Wednesday, 28 September 2022
Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

BUDAYA

Jejak sang Maestro Drama Gong AA Gede Rai Kalam, Pernah Dilempar Batu dan Diberhentikan di Panggung

BALIILU Tayang

:

de
AA GEDE RAI KALAM: Sang Maestro Drama Gong. (Ft: Sumida)

JIKA mengingat dialog pertengkaran Ngurah Bayan yang diperankan AA Gede Rai Kalam dengan Arya Getas yang diperankan Wayan Lodra, …mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake ….begitu juga petikan dialog berjudul Ida Ayu Genit, Sukerti…Sukerti… satmako….  yang begitu melekat di hati masyarakat Bali, maka bayangan kita akan kembali mengenang drama gong, salah satu ganre seni pentas yang sempat berjaya di zamannya. Anak Agung Gede Rai Kalam adalah salah satu saksi sejarah akan kelahiran drama gong era akhir 60-an hingga masa suramnya setelah terlindas arus teknologi.

Hanya menempuh jalan gang sepanjang 50-an meter, kita bisa menemukan kediaman sang maestro drama gong Anak Agung Gede Rai Kalam di Banjar Satria Kawan Kecamatan Dawan Klungkung. Tidak sulit bertemu sang pemeran patih anom ini, karena pintu selalu terbuka untuk siapa saja. Tidak saja para pegiat seni yang ingin menimba ilmu, masyarakat yang ingin meminta bantuan meminang istri, juga para awak media yang ingin menggali lebih dalam perihal dunia drama gong. ‘’Semasih hayat di kandung badan, pintu selalu terbuka jika ada yang minta bantuan,’’ ujar pensiunan guru SD yang kini sudah berusia 81 tahun.

AA Gede Rai Kalam memang tak pernah diam. Di usianya yang sudah semakin uzur, ia tak pernah surut mengasah diri dengan membaca beragam buku baik tentang babad, sejarah, agama, kebudayaan. Banyak koleksi buku yang tersimpan rapi, ada beberapa di antaranya di atas meja yang masih dibaca sambil menonton TV saban hari. Terlebih lagi ketika diajak berbincang seputar jejak drama gong, Rai Kalam masih sanggup menelisik ingatannya sampai hal-hal kecil. Bagaimana ia pernah dilempari batu saat di panggung, diberhentikan ketika pementasan masih berlangsung, mengingat wajah Cokorda Anom Bupati yang marah ketika Klungkung mendapat juara II festival drama. Wajahnya berbinar ketika bercerita kisah kelahiran drama gong, dari zaman keemasan, suka-dukanya hingga mengalami masa suram.

Sesepuh drama kelahiran 21 Juni 1938 namun tercatat di SK pengangkatan guru tertanggal 11 September 1939 ini tidak menduga dirinya bakal menjadi pemain drama yang begitu dikenal luas, hingga meraih berbagai penghargaan dari tingkat kabupaten sampai provinsi, yang juga mengantarkan putra-putrinya bisa menempuh pendidikan tinggi dan membangun rumah yang sebelumnya mendapat warisan sebuah gubuk.

de
SEMANGAT: Di usia uzur, AA Gege Rai Kalam tetap semangat berbincang perihal drama gong

Semua itu bermula dari pasca gejolak G30S- PKI. Dimana masyarakaat merasa tertekan oleh pertentangan politik yang demikian dahsyat. Untuk menenangkan dan menghibur masyarakat maka muncullah kegiatan berkesenian di tiap-tiap banjar. Lahir sekaa janger, sekaa parwa, sekaa drama gong. Bahkan di Satria sendiri muncul dua sekaa drama gong baik di Satria Kawan dan Kangin.

Menjamurnya sekaa-sekaa seni di era 1967-an, mendorong pemerintah daerah melalui Listibiya melakukan pembinaan dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas. Di antaranya melalui gelar seleksi festival antar-kecamatan yang nantinya akan mewakili Klungkung di tingkat provinsi. Sedikitnya ada 25 sekaa yang terlibat. Selain untuk seleksi, sekaligus juga untuk mengembalikan ketenangan masyarakat setelah tragedi G30S-PKI yang menelan banyak korban para seniman.

‘’Saya tidak tahu persis. Akhirnya sekaa gong Nilotama Smara Bumi melalui Listibiya Klungkung pentas di provinsi,’’ ujar Rai Kalam yang saat itu juga ikut di Listibiya bidang Drama Gong yang mengantarkan pertemuannya dengan I Made Kanta, penekun babad yang juga ikut bermain drama.

Untuk memilih judul, pensiunan guru tertanggal 1 Oktober 1999 bersama Made Kanta berusaha mencari bahan sejarah sampai ke Gedong Kirtya Singaraja. Drama Gong Nilotama Smara Bumi mendapat jadwal pentas 22 Agustus 1970 di gedung Lila Buana Kreneng Denpasar. ‘’Kami hampir mendapat nomor 1 karena mengangkat cerita sejarah yang unik Jelantik Bogol,’’ kenang Rai Kalam sambil menonton televisi.

Baca Juga  Cegah Klaster Pasar, Pengelola Pasar di Denpasar Ramai-ramai Pasang Pembatas Plastik

Rai Kalam mengingat-ngingat, Jelantik Bogol adalah anak dari I Gusti Ngurah Jelantik yang namanya Jelantik Bungaya yang dikirim bertempur ke Nusa Penida oleh Ida Dalem Dimade. Dia sebenarnya ingin gugur di medan perang karena leluhurnya mendapat tempat yang jelek dan berharap keturunannya bisa menebus dosa orangtuanya dengan jalan gugur di medan perang. Gusti Ngurah Jelantik pun dengan sengaja berperang tanpa senjata atau memogol. Karena ayahnya sengaja mencari mati di peperangan dengan cara memogol, maka putranya yang masih bayi disebut Gusti Jelantik Bogol.

de
BERTEMU PRESIDEN: AA Gede Rai Kalam bersama Presiden Soeharto saat Mahasaba Parisadha

Sebagai sutradara, AA Gede Rai Kalam yang menyuguhkan sebuah kisah sejarah yang berbeda dengan judul sama yang dibuat kabupaten lain, mendapat kritik habis-habisan di depan tim juri provinsi. Toh begitu, Rai Kalam kukuh mempertanggungjawabkan pendiriannya. Termasuk juga mempertahankan pandangannya ketika Dalem Bungkut gugur, Gusti Jelantik tidak mau menyembah. Berbeda dengan pandangan tim juri, yang sepatutnya Gusti Jelantik nyumbah.

Pandangan yang berbeda ini karena tim juri meyakini Dalem Bungkut keturunan Dalem Bedahulu. Entah bagaimana prosesnya sampai ke Nusa. Sebaliknya, Rai Kalam berpendapat Dalem Bedahulu meninggal karena sakit hati putranya gugur ketika diserang Majapahit. Dalem Bedahulu tidak berperang, mendengar putranya yang gugur beliau bunuh diri.

Kemudian Rai Kalam mengumpamakan. Di Lepang ada pregusti, predewa berkawan dengan ida bagus dari Buleleng. ‘’Bantes mekantenan. Ne madan hubungan kebrayaan. Seda ida bagus nyak gusti uli Lepang nyumbah. Sekarang saja tidak berani apalagi dulu,’’ begitu Rai Kalam memberi contoh betapa ketatnya soal sumbah-menyumbah.

‘’Sudah saya kasi sembilan terpaksa potong menjadi enam,’’ kenang Rai Kalam menirukan ucapan juri yang membuat dirinya sempat membantah bahwa ‘’Apalagi dalam peperangan, teman saja tidak mau nyumbah’’. Akhirnya mendapat nomor dua. ‘’Ngambul Cokorda Anom Bupati, de de, de juange hadiahe,’’ begitu Rai Kalam menirukan ucapan Cok Anom.

Sedikit menghela nafas, ayah berputra lima yang rambutnya sudah memutih ini rada tersenyum mengenang kisah pentasnya di Lila Buana. Kalau tidak menjadi pemain drama gong tidak mungkin nginjak gumi Badung. Walau hanya numpang truk, Rai Kalam tetap bersemangat sesuai dengan nama sekaa drama gongnya Nilotama Smara Bumi, orang utama dari bumi Semarapura.  Ia ingin menunjukkan diri sebagai putra Semarapura.

Di balik perlakuan juri yang membekas di hati ada kisah yang membuat Rai Kalam tetap menapaki jalan terjal drama gong. Bahkan harus sampai mencuri keris pejenengan di merajan agung. Keris luk sembilan, dengan ganjan emas, lekuknya juga emas, di tengah di atas barong berisi gambar acintya tembus yang juga berbahan emas. ’’Aud tiyang, mekesiab penontone. Tiyang ngamuk bakal ngematiang Ngurah Jelantik Bogol,’’ tutur Rai Kalam. Kala itu, Rai Kalam berperan sebagai Gusti Jimbaran, patih Dalem Bungkut yang berperang karena kedudukan dan wanita.

Turun dari panggung Lila Buana, ia dicegat seseorang yang kemudian dikenal bernama Ngurah Putra. Lelaki yang berpostur tegap itu memberi ucapan selamat atas peran Gusti Jimbaran yang begitu menyentuh hatinya. Ngurah Putra pun mengabadikan sebutan Gusti Jimbaran sebagai nama samarannya Arya Jimbaran yang kemudian dikenal sebagai pemain drama klasik yang begitu piawai memerankan tokoh Bima. ‘’Ulian adan tiyange di panggung diapresiasi bagus,’’ tutur Rai Kalam.

Festival drama gong tingkat provinsi yang menarik perhatian besar masyarakat yang haus hiburan, membuat seseorang dari Gianyar berinisiatif menggelar sebuah pentas drama gong yang diambil dari pemeran-pemeran terbaik drama yang ada di Bali. Selain Rai Kalam ada juga Dayu Manik sebagai putri. ‘’Diundang main drama di Banjar Teges Gianyar. Masih pentas di panggung sudah banyak yang mau ngupah. Siapa yang berani menyanggupi apalagi cuma pentas sekali,’’ kata Rai Kalam. Akhirnya seorang kawan merencanakan membuat drama gong yang kemudian bernama Bintang Bali Timur.

Baca Juga  Tingkatkan Profesionalisme, Sebanyak 106 Peserta Ikuti Orientasi Anggota dan KLW PWI Bali

Dari Bintang Bali Timurlah, Rai Kalam dkk pentas ke mana-mana. Hampir menjelajahi seluruh kabupaten yang ada di Bali. Hingga mengingatkan pementasannya diberhentikan panitia di sebuah daerah di sekitar Peninjoan Bangli meski belum usai.  ‘’Nawegang-nawegang, mangde tiyang nenten ngaturang upakara penyineb malih. Yen tatas rahine artine ngadeg betara tiyang malih,’’ ujar Rai Kalam menirukan ucapan pemangku seraya bersyukur diberhentikan bukan karena tidak suka tetapi karena waktu.

de
PENTAS DI TELEVISI: Antara semakin dikenal atau Mengancam diri sendiri

Masalah klise sambil melentik-lentikkan jemarinya, Bintang Bali Timur mengalami gonjang-ganjing. Rai Kalam sebagai pemeran patih anom yang sudah begitu melekat di hati masyarakat sempat bermuka dua. Di BTT tetap jalan, di sekaa gong Abian Base Gianyar pimpinan AA Raka Payadnya juga ikut.

Listibiya sebagai sebuah lembaga pembina dan pengembangan kebudayaan tak pernah surut merawat drama gong melalui parade atau festival yang digelar setiap tahun. Bahkan mendapat kesempatan pentas di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta pada tahun 73-74-an. ‘’Cuma saya tidak berani ikut karena sebagai guru,’’ aku Rai Kalam.

Walau Rai Kalam begitu dielu-elukan di setiap pementasan dan bisa pentas setiap hari, namun Rai Kalam tetap tidak pernah absen mengajar di Sekolah Dasar Lebu Karangasem. Bahkan rekan-rekan guru pun tidak tahu bahwa dirinya setiap malam menghibur masyarakat. ‘’Ini tanggung jawab moral sebagai tenaga pendidik yang harus meneruskan ilmu yang sudah diterima di bangku SGA. Namun juga bertanggung jawab sebagai penghibur masyarakat. Hanya tidur setelah pulang sekolah dan memanfaatkan tidur di sela-sela pementasan. Itu semua demi keluarga, demi anak didik dan juga demi masyarakat yang butuh hiburan,’’ terang Rai Kalam yang mengaku gaji guru hanya cukup untuk makan. Belum lagi kesibukannya di Listibiya, sebagai tim penilai, dan juga  sebagai krama banjar seringkali didaulat menjadi pembicara pernikahan.

Di balik BTT yang terus memudar lantaran salah kelola, hadir Cokorde Bagus Sayoga yang menjabat Ketua DPD PNI Fron Marhaenis Bali yang membangun drama bercap PNI bernama Kesatria Swastika Budaya. Beberapa tahun kemudian para pentolan drama kembali menghidupkan BBT dengan judulnya yang terkenal Sang Ayu Genit, Galuh Ngangon Meri alias Adnyaswari.

Sebagai jebolan Lila Buana yang menjadi tolok ukur drama yang disukai masyarakat kala itu, BBT mendapat kepercayaan pentas di mana-mana, termasuk di Pesta Kesenian Bali yang menjadi momen terpenting sebuah pengakuan sebagai seniman. BBT bisa sampai dua kali pentas dalam satu rangkaian PKB karena peminatnya luar biasa. ‘’Das tiyang kene batu,’’ begitu Rai Kalam mengingat akibat membludaknya penonton yang tidak bisa masuk. Batu dilempar dari luar panggung karena kehabisan tiket. Bukan karena pementasannya jelek.

Ketika itu, drama gong mengalami masa keemasan. Masyarakat ramai-ramai mengupah drama kalau ada upacara piodalan. Hingga harus pentas setiap hari. Namun Rai Kalam tidak pernah bolos mengajar. Rai Kalam tahu betul bahwa dengan mengajar tanpa putus ia sudah mencetak tunas-tunas bangsa yang kelak meneruskan cita-cita para pejuang kemerdekaan. “Pagi masuk, sepulang sekolah istirahat tidur, sore siap-siap berangkat dan malam pentas, begitu setiap hari. Guru-guru di sekolah pun tidak tahu karena tiyang tak pernah bolos,’’ ucap Rai Kalam.

de
PENGHARGAAN: Dedikasinya terhadap drama gong, AA Gede Rai Kalam banyak menerima penghargaan

Dengan kerja keras siang malam yang nyaris kurang istirahat, Rai Kalam bisa mengantarkan kelima putranya ke bangku pendidikan yang diidamkan. Kini ada yang sudah mencapai gelar profesor mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, guru SMP, kerja di Sayan, Nusa Dua dan jebolan Teknik Sipil Malang. ‘’Kami hanya bisa bersyukur, masih bisa melihat anak-anak dan cucu-cucu yang selalu rukun,’’ ujar Rai Kalam yang sempat bersalaman dengan orang nomor satu di negara ini kala mewakili Mahasaba Parisadha, sembari mengingat lagi ketika pentas di Ubud.

Baca Juga  Ni Putu Melani Arisandi, Beayai Sekolah Sendiri dari Bertani

Pernah Rai Kalam sedikit terhenyak saat pentas di Peliatan Ubud. Penonton marah-marah ketika pementasan selesai sekitar pukul 04.30-an. ‘’Amah pis kaine kali jani nyuudang drama sambil kaak kuuk tidak mau bangun,’’ Rai Kalam mengenang pengalaman suka duka ketika pentas. Pernah dilempar batu, diberhentikan sebelum cerita selesai, dicaci karena peran, grup yang terus berganti seperti Kesatria Swastika Budaya, Sancaya Dwipa, Bara Budaya.

Pentas drama gong yang diobral habis-habisan, terlebih lagi pengaruh kemajuan teknologi dimana bisa masuk televisi sebagai satu kebanggaan ternyata justru memukul diri sendiri. Mulai cara pikir masyarakat lebih memilih menonton televisi daripada beli karcis. Pelan-pelan drama gong ditinggalkan sampai festival pun ditiadakan karena tak menjamin dapat penonton.

de
PENTAS TERAKHIR: Berkumpul dengan para seniman tua di PKB atas prakarsa wakil gubernur Ketut Sudikerta

Namun ada satu momen special yang mengingatkan masa keemasan bersama rekan-rekan pemain. Ada salah seorang pejabat tinggi di Bali yang menginisiasi pementasan seniman tua drama gong BBT pada PKB 2016. Selain Rai Kalam juga hadir AA Raka Payadnya, Dabdab, Apel, Gangsar, Yudhana, Mongkeg, dll yang mendapat respons luar biasa dari penonton.

Pementasan di PKB tahun 2016 itu adalah pentas terakhir Rai Kalam yang merasa tidak menduga bakal menjadi seniman drama gong karena orang tuanya bukanlah seniman melainkan pegawai pengadilan. Justru darah kakeknyalah yang menurun karena memang sebagai seniman gambuh, arja yang pernah malang melintang mengajar ke daerah-daerah termasuk sampai ke Jembrana. ‘’Kalau sekarang bisa jadi dapat penghargaan Wijaya Kusuma. Cuma saya tidak mau karena keturunan beliau banyak. Pang sing pipise akebesan mesogsag ajak nyama. Ikhlaskan saja,’’ ujar Rai Kalam yang telah membaktikan karya dan pengetahuannya bagi pengembangan dan pelestarian kehidupan seni dan budaya Bali telah banyak menerima penghargaan tidak saja dari Pemerintah Daerah Klungkung  juga Provinsi Bali.

Dengan mudah bisa melihat beberapa penghargaan yang disandangnya karena terpajang rapi di atas rak buku yang menyimpan berbagai macam babad, sejarah, buku agama, dan jurnal-jurnal kebudayaan Bali. Di antaranya penghargaan Aji Sewaka Nugraha dari Pemkab Klungkung, penghargaan pementasan seniman tua dari Gubernur Dewa Beratha tahun 1999, penghargaan sebagai Pembina Dharma Wecana dari Dinas Kebudayaan Bali tahun 2009,  penghargaan Dharma Kusuma tahun 2007 bidang seni drama gong, dll.

de
PEGHARGAAN DHARMA KUSUMA: Atas ketekunan dan dedikasinya sebagai seniman drama gong

Bagi AA Rai Kalam, bukan selembar kertas itu yang menjadi tujuan utama yang selama ini berpeluh di tengah malam, aktif di PHDI, tetap mengabdi sebagai guru hingga pensiun dan selalu terbuka kepada siapa saja yang ingin berbagi pengalaman termasuk juga tetap dipercaya meminang perkawinan.

Namun ini jalan hidup yang harus dilalui hingga mengantarkan memiliki banyak sahabat, saudara, kawan-kawan. ‘’Kije je nuju luwas, jeg gisine limane. Eling tyang gung lingsir. Nyen kaden ne orang sing inget tanruh, jelek asane. Begitu ikhlas orang menyapa. Kalau tiyang menolak tidak mengakui tidak sopan. Langsung saja jawab. Ty inget asane ken pak. Kije to pe…begitu nyambung lebih akrab,’’ Rai Kalam mengingat percakapannya dengan seseorang.

Yang sedikit menjadi beban karena sering menceritakan sejarah terutama judul Arya Getas yang banyak menyinggung pasemetonan. Di Mengwi pernah seseorang bertanya, ‘’Cokor dewa ngelampahang Arya Getas, nyabcab penglingsir tyange niki, indayang nikaang, sapunapi awanan nak lingsir tyange wenten ke Bali,’’ begitu seseorang bertanya.

Sejujurnya, Rai Kalam mengaku tidak tahu persis karena memang tidak mempersiapkan diri. Seperti berjalan memungut sebilah bambu kemudian ada yang bertanya sambil membawa sesaji memohon agar diberikan bambu. ‘’Dimana dicarikan karena merasa tidak mempersiapkan diri,’’ aku Rai Kalam

Begitu juga keseriusannya memainkan dialog sebagai Ngurah Bayan membuat warga Bali di Lombok banyak yang tidak suka. ‘’ Bes teleb bene nampi... Ada dialog saya yang membuat mereka tersinggung ….jani mumpung ci teked ke Sasak tapakang entegang telapakan batis cine ngenjek gumin Sasake… disubane napak, rasaang ditu kenken tis panes…kebus…ne kenken ke kitaang. Mekite puun ci dini. Itu membuat tersinggung semeton Baline,’’ ujar Rai Kalam seraya melanjutkan dari dialog ini dikira seluruhnya bisa ngeleak, padahal cuma mencari upah.

Rai Kalam menyadari betul, sebagai seniman drama membutuhkan kesadaran bahwa sedang menipu orang, penuh kepura-puraan dan penuh seolah-olah. Seperti raden galuh yang menangis yang membuat penonton terhanyut menangis. Tetapi yang penting jangan berlebih-lebihan dan jangan menganggap penonton bodoh. Berikanlah apa yang disukai penonton.

Pernah satu kejadian salah satu pemain dilempari telor busuk di atas panggung setelah berpisah dari grup yang membesarkannya. Karena itu pesan terakhir Rai Kalam, sebagai pemain tidak boleh egois. Setiap peran sangat didukung oleh peran yang lain. Putri tanpa dayang atau raja tanpa patih, ibarat bulan tanpa bintang. (Gede Sumida)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan

BUDAYA

Bupati Giri Prasta Hadiri Karya Pitra Yadnya Desa Adat Belantih Kintamani Bangli

Beri Bantuan Dana Pribadi Rp 40 Juta dan Doakan Karya Berjalan Sempurna dan Lancar

Published

on

By

bupati giri prasta
Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta serahkan bantuan dana saat menghadiri karya Pitra Yadnya "Kusa Pranawa" Ngaben Massal Desa Adat Belantih, di Lapangan Umum Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli Selasa (27/9). (Foto: Ist)

Bangli, baliilu.com – Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menghadiri karya Pitra Yadnya “Kusa Pranawa” Ngaben Massal Desa Adat Belantih, bertempat di Lapangan Umum Desa Belantih, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Selasa (27/9).

Bupati Giri Prasta memberikan apresiasi dan dukungan atas semangat persatuan yang telah ditunjukkan krama Desa Belantih untuk melaksanakan yadnya secara bersama-sama. Selain memberikan dukungan, Bupati Giri Prasta juga memberi bantuan dana secara pribadi Rp 40 juta dan mendoakan semoga karya berjalan dengan baik, sempurna dan lancar.

Dalam kesempatan ini turut hadir Gubernur Bali Wayan Koster, Anggota DPR RI Dapil Bali IGN Alit Kesuma Kelakan, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, Ketua DPRD Bangli, Camat Kintamani beserta unsur tripika Kecamatan Kintamani, Perbekel Desa Belantih I Nengah Wardana, Bendesa Adat Belantih, Manggala Karya I Nyoman Irmawan, serta tokoh masyarakat setempat.

Dalam sambrama wacananya, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, menekankan pentingnya karya pitra yadnya/atiwa-tiwa, atma wedana dan sawa prakerti ini, yang dilaksanakan lima tahun sekali, dimana karya ini merupakan sebuah sarana upacara untuk menyucikan atma sehingga menjadi dewa hyang guru dan melinggih di merajan rong tiga. Pihaknya juga mengajak semeton semua harus selalu berpedoman dengan ajaran Agama Hindu berlandaskan Dharmaning Leluhur, Dharmaning Agama dan Dharmaning Negara. Dharmaning Leluhur yaitu krama adat semua wajib ayat bakti ring leluhur karena itu ada dadia, yang kedua Dharmaning Agama kita semua ini sama beragama Hindu dan yang ketiga Dharmaning Negara seperti contoh krama memakai masker.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Manggala Karya, Bendesa, Perbekel dan para tokoh di sini sudah menjalankan utamaning utama. Dalam pelaksanaan meperoras mamukur ini krama semua sudah menjalankan yang namanya Nyurut Ayu. Banyak rangkaian dari upacara nyekah yang patut dilaksanakan oleh krama sebagai peserta nyekah. Mulai dari ngangget don bingin, murwa daksina, meprelina puspa, meajar-ajar dan terakhir mamitang ke Pura Dalem dan ngelinggihang di masing-masing merajan,” ujarnya.

Baca Juga  Donor Darah dan Penanaman Pohon, Semarakkan HUT Ke-23 Perumda Air Minum Tirta Sewakadarma

Dilanjutkan, selain itu dalam prosesi Murwa Daksina menggunakan Bebek Putih dimana perlambang Linggih Betara Siwa yang digunakan untuk mengelilingi peyadnyan/ tempat acara mamukur untuk mengantarkan Atma ke Surga dan dalam pelaksanaan upacara ini juga harus menjalankan Panca Suara yaitu pertama Ida Sulinggih Mepuja suara Kleneng/Genta, yang Kedua Mamutru/ Ngwacen Lontar Atma Prasangsa, Ketiga Sesolahan Topeng Sidakarya, Keempat Sesolahan Wayang Lemah, dan yang terakhir Kelima Geguritan Kidung/ Pesantian. Selanjutnya dalam pelaksanaan meajar-ajar yang disebut catur loka pala. Yang terakhir dan utama adalah saat ngelinggihang disebut Dewa Pratista bermakna menyatukan bumi dengan langit dengan konsep padu muka.

“Pada prosesi ngelinggihang yang disebut dewa pratista ini berdasarkan lontar Panglukuning Dasa Aksara dan lontar Panglukuning Panca Aksara Pari Kandaning Parahyangan, kami harapkan, semua prosesi upacara tersebut dapat diikuti oleh semua keluarga sebagai tanggung jawab serta wujud bakti kita kepada leluhur yang diupacarai,” pintanya.

 Sementara itu Manggala Karya yang diwakili Perbekel Desa Belantih I Nengah Wardana, menyampaikan ucapan banyak terima kasih atas kesediaan Bapak Murdaning Jagat Bali, Murdaning Jagat Badung, Murdaning Jagat Bangli, serta undangan lainnya sudah hadir di tengah-tengah masyarakat Desa Adat Belantih, Desa Belantih dimana kami masyarakat melaksanakan upacara Pitra Yadnya “Kusa Pranawa” Ngaben Massal ring Desa Adat Belantih, dimana yang ikut dalam upakara ini sebanyak 71 sawa, Metatah/Potong Gigi 181 orang, dan Meperoras 71 sawa.

Dalam pelaksanaan upacara ini sudah diawali pada tanggal 4 September 2022 Redite Pon, Prangbakat Nyukat Genah Peyadnyan, pada tanggal 5 September 2022 Nanceb Genah Perorasan, dan puncak Pengabenan tanggal 22 September 2022 yang lalu dan setelah itu puncak Pengerorasan jatuh pada tanggal 25 September 2022 Redite Wage, Wayang, dan pada hari ini Selasa, 27 September 2022 Anggara Umanis, Wayang Ngulemin undangan ring pemerintah lan undangan umum, dan pelaksana acara meajar-ajar bertempat di wewidangan Pura Lempuyang  pada tanggal 30 September 2022 dan terakhir tanggal 2 Oktober 2022. (gs/bi)

Baca Juga  Buleleng Festival Bonsai 2020, Bupati Agus Suradnyana Beri Dukungan Penuh

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Hadiri Karya Ngenteg Linggih, Bupati Sanjaya Dukung Kebersamaan Krama Tangkas Kori Agung Mundeh Kauh Laksanakan Yadnya

Published

on

By

Bupati Tabanan
Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., saat menghadiri Yadnya Manca Kelud Dewa, Melaspas, Mupuk Pedagingan, Pedudusan dan Ngenteg Linggih di Merajan Ageng Semeton Tangkas Kori Agung di Banjar Adat Puncak Sari, Desa Mundeh Kauh, Selemadeg Barat, Senin (26/9). (Foto : Ist)

Tabanan, baliilu.com – Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., konsisten hadir di tengah masyarakat. Kali ini, menghadiri undangan Yadnya Manca Kelud Dewa, Melaspas, Mupuk Pedagingan, Pedudusan dan Ngenteg Linggih di Merajan Ageng Semeton Tangkas Kori Agung di Banjar Adat Puncak Sari, Desa Mundeh Kauh, Selemadeg Barat, Senin (26/9).

Dengan mengajak seluruh jajaran terkait dalam setiap kesempatan turun ke masyarakat, orang nomor satu di Tabanan itu tiada henti-hentinya memberikan dukungan atas pembangunan secara sekala niskala yang dilaksanakan oleh masyarakat. Hal ini tiada lain untuk mempercepat terwujudnya visi Tabanan Era Baru yang Aman, Unggul dan Madani (AUM).

Didampingi anggota DPRD, Sekda, Asisten II, OPD terkait, Camat dan unsur Forkopimcam Selbar, Perbekel, Bendesa Adat serta tokoh masyarakat setempat, Bupati Sanjaya memberikan apresiasi kepada masyarakat karena telah membangun karya yang terencana dengan baik. Nampak juga karya tersebut diimbangi dengan rasa kebersamaan dan semangat gotong-royong yang tinggi.

Politisi asal Dauh Pala Tabanan ini juga sangat meyakini, konsep kebersamaan dan gotong-royong dari masyarakat adalah salah satu kunci sukses dalam membangun karya selain materi. Untuk itu, pihaknya mengajak seluruh masyarakat agar selalu menjaga semangat kebersamaan dan semangat gotong-royong warga guna menyongsong pembangunan yang lebih baik kedepannya.

“Seperti yang saya lihat tadi, kebersamaan dan semangat gotong-royong ini harus terus dipupuk kedepannya. Astungkara, apa yang diharapkan masyarakat di saat membangun upacara yadnya ini, doa titiang semoga memargi antar labda karya sida sidaning don,” imbuh Bupati Sanjaya.

Terkait kehadiran Bupati Sanjaya beserta jajaran, I Made Sukarta selaku Ketua Panitia Karya, menyampaikan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada Bupati beserta jajaran. Dukungan dan doa restu ini dikatakannya sangat bermanfaat bagi pihaknya. “Saya menghaturkan terimakasih banyak karena dalam kesempatan yang baik ini, Bapak Murdaning Jagat beserta jajaran nyaksi karya yang kami laksanakan,” pungkasnya mewakili seluruh krama Tangkas Kori Agung Mundeh Kauh. (gs/bi)

Baca Juga  National Trainer Kadek Andriana Dersen: Selesaikan Pekerjaan dan Belajar, dengan Kebahagiaan

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

BUDAYA

Ny. Sagung Antari Jaya Negara Buka Pelatihan Membuat ‘’Banten Otonan’’

Published

on

By

banten otonan
Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, berbaur dengan peserta pelatihan usai membuka pelatihan Banten Otonan di Kantor Desa Sidakarya pada Sabtu (24/9). (Foto: Ist)

Denpasar, baliilu.com – Untuk meningkatkan pemahaman makna upakara bagi masyarakat terutama bagi wanita Hindu tentang filosofi dan makna yang terkandung dalam sarana upakara, Wanita Hindu Dharma Denpasar (WHDI) Kota Denpasar menggelar pelatihan membuat Banten Otonan secara berkelanjutan.

Kali ini pelatihan berlangsung di Kantor Desa Sidakarya dan dibuka secara resmi oleh Ketua WHDI Kota Denpasar Ny. Sagung Antari Jaya Negara, Sabtu (24/9).

Dalam kesempatan itu, Ny Sagung Antari Jaya Negara mengatakan, pelatihan membuat Banten Otonan ini dilaksanakan karena tingginya minat masyarakat khususnya wanita Hindu untuk mengetahui makna dan cara membuat banten sesuai sastra agama.

Tidak hanya itu, kegiatan ini dilaksanakan untuk menunjang program WHDI Kota Denpasar dalam bidang keagamaan. Kegiatan ini menyasar wanita Hindu, dan melibatkan peserta dari unsur WHDI Banjar Sekar Kangin Sidakarya.

Lebih lanjut Ny. Sagung Antari Jaya Negara mengatakan, di tengah masa pandemi seperti saat ini aktivitas wanita Hindu di Kota Denpasar tidak menyurutkan minat masyarakat khususnya wanita Hindu untuk memahami makna dan filosofi serta unsur-unsur  yang menjadi kelengkapan suatu banten atau upakara,  sehingga pelatihan membuat Banten Otonan menjadi materi saat ini. Dengan tiga narasumber dari WHDI Kota Denpasar yakni Ni Wayan Sukerti, Ni Made Sucitawati dan Ni Nyoman Ciri.

‘’Mengingat Banten Otonan  diperlukan setiap 6 bulan sekali untuk memperingati hari kelahiran,   untuk itu kami harapkan ibu rumah tangga  bisa membuat Banten Otonan sendiri untuk keperluan anggota keluarganya sendiri  dan bila sudah  terbiasa dapat diterapkan pada lingkungan yang lebih luas lagi,” harap Ny. Sagung Antari Jaya Negara.

Selebihnya Ny. Sagung Antari Jaya Negara mengatakan, pelatihan membuat banten otonan selain  untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar bisa membuatnya sesuai dengan sastra, juga bisa mengirit biaya. Dari pelatihan ini minimal ibu- ibu rumah tangga mengetahui dan bisa membuat banten otonan untuk anggota keluarga di rumah sendiri sesuai dengan sastra agama Hindu.

Baca Juga  Buleleng Festival Bonsai 2020, Bupati Agus Suradnyana Beri Dukungan Penuh

Narasumber Ni Wayan Sukerti mengatakan, banyak ibu-ibu yang bisa membuat Banten Otonan, namun kebanyakan membuatnya tidak sesuai dengan yang ada dalam sastra. Maka dalam pelatihan ini pihaknya memberikan pemahaman secara detail cara membuat dan makna yang terkandung setiap sarana. “Dari pelatihan ini kami harapkan peserta bisa memahaminya secara benar,” harap Sukerti.

Sukerti menambahkan pelaksanaan pelatihan banten tahun ini berlangsung selama 16 kali. Satu kecamatan dua desa, satu kecamatan 4 kali. (ayu/eka)

Advertisements
iklan pemprov

iklan dprd badung
Advertisements
iklan dprd bali
Advertisements
iklan pemkot ri
Advertisements
iklan hut ri
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca