Connect with us

BUDAYA

Jejak sang Maestro Drama Gong AA Gede Rai Kalam, Pernah Dilempar Batu dan Diberhentikan di Panggung

BALIILU Tayang

:

de
AA GEDE RAI KALAM: Sang Maestro Drama Gong. (Ft: Sumida)

JIKA mengingat dialog pertengkaran Ngurah Bayan yang diperankan AA Gede Rai Kalam dengan Arya Getas yang diperankan Wayan Lodra, …mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake ….begitu juga petikan dialog berjudul Ida Ayu Genit, Sukerti…Sukerti… satmako….  yang begitu melekat di hati masyarakat Bali, maka bayangan kita akan kembali mengenang drama gong, salah satu ganre seni pentas yang sempat berjaya di zamannya. Anak Agung Gede Rai Kalam adalah salah satu saksi sejarah akan kelahiran drama gong era akhir 60-an hingga masa suramnya setelah terlindas arus teknologi.

Hanya menempuh jalan gang sepanjang 50-an meter, kita bisa menemukan kediaman sang maestro drama gong Anak Agung Gede Rai Kalam di Banjar Satria Kawan Kecamatan Dawan Klungkung. Tidak sulit bertemu sang pemeran patih anom ini, karena pintu selalu terbuka untuk siapa saja. Tidak saja para pegiat seni yang ingin menimba ilmu, masyarakat yang ingin meminta bantuan meminang istri, juga para awak media yang ingin menggali lebih dalam perihal dunia drama gong. ‘’Semasih hayat di kandung badan, pintu selalu terbuka jika ada yang minta bantuan,’’ ujar pensiunan guru SD yang kini sudah berusia 81 tahun.

AA Gede Rai Kalam memang tak pernah diam. Di usianya yang sudah semakin uzur, ia tak pernah surut mengasah diri dengan membaca beragam buku baik tentang babad, sejarah, agama, kebudayaan. Banyak koleksi buku yang tersimpan rapi, ada beberapa di antaranya di atas meja yang masih dibaca sambil menonton TV saban hari. Terlebih lagi ketika diajak berbincang seputar jejak drama gong, Rai Kalam masih sanggup menelisik ingatannya sampai hal-hal kecil. Bagaimana ia pernah dilempari batu saat di panggung, diberhentikan ketika pementasan masih berlangsung, mengingat wajah Cokorda Anom Bupati yang marah ketika Klungkung mendapat juara II festival drama. Wajahnya berbinar ketika bercerita kisah kelahiran drama gong, dari zaman keemasan, suka-dukanya hingga mengalami masa suram.

Sesepuh drama kelahiran 21 Juni 1938 namun tercatat di SK pengangkatan guru tertanggal 11 September 1939 ini tidak menduga dirinya bakal menjadi pemain drama yang begitu dikenal luas, hingga meraih berbagai penghargaan dari tingkat kabupaten sampai provinsi, yang juga mengantarkan putra-putrinya bisa menempuh pendidikan tinggi dan membangun rumah yang sebelumnya mendapat warisan sebuah gubuk.

de
SEMANGAT: Di usia uzur, AA Gege Rai Kalam tetap semangat berbincang perihal drama gong

Semua itu bermula dari pasca gejolak G30S- PKI. Dimana masyarakaat merasa tertekan oleh pertentangan politik yang demikian dahsyat. Untuk menenangkan dan menghibur masyarakat maka muncullah kegiatan berkesenian di tiap-tiap banjar. Lahir sekaa janger, sekaa parwa, sekaa drama gong. Bahkan di Satria sendiri muncul dua sekaa drama gong baik di Satria Kawan dan Kangin.

Menjamurnya sekaa-sekaa seni di era 1967-an, mendorong pemerintah daerah melalui Listibiya melakukan pembinaan dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas. Di antaranya melalui gelar seleksi festival antar-kecamatan yang nantinya akan mewakili Klungkung di tingkat provinsi. Sedikitnya ada 25 sekaa yang terlibat. Selain untuk seleksi, sekaligus juga untuk mengembalikan ketenangan masyarakat setelah tragedi G30S-PKI yang menelan banyak korban para seniman.

‘’Saya tidak tahu persis. Akhirnya sekaa gong Nilotama Smara Bumi melalui Listibiya Klungkung pentas di provinsi,’’ ujar Rai Kalam yang saat itu juga ikut di Listibiya bidang Drama Gong yang mengantarkan pertemuannya dengan I Made Kanta, penekun babad yang juga ikut bermain drama.

Untuk memilih judul, pensiunan guru tertanggal 1 Oktober 1999 bersama Made Kanta berusaha mencari bahan sejarah sampai ke Gedong Kirtya Singaraja. Drama Gong Nilotama Smara Bumi mendapat jadwal pentas 22 Agustus 1970 di gedung Lila Buana Kreneng Denpasar. ‘’Kami hampir mendapat nomor 1 karena mengangkat cerita sejarah yang unik Jelantik Bogol,’’ kenang Rai Kalam sambil menonton televisi.

Baca Juga  Stop Transmisi Lokal, Kelurahan Sanur Mantapkan Pelaksanaan PKM

Rai Kalam mengingat-ngingat, Jelantik Bogol adalah anak dari I Gusti Ngurah Jelantik yang namanya Jelantik Bungaya yang dikirim bertempur ke Nusa Penida oleh Ida Dalem Dimade. Dia sebenarnya ingin gugur di medan perang karena leluhurnya mendapat tempat yang jelek dan berharap keturunannya bisa menebus dosa orangtuanya dengan jalan gugur di medan perang. Gusti Ngurah Jelantik pun dengan sengaja berperang tanpa senjata atau memogol. Karena ayahnya sengaja mencari mati di peperangan dengan cara memogol, maka putranya yang masih bayi disebut Gusti Jelantik Bogol.

de
BERTEMU PRESIDEN: AA Gede Rai Kalam bersama Presiden Soeharto saat Mahasaba Parisadha

Sebagai sutradara, AA Gede Rai Kalam yang menyuguhkan sebuah kisah sejarah yang berbeda dengan judul sama yang dibuat kabupaten lain, mendapat kritik habis-habisan di depan tim juri provinsi. Toh begitu, Rai Kalam kukuh mempertanggungjawabkan pendiriannya. Termasuk juga mempertahankan pandangannya ketika Dalem Bungkut gugur, Gusti Jelantik tidak mau menyembah. Berbeda dengan pandangan tim juri, yang sepatutnya Gusti Jelantik nyumbah.

Pandangan yang berbeda ini karena tim juri meyakini Dalem Bungkut keturunan Dalem Bedahulu. Entah bagaimana prosesnya sampai ke Nusa. Sebaliknya, Rai Kalam berpendapat Dalem Bedahulu meninggal karena sakit hati putranya gugur ketika diserang Majapahit. Dalem Bedahulu tidak berperang, mendengar putranya yang gugur beliau bunuh diri.

Kemudian Rai Kalam mengumpamakan. Di Lepang ada pregusti, predewa berkawan dengan ida bagus dari Buleleng. ‘’Bantes mekantenan. Ne madan hubungan kebrayaan. Seda ida bagus nyak gusti uli Lepang nyumbah. Sekarang saja tidak berani apalagi dulu,’’ begitu Rai Kalam memberi contoh betapa ketatnya soal sumbah-menyumbah.

‘’Sudah saya kasi sembilan terpaksa potong menjadi enam,’’ kenang Rai Kalam menirukan ucapan juri yang membuat dirinya sempat membantah bahwa ‘’Apalagi dalam peperangan, teman saja tidak mau nyumbah’’. Akhirnya mendapat nomor dua. ‘’Ngambul Cokorda Anom Bupati, de de, de juange hadiahe,’’ begitu Rai Kalam menirukan ucapan Cok Anom.

Sedikit menghela nafas, ayah berputra lima yang rambutnya sudah memutih ini rada tersenyum mengenang kisah pentasnya di Lila Buana. Kalau tidak menjadi pemain drama gong tidak mungkin nginjak gumi Badung. Walau hanya numpang truk, Rai Kalam tetap bersemangat sesuai dengan nama sekaa drama gongnya Nilotama Smara Bumi, orang utama dari bumi Semarapura.  Ia ingin menunjukkan diri sebagai putra Semarapura.

Di balik perlakuan juri yang membekas di hati ada kisah yang membuat Rai Kalam tetap menapaki jalan terjal drama gong. Bahkan harus sampai mencuri keris pejenengan di merajan agung. Keris luk sembilan, dengan ganjan emas, lekuknya juga emas, di tengah di atas barong berisi gambar acintya tembus yang juga berbahan emas. ’’Aud tiyang, mekesiab penontone. Tiyang ngamuk bakal ngematiang Ngurah Jelantik Bogol,’’ tutur Rai Kalam. Kala itu, Rai Kalam berperan sebagai Gusti Jimbaran, patih Dalem Bungkut yang berperang karena kedudukan dan wanita.

Turun dari panggung Lila Buana, ia dicegat seseorang yang kemudian dikenal bernama Ngurah Putra. Lelaki yang berpostur tegap itu memberi ucapan selamat atas peran Gusti Jimbaran yang begitu menyentuh hatinya. Ngurah Putra pun mengabadikan sebutan Gusti Jimbaran sebagai nama samarannya Arya Jimbaran yang kemudian dikenal sebagai pemain drama klasik yang begitu piawai memerankan tokoh Bima. ‘’Ulian adan tiyange di panggung diapresiasi bagus,’’ tutur Rai Kalam.

Festival drama gong tingkat provinsi yang menarik perhatian besar masyarakat yang haus hiburan, membuat seseorang dari Gianyar berinisiatif menggelar sebuah pentas drama gong yang diambil dari pemeran-pemeran terbaik drama yang ada di Bali. Selain Rai Kalam ada juga Dayu Manik sebagai putri. ‘’Diundang main drama di Banjar Teges Gianyar. Masih pentas di panggung sudah banyak yang mau ngupah. Siapa yang berani menyanggupi apalagi cuma pentas sekali,’’ kata Rai Kalam. Akhirnya seorang kawan merencanakan membuat drama gong yang kemudian bernama Bintang Bali Timur.

Baca Juga  Imported Case 78,15%, Gubernur Koster Instruksikan Pendataan PMI dan Krama Berbasis Desa Adat

Dari Bintang Bali Timurlah, Rai Kalam dkk pentas ke mana-mana. Hampir menjelajahi seluruh kabupaten yang ada di Bali. Hingga mengingatkan pementasannya diberhentikan panitia di sebuah daerah di sekitar Peninjoan Bangli meski belum usai.  ‘’Nawegang-nawegang, mangde tiyang nenten ngaturang upakara penyineb malih. Yen tatas rahine artine ngadeg betara tiyang malih,’’ ujar Rai Kalam menirukan ucapan pemangku seraya bersyukur diberhentikan bukan karena tidak suka tetapi karena waktu.

de
PENTAS DI TELEVISI: Antara semakin dikenal atau Mengancam diri sendiri

Masalah klise sambil melentik-lentikkan jemarinya, Bintang Bali Timur mengalami gonjang-ganjing. Rai Kalam sebagai pemeran patih anom yang sudah begitu melekat di hati masyarakat sempat bermuka dua. Di BTT tetap jalan, di sekaa gong Abian Base Gianyar pimpinan AA Raka Payadnya juga ikut.

Listibiya sebagai sebuah lembaga pembina dan pengembangan kebudayaan tak pernah surut merawat drama gong melalui parade atau festival yang digelar setiap tahun. Bahkan mendapat kesempatan pentas di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta pada tahun 73-74-an. ‘’Cuma saya tidak berani ikut karena sebagai guru,’’ aku Rai Kalam.

Walau Rai Kalam begitu dielu-elukan di setiap pementasan dan bisa pentas setiap hari, namun Rai Kalam tetap tidak pernah absen mengajar di Sekolah Dasar Lebu Karangasem. Bahkan rekan-rekan guru pun tidak tahu bahwa dirinya setiap malam menghibur masyarakat. ‘’Ini tanggung jawab moral sebagai tenaga pendidik yang harus meneruskan ilmu yang sudah diterima di bangku SGA. Namun juga bertanggung jawab sebagai penghibur masyarakat. Hanya tidur setelah pulang sekolah dan memanfaatkan tidur di sela-sela pementasan. Itu semua demi keluarga, demi anak didik dan juga demi masyarakat yang butuh hiburan,’’ terang Rai Kalam yang mengaku gaji guru hanya cukup untuk makan. Belum lagi kesibukannya di Listibiya, sebagai tim penilai, dan juga  sebagai krama banjar seringkali didaulat menjadi pembicara pernikahan.

Di balik BTT yang terus memudar lantaran salah kelola, hadir Cokorde Bagus Sayoga yang menjabat Ketua DPD PNI Fron Marhaenis Bali yang membangun drama bercap PNI bernama Kesatria Swastika Budaya. Beberapa tahun kemudian para pentolan drama kembali menghidupkan BBT dengan judulnya yang terkenal Sang Ayu Genit, Galuh Ngangon Meri alias Adnyaswari.

Sebagai jebolan Lila Buana yang menjadi tolok ukur drama yang disukai masyarakat kala itu, BBT mendapat kepercayaan pentas di mana-mana, termasuk di Pesta Kesenian Bali yang menjadi momen terpenting sebuah pengakuan sebagai seniman. BBT bisa sampai dua kali pentas dalam satu rangkaian PKB karena peminatnya luar biasa. ‘’Das tiyang kene batu,’’ begitu Rai Kalam mengingat akibat membludaknya penonton yang tidak bisa masuk. Batu dilempar dari luar panggung karena kehabisan tiket. Bukan karena pementasannya jelek.

Ketika itu, drama gong mengalami masa keemasan. Masyarakat ramai-ramai mengupah drama kalau ada upacara piodalan. Hingga harus pentas setiap hari. Namun Rai Kalam tidak pernah bolos mengajar. Rai Kalam tahu betul bahwa dengan mengajar tanpa putus ia sudah mencetak tunas-tunas bangsa yang kelak meneruskan cita-cita para pejuang kemerdekaan. “Pagi masuk, sepulang sekolah istirahat tidur, sore siap-siap berangkat dan malam pentas, begitu setiap hari. Guru-guru di sekolah pun tidak tahu karena tiyang tak pernah bolos,’’ ucap Rai Kalam.

de
PENGHARGAAN: Dedikasinya terhadap drama gong, AA Gede Rai Kalam banyak menerima penghargaan

Dengan kerja keras siang malam yang nyaris kurang istirahat, Rai Kalam bisa mengantarkan kelima putranya ke bangku pendidikan yang diidamkan. Kini ada yang sudah mencapai gelar profesor mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, guru SMP, kerja di Sayan, Nusa Dua dan jebolan Teknik Sipil Malang. ‘’Kami hanya bisa bersyukur, masih bisa melihat anak-anak dan cucu-cucu yang selalu rukun,’’ ujar Rai Kalam yang sempat bersalaman dengan orang nomor satu di negara ini kala mewakili Mahasaba Parisadha, sembari mengingat lagi ketika pentas di Ubud.

Baca Juga  Peletakan Batu Pertama Pasar Umum Gianyar, Gubernur: Terus Solid Bergerak untuk Ekonomi Rakyat Gianyar

Pernah Rai Kalam sedikit terhenyak saat pentas di Peliatan Ubud. Penonton marah-marah ketika pementasan selesai sekitar pukul 04.30-an. ‘’Amah pis kaine kali jani nyuudang drama sambil kaak kuuk tidak mau bangun,’’ Rai Kalam mengenang pengalaman suka duka ketika pentas. Pernah dilempar batu, diberhentikan sebelum cerita selesai, dicaci karena peran, grup yang terus berganti seperti Kesatria Swastika Budaya, Sancaya Dwipa, Bara Budaya.

Pentas drama gong yang diobral habis-habisan, terlebih lagi pengaruh kemajuan teknologi dimana bisa masuk televisi sebagai satu kebanggaan ternyata justru memukul diri sendiri. Mulai cara pikir masyarakat lebih memilih menonton televisi daripada beli karcis. Pelan-pelan drama gong ditinggalkan sampai festival pun ditiadakan karena tak menjamin dapat penonton.

de
PENTAS TERAKHIR: Berkumpul dengan para seniman tua di PKB atas prakarsa wakil gubernur Ketut Sudikerta

Namun ada satu momen special yang mengingatkan masa keemasan bersama rekan-rekan pemain. Ada salah seorang pejabat tinggi di Bali yang menginisiasi pementasan seniman tua drama gong BBT pada PKB 2016. Selain Rai Kalam juga hadir AA Raka Payadnya, Dabdab, Apel, Gangsar, Yudhana, Mongkeg, dll yang mendapat respons luar biasa dari penonton.

Pementasan di PKB tahun 2016 itu adalah pentas terakhir Rai Kalam yang merasa tidak menduga bakal menjadi seniman drama gong karena orang tuanya bukanlah seniman melainkan pegawai pengadilan. Justru darah kakeknyalah yang menurun karena memang sebagai seniman gambuh, arja yang pernah malang melintang mengajar ke daerah-daerah termasuk sampai ke Jembrana. ‘’Kalau sekarang bisa jadi dapat penghargaan Wijaya Kusuma. Cuma saya tidak mau karena keturunan beliau banyak. Pang sing pipise akebesan mesogsag ajak nyama. Ikhlaskan saja,’’ ujar Rai Kalam yang telah membaktikan karya dan pengetahuannya bagi pengembangan dan pelestarian kehidupan seni dan budaya Bali telah banyak menerima penghargaan tidak saja dari Pemerintah Daerah Klungkung  juga Provinsi Bali.

Dengan mudah bisa melihat beberapa penghargaan yang disandangnya karena terpajang rapi di atas rak buku yang menyimpan berbagai macam babad, sejarah, buku agama, dan jurnal-jurnal kebudayaan Bali. Di antaranya penghargaan Aji Sewaka Nugraha dari Pemkab Klungkung, penghargaan pementasan seniman tua dari Gubernur Dewa Beratha tahun 1999, penghargaan sebagai Pembina Dharma Wecana dari Dinas Kebudayaan Bali tahun 2009,  penghargaan Dharma Kusuma tahun 2007 bidang seni drama gong, dll.

de
PEGHARGAAN DHARMA KUSUMA: Atas ketekunan dan dedikasinya sebagai seniman drama gong

Bagi AA Rai Kalam, bukan selembar kertas itu yang menjadi tujuan utama yang selama ini berpeluh di tengah malam, aktif di PHDI, tetap mengabdi sebagai guru hingga pensiun dan selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin berbagi pengalaman termasuk juga tetap dipercaya meminang perkawinan.

Namun ini jalan hidup yang harus dilalui hingga mengantarkan memiliki banyak sahabat, saudara, kawan-kawan. ‘’Kije je nuju luwas, jeg gisine limane. Eling tyang gung lingsir. Nyen kaden ne orang sing inget tanruh, jelek asane. Begitu ikhlas orang menyapa. Kalau tiyang menolak tidak mengakui tidak sopan. Langsung saja jawab. Ty inget asane ken pak. Kije to pe…begitu nyambung lebih akrab,’’ Rai Kalam mengingat percakapannya dengan seseorang.

Yang sedikit menjadi beban karena sering menceritakan sejarah terutama judul Arya Getas yang banyak menyinggung pasemetonan. Di Mengwi pernah seseorang bertanya, ‘’Cokor dewa ngelampahang Arya Getas, nyabcab penglingsir tyange niki, indayang nikaang, sapunapi awanan nak lingsir tyange wenten ke Bali,’’ begitu seseorang bertanya.

Sejujurnya, Rai Kalam mengaku tidak tahu persis karena memang tidak mempersiapkan diri. Seperti berjalan memungut sebilah bambu kemudian ada yang bertanya sambil membawa sesaji memohon agar diberikan bambu. ‘’Dimana dicarikan karena merasa tidak mempersiapkan diri,’’ aku Rai Kalam

Begitu juga keseriusannya memainkan dialog sebagai Ngurah Bayan membuat warga Bali di Lombok banyak yang tidak suka. ‘’ Bes teleb bene nampi... Ada dialog saya yang membuat mereka tersinggung ….jani mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake… disubane napak, rasaang ditu kenken tis panes…kebus…ne kenken ke kitaang. Mekite puun ci dini. Itu membuat tersinggung semeton Baline,’’ ujar Rai Kalam seraya melanjutkan dari dialog ini dikira seluruhnya bisa ngeleak, padahal cuma mencari upah.

Rai Kalam menyadari betul, sebagai seniman drama membutuhkan kesadaran bahwa sedang menipu orang, penuh kepura-puraan dan penuh seolah-olah. Seperti raden galuh yang menangis yang membuat penonton terhanyut menangis. Tetapi yang penting jangan berlebih-lebihan dan jangan menganggap penonton bodoh. Berikanlah apa yang disukai penonton.

Pernah satu kejadian salah satu pemain dilempari telor busuk di atas panggung setelah berpisah dari grup yang membesarkannya. Karena itu pesan terakhir Rai Kalam, sebagai pemain tidak boleh egois. Setiap peran sangat didukung oleh peran yang lain. Putri tanpa dayang atau raja tanpa patih, ibarat bulan tanpa bintang. (Gede Sumida)

BUDAYA

Bupati Giri Prasta Hadiri Karya Maligya di Griya Simpangan Buduk

Published

on

By

de
KARYA MALIGYA: Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri Karya Maligya Ida Pedanda Putra Lor Singarsa di Griya Simpangan Buduk, Minggu (11/4).

Badung, baliilu.com – Bertepatan dengan Tilem Kedasa yang jatuh pada Rahina Redite Paing Wuku Dungulan, Minggu (11/4 ), Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menghadiri Karya Maligya Ida Pedanda Putra Lor Singarsa di Griya Simpangan Buduk.

Pada saat yang sama juga dilaksanakan upacara memukur yang diikuti 56 Sawa Sekah di antaranya ada dari Desa Tumbak Bayuh, Abianbase dan Kapal. Upacara yang dipuput oleh Ida Pedanda Griya Taman Tumbak Bayuh ini juga dihadiri oleh anggota DPRD Badung Ida Bagus Alit Arga Patra, Perbekel Buduk I Ketut Wira Adi Atmaja, serta tokoh masyarakat setempat. Pada kesempatan tersebut Giri Prasta menyerahkan bantuan punia secara pribadi sebesar Rp 25 juta.

Dalam sembrama wecananya, Bupati Badung Giri Prasta turut mendoakan agar upacara yang dilaksanakan ini berjalan dengan lancar, labda karya sida sidaning don. Tidak lupa juga diingatkan kepada masyarakat untuk senantiasa menaati protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah dalam upaya mencegah dan memutus penyebaran rantai Covid-19.

Sementara itu prawartaka karya Ida Bagus Purba menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bupati Badung yang telah berkenan hadir dan ikut mendoakan agar karya berjalan dengan lancar. Disampaikan juga dudonan karya sudah dilaksanakan sejak tanggal 18 Maret bertepatan dengan Wraspati Pon Wariga dilakukan proses Mapejati ring Mrajan Ageng, tanggal 19 Maret Sukra Wage Wariga dengan Ngeruwak Karang Suci dan Tancep Surya, tanggal 27 Maret Saniscara Paing Warigadean Nunas Tirta Sidakarya, tanggal 28 Maret Redite Pon Julungwangi Melaspas Wewangunan Sarana Siwosan, tanggal 29 Maret Soma Wage Julungwangi Pengiring ke Peyadnyan, tanggal 30 Maret Angara Kliwon Julungwangi Ngingsah, tanggal 5 April Soma Umanis Sungsang Nunas Pekuluh, tanggal 7 April Buda Pon Sungsang Nunas Don Bingin, tanggal 8 April Wraspati Sungsang Ngajum Puspa, tanggal 9 April Sukra Kliwon Sungsang Mendak Toye Ning, tanggal 10 April Saniscara Umanis Sungsang Metatah, Mepetik, tanggal 11 April Redite Paing Dungulan Pengaskaran, Wayang dan Topeng, tanggal 12 April Soma Pon Dungulan dilakukan proses Metetangi dan Meprelina.

Rangkaian dan tahapan upacara atau karya melalui proses yang diawali dengan purwadaksina dimana puspa-puspa lingga atau sarana perlengkapannya diusung berputar mengelilingi balai peyadnyan sebanyak tiga kali. Dalam upacara purwadaksina ini digunakan seekor lembu putih (lembu taro) yang juga berputar sebanyak tiga kali sebagai penuntun jalan. Upacara ini memiliki makna nedunang Ida Bhatara untuk mengangkat roh manusia naik ke alam surga dengan jalan mengikuti jejak lembu yang merupakan kendaraan Dewa Siwa. Diharapkan roh-roh itu mengikuti jejak Batara Siwa, untuk menuju Swah Loka.

Baca Juga  Tata Wajah Kota, Satpol PP Denpasar Tertibkan Spanduk dan Baliho di Jalan Gunung Agung

Upacara dilanjutkan dengan Ngebejian atau memohon air suci di salah satu sumber mata air. Lalu menstanakan puspa lingga di bokor dan upacara dilanjutkan dengan matiti mamah. Upacara dilanjutkan dengan prosesi ngaliwet yakni membuat tarpana atau sesaji berupa nasi liwet dan selanjutnya mapadudus yang bermakna penyucian atma. Sebagai simbolis Ida Pedanda mengangkat atma dari alam Pitara ke Dewa Pitara dilakukan upacara Mralina yang dilanjutkan dengan nunjel puspa lingga (membakar sekar). (bt)

Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wabup Suiasa Serahkan Angklung kepada Krama Banjar Seseh Cemagi

Published

on

By

de
BANTUAN ANGKLUNG: Wabup Suiasa saat menyerahkan bantuan gambelan angklung kepada krama Banjar Seseh, Desa Adat Seseh, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Minggu (11/4).

Badung, baliilu.com – Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa menyerahkan bantuan gambelan angklung kepada krama Banjar Seseh, Desa Adat Seseh Desa Cemagi Kecamatan Mengwi, Minggu (11/4) di Balai Suka Duka Br. Seseh. Kehadiran Wabup Suiasa disambut Kadis Kebudayaan I Gede Eka Sudarwitha, Camat Mengwi I Nyoman Suhartana, Perbekel Cemagi Putu Hendra Sastrawan, Kelian Adat Br. Seseh I Wayan Mustika, Kelian Dinas Br. Seseh I Ketut Agus Adiputra, Sekaa Gong dan Krama Br. Seseh. Penyerahan gambelan angklung dikaitkan dengan upacara melaspas angklung dan melaspas bale kulkul sekaa. 

Wabup Suiasa atas nama Pemkab Badung merasa senang melihat semangat masyarakat dalam melaksanakan yadnya. Meskipun di masa pandemi Covid-19 saat ini, semangat masyarakat tidak surut dalam melaksanakan dan meningkatkan keberadaan seni, adat, agama dan budaya. Hal ini sangat sejalan dengan apa yang menjadi visi misi Pemkab Badung dalam upaya melestarikan seni dan budaya. “Meskipun dalam masa Covid, masalah beryadnya, tidak ada hentinya dan masyarakat selalu semangat. Dengan yadnya juga dapat meningkatkan rasa persaudaraan dan kebersamaan tetap terjaga dengan baik,” jelasnya.

Suiasa juga mengingatkan masyarakat agar tetap disiplin dan menaati protokol kesehatan. “Kita saat ini menerapkan PPKM, kegiatan seni, budaya dan agama itu tetap jalan, meskipun demikian masyarakat harus tetap mematuhi prokes yaitu tidak berkerumun, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker, ” imbuhnya.

Mengenai bantuan angklung ini, menurut Suiasa sebagai salah satu upaya mendukung yadnya di masyarakat khususnya upacara pitra yadnya. Hal ini pula akan dapat meningkatkan rasa subakti krama kehadapan Tuhan serta para leluhur. “Kita Hindu dalam beryadnya, disamping adanya upakara dan yajamana karya/pemuput, tidak lengkap rasanya kalau tidak ada wali, yang di dalamnya adanya seni tari dan tabuh salah satunya angklung ini, ” kata Suiasa seraya berharap gambelan angklung ini dapat dipakai seterusnya, dipelihara dengan baik serta dipakai untuk ngayah.

Baca Juga  Buku Puisi Berisi QR-Code, Tumbuhkan Minat Baca

Sementara itu Kelian Dinas Br. Seseh I Ketut Agus Adiputra menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Badung yang sudah memberikan bantuan gambelan angklung sesuai dengan harapan krama disini. Pihaknya bersama sekaa gong akan memanfaatkan gambelan ini dengan baik sehingga dapat meningkatkan keberadaan seni dan mendukung jalannya yadnya khususnya di Desa Adat Seseh. Ke depan pihaknya juga tidak henti-hentinya memohon kepada Pemkab Badung agar mendukung segala kegiatan di Desa Adat Seseh baik pembangunan maupun sosial kemasyarakatan. (bt)

Lanjutkan Membaca

BUDAYA

PSN Korda Badung Gelar Sarasehan Pemaknaan Banten Galungan dan Kuningan

Published

on

By

de
SARASEHAN BANTEN: Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Kabupaten Badung menggelar sarasehan Pemaknaan Banten Galungan dan Kuningan, bertempat di Ruang Pertemuan PHDI Kabupaten Badung, Sabtu (10/4).

Badung, baliilu.com – Dalam rangka menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan, Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Kabupaten Badung menggelar sarasehan Pemaknaan Banten Galungan dan Kuningan, bertempat di Ruang Pertemuan PHDI Kabupaten Badung, Sabtu (10/4). 

Serasehan dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung I Gede Eka Sudarwitha serta dihadiri oleh Ida Sulinggih PHDI Bali Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, Ida Dharma Upapati PHDI Badung Ida Pedanda Gede Ketut Putra Timbul, Ketua PHDI Badung I Gede Rudia Adiputra.

Kadis Kebudayaan I Gede Eka Sudarwitha dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada panitia pelaksana yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Kabupaten Badung karena sarasehan ini sangat bermakna dalam upaya untuk meningkatkan pemahaman terhadap makna Hari Raya Galungan dan Kuningan dari sisi tatwa, sastra dan pelaksanaan lainnya. Untuk sementara ini terbiasa dengan pelaksanaan dresta adat, namun ke depan pihaknya mengajak untuk bersama- sama meningkatkan kearah tatwa pemahaman dengan sastra agama.

“Dresta itu baik, adat budaya kita beda tetapi jika dibarengi dengan pemahaman esensi, inti sari dan makna dari pelaksanaan hari raya, upacara dan upakara dari pelaksanaan Hari Raya Galungan ini tentu lebih dapat meningkatkan pemahaman kita serta rasa sradha dan bhakti terhadap Ida Sang Hyang Widi Wasa dan Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya.

Ketua Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korda Kabupaten Badung I Nyoman Sukendra melaporkan sarasehan ini mengambil tema “Sarasehan Makna Banten Galungan dan Kuningan, Ista Dewata, Puja Mantra, Puja SAA, Puja Sonteng”, yang diikuti Pinandita/Pemangku se-Badung berjumlah 43 orang. “Dipilihnya makna banten Galungan dan Kuningan sebagai prioritas pertama mengingat Umat Hindu dalam waktu dekat akan menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan,” ujarnya seraya menambahkan hal ini juga dalam rangka memperkuat kualitas SDM kepemangkuan yang memerlukan penyamaan pandangan, gerak langkah antara lain dalam pemaknaan banten, tujuan dan fungsi banten demikian juga dalam melaksanakan upacara.

Baca Juga  Gubernur Koster Apresiasi Inisiatif Dewan Susun Ranperda Provinsi Bali, Pandangan Bijak Bangun Bali ke Depan

Dikatakan lebih lanjut pada era milenial ini, tidak bisa dihindari Pinandita/ Pemangku harus teleb meningkatkan keteleban terhadap pemahaman dan pengamalan Tri Kerangka Agama yaitu Tatwa, Susila dan Upakara/ Upacara (ritual). “Ketiga bagian itu harus dikuasai dan dijalankan dengan seimbang sehingga keharmonisan sebagai tindakan beragama bisa dicapai,” terangnya.

Terkait dengan fungsi dan tujuan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN), menurutnya adalah untuk meningkatkan kualitas pengabdian, kualitas sradha dan bhakti para pemangku / pinandita sehingga dapat melayani masyarakat Umat Hindu dalam hal kerohanian baik dalam pelaksanaan upacara, upakara yadnya dan pembinaan keumatan secara profesional. “Terkait dengan fungsi dan tujuan itulah alasannya kenapa pada hari ini dilakukan sarasehan mengenai makna banten Galungan dan Kuningan, ista dewata dan pujanya,” pungkasnya. (bt)

Lanjutkan Membaca