Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

SENI

Gong Kebyar Anak-anak Rare Bandrang Cakra Duta Denpasar Tampil Apik di PKB XLVII

Digawangi Anak-anak, Dolanan Bertajuk Memedi-Median Sukses Undang Gelak Tawa Penonton

Loading

BALIILU Tayang

:

Rare Bandrang Cakra
GONG KEBYAR ANAK-ANAK: Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana saat menyaksikan penampilan Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Rare Bandrang Cakra, Banjar Minggir, Kelurahan Padangsambian, Kecamatan Denpasar Barat sebagai Duta Kota Denpasar pada Utsawa Gong Kebyar Anak PKB XLVII di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Rabu (25/6) malam. (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Duta kesenian Kota Denpasar menunjukkan penampilan apiknya pada minggu awal gelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025. Sebagai Duta Kota Denpasar pada Utsawa Gong Kebyar Anak-Anak, Sekaa Gong Rare Bandrang Cakra, Banjar Minggir, Kelurahan Padangsambian, Kecamatan Denpasar Barat sebagai Duta Kota Denpasar sukses membawakan seluruh materi pementasan dengan baik di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center, Rabu (25/6) malam.

Tampil mebarung dengan Gong Kebyar Anak-anak Sanggar Seni Manik Uttara, Desa Adat Sangsit Dangin Yeh, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Sekaa Gong Rare Bandrang Cakra, Banjar Minggir sukses memukau ribuan pasang mata yang hadir. Sebanyak tiga materi turut dibawakan, yakni Tabuh Kreasi Baru Pepanggulan berjudul Tapa Rare, Tari Merak Angelo dan Tari Dolanan Memedi-median yang berhasil mengundang sorak sorai, tepuk tangan hingga gelak tawa penonton.

Hadir langsung untuk memberikan dukungan di tengah-tengah penoton, Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana bersama Ketua TP. PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Ketua Ketua GOW Kota Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa, Ketua DWP Kota Denpasar, Ny. Widnyani Wiradana, serta Pimpinan OPD di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar.

Kordinator Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Rare Bandrang Cakra, Banjar Minggir, I Ketut Sumarna mengaku bersyukur pementasan hari ini berjalan dengan lancar meski pada akhir pementasan turun hujan. Dimana, pihaknya mengaku telah melaksanakan persiapan panjang sejak awal tahun untuk membina anak-anak guna memberikan yang terbaik sebagai Duta Kota Denpasar untuk Gong Kebyar Anak-anak.

Lebih lanjut dijelaskan, pada pementasan kali ini, Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Rare Bandrang Cakra, Banjar Minggir sebagai Duta Kota Denpasar membawakan tiga materi. Yakni Tabuh Kreasi Baru Pepanggulan berjudul Tapa Rare, Tari Merak Angelo dan Tari Dolanan Memedi-median.

Baca Juga  Wimbakara PKB XLVIII Tahun 2026, Sekaa Gong Kencana Wiguna Banjar Kehen Kesiman Tampil Memukau

Dikatakannya, Tapa Rare yang merupakan judul Tabuh Kreasi Pepanggulan bermakna Tapa Rare bermakna konsekuensi anak-anak dari pikiran dan perilaku yang dilakukannya. Dunia anak-anak yang kreatif dan penuh imajinasi yang muncul dari pola meniru sesuatu yang mereka amati. Selanjutnya untuk Tari Merak Angelo merupakan karya tari yang mengekspresikan Burung Merak Jantan yang memamerkan bulu ekornya yang panjang berwarna-warni yang begitu indah untuk menarik perhatian burung merak betina.

Sebagai persembahan pamungkas turut ditampilkan Tari Dolanan Memedi-Median. Garapan ini terinspirasi dari nilai luhur Vasudhaiva Kutumbakam, yang berarti “Seluruh dunia adalah satu keluarga”. Melalui permainan tradisional Memedi-Median yang menjadi pesan universal tentang pentingnya menjaga keharmonisan alam semesta.

“Kita bersyukur mampu memberikan penampilan maksimal pada hari ini, sehingga latihan dan pembinaan yang kami laksanakan dapat memberikan hasil yang maksimal, kita bersyukur dapat memberikan yang terbaik untuk Kota Denpasar, meski ada kendala cuaca sedikit, namun secara menyeluruh sudah sangat maksimal,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana memberikan apresiasi atas berbagai persiapan yang dilaksanakan duta kesenian Kota Denpasar, khususnya sekaa Gong Kebyar Anak-anak Rare Bandrang Cakra, Banjar Minggir sebagai Duta Kota Denpasar yang hari ini sukses memberikan penampilan terbaik dan luar biasa.

Alit Wiradana mengaku bangga dengan penabuh anak-anak yang juga tak kalah hebat dengan penabuh dewasa dalam memainkan gambelan gong kebyar. Tak hanya itu, pihaknya juga mengaku kagum dengan ide dan konsep berkesenian seniman Denpasar. Hal tersebut dapat dilihat dari konsep, pola tabuh dan tari serta penggunaan properti yang disesuaikan dengan tema. Sehingga garapan yang dibawakan dapat dinikmati penonton dengan baik.

Baca Juga  Duta Kota Denpasar Tampil Apik di “Peed Aya” Pembukaan PKB XLVIII

“Tadi kita saksikan penampilanya sudah maksimal dan luar biasa, garapan yang ditampilkan juga sangat apik, terlebih dolanan yang luar biasa membuat penonton tertawa, selain makna yang mendalam sesuai dengan tema, pementasan juga memberikan semangat sebagai pembuktian bahwa penabuh anak-anak Denpasar juga sangat luar biasa,” jelasnya. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

SENI

Pameran Nasional Rupa Jnana Rasmi, Suklu Representasikan “Malam Temaram“

Published

on

By

Suklu Bersama Pengunjung di Depan Karya Malam Temaram
I Wayan Sujana Suklu bersama pengunjung swafoto di depan karya “Malam Temaram” 2026. (Foto: ist)

Denpasar, baliilu.com – Lukisan “Malam Temaram” (2026) karya I Wayan Sujana Suklu menjadi salah satu karya dalam seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju yang dipresentasikan dalam pameran nasional RUPA JNANA RASMI, yang dibuka oleh Ida Bagus Sidharta Putra, Rabu, 26 Agustus 2026.

Berukuran 150 × 195 cm, karya ini bermedia acrylic, sodas, dan glue on canvas. Secara visual, Malam Temaram menghadirkan sebuah bidang horizontal yang nyaris sepenuhnya dipenuhi oleh repetisi garis kurva berwarna, lengkungan, atau bulan sabit. Tanda-tanda tersebut disusun berulang dalam barisan horizontal, membentuk suatu medan visual yang padat, ritmis, dan berlapis.

Pada pandangan pertama, lukisan tampak seperti hamparan malam yang gelap dengan sebuah purnama di bagian kanan atas. Namun ketika diamati lebih dekat, purnama tersebut tidak hadir sebagai bentuk tunggal yang berdiri sendiri. Ia juga dibangun dari tanda-tanda kecil yang sama dengan tanda yang memenuhi seluruh permukaan kanvas. Dapat saya katakana: bulan dilahirkan oleh malam itu sendiri.

Inilah salah satu karakter penting Malam Temaram: keseluruhan visual tidak dibangun melalui penggambaran objek secara konvensional, tetapi melalui repetisi garis kurva berwarna sederhana.

Garis-garis kecil yang berulang membentuk semacam denyut visual. Setiap tanda memiliki ukuran dan intensitas yang relatif kecil, tetapi akumulasi ribuan tanda tersebut menghasilkan kekuatan visual yang jauh lebih besar. Repetisi mengubah garis individual menjadi tekstur, tekstur menjadi atmosfer, dan atmosfer kemudian menjadi pengalaman ruang.

Permukaan lukisan didominasi warna-warna gelap, hitam, cokelat, hijau tua, serta nuansa tanah, yang sesekali ditembus oleh warna-warna lebih terang. Di tengah kepadatan tersebut, garis-garis berwarna cokelat-oranye menjadi elemen yang paling dominan. Warna ini menghadirkan kesan hangat seperti cahaya yang tersisa di dalam malam.

Di bagian kanan atas terdapat lingkaran berwarna kuning-oranye yang secara intuitif terbaca sebagai purnama. Bentuk lingkaran tersebut menjadi pusat perhatian sekaligus sumber cahaya imajiner. Namun permukaannya tidak polos. Ia tetap mempertahankan sistem repetisi yang digunakan pada seluruh bidang. Purnama seolah-olah tersusun dari ingatan-ingatan kecil, fragmen-fragmen pengalaman yang dikumpulkan terus-menerus sampai akhirnya membentuk satu kesatuan.

Baca Juga  Sekaa Gong Legendaris Kesuma Tirta Tampil Menawan di PKB XLVII

Karena itu, purnama dalam Malam Temaram bukan sekadar objek astronomis atau simbol dekoratif. Ia merupakan titik konsentrasi ingatan.

Ida Bagus Sidharta Putra, saat membuka pameran. (Foto: ist)

Repetisi sebagai Cara Melihat

Suklu membangun karya ini melalui repetisi. Tindakan mengulang garis atau tanda yang relatif sederhana secara terus-menerus menghasilkan konsekuensi visual yang kompleks. Satu garis tidak memiliki beban makna yang besar. Tetapi ketika garis tersebut diulang ratusan bahkan ribuan kali, ia mulai menciptakan ritme, kepadatan, arah, tekstur, dan suasana.

Repetisi dalam karya ini juga memperlihatkan hubungan antara tubuh, waktu, dan bidang lukisan.

Setiap tanda merupakan hasil dari sebuah tindakan tubuh. Tangan bergerak, memberi tekanan, membuat lengkungan, kemudian berpindah ke titik berikutnya. Proses tersebut berlangsung berulang. Waktu penciptaan tidak berada di luar karya, melainkan mengendap menjadi permukaan. Kanvas menjadi semacam arsip dari gerakan tubuh.

Apa yang terlihat sebagai tekstur visual sebenarnya merupakan kumpulan dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara berkesinambungan. Dalam pengertian ini, Malam Temaram dapat dipandang sebagai lukisan yang menggambarkan malam, sekaligua juga merekam durasi ketika malam itu diciptakan.

Repetisi juga membawa karya menuju keadaan meditatif. Ketika tindakan yang sama dilakukan berulang-ulang, perhatian tidak lagi hanya diarahkan kepada hasil akhir. Perhatian berpindah kepada proses: jarak antartanda, tekanan tangan, ritme gerakan, kepadatan bidang, dan perubahan kecil yang muncul secara spontan. Maka, Malam Temaram memperlihatkan sebuah paradoks: semakin sesuatu diulang, semakin banyak perbedaan yang muncul di dalamnya.

Karya I Wayan Sujana Suklu “Malam Temaram” 2026. 150C195 Cm, media acrylic, sodas, glue on canvas. (Foto: ist)

Malam sebagai Ruang Ingatan

Judul Malam Temaram merujuk pada kondisi cahaya yang tidak sepenuhnya gelap dan tidak sepenuhnya terang. Temaram adalah keadaan ambang. Sesuatu masih dapat dilihat, tetapi tidak lagi hadir dengan ketegasan penuh. Kondisi ambang tersebut menjadi penting dalam konteks seri Purnama di Bali, Ingatan di Jeju.

Seri ini mempertemukan dua ruang pengalaman: Bali sebagai ruang tempat purnama dialami dan Jeju sebagai ruang yang kembali hadir melalui ingatan. Pertemuan keduanya tidak dilakukan dengan menggambarkan secara literal lanskap Bali atau Jeju. Tidak ada keharusan menghadirkan gunung, pantai, rumah, pepohonan, atau ikon geografis tertentu. Yang dibawa ke dalam lukisan adalah jejak pengalaman.

Purnama menjadi pemicu bagi proses tersebut. Bulan yang dilihat di Bali dapat membawa kembali pengalaman tentang Jeju. Jarak geografis kemudian tidak lagi menjadi persoalan karena ingatan menciptakan ruangnya sendiri. Bali dan Jeju bertemu bukan sebagai dua lokasi geografis, tetapi sebagai dua pengalaman yang hidup di dalam kesadaran.

Baca Juga  Sekda Alit Wiradana Buka Parade Gong Kebyar Anak-anak di Desa Dauh Puri Kauh

Dari Garis Menjadi Atmosfer

Secara formal, kekuatan karya ini terletak pada transformasi skala. Jika dilihat dari dekat, penonton berhadapan dengan ribuan tanda kecil yang memiliki karakter grafis. Mata dapat mengikuti satu demi satu bentuk kurva tersebut. Namun ketika jarak penglihatan berubah, tanda-tanda individual kehilangan otonominya. Mereka menyatu menjadi bidang, gelombang, tekstur, dan atmosfer. Perubahan jarak melihat ini penting karena membuat pengalaman terhadap lukisan menjadi dinamis.

Dekat: penonton melihat tanda. Sedikit menjauh: penonton melihat repetisi. Lebih jauh: penonton melihat medan. Secara keseluruhan: penonton mengalami malam.

Elan, Malam Temaram bekerja melalui pergeseran antara mikro dan makro, antara detail dan keseluruhan, antara garis dan atmosfer. Purnama di kanan atas kemudian menjadi semacam jangkar visual. Mata dapat meninggalkan detail-detail kecil dan kembali menemukan lingkaran cahaya tersebut. Tetapi setelah mengamatinya lebih dekat, penonton kembali menemukan bahwa purnama juga tersusun dari tanda-tanda yang sama.

Tidak ada pemisahan mutlak antara bulan dan malam. Keduanya berasal dari bahasa visual yang sama.

Purnama sebagai Ingatan

Dalam konteks pameran nasional RUPA JNANA RASMI, Malam Temaram dapat dibaca sebagai karya yang mempertemukan pengalaman visual dengan pengalaman batin. Purnama bukan lagi sekadar objek yang dilihat, tetapi menjadi perangkat untuk mengingat.

Bulan memiliki karakter khusus dalam pengalaman manusia: ia muncul kembali secara berkala, tetapi setiap kemunculannya dapat membawa pengalaman yang berbeda. Bulan yang sama dapat menyaksikan masa kanak-kanak, perjalanan, perjumpaan, kehilangan, kesunyian, atau sebuah tempat yang pernah ditinggalkan.

Dalam karya Suklu, purnama menjadi semacam penanda waktu yang melampaui waktu. Ia berada di satu titik pada bidang lukisan, tetapi membuka ruang pengalaman yang jauh lebih luas. Ia menghubungkan malam yang sedang dilihat dengan malam-malam yang pernah dialami.

Baca Juga  Gubernur Koster Apresiasi Dedikasi Tinggi Para Seniman Tampilkan Karya Epik Parade Gong Kebyar Dewasa Duta Denpasar dan Jembrana di PKB 2025

Di sinilah Malam Temaram memperoleh dimensi puitiknya: yang dilukis bukan hanya malam, melainkan pengalaman seseorang ketika memandang malam dan tiba-tiba menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang di dalam ingatan.

Malam yang Tidak Pernah Selesai

Malam Temaram tidak menawarkan gambaran malam yang selesai. Bidang lukisan seolah dapat terus diperpanjang ke luar batas kanvas. Barisan tanda bergerak secara horizontal dan menciptakan kesan kontinuitas. Mata dapat membayangkan bahwa repetisi tersebut terus berlangsung di luar bidang yang terlihat.

Karya ini akhirnya menjadi sebuah meditasi tentang pengulangan, waktu, ingatan, dan keberadaan. Setiap garis adalah satu tindakan. Setiap tindakan meninggalkan jejak. Setiap jejak menjadi bagian dari repetisi. Setiap repetisi membangun permukaan. Dan dari permukaan itu, sebuah purnama muncul.

Akhir kisah, Malam Temaram memperlihatkan bagaimana sesuatu yang sederhana, sebuah garis melengkung yang terus diulang, dapat berkembang menjadi pengalaman visual yang kompleks.

Bagi I Wayan Sujana Suklu, lukisan tidak berhenti pada persoalan bagaimana sebuah objek terlihat. Lukisan juga menjadi ruang untuk menguji bagaimana tubuh mengingat, tangan mengulang, waktu mengendap, dan pengalaman berubah menjadi bentuk.

Dalam Malam Temaram, Ia adalah cahaya yang menerangi ingatan. Dan ingatan itu, melalui ribuan repetisi garis, perlahan-lahan menemukan bentuknya di atas kanvas. (*/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

SENI

Dari Pengasingan Menuju Gagasan Besar, “Di Bawah Pohon Sukun” Menggugah FSBJ VIII 2026

Gubernur Wayan Koster dan Ny. Putri Koster Saksikan Pementasan yang Mengangkat Perjalanan Sukarno di Ende

Loading

Published

on

By

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ny. Putri Koster menyaksikan pementasan teater Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian FSBJ VIII 2026
FSBJ 2026: Pementasan teater "Di Bawah Pohon Sukun" dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Pementasan teater “Di Bawah Pohon Sukun” menjadi salah satu sajian yang memikat perhatian penonton dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (19/7) malam. Pertunjukan tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Ny. Putri Koster.

Pementasan yang ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma ini mengangkat kisah perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, saat menjalani masa pengasingan di Ende, Flores, pada 1934. Melalui alur dramatik, pertunjukan menghadirkan potret Sukarno yang tetap teguh menyalakan semangat perjuangan di tengah keterasingannya sebagai tahanan politik Pemerintah Hindia Belanda.

Meski dijauhkan dari rakyat, Sukarno tidak pernah menyerah. Ia membentuk kelompok sandiwara Tonel Kelimutu dan aktif mementaskan berbagai drama yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Di sela aktivitasnya, Sukarno kerap merenung di bawah pohon sukun, tempat yang kemudian dikenang sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemerdekaan bangsa.

Dari ruang perenungan tersebut, Sukarno merumuskan nilai-nilai luhur yang kelak menjadi fondasi bagi cita-cita kemerdekaan Indonesia. Kisah itu dihadirkan secara dramatik sekaligus mengajak penonton merefleksikan bahwa perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pemikiran, kebudayaan, dan keteguhan menjaga cita-cita.

Pementasan “Di Bawah Pohon Sukun” mendapat apresiasi dari penonton yang memadati Gedung Ksirarnawa. Kehadirannya memperkaya rangkaian FSBJ VIII sebagai ruang ekspresi seni yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, kebangsaan, dan semangat perjuangan melalui karya teater. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Baca Juga  Gubernur Koster Apresiasi Dedikasi Tinggi Para Seniman Tampilkan Karya Epik Parade Gong Kebyar Dewasa Duta Denpasar dan Jembrana di PKB 2025
Lanjutkan Membaca

SENI

Di Antara Prasasti dan Kegelisahan Zaman: Teater Agustus Membaca Bali melalui Pentas “Prasasti” di FSBJ VIII 2026

Published

on

By

Adegan pementasan drama Prasasti karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian FSBJ VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa
PRASASTI: Salah satu adegan pementasan drama "Prasasti" karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. (Foto: Hms Pemprov Bali)

Denpasar, baliilu.com – Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Putri Suastini Koster, menyaksikan pementasan drama “Prasasti” karya Sanggar Teater Agustus dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertunjukan tersebut menghadirkan dialog antara sejarah, mitologi, dan kritik sosial melalui sebuah narasi yang mengajak penonton menafsirkan kembali identitas Bali dan Indonesia di tengah perubahan zaman.

Di tangan tim penyutradaraan Teater Agustus yang terdiri atas Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, “Prasasti” menjelma menjadi sebuah pembacaan ulang terhadap jejak sejarah yang terukir pada batu, sekaligus refleksi atas kegelisahan manusia modern yang semakin jauh dari akar peradabannya. Pementasan ini menjadi salah satu agenda penting FSBJ VIII 2026 yang berlangsung pada 11–25 Juli.

Naskah yang ditulis IB Martinaya atau Gus Martin, yang juga bertindak sebagai penata musik, berangkat dari salah satu artefak sejarah terpenting di Bali, yakni Prasasti Blanjong di Sanur. Namun, alih-alih menjadikannya materi sejarah yang kaku, Teater Agustus mengolahnya menjadi narasi dramatik yang bergerak luwes antara masa lalu dan masa kini.

Cerita dibuka dengan sekelompok anak yang melakukan wisata sejarah ke kawasan cagar budaya Prasasti Blanjong. Dalam sebuah peristiwa yang nyaris magis, mereka tiba-tiba diterpa badai dan terbawa ke masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa.

Di masa silam, mereka menyaksikan langsung proses peresmian dan pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Blanjong. Melalui sudut pandang anak-anak, sejarah tidak hadir sebagai deretan fakta yang membosankan, melainkan sebagai pengalaman hidup yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan.

Baca Juga  Sekda Alit Wiradana Buka Parade Gong Kebyar Anak-anak di Desa Dauh Puri Kauh

Lapisan dramatik kemudian berkembang melalui kisah cinta segitiga antara I Tekek, seorang pemahat prasasti, dengan dua perempuan dari latar budaya berbeda, yakni Ni Sing Lian, gadis keturunan Tionghoa, dan Ni Gadung, perempuan pribumi.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa Bali sejak berabad-abad silam telah menjadi ruang perjumpaan berbagai kebudayaan. Kehadiran tokoh Ni Sing Lian merujuk pada sejumlah sumber sejarah yang mencatat keberadaan komunitas pedagang Tionghoa yang hidup berdampingan dengan masyarakat kerajaan pada masa itu.

Namun, “Prasasti” tidak berhenti pada romantisme sejarah.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini melalui sekelompok ibu yang resah melihat kehidupan yang dinilai semakin kehilangan arah. Mereka memulai pencarian “Prasasti Nusantara”, sebuah artefak yang diyakini menyimpan jawaban tentang asal-usul negeri ini.

Dalam pengembaraan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menggelar aksi demonstrasi. Sejumlah peristiwa ganjil dan simbolik pun bermunculan, membawa penonton memasuki ruang tafsir yang lebih luas mengenai kehidupan, sejarah, dan identitas.

Di sinilah kekuatan dramaturgi “Prasasti” terasa. Naskah tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan menghadirkan pertanyaan tentang identitas, memori kolektif, serta hubungan manusia modern dengan sejarahnya sendiri. Prasasti bukan lagi sekadar batu bertulis peninggalan masa lampau, melainkan metafora tentang ingatan yang terus dicari ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat.

Bagi Teater Agustus, sejarah bukan sesuatu yang telah selesai. Sejarah menjadi ruang dialog yang terus hidup dan dapat dibaca ulang dari perspektif kekinian. Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Festival Seni Bali Jani yang sejak awal dirancang sebagai wadah eksplorasi seni modern dan kontemporer yang tetap berakar pada kebudayaan Bali.

Usai pementasan, Gus Martin menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan kepada Sanggar Teater Agustus untuk tampil dalam festival tersebut.

Baca Juga  Sekaa Gong Legendaris Kesuma Tirta Tampil Menawan di PKB XLVII

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern-kontemporer,” ujarnya.

Di tengah perkembangan seni pertunjukan Bali, Prasasti menunjukkan bahwa sejarah lokal dapat diolah menjadi karya teater yang tetap relevan dengan berbagai isu kontemporer. Melalui perpaduan narasi sejarah, fantasi perjalanan waktu, humor, kritik sosial, hingga refleksi kebangsaan, pementasan ini mengajak penonton menengok kembali jejak masa lalu sebagai cara memahami kegelisahan masa kini.

Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar kisah tentang Prasasti Blanjong atau pencarian artefak mitologis bernama Prasasti Nusantara. Yang tertinggal adalah kesadaran bahwa setiap generasi selalu memiliki prasastinya sendiri—sebuah penanda tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan ke mana mereka hendak melangkah. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca