JIKA mengingat dialog pertengkaran Ngurah Bayan yang
diperankan AA Gede Rai Kalam dengan Arya Getas yang diperankan Wayan Lodra, …mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang
telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake ….begitu juga petikan dialog berjudul
Ida Ayu Genit, Sukerti…Sukerti… satmako…. yang begitu melekat di hati masyarakat Bali,
maka bayangan kita akan kembali mengenang drama gong, salah satu ganre seni
pentas yang sempat berjaya di zamannya. Anak Agung Gede Rai Kalam adalah salah
satu saksi sejarah akan kelahiran drama gong era akhir 60-an hingga masa
suramnya setelah terlindas arus teknologi.
Hanya menempuh jalan gang sepanjang 50-an meter, kita bisa
menemukan kediaman sang maestro drama gong Anak Agung Gede Rai Kalam di Banjar
Satria Kawan Kecamatan Dawan Klungkung. Tidak sulit bertemu sang pemeran patih
anom ini, karena pintu selalu terbuka untuk siapa saja. Tidak saja para pegiat
seni yang ingin menimba ilmu, masyarakat yang ingin meminta bantuan meminang
istri, juga para awak media yang ingin menggali lebih dalam perihal dunia drama
gong. ‘’Semasih hayat di kandung badan, pintu selalu terbuka jika ada yang
minta bantuan,’’ ujar pensiunan guru SD yang kini sudah berusia 81 tahun.
AA Gede Rai Kalam memang tak pernah diam. Di usianya yang
sudah semakin uzur, ia tak pernah surut mengasah diri dengan membaca beragam
buku baik tentang babad, sejarah, agama, kebudayaan. Banyak koleksi buku yang tersimpan
rapi, ada beberapa di antaranya di atas meja yang masih dibaca sambil menonton TV
saban hari. Terlebih lagi ketika diajak berbincang seputar jejak drama gong,
Rai Kalam masih sanggup menelisik ingatannya sampai hal-hal kecil. Bagaimana ia
pernah dilempari batu saat di panggung, diberhentikan ketika pementasan masih
berlangsung, mengingat wajah Cokorda Anom Bupati yang marah ketika Klungkung
mendapat juara II festival drama. Wajahnya berbinar ketika bercerita kisah
kelahiran drama gong, dari zaman keemasan, suka-dukanya hingga mengalami masa suram.
Sesepuh drama kelahiran 21 Juni 1938 namun tercatat di SK
pengangkatan guru tertanggal 11 September 1939 ini tidak menduga dirinya bakal
menjadi pemain drama yang begitu dikenal luas, hingga meraih berbagai
penghargaan dari tingkat kabupaten sampai provinsi, yang juga mengantarkan
putra-putrinya bisa menempuh pendidikan tinggi dan membangun rumah yang
sebelumnya mendapat warisan sebuah gubuk.
SEMANGAT: Di usia uzur, AA Gege Rai Kalam tetap semangat berbincang perihal drama gong
Semua itu bermula dari pasca gejolak G30S- PKI. Dimana masyarakaat merasa tertekan oleh pertentangan politik yang demikian dahsyat. Untuk menenangkan dan menghibur masyarakat maka muncullah kegiatan berkesenian di tiap-tiap banjar. Lahir sekaa janger, sekaa parwa, sekaa drama gong. Bahkan di Satria sendiri muncul dua sekaa drama gong baik di Satria Kawan dan Kangin.
Menjamurnya sekaa-sekaa seni di era 1967-an, mendorong
pemerintah daerah melalui Listibiya melakukan pembinaan dan pengembangan untuk
meningkatkan kualitas. Di antaranya melalui gelar seleksi festival
antar-kecamatan yang nantinya akan mewakili Klungkung di tingkat provinsi. Sedikitnya
ada 25 sekaa yang terlibat. Selain untuk seleksi, sekaligus juga untuk
mengembalikan ketenangan masyarakat setelah tragedi G30S-PKI yang menelan banyak
korban para seniman.
‘’Saya tidak tahu persis. Akhirnya sekaa gong Nilotama Smara
Bumi melalui Listibiya Klungkung pentas di provinsi,’’ ujar Rai Kalam yang saat
itu juga ikut di Listibiya bidang Drama Gong yang mengantarkan pertemuannya dengan
I Made Kanta, penekun babad yang juga ikut bermain drama.
Untuk memilih judul, pensiunan guru tertanggal 1 Oktober
1999 bersama Made Kanta berusaha mencari bahan sejarah sampai ke Gedong Kirtya
Singaraja. Drama Gong Nilotama Smara Bumi mendapat jadwal pentas 22 Agustus 1970
di gedung Lila Buana Kreneng Denpasar. ‘’Kami hampir mendapat nomor 1 karena
mengangkat cerita sejarah yang unik Jelantik Bogol,’’ kenang Rai Kalam sambil menonton
televisi.
Rai Kalam mengingat-ngingat, Jelantik Bogol adalah anak dari
I Gusti Ngurah Jelantik yang namanya Jelantik Bungaya yang dikirim bertempur ke
Nusa Penida oleh Ida Dalem Dimade. Dia sebenarnya ingin gugur di medan perang
karena leluhurnya mendapat tempat yang jelek dan berharap keturunannya bisa menebus
dosa orangtuanya dengan jalan gugur di medan perang. Gusti Ngurah Jelantik pun
dengan sengaja berperang tanpa senjata atau memogol. Karena ayahnya sengaja
mencari mati di peperangan dengan cara memogol, maka putranya yang masih bayi disebut
Gusti Jelantik Bogol.
BERTEMU PRESIDEN: AA Gede Rai Kalam bersama Presiden Soeharto saat Mahasaba Parisadha
Sebagai sutradara, AA Gede Rai Kalam yang menyuguhkan sebuah kisah sejarah yang berbeda dengan judul sama yang dibuat kabupaten lain, mendapat kritik habis-habisan di depan tim juri provinsi. Toh begitu, Rai Kalam kukuh mempertanggungjawabkan pendiriannya. Termasuk juga mempertahankan pandangannya ketika Dalem Bungkut gugur, Gusti Jelantik tidak mau menyembah. Berbeda dengan pandangan tim juri, yang sepatutnya Gusti Jelantik nyumbah.
Pandangan yang berbeda ini karena tim juri meyakini Dalem Bungkut
keturunan Dalem Bedahulu. Entah bagaimana prosesnya sampai ke Nusa. Sebaliknya,
Rai Kalam berpendapat Dalem Bedahulu meninggal karena sakit hati putranya gugur
ketika diserang Majapahit. Dalem Bedahulu tidak berperang, mendengar putranya
yang gugur beliau bunuh diri.
Kemudian Rai Kalam mengumpamakan. Di Lepang ada pregusti,
predewa berkawan dengan ida bagus dari Buleleng. ‘’Bantes mekantenan. Ne madan hubungan kebrayaan.Seda ida bagus
nyak gusti uli Lepang nyumbah. Sekarang saja tidak berani apalagi dulu,’’ begitu
Rai Kalam memberi contoh betapa ketatnya soal sumbah-menyumbah.
‘’Sudah saya kasi sembilan terpaksa potong menjadi enam,’’ kenang
Rai Kalam menirukan ucapan juri yang membuat dirinya sempat membantah bahwa ‘’Apalagi
dalam peperangan, teman saja tidak mau nyumbah’’. Akhirnya mendapat nomor dua.
‘’Ngambul Cokorda Anom Bupati, de de,
de juangehadiahe,’’ begitu Rai Kalam menirukan ucapan Cok Anom.
Sedikit menghela nafas, ayah berputra lima yang rambutnya
sudah memutih ini rada tersenyum mengenang kisah pentasnya di Lila Buana. Kalau
tidak menjadi pemain drama gong tidak mungkin nginjak gumi Badung. Walau hanya
numpang truk, Rai Kalam tetap bersemangat sesuai dengan nama sekaa drama gongnya
Nilotama Smara Bumi, orang utama dari bumi Semarapura. Ia ingin menunjukkan diri sebagai putra
Semarapura.
Di balik perlakuan juri yang membekas di hati ada kisah yang
membuat Rai Kalam tetap menapaki jalan terjal drama gong. Bahkan harus sampai
mencuri keris pejenengan di merajan agung. Keris luk sembilan, dengan ganjan emas, lekuknya juga emas, di
tengah di atas barong berisi gambar acintya
tembus yang juga berbahan emas. ’’Aud
tiyang, mekesiab penontone. Tiyang ngamuk bakal ngematiang Ngurah Jelantik Bogol,’’
tutur Rai Kalam. Kala itu, Rai Kalam berperan sebagai Gusti Jimbaran, patih Dalem
Bungkut yang berperang karena kedudukan dan wanita.
Turun dari panggung Lila Buana, ia dicegat seseorang yang
kemudian dikenal bernama Ngurah Putra. Lelaki yang berpostur tegap itu memberi
ucapan selamat atas peran Gusti Jimbaran yang begitu menyentuh hatinya. Ngurah
Putra pun mengabadikan sebutan Gusti Jimbaran sebagai nama samarannya Arya
Jimbaran yang kemudian dikenal sebagai pemain drama klasik yang begitu piawai
memerankan tokoh Bima. ‘’Ulian adan tiyange
di panggung diapresiasi bagus,’’ tutur Rai Kalam.
Festival drama gong tingkat provinsi yang menarik perhatian
besar masyarakat yang haus hiburan, membuat seseorang dari Gianyar berinisiatif
menggelar sebuah pentas drama gong yang diambil dari pemeran-pemeran terbaik drama
yang ada di Bali. Selain Rai Kalam ada juga Dayu Manik sebagai putri. ‘’Diundang
main drama di Banjar Teges Gianyar. Masih pentas di panggung sudah banyak yang
mau ngupah. Siapa yang berani menyanggupi apalagi cuma pentas sekali,’’ kata
Rai Kalam. Akhirnya seorang kawan merencanakan membuat drama gong yang kemudian
bernama Bintang Bali Timur.
Dari Bintang Bali Timurlah, Rai Kalam dkk pentas ke
mana-mana. Hampir menjelajahi seluruh kabupaten yang ada di Bali. Hingga
mengingatkan pementasannya diberhentikan panitia di sebuah daerah di sekitar Peninjoan
Bangli meski belum usai. ‘’Nawegang-nawegang, mangde tiyang nenten ngaturang
upakara penyineb malih. Yen tatas rahine artine ngadeg betara tiyang malih,’’
ujar Rai Kalam menirukan ucapan pemangku seraya bersyukur diberhentikan bukan
karena tidak suka tetapi karena waktu.
PENTAS DI TELEVISI: Antara semakin dikenal atau Mengancam diri sendiri
Masalah klise sambil melentik-lentikkan jemarinya, Bintang Bali Timur mengalami gonjang-ganjing. Rai Kalam sebagai pemeran patih anom yang sudah begitu melekat di hati masyarakat sempat bermuka dua. Di BTT tetap jalan, di sekaa gong Abian Base Gianyar pimpinan AA Raka Payadnya juga ikut.
Listibiya sebagai sebuah lembaga pembina dan pengembangan
kebudayaan tak pernah surut merawat drama gong melalui parade atau festival
yang digelar setiap tahun. Bahkan mendapat kesempatan pentas di Taman Mini
Indonesia Indah Jakarta pada tahun 73-74-an. ‘’Cuma saya tidak berani ikut
karena sebagai guru,’’ aku Rai Kalam.
Walau Rai Kalam begitu dielu-elukan di setiap pementasan dan
bisa pentas setiap hari, namun Rai Kalam tetap tidak pernah absen mengajar di Sekolah
Dasar Lebu Karangasem. Bahkan rekan-rekan guru pun tidak tahu bahwa dirinya
setiap malam menghibur masyarakat. ‘’Ini tanggung jawab moral sebagai tenaga
pendidik yang harus meneruskan ilmu yang sudah diterima di bangku SGA. Namun
juga bertanggung jawab sebagai penghibur masyarakat. Hanya tidur setelah pulang
sekolah dan memanfaatkan tidur di sela-sela pementasan. Itu semua demi
keluarga, demi anak didik dan juga demi masyarakat yang butuh hiburan,’’ terang
Rai Kalam yang mengaku gaji guru hanya cukup untuk makan. Belum lagi
kesibukannya di Listibiya, sebagai tim penilai, dan juga sebagai krama banjar seringkali didaulat menjadi
pembicara pernikahan.
Di balik BTT yang terus memudar lantaran salah kelola, hadir
Cokorde Bagus Sayoga yang menjabat Ketua DPD PNI Fron Marhaenis Bali yang
membangun drama bercap PNI bernama Kesatria Swastika Budaya. Beberapa tahun
kemudian para pentolan drama kembali menghidupkan BBT dengan judulnya yang
terkenal Sang Ayu Genit, Galuh Ngangon Meri alias Adnyaswari.
Sebagai jebolan Lila Buana yang menjadi tolok ukur drama
yang disukai masyarakat kala itu, BBT mendapat kepercayaan pentas di mana-mana,
termasuk di Pesta Kesenian Bali yang menjadi momen terpenting sebuah pengakuan
sebagai seniman. BBT bisa sampai dua kali pentas dalam satu rangkaian PKB
karena peminatnya luar biasa. ‘’Das tiyang
kene batu,’’ begitu Rai Kalam mengingat akibat membludaknya penonton yang
tidak bisa masuk. Batu dilempar dari luar panggung karena kehabisan tiket.
Bukan karena pementasannya jelek.
Ketika itu, drama gong mengalami masa keemasan. Masyarakat
ramai-ramai mengupah drama kalau ada upacara piodalan. Hingga harus pentas
setiap hari. Namun Rai Kalam tidak pernah bolos mengajar. Rai Kalam tahu betul
bahwa dengan mengajar tanpa putus ia sudah mencetak tunas-tunas bangsa yang
kelak meneruskan cita-cita para pejuang kemerdekaan. “Pagi masuk, sepulang
sekolah istirahat tidur, sore siap-siap berangkat dan malam pentas, begitu
setiap hari. Guru-guru di sekolah pun tidak tahu karena tiyang tak pernah
bolos,’’ ucap Rai Kalam.
PENGHARGAAN: Dedikasinya terhadap drama gong, AA Gede Rai Kalam banyak menerima penghargaan
Dengan kerja keras siang malam yang nyaris kurang istirahat, Rai Kalam bisa mengantarkan kelima putranya ke bangku pendidikan yang diidamkan. Kini ada yang sudah mencapai gelar profesor mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, guru SMP, kerja di Sayan, Nusa Dua dan jebolan Teknik Sipil Malang. ‘’Kami hanya bisa bersyukur, masih bisa melihat anak-anak dan cucu-cucu yang selalu rukun,’’ ujar Rai Kalam yang sempat bersalaman dengan orang nomor satu di negara ini kala mewakili Mahasaba Parisadha, sembari mengingat lagi ketika pentas di Ubud.
Pernah Rai Kalam sedikit terhenyak saat pentas di Peliatan
Ubud. Penonton marah-marah ketika pementasan selesai sekitar pukul 04.30-an. ‘’Amah pis kaine kali jani nyuudang drama
sambil kaak kuuk tidak mau bangun,’’ Rai Kalam mengenang pengalaman suka duka
ketika pentas. Pernah dilempar batu, diberhentikan sebelum cerita selesai,
dicaci karena peran, grup yang terus berganti seperti Kesatria Swastika Budaya,
Sancaya Dwipa, Bara Budaya.
Pentas drama gong yang diobral habis-habisan, terlebih lagi
pengaruh kemajuan teknologi dimana bisa masuk televisi sebagai satu kebanggaan
ternyata justru memukul diri sendiri. Mulai cara pikir masyarakat lebih memilih
menonton televisi daripada beli karcis. Pelan-pelan drama gong ditinggalkan
sampai festival pun ditiadakan karena tak menjamin dapat penonton.
PENTAS TERAKHIR: Berkumpul dengan para seniman tua di PKB atas prakarsa wakil gubernur Ketut Sudikerta
Namun ada satu momen special yang mengingatkan masa keemasan bersama rekan-rekan pemain. Ada salah seorang pejabat tinggi di Bali yang menginisiasi pementasan seniman tua drama gong BBT pada PKB 2016. Selain Rai Kalam juga hadir AA Raka Payadnya, Dabdab, Apel, Gangsar, Yudhana, Mongkeg, dll yang mendapat respons luar biasa dari penonton.
Pementasan di PKB tahun 2016 itu adalah pentas terakhir Rai
Kalam yang merasa tidak menduga bakal menjadi seniman drama gong karena orang
tuanya bukanlah seniman melainkan pegawai pengadilan. Justru darah kakeknyalah yang
menurun karena memang sebagai seniman gambuh, arja yang pernah malang melintang
mengajar ke daerah-daerah termasuk sampai ke Jembrana. ‘’Kalau sekarang bisa
jadi dapat penghargaan Wijaya Kusuma. Cuma saya tidak mau karena keturunan
beliau banyak. Pang sing pipise akebesan
mesogsag ajak nyama. Ikhlaskan saja,’’ ujar Rai Kalam yang telah
membaktikan karya dan pengetahuannya bagi pengembangan dan pelestarian
kehidupan seni dan budaya Bali telah banyak menerima penghargaan tidak saja
dari Pemerintah Daerah Klungkung juga Provinsi
Bali.
Dengan mudah bisa melihat beberapa penghargaan yang
disandangnya karena terpajang rapi di atas rak buku yang menyimpan berbagai macam
babad, sejarah, buku agama, dan jurnal-jurnal kebudayaan Bali. Di antaranya penghargaan
Aji Sewaka Nugraha dari Pemkab Klungkung, penghargaan pementasan seniman tua
dari Gubernur Dewa Beratha tahun 1999, penghargaan sebagai Pembina Dharma Wecana
dari Dinas Kebudayaan Bali tahun 2009,
penghargaan Dharma Kusuma tahun 2007 bidang seni drama gong, dll.
PEGHARGAAN DHARMA KUSUMA: Atas ketekunan dan dedikasinya sebagai seniman drama gong
Bagi AA Rai Kalam, bukan selembar kertas itu yang menjadi tujuan utama yang selama ini berpeluh di tengah malam, aktif di PHDI, tetap mengabdi sebagai guru hingga pensiun dan selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin berbagi pengalaman termasuk juga tetap dipercaya meminang perkawinan.
Namun ini jalan hidup yang harus dilalui hingga mengantarkan
memiliki banyak sahabat, saudara, kawan-kawan. ‘’Kije je nuju luwas, jeg gisine limane. Eling tyang gung lingsir. Nyen
kaden ne orang sing inget tanruh, jelek asane. Begitu ikhlas orang menyapa.
Kalau tiyang menolak tidak mengakui tidak sopan. Langsung saja jawab. Ty inget asane ken pak. Kije to pe…begitu
nyambung lebih akrab,’’ Rai Kalam mengingat percakapannya dengan seseorang.
Yang sedikit menjadi beban karena sering menceritakan sejarah
terutama judul Arya Getas yang banyak menyinggung pasemetonan. Di Mengwi pernah
seseorang bertanya, ‘’Cokor dewa
ngelampahang Arya Getas, nyabcab penglingsir tyange niki, indayang nikaang,
sapunapi awanan nak lingsir tyange wenten ke Bali,’’ begitu seseorang
bertanya.
Sejujurnya, Rai Kalam mengaku tidak tahu persis karena
memang tidak mempersiapkan diri. Seperti berjalan memungut sebilah bambu kemudian
ada yang bertanya sambil membawa sesaji memohon agar diberikan bambu. ‘’Dimana
dicarikan karena merasa tidak mempersiapkan diri,’’ aku Rai Kalam
Begitu juga keseriusannya memainkan dialog sebagai Ngurah
Bayan membuat warga Bali di Lombok banyak yang tidak suka. ‘’ Bes teleb bene nampi... Ada dialog saya
yang membuat mereka tersinggung ….jani
mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake…
disubane napak, rasaang ditu kenken tis panes…kebus…ne kenken ke kitaang.
Mekite puun ci dini. Itu membuat tersinggung semeton Baline,’’ ujar Rai
Kalam seraya melanjutkan dari dialog ini dikira seluruhnya bisa ngeleak,
padahal cuma mencari upah.
Rai Kalam menyadari betul, sebagai seniman drama membutuhkan
kesadaran bahwa sedang menipu orang, penuh kepura-puraan dan penuh seolah-olah.
Seperti raden galuh yang menangis yang membuat penonton terhanyut menangis. Tetapi
yang penting jangan berlebih-lebihan dan jangan menganggap penonton bodoh.
Berikanlah apa yang disukai penonton.
Pernah satu kejadian salah satu pemain dilempari telor busuk
di atas panggung setelah berpisah dari grup yang membesarkannya. Karena itu
pesan terakhir Rai Kalam, sebagai pemain tidak boleh egois. Setiap peran sangat
didukung oleh peran yang lain. Putri tanpa dayang atau raja tanpa patih, ibarat
bulan tanpa bintang. (Gede Sumida)
PENANDATANGANAN PRASASTI: Anggota DPRD Badung Wayan Sugita Putra mendampingi Bupati Badung Wayan Adi Arnawa bersama Nyonya Rasniathi Adi Arnawa penandatanganan prasasti saat “Nodya Karya Pangeratep Mapedudusan Agung”, “Menawa Ratna” di Pura Segara Desa Adat Ungasan, Kuta Selatan, Selasa (9/12). (Foto: ist)
Badung, baliilu.com – Anggota DPRD Badung Wayan Sugita Putra menghadiri Karya Pangeratep Mapedudusan Agung, Menawa Ratna di Pura Segara Desa Adat Ungasan, Kuta Selatan, Anggara Kliwon Wuku Medangsia, Selasa (9/12). Upacara dipuput oleh Tri Sadaka yaitu Ida Rsi Wayahan Suta Dharma Jaya Giri, Ida Budha Sikara dan Ida Pedanda Kusamba.
Hadir pada upacara tersebut Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa didampingi Ketua TP PKK Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa. Turut hadir Camat Kuta Selatan Ketut Gede Arta, unsur Tripika Kecamatan Kuta Selatan, Perbekel Ungasan, Bendesa Adat Ungasan, Prajuru Dinas dan Adat se-Desa Adat Ungasan, serta Krama Agung Desa Adat Ungasan.
Usai melaksanakan persembahyangan bersama krama pengempon pura, Bupati Adi Arnawa menyerahkan punia sebesar Rp 50 juta yang diterima Bendesa Adat Ungasan Wayan Disel Astawa. Bupati juga menandatangani prasasti sebagai wujud dukungan Pemerintah Kabupaten Badung terhadap pelaksanaan karya.
Pada kesempatan tersebut, Bupati menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Krama Agung Desa Adat Ungasan yang telah berhasil melaksanakan Karya Pangeratep Mapedudusan Agung, Menawa Ratna di Pura Segara Desa Adat Ungasan yang kebetulan juga berlokasi di Destinasi Wisata Pantai Melasti yang dikenal memiliki panorama alam yang sangat indah.
“Saya baru pertama kali menginjakkan kaki di Destinasi Wisata Pantai Melasti dan apa yang selama ini saya dengar memang benar adanya. Pantai Melasti memiliki panorama alam yang indah dan menawan. Atas nama Pemerintah Kabupaten Badung, kami akan selalu mendukung perencanaan dan program-program Desa Adat Ungasan,” ujar Adi Arnawa.
Bupati berharap melalui pelaksanaan karya suci ini, Krama Agung Desa Adat Ungasan senantiasa mendapatkan anugerah keselamatan, kerahayuan, dan kesejahteraan, serta Pemerintah Kabupaten Badung diberikan tuntunan dalam menjalankan roda pemerintahan demi kemajuan daerah dan masyarakat. (gs/bi)
HADIRI KARYA: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Ketua TP PKK Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara saat menghadiri “Karya Pemelaspas, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, Mupuk Pedagingan, Mecaru Rsi Gana” dan “Mecaru Wraspati Kalpa” di Parahyangan Padmasana Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Kota Denpasar bertepatan dengan Purnama Sasih Kaenem, Kamis (4/12). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Ketua TP PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara menghadiri Karya Pemelaspas, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, Mupuk Pedagingan, Mecaru Rsi Gana dan Mecaru Wraspati Kalpa di Parahyangan Padmasana Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Kota Denpasar bertepatan dengan Purnama Sasih Kaenem, Kamis (4/12). Upacara tersebut dilaksanakan sebagai upaya melengkapi upacara serta mewujudkan keseimbangan berlandaskan Tri Hita Karana.
Hadir dalam kesempatan tersebut Forkopimda Kota Denpasar, Kepala Kantor Kemenag Kota Denpasar, Ida Bagus Ketut Rimbawan, Ketua MDA Kota Denpasar, AA Ketut Sudiana, Pimpinan OPD serta undangan lainnya. Diiringi suara gambelan dan kidung, rangkaian karya diawali dengan sesolahan Tari Rejang Dewa, Tari Rejang Renteng dan Topeng Wali. Seluruh rangkaian diakhiri dengan persembahyangan bersama dan ngerebeg caru.
Kadis Pariwisata Kota Denpasar, Ni Luh Putu Ryastiti mengatakan, Karya Pemelaspas, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, Mupuk Pedagingan, Mecaru Rsi Gana dan Mecaru Wraspati Kalpa di Parahyangan Padmasana Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Kota Denpasar ini dilaksanakan sebagai implementasi Tri Hita Karana. Sehingga keharmonisan dapat terus tercipta secara berkelanjutan baik sekala maupun niskala.
Dikatakannya, rangkaian karya telah dimulai sejak 26 November lalu yang diawali dengan nanceb tetaring, mareresik dan masang wastra. Dilanjutkan dengan matur piuning karya yang dilaksanakan pada 30 November. Sedangkan puncak karya dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Sasih Kaenem pada Kamis (4/12). Setelah pelaksanaan puncak karya, rangkaian akan dilanjutkan dengan penyineban yang akan dilaksanakan pada Jumat (5/12).
“Semoga dengan pelaksanaan upacara ini dapat menjaga keseimbangan baik parahyangan, palemahan dan pawongan, sehingga DNA sebagai pusat kegiatan kreatif dapat terus tumbuh dan berkembangn dengan optimal,” ujarnya.
Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi atas pelaksanaan aci di parahyangan suci. Hal ini tentu sejalan dengan visi Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju berlandaskan spirit Vasudhaiva Kutumbakam yang bermakna menyama braya bahwa kita semua bersaudara.
Lebih lanjut dijelaskan, Karya Pemelaspas, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, Mupuk Pedagingan, Mecaru Rsi Gana dan Mecaru Wraspati Kalpa di Parahyangan Padmasana Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Kota Denpasar ini merupakan tahapan yang harus dilaksanakan. Sehingga bangunan suci dapat digunakan untuk kegiatan upacara dan pemujaan. Upacara ini juga merupakan wujud sradha bhakti seluruh jajaran DNA Kota Denpasar kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Sehingga menjadi sebuah momentum untuk menjaga keharmonisan antara parahyangan, palemahan, dan pawongan sebagai implementasi dari Tri Hita Karana.
“Dengan pelaksanaan Karya Pemelaspas, Ngenteg Linggih, Padudusan Alit, Mupuk Pedagingan, Mecaru Rsi Gana dan Mecaru Wraspati Kalpa di Parahyangan Padmasana Gedung Dharma Negara Alaya (DNA) Kota Denpasar ini mari kita tingkatkan sradha bhakti kita sebagai upaya menjaga harmonisasi antara parahyangan, pawongan, dan palemahan sebagai implementasi Tri Hita Karana,” ujar Jaya Negara. (eka/bi)
HADIRI UPACARA: Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri upacara “Melaspas” dan “Mendem Pedagingan” bale kulkul di Balai Banjar Ceramcam, Desa Adat Kesiman, pada Kamis (4/12). (Foto: Hms Dps)
Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri upacara Melaspas dan Mendem Pdagingan bale kulkul di Balai Banjar Ceramcam, Desa Adat Kesiman, pada Kamis (4/12).
Turut hadir Panglingsir Puri Kesiman, AA Ngurah Gede Kusuma Wardana, Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Marhaendra Jaya, Camat Denpasar Timur, Ketut Sri Karyawati serta warga masyarakat banjar setempat yang sejak pagi telah memadati area persembahyangan.
Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi atas semangat gotong-royong dan kebersamaan masyarakat dalam mendukung pembangunan di Balai Banjar Ceramcam. Hal ini sesuai dengan Visi Kota Kreatif Berbasis Budaya Menuju Denpasar Maju dengan spirit vasudhaiva khutumbakam yang bermakna kita semua bersaudara.
Pihaknya mengatakan bahwa upacara Melaspas serangkaian rampungnya Bale Kulkul ini merupakan momentum bagi seluruh masyarakat untuk selalu eling dan meningkatkan srada bakti kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, sehingga dapat menjadi momentum untuk menjaga keharmonisan antara parahyangan, palemahan, dan pawongan sebagai implementasi dari Tri Hita Karana.
“Dengan pelaksanaan upacara pemelaspasan ini mari kita tingkatkan rasa sradha bakti kita sebagai upaya menjaga harmonisasi antara parhyangan, pawongan, dan palemahan sebagai implementasi Tri Hita Karana,” ujarnya.
Sementara Kelihan Banjar Ceramcam, Ketut Puja mengatakan adapun pelaksanaan renovasi dan pembangunan ini telah dimulai sejak September 2025. Perbaikan yang dilaksanakan yakni perbaikan Bale Kulkul Jero Luh dan Bale Kulkul krama Banjar Ceramcam. Pada upacara turut pula dilaksanakan prosesi Mendem Pedagingan Mulang Dasar.
“Kami sangat berterimakasih kepada Pemkot Denpasar. Dan kami berharap dengan pelaksanaan upacara ini agar dapat terus mempertahankan tradisi, adat, dan budaya serta keharmonisan umat di Kota Denpasar, khususnya masyarakat kami di Banjar Ceramcam,” katanya. (eka/bi)