Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Jejak sang Maestro Drama Gong AA Gede Rai Kalam, Pernah Dilempar Batu dan Diberhentikan di Panggung

BALIILU Tayang

:

de
AA GEDE RAI KALAM: Sang Maestro Drama Gong. (Ft: Sumida)

JIKA mengingat dialog pertengkaran Ngurah Bayan yang diperankan AA Gede Rai Kalam dengan Arya Getas yang diperankan Wayan Lodra, …mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake ….begitu juga petikan dialog berjudul Ida Ayu Genit, Sukerti…Sukerti… satmako….  yang begitu melekat di hati masyarakat Bali, maka bayangan kita akan kembali mengenang drama gong, salah satu ganre seni pentas yang sempat berjaya di zamannya. Anak Agung Gede Rai Kalam adalah salah satu saksi sejarah akan kelahiran drama gong era akhir 60-an hingga masa suramnya setelah terlindas arus teknologi.

Hanya menempuh jalan gang sepanjang 50-an meter, kita bisa menemukan kediaman sang maestro drama gong Anak Agung Gede Rai Kalam di Banjar Satria Kawan Kecamatan Dawan Klungkung. Tidak sulit bertemu sang pemeran patih anom ini, karena pintu selalu terbuka untuk siapa saja. Tidak saja para pegiat seni yang ingin menimba ilmu, masyarakat yang ingin meminta bantuan meminang istri, juga para awak media yang ingin menggali lebih dalam perihal dunia drama gong. ‘’Semasih hayat di kandung badan, pintu selalu terbuka jika ada yang minta bantuan,’’ ujar pensiunan guru SD yang kini sudah berusia 81 tahun.

AA Gede Rai Kalam memang tak pernah diam. Di usianya yang sudah semakin uzur, ia tak pernah surut mengasah diri dengan membaca beragam buku baik tentang babad, sejarah, agama, kebudayaan. Banyak koleksi buku yang tersimpan rapi, ada beberapa di antaranya di atas meja yang masih dibaca sambil menonton TV saban hari. Terlebih lagi ketika diajak berbincang seputar jejak drama gong, Rai Kalam masih sanggup menelisik ingatannya sampai hal-hal kecil. Bagaimana ia pernah dilempari batu saat di panggung, diberhentikan ketika pementasan masih berlangsung, mengingat wajah Cokorda Anom Bupati yang marah ketika Klungkung mendapat juara II festival drama. Wajahnya berbinar ketika bercerita kisah kelahiran drama gong, dari zaman keemasan, suka-dukanya hingga mengalami masa suram.

Sesepuh drama kelahiran 21 Juni 1938 namun tercatat di SK pengangkatan guru tertanggal 11 September 1939 ini tidak menduga dirinya bakal menjadi pemain drama yang begitu dikenal luas, hingga meraih berbagai penghargaan dari tingkat kabupaten sampai provinsi, yang juga mengantarkan putra-putrinya bisa menempuh pendidikan tinggi dan membangun rumah yang sebelumnya mendapat warisan sebuah gubuk.

de
SEMANGAT: Di usia uzur, AA Gege Rai Kalam tetap semangat berbincang perihal drama gong

Semua itu bermula dari pasca gejolak G30S- PKI. Dimana masyarakaat merasa tertekan oleh pertentangan politik yang demikian dahsyat. Untuk menenangkan dan menghibur masyarakat maka muncullah kegiatan berkesenian di tiap-tiap banjar. Lahir sekaa janger, sekaa parwa, sekaa drama gong. Bahkan di Satria sendiri muncul dua sekaa drama gong baik di Satria Kawan dan Kangin.

Menjamurnya sekaa-sekaa seni di era 1967-an, mendorong pemerintah daerah melalui Listibiya melakukan pembinaan dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas. Di antaranya melalui gelar seleksi festival antar-kecamatan yang nantinya akan mewakili Klungkung di tingkat provinsi. Sedikitnya ada 25 sekaa yang terlibat. Selain untuk seleksi, sekaligus juga untuk mengembalikan ketenangan masyarakat setelah tragedi G30S-PKI yang menelan banyak korban para seniman.

‘’Saya tidak tahu persis. Akhirnya sekaa gong Nilotama Smara Bumi melalui Listibiya Klungkung pentas di provinsi,’’ ujar Rai Kalam yang saat itu juga ikut di Listibiya bidang Drama Gong yang mengantarkan pertemuannya dengan I Made Kanta, penekun babad yang juga ikut bermain drama.

Untuk memilih judul, pensiunan guru tertanggal 1 Oktober 1999 bersama Made Kanta berusaha mencari bahan sejarah sampai ke Gedong Kirtya Singaraja. Drama Gong Nilotama Smara Bumi mendapat jadwal pentas 22 Agustus 1970 di gedung Lila Buana Kreneng Denpasar. ‘’Kami hampir mendapat nomor 1 karena mengangkat cerita sejarah yang unik Jelantik Bogol,’’ kenang Rai Kalam sambil menonton televisi.

Baca Juga  Temu Kangen KNPI, Ny Putri Koster: Pengalaman Masa Lalu Sangat Bermanfaat untuk Masa Depan

Rai Kalam mengingat-ngingat, Jelantik Bogol adalah anak dari I Gusti Ngurah Jelantik yang namanya Jelantik Bungaya yang dikirim bertempur ke Nusa Penida oleh Ida Dalem Dimade. Dia sebenarnya ingin gugur di medan perang karena leluhurnya mendapat tempat yang jelek dan berharap keturunannya bisa menebus dosa orangtuanya dengan jalan gugur di medan perang. Gusti Ngurah Jelantik pun dengan sengaja berperang tanpa senjata atau memogol. Karena ayahnya sengaja mencari mati di peperangan dengan cara memogol, maka putranya yang masih bayi disebut Gusti Jelantik Bogol.

de
BERTEMU PRESIDEN: AA Gede Rai Kalam bersama Presiden Soeharto saat Mahasaba Parisadha

Sebagai sutradara, AA Gede Rai Kalam yang menyuguhkan sebuah kisah sejarah yang berbeda dengan judul sama yang dibuat kabupaten lain, mendapat kritik habis-habisan di depan tim juri provinsi. Toh begitu, Rai Kalam kukuh mempertanggungjawabkan pendiriannya. Termasuk juga mempertahankan pandangannya ketika Dalem Bungkut gugur, Gusti Jelantik tidak mau menyembah. Berbeda dengan pandangan tim juri, yang sepatutnya Gusti Jelantik nyumbah.

Pandangan yang berbeda ini karena tim juri meyakini Dalem Bungkut keturunan Dalem Bedahulu. Entah bagaimana prosesnya sampai ke Nusa. Sebaliknya, Rai Kalam berpendapat Dalem Bedahulu meninggal karena sakit hati putranya gugur ketika diserang Majapahit. Dalem Bedahulu tidak berperang, mendengar putranya yang gugur beliau bunuh diri.

Kemudian Rai Kalam mengumpamakan. Di Lepang ada pregusti, predewa berkawan dengan ida bagus dari Buleleng. ‘’Bantes mekantenan. Ne madan hubungan kebrayaan. Seda ida bagus nyak gusti uli Lepang nyumbah. Sekarang saja tidak berani apalagi dulu,’’ begitu Rai Kalam memberi contoh betapa ketatnya soal sumbah-menyumbah.

‘’Sudah saya kasi sembilan terpaksa potong menjadi enam,’’ kenang Rai Kalam menirukan ucapan juri yang membuat dirinya sempat membantah bahwa ‘’Apalagi dalam peperangan, teman saja tidak mau nyumbah’’. Akhirnya mendapat nomor dua. ‘’Ngambul Cokorda Anom Bupati, de de, de juange hadiahe,’’ begitu Rai Kalam menirukan ucapan Cok Anom.

Sedikit menghela nafas, ayah berputra lima yang rambutnya sudah memutih ini rada tersenyum mengenang kisah pentasnya di Lila Buana. Kalau tidak menjadi pemain drama gong tidak mungkin nginjak gumi Badung. Walau hanya numpang truk, Rai Kalam tetap bersemangat sesuai dengan nama sekaa drama gongnya Nilotama Smara Bumi, orang utama dari bumi Semarapura.  Ia ingin menunjukkan diri sebagai putra Semarapura.

Di balik perlakuan juri yang membekas di hati ada kisah yang membuat Rai Kalam tetap menapaki jalan terjal drama gong. Bahkan harus sampai mencuri keris pejenengan di merajan agung. Keris luk sembilan, dengan ganjan emas, lekuknya juga emas, di tengah di atas barong berisi gambar acintya tembus yang juga berbahan emas. ’’Aud tiyang, mekesiab penontone. Tiyang ngamuk bakal ngematiang Ngurah Jelantik Bogol,’’ tutur Rai Kalam. Kala itu, Rai Kalam berperan sebagai Gusti Jimbaran, patih Dalem Bungkut yang berperang karena kedudukan dan wanita.

Turun dari panggung Lila Buana, ia dicegat seseorang yang kemudian dikenal bernama Ngurah Putra. Lelaki yang berpostur tegap itu memberi ucapan selamat atas peran Gusti Jimbaran yang begitu menyentuh hatinya. Ngurah Putra pun mengabadikan sebutan Gusti Jimbaran sebagai nama samarannya Arya Jimbaran yang kemudian dikenal sebagai pemain drama klasik yang begitu piawai memerankan tokoh Bima. ‘’Ulian adan tiyange di panggung diapresiasi bagus,’’ tutur Rai Kalam.

Festival drama gong tingkat provinsi yang menarik perhatian besar masyarakat yang haus hiburan, membuat seseorang dari Gianyar berinisiatif menggelar sebuah pentas drama gong yang diambil dari pemeran-pemeran terbaik drama yang ada di Bali. Selain Rai Kalam ada juga Dayu Manik sebagai putri. ‘’Diundang main drama di Banjar Teges Gianyar. Masih pentas di panggung sudah banyak yang mau ngupah. Siapa yang berani menyanggupi apalagi cuma pentas sekali,’’ kata Rai Kalam. Akhirnya seorang kawan merencanakan membuat drama gong yang kemudian bernama Bintang Bali Timur.

Baca Juga  Bea Cukai Denpasar Bersama Pemprov Bali Dorong Utilisasi Pelabuhan Benoa

Dari Bintang Bali Timurlah, Rai Kalam dkk pentas ke mana-mana. Hampir menjelajahi seluruh kabupaten yang ada di Bali. Hingga mengingatkan pementasannya diberhentikan panitia di sebuah daerah di sekitar Peninjoan Bangli meski belum usai.  ‘’Nawegang-nawegang, mangde tiyang nenten ngaturang upakara penyineb malih. Yen tatas rahine artine ngadeg betara tiyang malih,’’ ujar Rai Kalam menirukan ucapan pemangku seraya bersyukur diberhentikan bukan karena tidak suka tetapi karena waktu.

de
PENTAS DI TELEVISI: Antara semakin dikenal atau Mengancam diri sendiri

Masalah klise sambil melentik-lentikkan jemarinya, Bintang Bali Timur mengalami gonjang-ganjing. Rai Kalam sebagai pemeran patih anom yang sudah begitu melekat di hati masyarakat sempat bermuka dua. Di BTT tetap jalan, di sekaa gong Abian Base Gianyar pimpinan AA Raka Payadnya juga ikut.

Listibiya sebagai sebuah lembaga pembina dan pengembangan kebudayaan tak pernah surut merawat drama gong melalui parade atau festival yang digelar setiap tahun. Bahkan mendapat kesempatan pentas di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta pada tahun 73-74-an. ‘’Cuma saya tidak berani ikut karena sebagai guru,’’ aku Rai Kalam.

Walau Rai Kalam begitu dielu-elukan di setiap pementasan dan bisa pentas setiap hari, namun Rai Kalam tetap tidak pernah absen mengajar di Sekolah Dasar Lebu Karangasem. Bahkan rekan-rekan guru pun tidak tahu bahwa dirinya setiap malam menghibur masyarakat. ‘’Ini tanggung jawab moral sebagai tenaga pendidik yang harus meneruskan ilmu yang sudah diterima di bangku SGA. Namun juga bertanggung jawab sebagai penghibur masyarakat. Hanya tidur setelah pulang sekolah dan memanfaatkan tidur di sela-sela pementasan. Itu semua demi keluarga, demi anak didik dan juga demi masyarakat yang butuh hiburan,’’ terang Rai Kalam yang mengaku gaji guru hanya cukup untuk makan. Belum lagi kesibukannya di Listibiya, sebagai tim penilai, dan juga  sebagai krama banjar seringkali didaulat menjadi pembicara pernikahan.

Di balik BTT yang terus memudar lantaran salah kelola, hadir Cokorde Bagus Sayoga yang menjabat Ketua DPD PNI Fron Marhaenis Bali yang membangun drama bercap PNI bernama Kesatria Swastika Budaya. Beberapa tahun kemudian para pentolan drama kembali menghidupkan BBT dengan judulnya yang terkenal Sang Ayu Genit, Galuh Ngangon Meri alias Adnyaswari.

Sebagai jebolan Lila Buana yang menjadi tolok ukur drama yang disukai masyarakat kala itu, BBT mendapat kepercayaan pentas di mana-mana, termasuk di Pesta Kesenian Bali yang menjadi momen terpenting sebuah pengakuan sebagai seniman. BBT bisa sampai dua kali pentas dalam satu rangkaian PKB karena peminatnya luar biasa. ‘’Das tiyang kene batu,’’ begitu Rai Kalam mengingat akibat membludaknya penonton yang tidak bisa masuk. Batu dilempar dari luar panggung karena kehabisan tiket. Bukan karena pementasannya jelek.

Ketika itu, drama gong mengalami masa keemasan. Masyarakat ramai-ramai mengupah drama kalau ada upacara piodalan. Hingga harus pentas setiap hari. Namun Rai Kalam tidak pernah bolos mengajar. Rai Kalam tahu betul bahwa dengan mengajar tanpa putus ia sudah mencetak tunas-tunas bangsa yang kelak meneruskan cita-cita para pejuang kemerdekaan. “Pagi masuk, sepulang sekolah istirahat tidur, sore siap-siap berangkat dan malam pentas, begitu setiap hari. Guru-guru di sekolah pun tidak tahu karena tiyang tak pernah bolos,’’ ucap Rai Kalam.

de
PENGHARGAAN: Dedikasinya terhadap drama gong, AA Gede Rai Kalam banyak menerima penghargaan

Dengan kerja keras siang malam yang nyaris kurang istirahat, Rai Kalam bisa mengantarkan kelima putranya ke bangku pendidikan yang diidamkan. Kini ada yang sudah mencapai gelar profesor mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, guru SMP, kerja di Sayan, Nusa Dua dan jebolan Teknik Sipil Malang. ‘’Kami hanya bisa bersyukur, masih bisa melihat anak-anak dan cucu-cucu yang selalu rukun,’’ ujar Rai Kalam yang sempat bersalaman dengan orang nomor satu di negara ini kala mewakili Mahasaba Parisadha, sembari mengingat lagi ketika pentas di Ubud.

Baca Juga  GEBRAK Masker, Walikota Rai Mantra dan Ketua TP PKK Ny. Selly Mantra Serahkan Ribuan Masker di Desa dan Kelurahan

Pernah Rai Kalam sedikit terhenyak saat pentas di Peliatan Ubud. Penonton marah-marah ketika pementasan selesai sekitar pukul 04.30-an. ‘’Amah pis kaine kali jani nyuudang drama sambil kaak kuuk tidak mau bangun,’’ Rai Kalam mengenang pengalaman suka duka ketika pentas. Pernah dilempar batu, diberhentikan sebelum cerita selesai, dicaci karena peran, grup yang terus berganti seperti Kesatria Swastika Budaya, Sancaya Dwipa, Bara Budaya.

Pentas drama gong yang diobral habis-habisan, terlebih lagi pengaruh kemajuan teknologi dimana bisa masuk televisi sebagai satu kebanggaan ternyata justru memukul diri sendiri. Mulai cara pikir masyarakat lebih memilih menonton televisi daripada beli karcis. Pelan-pelan drama gong ditinggalkan sampai festival pun ditiadakan karena tak menjamin dapat penonton.

de
PENTAS TERAKHIR: Berkumpul dengan para seniman tua di PKB atas prakarsa wakil gubernur Ketut Sudikerta

Namun ada satu momen special yang mengingatkan masa keemasan bersama rekan-rekan pemain. Ada salah seorang pejabat tinggi di Bali yang menginisiasi pementasan seniman tua drama gong BBT pada PKB 2016. Selain Rai Kalam juga hadir AA Raka Payadnya, Dabdab, Apel, Gangsar, Yudhana, Mongkeg, dll yang mendapat respons luar biasa dari penonton.

Pementasan di PKB tahun 2016 itu adalah pentas terakhir Rai Kalam yang merasa tidak menduga bakal menjadi seniman drama gong karena orang tuanya bukanlah seniman melainkan pegawai pengadilan. Justru darah kakeknyalah yang menurun karena memang sebagai seniman gambuh, arja yang pernah malang melintang mengajar ke daerah-daerah termasuk sampai ke Jembrana. ‘’Kalau sekarang bisa jadi dapat penghargaan Wijaya Kusuma. Cuma saya tidak mau karena keturunan beliau banyak. Pang sing pipise akebesan mesogsag ajak nyama. Ikhlaskan saja,’’ ujar Rai Kalam yang telah membaktikan karya dan pengetahuannya bagi pengembangan dan pelestarian kehidupan seni dan budaya Bali telah banyak menerima penghargaan tidak saja dari Pemerintah Daerah Klungkung  juga Provinsi Bali.

Dengan mudah bisa melihat beberapa penghargaan yang disandangnya karena terpajang rapi di atas rak buku yang menyimpan berbagai macam babad, sejarah, buku agama, dan jurnal-jurnal kebudayaan Bali. Di antaranya penghargaan Aji Sewaka Nugraha dari Pemkab Klungkung, penghargaan pementasan seniman tua dari Gubernur Dewa Beratha tahun 1999, penghargaan sebagai Pembina Dharma Wecana dari Dinas Kebudayaan Bali tahun 2009,  penghargaan Dharma Kusuma tahun 2007 bidang seni drama gong, dll.

de
PEGHARGAAN DHARMA KUSUMA: Atas ketekunan dan dedikasinya sebagai seniman drama gong

Bagi AA Rai Kalam, bukan selembar kertas itu yang menjadi tujuan utama yang selama ini berpeluh di tengah malam, aktif di PHDI, tetap mengabdi sebagai guru hingga pensiun dan selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin berbagi pengalaman termasuk juga tetap dipercaya meminang perkawinan.

Namun ini jalan hidup yang harus dilalui hingga mengantarkan memiliki banyak sahabat, saudara, kawan-kawan. ‘’Kije je nuju luwas, jeg gisine limane. Eling tyang gung lingsir. Nyen kaden ne orang sing inget tanruh, jelek asane. Begitu ikhlas orang menyapa. Kalau tiyang menolak tidak mengakui tidak sopan. Langsung saja jawab. Ty inget asane ken pak. Kije to pe…begitu nyambung lebih akrab,’’ Rai Kalam mengingat percakapannya dengan seseorang.

Yang sedikit menjadi beban karena sering menceritakan sejarah terutama judul Arya Getas yang banyak menyinggung pasemetonan. Di Mengwi pernah seseorang bertanya, ‘’Cokor dewa ngelampahang Arya Getas, nyabcab penglingsir tyange niki, indayang nikaang, sapunapi awanan nak lingsir tyange wenten ke Bali,’’ begitu seseorang bertanya.

Sejujurnya, Rai Kalam mengaku tidak tahu persis karena memang tidak mempersiapkan diri. Seperti berjalan memungut sebilah bambu kemudian ada yang bertanya sambil membawa sesaji memohon agar diberikan bambu. ‘’Dimana dicarikan karena merasa tidak mempersiapkan diri,’’ aku Rai Kalam

Begitu juga keseriusannya memainkan dialog sebagai Ngurah Bayan membuat warga Bali di Lombok banyak yang tidak suka. ‘’ Bes teleb bene nampi... Ada dialog saya yang membuat mereka tersinggung ….jani mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake… disubane napak, rasaang ditu kenken tis panes…kebus…ne kenken ke kitaang. Mekite puun ci dini. Itu membuat tersinggung semeton Baline,’’ ujar Rai Kalam seraya melanjutkan dari dialog ini dikira seluruhnya bisa ngeleak, padahal cuma mencari upah.

Rai Kalam menyadari betul, sebagai seniman drama membutuhkan kesadaran bahwa sedang menipu orang, penuh kepura-puraan dan penuh seolah-olah. Seperti raden galuh yang menangis yang membuat penonton terhanyut menangis. Tetapi yang penting jangan berlebih-lebihan dan jangan menganggap penonton bodoh. Berikanlah apa yang disukai penonton.

Pernah satu kejadian salah satu pemain dilempari telor busuk di atas panggung setelah berpisah dari grup yang membesarkannya. Karena itu pesan terakhir Rai Kalam, sebagai pemain tidak boleh egois. Setiap peran sangat didukung oleh peran yang lain. Putri tanpa dayang atau raja tanpa patih, ibarat bulan tanpa bintang. (Gede Sumida)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BUDAYA

Walikota Apresiasi Upacara Adat Massal di Kesiman

Ringankan Beban Masyarakat, Walikota Jaya Negara “Ngayah Nyangging” Upacara Metatah Massal

Loading

Published

on

By

Walikota Jaya Negara Hadiri Metatah Massal Kesiman
METATAH MASSAL: Kehadiran Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam kesempatan prosesi Metatah Massal Desa Adat Kesiman yang berlangsung Senin (28/9). (Foto: Hms Dps)

Denpasar, baliilu.com – Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri pelaksanaan Upacara Metatah atau Mepandes Massal Desa Adat Kesiman yang diikuti sebanyak 345 peserta dari 32 banjar adat. Upacara tersebut berlangsung di Pantai Padang Galak, Kecamatan Denpasar Timur, Senin (28/9).

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut ngayah nyangging kepada beberapa peserta metatah. Kehadirannya dalam rangkaian upacara tersebut juga diakhiri dengan penyerahan punia sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya adat dan keagamaan di Desa Adat Kesiman.

Didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi, Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi kepada Jro Bendesa Adat Kesiman beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan rangkaian upacara secara massal. Menurutnya, pelaksanaan karya adat secara bersama-sama tidak hanya penting dalam menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Jaya Negara menilai pelaksanaan upacara secara massal dapat membantu menghemat waktu sekaligus meringankan beban biaya masyarakat, khususnya para orang tua yang anaknya mengikuti upacara potong gigi.

“Rangkaian upacara keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan runtut, dimulai dari prosesi Ngaben, Mepetik, Ngangkid ke Pasih, hingga pelaksanaan upacara Metatah atau potong gigi massal. Langkah dan kerja keras Jro Bendesa beserta pihak Desa Adat Kesiman ini sejalan dan turut mendukung program pemerintah daerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Selebihnya Jaya Negara juga berharap pelaksanaan karya massal tersebut dapat terus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong-royong masyarakat. Selain sebagai pelaksanaan kewajiban adat dan keagamaan, rangkaian kegiatan ini juga diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi serta menjaga keharmonisan krama Desa Adat Kesiman.

Baca Juga  Bea Cukai Denpasar Bersama Pemprov Bali Dorong Utilisasi Pelabuhan Benoa

Sementara itu, Jro Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna mengatakan, rangkaian upacara keagamaan massal tersebut terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Rangkaian kegiatan telah dimulai melalui prosesi Negteg Beras pada 9 September, dilanjutkan dengan Ngingsah pada 16 September serta Melaspas Peyadnyan pada 18 September. Sebelum pelaksanaan Metatah Massal, juga telah digelar ritual Mesasap Segara yang diikuti sebanyak 526 peserta.

“Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya,” ujarnya.

Rangkaian karya massal Desa Adat Kesiman masih akan berlanjut hingga puncak acara pada 1 Oktober mendatang melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang rencananya dipuput oleh lima orang sulinggih. Selanjutnya, seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan pelaksanaan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober.

“Karya adat tersebut diharapkan tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan kewajiban keagamaan, tetapi juga semakin memperkuat semangat gotong-royong dan kebersamaan krama Desa Adat Kesiman,” ujar I Ketut Wisna. (eka/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Wagub Giri Prasta Hadiri “Pemelaspasan” Pura Lempuyang Madya

Ajak Umat Perkuat Semangat Menyama Braya dan Lestarikan Tradisi Bali

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Hadiri Pemelaspasan Pura Lempuyang Madya
HADIRI KARYA: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Karangasem, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengajak umat Hindu untuk terus memperkuat persatuan, menjaga semangat menyama braya, serta melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri rangkaian upacara melaspas, mendem pedagingan, lan pujawali catur rebah mapadudusan alit di Pura Lempuyang Madya, Karangasem, Sabtu (26/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta mengikuti prosesi mendem pedagingan bersama para pemedek. Prosesi ini merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian upacara penyucian bangunan suci yang sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Usai mengikuti prosesi mendem pedagingan, Giri Prasta didampingi istrinya, Ny. Seniasih Giri Prasta, melaksanakan persembahyangan bersama yang bertepatan dengan rahina Purnama Sasih Kapat.

Dalam sambrama wacana-nya, Giri Prasta menguraikan sejarah dan nilai spiritual Pura Lempuyang. Merujuk pada lontar kuno Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, ia menjelaskan bahwa keberadaan Pura Lempuyang berkaitan dengan legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa. Pecahan gunung tersebut kemudian membentuk sejumlah pegunungan di Jawa dan Bali, termasuk Gunung Lempuyang.

Menurut kisah dalam lontar tersebut, Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di sejumlah gunung guna menjaga keseimbangan spiritual Pulau Bali. Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung) dengan parahyangan di Pura Besakih, Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur, sedangkan Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.

Giri Prasta berharap seluruh rangkaian upacara dapat berlangsung dengan lancar serta membawa kerahayuan bagi umat dan masyarakat Bali.

Baca Juga  Gubernur Koster dan Wagub Cok Ace: Selamat Hari Pendidikan Nasional

“Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja,” doa Giri Prasta.

Lebih lanjut, Giri Prasta mengajak umat menjadikan pelaksanaan upacara keagamaan sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat semangat menyama braya, dan membangun kebersamaan dalam menjalankan swadarma. Menurutnya, semangat gotong-royong dan persatuan umat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan adat, tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Bali.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat, tradisi, seni budaya, serta kearifan lokal Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pelestarian tersebut diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan upacara keagamaan, tetapi juga melalui penguatan nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Gubernur Koster Hadiri Puncak “Karya Panca Wali Krama” Ulun Danu Batur, Rawat Kesucian Alam Bali

Published

on

By

Gubernur Koster Hadiri Puncak Karya Panca Wali Krama
HADIRI PUNCAK KARYA: Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Bangli, baliilu.com – Puncak Karya Panca Wali Krama yang digelar setiap sepuluh tahun sekali, terasa begitu khidmat dan penuh harmoni di kawasan Pura Ulun Danu Batur, Songan, Bangli, Sabtu (26/9). Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung dalam puncak karya yang bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat tersebut.

Turut hadir Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta dan Danrem 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, bersama para pemangku, pengempon pura, tokoh masyarakat dan umat yang mengikuti persembahyangan.

Bagi Gubernur Wayan Koster, karya di Pura Ulun Danu Batur memiliki makna yang jauh melampaui sebuah ritual keagamaan. Di tempat yang menjadi salah satu pusat spiritual Bali sekaligus kawasan yang erat dengan sumber air dan kehidupan ini, nilai-nilai Sad Kerthi menemukan bentuknya secara nyata.

Wana Kerthi dan Danu Kerthi menjadi bagian penting dari rangkaian karya. Hutan dan air tidak hanya dipandang sebagai bagian dari alam yang harus dimanfaatkan, tetapi sebagai sumber kehidupan yang mesti dimuliakan dan dijaga keberlangsungannya.

Semangat tersebut sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dikembangkan Wayan Koster, menempatkan keharmonisan alam, manusia dan kehidupan sebagai fondasi pembangunan Bali.

“Kalau kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan kita sendiri”. Semangat inilah yang tercermin dalam pelaksanaan karya, ketika ritual keagamaan sekaligus menjadi pengingat tentang tanggung jawab manusia terhadap alam Bali.

Dua Bulan Menuju Puncak Karya

Rangkaian karya telah berlangsung sejak 12 Agustus 2026 dan akan berakhir pada 7 Oktober 2026. Berbagai prosesi dilaksanakan secara bertahap sesuai wariga dan dresta Bali.

Salah satu tahapan penting adalah Danu Kerthi atau Mapag Toya pada 8 September 2026, kemudian dilanjutkan Malasti, Mapekelem ring Danu dan Pakelem ring Gunung pada 18 September.

Baca Juga  Temu Kangen KNPI, Ny Putri Koster: Pengalaman Masa Lalu Sangat Bermanfaat untuk Masa Depan

Tahapan inti berlangsung melalui Tawur Manca Wali Krama pada 21 September di Genah Peyadnyan. Puncaknya, Sabtu (26/9), umat melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura sebelum dilanjutkan dengan Ida Bhatara Tedun ke Peselang, Perayungan, Pedanaan dan Ngaturin Ageng di Pura Ulun Danu Batur.

Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan Subakti Penganyar secara bergiliran oleh pemerintah daerah dan masyarakat dari seluruh kabupaten/kota se-Bali hingga 7 Oktober.

Puncak karya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga Bali bukan hanya tentang membangun dan memajukan daerah, tetapi juga tentang merawat kesucian alam, menghormati sumber kehidupan dan memastikan nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca