Connect with us

BUDAYA

Jejak sang Maestro Drama Gong AA Gede Rai Kalam, Pernah Dilempar Batu dan Diberhentikan di Panggung

BALIILU Tayang

:

de
AA GEDE RAI KALAM: Sang Maestro Drama Gong. (Ft: Sumida)

JIKA mengingat dialog pertengkaran Ngurah Bayan yang diperankan AA Gede Rai Kalam dengan Arya Getas yang diperankan Wayan Lodra, …mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake ….begitu juga petikan dialog berjudul Ida Ayu Genit, Sukerti…Sukerti… satmako….  yang begitu melekat di hati masyarakat Bali, maka bayangan kita akan kembali mengenang drama gong, salah satu ganre seni pentas yang sempat berjaya di zamannya. Anak Agung Gede Rai Kalam adalah salah satu saksi sejarah akan kelahiran drama gong era akhir 60-an hingga masa suramnya setelah terlindas arus teknologi.

Hanya menempuh jalan gang sepanjang 50-an meter, kita bisa menemukan kediaman sang maestro drama gong Anak Agung Gede Rai Kalam di Banjar Satria Kawan Kecamatan Dawan Klungkung. Tidak sulit bertemu sang pemeran patih anom ini, karena pintu selalu terbuka untuk siapa saja. Tidak saja para pegiat seni yang ingin menimba ilmu, masyarakat yang ingin meminta bantuan meminang istri, juga para awak media yang ingin menggali lebih dalam perihal dunia drama gong. ‘’Semasih hayat di kandung badan, pintu selalu terbuka jika ada yang minta bantuan,’’ ujar pensiunan guru SD yang kini sudah berusia 81 tahun.

AA Gede Rai Kalam memang tak pernah diam. Di usianya yang sudah semakin uzur, ia tak pernah surut mengasah diri dengan membaca beragam buku baik tentang babad, sejarah, agama, kebudayaan. Banyak koleksi buku yang tersimpan rapi, ada beberapa di antaranya di atas meja yang masih dibaca sambil menonton TV saban hari. Terlebih lagi ketika diajak berbincang seputar jejak drama gong, Rai Kalam masih sanggup menelisik ingatannya sampai hal-hal kecil. Bagaimana ia pernah dilempari batu saat di panggung, diberhentikan ketika pementasan masih berlangsung, mengingat wajah Cokorda Anom Bupati yang marah ketika Klungkung mendapat juara II festival drama. Wajahnya berbinar ketika bercerita kisah kelahiran drama gong, dari zaman keemasan, suka-dukanya hingga mengalami masa suram.

Sesepuh drama kelahiran 21 Juni 1938 namun tercatat di SK pengangkatan guru tertanggal 11 September 1939 ini tidak menduga dirinya bakal menjadi pemain drama yang begitu dikenal luas, hingga meraih berbagai penghargaan dari tingkat kabupaten sampai provinsi, yang juga mengantarkan putra-putrinya bisa menempuh pendidikan tinggi dan membangun rumah yang sebelumnya mendapat warisan sebuah gubuk.

de
SEMANGAT: Di usia uzur, AA Gege Rai Kalam tetap semangat berbincang perihal drama gong

Semua itu bermula dari pasca gejolak G30S- PKI. Dimana masyarakaat merasa tertekan oleh pertentangan politik yang demikian dahsyat. Untuk menenangkan dan menghibur masyarakat maka muncullah kegiatan berkesenian di tiap-tiap banjar. Lahir sekaa janger, sekaa parwa, sekaa drama gong. Bahkan di Satria sendiri muncul dua sekaa drama gong baik di Satria Kawan dan Kangin.

Menjamurnya sekaa-sekaa seni di era 1967-an, mendorong pemerintah daerah melalui Listibiya melakukan pembinaan dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas. Di antaranya melalui gelar seleksi festival antar-kecamatan yang nantinya akan mewakili Klungkung di tingkat provinsi. Sedikitnya ada 25 sekaa yang terlibat. Selain untuk seleksi, sekaligus juga untuk mengembalikan ketenangan masyarakat setelah tragedi G30S-PKI yang menelan banyak korban para seniman.

‘’Saya tidak tahu persis. Akhirnya sekaa gong Nilotama Smara Bumi melalui Listibiya Klungkung pentas di provinsi,’’ ujar Rai Kalam yang saat itu juga ikut di Listibiya bidang Drama Gong yang mengantarkan pertemuannya dengan I Made Kanta, penekun babad yang juga ikut bermain drama.

Untuk memilih judul, pensiunan guru tertanggal 1 Oktober 1999 bersama Made Kanta berusaha mencari bahan sejarah sampai ke Gedong Kirtya Singaraja. Drama Gong Nilotama Smara Bumi mendapat jadwal pentas 22 Agustus 1970 di gedung Lila Buana Kreneng Denpasar. ‘’Kami hampir mendapat nomor 1 karena mengangkat cerita sejarah yang unik Jelantik Bogol,’’ kenang Rai Kalam sambil menonton televisi.

Baca Juga  Wagub Cok Ace Apresiasi Konser Musik 'Drive In' Pertama di Bali

Rai Kalam mengingat-ngingat, Jelantik Bogol adalah anak dari I Gusti Ngurah Jelantik yang namanya Jelantik Bungaya yang dikirim bertempur ke Nusa Penida oleh Ida Dalem Dimade. Dia sebenarnya ingin gugur di medan perang karena leluhurnya mendapat tempat yang jelek dan berharap keturunannya bisa menebus dosa orangtuanya dengan jalan gugur di medan perang. Gusti Ngurah Jelantik pun dengan sengaja berperang tanpa senjata atau memogol. Karena ayahnya sengaja mencari mati di peperangan dengan cara memogol, maka putranya yang masih bayi disebut Gusti Jelantik Bogol.

de
BERTEMU PRESIDEN: AA Gede Rai Kalam bersama Presiden Soeharto saat Mahasaba Parisadha

Sebagai sutradara, AA Gede Rai Kalam yang menyuguhkan sebuah kisah sejarah yang berbeda dengan judul sama yang dibuat kabupaten lain, mendapat kritik habis-habisan di depan tim juri provinsi. Toh begitu, Rai Kalam kukuh mempertanggungjawabkan pendiriannya. Termasuk juga mempertahankan pandangannya ketika Dalem Bungkut gugur, Gusti Jelantik tidak mau menyembah. Berbeda dengan pandangan tim juri, yang sepatutnya Gusti Jelantik nyumbah.

Pandangan yang berbeda ini karena tim juri meyakini Dalem Bungkut keturunan Dalem Bedahulu. Entah bagaimana prosesnya sampai ke Nusa. Sebaliknya, Rai Kalam berpendapat Dalem Bedahulu meninggal karena sakit hati putranya gugur ketika diserang Majapahit. Dalem Bedahulu tidak berperang, mendengar putranya yang gugur beliau bunuh diri.

Kemudian Rai Kalam mengumpamakan. Di Lepang ada pregusti, predewa berkawan dengan ida bagus dari Buleleng. ‘’Bantes mekantenan. Ne madan hubungan kebrayaan. Seda ida bagus nyak gusti uli Lepang nyumbah. Sekarang saja tidak berani apalagi dulu,’’ begitu Rai Kalam memberi contoh betapa ketatnya soal sumbah-menyumbah.

‘’Sudah saya kasi sembilan terpaksa potong menjadi enam,’’ kenang Rai Kalam menirukan ucapan juri yang membuat dirinya sempat membantah bahwa ‘’Apalagi dalam peperangan, teman saja tidak mau nyumbah’’. Akhirnya mendapat nomor dua. ‘’Ngambul Cokorda Anom Bupati, de de, de juange hadiahe,’’ begitu Rai Kalam menirukan ucapan Cok Anom.

Sedikit menghela nafas, ayah berputra lima yang rambutnya sudah memutih ini rada tersenyum mengenang kisah pentasnya di Lila Buana. Kalau tidak menjadi pemain drama gong tidak mungkin nginjak gumi Badung. Walau hanya numpang truk, Rai Kalam tetap bersemangat sesuai dengan nama sekaa drama gongnya Nilotama Smara Bumi, orang utama dari bumi Semarapura.  Ia ingin menunjukkan diri sebagai putra Semarapura.

