Denpasar, baliilu.com
– Rombongan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI yang dipimpin Sekretaris Kementerian
PPN Himawan Hariyoga dalam rangka kunjungan kerja, melaksanakan kegiatan pertemuan bersama tokoh masyarakat
dan tokoh adat Bali di Balai Adat Pendungan, Br. Pitik, Pedungan, Denpasar,
Senin (3/8-2020).
Dalam sambutannya, Sekretaris Kementerian PPN Himawan
Hariyoga menyatakan tujuan kegiatan kunker rombongannya kali ini bukan untuk
memberikan arahan kepada pemerintah daerah baik provinsi maupun kab/kota serta
masyarakat Bali, namun lebih kepada upaya penyerapan aspirasi dari masyarakat
yang diwakili oleh parah tokoh masyarakat dan adat di Bali guna menjadi bahan
perencanaan pembangunan yang akan dilaksanakan ke depan.
“Prinsip kami dalam perencanaan pembangunan adalah sesering
mungkin turun ke instansi, melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Jadi kami
tidak hanya mendengar masukan-masukan dari pemerintah daerah, kami ingin
mendengar langsung dari masyarakat, mendengar berbagai saran-saran dari bapak
ibu sekalian,” ujarnya.
“Saran- saran yang kami harapkan yakni langsung dari para
pelaku di lapangan, seperti halnya saat ini di tengah pandemi Covid – 19 yang
tak lepas dari peran desa adat di Bali. Ini sangat penting, karena kami ingin
perencanaan yang kami buat bisa dilaksanakan di lapangan dan ketika sudah
dilaksanakan Bappenas ingin perencanaan tersebut bermanfaat bagi masyarakat,”
imbuh Himawan.
Sementara itu Bendesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali
Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet yang hadir selaku tokoh desa dan adat di
Bali pada kesempatan itu menyampaikan sejarah peranan desa adat yang tidak
terpisahkan dengan pemerintahan sejak jaman kerajaan hingga saat ini. Terlebih
saat ini, di era kepemimpinan Wayan Koster bersama Tjokorda Oka Artha Ardana
Sukawati selaku Gubernur Bali – Wakil Gubernur Bali, peranan desa adat kembali
mendapat tempat terdepan guna mendukung program pemerintah dalam upaya menjaga
dan memelihara adat, budaya, agama dan adat istiadat kearifan lokal Bali.
“Saat ini Pemprov Bali sangat memperhatikan adat dan budaya
Bali, desa adat diperankan, para pacalang
diperankan. Terlebih di tengah terpaan musibah akibat penyebaran virus corona,
semua terlibat berintegrasi dengan instansi pemerintahan, masyarakat terlibat
dengan tertib mengikuti imbauan, hal itulah yang menghasilkan keberhasilan Bali
mampu menahan penyebaran Covid-19. Terlibat membangun Bali, berarti ikut
membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tercinta,” tegasnya.
Di sisi lain, seorang tokoh masyarakat yang ikut serta dalam
acara itu Prof. Made Agus Gelgel Wirasuta, yang saat ini tengah viral karena
temuannya berupa ramuan arak Bali mampu meringankan dan membantu pengobatan
infeksi akibat Covid-19. Ia pun memaparkan cara kerja ramuan temuannya yang
sudah dimanfaatkan dalam proses pengobatan pasien Covid -19 dan bahkan sudah
terbukti mampu mempercepat proses penyembuhan yang biasanya jika menggunakan
peningkatan antibodi pasien membutuhkan waktu sekitar 2 minggu, namun dengan
ramuan arak waktu yang dibutuhkan untuk sembuh hanya 3 hari.
“Dalam lontar usadha Bali sudah banyak dimuat ramuan lokal Bali,
contohnya ramuan yang kami kembangkan. Dalam penanganan pasien Covid – 19 ada 2
ramuan yang kami kembangkan, yang pertama yakni ramuan dari daun kelor dan daun
ubi merah yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Ramuannya kami inovasi
menjadi teh agar tidak menimbulkan kesan tidak enak saat diminum, saat ini
sudah memiliki ijin edar setelah didaftarkan hak paten oleh Universitas
Udayana,” cerita Prof. Gelgel seraya menjelaskan ramuan berikutnya yang
berbahan dasar arak, yang penemuannya diawali dengan kejadian meningkatnya
penyebaran Covid -19 di Desa Serokadan, Bangli, yang lewat salah seorang
panglingsir setempat yang juga penekun pengobatan tradisional mendapat pawisik
untuk memanfaatkan arak sebagai media pengobatan setelah melakukan meditasi.
Info tersebut disampaikan kepada Prof. Gelgel untuk dilakukan riset secara
kimia.
“Ramuan yang berikutnya yakni berasal dari arak lokal Bali,
sebenarnya metode ini sudah tidak asing, di lontar Bali juga sudah dimuat,
bahkan pengobatan internasional juga memanfaatkan terapi uap arak untuk
pengobatan infeksi saluran pernapasan. Namun hal ini memiliki efek samping,
jika kandungan alkohol terkonsentrasi maka akan menimbulkan bahaya terbakar,
ini sangat berbahaya, di Amerika banyak dilaporkan kasus terbakar akibat
menghirup uap alkohol. Hal inilah yang kembali kami riset dan modifikasi
bersama bahan lainnya agar bisa menjadi obat terutama untuk pengobatan virus Corona,”
tegasnya.
Bukan hanya karena inisiatif sendiri, pengembangan ramuan
ini menurutnya juga karena dukungan yang besar dari Gubernur Bali Wayan Koster
yang mengharapkan adanya pengembangan obat yang berasal dari kearifan lokal
mengingat banyak bukti bahwa pengobatan lokal Bali sangat berkhasiat. Belum
adanya penemuan anti virus yang benar-benar mampu mencegah, dan ancaman
penyebaran yang semakin banyak, ditambah dampak ekonomi yang semakin parah
apabila waktu penanggulangan covid- 19 semakin lama, juga menjadi kajian
Gubernur Koster dalam mendukung upaya penemuan ini. Dan hasilnya sangat bagus,
karena sudah berhasil membantu penyembuhan pasien penderita virus Corona.
“Dari penerapannya kami contohkan dari 19 pasien yang
positif, setelah mendapat terapi dalam 3 hari yang negatif 15 orang dan 4 orang
tetap negatif, artinya memberikan tingkat kesembuhan sekitar 78%. Sejak itulah Gubernur
Bali langsung memerintahkan untuk langsung mengerjakan, dan sejak itu pula
tingkat kesembuhan terus meningkat. Dari data statistik laju penyembuhan dengan
menggunakan ramuan ini dalam 3 hari sebanyak 70% dibanding fase normal yang
dalam 2 minggu hanya 50%, ini sangat berguna, berapa banyak biaya yang dapat
ditekan untuk penghematan,” jelasnya secara rinci.
Namun di balik keberhasilan itu, ada beberapa kendala yang
masih dihadapi saat ini terkait ijin yang belum terbit sedangkan data yang
disampaikan sudah lengkap. Sembari menunggu keluarnya ijin, Prof. Gelgel
melalui rombongan Bappenas berharap bisa memediasi dengan Kementerian Kesehatan
RI untuk mengutamakan temuannya sehingga uji klinisnya cepat terbit, sehingga
jika memang layak untuk produksi massal bisa segera didistribusikan untuk
membantu penyembuhan pasien Covid-19 di Indonesia bahkan dunia.
Dalam kegiatan bertajuk yakni Peran Kearifan Lokal dan
Masyarakat Adat dalam Penanganan Covid-19, Peran Pacalang dalam Menegakkan
Protokol Kesehatan dan Pengembangan Obat Tradisional Berbahan Arak Bali untuk
Terapi Covid-19, turut serta dihadiri oleh pejabat di lingkungan Pemprov Bali
di antaranya Kepala Bappeda Litbang Provinsi Bali I Wayan Wiasthana Ika Putra
selaku narasumber, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Wayan Kun Adnyana
selaku moderator, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali I Made Teja,
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali I Nyoman Astawa Riadi. (*/gs)