Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Gubernur Bali Canangkan Tumpek Krulut sebagai ‘’Rahina Tresna Asih’’

BALIILU Tayang

:

de
Gubernur Bali Wayan Koster saat konferensi pers. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster mencanangkan Rahina Tumpek Krulut sebagai Perayaan Hari Tresna Asih/Hari Kasih Sayang, yang telah dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 tentang Tata-titi Kehidupan Masyarakat Bali berdasarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru. Selama ini, sejumlah masyarakat Bali merayakan Valentine Day setiap tanggal 14 Februari sebagai hari Kasih Sayang, yang sesungguhnya bukan merupakan budaya Bali. 

‘’Sudah waktunya, kita melaksanakan Hari Tresna Asih/Hari Kasih Sayang pada setiap Rahina Tumpek Krulut, yang kita miliki di Bali sebagai warisan Adiluhung dari Leluhur, yang sepatutnya dilestarikan, disosialisasikan, dan dilaksanakan oleh Pemerintah bersama masyarakat Bali. Saat Rahina Tumpek Krulut pada hari Sabtu (Saniscara Kliwon, Krulut), 23 Juli 2022 nanti, seluruh masyarakat Bali diimbau agar melaksanakan perayaan secara niskala dan sakala,’’ terang Gubernur Koster saat konferensi pers di Gedung Gajah Jayasabha, Selasa (Anggara Kasih Prangbakat), 8 Februari 2022.

Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini lanjut memaparkan, sebagaimana diketahui, untuk pertama kali, Pemerintah bersama masyarakat telah melaksanakan Perayaan Rahina Tumpek Uye secara serentak di seluruh Bali pada hari Sabtu (Saniscara Kliwon, Uye), 29 Januari 2022 dengan lancar dan sukses.  Seluruh komponen masyarakat Bali mulai dari Pemerintah Provinsi Bali; Lembaga Vertikal di Bali; Pemerintah Kota/Kabupaten se-Bali; Majelis Desa Adat Provinsi Bali; Majelis Desa Adat Kota/Kabupaten se-Bali; Majelis Desa Adat Kecamatan se-Bali; Lembaga Pendidikan se-Bali; Desa/Kelurahan/Desa Adat se-Bali; Organisasi Kemasyarakatan dan Swasta  se-Bali; serta seluruh Masyarakat Bali menyambut dengan semangat, antusias, dan penuh dedikasi merayakan Rahina Tumpek Uye.

Baca Juga  Bali Satu-satunya Provinsi yang Ajukan Sensus Budaya Pertama ke BPS di Indonesia

Gubernur Bali Wayan Koster memimpin langsung Perayaan Rahina Tumpek Uye berlokasi di Danau Buyan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Gubernur Bali hadir didampingi oleh Ketua DPRD Provinsi Bali, Sekda Provinsi Bali, Pimpinan Perangkat Daerah beserta staf, dan seluruh masyarakat di sekitar Danau Buyan, dengan jumlah lebih dari 2.000 orang. Kegiatan diawali dengan Upacara Danu Kerthi dan Otonan Sarwa Wewalungan yang dipuput oleh Ida Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pamayun dilanjutkan sembahyang bersama, arahan Gubernur Bali, pelepasan ikan, burung, satwa, vaksinasi anjing ras Bali, dan diakhiri dengan membersihkan sampah plastik di sekitar Danau Buyan.

Wali Kota/Bupati se-Bali juga memimpin perayaan Rahina Tumpek Uye di daerah masing-masing, Bupati Buleleng memimpin Perayaan Rahina Tumpek Uye di Danau Tamblingan, Bupati Tabanan di Danau Beratan, Bupati Bangli di Danau Batur, Bupati Jembrana di Dam Palasari, Bupati Klungkung di Pura Watu Klotok dan Mangrove Lembongan, Bupati Karangasem di Tukad Telaga Waja, Bupati Gianyar di Empelan Pejeng, Walikota Denpasar di Dam Oongan, Kelurahan Tonja, sedangkan Bupati Badung diwakili Sekda Kabupaten Badung memimpin kegiatan di Hutan Gunung Mangu. Kegiatan di Kota/Kabupaten se-Bali diawali dengan persembahyangan, pelepasan ikan dan satwa, serta bersih-bersih lingkungan.

Lembaga Vertikal seperti Kanwil Kementrian Agama Provinsi Bali, Bank Indonesia, Kanwil Kementrian Hukum dan HAM Provinsi Bali, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah dan instansi lainnya juga melaksanakan Perayaan Rahina Tumpek Uye secara niskala dengan sembahyang di tempat suci masing-masing instansi. Kegiatan sakala dilakukan dengan melepas ikan ke Danau/Bendungan/Dam/Sungai/Telabah/Mata Air, melepas binatang dan/atau burung, resik sampah di sekitar Danau/Bendungan/ Dam/Sungai/Telabah/ Mata Air, menyebarluaskan dan menyosialisasikan pentingnya menjaga kesucian, kelestarian, dan kebersihan Danau/Bendungan/ Dam/Sungai/Telabah/Jelinjingan/Mata Air di berbagai media. Kegiatan dipimpin oleh pimpinan instansi diikuti seluruh pegawai masing-masing instansi. Bahkan Kementerian Lingkungan Hidup memberikan apresiasi dengan dihadiri langsung oleh Wakil Menteri dan Dirjen terkait berlokasi di Estuari Dam Pemogan, Kota Denpasar.

Baca Juga  Warga Jaga Kebersihan Lingkungan, Dapat Apresiasi Beras 5 Kg dari TP PKK Provinsi Bali

Desa/Kelurahan dan Desa Adat melaksanakan persembahyangan Tumpek Uye di Pura Puseh dan Pura Desa masing-masing. Kegiatan sakala dilakukan dengan melepas ikan ke Danau/Bendungan/Dam/ Sungai/Telabah/Mata Air, melepas binatang dan atau burung, serta resik sampah di sekitar Danau/Bendungan/Dam/Sungai/Telabah/Jelinjingan/ Mata Air. Kegiatan dipimpin oleh Perbekel/Lurah/Bandesa Adat dihadiri oleh Perangkat Desa/Kelurahan/Desa Adat dan Staff.

Tidak ketinggalan masing-masing keluarga yang memiliki binatang peliharaan melaksanakan Upacara Ngotonin Sarwa Wewalungan. Tidak sedikit masyarakat yang dengan kesadarannya masing-masing melaksanakan kegiatan melepas ikan ke Danau/Bendungan/ Dam/Sungai/Telabah/Jelinjingan/ Mata Air, melepas binatang dan/atau burung, serta resik sampah di sekitar lingkungan masing-masing.

Lembaga Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Swasta melaksanakan persembahyangan Tumpek Uye di tempat suci masing-masing. Secara sakala antara lain melakukan kegiatan melepas ikan ke Danau/Bendungan/Dam/ Sungai/Telabah/ Jelinjingan/Mata Air, melepas binatang dan/atau burung, resik sampah di lingkungan masing-masing, serta menyebarluaskan dan menyosialisasikan pentingnya menjaga kesucian dan kebersihan Danau Bendungan/Dam/ Sungai/Telabah/Jelinjingan/Mata Air.

Gubernur yang mantan anggota DPR-RI 3 periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini mengatakan, perayaan Rahina Tumpek Uye untuk pertama kalinya dilaksanakan secara melembaga yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Bali sehingga mendapat apresiasi dari seluruh lapisan masyarakat Bali. Selama ini, Perayaan Rahina Tumpek Uye hanya dilakukan oleh masyarakat dan belum menjadi kebijakan pemerintah. Oleh sebab itu, kegiatan-kegiatan dalam rangkaian Perayaan Rahina Tumpek Uye sangat marak dipublikasikan di berbagai media, baik media cetak, elektronik, bahkan sangat viral diberitakan di sosial media. Gubernur Bali mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas partisipasi seluruh komponen masyarakat Bali dalam Perayaan Rahina Tumpek Uye.

Selanjutnya, Gubernur yang juga menjabat Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini ini menegaskan juga akan melaksanakan Perayaan Rahina Tumpek Wayang, Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, dan Tumpek Krulut sesuai Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2022 tentang Tata-titi Kehidupan Masyarakat Bali berdasarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru. Perayaan Rahina Tumpek Wayang akan dilaksanakan pada hari Sabtu (Saniscara Kliwon, Wayang), 5 Maret 2022, Tumpek Landep pada hari Sabtu (Saniscara Kliwon, Landep), 9 April 2022, Tumpek Wariga pada hari Sabtu (Saniscara Kliwon, Wariga), 14 Mei 2022, Tumpek Kuningan pada hari Sabtu (Saniscara Kliwon, Kuningan), 18 Juni 2022, dan Tumpek Krulut pada hari Sabtu (Saniscara Kliwon, Krulut), 23 Juli 2022. Seluruh Perayaan Rahina Tumpek, yang berdasarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi, merupakan implementasi visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.

Baca Juga  Gubernur Bali Sampaikan Pendapat Akhir Raperda RPJMD serta Penjelasan Raperda APBD TA 2024 dan 2025

Gubernur Bali berharap Perayaan Rahina Tumpek dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga menjadi laku hidup/gaya hidup/lifestyle masyarakat Bali. Perayaan Rahina Tumpek merupakan salah satu upaya yang sangat fundamental, esensial, dan strategis dalam membangun karakter, jati diri, dan kualitas kehidupan masyarakat Bali, menghadapi dinamika perkembangan zaman dan modernisasi dalam skala lokal, nasional, dan global. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

BUDAYA

Wagub Giri Prasta Hadiri “Pemelaspasan” Pura Lempuyang Madya

Ajak Umat Perkuat Semangat Menyama Braya dan Lestarikan Tradisi Bali

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Hadiri Pemelaspasan Pura Lempuyang Madya
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Karangasem, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengajak umat Hindu untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat menyama braya, serta melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta mengikuti prosesi mendem pedagingan bersama para pemedek. Prosesi ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian upacara penyucian bangunan suci yang sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Usai mengikuti prosesi mendem pedagingan, Giri Prasta didampingi istrinya, Ny. Seniasih Giri Prasta, melaksanakan persembahyangan bersama yang bertepatan dengan rahina Purnama Sasih Kapat.

Dalam sambrama wacana-nya, Giri Prasta menguraikan sejarah dan nilai spiritual Pura Lempuyang. Merujuk pada lontar kuno Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pura Lempuyang berkaitan dengan legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa. Pecahan gunung tersebut kemudian membentuk sejumlah pegunungan di Jawa dan Bali, termasuk Gunung Lempuyang.

Menurut kisah dalam lontar tersebut, Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di sejumlah gunung guna menjaga keseimbangan spiritual Pulau Bali. Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung) dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur, sedangkan Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.

Giri Prasta berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar serta membawa kerahayuan bagi umat dan masyarakat Bali.

Baca Juga  Gubernur Koster Bantu Ringankan Beban Warga, Serahkan Rp 1 M untuk Perbaiki Kerusakan Bangunan Pura Luhur Pucak Tinggah

“Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” doa Giri Prasta.

Lebih lanjut, Giri Prasta mengajak umat menjadikan pelaksanaan upacara keagamaan sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat menyama braya, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan swadarma. Menurutnya, semangat gotong-royong dan persatuan umat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Gubernur Koster Hadiri Puncak “Karya Panca Wali Krama” Ulun Danu Batur, Rawat Kesucian Alam Bali

Published

on

By

Gubernur Koster Hadiri Puncak Karya Panca Wali Krama
HADIRI PUNCAK KARYA: Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Bangli, baliilu.com – Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, terasa begitu khidmat dan penuh harmoni di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung dalam puncak karya yang bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat tersebut.

Turut hadir Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta dan Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, bersama para pemangku, pengempon pura, tokoh masyarakat dan umat yang mengikuti persembahyangan.

Bagi Gubernur Wayan Koster, karya di Pura Ulun Danu Batur memiliki makna yang jauh melampaui sebuah ritual keagamaan. Di tempat yang menjadi salah satu pusat spiritual Bali sekaligus kawasan yang erat dengan sumber air dan kehidupan ini, nilai-nilai Sad Kerthi menemukan bentuknya secara nyata.

Wana Kerthi dan Danu Kerthi menjadi bagian penting dari rangkaian karya. Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang harus dimanfaatkan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang mesti dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dikembangkan Wayan Koster, menempatkan keharmonisan alam, manusia dan kehidupan sebagai fondasi pembangunan Bali.

“Kalau kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan kita sendiri”. Semangat inilah yang tercermin dalam pelaksanaan karya, ketika ritual keagamaan sekaligus menjadi pengingat tentang tanggung jawab manusia terhadap alam Bali.

Dua Bulan Menuju Puncak Karya

Rangkaian karya telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 7 Oktober 2026. Berbagai prosesi dilaksanakan secara bertahap sesuai wariga dan dresta Bali.

Salah satu tahapan penting adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026, kemudian dilanjutkan Malasti, Mapekelem ring Danu dan Pakelem ring Gunung pada 18 September.

Baca Juga  Koster Kunjungi Pura Manik Toya, Kenang Bantuan Pasca-Bencana Hebat Dua Tahun Lalu

Tahapan inti berlangsung melalui Tawur Manca Wali Krama pada 21 September di Genah Peyadnyan. Puncaknya, Sabtu (26/9), umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura sebelum dilanjutkan dengan Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan dan Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur.

Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Subakti Penganyar secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober.

Puncak karya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga Bali bukan hanya tentang membangun dan memajukan daerah, tetapi juga tentang merawat kesucian alam, menghormati sumber kehidupan dan memastikan nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wabup Alit Sucipta “Upasaksi Nebes Tapakan” di Pura Dwijendra Batanbuah

Pemkab Badung Kucurkan Hibah Rp 1 Miliar

Loading

Published

on

By

Wabup Alit Sucipta Hadiri Upacara Nebes Tapakan Batanbuah
HADIRI UPACARA: Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta menghadiri (upasaksi) Upacara Nebes Tapakan Ida Betara di Pura Dwijendra Banjar Batanbuah yang dirangkaikan dengan persiapan Ngodak Tapakan di Pura Dalem Gede Desa Adat Abiansemal, Sabtu (26/09/2026). (Foto: Hms Badung)

Badung, balillu.com – Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta menghadiri (upasaksi) Upacara Nebes Tapakan Ida Betara di Pura Dwijendra Banjar Batanbuah yang dirangkaikan dengan persiapan Ngodak Tapakan di Pura Dalem Gede Desa Adat Abiansemal, Sabtu (26/09/2026).

Karya yang bertepatan dengan Purnama Kapat ini dipuput oleh Ida Pedanda dari Griya Tegeh Abiansemal dan dihadiri oleh Plt. Camat Abiansemal beserta jajaran, Penglingsir Puri, unsur Tripika, serta para perbekel setempat.

Dalam sambutannya, Wabup mengapresiasi tinggi semangat gotong-royong krama Banjar Adat Batanbuah yang secara swadaya mengumpulkan iuran demi menyukseskan upacara luhur ini.

“Semangat kebersamaan ini merupakan bentuk sradha dan cihna bhakti yang luar biasa. Pemerintah Kabupaten Badung selalu hadir untuk memastikan setiap niat suci krama dalam melestarikan tradisi tetap berjalan lancar. Kami juga mengajak seluruh warga menjaga persatuan demi mendukung program pelestarian seni, adat, agama, dan budaya berbasis kearifan lokal,” ujar Bagus Alit Sucipta.

Sebagai bukti nyata komitmen daerah, Pemkab Badung resmi mengalokasikan bantuan dana hibah pada Anggaran Perubahan 2026 sebesar Rp 1 miliar.

Sementara itu, perwakilan panitia karya, I Made Budayasa, menjelaskan bahwa persiapan rangkaian upacara ini sejatinya telah dirancang matang selama 9 bulan. Sebanyak 545 Kepala Keluarga (KK) secara mandiri mengumpulkan urunan sebesar Rp 600.000 per KK hingga berhasil menghimpun dana awal Rp 300 juta, dari total keseluruhan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp 1,3 miliar.

Pihak panitia pun menyampaikan terima kasih mendalam atas kehadiran jajaran pemerintah dan gelontoran dana hibah tersebut. Rangkaian prosesi Ngodak Tapakan (Ratu Gede, Ratu Sakti/Ratu Lingsir, Ratu Ayu, Ratu Alit) ini dijadwalkan akan terus bergulir hingga mencapai puncak prosesi upacara Melaspas pada 9 Desember 2026 mendatang. (gs/bi)

Baca Juga  Jadwal Pelayanan Keliling OSS RBA

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca