Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

KESEHATAN

FK Unud dan WHO Indonesia Jalin Kerja Sama Pasca-Pandemi

Dalam Penguatan Layanan Penyakit Tidak Menular di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Pasca-Pandemi Covid-19

Loading

BALIILU Tayang

:

kerja sama
PSSKM FK Unud menyelenggarakan dialog ‘’Kebijakan Penguatan Layanan PTM di FKTP Pasca-Pandemi’’ secara daring. (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah berlangsung lebih dari 2 tahun yang telah memberikan dampak terhadap kehidupan sosial dan kesehatan. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah kasus Covid-19 yang tinggi dan sebaran populasi yang luas di 34 provinsi juga terdampak nyata oleh pandemi ini. Pada periode awal pandemi, sistem layanan kesehatan termasuk layanan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) mengalami disrupsi karena adanya pengalihan sumber daya, rasa ketakutan akan tertular dan kebijakan pembatasan mobilitas sosial oleh pemerintah.

Berlatar belakang tersebut, Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat (PSSKM) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana didukung oleh World Health Organization (WHO) Indonesia melakukan kajian mengenai dampak situasi pandemi terhadap cakupan layanan Penyakit Tidak Menular (PTM) dan upaya adaptasi yang dilakukan untuk mengatasi disrupsi layanan di FKTP. Sehubungan dengan sedang dilakukannya kajian ini, PSSKM FK Unud menyelenggarakan dialog ‘’Kebijakan Penguatan Layanan PTM di FKTP Pasca-Pandemi’’ secara daring pada Kamis (30/6/2022).

Coordinator for Health Research Covid-19, Health System Research and Health Information System WHO Indonesia, Maria Intan Josi, dalam sambutannya mengapresiasi tim peneliti dari Universitas Udayana atas keterlibatannya dalam penelitian ini. 

“WHO Indonesia ingin mengundang institusi yang secara khusus yang memiliki peran dan mandat dalam menginformasikan para pemangku kebijakan, serta memiliki pengalaman sebelumnya dalam hal sintesa penelitian untuk kebijakan,’’ ujarnya.

Dikatakan, para peneliti dari Universitas Udayana merupakan member of Experts Network yang terpilih oleh WHO Indonesia. ‘’Maka dari itu kami berharap melalui dialog ini, kita dapat berdiskusi aktif dalam memberikan masukan terdahap kajian yang dilakukan. Semoga kegiatan hari ini berjalan dengan lancar dan menumbuhkan lingkungan yang kondusif terhadap kebijakan yang berdasarkan penggunaan bukti,” ucapnya. 

Baca Juga  Tingkatkan Pemahaman Penanganan Pasien Gangguan Jiwa, FK Unud Undang Profesor dari Malaysia

Tim peneliti yang tergabung dalam Network of Expert WHO untuk kegiatan ini adalah dr. I Nyoman Sutarsa, MPH., PhD., FHEA, dr. Putu Ayu Swandewi Astuti, MPH., Ph.D, Prof. dr. I Md Ady Wirawan., MPH., Ph.D, Ni Made Dian Kurniasari, SKM., MPH, dr. Wayan Citra Wulan Sucipta Putri, MPH, dr. I Made Dwi Ariawan, Ngakan Putu Anom Harjana, SKM., MPH.

Sementara itu, Koordinator PSSKM FK Unud dr. Putu Ayu Swandewi Astuti, MPH., Ph.D. dalam sambutannya berharap semoga para stakeholder hari ini dapat memberikan masukan dan berbagi pengalamannya guna memperkuat kajian yang dilakukan.

“Terima kasih kepada WHO Indonesia dan Australia Indonesia Center atas kesempatan, kerja sama dan pelatihan yang diberikan kepada kami. Semoga kegiatan hari ini berjalan dengan lancar dan kita mendapat hasil yang optimal dari dialog ini,” ucapnya.

Agenda utama dialog ini adalah pemaparan hasil Rapid Review tentang dampak Covid-19 terhadap layanan penyakit tidak menular di layanan primer dan coping mechanism-nya, oleh dr. I Nyoman Sutarsa, MPH, Ph.D, FHEA. Selanjutnya diikuti oleh pembicara undangan.

Acara ini mengundang 3 orang narasumber yaitu Plt Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr. Elvieda Sariwati, M.Epid, Kepala Bidang P2 Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr. A.A Dharmayudha, M.Kes, dan Kepala Puskesmas II Denpasar Barat dr. Lanawati, M.Kes serta penanggap dari WHO.

Tujuan diselenggarakannya dialog ini adalah untuk menyampaikan hasil temuan awal (preliminary finding) dari kajian terhadap dampak dan strategi mitigasi layanan PTM pada masa pandemi, mendiskusikan temuan dari kajian dari berbagai perspektif pemangku kepentingan, dan mendapatkan arahan terkait rencana policy brief yang akan disusun.

Peserta yang hadir dalam dialog ini berasal dari perwakilan Dinas Kesehatan se-Provinsi Bali, perwakilan Puskesmas di Provinsi Bali, perwakilan sekolah tinggi/perguruan di bidang kesehatan, BPJS Kesehatan, dan staf pengajar di bidang Kesehatan Masyarakat. Sumber: https://www.unud.ac.id/in/berita-fakultas1298-Kerja-Sama-FK-Unud-dan-WHO-Indonesia-Dalam-Penguatan-Layanan-Penyakit-Tidak-Menular-di-Fasilitas-Kesehatan-Tingkat-Pertama-Pasca-Pandemi.html (gs/bi)

Baca Juga  <strong>Angkat Manfaat Daun </strong>Euphorbia Milii, Agus Sunadi Putra Raih Gelar Doktor di FK Unud

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KESEHATAN

Satu Suntikan Vaksin Heksavalen, Gabungkan Enam Perlindungan Penyakit

Bali Jadi Daerah Percontohan Vaksin Heksavalen

Loading

Published

on

By

Vaksin Heksavalen
Balita saat menerima suntikan Vaksin Heksavalen. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Orang tua kini bisa sedikit bernapas lega. Keluhan tentang banyaknya suntikan saat imunisasi dasar pada bayi akhirnya direspons pemerintah dengan meluncurkan Vaksin Heksavalen, inovasi yang menggabungkan enam perlindungan penyakit ke dalam satu suntikan.

Provinsi Bali menjadi salah satu dari tiga wilayah percontohan nasional bersama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mulai mengimplementasikan vaksin pada bulan Oktober tahun ini, dan menyasar bayi yang lahir setelah 9 Juli 2025.

Vaksin Heksavalen memberikan perlindungan terhadap Difteri, Pertusis, TetanusH hepatitis B, Haemophilus Influenzae tipe B (Hib), dan Polio, serta menggantikan jadwal imunisasi dasar pada usia 2, 3, dan 4 bulan.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Gede Nyoman Sebawa, menyebut terobosan ini merupakan hasil evaluasi lapangan terhadap berbagai keluhan masyarakat.

“Kami menemukan banyak orang tua mengeluhkan anaknya terlalu sering disuntik saat imunisasi. Kalau dulu dua jenis vaksin disuntikkan terpisah, sekarang cukup satu kali,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (7/10).

Menurutnya, pengurangan jumlah suntikan tidak hanya mengurangi rasa sakit dan trauma pada bayi, tetapi juga meningkatkan kepatuhan orang tua untuk menuntaskan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL).

Selain dari sisi kenyamanan, vaksin kombinasi ini juga menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan cakupan imunisasi yang sebelumnya kerap muncul antara vaksin Pentavalen dan Polio injeksi.

“Dengan dijadikan satu dosis Heksavalen, cakupannya akan sama. Ini langkah penting agar semua bayi mendapat perlindungan penuh,” jelas dr. Sebawa.

Dari sisi pelaksanaan, pihaknya menambahkan efisiensi juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Pemberian vaksin kini lebih praktis dan efektif, sehingga pelayanan dapat dioptimalkan di berbagai fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas, klinik, bidan praktik mandiri, hingga posyandu.

Baca Juga  <strong>Angkat Manfaat Daun </strong>Euphorbia Milii, Agus Sunadi Putra Raih Gelar Doktor di FK Unud

“Untuk Kabupaten Buleleng, sasaran awal bayi usia 2 bulan sampai 2 bulan 29 hari sudah terdata sekitar 2.450 bayi,” tambahnya.

Dr. Sebawa berharap, dengan penerapan vaksin Heksavalen ini, pemerintah menargetkan capaian IDL sebesar 95 persen, sekaligus mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat enam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Pastikan Kesehatan, Dinkes Denpasar Rutin Cek Kesehatan Warga Terdampak Banjir

Published

on

By

SAFARI KESEHATAN: Pelaksanaan safari kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar dengan menyasar wilayah terdampak pada Minggu (14/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Denpasar terus berupaya memastikan kesehatan warga yang terdampak banjir melalui program Safari Kesehatan yang digelar secara rutin. Giat tersebut dikemas dengan sistem jemput bola yang menyasar titik-titik wilayah terdampak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar, AA Ayu Agung Candrawati saat dikonfirmasi Minggu (14/9) menyatakan bahwa upaya ini dilakukan untuk memantau dan menjaga kesehatan warga yang berada di kantong-kantong pengungsian akibat banjir.

“Sebagai upaya memastikan kesehatan warga terdampak banjir, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kesehatan secara rutin menggelar Safari Kesehatan. Pemeriksaan menyasar kantong-kantong pengungsian, dengan menerjunkan Tim Kesehatan Puskesmas yang mewilayahi,” kata Agung Candrawati.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memastikan kesehatan warga terdampak banjir tetap terjaga dan dapat segera mendapatkan penanganan jika ditemukan masalah kesehatan.

“Harapannya dapat memastikan kesehatan warga terdampak,” ujarnya.

Bagi warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan, Agung Candrawati mengimbau untuk menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat, atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus di wilayah masing-masing.

“Warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dapat menghubungi Dinas Kesehatan, Puskesmas terdekat atau Perbekel/Lurah serta Kaling/Kadus,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan Safari Kesehatan, tim kesehatan juga memberikan edukasi dan penyuluhan tentang kesehatan kepada warga terdampak, termasuk cara pencegahan penyakit yang umum terjadi pasca-banjir seperti diare dan penyakit kulit. Selain itu, dilakukan juga distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan dasar untuk mendukung pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Dengan upaya ini, Dinkes Denpasar berharap dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi warga terdampak banjir dan memberikan pelayanan kesehatan yang memadai.

“Kerja sama antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan pemerintah setempat diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan kesehatan warga terdampak dan mempercepat proses pemulihan pasca-banjir,” ujarnya. (eka/bi)

Baca Juga  Prodi Spesialis Patologi Klinik FK Unud Gelar Guest Lecture "Flow Cytometry in Infection"

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

KESEHATAN

Kunjungan Spesialis Obgyn ke Puskesmas, Tingkatkan Keterampilan Nakes untuk Pelayanan Prima bagi Ibu Hamil

Published

on

By

obgyn puskesmas buleleng
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng saat intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng intensifkan program Kunjungan Spesialis Obgyn (SPOG) ke Puskesmas yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Program ini tidak hanya memberikan akses pemeriksaan bagi ibu hamil oleh dokter spesialis, tetapi juga bertujuan meningkatkan keterampilan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas dalam memberikan pelayanan prima kepada ibu hamil.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa melalui kunjungan ini, dokter umum dan bidan di Puskesmas mendapatkan pelatihan langsung dari dokter spesialis obstetri dan ginekologi dalam hal pemeriksaan kehamilan, deteksi risiko tinggi, serta penggunaan USG dasar.

“Diharapkan setelah mendapatkan pendampingan dari dokter spesialis, tenaga medis di Puskesmas mampu melakukan pemeriksaan dengan USG secara mandiri. Ini akan sangat membantu dalam deteksi dini risiko kehamilan, sehingga ibu hamil dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak awal,” ujar Budiastawan, Jumat (14/3).

Budiastawan menjelaskan, pada semester pertama, program ini telah dilaksanakan di 16 Puskesmas, dengan setiap Puskesmas memeriksa 10 ibu hamil oleh dokter spesialis. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir 90% ibu hamil mengalami kehamilan berisiko tinggi, terutama akibat kurangnya perencanaan kehamilan, usia di atas 35 tahun, serta anemia.

Dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu memberikan pelayanan prima secara mandiri, mulai dari deteksi dini, pemeriksaan rutin, hingga penanganan awal bagi ibu hamil. Jika ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut akan segera disiapkan.

Selain itu, Budiastawan mengimbau pasangan usia subur untuk merencanakan kehamilan dengan baik, termasuk memperhatikan usia dan kondisi kesehatan sebelum hamil. Bagi ibu hamil, pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap bulan sangat dianjurkan agar potensi risiko dapat terdeteksi sejak dini.

Baca Juga  Mahasiswa FK Unud Raih Juara 3 Lomba Essai pada Nutriday Competition 2023 Poltekkes Palembang

“Dengan peningkatan keterampilan tenaga medis di Puskesmas, kami berharap ibu hamil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik, cepat, dan tepat. Langkah ini juga berkontribusi dalam menekan angka kematian ibu dan bayi, serta mencegah risiko seperti bayi lahir dengan berat badan rendah, gizi buruk, dan stunting,” tutup Budiastawan. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca