Connect with us
https://www.baliviralnews.com/wp-content/uploads/2022/06/stikom-juni-25-2022.jpg

NEWS

Komposter Bag, Solusi Anti Ribet Sampah Organik Rumah Area Terbatas

Komposter bag bisa dibeli di online

Loading

BALIILU Tayang

:

komposter bag
Komposter bag, solusi atasi sampah organik di rumah tangga. (Foto: gs)

Denpasar, baliilu.com – Belakangan jagat maya di Pulau Bali, riuh rendah oleh pro kontra tentang pengolahan sampah. Polemik berkepanjangan muncul pasca ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung bagi sampah organik. Sempat muncul pula pemandangan sampah bertumpuk tidak terangkut di ruas-ruas jalan di beberapa wilayah Kota Denpasar. Padahal Sejatinya sampah organik jika dikelola dengan baik, justru dapat mendatangkan manfaat.

Hal tersebut disampaikan salah seorang warga Kota Denpasar Gde Wirakusuma kepada media pada Kamis (14/8). “Sampah organik jika dikelola dengan baik dapat menghasilkan kompos yang bisa menjadi bahan penyubur tanaman,” ujar pria yang akrab disapa Wira ini. Jadi bahan dari alam akan kembali ke alam dan tidak menimbulkan masalah bau serta pemandangan kurang sedap.

Menurutnya ada beberapa pilihan untuk pengolahan sampah organik yang kerap dipopulerkan dengan teba modern atau teba vertikal. “Mulai dari berbahan buis beton, tong komposter, tabung pipa komposter serta lubang biopori termasuk komposter bag,” ujar bapak tiga anak ini. Dari sekian pilihan, pria yang juga ASN di Pemkot Denpasar ini memilih komposter bag. Teba vertikal berupa kantong berbahan terpal plastik ini mirip drum besar berisi tutup di bagian atas untuk menghindarkan serangga serta jendela bukaan di bagian bawah untuk memudahkan ambil komposnya. Baginya komposter bag menjadi salah satu pilihan yang mudah, murah dan efektif di rumah dengan area terbatas, seperti perumahan di perkotaan yang luasan lahannya rata-rata  1 are atau bahkan kurang, jelasnya.

Komposter bag berukuran 200 liter hanya memerlukan landasan dengan diameter 50 cm x 50 cm dengan tinggi 102 cm serta mampu mengolah sampah rumah tangga dalam jangka waktu yang cukup panjang. “Saya sudah menggunakan selama 1 tahun lebih dan sampai sekarang masih berfungsi dengan baik,” tegasnya. Dengan harga di kisaran Rp 30.000 – Rp 60.000, komposter bag juga menjadi pilihan yang cukup terjangkau. “Tinggal beli online dan langsung pasang, sudah bisa digunakan untuk mengolah sampah,” jelasnya.

Baca Juga  Wabup Badung Terima Bantuan TJSP Tong Komposter

Tanpa memerlukan perlakuan khusus, sampah daun dan sampah dapur langsung dibuang ke dalam bag. “Dalam 2 sd 3 bulan sudah terbentuk kompos dan bisa dipanen untuk dipergunakan menyuburkan tanaman,” ujar warga di Br. Tangguntiti Kelurahan Tonja Denut ini. Penambahan booster berupa cairan pengompos dan ecoenzyme tentu akan lebih baik untuk mempercepat proses kompostingnya. Dengan komposter bag ini pengambilan kompos hasil pengolahan sampah organik juga relatif mudah. “Tinggal ambil dari bukaan di bagian bawah, tidak perlu tenaga dan waktu yang lama,” ujar penggemar tanaman jepun ini.

Menurutnya pedoman pengolahan sampah berbasis rumah tangga cukup simple. “Yang terbuat dari alam (organik) kita olah dengan komposter agar menjadi pupuk yang dikembalikan ke alam, sedangkan sampah anorganik yang berbahan pabrik kita kembalikan ke pabrik untuk diolah kembali (recycle) melalui bank sampah,” jelas mantan wartawan ini.

Berdasarkan pengamatan dalam mengolah sampah sejak 2018, pihaknya menyatakan bahwa komposisi sampah harian rumah tangga : 50-60 persen sampah organik, 30-40 perse sampah anorganik dan 5-10 persen adalah residu yang tidak bisa dimanfaatkan/diolah kembali berupa tisue, slip belanja, cotton bud, pampers, pembalut, kapas dan sejenisnya. “Jika kita bisa mengelola sampah dengan baik di rumah tangga dan hanya membuang residu ke TPA, tentu beban TPA akan semakin ringan dan pemrosesan sampah residu jauh lebih mudah dibanding sampah tercampur seperti saat ini,” ujar alumnus Universitas Jember ini.

Pengolahan sampah berbasis rumah tangga dengan komposter dan pelibatan bank sampah akan jauh lebih bermanfaat jika dibarengi dengan upaya pengurangan timbulan sampah sekali pakai. “Caranya dengan selalu membawa kemasan makanan dan minuman pakai ulang seperti rantang, meal box dan tumbler air minum serta tote bag dari kain saat ke luar rumah untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai,” ujar pria yang juga aktivis KMHDI ini. Memang penggunaan kemasan plastik, kaleng dan kaca tidak terhindarkan, terutama dalam produk makanan. Namun jika kita bijak mengelolanya dengan mengolah kembali sampah anorganik tersebut melalui bank sampah, tentu akan lebih bermanfaat dengan tidak berdampak pada lingkungan.

Baca Juga  Walikota Hadiri Aksi Bersih-bersih dan Sosialisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Kesiman Kertalangu

Sebenarnya Gubernur Bali telah menerbitkan dua peraturan dalam mengelola sampah. Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai  dimana aturan ini melarang penggunaan kantong plastik, styrofoam, dan sedotan plastik, serta membatasi penggunaan plastik sekali pakai di berbagai sektor. Ditambah lagi Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber serta Instruksi Gubernur Bali Nomor 8324 Tahun 2021 yang lebih rinci mengatur pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis sumber di desa/kelurahan dan desa adat. “Kedua peraturan ini sebenarnya ingin mengajak masyarakat untuk mengolah sampah agar mandiri dan tidak berdampak negatif pada lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, terbitnya kedua peraturan tersebut sebagai upaya melindungi alam dan masyarakat Bali sehingga wajib dipatuhi dan dilaksanakan mengingat pengelolaan sampah yang buruk akan berdampak pada alam, masyarakat dan pariwisata. “Bali adalah pulau kecil dan sebagian besar perkonomian kita bertumpu pada sektor pariwisata,” tegasnya. Jika kemudian sampah, khususnya yang anorganik semacam plastik, kaleng dan kaca malah mengotori laut, danau, sungai, sawah, hutan dan tempat lainnya yang menjadi destinasi wisata unggulan serta sumber kehidupan kita lainnya tentu akan menjadi bumerang bagi kita sendiri. Mari sayangi Bali, sayangi alam dan lingkungan maka alam dan lingkungan akan menjaga kita.

Komposter bag, solusi atasi sampah organik di rumah tangga. (Foto: gs)

9 Langkah Mudah Olah Sampah Organik

Langkah no. 9 paling menentukan keberhasilan komposting.

  1. Siapkan komposter bag berbahan terpal. Bisa dibeli online dengan mengetik Composter Bag.
  2. Letakkan di area yang cukup sirkulasi sinar dan udara serta berlandaskan tanah untuk penyerapan air sisa pengomposan.
  3. Pasang penahan/penguat di keempat sisi komposter bag agar tidak meleyot saat hampir penuh.
  4. Awali dengan membuat dasar serapan di bagian bawah bag dengan hanya memasukkan sampah kebun.
  5. Setelah beberapa waktu tambahkan sampah dapur (mentah atau matang). Lalu tutup lagi dengan sampah kebun supaya terhindar dari kerubungan lalat.
  6. Proses ini diulang terus sampai terbentuk kompos di bagian bawah yang bisa diambil secara rutin nantinya.
  7. Pantangannya : sama sekali tidak boleh ada sampah anorganik (plastik mika kaca kaleng dll) karena membuat gas dan air terperangkap sehingga memunculkan bau busuk.
  8. Hindari memasukkan langung ranting dan janur karena menghambat pembusukan (ranting dan lidi janur menghalangi sampah turun. Sedangkan daun janur mengandung lilin sehingga lambat diurai). Sampah janur dan ranting agar dicincang menjadi remah kecil untuk mempercepat pembusukan.
  9. Lakukan sekarang. Semakin cepat dilakukan semakin cepat terbebas dari problem sampah. (gs/bi)
Baca Juga  Pemkot Denpasar Sinergikan Program Pengelolaan Sampah Bersama Pemerintah Pusat

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan

NEWS

Sarkofagus Berusia Ribuan Tahun Ditemukan di Desa Bengkel, Jadi Jejak Kehidupan Prasejarah

Published

on

By

Sarkofagus Peninggalan Megalitikum di Desa Bengkel
Sarkofagus yang ditemukan sekitar tahun 2006 di Banjar Salin, Desa Bengkel. (Foto: Hms Buleleng)

Buleleng, baliilu.com – Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, menyimpan peninggalan bersejarah dari era prasejarah berupa sarkofagus atau peti kubur batu. Benda purbakala berbentuk menyerupai telur tersebut menjadi salah satu bukti adanya kehidupan masyarakat pada masa megalitikum di kawasan itu.

Sarkofagus tersebut ditemukan sekitar tahun 2006 di Banjar Salin, Desa Bengkel. Penemuan bermula saat aktivitas pengerukan dan perataan tanah dilakukan di lahan milik warga untuk rencana pembangunan perumahan serta pembuatan batu bata merah.

Jro Made Widiasa menuturkan, awalnya pekerja menemukan batu cadas berukuran besar ketika menggali dan meratakan gundukan tanah. Setelah dilakukan penggalian lebih lanjut, barulah terlihat bentuk benda yang diketahui sebagai sarkofagus.

“Awalnya ada gundukan tanah yang diratakan untuk perumahan. Ketika digali, pekerja menemukan batu cadas berukuran besar. Setelah terus digali, barulah terlihat wujud sarkofagus tersebut,” ujar Jro Made Widiasa selaku Tetua dan Tokoh Adat setempat, saat ditemui, Sabtu 7 November 2026.

Sarkofagus tersebut memiliki panjang sekitar 1,5 meter dengan bentuk bulat polos tanpa ukiran maupun motif hiasan. Karakteristiknya disebut menyerupai sarkofagus yang sebelumnya ditemukan di kawasan Gilimanuk.

Dalam tradisi megalitikum, sarkofagus merupakan wadah pemakaman yang umumnya dikaitkan dengan tokoh-tokoh penting dalam kelompok masyarakat, seperti pemimpin komunitas maupun orang yang dihormati.

Keberadaan peninggalan tersebut pun menjadi petunjuk penting untuk menelusuri kehidupan masyarakat prasejarah di Desa Bengkel. Temuan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan komunitas serta perkembangan kehidupan sosial masyarakat pada masa lampau.

“Temuan ini menjadi dasar bagi kami untuk melakukan eksplorasi dan penelitian lebih lanjut. Hal ini membuktikan bahwa ada kehidupan dan komunitas masyarakat yang berkembang di Desa Bengkel sejak zaman prasejarah, perkiraannya berasal dari tradisi megalitikum,” tambahnya.

Baca Juga  Besakih Tanpa Sampah Plastik, Koster Tegaskan Disiplin Total demi Kesucian Karya IBTK 2026

Namun, proses pengungkapan sejarah peninggalan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mudah. Saat pertama kali ditemukan, sejumlah pecahan tembikar yang berada di sekitar lokasi sempat terbuang sebelum sempat diteliti lebih lanjut.

Selain itu, berkembangnya cerita mistis di tengah masyarakat, termasuk adanya warga yang mengalami kerauhan atau kesurupan, turut memengaruhi proses penelitian mendalam terhadap temuan tersebut.

Penelitian kemudian mulai direalisasikan dengan melibatkan tim ahli dan kalangan akademisi untuk menggali informasi mengenai nilai sejarah serta konteks keberadaan sarkofagus tersebut.

Hingga kini, peninggalan purbakala itu masih disimpan dan dilestarikan di lokasi asalnya di Banjar Salin, Desa Bengkel. Keberadaannya menjadi bagian dari kekayaan sejarah desa yang perlu dijaga sekaligus diteliti lebih lanjut. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan Rp 98 Juta kepada Tiga Korban Kebakaran di Jembrana

Pemprov Bali Juga Salurkan Bantuan Penguatan Ekonomi Rp 206 Juta kepada 27 Penerima

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan untuk Korban Kebakaran
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial senilai total Rp 98 juta kepada tiga warga terdampak bencana kebakaran di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial senilai total Rp 98 juta kepada tiga warga terdampak bencana kebakaran di Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). Bantuan tersebut diperuntukkan bagi perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan akibat kebakaran.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub Giri Prasta didampingi Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan; mantan Bupati Jembrana periode 2000–2010, I Gede Winasa; serta Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya.

Bantuan sosial diserahkan secara simbolis kepada tiga penerima dengan nilai yang disesuaikan berdasarkan kondisi kerusakan bangunan akibat kebakaran.

Ketiga penerima tersebut yakni I Ketut Sumerta, warga Banjar Ketiman, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, yang menerima bantuan Rp 23 juta untuk perbaikan rumah dengan kategori rusak sedang.

Selanjutnya, I Kadek Dwi Loka Wijaya, warga Banjar Dauh Pangkung, Desa Pekutatan, Kecamatan Pekutatan, menerima bantuan Rp 50 juta untuk perbaikan rumah dan balai sari yang mengalami kerusakan berat.

Sementara itu, Ahmad Kurniawan, warga Banjar Anyar, Desa Air Kuning, Kecamatan Jembrana, menerima bantuan Rp 25 juta untuk perbaikan rumah yang mengalami kerusakan sedang.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Giri Prasta menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah kebakaran yang menimpa warga. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus berupaya hadir membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan akibat bencana.

“Ini adalah wujud implementasi program Bapak Gubernur Bali, salah satunya dalam penanganan bencana. Atas nama Pemerintah Provinsi Bali, kami memberikan bantuan sesuai dengan kerugian yang dialami masyarakat akibat bencana,” ujar Wagub Giri Prasta.

Ia berharap bantuan yang diberikan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung pemulihan tempat tinggal agar warga dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman.

Baca Juga  Wabup Badung Terima Bantuan TJSP Tong Komposter

“Bantuan ini sudah dipergunakan untuk membangun kembali rumah yang sebelumnya terkena bencana. Semoga rumah yang dibangun ini bisa dijadikan tempat beraktivitas yang aman dan nyaman,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Wagub Giri Prasta juga menyerahkan bantuan tambahan senilai Rp 2 juta kepada salah satu korban kebakaran, I Ketut Sumerta.

Selain bantuan perbaikan rumah bagi korban kebakaran, Pemerintah Provinsi Bali juga menyalurkan bantuan sosial berupa penguatan ekonomi kepada 27 penerima manfaat di Kabupaten Jembrana dengan total nilai mencapai Rp 206 juta.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Bali, penyaluran kedua jenis bantuan tersebut mencapai Rp 304 juta, terdiri atas bantuan perbaikan rumah sebesar Rp 98 juta kepada tiga penerima dan bantuan penguatan ekonomi sebesar Rp 206 juta kepada 27 penerima.

Bantuan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Bali dalam mendukung pemulihan masyarakat yang terdampak bencana atau musibah, baik dari aspek tempat tinggal maupun kondisi ekonomi.

Berdasarkan data BPBD Provinsi Bali, penyerahan bantuan pada 5 November 2026 merupakan penyerahan bantuan yang kesepuluh di Kabupaten Jembrana sejak awal tahun 2026.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali telah melaksanakan sembilan kali penyerahan bantuan serupa dengan nilai keseluruhan mencapai Rp 507,5 juta.

Dengan tambahan bantuan sebesar Rp304 juta yang diserahkan pada 5 November 2026, total bantuan sosial yang telah disalurkan kepada masyarakat Kabupaten Jembrana hingga November 2026 mencapai Rp 811,5 juta.

Penyaluran bantuan secara berkelanjutan tersebut menjadi salah satu bentuk kehadiran Pemerintah Provinsi Bali dalam membantu masyarakat yang terdampak bencana atau musibah serta mendukung percepatan pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi warga. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca

NEWS

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan kepada 27 Petani Terdampak Gagal Panen di Jembrana

Dorong Konservasi Sumber Air dan Perlindungan Harga Hasil Pertanian untuk Menjaga Kesejahteraan Petani

Loading

Published

on

By

Wagub Giri Prasta Serahkan Bantuan untuk Petani Jembrana
SERAHKAN BANTUAN: Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial penguatan ekonomi kepada 27 petani terdampak kekeringan dan gagal panen di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). (Foto: Hms Pemprov Bali)

Jembrana, baliilu.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyerahkan bantuan sosial penguatan ekonomi kepada 27 petani terdampak kekeringan dan gagal panen di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Kamis (5/11/2026). Bantuan diserahkan di Balai Subak Pangkung Buluh, didampingi Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan.

Sebanyak 27 petani penerima bantuan berasal dari tiga subak, yakni Subak Peh, Subak Pangkung Buluh, dan Subak Tegal Jati. Mereka mengalami kerugian akibat keterbatasan pasokan air irigasi selama musim kemarau yang berdampak terhadap produktivitas pertanian.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub Giri Prasta menyerahkan bantuan secara simbolis kepada empat perwakilan petani, yakni I Ketut Kaler sebesar Rp 20 juta, I Ketut Waca sebesar Rp 15,6 juta, I Ketua Malya sebesar Rp 8,9 juta, dan I Made Winata sebesar Rp 8,4 juta.

“Ini program dari Pemerintah Provinsi Bali. Semoga bantuan ini dapat mengurangi beban masyarakat petani yang terdampak gagal panen,” ujar Giri Prasta.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Bali memberikan perhatian terhadap kondisi petani yang mengalami kerugian akibat kekeringan. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan usaha pertanian, memperkuat ekonomi keluarga, serta menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian.

Wagub Giri Prasta mengapresiasi kerja keras para petani yang terus berupaya mempertahankan produktivitas pertanian di tengah keterbatasan ketersediaan air. Menurutnya, petani memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan.

Ia menyampaikan bahwa Gubernur Bali memberikan perhatian terhadap kondisi petani yang mengalami gagal panen agar mereka tidak harus menanggung kerugian tanpa adanya dukungan pemerintah.

“Pemerintah hadir untuk membantu meringankan kerugian yang dialami petani. Kita tidak ingin para petani yang sudah bekerja keras justru menghadapi kesulitan tanpa mendapatkan perhatian,” ungkapnya.

Baca Juga  Tim Percepatan PSBS Bali Sosialisasikan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Kecamatan Abiansemal dan Petang

Dalam dialog bersama Wagub Giri Prasta, sejumlah petani menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari menurunnya debit air irigasi, kerusakan saluran pengairan, hingga harga jual hasil pertanian yang dinilai belum menguntungkan petani.

I Ketut Kaler mengeluhkan semakin berkurangnya debit air irigasi yang berdampak terhadap produktivitas dan pendapatan krama subak. Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap stabilitas harga hasil pertanian.

Sementara itu, I Ketut Waca menyampaikan persoalan kebocoran saluran irigasi yang menyebabkan distribusi air ke lahan pertanian tidak optimal. Ia juga mengusulkan perbaikan sumur bor serta penggantian pompa berbahan bakar solar menjadi pompa bertenaga listrik.

“Kami berharap sumur bor yang ada dapat diperbaiki dan menggunakan tenaga listrik. Selama ini penggunaan bahan bakar solar menjadi kendala karena sulit diperoleh,” ujar I Ketut Waca.

Menanggapi persoalan menurunnya debit air irigasi, Wagub Giri Prasta menekankan pentingnya langkah konservasi sumber daya air secara berkelanjutan. Ia mengajak pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan krama subak bersinergi menjaga kawasan hulu bendungan melalui penghijauan dan penanaman pohon.

Secara khusus, Giri Prasta menyoroti pentingnya pelestarian kawasan hulu Bendungan Benel dan Bendungan Palasari sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian.

“Di sini ada Bendungan Benel dan Bendungan Palasari. Kita harus mulai melakukan penanaman pohon yang mendukung kelestarian sumber air di kawasan hulu bendungan. Ini untuk kepentingan jangka panjang, bagi anak cucu dan generasi mendatang,” tegasnya.

Menurutnya, konservasi kawasan hulu menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan air irigasi sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan sumur bor.

Ia juga mengaitkan upaya pelestarian lingkungan tersebut dengan nilai kearifan lokal Bali melalui perayaan Tumpek Uduh yang mengajarkan penghormatan dan pemuliaan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan.

Baca Juga  Belajarlah dari Gubernur Koster Soal Tangani Sampah, Gerakan Bali Bersih Langkah Bersama Perangi Sampah

Selain persoalan ketersediaan air, Wagub Giri Prasta turut menyoroti pentingnya perlindungan harga hasil pertanian agar para petani memperoleh pendapatan yang layak, terutama saat memasuki musim panen.

Ia menyampaikan bahwa persoalan harga hasil pertanian telah dikoordinasikan dengan tim pengendalian inflasi daerah sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga pasar dan melindungi kepentingan petani.

Menurutnya, upaya menjaga harga hasil pertanian merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan sebagaimana menjadi prioritas pemerintah pusat.

“Ini tanggung jawab pemerintah untuk menjaga kedaulatan pangan, sesuai arahan Bapak Presiden Republik Indonesia. Kami akan berupaya menjaga agar harga hasil pertanian tidak jatuh saat musim panen,” tegas Giri Prasta.

Melalui penyerahan bantuan sosial penguatan ekonomi tersebut, Pemerintah Provinsi Bali berharap para petani terdampak gagal panen dapat kembali menjalankan aktivitas pertanian sekaligus mempertahankan perekonomian keluarga.

Selain bantuan langsung, perhatian terhadap keberlanjutan sektor pertanian juga diarahkan pada upaya pelestarian sumber air, perbaikan sistem irigasi, serta stabilisasi harga hasil pertanian agar kesejahteraan petani dapat terus ditingkatkan.

Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya. (gs/bi)

Loading

Advertisements
dprd bali
Advertisements
hut pemprov dprd badung
Advertisements
iklan
Lanjutkan Membaca