Di balik perlakuan juri yang membekas di hati ada kisah yang membuat Rai Kalam tetap menapaki jalan terjal drama gong. Bahkan harus sampai mencuri keris pejenengan di merajan agung. Keris luk sembilan, dengan ganjan emas, lekuknya juga emas, di tengah di atas barong berisi gambar acintya tembus yang juga berbahan emas. ’’Aud tiyang, mekesiab penontone. Tiyang ngamuk bakal ngematiang Ngurah Jelantik Bogol,’’ tutur Rai Kalam. Kala itu, Rai Kalam berperan sebagai Gusti Jimbaran, patih Dalem Bungkut yang berperang karena kedudukan dan wanita.

Turun dari panggung Lila Buana, ia dicegat seseorang yang kemudian dikenal bernama Ngurah Putra. Lelaki yang berpostur tegap itu memberi ucapan selamat atas peran Gusti Jimbaran yang begitu menyentuh hatinya. Ngurah Putra pun mengabadikan sebutan Gusti Jimbaran sebagai nama samarannya Arya Jimbaran yang kemudian dikenal sebagai pemain drama klasik yang begitu piawai memerankan tokoh Bima. ‘’Ulian adan tiyange di panggung diapresiasi bagus,’’ tutur Rai Kalam.

Festival drama gong tingkat provinsi yang menarik perhatian besar masyarakat yang haus hiburan, membuat seseorang dari Gianyar berinisiatif menggelar sebuah pentas drama gong yang diambil dari pemeran-pemeran terbaik drama yang ada di Bali. Selain Rai Kalam ada juga Dayu Manik sebagai putri. ‘’Diundang main drama di Banjar Teges Gianyar. Masih pentas di panggung sudah banyak yang mau ngupah. Siapa yang berani menyanggupi apalagi cuma pentas sekali,’’ kata Rai Kalam. Akhirnya seorang kawan merencanakan membuat drama gong yang kemudian bernama Bintang Bali Timur.

Baca Juga  Sosialisasi Saber Pungli di Denpasar, Libatkan Bendesa Adat, Perbekel, Pecalang dan OPD

Dari Bintang Bali Timurlah, Rai Kalam dkk pentas ke mana-mana. Hampir menjelajahi seluruh kabupaten yang ada di Bali. Hingga mengingatkan pementasannya diberhentikan panitia di sebuah daerah di sekitar Peninjoan Bangli meski belum usai.  ‘’Nawegang-nawegang, mangde tiyang nenten ngaturang upakara penyineb malih. Yen tatas rahine artine ngadeg betara tiyang malih,’’ ujar Rai Kalam menirukan ucapan pemangku seraya bersyukur diberhentikan bukan karena tidak suka tetapi karena waktu.

de
PENTAS DI TELEVISI: Antara semakin dikenal atau Mengancam diri sendiri

Masalah klise sambil melentik-lentikkan jemarinya, Bintang Bali Timur mengalami gonjang-ganjing. Rai Kalam sebagai pemeran patih anom yang sudah begitu melekat di hati masyarakat sempat bermuka dua. Di BTT tetap jalan, di sekaa gong Abian Base Gianyar pimpinan AA Raka Payadnya juga ikut.

Listibiya sebagai sebuah lembaga pembina dan pengembangan kebudayaan tak pernah surut merawat drama gong melalui parade atau festival yang digelar setiap tahun. Bahkan mendapat kesempatan pentas di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta pada tahun 73-74-an. ‘’Cuma saya tidak berani ikut karena sebagai guru,’’ aku Rai Kalam.

Walau Rai Kalam begitu dielu-elukan di setiap pementasan dan bisa pentas setiap hari, namun Rai Kalam tetap tidak pernah absen mengajar di Sekolah Dasar Lebu Karangasem. Bahkan rekan-rekan guru pun tidak tahu bahwa dirinya setiap malam menghibur masyarakat. ‘’Ini tanggung jawab moral sebagai tenaga pendidik yang harus meneruskan ilmu yang sudah diterima di bangku SGA. Namun juga bertanggung jawab sebagai penghibur masyarakat. Hanya tidur setelah pulang sekolah dan memanfaatkan tidur di sela-sela pementasan. Itu semua demi keluarga, demi anak didik dan juga demi masyarakat yang butuh hiburan,’’ terang Rai Kalam yang mengaku gaji guru hanya cukup untuk makan. Belum lagi kesibukannya di Listibiya, sebagai tim penilai, dan juga  sebagai krama banjar seringkali didaulat menjadi pembicara pernikahan.

Di balik BTT yang terus memudar lantaran salah kelola, hadir Cokorde Bagus Sayoga yang menjabat Ketua DPD PNI Fron Marhaenis Bali yang membangun drama bercap PNI bernama Kesatria Swastika Budaya. Beberapa tahun kemudian para pentolan drama kembali menghidupkan BBT dengan judulnya yang terkenal Sang Ayu Genit, Galuh Ngangon Meri alias Adnyaswari.

Sebagai jebolan Lila Buana yang menjadi tolok ukur drama yang disukai masyarakat kala itu, BBT mendapat kepercayaan pentas di mana-mana, termasuk di Pesta Kesenian Bali yang menjadi momen terpenting sebuah pengakuan sebagai seniman. BBT bisa sampai dua kali pentas dalam satu rangkaian PKB karena peminatnya luar biasa. ‘’Das tiyang kene batu,’’ begitu Rai Kalam mengingat akibat membludaknya penonton yang tidak bisa masuk. Batu dilempar dari luar panggung karena kehabisan tiket. Bukan karena pementasannya jelek.

Ketika itu, drama gong mengalami masa keemasan. Masyarakat ramai-ramai mengupah drama kalau ada upacara piodalan. Hingga harus pentas setiap hari. Namun Rai Kalam tidak pernah bolos mengajar. Rai Kalam tahu betul bahwa dengan mengajar tanpa putus ia sudah mencetak tunas-tunas bangsa yang kelak meneruskan cita-cita para pejuang kemerdekaan. “Pagi masuk, sepulang sekolah istirahat tidur, sore siap-siap berangkat dan malam pentas, begitu setiap hari. Guru-guru di sekolah pun tidak tahu karena tiyang tak pernah bolos,’’ ucap Rai Kalam.

de
PENGHARGAAN: Dedikasinya terhadap drama gong, AA Gede Rai Kalam banyak menerima penghargaan

Dengan kerja keras siang malam yang nyaris kurang istirahat, Rai Kalam bisa mengantarkan kelima putranya ke bangku pendidikan yang diidamkan. Kini ada yang sudah mencapai gelar profesor mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, guru SMP, kerja di Sayan, Nusa Dua dan jebolan Teknik Sipil Malang. ‘’Kami hanya bisa bersyukur, masih bisa melihat anak-anak dan cucu-cucu yang selalu rukun,’’ ujar Rai Kalam yang sempat bersalaman dengan orang nomor satu di negara ini kala mewakili Mahasaba Parisadha, sembari mengingat lagi ketika pentas di Ubud.

Baca Juga  PUPR Kota Denpasar Sidak Pekerja Bangunan tak Ikuti Protokol Kesehatan

Pernah Rai Kalam sedikit terhenyak saat pentas di Peliatan Ubud. Penonton marah-marah ketika pementasan selesai sekitar pukul 04.30-an. ‘’Amah pis kaine kali jani nyuudang drama sambil kaak kuuk tidak mau bangun,’’ Rai Kalam mengenang pengalaman suka duka ketika pentas. Pernah dilempar batu, diberhentikan sebelum cerita selesai, dicaci karena peran, grup yang terus berganti seperti Kesatria Swastika Budaya, Sancaya Dwipa, Bara Budaya.

Pentas drama gong yang diobral habis-habisan, terlebih lagi pengaruh kemajuan teknologi dimana bisa masuk televisi sebagai satu kebanggaan ternyata justru memukul diri sendiri. Mulai cara pikir masyarakat lebih memilih menonton televisi daripada beli karcis. Pelan-pelan drama gong ditinggalkan sampai festival pun ditiadakan karena tak menjamin dapat penonton.

de
PENTAS TERAKHIR: Berkumpul dengan para seniman tua di PKB atas prakarsa wakil gubernur Ketut Sudikerta

Namun ada satu momen special yang mengingatkan masa keemasan bersama rekan-rekan pemain. Ada salah seorang pejabat tinggi di Bali yang menginisiasi pementasan seniman tua drama gong BBT pada PKB 2016. Selain Rai Kalam juga hadir AA Raka Payadnya, Dabdab, Apel, Gangsar, Yudhana, Mongkeg, dll yang mendapat respons luar biasa dari penonton.

Pementasan di PKB tahun 2016 itu adalah pentas terakhir Rai Kalam yang merasa tidak menduga bakal menjadi seniman drama gong karena orang tuanya bukanlah seniman melainkan pegawai pengadilan. Justru darah kakeknyalah yang menurun karena memang sebagai seniman gambuh, arja yang pernah malang melintang mengajar ke daerah-daerah termasuk sampai ke Jembrana. ‘’Kalau sekarang bisa jadi dapat penghargaan Wijaya Kusuma. Cuma saya tidak mau karena keturunan beliau banyak. Pang sing pipise akebesan mesogsag ajak nyama. Ikhlaskan saja,’’ ujar Rai Kalam yang telah membaktikan karya dan pengetahuannya bagi pengembangan dan pelestarian kehidupan seni dan budaya Bali telah banyak menerima penghargaan tidak saja dari Pemerintah Daerah Klungkung  juga Provinsi Bali.

Dengan mudah bisa melihat beberapa penghargaan yang disandangnya karena terpajang rapi di atas rak buku yang menyimpan berbagai macam babad, sejarah, buku agama, dan jurnal-jurnal kebudayaan Bali. Di antaranya penghargaan Aji Sewaka Nugraha dari Pemkab Klungkung, penghargaan pementasan seniman tua dari Gubernur Dewa Beratha tahun 1999, penghargaan sebagai Pembina Dharma Wecana dari Dinas Kebudayaan Bali tahun 2009,  penghargaan Dharma Kusuma tahun 2007 bidang seni drama gong, dll.

de
PEGHARGAAN DHARMA KUSUMA: Atas ketekunan dan dedikasinya sebagai seniman drama gong

Bagi AA Rai Kalam, bukan selembar kertas itu yang menjadi tujuan utama yang selama ini berpeluh di tengah malam, aktif di PHDI, tetap mengabdi sebagai guru hingga pensiun dan selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin berbagi pengalaman termasuk juga tetap dipercaya meminang perkawinan.

Namun ini jalan hidup yang harus dilalui hingga mengantarkan memiliki banyak sahabat, saudara, kawan-kawan. ‘’Kije je nuju luwas, jeg gisine limane. Eling tyang gung lingsir. Nyen kaden ne orang sing inget tanruh, jelek asane. Begitu ikhlas orang menyapa. Kalau tiyang menolak tidak mengakui tidak sopan. Langsung saja jawab. Ty inget asane ken pak. Kije to pe…begitu nyambung lebih akrab,’’ Rai Kalam mengingat percakapannya dengan seseorang.

Yang sedikit menjadi beban karena sering menceritakan sejarah terutama judul Arya Getas yang banyak menyinggung pasemetonan. Di Mengwi pernah seseorang bertanya, ‘’Cokor dewa ngelampahang Arya Getas, nyabcab penglingsir tyange niki, indayang nikaang, sapunapi awanan nak lingsir tyange wenten ke Bali,’’ begitu seseorang bertanya.

Sejujurnya, Rai Kalam mengaku tidak tahu persis karena memang tidak mempersiapkan diri. Seperti berjalan memungut sebilah bambu kemudian ada yang bertanya sambil membawa sesaji memohon agar diberikan bambu. ‘’Dimana dicarikan karena merasa tidak mempersiapkan diri,’’ aku Rai Kalam

Begitu juga keseriusannya memainkan dialog sebagai Ngurah Bayan membuat warga Bali di Lombok banyak yang tidak suka. ‘’ Bes teleb bene nampi... Ada dialog saya yang membuat mereka tersinggung ….jani mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake… disubane napak, rasaang ditu kenken tis panes…kebus…ne kenken ke kitaang. Mekite puun ci dini. Itu membuat tersinggung semeton Baline,’’ ujar Rai Kalam seraya melanjutkan dari dialog ini dikira seluruhnya bisa ngeleak, padahal cuma mencari upah.

Rai Kalam menyadari betul, sebagai seniman drama membutuhkan kesadaran bahwa sedang menipu orang, penuh kepura-puraan dan penuh seolah-olah. Seperti raden galuh yang menangis yang membuat penonton terhanyut menangis. Tetapi yang penting jangan berlebih-lebihan dan jangan menganggap penonton bodoh. Berikanlah apa yang disukai penonton.

Pernah satu kejadian salah satu pemain dilempari telor busuk di atas panggung setelah berpisah dari grup yang membesarkannya. Karena itu pesan terakhir Rai Kalam, sebagai pemain tidak boleh egois. Setiap peran sangat didukung oleh peran yang lain. Putri tanpa dayang atau raja tanpa patih, ibarat bulan tanpa bintang. (Gede Sumida)

BUDAYA

Wawali Jaya Negara Ngayah Mundut Ida Bhatara Sesuhunan di Pura Lombok, Serangkaian Upakara Magingsir

Published

on

By

de
Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara saat menghadiri sekaligus mundut Ida Bhatara Sesuhunan di Pura Lombok Banjar Kepisah, Desa Adat Sumerta Denpasar, Senin (21/9)

Denpasar, baliilu.com – Bertepatan dengan rahina Soma Kliwon Wuku Kuningan atau yang lebih dikenal sebagai Rahina Pemacekan Agung menjadi hari baik bagi umat Hindu untuk melaksanakan yadnya, salah satunya yakni tradisi upacara Magingsir Ida Bhatara  Sesuhunan di Pura Lombok, Banjar Kepisah, Desa Adat Sumerta. Dalam pelaksanaan yadnya yang digelar setiap enam bulan sekali ini turut dihadiri oleh Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, Senin (21/9).

Dalam kesempatan tersebut, Wawali Jaya Negara berkesempatan ngaturang sembah bhakti yang dilanjutkan dengan mundut Ida Bhatara Sesuhunan menuju Bale Gong sebagai genah magingsir. Seluruh rangkaian upakara dilaksanakan secara terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Jro Mangku Made  Rinta didampingi Prajuru Banjar Kepisah I Made Yadnya menjelaskan upacara atau tradisi Magingsir Sesuhunan di Pura Lombok merupakan warisan turun-temurun yang rutin dilaksanakan setiap Pemacekan Agung. Dimana, Ida Bhatara Sesuhunan yang berstana di Pura Lombok melancaran untuk selanjutnya meyoga di beberapa pura yang berlokasi di kawasan Banjar Kepisah. Hal ini merupakan wujud Ida Bhatara Sesuhunan macecingak untuk menjaga keseimbangan alam.

“Jadi ini merupakan sebuah tradisi turun-temurun untuk menjaga keseimbangan alam semesta, khususnya wewidangan Banjar Kepisah, dan karena pandemi Covid-19 saat ini tidak bisa dilaksanakan sebagaimana tahun sebelumnya, melainkan hanya di kawasan Pura Lombok dengan tidak mengurangi makna pelaksanaan yadnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut pihaknya juga mengucapkan terimakasih kepada Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara yang berkenan hadir menyaksikan rangkaian upacara Magingsir Ida Sesuhunan dan berkesempatan mundut langsung Ida Bhatara.

“Kami sangat berterimakasih atas kehadiran Pemkot Denpasar yang dalam hal ini adalah Bapak Wakil Walikota beserta jajaran, yang sudah berkenan ikut terlibat serangkaian upacara ini,” pungkasnya.

Baca Juga  Pengurus Dekorwil Bali Puskor Hindunesia Ditetapkan, IBK Susena: Fokus Masalah Kemanusiaan

Sementara, Wakil Walikota IGN Jaya Negara  mengapresiasi pelaksanaan upacara Ida Bhatara Magingsir ini. Dimana, sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan bahwasanya diharapkan mampu menjaga keseimbangan alam secara sekala dan niskala.

“Tradisi ini merupakan sebuah kearifan lokal yang ada di Kota Denpasar yang patut kita lestarikan bersama, tentunya serangkaian upakara suci ini kami bersama memohon kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan bumi beserta isinya, serta semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu,” harap Jaya Negara. (eka)

Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wawali Jaya Negara Hadiri Karya Ngadegan Lan Pasupati Sesuhunan Pura Mpu Aji Dukuh Sakti Kesiman

Published

on

By

de
Wawali Jaya Negara Hadiri Karya Ngadegan Lan Pasupati Sesuhunan Pura Mpu Aji Dukuh Sakti Kesiman.

Denpasar, baliilu.com – Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara menghadiri karya Ngadegan Lan Pasupati Ida Bhatara Ratu Bagus Naga Petak di Pura Mpu Aji Dukuh Sakti Kesiman Denpasar, Senin (21/9). 

Hadir dalam kesempatan tersebut Perwakilan Penglingsir Puri Agung Kesiman, Penglingsir Agung Puri Pemayun Kesiman Gusti Ngurah Gede,  Komisi IV DPRD Provinsi Bali I Putu Budiartha, Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, Anggota DPRD Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa, serta undangan lainnya.

Wakil Walikota Denpasar Jaya Negara mengatakan Kota Denpasar sebagai kota berwawasan budaya tentu denyut kehidupan masyarakatnya tak pernah lepas dari aktivitas adat, seni dan kebudayaan yang kuat. Sehingga dengan pelaksanaan karya tersebut dapat memberi kesejahteraan kepada seluruh umat.

Karya Ngadegan Lan Pusupati ini diharapkan mampu membawa krama ke dalam kesejahteraan dan kebaikan jasmani maupun rohani serta selalu dilindungi Ida Sang Hyang Widi Wasa,” ujarnya.

Mengingat masih masa pandemi Covid-19, pelaksanaan persembahyangan tetap mengikuti protokol kesehatan, dengan menjaga jarak tempat duduk maupun mengenakan masker saat bersembahyang. Selain itu juga dilengkapi tempat mencuci tangan sehingga pelaksanaan berjalan aman dan nyaman.

Pengempon Pura Mpu Aji Dukuh Sakti I Wayan Loka yang ditemui di sela-sela karya mengatakan, karya ini merupakan ngadegan lan pasupati sesuhunan Ratu Bagus Naga Petak dan ngadegan pemangku baru. Pelaksanaan telah dilaksanakan sejak Kamis (7/5) dengan ngaturang pakeling, selanjutnya dilaksanakan Jumat (5/6) duedin taru dan pada Rabu (16/9) melaspas gedong, Senin (21/9) puncak karya pasupati, piodalan dan pemelastian, sedangkan penyineban dilaksanakan Kamis (24/9).

 “Kami bersama warga mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kota Denpasar, dan  Wakil Walikota IGN Jaya Negara karena sudah bisa hadir dan telah memberikan perhatian serta bantuan kepada krama dan diharapkan juga pemerintah agar bisa terus memperhatikan kegiatan keagamaan adat, budaya dan tradisi seperti ini agar ke depannya warisan budaya Bali tetap terjaga dengan baik. (eka)

Baca Juga  Penggak PKK di Tampaksiring, Ny. Putri Koster Ajak Warga Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wabup Suiasa Ajak Tokoh Agama Menabur dan Menebarkan Benih Cinta Kasih

Published

on

By

de
Wabup Suiasa didampingi Ketua DPRD Badung I Putu Parwata saat Pentahbisan dan Peresmian Gedung GKPB Hosana Kwanji Dalung, Minggu (20/9) malam.

Badung, baliilu.com – Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa mengajak para tokoh agama menabur dan menebarkan benih cinta kasih agar kehidupan menjadi tenteram dan damai. Ajaran yang paling fundamental adalah kasih sayang dan pesan perdamaian untuk memuliakan kehidupan.

‘’Mari bangun persahabatan dan persaudaraan antar-sesama untuk meraih keselarasan, keserasian dan keharmonisan hidup. Mari warnai kehidupan dengan menabur dan menebarkan benih cinta kasih agar kehidupan menjadi tenteram dan damai di tengah dinamika pembangunan Kabupaten Badung yang kita cintai ini,” ujar Suiasa didampingi Ketua DPRD Badung I Putu Parwata saat Pentahbisan dan Peresmian Gedung Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB) Hosana Kwanji Dalung, Minggu (20/9) malam. Pentasbihan dan peresmian Gedung Gereja ini dilaksanakan seiring rampungnya pembangunan fisik senilai Rp 2 milyar yang bersumber dari bantuan dana hibah Pemkab Badung.

Lebih lanjut Wabup Suiasa mengatakan bahwa kehadiran gereja merupakan bagian dari salah satu fungsi hakiki pembinaan mental spiritual umat Kristiani yang ada di Kabupaten Badung. Gereja hadir untuk menyuarakan pesan perdamaian, tempat memanjatkan doa syukur kepada Tuhan, tempat umat dibina dan dididik dalam bersikap maupun bersosialisasi dengan sesama. “Kehadiran Gereja tentunya akan memberikan vibrasi kedamaian dan kesejukan, karena kedamaian merupakan modal untuk mewujudkan kerukunan. Tiada kedamaian tanpa kerukunan, tiada kerukunan tanpa toleransi, tiada toleransi tanpa kasih sayang. Dan kasih sayang inilah salah satu sumber persaudaraan sejati,” tegas Suiasa.

Untuk itu menurut Wakil Bupati, Pemerintah Kabupaten Badung tetap konsisten dalam menginspirasi, mendorong dan menjaga kerukunan hidup umat beragama di wilayah Kabupaten Badung, dengan menggelorakan tri kerukunan umat beragama, yang meliputi kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar-umat beragama dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah. “Maka dari itu saya mengajak kepada seluruh umat agar senantiasa menanamkan nilai keagamaan, dalam upaya mencapai kesejahteraan masyarakat,” ajaknya.

Baca Juga  PUPR Kota Denpasar Sidak Pekerja Bangunan tak Ikuti Protokol Kesehatan

Sementara itu Ketut Sudarsana dan Made Reka Suartika selaku Panitia Pembangunan Gereja Hosana Kwanji, didampingi oleh perwakilan Majelis Sinode Harian GKPB Pendeta Damayana, memanjatkan rasa syukur dan menyampaikan terimakasih kepada Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, Wabup Ketut Suiasa dan Ketua DPRD Putu Parwata, karena Pemerintah Kabupaten Badung telah membantu mewujudkan impian Jemaat GKPB Hosana Kwanji untuk memiliki Gedung Gereja yang aman, nyaman dan representatif dalam melaksanakan kegiatan keagamaan maupun kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.

Diceritakan bahwa sejak 18 tahun yang lalu Jemaat GKPB Hosana Kwanji sudah mulai merintis agar bisa memiliki gedung gereja yang aman dan nyaman untuk bersekutu dengan jemaat. Setelah melewati 2 tahun masa kepemimpinan Bupati Giri Prasta dan Wabup Suiasa di Kabupaten Badung, akhirnya doa Jemaat GKPB Hosana Kwanji yang dilayani oleh 4 pendeta dijawab oleh Tuhan. “Dimasa kepemimpinan Bapak Bupati Giri Prasta dan Wabup Suiasa kami diberikan bantuan dana hibah sebesar Rp 2 M yang difasilitasi oleh Bapak Ketua DPRD Putu Parwata. Dan Puji Tuhan dalam  jangka waktu 2 tahun, akhirnya Gedung Gereja ini bisa selesai dibangun. Sekali lagi terima kasih kepada Pemkab Badung, mohon selalu bimbing, bina dan libatkan kami dalam membangun Kabupaten Badung,” katanya.

Acara turut dihadiri oleh Camat Kuta Utara Putu Eka Parmana, Ketua Gatriwara Ny. Ayu Parwata, Perbekel Dalung Gede Putu Arif Wiratya, Bendesa Adat Padang Luwih, Dalung dan Tuka. (gs)

Lanjutkan Membaca