Connect with us

KRIMINAL

Jual Tanah Milik Orang Lain, Polda Bali Ungkap Kasus Penipuan IKT Asal Nusa Penida

BALIILU Tayang

:

de
UNGKAP KASUS PENIPUAN: Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali Kombes Pol. Ary Satriyan, S.I.K, M.H. didampingi Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Bali AKBP Made Rustawan, S.H, M.H. saat konferensi pers kasus penipuan sertifikat di Mapolda Bali, Selasa (14/9). Hadir Kakanwil BPN Provinsi Bali Ketut Mangku, A. Ptnh, S.H. M.H. dan Kepala Bidang Pengendalian dan Penanganan Sengketa Agus Apriawan, S.T., S.H., M.Kn.

Denpasar, baliilu.com – Diduga tersangka IKT menjual tanah milik orang lain yang sudah disertifikatkan menjadi atas nama terlapor, kemudian dijual kepada korban Ni Made Murniati dengan mengatakan tanah tersebut adalah miliknya dan bukan tanah bermasalah atau dalam sengketa, kini kasus dugaan tindak pidana penipuan ini ditangani pihak Polda Bali.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali Kombes Pol. Ary Satriyan, S.I.K, M.H. menyampaikan hal tersebut saat konferensi pers di Mapolda Bali, Selasa (14/9). Dihadiri Kakanwil BPN Provinsi Bali Ketut Mangku, A. Ptnh, S.H. M.H., Kepala Bidang Pengendalian dan Penanganan Sengketa Agus Apriawan, S.T., S.H., M.Kn., Dir Reskrimum Ary Satriyan yang didampingi Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Bali AKBP Made Rustawan, S.H, M.H. lanjut di depan awak media menguraikan pengungkapan kasus penipuan yang dilakukan tersangka IKT (53) asal Dusun Pundukkaha Kelod Desa Bunga Mekar, Nusa Penida, Klungkung ini.

Kombes Ary Satryan mengungkapkan, bermula pada 2016 terlapor IKT mendatangi korban (pelapor) untuk menawarkan 4 bidang tanah yang terletak di Desa Bunga Mekar Nusa Penida, dengan menunjukkan 4 buah fotokopi sertifikat masing-masing atas nama IKT. Bahwa, tanah tersebut adalah tanah miliknya sesuai yang tercatat di SHM.

‘’Tersangka menerangkan bahwa tanah tersebut lokasi dan pemandangannya bagus, dan tanah tersebut bukan tanah sengketa serta tersangka juga menjamin bahwa tanah tersebut tidak akan ada masalah di kemudian hari,’’ terang Dir Reskrimmum Ary Satryan.

Dari keterangan terlapor, korban Ni Made Murniati dan suaminya I  Nengah Setar tertarik untuk membelinya, selanjutnya pada Mei 2016, tersangka IKT, I Ketut Merta bersama-sama dengan korban dan suaminya mendatangi kantor notaris Putu Puspajana, S.H. di Jalan Puputan I/5 Semarapura, Klungkung.

Di hadapan notaris mereka memohon agar dibuatkan akta perjanjian perikatan jual beli terkait bidang tanah yang akan ditransaksikan. Di hadapan notaris, IKT kembali menerangkn bahwa tanah tersebut memang benar miliknya dan tidak dalam sengketa  keluarga dan menjamin di kemudian hari tidak akan bermasalah. IKT juga meminta  notaris agar menuangkan keterangannya ke dalam akta PPJB agar Ni Made Murniati dan suaminya lebih percaya dan yakin bahwa tanah tersebut tak bermasalah.

Selanjutnya, notaris Putu Puspajana, S.H. membuatkan akta PPJB dilanjutkan dengan pembacaan akta oleh notaris dan sudah disepakati oleh para pihak, sehingga kedua pihak menandatangani masing-masing akta. Bahwa akta tersebut juga merupakan bukti pembayaran yang sah sesuai kesepakatan para pihak sejumlah Rp. 832.950.000, dan tersangka IKT sudah menerima uang pembayaran tersebut.

Namun pada tahun 2018, ada gugatan dari pihak I Nyoman Tangkas, dkk, dan Gusti Ketut Indra, dkk, di Pengadilan Negeri Semarapura, yang menggugat tersangka IKT dan Ni Made Murniati, terkait permohonan penerbitan sertifikat dan jual beli yang dilakukan oleh tersangka IKT yang saat ini SHM sudah beralih hak ke an Ni Made Murniati dan dalam gugatan tersebut telah diputus oleh PN Semarapura yang menyatakan proses penerbitan sertifikat yang dilakukan oleh IKT merupakan perbuatan melawan hukum, dan menyatakan bahwa proses jual beli yang dilakukan oleh IKT dengan Ni Made Murniati adalah cacat hukum. Sehingga IKT mengajukan perkara tersebut ke tingkat banding, dan sudah diputus, dimana putusannya menguatkan putusan PN Semarapura, dan selanjutnya mengajukan kasasi, dan sudah diputus dengan putusannya yaitu menolak permohonan pemohon.

Saat ini sertifikat atas nama Ni Made Murniati dalam proses pembatalan, sesuai permohonan dari penggugat di BPN Klungkung sehingga dengan adanya peristiwa tersebut Ni Made Murniati merasa dirugikan.

‘’Sehubungan dengan adanya peristiwa tersebut korban datang dan membuat laporan polisi di SPKT Polda Bali, dan diteruskan ke Ditreskrimum Polda Bali untuk dilakukan proses penyidikan yang selanjutnya ditangani oleh Tim Unit 2 Subdit II Ditreskrimum Polda Bali,’’ ungkap Dir Reskrimum Ary Satryan.

Proses penyidikan, lanjut Ary Satryan, dengan memeriksa pelapor/korban, pemeriksaan para saksi-saksi, notaris, dan saksi dari Kantor Pertanahan Klungkung dan dilakukan penyitaan barang bukti dari pelapor/korban, notaris, serta dari Kantor Pertanahan klungkung. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap terlapor.

Setelah korban, saksi-saksi, dan terlapor diperiksa dan keterangannya dituangkan dalam berita acara pemeriksaan, ditemukan 2 alat bukti yang cukup selanjutnya dilakukan gelar perkara penetapan tersangka. Dan hasil dari gelar perkara yaitu menetapkan terlapor sebagai tersangka dengan diterbitkan surat perintah  penetapan tersangka, tertanggal 29 Juni 2021.

Lanjut dalam tahap pemberkasan diserahkan ke JPU dan dari Kejaksaan Tinggi Bali telah membalas berkas perkara per tanggal 30 Agustus 2021, dimana hasil penyidikan perkara pidana sudah lengkap (P21).

Barang bukti yang disita berupa fotokopi legalisir minuta akta PPJB No. 45, tanggal 27 Mei 2016, fotokopi legalisir minuta akta PPJB No 46, tanggal 27 Mei 2016, fotokopi legalisir minuta akta PPJB No. 47, tanggal 27 Mei 2016, foto legalisir minuta akta PPJB No. 56, tanggal 31 Mei 2016, fotokopi 4 (empat ) SHM an. Ni Made Murniati,  fotokopi warkah penerbitan sertipikat yang dilegalisir, dan fotokopi putusan gugatan perdata PN, PT dan Kasasi.

‘’Selanjutnya kami melimpahkan tersangka dan barang bukti kepada jaksa penuntut umum,’’ pungkasnya. (eka)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Advertisement
Klik untuk Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KRIMINAL

Sat Resnarkoba Polresta Denpasar Sebulan Amankan 51 Tersangka

Published

on

By

de
JUMPA PERS: Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Jansen Avitus Panjaitan, S.I.K.,M.H. didampingi Kasat Resnarkoba AKP Losa Lusiano Araujo, S.I.K. saat jumpa pers pengungkapkan kasus narkoba, Kamis (14/10) di Mako Polresta Denpasar.

Denpasar, baliilu.com – Satuan Res Narkoba Polresta Denpasar berhasil mengamankan 51 (lima puluh satu) pelaku penyalahgunaan narkoba dalam kurun waktu dari tanggal 1 September sampai 11 Oktober 2021 dengan jumlah 36 kasus.

Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Jansen Avitus Panjaitan, S.I.K.,M.H. didampingi Kasat Resnarkoba AKP Losa Lusiano Araujo, S.I.K. menjelaskan, barang bukti yang berhasil diamankan dari semua pelaku berupa ganja 1.181 gram (1 kg), sabu 175,6 gram, ekstasi 211 butir dan tembakau sintetis 4,62 gram.

“Ada enam kasus dengan barang bukti besar, salah satunya pasangan suami istri asal Jakarta yang saat diamankan memiliki sabu seberat 42,46 gram ditangkap di Jalan Juwet Sari Densel,” ungkap Kapolresta Denpasar, Kamis (14/10) saat jumpa pers di Mako Polresta Denpasar. 

Kemudian ada pelaku Ruliff (18) dan Faris (23) TKP Jalan Kawasan Pecatu Kutsel dengan barang bukti 1 kg ganja kering, Teguh (42) TKP Jalan Pulau Bungin Denpasar Selatan dari pelaku diamankan sabu seberat 59,02 gram dan 117  butir ekstasi.

Haryono (27) ditangkap di Jalan Pura Demak Denbar dengan barang bukti dari tangan pelaku berupa sabu 15,99 gram dan 25 butir ekstasi, Ryan (25) yang berprofesi sebagai buruh diamankan di Jalan Alam Sari Denpasar Barat dari pelaku disita sabu 25,92 gram dan Benny (30) di TKP Jalan Glogor Carik Denpasar Selatan dengan 25 butir ekstasi.

Menurut dari daerah pelaku, asalnya dari Jawa 32 orang, Bali 17 orang, NTB 1 orang dan Ambon 1 orang. Peran dari pelaku sebagai kurir dan bandar.

“Modus operandi para pelaku yaitu menyimpan, mengantar / menempel narkotika dimana mereka melakukan perbuatan itu karena faktor ekonomi,” Jelas Kombes Jansen Avitus.

Sedangkan pasal yang disangkakan terhadap para pelaku yaitu Pasal 111 ayat (2) Pasal 112 ayat 1 dan 2 UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun. (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Lanjutkan Membaca

KRIMINAL

Enam Pelaku Curas di Bawah Umur Diamankan Sat Reskrim Polresta Denpasar

Published

on

By

de
JUMPA PERS: Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Jansen Avitus Panjaitan, SIK, MH, didampingi Kasat Reskrim Kompol Mikael Hutabarat, S H.,S.I.K.,M.H. saat jumpa pers kasus curas di bawah umur, Senin (11/10/2021).

Denpasar, baliilu.com – Satuan Reskrim Polresta Denpasar berhasil mengamankan enam pelaku pencurian dengan kekerasan, empat di antaranya pelaku merupakan anak di bawah umur.

Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Jansen Avitus Panjaitan., S.I.K.,M.H. menjelaskan, pengungkapan kasus ini  berawal dari laporan korban bernama Jefriyanto (20) yang mengaku pada Sabtu 2 Oktober 2021, sekira jam 02:56 Wita. Korban memesan kapsul obat kuat kepada pelaku Nanda melalui aplikasi Mi Chat, selanjutnya pelaku bersama – sama menuju TKP di Jl. Gn. Talang VI.C No. 12 Denpasar.

Saat di TKP, pelaku dan korban ngobrol dan korban hendak membayar, namun dompet korban ditarik oleh pelaku dan pelaku yang berjumlah enam orang secara bersama-sama melakukan penganiayaan terhadap korban dengan menggunakan double stik memukul kepala korban hingga kepala korban luka mengeluarkan darah. Pelaku kemudian merampas HP dan dompet korban.

Pelaku enam orang berinisial ART (19), DD (19), KSA (15), PT LD (13), MD SW (15), dan GD CSF (17), melakukan penganiayaan dilakukan secara bersama-sama terhadap korban.

“Setelah kita kembangkan terhadap keenam pelaku, ternyata mereka sudah beraksi sebanyak 13 (tiga belas) kali di wilayah Denpasar,” kata Kapolresta Denpasar didampingi Kasat Reskrim Kompol Mikael Hutabarat, S H.,S.I.K.,M.H. (11/10/2021).

Dijelaskan Kapolresta, ketiga belas TKP tersebut di antaranya di Jalan Bikini 3 kali , Jl. Mahendradata Gg. Akasia 4 kali, Jalan Gunung Talang Denpasar sebanyak 5 kali dan di Jalan Pura Demak Denpasar  1 kali. Kapolresta menegaskan perbuatan mereka sangat meresahkan masyarakat, sedangkan hasil dari kejahatannya pelaku gunakan untuk berfoya-foya.

“Pasal yang dilanggar Pasal 365 ayat 2 ke 1e dan 2e KUHP, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun (12) dan karena ada pelaku anak di bawah umur tentunya ada pengurangan masa hukuman,” jelas Kombes Jansen Avitus. (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Lanjutkan Membaca

KRIMINAL

Bareskrim Kerahkan Tim Asistensi Terkait Kasus Dugaan Pemerkosaan di Luwu Timur

Published

on

By

Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri Irjen Argo Yuwono

Jakarta, baliilu.com – Bareskrim Polri mengerahkan tim asistensi terkait dengan kasus dugaan pemerkosaan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengungkapkan, tim asistensi itu untuk melakukan pendampingan terhadap Polres Luwu Timur dan Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), terkait dengan proses hukum kasus tersebut.

“Hari ini tim asistensi Wasidik Bareskrim, dipimpin Kombes Helfi Assegaf dan tim berangkat ke Polda Sulsel,” kata Argo kepada wartawan, Jakarta, Sabtu (9/10).

Menurut Argo, tim asistensi Bareskrim Polri tersebut bakal bekerja secara profesional. Bahkan, ditegaskan Argo, apabila nantinya ditemukan bukti baru maka, polisi bakal kembali membuka perkara tersebut.

Diketahui, Polres Luwu Timur dan Polda Sulsel menghentikan proses penyelidikan kasus itu. Pasalnya, aparat tidak menemukan barang bukti yang kuat terkait dengan perkara tersebut.

“Kalau ada bukti baru bisa dibuka kembali,” ujar mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya tersebut.

Argo sebelumnya memastikan bahwa penanganan proses hukum mulai dari penerimaan laporan, penyelidikan, hingga penghentian kasus dugaan pemerkosaan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, sudah berjalan sesuai prosedur yang berlaku.

Dalam hal ini pihak kepolisian sudah melakukan tindaklanjut dari adanya laporan terkait hal itu ke Polres Luwu Timur pada tanggal 9 Oktober 2019.

Setelah menerima laporan itu, polisi mengantar ketiga anak untuk dilakukan pemeriksaan atau Visum Et Repertum bersama dengan ibunya serta petugas P2TP2A Kabupaten Luwu Timur.

“Hasil pemeriksaan atau visum dengan hasil ketiga anak tersebut tidak ada kelainan dan tidak tampak adanya tanda-tanda kekerasan,” ucap Argo.

Sementara itu, dari laporan hasil asesamen P2TP2A Kabupaten Luwu Timur bahwa tidak ada tanda-tanda trauma pada ketiga anak tersebut kepada ayahnya.

“Karena setelah sang ayah datang di kantor P2TP2A ketiga anak tersebut menghampiri dan duduk di pangkuan ayahnya,” ujar Argo.

Selain itu, dalam hasil pemeriksaan Psikologi Puspaga P2TP2A Luwu Timur, ketiga anak tersebut dalam melakukan interaksi dengan lingkungan luar cukup baik dan normal. Serta hubungan dengan orangtua cukup perhatian dan harmonis, dalam pemahaman keagamaan sangat baik termasuk untuk fisik dan mental dalam keadaan sehat.

Argo mengungkapkan, hasil visum di RS Bhayangkara Polda Sulsel tidak ditemukan kelainan terhadap anak perempuan tersebut. Sementara, anak laki-lakinya tidak ada temuan atau kelainan juga.

Setelah melakukan rangkaian prosedur hukum, Polres Luwu Timur pun pada 5 Desember 2019 melakukan gelar perkara. Adapun kesimpulannya adalah menghentikan penyelidikan perkara tersebut.

“Tidak ditemukan bukti yang cukup adanya tindak pidana sebagaimana yang dilaporkan,” ucap Argo.

Sementara, Polda Sulsel pada tanggal 6 Oktober 2020 juga telah melakukan gelar perkara khusus dengan kesimpulan menghentikan proses penyelidikannya. (gs)

Advertisements
de

de
Advertisements
de
Lanjutkan Membaca