Sunday, 5 February 2023
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Jejak sang Maestro Drama Gong AA Gede Rai Kalam, Pernah Dilempar Batu dan Diberhentikan di Panggung

BALIILU Tayang

:

de
AA GEDE RAI KALAM: Sang Maestro Drama Gong. (Ft: Sumida)

JIKA mengingat dialog pertengkaran Ngurah Bayan yang diperankan AA Gede Rai Kalam dengan Arya Getas yang diperankan Wayan Lodra, …mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake ….begitu juga petikan dialog berjudul Ida Ayu Genit, Sukerti…Sukerti… satmako….  yang begitu melekat di hati masyarakat Bali, maka bayangan kita akan kembali mengenang drama gong, salah satu ganre seni pentas yang sempat berjaya di zamannya. Anak Agung Gede Rai Kalam adalah salah satu saksi sejarah akan kelahiran drama gong era akhir 60-an hingga masa suramnya setelah terlindas arus teknologi.

Hanya menempuh jalan gang sepanjang 50-an meter, kita bisa menemukan kediaman sang maestro drama gong Anak Agung Gede Rai Kalam di Banjar Satria Kawan Kecamatan Dawan Klungkung. Tidak sulit bertemu sang pemeran patih anom ini, karena pintu selalu terbuka untuk siapa saja. Tidak saja para pegiat seni yang ingin menimba ilmu, masyarakat yang ingin meminta bantuan meminang istri, juga para awak media yang ingin menggali lebih dalam perihal dunia drama gong. ‘’Semasih hayat di kandung badan, pintu selalu terbuka jika ada yang minta bantuan,’’ ujar pensiunan guru SD yang kini sudah berusia 81 tahun.

AA Gede Rai Kalam memang tak pernah diam. Di usianya yang sudah semakin uzur, ia tak pernah surut mengasah diri dengan membaca beragam buku baik tentang babad, sejarah, agama, kebudayaan. Banyak koleksi buku yang tersimpan rapi, ada beberapa di antaranya di atas meja yang masih dibaca sambil menonton TV saban hari. Terlebih lagi ketika diajak berbincang seputar jejak drama gong, Rai Kalam masih sanggup menelisik ingatannya sampai hal-hal kecil. Bagaimana ia pernah dilempari batu saat di panggung, diberhentikan ketika pementasan masih berlangsung, mengingat wajah Cokorda Anom Bupati yang marah ketika Klungkung mendapat juara II festival drama. Wajahnya berbinar ketika bercerita kisah kelahiran drama gong, dari zaman keemasan, suka-dukanya hingga mengalami masa suram.

Sesepuh drama kelahiran 21 Juni 1938 namun tercatat di SK pengangkatan guru tertanggal 11 September 1939 ini tidak menduga dirinya bakal menjadi pemain drama yang begitu dikenal luas, hingga meraih berbagai penghargaan dari tingkat kabupaten sampai provinsi, yang juga mengantarkan putra-putrinya bisa menempuh pendidikan tinggi dan membangun rumah yang sebelumnya mendapat warisan sebuah gubuk.

de
SEMANGAT: Di usia uzur, AA Gege Rai Kalam tetap semangat berbincang perihal drama gong

Semua itu bermula dari pasca gejolak G30S- PKI. Dimana masyarakaat merasa tertekan oleh pertentangan politik yang demikian dahsyat. Untuk menenangkan dan menghibur masyarakat maka muncullah kegiatan berkesenian di tiap-tiap banjar. Lahir sekaa janger, sekaa parwa, sekaa drama gong. Bahkan di Satria sendiri muncul dua sekaa drama gong baik di Satria Kawan dan Kangin.

Menjamurnya sekaa-sekaa seni di era 1967-an, mendorong pemerintah daerah melalui Listibiya melakukan pembinaan dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas. Di antaranya melalui gelar seleksi festival antar-kecamatan yang nantinya akan mewakili Klungkung di tingkat provinsi. Sedikitnya ada 25 sekaa yang terlibat. Selain untuk seleksi, sekaligus juga untuk mengembalikan ketenangan masyarakat setelah tragedi G30S-PKI yang menelan banyak korban para seniman.

‘’Saya tidak tahu persis. Akhirnya sekaa gong Nilotama Smara Bumi melalui Listibiya Klungkung pentas di provinsi,’’ ujar Rai Kalam yang saat itu juga ikut di Listibiya bidang Drama Gong yang mengantarkan pertemuannya dengan I Made Kanta, penekun babad yang juga ikut bermain drama.

Untuk memilih judul, pensiunan guru tertanggal 1 Oktober 1999 bersama Made Kanta berusaha mencari bahan sejarah sampai ke Gedong Kirtya Singaraja. Drama Gong Nilotama Smara Bumi mendapat jadwal pentas 22 Agustus 1970 di gedung Lila Buana Kreneng Denpasar. ‘’Kami hampir mendapat nomor 1 karena mengangkat cerita sejarah yang unik Jelantik Bogol,’’ kenang Rai Kalam sambil menonton televisi.

Baca Juga  Antisipasi Covid-19, Satgas Ubung Gencar Periksa Penduduk Non-Permanen

Rai Kalam mengingat-ngingat, Jelantik Bogol adalah anak dari I Gusti Ngurah Jelantik yang namanya Jelantik Bungaya yang dikirim bertempur ke Nusa Penida oleh Ida Dalem Dimade. Dia sebenarnya ingin gugur di medan perang karena leluhurnya mendapat tempat yang jelek dan berharap keturunannya bisa menebus dosa orangtuanya dengan jalan gugur di medan perang. Gusti Ngurah Jelantik pun dengan sengaja berperang tanpa senjata atau memogol. Karena ayahnya sengaja mencari mati di peperangan dengan cara memogol, maka putranya yang masih bayi disebut Gusti Jelantik Bogol.

de
BERTEMU PRESIDEN: AA Gede Rai Kalam bersama Presiden Soeharto saat Mahasaba Parisadha

Sebagai sutradara, AA Gede Rai Kalam yang menyuguhkan sebuah kisah sejarah yang berbeda dengan judul sama yang dibuat kabupaten lain, mendapat kritik habis-habisan di depan tim juri provinsi. Toh begitu, Rai Kalam kukuh mempertanggungjawabkan pendiriannya. Termasuk juga mempertahankan pandangannya ketika Dalem Bungkut gugur, Gusti Jelantik tidak mau menyembah. Berbeda dengan pandangan tim juri, yang sepatutnya Gusti Jelantik nyumbah.

Pandangan yang berbeda ini karena tim juri meyakini Dalem Bungkut keturunan Dalem Bedahulu. Entah bagaimana prosesnya sampai ke Nusa. Sebaliknya, Rai Kalam berpendapat Dalem Bedahulu meninggal karena sakit hati putranya gugur ketika diserang Majapahit. Dalem Bedahulu tidak berperang, mendengar putranya yang gugur beliau bunuh diri.

Kemudian Rai Kalam mengumpamakan. Di Lepang ada pregusti, predewa berkawan dengan ida bagus dari Buleleng. ‘’Bantes mekantenan. Ne madan hubungan kebrayaan. Seda ida bagus nyak gusti uli Lepang nyumbah. Sekarang saja tidak berani apalagi dulu,’’ begitu Rai Kalam memberi contoh betapa ketatnya soal sumbah-menyumbah.

‘’Sudah saya kasi sembilan terpaksa potong menjadi enam,’’ kenang Rai Kalam menirukan ucapan juri yang membuat dirinya sempat membantah bahwa ‘’Apalagi dalam peperangan, teman saja tidak mau nyumbah’’. Akhirnya mendapat nomor dua. ‘’Ngambul Cokorda Anom Bupati, de de, de juange hadiahe,’’ begitu Rai Kalam menirukan ucapan Cok Anom.

Sedikit menghela nafas, ayah berputra lima yang rambutnya sudah memutih ini rada tersenyum mengenang kisah pentasnya di Lila Buana. Kalau tidak menjadi pemain drama gong tidak mungkin nginjak gumi Badung. Walau hanya numpang truk, Rai Kalam tetap bersemangat sesuai dengan nama sekaa drama gongnya Nilotama Smara Bumi, orang utama dari bumi Semarapura.  Ia ingin menunjukkan diri sebagai putra Semarapura.

Di balik perlakuan juri yang membekas di hati ada kisah yang membuat Rai Kalam tetap menapaki jalan terjal drama gong. Bahkan harus sampai mencuri keris pejenengan di merajan agung. Keris luk sembilan, dengan ganjan emas, lekuknya juga emas, di tengah di atas barong berisi gambar acintya tembus yang juga berbahan emas. ’’Aud tiyang, mekesiab penontone. Tiyang ngamuk bakal ngematiang Ngurah Jelantik Bogol,’’ tutur Rai Kalam. Kala itu, Rai Kalam berperan sebagai Gusti Jimbaran, patih Dalem Bungkut yang berperang karena kedudukan dan wanita.

Turun dari panggung Lila Buana, ia dicegat seseorang yang kemudian dikenal bernama Ngurah Putra. Lelaki yang berpostur tegap itu memberi ucapan selamat atas peran Gusti Jimbaran yang begitu menyentuh hatinya. Ngurah Putra pun mengabadikan sebutan Gusti Jimbaran sebagai nama samarannya Arya Jimbaran yang kemudian dikenal sebagai pemain drama klasik yang begitu piawai memerankan tokoh Bima. ‘’Ulian adan tiyange di panggung diapresiasi bagus,’’ tutur Rai Kalam.

Festival drama gong tingkat provinsi yang menarik perhatian besar masyarakat yang haus hiburan, membuat seseorang dari Gianyar berinisiatif menggelar sebuah pentas drama gong yang diambil dari pemeran-pemeran terbaik drama yang ada di Bali. Selain Rai Kalam ada juga Dayu Manik sebagai putri. ‘’Diundang main drama di Banjar Teges Gianyar. Masih pentas di panggung sudah banyak yang mau ngupah. Siapa yang berani menyanggupi apalagi cuma pentas sekali,’’ kata Rai Kalam. Akhirnya seorang kawan merencanakan membuat drama gong yang kemudian bernama Bintang Bali Timur.

Baca Juga  Pesta Miras, Delapan Warga Diamankan Satgas Covid-19 Desa Peguyangan Kangin

Dari Bintang Bali Timurlah, Rai Kalam dkk pentas ke mana-mana. Hampir menjelajahi seluruh kabupaten yang ada di Bali. Hingga mengingatkan pementasannya diberhentikan panitia di sebuah daerah di sekitar Peninjoan Bangli meski belum usai.  ‘’Nawegang-nawegang, mangde tiyang nenten ngaturang upakara penyineb malih. Yen tatas rahine artine ngadeg betara tiyang malih,’’ ujar Rai Kalam menirukan ucapan pemangku seraya bersyukur diberhentikan bukan karena tidak suka tetapi karena waktu.

de
PENTAS DI TELEVISI: Antara semakin dikenal atau Mengancam diri sendiri

Masalah klise sambil melentik-lentikkan jemarinya, Bintang Bali Timur mengalami gonjang-ganjing. Rai Kalam sebagai pemeran patih anom yang sudah begitu melekat di hati masyarakat sempat bermuka dua. Di BTT tetap jalan, di sekaa gong Abian Base Gianyar pimpinan AA Raka Payadnya juga ikut.

Listibiya sebagai sebuah lembaga pembina dan pengembangan kebudayaan tak pernah surut merawat drama gong melalui parade atau festival yang digelar setiap tahun. Bahkan mendapat kesempatan pentas di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta pada tahun 73-74-an. ‘’Cuma saya tidak berani ikut karena sebagai guru,’’ aku Rai Kalam.

Walau Rai Kalam begitu dielu-elukan di setiap pementasan dan bisa pentas setiap hari, namun Rai Kalam tetap tidak pernah absen mengajar di Sekolah Dasar Lebu Karangasem. Bahkan rekan-rekan guru pun tidak tahu bahwa dirinya setiap malam menghibur masyarakat. ‘’Ini tanggung jawab moral sebagai tenaga pendidik yang harus meneruskan ilmu yang sudah diterima di bangku SGA. Namun juga bertanggung jawab sebagai penghibur masyarakat. Hanya tidur setelah pulang sekolah dan memanfaatkan tidur di sela-sela pementasan. Itu semua demi keluarga, demi anak didik dan juga demi masyarakat yang butuh hiburan,’’ terang Rai Kalam yang mengaku gaji guru hanya cukup untuk makan. Belum lagi kesibukannya di Listibiya, sebagai tim penilai, dan juga  sebagai krama banjar seringkali didaulat menjadi pembicara pernikahan.

Di balik BTT yang terus memudar lantaran salah kelola, hadir Cokorde Bagus Sayoga yang menjabat Ketua DPD PNI Fron Marhaenis Bali yang membangun drama bercap PNI bernama Kesatria Swastika Budaya. Beberapa tahun kemudian para pentolan drama kembali menghidupkan BBT dengan judulnya yang terkenal Sang Ayu Genit, Galuh Ngangon Meri alias Adnyaswari.

Sebagai jebolan Lila Buana yang menjadi tolok ukur drama yang disukai masyarakat kala itu, BBT mendapat kepercayaan pentas di mana-mana, termasuk di Pesta Kesenian Bali yang menjadi momen terpenting sebuah pengakuan sebagai seniman. BBT bisa sampai dua kali pentas dalam satu rangkaian PKB karena peminatnya luar biasa. ‘’Das tiyang kene batu,’’ begitu Rai Kalam mengingat akibat membludaknya penonton yang tidak bisa masuk. Batu dilempar dari luar panggung karena kehabisan tiket. Bukan karena pementasannya jelek.

Ketika itu, drama gong mengalami masa keemasan. Masyarakat ramai-ramai mengupah drama kalau ada upacara piodalan. Hingga harus pentas setiap hari. Namun Rai Kalam tidak pernah bolos mengajar. Rai Kalam tahu betul bahwa dengan mengajar tanpa putus ia sudah mencetak tunas-tunas bangsa yang kelak meneruskan cita-cita para pejuang kemerdekaan. “Pagi masuk, sepulang sekolah istirahat tidur, sore siap-siap berangkat dan malam pentas, begitu setiap hari. Guru-guru di sekolah pun tidak tahu karena tiyang tak pernah bolos,’’ ucap Rai Kalam.

de
PENGHARGAAN: Dedikasinya terhadap drama gong, AA Gede Rai Kalam banyak menerima penghargaan

Dengan kerja keras siang malam yang nyaris kurang istirahat, Rai Kalam bisa mengantarkan kelima putranya ke bangku pendidikan yang diidamkan. Kini ada yang sudah mencapai gelar profesor mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, guru SMP, kerja di Sayan, Nusa Dua dan jebolan Teknik Sipil Malang. ‘’Kami hanya bisa bersyukur, masih bisa melihat anak-anak dan cucu-cucu yang selalu rukun,’’ ujar Rai Kalam yang sempat bersalaman dengan orang nomor satu di negara ini kala mewakili Mahasaba Parisadha, sembari mengingat lagi ketika pentas di Ubud.

Baca Juga  Di Tengah Pandemi, Ny. Putri Koster: Pemprov Bali Beri Ruang bagi Seniman untuk Berkreasi

Pernah Rai Kalam sedikit terhenyak saat pentas di Peliatan Ubud. Penonton marah-marah ketika pementasan selesai sekitar pukul 04.30-an. ‘’Amah pis kaine kali jani nyuudang drama sambil kaak kuuk tidak mau bangun,’’ Rai Kalam mengenang pengalaman suka duka ketika pentas. Pernah dilempar batu, diberhentikan sebelum cerita selesai, dicaci karena peran, grup yang terus berganti seperti Kesatria Swastika Budaya, Sancaya Dwipa, Bara Budaya.

Pentas drama gong yang diobral habis-habisan, terlebih lagi pengaruh kemajuan teknologi dimana bisa masuk televisi sebagai satu kebanggaan ternyata justru memukul diri sendiri. Mulai cara pikir masyarakat lebih memilih menonton televisi daripada beli karcis. Pelan-pelan drama gong ditinggalkan sampai festival pun ditiadakan karena tak menjamin dapat penonton.

de
PENTAS TERAKHIR: Berkumpul dengan para seniman tua di PKB atas prakarsa wakil gubernur Ketut Sudikerta

Namun ada satu momen special yang mengingatkan masa keemasan bersama rekan-rekan pemain. Ada salah seorang pejabat tinggi di Bali yang menginisiasi pementasan seniman tua drama gong BBT pada PKB 2016. Selain Rai Kalam juga hadir AA Raka Payadnya, Dabdab, Apel, Gangsar, Yudhana, Mongkeg, dll yang mendapat respons luar biasa dari penonton.

Pementasan di PKB tahun 2016 itu adalah pentas terakhir Rai Kalam yang merasa tidak menduga bakal menjadi seniman drama gong karena orang tuanya bukanlah seniman melainkan pegawai pengadilan. Justru darah kakeknyalah yang menurun karena memang sebagai seniman gambuh, arja yang pernah malang melintang mengajar ke daerah-daerah termasuk sampai ke Jembrana. ‘’Kalau sekarang bisa jadi dapat penghargaan Wijaya Kusuma. Cuma saya tidak mau karena keturunan beliau banyak. Pang sing pipise akebesan mesogsag ajak nyama. Ikhlaskan saja,’’ ujar Rai Kalam yang telah membaktikan karya dan pengetahuannya bagi pengembangan dan pelestarian kehidupan seni dan budaya Bali telah banyak menerima penghargaan tidak saja dari Pemerintah Daerah Klungkung  juga Provinsi Bali.

Dengan mudah bisa melihat beberapa penghargaan yang disandangnya karena terpajang rapi di atas rak buku yang menyimpan berbagai macam babad, sejarah, buku agama, dan jurnal-jurnal kebudayaan Bali. Di antaranya penghargaan Aji Sewaka Nugraha dari Pemkab Klungkung, penghargaan pementasan seniman tua dari Gubernur Dewa Beratha tahun 1999, penghargaan sebagai Pembina Dharma Wecana dari Dinas Kebudayaan Bali tahun 2009,  penghargaan Dharma Kusuma tahun 2007 bidang seni drama gong, dll.

de
PEGHARGAAN DHARMA KUSUMA: Atas ketekunan dan dedikasinya sebagai seniman drama gong

Bagi AA Rai Kalam, bukan selembar kertas itu yang menjadi tujuan utama yang selama ini berpeluh di tengah malam, aktif di PHDI, tetap mengabdi sebagai guru hingga pensiun dan selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin berbagi pengalaman termasuk juga tetap dipercaya meminang perkawinan.

Namun ini jalan hidup yang harus dilalui hingga mengantarkan memiliki banyak sahabat, saudara, kawan-kawan. ‘’Kije je nuju luwas, jeg gisine limane. Eling tyang gung lingsir. Nyen kaden ne orang sing inget tanruh, jelek asane. Begitu ikhlas orang menyapa. Kalau tiyang menolak tidak mengakui tidak sopan. Langsung saja jawab. Ty inget asane ken pak. Kije to pe…begitu nyambung lebih akrab,’’ Rai Kalam mengingat percakapannya dengan seseorang.

Yang sedikit menjadi beban karena sering menceritakan sejarah terutama judul Arya Getas yang banyak menyinggung pasemetonan. Di Mengwi pernah seseorang bertanya, ‘’Cokor dewa ngelampahang Arya Getas, nyabcab penglingsir tyange niki, indayang nikaang, sapunapi awanan nak lingsir tyange wenten ke Bali,’’ begitu seseorang bertanya.

Sejujurnya, Rai Kalam mengaku tidak tahu persis karena memang tidak mempersiapkan diri. Seperti berjalan memungut sebilah bambu kemudian ada yang bertanya sambil membawa sesaji memohon agar diberikan bambu. ‘’Dimana dicarikan karena merasa tidak mempersiapkan diri,’’ aku Rai Kalam

Begitu juga keseriusannya memainkan dialog sebagai Ngurah Bayan membuat warga Bali di Lombok banyak yang tidak suka. ‘’ Bes teleb bene nampi... Ada dialog saya yang membuat mereka tersinggung ….jani mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake… disubane napak, rasaang ditu kenken tis panes…kebus…ne kenken ke kitaang. Mekite puun ci dini. Itu membuat tersinggung semeton Baline,’’ ujar Rai Kalam seraya melanjutkan dari dialog ini dikira seluruhnya bisa ngeleak, padahal cuma mencari upah.

Rai Kalam menyadari betul, sebagai seniman drama membutuhkan kesadaran bahwa sedang menipu orang, penuh kepura-puraan dan penuh seolah-olah. Seperti raden galuh yang menangis yang membuat penonton terhanyut menangis. Tetapi yang penting jangan berlebih-lebihan dan jangan menganggap penonton bodoh. Berikanlah apa yang disukai penonton.

Pernah satu kejadian salah satu pemain dilempari telor busuk di atas panggung setelah berpisah dari grup yang membesarkannya. Karena itu pesan terakhir Rai Kalam, sebagai pemain tidak boleh egois. Setiap peran sangat didukung oleh peran yang lain. Putri tanpa dayang atau raja tanpa patih, ibarat bulan tanpa bintang. (Gede Sumida)

Advertisements
iklan natal dprd badung
Advertisements
dprd bali
Advertisements
dprd badung
Advertisements
walikota galungan kuningan
Advertisements
galungan pemprov
Advertisements
ucapan DPC PDI P Badung
Advertisements
imlek dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Sekda I Gede Susila Buka Bulan Bahasa Bali V 2023 Kabupaten Tabanan

Published

on

By

bulan bahasa
Sekda Tabanan I Gede Susila saat membuka pelaksanaan Bulan Bahasa Bali V tahun 2023 yang dipusatkan di Wantilan Desa Adat Bedha, Desa Wanasara, Tabanan, Kamis (2/2). (Foto: ist)

Tabanan, baliilu.com – Bupati Tabanan yang diwakili Sekda I Gede Susila, menghadiri pelaksanaan Bulan Bahasa Bali V tahun 2023 yang dipusatkan di Wantilan Desa Adat Bedha, Desa Wanasara, Tabanan, Kamis (2/2).

Kegiatan ini ditujukan sebagai usaha untuk pelestarian dan pengembangan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Turut hadir saat itu, Ketua DPRD Tabanan, jajaran Forkopimda, para Asisten dan OPD di lingkungan Pemkab Tabanan.

Dalam kesempatan itu, Sekda Susila sesuai imbauan Bupati Sanjaya, menegaskan salam Pancasila wajib digaungkan dalam membuka kegiatan. Terlepas dari itu, perayaan Bulan Bahasa Bali merupakan perhatian pemerintah terhadap Bahasa Bali yang merupakan bahasa daerah ataupun bahasa Ibu masyarakat Bali dan merupakan akar dari budaya Bali yang sangat patut dilestarikan bersama.

Susila juga menegaskan bahwa, pariwisata di Bali yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara tidak terlepas dari budaya Bali yang adiluhung. “Budaya Bali tidak terlepas dari Bahasa, Sastra ataupun Aksara Bali. Bali sebagai daerah tujuan wisata budaya, banyak wisatawan lokal maupun mancanegara datang ke Bali karena adanya budaya yang adiluhung,” ujarnya.

Namun saat ini Susila juga tidak menapikan, bahwa pelaksanaan Bahasa, Sastra maupun Aksara Bali sudah semakin meredup dan terkikis perkembangan jaman. Hal ini tentunya menjadi masalah bersama untuk bagaimana agar mampu melestarikan dan menjaga kearifan lokal Bali yang merupakan warisan dari para leluhur.

Maka dari itu, pihaknya menekankan, bahwa sudah sepatutnya hal itu tetap dijaga serta dilestarikan. “Maka sangat tepat sekali Pemprov Bali, Pemkab Tabanan, dengan pelestarian Bahasa, Sastra dan Aksara Bali sebagai akar budaya Bali ini sudah tersirat dalam Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang perlindungan dan penggunaan Bahasa, Sastra dan Aksara Bali serta penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali,” tegas Susila.

Baca Juga  Pastikan Kesehatan Hewan dan Daging, Sarankan Pemotongan di RPH

Selain itu, pihaknya juga menyatakan sangat bersyukur dan berbahagia karena dengan adanya kegiatan Bulan Bahasa Bali ini mampu mendukung visi Pemkab, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana di Kabupaten Tabanan menuju Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani (AUM). Dalam 5 skala prioritas pembangunan, tercantum pelestatian seni, adat dan budaya.

Pihaknya juga sangat berharap, di hari yang baik ini, pelaksanaan Bulan Bahasa Bali V Tahun 2023 agar bisa terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan bersama. Begitupun juga atas restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa pelestarian Bahasa Bali sebagai akar budaya Bali mampu dilaksanakan dengan baik dan mampu mempercepat terwujudnya Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani (AUM). (gs/bi)

Advertisements
iklan natal dprd badung
Advertisements
dprd bali
Advertisements
dprd badung
Advertisements
walikota galungan kuningan
Advertisements
galungan pemprov
Advertisements
ucapan DPC PDI P Badung
Advertisements
imlek dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Modernisasi Tak Boleh Menggerus Akar Budaya

Sekda Adi Arnawa Buka Bulan Bahasa Bali Kabupaten Badung

Published

on

By

sekda adi arnawa
Sekda Badung Wayan Adi Arnawa saat membuka secara resmi Bulan Bahasa Bali Kabupaten Badung Tahun 2023 bertempat di Balai Budaya Giri Nata Mandala Puspem Badung, Kamis (2/2). (Foto: ist)

Badung, baliilu.com – Pelaksanaan kegiatan Bulan Bahasa Bali merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Badung dalam rangka melestarikan adat, seni, agama, tradisi dan budaya di tengah masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Sekda Badung Wayan Adi Arnawa mewakili Bupati Giri Prasta saat membuka secara resmi Bulan Bahasa Bali Tahun 2023 di Kabupaten Badung bertempat di Balai Budaya Giri Nata Mandala Puspem Badung, Kamis (2/2).

Turut hadir Ketua Komisi IV DPRD Badung Made Suwardana, Ketua TP PKK Kabupaten Badung Nyonya Seniasih Giri Prasta, Ketua Gatriwara Badung Nyonya Ayu Parwata, Ketua DWP Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung Gde Eka Sudarwitha, Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Badung Gusti Made Dwipayana, Camat Mengwi Nyoman Suhartana, Kepala OPD terkait di lingkungan Pemkab Badung, serta Majelis Madya Desa Adat dan undangan lainnya.

“Mewakili Bapak Bupati dan Pemerintah saya berharap kepada tim pembina, tim penilai dan jajaran Dinas Kebudayaan bagaimana kedepannya kualitas kegiatan ini bisa terus ditingkatkan, karena bagaimanapun juga hal ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam rangka menjaga budaya kita, terlebih pariwisata kita berbasis budaya, untuk ini harus tetap dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan,” ujar Sekda Adi Arnawa.

Dirinya mengungkapkan, selama ini Pemerintah Kabupaten Badung telah banyak memberikan perhatian dan apresiasi dalam hal pelestarian budaya. Bahkan terkait pelaksanaan bulan Bahasa Bali yang diimplementasikan dengan berbagai lomba, yang melibatkan Desa Adat dan anak-anak sekolah. Ditegaskan, Pemerintah Kabupaten Badung komit untuk terus melakukan peningkatan kualitas pelaksanaan sampai kepada peningkatan jumlah hadiah bagi para pemenang lomba.

sekda badung
Sekda Badung Adi Arnawa saat mengamati peserta nyurat Aksara Bali. (Foto: ist)

“Saya juga meminta kepada anak-anak, anak muda dan masyarakat Badung agar jangan sampai melupakan aksara Bali maupun bahasa Bali, meskipun sekarang banyak orang bersekolah di Sekolah Internasional tapi dia tidak boleh melupakan budayanya. Seperti apa yang sering diingatkan oleh Pak Bupati modernisasi jangan sampai menggerus akar budaya kita,” tegasnya.   

Baca Juga  208 PMI Datang Hari Ini Jalani Pemeriksaan Ketat, Dewa Indra Minta Jangan Ada Penolakan

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Badung Gde Eka Sudarwitha melaporkan bulan Bahasa Bali Kabupaten Badung tahun 2023 mengambil tema “Segara Kertih Campuan Urip Sarwa Prani” yang bertujuan menjadikan Bulan Bahasa Bali sebagai lingga stana melestarikan aksara Bahasa dan Sastra Bali dalam rangka menjaga kesucian wilayah Kabupaten Badung beserta segenap isinya.

“Aksara, Bahasa dan Sastra Bali sebagai sumber sejarah, sumber ilmu pengetahuan, sumber seni budaya harus tetap dijaga dan dilestarikan oleh anak-anak, anak muda dan masyarakat Kabupaten Badung. Pelaksanaan bulan Bahasa Bali ini menggunakan dana APBD Badung tahun 2023 sebesar Rp 388 juta lebih dengan berbagai lomba seperti menulis Aksara Bali, menulis lontar, membaca lontar, bercerita Bahasa Bali, lomba pidato Bahasa Bali, debat Bahasa Bali serta panggung apresiasi Sastra Bali,” jelasnya. (gs/bi)

Advertisements
iklan natal dprd badung
Advertisements
dprd bali
Advertisements
dprd badung
Advertisements
walikota galungan kuningan
Advertisements
galungan pemprov
Advertisements
ucapan DPC PDI P Badung
Advertisements
imlek dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Gubernur Koster Buka Bulan Bahasa Bali V Tahun 2023

Angkat Tema Segara Kerthi: Campuhan Urip Sarwa Prani

Published

on

By

gubernur
Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Wagub Tjok. Oka Sukawati dan Sekda Bali membuka secara resmi Bulan Bahasa Bali V Tahun 2023 pada Rabu (1/2/2023) di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Centre Denpasar. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Gubernur Bali Wayan Koster pada Rabu (Buda Pon Pujut) 1 Februari 2023 membuka secara resmi Bulan Bahasa Bali V Tahun 2023 yang diselenggarakan sebulan penuh dengan tema Segara Kerthi: Campuhan Urip Sarwa Prani‘ bertempat di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Centre Denpasar.

Dalam sambutannya, Gubernur Wayan Koster menyampaikan bahwa kita harus menjaga baik-baik Aksara, Bahasa dan Sastra Bali. Gubernur lanjut mengajak semua krama Bali untuk melihat negara-negara di dunia yang mempunyai aksara itu adalah negara yang kuat dalam bidang budaya, ekonomi dan tata kehidupannya seperti China, Jepang, Korea, Thailand, India, dan Arab.

‘‘Itulah sebabnya di Bali kita haruslah bersyukur kepada leluhur yang telah mampu menciptakan dan mewariskan Aksara Bali. Artinya, Bali ini memiliki peradaban yang kuat. Punya Aksara, Bahasa dan Sastra Bali. Ketiga unsur ini adalah bagian dari unsur peradaban budaya Bali,‘‘ ujar Gubernur seraya mengucap, ‘‘Luar biasa warisan leluhur kita, itulah sebabnya wajib melindungi dan menggunakannya. Kalau melindungi dan menggunakan tak bisa itu kebangetan.‘‘

gubenrur
Gubernur Bali Wayan Koster dan Wagub Tjok Oka Sukawati foto bersama dengan para penari pada pembukaan Bulan Bahasa Bali V Tahun 2023 bertempat di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Centre Denpasar. (Foto: ist)

Gubernur menyebutkan, banyak negara dan banyak daerah bahasa daerahnya punah. Karena generasi ini berubah terus dengan fasilitas baru, kebijakan baru, aktivitas baru, tuntutan baru, tantangan dan masalah baru, serta intervensi terhadap keberadaan Bahasa Bali besar. Maka jika tidak dijadikan satu kesadaran penuh untuk menjaganya lama-lama Bahasa Bali akan ditinggal.

Hal ini karena generasi kita menghadapi tantangan berbeda. Ruang bahasa Bali makin kecil, sempit. Ruang Bahasa Bali base-nya di rumah dan dalam pergaulan yang sifatnya informal. Karena itulah wajib hukumnya untuk digunakan paling tidak di rumah. Boleh bangga berbahasa Inggris, China, Jepang tetapi lebih bangga kalau bisa menggunakan Bahasa Bali secara terus-menerus.

Baca Juga  Ny. Putri Koster Puji Ibu Rumah Tangga di Bali tetap Kreatif meski Beban Tanggung Jawab Bertambah di Masa Pandemi
gubenrur
Gubernur Bali Wayan Koster bersama Wagub Bali Tjok Oka Sukawati saat meninjau lomba Nyurat Lontar. (Foto: gs)

Begitu juga Sastra Bali, seperti puisi, mesatua, karya sastra Bali yang sangat kaya. Ini harus dipelihara. Kalau Aksara, Bahasa dan Sastra Bali punah di Bali maka identitas kebalian kita ini hilang.

‘‘Apa buin orahang yen sube hilang ne, sing buin nyidaang ngorang kene keto buin. Budaya Bali ini adalah keunggulan utama yang kita miliki yang diwariskan oleh leluhur Bali, wajiblah hukumnya buat kita semua menjaga itu. Itulah yang diharapkan dari visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali betul-betul mewujudkan tatanan kehidupan yang Balinese,‘‘ tegasnya.

Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini berharap dengan mengeluarkan kebijakan ini agar generasi muda ke depan lebih terampil dengan Bahasa Bali. Gubernur pun membuatkan kebijakan untuk mengadaptasikan Aksara Bali dengan diciptakan keyboard Aksara Bali yang diapresiasi oleh Menko PMK karena lebih cepat melangkah untuk mempolakan kearifan lokalnya dengan digital. ‘‘Keyboard Aksara Bali yang saat ini dilombakan, dibuat supaya teknologi digital yang berkembang pesat tidak menikam atau mematikan kearifan lokal tapi justru kearifan lokal untuk memperkuat dalam membangun kehidupan ke depan dengan sarana teknologi ini. Jadi justru sama-sama harus hidup dan sama-sama dapat ruang,’’ ucapnya.

gubernur
Gubernur Bali Wayan Koster saat meninjau lomba keyboard Aksara Bali. (Foto: gs)

Gubernur menegaskan, hanya di Bali ada peraturan gubernur tentang Pelindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali dan penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. ‘‘Astungkara sudah memasuki lima kali penyelenggaraan bulan Bahasa Bali, bahagia rasanya,‘‘ ucap Gubernur seraya berharap ke depan anak-anak generasi baru dalam segala bentuk komunikasinya tertulis maupun tidak tertulis agar menggunakan Aksara Bali.

Pada kesempatan itu, Gubernur mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah secara bersama-sama Bulan Bahasa Bali menjadi kegiatan yang membanggakan, dan meminta secara bersama-sama melaksanakan di wilayah masing-masing seperti di Desa Adat, Desa Dinas, Lembaga Pendidikan dari PAUD sampai Perguruan Tinggi, Lembaga Swasta, Perbankan dan lainnya. Usai membuka acara Gubernur Wayan Koster berkesempatan menyaksikan anak-anak melaksanakan lomba nyurat lontar dan keyboard Aksara Bali.

Baca Juga  Aliansi Mahasiswa Manggarai Salurkan Sembako buat Petugas Linmas Desa Adat Kesiman

Pada pembukaan Bulan Bahasa Bali V ini turut hadir Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Forkopimda Bali, Bupati Klungkung, Sekda Bali Dewa Made Indra, pimpinan OPD dan dapat disaksikan secara live streaming. Susunan acara dapat disaksikan melalui : https://drive.google.com/drive/u/0/mobile/folders/1y-_e7DnGHTF2w8tlje5nQ74C5AqoSbCM?usp=share_link (gs/bi)

Advertisements
iklan natal dprd badung
Advertisements
dprd bali
Advertisements
dprd badung
Advertisements
walikota galungan kuningan
Advertisements
galungan pemprov
Advertisements
ucapan DPC PDI P Badung
Advertisements
imlek dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca