, namun juga sebagai konsistensi jawaban atas pemberlakuan Perda Nomor 4 tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali yang diundangkan 9 Juli 2020, serta sejalan dengan visi Pembangunan Provinsi Bali 2018-2023: Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru.

Gubernur Bali Wayan Koster melalui penetapan regulasi dan penataan program yang terpadu dan berkelanjutan, berkomitmen menjadikan Festival Seni Bali Jani sebagai wahana apresiasi sekaligus upaya membangun ekosistem pemajuan seni modern, kontemporer dan karya-karya inovatif lainnya.

Sejumlah nama penting dan mumpuni hadir sebagai Narasumber Timbang Rasa (Sarasehan) dan Timbang Buku, di antaranya Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr. Hilmar Farid, jurnalis senior Seno Joko Suyono, Sha Ine Febriyanti, Dr. Tommy Awuy dan lain-lain. Sarasehan juga mengetengahkan topik perihal tata kelola pameran seni virtual, bersama narasumber Dr. Djuli Djati Prambudi dan Drs. Pustanto.

Baca Juga  PWI Aceh Mendaftar Sebagai Calon Tuan Rumah Porwanas 2025

Kurator FSBJ II ini, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, mengungkapkan bahwa festival kali ini mengusung tajuk utama “Candika Jiwa: Puitika Atma Kerthi”. Ini bermakna semesta kreativitas terkini dalam “mencandikan” jiwa, spirit, taksu, atau ide-ide cemerlang. Kegiatan apresiasi budaya yang digelar pertama kali tahun 2019 ini berfokus pada ragam kesenian modern, kontemporer dan kesenian yang bersifat inovatif.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Wayan “Kun’ Adnyana, format seni virtual ini diharapkan dapat menjangkau seluas-luasnya kemungkinan kreatif, elaborasi dan eksplorasi terkait estetik, stilistik, teknik artistik dan tematik berikut olah wahana atau media (penggunaan berbagai piranti media baru/digital dalam proses dan penyajian).

Format penyelenggaraan festival secara virtual ini, ditegaskan Kun Adnyana, merupakan sebentuk transformasi sosial bagi masyarakat Bali. Ada proses alih pengetahuan dan keterampilan yang terjadi serentak di Bali, yakni terkait proses persiapan dan produksi suatu pementasan karya seni komunal secara daring, termasuk bagaimana cara publik menikmati serta menghikmati sajian tersebut.

“Ini bukan semata festival kesenian, melainkan juga sebuah upaya bersama menjaga optimisme masyarakat di tengah rundungan berita tentang Covid-19. Melalui program seni yang berkesinambungan secara terencana, terkelola, dan terlaksana dengan baik, diharapkan menumbuhkan solidaritas masyarakat agar peduli pada sesama. Sigap tanggap dalam menghadapi kesulitan dan problematik sosial. Seni bukan hanya menghadirkan keindahan, melainkan juga seruan kesadaran, ” ujar Kun.

Di samping itu, kehadiran festival ini dapat menjadi pelebur sekat-sekat antar-bidang seni melalui interaksi, dialog, kerja sama dan kolaborasi melalui seni alih media, multimedia maupun transmedia yang bersifat lintas batas, sekaligus kontekstual dengan dinamika kekinian.

Terdapat 8 ragam Pawimba (Lomba) yang dihadirkan pada festival kali ini, yakni Video TikTok Bali Jani (tingkat umum); Musikalisasi Puisi (tingkat umum); Teater Modern (tingkat SMA/SMK); Seni Lukis (tingkat SMP/SLB); Naskah Drama (tingkat umum); Vlog Kuliner Bali Jani (tingkat umum); Artikel Jurnalistik (tingkat umum); dan Karya Cipta Fotografi (tingkat umum).

Baca Juga  Rai Mantra dan Jaya Negara Pimpin Pelepasan Jenazah Kadis Pertanian Denpasar I Gede Ambara Putra

Pada pembukaan festival melalui kanal daring Youtube Disbud Prov., Bali akan ditampilkan Adilango (Pergelaran) Seni Kolosal bertajuk “Malaikat Pencubit Jiwa”, berupa operet sajian Sanggar Kini Berseri berkolaborasi dengan komunitas seni SMA/SMK. Penutupan FSBJ II disemarakan “Alun Bali Bangkit”, kolaborasi musik “Sanggar Rareangon Sejati” dengan Lolot Band, The Hydrant, Meiska Adinda, Blackstarboys, Avara, Percussion Intrument, dan lain-lain.

Sejumlah komunitas seni terpilih akan turut mempresentasikan karya mereka di antaranya Teater Kalangan, Sanggar Seni Gumiart, Gus Teja World Music, Sanggar Silurbarong, Teater Mini, Komunitas Mahima, Seniman Klungkung Berani (Sekuni), Teater Mandiri, Yayasan Symphony Kasih, Kampung Seni Banyuning, Sanggar Surya Nada Mandala, Komunitas Budaya PRAMUSTI Bali, Sanggar Seni Gita Lestari, Komunitas Seni Musik Candrametu, Bali Experimental Teater (BET), Yayasan Pendidikan Dria Raba (Yapendra), Sanggar Seni Guntur Madu ‘Neo Nolin’, Teater Jineng, dan Komunitas Seni Gede Yudi Production.

Sementara itu khusus Pameran Bali Megarupa serangkaian FSBJ II, dilangsungkan di Agung Rai Museum of Arts (ARMA), Ubud, Bali, sedari 28 Oktober-10 November 2020. Tidak kurang dari 45 perupa dan 1 komunitas mural menampilkan karya berupa mural, video art, seni lukis, serta patung dan karya tiga dimensi lainnya. Pembukaan akan dimaknai Performing Art Candika Jiwa: Melampaui Warna dan Rupa dibawakan Yayasan Bumi Bajra Sandhi dengan sutradara sekaligus koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani. Penutupan pada Selasa, 10 November 2020 dimaknai dengan Web Seminar, Candika Jiwa: Melampaui Medium, Ruang dan Waktu. (gs)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Tergabung Dalam Tim Glassist, Mahasiswa FK Unud Raih Medali Perak Pimnas Ke-35 Tahun 2022

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Sekda Adi Arnawa: PBMB Berperan Penting Topang Roda Perekonomian Masyarakat

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Semarak, Ny. Putri Koster Saksikan “Bintang 5 Musika Jani” FSBJ VIII di Ardha Candra

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pentas Bintang 5 Musika Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Gelaran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 terus menghadirkan pertunjukan kreatif dan inovatif. Pada Jumat (17/7) malam, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi energi musik dalam pentas bertajuk “Bintang 5 Musika Jani” yang dibawakan oleh Sanggar Rareangon Sejati.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang merupakan bagian dari program Pentas (Adilango) Musika Jani tersebut.

Musika Jani menjadi wadah ekspresi bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya modern dengan sentuhan khas Bali. Sejumlah musisi dan grup turut memeriahkan acara ini, di antaranya Lolot, Bintang, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Radio Koplo, serta deretan band seperti State of Mind, Hottdog, Soullast Band, dan Six Aura Band.

Digelar mulai pukul 18.00 WITA hingga selesai, acara ini sukses menyedot perhatian masyarakat dan pecinta musik yang memadati arena pertunjukan. Penampilan yang variatif, mulai dari rock, pop, hingga nuansa etnik modern, menciptakan atmosfer hiburan yang dinamis sekaligus artistik, sehingga suasana malam semakin semarak. Kehadiran ribuan penonton yang memadati tribun Panggung Terbuka Ardha Candra semakin menambah kemeriahan acara bertabur bintang tersebut.

Festival Seni Bali Jani merupakan ajang tahunan yang menitikberatkan pada pengembangan seni modern dan kontemporer di Bali. Kegiatan ini digelar setelah Pesta Kesenian Bali sebagai ruang alternatif bagi para seniman untuk berkreasi lebih bebas tanpa meninggalkan akar budaya lokal.

Dengan mengusung tema “Kembara Sukma Atma Kerthi”, FSBJ VIII Tahun 2026 menjadi simbol perjalanan spiritual dan kreativitas seni menuju nilai-nilai yang lebih luhur. Festival ini juga diharapkan mampu menjadi wadah tumbuhnya talenta muda sekaligus memperkuat eksistensi seni Bali di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga  Update Covid-19 (19/10) di Bali, Total Pasien Sembuh Capai 9.683 Orang

Pentas “Bintang 5 Musika Jani” menjadi salah satu bukti semaraknya kolaborasi musik modern dalam balutan identitas budaya Bali yang terus berkembang dan tetap relevan bagi generasi masa kini. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Ny. Putri Koster Saksikan “Sura-Atma”, Pergelaran Puisi-Musik Sarat Makna Spiritual di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menghadiri pergelaran puisi-musik Sura-Atma dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
HADIRI FSBJ: Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster saat hadiri pergelaran puisi-musik bertajuk “Sura-Atma” dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, Jumat (17/7) sore. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Atmosfer magis dan reflektif menyelimuti Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, saat pergelaran puisi-musik bertajuk “Sura-Atma” dipentaskan dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026, Jumat (17/7) sore.

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut hadir menyaksikan langsung sajian artistik persembahan Dermaga Seni Buleleng tersebut.

Memasuki hari ketujuh pelaksanaannya, FSBJ VIII terus menghadirkan pertunjukan seni modern, kontemporer, dan inovatif yang menggugah rasa sekaligus pemikiran. “Sura-Atma” menjadi salah satu penampilan yang mencuri perhatian melalui perpaduan puisi, musik, dan visual yang sarat makna filosofis.

Karya ini mengisahkan perjalanan jiwa (Atma) setelah terlepas dari belenggu duniawi. Terlempar ke dalam keheningan Alam Surya, Atma terbangun tanpa ingatan, hanya ditemani cahaya misterius yang menuntunnya menuju Sang Suratma—penjaga batas sekaligus pencatat takdir.

Dalam perjumpaan tersebut, terbukalah Catatan Atma, sebuah representasi perjalanan hidup yang memantulkan kembali setiap niat, ucapan, hingga tindakan manusia. Dari kebaikan yang nyaris tak terlihat hingga kesalahan yang membekas, semuanya hadir sebagai cermin yang tak terbantahkan.

Setiap lembar catatan yang terbuka memengaruhi lanskap dunia roh di sekitarnya. Kebaikan menjelma menjadi jembatan emas yang menenangkan, sementara dosa menghadirkan badai api dan makhluk-makhluk astral sebagai simbol konsekuensi karma yang tak terelakkan.

Pergelaran ini tidak hanya menjadi tontonan artistik, tetapi juga tuntunan reflektif tentang makna kehidupan, tanggung jawab moral, dan perjalanan spiritual manusia setelah kehidupan di dunia. (gs/bi)

Loading

galungan dan kuningan dprd bali
Advertisements
iklan stikom
Advertisements
waisak
Advertisements
galungan dprd kabupaten badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Rai Mantra dan Jaya Negara Pimpin Pelepasan Jenazah Kadis Pertanian Denpasar I Gede Ambara Putra
Lanjutkan Membaca